cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 658 Documents
PEMBERIAN VARIASI SUSPENSI KONIDIOSPORA CENDAWAN ENTOMOPATOGENIK Beauveria bassiana TERHADAP MORTALITAS KUTU PUTIH (Rastrococcus spinosus) Pada Tanaman Cabai Kathur (Capsicum frutescens) ., KADEK KUSUMA DEWI; ., Dr. Desak Made Citrawathi,M.Kes; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja, M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perbedaan mortalitas kutu putih (Rastrococcus spinosus) akibat pemberian suspensi konidiospora cendawan Beauveria bassiana dengan konsentrasi yang berbeda (2) Konsentrasi suspensi konidiospora Beauveria bassiana yang dapat membunuh 50% (LC50) kutu putih (Rastrococcus spinosus) pada tanaman cabai. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan dengan rancangan randomized post test only control group design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 240 nimfa instar III kutu putih. Pemberian suspensi konidiospora yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5 seri tingkat pengenceran, dan kontrol. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Anova One Way pada taraf signifikansi 5% dan analisis probit. Hasil penelitian ini adalah: (1) Ada perbedaan mortalitas kutu putih (Rastrococcus spinosus) akibat pemberian suspensi konidiospora cendawan entomopatogenik Beauveria bassiana pada tingkat pengenceran yang berbeda, yaitu pada 10-1. (2) Estimasi pengenceran 28,8 x 10-1 suspensi konidiospora dapat membunuh 50% (LC50) nimfa instar III kutu putih pada tanaman cabai dengan taraf kepercayaan 95%. Kata Kunci : Cendawan entomopatogenik, konidiospora, mortalitas, Beauveria bassiana, Rastrococcus spinosus, tanaman cabai The aims of this research were to determine: (1) Differences mortality of mealybugs (Rastrococcus spinosus) due to administration suspension of conidiospores Beauveria bassiana with different concentrations (2) Concentrations of conidiospores Beauveria bassiana suspention that could kill 50% (LC50) mealybugs (Rastrococcus spinosus) in chili plant. The type of research was a true experimental research with a randomized design post-test only control group design. The samples in this research were 240 third-instar nymphs of Rastrococcus spinosus. This research using 5 series of conidiospora suspension dilutions and controls sprayed directly on the instar nymphs. The data obtained were analyzed by One Way Anova test at 5% significance level and probit analysis. The results of this research were (1) There was a difference mortality of mealybugs (Rastrococcus spinosus) due to administration suspension of conidiospores Beauveria bassiana at different dilution levels at 10-1. (2) Estimated dilution of 28,8 x10-1 suspension conidiospora could kill 50% (LC50) third instar nymphs mealybug in chili plant with 95% confidence level.keyword : Entomopathogenic fungi, conidiospores, mortality, Beauveria bassiana, Rastrococcus spinosus, chili plant
PENGARUH BERAT BIJI LABU (Cucurbita moschata) PADA FERMENTASI KRIM SANTAN KELAPA TERHADAP VOLUME VCO ., Ni Luh Sinta Kusuma Wardani; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja,M.Pd.; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 1 (2016):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengolahan kelapa menjadi minyak yang ada dimasyarakat masih dilakukan secara tradisional, pengolahan ini masih banyak memiliki kelemahan. Disisi lain pemanfaatan biji labu dalam masyarakat juga belum optimal. Seiring dengan berkembangnya teknologi ditemukan adanya minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO). Salah satu teknik dalam pembuatan VCO adalah dengan cara fermentasi. Fermentasi dilakukan dengan penambahan biji labu (Cucurbita moschata).Tujuan penelitian adalah (1) mengetahui adanya perbedaan volume VCO hasil fermentasi krim santan kelapa menggunakan biji labu (Cucurbita moschata) dengan berat yang berbeda. (2) mengetahui kualitas VCO yang dihasilkan ditinjau dari bilangan peroksida dan kadar asam lemak bebasnya. Jenis dari penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 8 kali pengulangan untuk masing-masing sampel. Langkah-langkah pengumpulan data terdiri dari tahap persiapan dan pelaksanaan penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Anava One Way menggunakan bantuan SPSS 21. Hasil analisis diperoleh nilai p sebesar 0,0001 yang berarti bahwa H1 diterima, yang menyatakan ada perbedaan volume VCO pada fermentasi krim santan kelapa menggunakan biji labu (Cucurbita moschata) dengan berat yang berbeda. