cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
putuayub.simpson@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat
ISSN : 25487868     EISSN : 25487558     DOI : https://doi.org/10.46445/ejti
Core Subject : Religion,
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat menitikberatkan pada penyampaian informasi hasil penelitian, analisa konseptual dan kajian dalam bidang Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat oleh para sivitas akademika internal dan eksternal STT Simpson Ungaran dengan rasio 30:70. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari (Batas penerimaan naskah pada bulan Oktober) dan Juli (Batas penerimaan naskah pada bulan Mei). Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat telah terdaftar pada Google Schoolar, BASE (Bielefeld Academic Search Engine), One Search. ISSN 2548-7868 (cetak), 2548-7558 (online)
Arjuna Subject : -
Articles 205 Documents
Perempuan: Sumber Dosa atau Sumber Hikmat? Tafsir Ulang Kejadian 3:1-24 dari Perspektif Feminis Asnath Niwa Natar
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.714 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.280

Abstract

There is an understanding that women and their bodies are the source of sin that must be shunned in our society. It is also evident in Christianity, where themes about women's bodies and their sexuality are also often associated with sin, transgression and punishment. This understanding is rooted in the story of Eve eating fruit in the Garden of Eden (Gen. 3:1-24) which is seen as a story of the "fall" of humans because of women's sin. In other words, women are seen as the cause of humans falling into sin. Of course, this understanding has a negative impact on women dignity. Women then experience discrimination almost in all fields. Their body and sexuality are also controlled by men. In this regard, a re-reading of the text of Genesis 3:1-24 is needed to free women from such kind of understanding. The author interprets the text of Genesis 3:1-24 from a feminist perspective using literature research methods. The result of this interpretation is that women are not the source of sin but rather the source of wisdom. Through the results of this interpretation is expected to change the way of thinking of society to respect women and their bodies better. Dalam kehidupan masyarakat terdapat pemahaman bahwa perempuan dan tubuhnya adalah sumber dosa yang harus dijauhi. Hal ini tampak dalam kekristenan di mana tema tentang tubuh perempuan dan seksualitasnya juga sering dihubungkan dengan dosa, pelanggaran dan hukuman. Pemahaman ini berakar dari kisah Hawa makan buah di taman Eden (Kej. 3:1-24) yang dipandang sebagai cerita “kejatuhan” manusia karena dosa perempuan. Dengan kata lain, perempuan dipandang sebagai penyebab manusia jatuh ke dalam dosa. Pemahaman ini menimbulkan dampak negatif terhadap perempuan secara keseluruhan. Perempuan mengalami diskriminasi hampir dalam segala bidang. Tubuh dan seksualitas mereka juga dikontrol oleh laki-laki. Sehubungan dengan hal itu, perlu dilakukan pembacaan ulang terhadap Kejadian 3:1-24 untuk membebaskan kaum perempuan. Penulis menafsirkan Kejadian 3:1-24 dari perspektif feminis dengan menggunakan metode penelitian literatur. Hasil dari penafsiran ini adalah bahwa perempuan bukan sumber dosa melainkan adalah sumber hikmat. Melalui hasil tafsiran ini diharapkan dapat mengubah cara berpikir masyarakat untuk lebih menghargai perempuan dan tubuhnya.
Pengaruh Pemahaman Mengikut Yesus Menurut Matius 16:24 Terhadap Motivasi Menjadi Hamba Tuhan Ririn Utari; Ruwi Hastuti; Sarah Andrianti
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5, No 1 (2021): January 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.252 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v5i1.343

