cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
Spatial Pattern of Water Quality on Coral Reef Area Around Kaledupa Island Hadiwijaya L. Salim; Dini Purbani; Agustin Rustam; Yulius -; Devi D. Suryono; Joko Prihantono
Jurnal Segara Vol 12, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1273.243 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i2.7680

Abstract

Healthy coral reefs depends on the quality of the waters , so that research and monitoring of water quality becomes important. This research attempt to asses marine waters quality at kaledupa island and it’ s surrounding waters on October and November 2014. 33 In-situ samples were collected using multiparameters tool purposively which are categorized into  physical parameters (temperature, turbidity and clarity), and chemical parameters (DO, salinity and pH). Waters quality defined by STORET method based on Ministry of Living Environment decree number 115 year of 2003. Analysis geographically has been conducted to describe distribution of waters quality spatially. The result shows that Kaledupa waters has sustain slightly pollution, especially on DO, turbidity, temperature and salinity parameters which have deviated from standard values. The light pollution in Kaledupa waters is suspected caused by the entry of abundance organic matter and shallow bathymetry.
Kesesuaian Kawasan Budidaya Rumput Laut di Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat Yulius -; Ardiansyah -; M. Ramdhan; A. Heriati; H.L. Salim; D. Purbani; S.N. Amri; T. Arifin
Jurnal Segara Vol 12, No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4389.616 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i1.7650

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas sumber daya pesisir dan laut yang memilki nilai ekonomis yang tinggi. Kabupaten Sumbawa memiliki potensi kawasan yang sangat menunjang untuk budidaya rumput laut dengan luas perairan pesisir ± 3.831,72 Km². Masyarakat pesisir di sekitar Teluk Saleh melakukan usaha budidaya rumput laut jenis Eucheuma Cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kesesuaian kawasan untuk budidaya rumput laut menggunakan SIG. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis spasial (keruangan) dan analisa tabular terhadap kesesuaian kawasan dalam SIG. Hasil analisis spasial dan tabular terhadap kesesuaian kawasan untuk budidaya rumput laut berhasil ditentukan kawasan yang sesuai untuk budidaya rumput laut, menunjukkan bahwa lokasi yang sesuai adalah di perairan Kecamatan Plampang dengan luas sekitar 36.061,17 hektar atau 60,34 % dari luas total wilayah kawasan pengembangan.
Budi daya Rumput Laut dan Pengelolaannya di Pesisir Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat Berdasarkan Analisa Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung Lingkungan Yulius Yulius; Muhammad Ramdhan; Joko Prihantono; Dino Gunawan Pryambodo; Dani Saepuloh; Hadiwijaya Lesmana Salim; Irfan Rizaki; Ranela Intan Zahara
Jurnal Segara Vol 15, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1306.774 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i1.7429

Abstract

Rumput laut (makro alga) merupakan salah satu komoditas sumber daya pesisir yang mermiliki potensi ekonomis, mudah dibudidayakan dengan biaya produksi yang rendah. Perairan Kabupaten Dompu Provinsi, Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan kawasan memiliki beragam sumber daya hayati pesisir dan laut (SDHPL), diantaranya rumput laut jenis Eucheuma cottoni dan Kappaphycus alvarezii yang merupakan rumput laut dari 5 jenis yang dimanfaatkan dan dibudidayakan di Indonesia, namun data dan informasi yang menunjang usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Dompu masih sangat minim. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian perairan dan menduga daya dukung lingkungannya untuk budidaya rumput laut di Kabupaten Dompu. Metode spasial, yaitu metode untuk mendapatkan informasi pengamatan yang dipengaruhi efek ruang digunakan dalam kajian ini. Pengaruh efek ruang tersebut disajikan dalam bentuk pembobotan.  Parameter unsur hara, yaitu Nitrogen (N) dan Phosfat (P) digunakan sebagai dasar untuk menghitung daya dukung lingkungan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas area yang sesuai untuk budidaya rumput laut sekitar 72.515 ha atau 99,49 % dari luas total wilayah kawasan yang dikaji. Luas area budidaya rumput laut yang telah dimanfaatkan hingga saat ini adalah 500 ha atau 3,3 % dari total luasan daya dukung, sehingga luas area yang belum termanfaatkan adalah 14.719 Ha atau 66,7 % dari total luasan daya dukung. Skenario ideal pengembangan usaha budidaya rumput laut yaitu; melalui penambahan bibit unggul dan informasi musim tanam serta melaksanakan budidaya secara optimal sehingga potensi ekonomi pertahun dapat tercapai.
Identification Of Liquefaction Hazard In The Coastal Area Of Merak-Anyer, Banten Based On Cpt And Spt Data Eko Soebowo
Jurnal Segara Vol 12, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6684.327 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i2.7656

Abstract

The coastal area of Merak-Anyer, Banten is located in the high seismic zone therefore it is highly susceptible to seismic hazard such as liquefaction. Earthquake triggered liquefaction could cause destructions to buildings and infrastructures, thus it can hinder evacuation efforts during an earthquake event.   Knowledge of the spatial distribution of liquefaction hazard potential in the coastal area is required as part of the hazard mitigation measures. This paper presents the results of the liquefaction hazard susceptibility analysis in Merak-Anyer, Banten based on geotechnical investigation. Liquefaction analysis was carried out using cone penetration test (CPT) and N-SPT methods with earthquake magnitude of 7, peak ground acceleration of 0.25 g and local groundwater level.  Analysis results showed that all investigation points in the coastal area of Merak-Anyer are prone to liquefaction and its associated settlement. The high liquefaction zone includes the areas of Rencana Pelabuhan Cilegon, Cigading, Mercu Suar dan Cinangka which correlates with the occurrence of loose sand – loose silt at the surface to the depth of 10 m with cone resistance (qc) < 10 MPa  and N-SPT <10.
The Mechanisms of Coastal Erosion in Northeast Bali Semeidi Husrin; Roka Pratama; Aprizon Putra; Hadi Sofyan; Nia Naelul Hasanah; Nita Yuanita; Irwan Meilano
Jurnal Segara Vol 12, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2159.913 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i2.7681