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa berat biji labu 15 g adalah berat yang optimal untuk volume VCO, karena memberikan hasil volume VCO yang optimal yaitu dengan rata-rata sebanyak 81,5 ml per 250 ml krim santan. VCO yang dihasilkan dalam kualitas baik, karena memiliki rata-rata bilangan peroksida 2,86 meq/Kg oil, dan kandungan rata-rata asam lemak bebas sebesar 0,21%. Kata Kunci : Kata Kunci: Biji Labu, Fermentasi, VCO The processing of coconuts into the oil remaining in the community is still done traditionally, this treatment still has many weaknesses. On the other hand the use of pumpkin seeds in the community is also not optimal. As the technology advances found their pure coconut oil or Virgin Coconut Oil (VCO). One technique in the manufacture of VCO is by fermentation. Fermentation is carried out with the addition of pumpkin seeds (Cucurbita moschata) The purpose of this research is (1) to know the difference in volume VCO creamy coconut milk fermented using pumpkin seeds (Cucurbita moschata) with different weights. (2) determine the quality of the resulting VCO terms of peroxide and free fatty acid levels. Type of this research is experimental research design used was completely randomized design (CRD) with 8 repetitions for each sample. The steps of data collection consists of preparation and conduct of the study. Data were analyzed with One Way Anova test using SPSS 21. The results of the analysis obtained p value of 0.0001, which means that H1 is accepted, stating there are differences in volume VCO fermenting coconut cream using pumpkin seeds (Cucurbita moschata) with weight different. Based on research conducted showed that the weight of 15 g pumpkin seeds are optimal weight for VCO volume, because it provides optimal results VCO volume is by an average of 81.5 ml per 250 ml coconut cream. VCO produced in good quality, because it has an average number of 2.86 meq peroxide / kg oil, and the average content of free fatty acids of 0.21%.keyword : Pumpkin seeds, Fermentation, VCO
KEEFEKTIVAN EKSTRAK KASAR UMBI GADUNG (Dioscorea hispida Dennst) TEHADAP MORTALITAS LARVA RAYAP (Coptotermes curvignathus) ., Kadek Pina Destrya Lestari; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja, M.Pd.; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd., M.Sc.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penlitian ini untuk mengetahui: (1) perbedaan mortalitas larva rayap (Coptotermes curvignathus) akibat pemberian variasi konsentrasi ekstrak kasar umbi gadung (Dioscorea hispida); (2) konsentrasi yang paling efektif terhadap mortalitas larva rayap (Coptotermes curvignathus); dan (3) konsentrasi yang efektif dapat mematikan 50% larva rayap (Coptotermes curvignathus) berdasarkan Lethal Concentration. Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan desain penelitian Randomized Post Test Only Control Group Design. Perbedaan konsentrasi ekstrak kasar umbi gadung (Dioscorea hispida) yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0%, 25%, 50%, dan 75%. Sampel yang digunakan adalah larva rayap (Coptotermes curvignathus) berjumlah 600 ekor. Data mortalitas larva rayap dianalisis dengan menggunakan uji statistik Kruskal Wallis. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa: (1) terdapat perbedaan mortalitas larva rayap (Coptotermes curvignathus) akibat pemberian variasi konsentrasi ekstrak kasar umbi gadung (Dioscorea hispida); (2) Konsentrasi yang paling berpengaruh terhadap mortalitas larva rayap (Coptotermes curvignathus) adalah konsentrasi 25%; dan (3) Konsentrasi efektif yang dapat mematikan 50% larva rayap (Coptotermes curvignathus) berdasarkan Lethal Concentration adalah konsentrasi 31,34%.Kata Kunci : Ekstrak umbi gadung, Mortalitas larva, Rayap (Coptotermes curvignathus) The purpose of this research to know: (1) difference of termite larvae (Coptotermes curvignathus) mortality due to variation of concentration of crude extract of dioscorea tuber (Dioscorea hispida); (2) the most effective concentrations to mortality of larvae termites (Coptotermes curvignathus); and (3) the effective concentration kill 50% termite larvae (Coptotermes curvignathus) based on Lethal Concentration. This research type is true experimental with research design Randomized Post Test Only Control Group Design. The difference of concentration of crude extract of dioscorea tuber (Dioscorea hispida) used in this research was 0%, 25%, 50%, and 75%. The sample used is larvae termites (Coptotermes curvignathus) of 600 tail. Mortality of larvae termite were analyzed using Kruskal Wallis statistical test. The results of this study show that: (1) there is a difference in mortality of larvae of termite (Coptotermes curvignathus) due to variation concentration of crude extract of dioscorea tuber (Dioscorea hispida); (2) the most effective concentration to mortality of larvae termites (Coptotermes curvignathus) is 25% concentration; and (3) the effective concentration kill 50% larvae of termites (Coptotermes curvignathus) based on Lethal Concentration is 31,34% concentration.keyword : Dioscorea tuber extract, Mortality of larvae, Termites (Coptotermes curvignathus)
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN KOOPERATIF STAD DALAM PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMP NEGERI 2 SINGARAJA ., Ni Made Karmini Sridewi; ., Prof. Dr.Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan keterampilan proses sains dalam pembelajaran pendekatan saintifik antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Non-equivalen Pre-test Post-test Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Singaraja yang terdiri dari 15 kelas dengan jumlah siswa 561 orang. Sampel diambil dengan teknik undian sebanyak dua kelompok dari lima belas kelas yang ada. Keterampilan proses sains siswa diukur dengan menggunakan tes essay. Data dianalisis dengan teknik deskriptif dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan proses sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan saintifik dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan saintifik dengan model pembelajaran kooperatif STAD (t = 3,830,p = 0,00). Hal tersebut menunjukkan bahwa pendekatan saintifik dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih efektif dalam meningkatan keterampilan proses sains siswa dibandingkan pendekatan saintifik dengan kooperatif STAD.Kata Kunci : Inkuiri Terbimbing, Keterampilan Proses Sains, Kooperatif STAD, Pendekatan Saintifik. This research aimed to analyze the differences in learning science process skills in scientific approach between the groups of students that learned using guided inquiry learning model and student groups that learned using cooperative learning model STAD. This type of this research is a quasi-experimental. The research use a Non-equivalent pre-test post-test Control Group Design. The population was all of students in class VII SMP Negeri 2 Singaraja which consists of 15 classes with 561 students. Samples were taken using a lottery as many as two groups of fifteen classes there. Science process skills were measured using essay test. Data were analyzed by using descriptive and t-test. The results showed that there were differences between the science process skills of students that learned to use a scientific approach to guided inquiry learning model and student groups that learned with the scientific approach to cooperative learning model STAD (t = 3.830, p = 0.00). This shows that the scientific approach with guided inquiry learning model more effectively to improve students' science process skills compared with STAD cooperative scientific approach.keyword : Guided Inquiry, Science Process Skills, Scientific approach, STAD Cooperative.