Abstract

This study aims to determine how much influence the understanding of following Jesus according to the Gospel of Matthew 16:24 on the motivation for the call to be the Servant of God among students of STT Nusantara Salatiga. This research uses descriptive quantitative method. The results showed that there was a low influence between the understanding of following Jesus according to the Gospel of Matthew 16:24 on the motivation for the call to become servants of God in students of STT Nusantara Salatiga in 2018. This is indicated by the level of correlation which is only 0.222. The results of the regression analysis showed that the coefficient of determination was 22.2%, meaning that the motivation for the call to become God's servant for STT Nusantara Salatiga students in 2018 was influenced by 22.2% by the understanding of following Jesus according to the Gospel of Matthew 16: 24, the rest 77.8% was influenced by other factors. which the authors did not research. The existence of a gap between understanding and motivation is due to other factors that may also significantly influence motivation. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemahaman mengikut Yesus menurut Injil Matius 16:24 terhadap motivasi panggilan menjadi Hamba Tuhan pada mahasiswa STT Nusantara Salatiga. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang rendah antara pemahaman mengikut Yesus menurut Injil Matius 16:24 terhadap motivasi panggilan nmenjadi hamba Tuhan pada mahasiswa STT Nusantara Salatiga tahun 2018. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat korelasi yang hanya sebesar 0,222. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa koofisien determinasi sebesar 22,2%, artinya motivasi panggilan menjadi hamba Tuhan mahasiswa STT Nusantara Salatiga tahun 2018 dipengaruhi 22,2% oleh pemahaman mengikut Yesus menurut Injil Matius 16: 24, selebihnya 77,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penulis. Adanya kesenjangan antara pemahaman dengan motivasi disebabkan adanya factor-faktor lain yang mungkin secara signifikan juga mempengaruhi motivasi.
Spiritualitas Pandemik: Tinjauan Fenomenologi Ibadah Di Rumah Hasahatan Hutahaean; Bonnarty Steven Silalahi; Linda Zenita Simanjuntak
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.04 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.270

Abstract

This research departs from the facts in the reality that we faced since the determination of the COVID-19 pandemi in Indonesia. The churches convert every activity from the church into homes. This phenomenon brings researchers to the spirituality of the congregation during a pandemi with devotions at home. A qualitative approach with a methodological method is used to obtain teaching from these experiences on the spiritual side. With a sample of one hundred respondents from four Churches Congregation who held every devotion activities at home, they realized that the opportunity to understand God's sovereignty upon the whole world, and increasingly surrendered to Him (arround 94%). The respondent composition is dominated by attending live streaming (96%) while doing devotion at home with church printed-out services is 3%. Several respondents found 2.6% sharing the Word by themself in the devotion session at home. By this research, there is hope for churches to take a serious look to the digital field by forming a digital commission/department or another designation with the task of serving the online services because advances in information technology become tools that cannot be ignored for the advancement of church services and developments. The pandemi did not pose a threat to the congregation to grow and rush on the spiritual side. Penelitian ini berangkat dari fakta di lapangan yang ada sejak penentuan pandemik korona jenis baru di Indonesia. Gereja-gereja mengalihkan ibadah di gereja menjadi di rumah-rumah. Fenomena ini membawa peneliti kepada sisi spiritualitas jemaat selama pandemik dengan ibadah di rumah. Pende-katan kualitatif dengan metode metodologi dipakai untuk mendapatkan pengajaran dari pengalaman ter-sebut bagi sisi spiritualitas. Dengan sample seratus responden dari empat jemaat yang mengadakan iba-dah di rumah, di temukan hasil diantaranya menyadari kesempatan untuk melihat kuasa Tuhan atas seisi dunia, dansemakin berserah pada-Nya (sekitar 94%). Komposisi responden didominasi mengikuti ibadah dengan live streaming (92%) sedangkan ibadah di rumah dengan tata ibadah dari gereja sebanyak 5%. Dari sejumlah responden didapati 2,6% berbagi Firman Tuhan (sharing) pada sesi khotbah dalam kebak-tian di rumah. Dengan penelitian ini ada harapan kepada gereja-gereja untuk menatap dengan serius bidang digital dengan (misalnya) membentuk komisi/sie khusus digital atau sebutan lain dengan tugas pa-da pelayanan dunia daring karena kemajuan teknologi informasi menjadi tools yang tidak dapat diabaikan demi kemajuan pelayanan dan perkembagan gereja. Masa pandemik tidak menjadi ancaman kepada warga jemaat untuk bertumbuh dan bergegas dalam sisi spiritualitas.
Transformasi Wawasan Dunia Marapu: Tantangan Pembinaan Warga Gereja Di Sumba Johanis Putratama Kamuri
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.766 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.257