KOMPARASI MAKE A MATCH DAN TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA SMP ., Ni Wayan Lina Astiani; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pebedaan antara motivasi belajar dan hasil belajar siswa secara bersama-sama antara siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT), (2) mengetahui perbedaan motivasi belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT), dan (3) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT). Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental Research) dengan rancangan non equivalent pre test-post test control group design. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode tes Teknik analisis data yang digunkan adalah Multivariate analysis of covariance (Mancova). Hasil penelitian ini menunjukan taraf signifikansi dari uji Mancova adalah P
PEMANFAATAN DAUN MINDI (Melia azedarach L.) PADA BERAT DAN LAMA WAKTU DEKOMPOSISI BERBEDA SEBAGAI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN GUMITIR (Tagetes erecta L.) ., I Gede Ria Mahendra; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.; ., I Made Pasek Anton Santiasa, S.Pd.,M.Sc.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pemberian daun mindi dengan berat yang berbeda sebagai media tanam meningkatkan perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.). (2) Pemberian daun mindi dengan lama waktu dekomposisi yang berbeda sebagai media tanam meningkatkan perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.). (3) Kombinasi antara pemberian berat daun mindi dengan lama waktu dekomposisi yang berbeda sebagai media tanam meningkatkan perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.). Penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan (true experimental research). Sampel yang digunakan adalah tanaman gumitir (Tagetes erecta L.) dengan ciri morfologi yang sama yaitu dengan tinggi 5 cm. Penelitian ini menggunakan 3 pengulangan dengan 20 perlakuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Anava dua arah (Anava Two Way) dengan rancangan desain faktorial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Ada perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.) akibat pemberian berat daun mindi. Perlakuan pada berat 75 gr menghasilkan berat rata-rata tertinggi. (2) Tidak ada perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.) akibat pemberian lama waktu dekomposisi daun mindi. (3) Tidak ada perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.) akibat pemberian kombinasi lama waktu dekomposisi dan berat daun mindi. Kata Kunci : Pertumbuhan optimal, Limbah daun mindi, Konsentrasi, Masa dekomposisi This research aimed to find out: (1) The provision of mindi leaves with different weights as planting media increases the difference in the growth of Gumitir plants (Tagetes erecta L.). (2) The provision of mindi leaves with a long time different decomposition as a medium of planting increases the difference in the growth of Gumitir plants (Tagetes erecta L.). (3) The combination of heavy delivery of mindi leaves with a long time different decomposition as a medium of planting increases the difference in the growth of Gumitir plant (Tagetes erecta L.). This research is a real experimental research. The sample is the Gumitir (Tagetes erecta L.) plant with the same morphological characteristic of 5 cm. This study used 3 repetitions with 20 treatments. The Data was analyzed using a two-way Anava two Way statistical test with factorial design. The results of this study show that: (1) There were differences in the growth of Gumitir plants (Tagetes erecta L.) due to the heavy administration of mindi leaves. The treatment at weight 75 gr produces the highest average weight. (2) There was difference in the growth of Gumitir plants (Tagetes erecta L.) due to the prolonged administration of mindi leaf decomposition. (3) There was difference in the growth of Gumitir plants (Tagetes erecta L.) due to the combination of long-time decomposition and heavy leaf mindi.keyword : optimal growth, waste of mindi leaves, concentration, period of decomposition
EFEKTIVITAS EKSTRAK TIGA VARIETAS JAHE (Zingiber sp.) SEBAGAI PENGAWET ALAMI TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI PEMBUSUK HASIL ISOLASI DARI IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) ., Gusti Ayu Putri Ariyanti; ., Drs.I Ketut Artawan,M.Si; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat tiga varietas jahe yaitu jahe merah, jahe emprit, dan jahe gajah. ketiga varietas jahe ini dapat digunakan sebagai pengawet karena adanya kandungan polifenol seperti Gingerol, Shogaol, dan Zingiberen sebagai zat antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan daya hambat, efektivitas germisida, interaksi masing-masing ekstrak ketiga varietas jahe dengan variasi konsentrasi 5%, 15%, dan 30%, dan mengidentifikasi karakteristik genus yang berhasil ditemukan pada isolasi bakteri dari ikan mujair. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimental sungguhan dengan menggunakan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan penempatan sampel pola faktorial 3x3. Data yang diperoleh berupa rerata diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri ikan mujair yang dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) two ways dengan taraf signifikansi p < 0,05. Hasil yang diperoleh adalah ekstrak jahe merah membentuk diameter zona hambat terbesar dibandingkan dengan jahe emprit dan jahe gajah. Jahe merah dan jahe emprit lebih efektif sebagai germisida dibandingkan jahe gajah. Adanya perbedaan diameter zona hambat pertumbuhan isolat bakteri dari ikan mujair akibat dari interaksi ketiga varietas jahe dengan konsentrasi ketiga varietas jahe. Genus bakteri yang ditemukan adalah bakteri Citrobacter, Escherichia, dan Pseudomonas. Hal ini disebabkan karena jahe merah memiliki kandungan senyawa polifenol lebih banyak dibandingkan dua varietas lainnya.Kata Kunci : Jahe, Pengawet Alami, Bakteri Pembusuk, dan Ikan Mujair. There are three variants of ginger, they are Zingiber officinale var. rubrum, Zingiber officinale var. amarum, zingiber officinale var. officinale. These variants of ginger can be used as preservative because there is polyphenol as antibacterial substance. The purpose of research are to knowing the difference of inhibition ability, germicidal effectiveness, interactions each three varieties of ginger extracts with varying concentrations of 5%, 15% and 30%, and identify the characteristics of the genus have been found on the bacteria isolation of tilapia fish. The kind of this research is experiment research that use Complete Random Design (CRD) with a 3x3 factorial design sample placement. The data obtained in diameter mean inhibition zone of bacteria growth of tilapia fish were analyzed using ANOVA two ways with a significance level of p < 0,05. The results are Zingiber officinale var. rubrum formed the largest diameter of inhibition zone compared the other two varieties, Zingiber officinale var. rubrum and Zingiber officinale var. amarum more effective as germicide than Zingiber officinale var. officinale, the difference of the growth diameter of inhibition zone of bacterial isolates from tilapia fish as a result of the interaction between the three varieties of ginger with a concentration of the three ginger varieties, the bacteria genus that found are Citrobacter, Escherichia, and Pseudomonas. This is caused by the polyphenol compound which is more substantial in Zingiber officinale var. rubrum.keyword : Ginger, Natural preservative, Bacteria decay, and Tilapia fish.