Abstract

The spirituality of some Sumbanese Christians is characterized by Marapu, not Christianity. This was influenced by their religious commitment to Marapu.Through a mixed method approach, this study shows that Marapu's worldview is a major force, which shapes the culture and religious commitment of Sumbanese. The principles in the worldview of Marapu are the main protocols in understanding reality, including Christian principles. This is a challenge for the church in Sumba in fostering its members. Based on Romans 12:1-2 and Philippians 4:8-9 it will be shown that the direction of church service and the fostering of church members is the transformation of worldview.This transformation must be based on biblical principles.The impact is a biblical and moderate cultural transformation. Sebagian orang Kristen Sumba memiliki spiritualitas yang berciri Marapu, bukan Kristen. Ini dipengaruhi oleh komitmen religiusnya terhadap Marapu. Melalui mixed method approach, penelitian ini menunjukkan bahwa wawasan dunia Marapu adalah kekuatan utama, yang membentuk budaya dan komitmen religius orang Sumba. Prinsip-prinsip dalam wawasan dunia Marapu penjadi protokol utama dalam memahami realita, termasuk prinsip-prinsip Kristen. Akibatnya adalah sinkretisme dan lemahnya komitmen terhadap prinsip-prinsip Kristen. Ini adalah tantangan dalam pembinaan warga gereja di Sumba. Berdasarkan Roma 12:1-2 dan Filipi 4:8-9 akan ditunjukkan bahwa arah pelayanan gereja dan pembinaan warga gereja adalah transformasi wawasan dunia. Transformasi ini harus didasarkan pada prinsip-prinsip biblikal. Dampaknya adalah transformasi budaya yang biblikal dan moderat.
Penggunaan Enneagram Dalam Pembinaan Formasi Spiritual Kristen Grace Emilia
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5, No 1 (2021): January 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.815 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v5i1.334

Abstract

Enneagram is an ancient personality typology that can depict one’s personality strategy and pattern. It is potential to be used in Christian spiritual formation trainings. However, some Evangelicals voice their doubts especially regarding its historicity and reliability in relation to Christian spiritual formation. This study, conducted by using exploratory qualitative approach, tries to examine enneagram through its historicity and empirical studies and their interconnections with Christian spiritual formation. The study shows that enneagram can be used in Christian spiritual formation trainings, especially on topics discussing relational issues in the areas of friendship, marriage, leadership, conflict management, or counseling.   AbstrakEnneagram adalah tipologi kepribadian kuno yang dapat menggambarkan strategi dan pola kepribadian seseorang, sehingga berpotensi untuk digunakan dalam pembinaan formasi spiritual Kristen. Namun muncul keraguan dari kalangan Protestan Injili, terutama ditinjau dari aspek historis dan reliabilitasnya dalam hubungannya dengan formasi spiritual Kristen. Karena itu dengan menggunakan pendekatan kualitatif ekploratori, tulisan ini menelaah berbagai kajian historis dan empiris mengenai enneagram serta keterkaitannya dengan formasi spiritual Kristen. Hasil studi menunjukan bahwa enneagram dapat digunakan dalam pembinaan formasi spiritual Kristen, khususnya untuk menunjang pembahasan isu-isu relasional seperti persahabatan, pernikahan, kepemimpinan, manajemen konflik, atau konseling.
Pembinaan Guru Sekolah Minggu Untuk Mengajarkan Konsep Keselamatan Pada Anak R Riniwati
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.085 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.247

Abstract

This article discusses the formation of Sunday school teachers to teach children safety. The author uses a qualitative approach to analyze teacher needs, then the authors construct a pattern of coaching Sunday school teachers by elaborating sources of literature in accordance with the needs of teachers obtained from the needs analysis. The results of the needs analysis show there are three main needs needed by the teacher, namely aspects of knowledge about sin and salvation, aspects of personality where there are teachers who are still unsure of safety, and aspects of skills related to the ability to teach safety. The proposed pattern of coaching is to provide teaching about sin and salvation, the use of media for evangelism, mentoring or teacher supervision and evaluation.Artikel ini membahas tentang pembinaan guru sekolah minggu untuk mengajarkan keselamatan pada anak. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis kebutuhan guru, kemudian penulis melakukan konstruksi pola pembinaan guru sekolah minggu dengan melakukan elaborasi sumber literatur sesuai dengan kebutuhan guru yang diperoleh dari hasil analisis kebutuhan. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan ada tiga kebutuhan utama yang diperlukan guru yaitu aspek pengetahuan tentang dosa dan keselamatan, aspek kepribadian di mana ada guru yang masih ragu dengan keselamatan, dan aspek keterampilan berkaitan dengan kemampuan mengajarkan keselamatan. Pola pembinaan yang diusulkan adalah dengan memberikan pengajaran tentang dosa dan keselamatan, pemanfaatan media penginjilan, pendampingan atau supervisi guru dan evaluasi.
Implementasi Etika Kristen Dalam Keluarga Badan Pengurus Jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia Propinsi Jawa Tengah Jamin Tanhidy; Muner Daliman; Hana Suparti; Krido Siswanto
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5, No 1 (2021): January 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.743 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v5i1.348