PEMBERIAN VARIASI KONSENTRASI CAMPURAN GEDEBONG PISANG, SABUT, DAN AIR KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN GEMITIR (Tagetes erecta L.) DENGAN MICROBACTER ALFAAFA-11 SEBAGAI BIOAKTIVATOR ., I Gede Surya Natha; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.; ., Ida Ayu Putu Suryanti, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Petani menggunakan pupuk untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, baik pupuk anorganik maupun pupuk organik. Penggunaan pupuk anorganik yang terus meningkat kususnya pupuk urea dan penggunaan secara terus menerus dapat berdampak pada menurunkan bahan organik dalam tanah, struktur tanah, dan pencemaran lingkungan. Pupuk anorganik hanya dapat diproduksi dari pabrik. Berbeda dengan pupuk organik yang dapat dibuat dari limbah seperti sisa-sisa tanaman, limbah hewan, dan limbah dapur. Seperti campuran gedebong pisang, sabut kelapa, dan air kelapa dapat dikombinasikan sebagai bahan dasar pupuk organik cair serta Microbacter Alfafa-11 sebagai bioaktivator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian variasi konsentrasi campuran gedebong pisang, sabut, dan air kelapa sebagai pupuk organik cair terhadap pertumbuhan tanaman gemitir (Tagetes erecta L.) dengan Microbacter Alfafa-11 sebagai bioaktivator. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 kelompok perlakuan dengan 8 kali ulangan setiap perlakuan. Dalam hal ini empat (4) kelompok perlakuan variasi konsentrasi campuran tersebut antara lain: 0%, 15%, 20%, dan 25% dalam 100 ml. Perlakuan pada tanaman diberikan setiap minggu selama enam (6) minggu. Hasil penelitian ini menunjukkan rerata berat kering tanaman gemitir (Tagetes erecta L.) secara berurutan sebagai berikut: 3,05 gr, 6,08 gr, 5,16 gr, dan 6,93 gr. Dilihat dari rerata berat kering, perlakuan variasi konsentrasi campuran gedebong pisang, sabut kelapa, dan air kelapa dengan Microbacter Alfaafa-11 sebagai bioaktivator menyebabkan perbedaan pertumbuhan terhadap tanaman gemiitir (Tagetes erecta L.) dan pertumbuhan yang tertinggi terdapat pada perlakuan campuran dengan konsentrasi 25%.Kata Kunci : Gedebong Pisang, Sabut Kelapa, Air Kelapa, Microbacter Alfafa-11, Tagetes erecta L. Farmers use fertilizers to increase plant growth, both inorganic fertilizers and organic fertilizers. The use of inorganic fertilizers which continues to increase specifically urea fertilizer and continuous use can have an impact on reducing organic matter in soil, soil structure, and environmental pollution. Inorganic fertilizers can only be produced from the factory. Unlike organic fertilizers that can be made from waste such as plant debris, animal waste, and kitchen waste. Such as a mixture of banana stem, coconut coir, and coconut water can be combined as a base for liquid organic fertilizer and Microbacter Alfafa-11 as a bioactivator. This study aims to determine the effect of variations in the concentration of mixed banana stem, coconut coir, and coconut water as liquid organic fertilizer on the growth of gemitir (Tagetes erecta L.) with Microbacter Alfafa-11 as bioactivator. This research method uses a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatment groups with 8 replications of each treatment. In this case, four (4) treatment groups varying the concentration of the mixture, among others: 0%, 15%, 20%, and 25% in 100 ml. Treatment of plants is given every week for six (6) weeks. The results of this study showed the average dry weight of gemitir plants (Tagetes erecta L.) sequentially as follows: 3.05 gr, 6.08 gr, 5.16 gr, and 6.93 gr. Judging from the average dry weight, the treatment of variations in the concentration of mixed banana stem, coconut coir, and coconut water with Microbacter Alfaafa-11 as bioactivator caused differences in the growth of gemiitir (Tagetes erecta L.) and the highest growth was found in the mixture treatment with a concentration of 25% .keyword : Banana Stem, Coconut Coir, Coconut Water, Microbacter Alfafa-11, Tagetes erecta L.
ANALISIS KETERAMPILAN BERTANYA GURU DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMA DI KOTA SINGARAJA ., Kadek Krisna Dwi Mahartini; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang bertujuan untuk menganalisis secara mendalam kemampuan bertanya guru Biologi dalam pembelajaran berbasis Keterampilan Proses Sains. Penelitian ini dilakukan di SMA Kota Singaraja dengan melibatkan tujuh orang guru sebagai informan. Data dikumpulkan dengan empat teknik, yaitu angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi serta dianalisis meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau simpulan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bertanya guru belum optimal. Jenis pertanyaan yang diajukan oleh guru Biologi SMA di Singaraja dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu pertanyaan diklasifikasikan (1) menurut maksudnya yang didominansi dengan 37,20% pertanyaan retoris, (2) berdasarkan taksonomi Bloom yang didominasi pertanyaan kognitif tingkat rendah yakni 40% merupakan pertanyaan pengetahuan, sebanyak 32% merupakan pertanyaan pemahaman, sebanyak 16% merupakan pertanyaan penerapan dan (3) berdasarkan luas sempitnya jawaban didominansi dengan 61,06% pertanyaan Konvergen. Teknik bertanya guru dalam observasi ada yang diterapkan secara maksimal dan ada juga yang belum maksimal diterapkan dalam proses belajar mengajar. Hambatan yang dialami guru dalam mengajukan pertanyaan, yaitu pemahaman tentang jenis-jenis pertanyaan yang masih kurang, kurangnya perencanaan pertanyaan yang akan diajukan, kurangnya pelatihan tentang keterampilan bertanya, keadaan siswa yang berbeda disetiap kelasnya dan kurangnya kesadaran guru akan hambatan yang dialaminya. Aktivitas belajar siswa dengan keterampilan bertanya pada pembelajaran biologi berbasis keterampilan proses Sains sudah dikatakan baik, siswa sudah dapat memahami konsep-konsep yang diajarkan oleh guru, dengan aktif menjawab, kegiatan visual, lisan, mendengarkan, menulis dan kegiatan motorik. Namun ada juga siswa yang cenderung diam tidak mengikuti dan tidak mau berusaha untuk menjawab semua pertanyaan dari guru.Kata Kunci : Jenis Pertanyaan , Kemampuan Bertanya, Keterampilan Proses Sains, dan Tehnik Bertanya The purpose of this reasearch was to analyze deeply the ability questioning the teacher of Biology in Science Process Skills-based learning. This research was conducted at SMA Singaraja involving seven teachers as informants. In collecting the data, the researcher applied four techniques, such as questionnaires, observations, interviews, and documentation with analyzed include data reduction, data presentation and conclusion. The results showed that ability to asked the teachers did not optimal. Types of questions asked by high school biology teachers in Singaraja grouped into three types of questions classified (1) according to the intentions dominated with 37.20% rhetorical question, (2) based on Bloom's Taxonomy dominated by low-level cognitive questions which 40% is a question of knowledge , 32% is the question as the understanding that 16% is a question penerapandan (3) based on the area of narrowness answer dominated with 61.06% convergent questions. Technique ask the teacher in the last observation applied to the maximum, and some are not maximized applied to the learning process. Barriers experienced teachers to ask questions, which is an understanding of the kinds of questions that are still lacking, a lack of planning questions to be asked, the lack of training on questioning skills, circumstances of different students in each class and the lack of awareness of teachers will be barriers they experienced. learning activities of students with the skills to ask biology of skill-based learning process has been said to be good science, the students understand with concepts being teach by a teacher with an active answer, activities visual, verbal, listening, writing and motor activities. But there are also students who tend to be quiet doesn’t participant and doesn’t answer all questions from the teacher.keyword : Type of Question , Questioning Skill, Questioning Technique And Science Process Skills