Abstract

Family institution as the smallest unit of the human institutional system, like an organization, need rules and a code of ethics in order to run well. If ethics is not consistently applied in a family, it will have a negative impact on the harmony and quality of family, which in turn has a bad impact on the church, school, community and nation. Therefore, the aim of this Applied Research is to find out the level and what the most dominant indicators that tend to determine the implementation of Christian Ethics in the Family of the Church Leaders of Alliance Church in Central Java Province. This research using Quantitative Method based on aexegetical study text from Ephesians 5: 22-6: 4 in order to find out the indicators that determine the research. About 120 people are taking as a sample, using the Non Random Sampling Technique, data computed by SPSS Programme version 20. The result showed that, first, the level of implementation of Christian ethics in the family based on Ephesians 5: 22-6: 4 among The Church Leaders of Alliance Church in Central Java Province is in the category "Medium", This condition caused by pragmatic pastoral leadership patterns that took priority on church marketing and lackof synergy between church, family and school in realizing implementation of Christian Ethics in the Family. Second, Physical Aspect more determine the implementation of Christian ethics in the family among The Church Leaders. The results of this research indicate that the Physical and Theological Aspects are closely related (link) with each other as the main catalyst influencing the implementation of Christian ethics in the family which can ultimately build the body of Christ and create healthy church growth.  Therefore, the church needs to value both aspects proportionally. ABSTRAKLembaga keluarga sebagai satuan terkecil dari sistem kelembagaan manusia, layaknya sebuah organisasi memerlukan peraturan dan kode etik agar berjalan baik. Jika etika tidak diterapkan secara konsisten dalam sebuah keluarga, maka akan membawa dampak negatif bagi keharmonisan dan kualitas keluarga yang berdampak buruk kepada gereja, sekolah, masyarakat dan bangsa. Oleh sebab itu, Penelitian Terapan (Applied Research) ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar tingkat dan dimensi mana yang dominan menentukan, implementasi etika Kristen dalam keluarga Badan Pengurus Jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia (BPJ GKII) di Propinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan eksegesis terhadap nats Efesus 5:22-6:4 sebagai landasan teori dan menemukan indikator penelitian. Sampel penelitian sebanyak 120 orang, teknik pengambilan sampel dengan Non-Random Sampling, penghitungan data memakai SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, tingkat implementasi etika Kristen berdasarkan Surat Efesus 5:22-6:4 dalam keluarga BPJ GKII Propinsi Jawa Tengah berada dalam ketegori sedang. Hal ini disebabkan oleh pola pengembalaan pragmatis yang lebih berorientasi pada pemasaran organisasi gereja serta lemahnya sinergi antara gereja, keluarga dan sekolah dalam mewujudkan implementasi etika Kristen dalam keluarga. Kedua, aspek fisik dalam dimensi relasi suami-istri merupakan indikator yang paling dominan menentukan implementasi etika Kristen dalam keluarga BPJ GKII Propinsi Jawa Tengah.  Hasil riset ini menunjukkan bahwa aspek fisik dan teologis saling terkait erat (link) satu sama lain sebagai katalisator utama yang mempengaruhi implementasi etika Kristen dalam keluarga yang akhirnya dapat membangun tubuh Kristus dan menciptakan pertumbuhan gereja yang sehat. Oleh karena itu, gereja perlu menghargai kedua aspek ini secara proporsional.
Dewan Redaksi dan Daftar Isi Volume 4, Nomor 2, Juli 2020 I Putu Ayub Darmawan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.458 KB)

Abstract

Mengantisipasi dan Mengatasi Kecanduan Games Online Dalam Perspektif Teologi Injili Martin Elvis
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 2 (2020): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.038 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v4i2.235

Abstract

The development of technology is so rapid at present, the products produced greatly affect human life; either the ones that provide benefits or the ones that causes negative impacts. Parents, teachers and clergies finally see the importance of educating the adolescents to prevent and overcome the negative impact of online games addiction. Is the integrative and holistic Christian faith formation able to prevent and overcome the negative impact of the addiction? This paper is a result of a research that claims that the integrative and holistic Christian faith formation is able to lower the level of the addiction at the adolescents, especially at the younger children. While for those who don’t have any Christian faith formation, increase their level of addiction. In conclusion, it should be taken a precaution in order to avoid the teenagers from online games addiction by equipping them with training as early as possible. And for those who are in serious level of addiction, it is encouraged to take the integrative and holistic Christian faith formation.Perkembangan teknologi begitu pesat saat ini, produk-produk yang dihasilkan sangat memengaruhi kehidupan manusia, baik itu yang bermanfaat, maupun yang dapat menimbulkan dampak negatif. Orang tua, guru dan rohaniwan melihat pentingnya perhatian pada pembinaan anak remaja agar dapat mencegah dan mengatasi pengaruh negatif kecanduan games online ini. Apakah pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik dapat mengantisipasi dan mengatasi pengaruh negatif kecanduan games online terhadap anak remaja? Tulisan ini adalah hasil penelitian yang menyatakan bahwa pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik dapat menurunkan tingkat kecanduan terhadap games online pada anak remaja, khususnya pada anak-anak yang berusia lebih muda. Sedangkan anak-anak remaja yang tidak mendapatkan pembinaan iman Kristen, semakin meningkat tingkat kecanduan terhadap games online.  Jadi kesimpulannya, perlu diambil langkah antisipasi agar anak-anak remaja tidak semakin tinggi tingkat kecanduannya terhadap games online dengan mengadakan pembinaan sejak dini. Sedangkan untuk mereka yang telah tinggi tingkat kecanduannya, dapat diambil langkah mengatasinya dengan memberikan pembinaan iman Kristen yang integratif dan holistik.
Konsep Hidup Kekal Menurut Pandangan Dunia Etnis Baliem, Papua Sebagai Potensi dan Krisis Bagi Kontekstualisasi Injil Marde Christian Stenly Mawikere
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5, No 1 (2021): January 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.069 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v5i1.333

Abstract

This study reveals the Baliem ethnic concept of "eternal life" and how it relates to contextual gospel preaching (both potential and crisis). The study was conducted using a qualitative approach with a participant observer method supported by a study of a variety of relevant literature with a discussion of the concept of eternal life of Baliem people in Papua. As for the Baliem Society, Papua with a background of traditional societies with a worldview of animism has an eternal view of life which is lived out as an "ideal situation and condition" in the Nabelan-Kabelan myth and "an ideal person or figure" in the Naurekul myth. Through this view of eternal life, there is a "meeting point" and "difference" with the gospel message and Bible values. Because it is possible to be able to advocate and implement a contextual evangelistic approach for the Baliem people in Papua by touching and empowering their cultural values, Thus the Gospel and Christianity are not just a history or monument but are still present and change society while still paying attention to the integrity of the socio-cultural context, especially the people of Baliem, Papua.  ABSTRAKStudi ini mengungkapkan konsep etnis Baliem mengenai “hidup kekal” dan bagaimana kaitannya dengan pemberitaan Injil yang kontekstual (baik potensi maupun krisis). Penelitian dilaksanakan dengan  pendekatan kualitatif melalui metode pengamatan partisipan yang didukung dengan kajian kepada beragam literatur yang relevan dengan pembahasan mengenai konsep hidup kekal orang Baliem di Tanah Papua. Masyarakat Baliem, Papua dengan latar belakang masyarakat tradisional dengan pandangan dunia animisme memiliki pandangan hidup kekal yang dihayati sebagai “situasi dan kondisi yang ideal” pada mitos atau legenda Nabelan-Kabelan dan “pribadi atau sosok yang ideal” dalam legenda Naurekul. Melalui pandangan mengenai hidup kekal seperti ini, maka terdapat “titik temu” maupun “perbedaan” dengan berita Injil dan nilai-nilai Alkitab. Karena itu memungkinkan untuk dapat menganjurkan dan melaksanakan pendekatan kontekstualisasi Injil bagi etnis Baliem di Papua dengan menyentuh, memanfaatkan dan memberdayakan nilai budaya etnis Baliem, Dengan demikian Injil maupun kekristenan bukan hanya akan menjadi sejarah atau monumen namun akan tetap hadir dan mengubahkan masyarakat dengan tetap memperhatikan keutuhan konteks sosial budaya, khususnya etnis Baliem, Papua.

Page 8 of 21 | Total Record : 205