ANALISIS PERBEDAAN MASSA PADI VARIETAS IR64 SEBAGAI MEDIA TUMBUH TERHADAP KADAR PIGMEN MERAH PADA ANGKAK YANG DIHASILKAN OLEH Monascus Purpureus ., Gst. Ayu Md. Juniasmita Parsandi; ., Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd.; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 1, No 1 (2014):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui perbedaan massa padi varietas IR64 sebagai media tumbuh terhadap kadar pigmen merah angkak yang dihasilkan oleh Monascus purpureus, (2) mengetahui massa padi varietas IR64 yang digunakan dalam fermentasi angkak ditinjau dari kadar pigmen tertinggi, (3) mengetahui kuantitas produk angkak ditinjau dari pH, dan bobot angkak. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen dan rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah massa padi varietas IR64 yakni 30 gram, 40 gram, 50 gram dan 60 gram sebagai media tumbuh Monascus purpureus, variabel terikat adalah kadar pigmen merah pada angkak diukur berdasarkan Optical Density (OD) dan variabel kontrol adalah kelembaban, suhu, dan intensitas cahaya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik parametrik, uji hipotesis dengan Anova One Way, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil dari penelitian ini adalah (1) terdapat perbedaan kadar pigmen merah pada angkak oleh Monascus purpureus berdasarkan perbedaan massa padi varietas IR64 dilihat dari nilai F hitung > F tabel yakni 92,824 > 1,714, (2) Massa padi varietas IR64 yang dapat digunakan dalam fermentasi angkak ditinjau dari kadar pigmen angkak tertinggi melalui uji BNT dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, sehingga rata rata perlakuan memiliki perbedaan signifikansi yakni massa beras 30 gram dengan kadar pigmen merah tertinggi sebesar 1,9 g/100 ml, (3) pH optimal dalam menghasilkan kadar pigmen adalah 6,03 dari kriteria pH 6 terjadi penurunan bobot angkak setelah fermentasi dan pengovenan. Kata Kunci : Monascus purpureus, Angkak, Padi Varietas IR64. The purpose of this study is (1) determine the mass difference IR64 rice as a growing medium on levels of red yeast rice red pigment produced by Monascus purpureus, (2) determine the mass of IR64 rice varieties used in the fermentation of red yeast rice in terms of the highest pigment levels, (3) determine quantity of red yeast rice products in terms of pH, and the weight of red yeast rice. Type of research is experimental research and the study design was completely randomized design (CRD). The independent variable in this study is that the mass of IR64 rice 30 grams, 40 grams, 50 grams and 60 grams of Monascus purpureus as a growing medium, the dependent variable is the red pigment in red yeast rice levels were measured by Optical Density (OD) and the control variable is humidity, temperature, and light intensity. Data analysis was performed using parametric statistics, hypothesis testing with ANOVA One Way, followed by the Least Significant Difference test (LSD). The results of this study were (1) there are differences in the levels of red pigment in red yeast rice by Monascus purpureus by the mass difference of rice IR64 seen from F count> F table is 92,824 > 1,714, (2) mass IR64 rice varieties that can be used in the fermentation of red yeast rice in terms of the highest levels of pigment red yeast rice through LSD test with a significance level of 0,000 < 0,05, so the average treatment has significant differences that mass 30 grams rice with red pigment highest levels of 1,90 g / 100 ml, (3) the optimal pH produce pigment concentration is 6.03 of criteria weights decreased pH 6 after fermentation of red yeast rice and oven. keyword : Monascus purpureus, Angkak, Rice Variety IR64