Abstract

Marine tourism sector in the Northeast Bali, Indonesia, experienced rapid development in the last decades. However, severe coastal erosion in some parts of the area has threaten the industry. Unsuccessful mitigation measures have been carried out by authorities by constructing seawalls along the coastline. The objective of the study is to understand the physical processes related to coastal erosion in the area and to assess the effectiveness of seawall along the coastline. To achieve the objectives, a GIS approach was carried out to investigate general changes of the coastline since 1944 until 2013. Hydrodynamics analyses and sediment transport simulations were also conducted and validated by the data from field measurements. The role of Mount Agung (a volcanic mountain) to the coastal dynamic system was also investigated. Moreover, the data from cGPS measurements in the island were also used for the analysis of possible land subsidence in the area. From social aspects, the history of USAT Liberty Shipwreck in Tulamben Village supports the analyses and provides information on the evolution of coastline in the area. We conclude that coastal erosion in North-east Bali has long been occurred and strongly affected by the dynamics of hydro-oceanography, volcanic activities, geological dynamics, and human interferences. Finally, the mechanism of coastal erosion in the area was also proposed.
Status Keberlanjutan dan Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Kabupaten Mempawah, Propinsi Kalimantan Barat Benny Khairuddin; Fredinan Yulianda; Cecep Kusmana; Yonvitner -
Jurnal Segara Vol 12, No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1802.826 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i1.7651

Abstract

Untuk mengelola ekosistem mangrove di Kabupaten Mempawah diperlukan suatu strategi pengelolaan ekosistem mangrove secara terpadu dan berkelanjutan dilakukan dengan melakukan evaluasi status keberlanjutan melalui 21 indikator yang dikelompokkan kedalam empat dimensi yaitu ekologi, ekonomi, sosial, hukum dan kelembagaan.  Indikator-indikator tersebut diperoleh dari penelitian terdahulu, studi pustaka, CIFOR dan LEI menyangkut Sustainable forest management (SFM), serta berdasarkan pengamatan di lapangan. Hasil modifikasi indikator tersebut dinamai Rap-MEcosytem pada skala (0-100) memperlihatkan status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove multidimensi dinyatakan cukup berkelanjutan dengan indeks 52,83 begitu halnya dimensi ekonomi 59,66, sosial 59,27 dan hukum/kelembagaan 52,33 sedangkan dimensi ekologi memiliki status kurang berkelanjutan 44,75 sehingga perlu mendapat prioritas perbaikan. Hasil evaluasi di lanjutkan dengan Analytic Hierarchy Process (AHP) sehingga didapatkan strategi pengelolaan dengan prioritas : (a) melengkapi legalitas pengelolaan wilayah pesisir dengan menyusun Rencana zonasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3K) dan turunannya, (b) meningkatan personil, kapasitas, kualitas, sarana dan prasarana petugas penyuluh perikanan dan kelautan yang hanya berjumlah 5 orang serta penyuluh kehutanan yang berjumlah 6 orang, (c) melakukan reboisasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove terutama di Kecamatan Sungai Pinyuh yang paling banyak mengalami degradasi.
Pengaruh Aktifitas Seafloor Fumaroles Terhadap Sebaran Suhu Permukaan dan Kondisi Lingkungan Perairan di Teluk Pria Laot, Pulau Weh Wisnu Arya Gemilang; Ulung Jantama Wisha
Jurnal Segara Vol 15, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1479.942 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i1.6776

Abstract

Aktifitas vulkanik bawah laut yang ada di kawasan perairan Pulau Weh ditunjukkan dalam bentuk fumaroles, solfatara, lahan panas, mata air panas, kolam lumpur panas dan alterasi sekitar lubang kepundah dasar laut dan pantai. Manifestasi hydrothermal berupa semburan gas vulkanik dan keluaran mata air panas bawah laut mendominasi pada perairan Pulau Weh, terutama pada Teluk Pria Laot. Penelitian ini dilakukan terhadap karakteristik Suhu Permukaan Laut (SPL) menggunakan pendekatan data citra satelit Aqua MODIS dapat memberikan gambaran pengaruh aktifitas mata air panas bawah laut terhadap SPL. SPL di sekitar lokasi keluaran airpanas bawah laut menunjukkan nilai tingggi dibandingkan sekitarnya. Rata-rata SPL pada musim barat 28,94°C, peralihan I 30,52°C, monsun Timur 30,06°C, dan pada musim peralihan II 27,93°C.  Musim timur hingga peralihan II memperlihatkan anomali rendahnya suhu sekitar keluaran mata airpanas dibandingkan dengan sekitarnya, yang dipengaruhi oleh faktor meningkatnya curah hujan dan fenomena Transpor Ekman. Fluktuasi SPL pada area sekitar aktifitas seafloor fumaroles mengikuti pola perubahan elevasi pasang-surut. Aktifitas seafloor fumaroles memberikan dampak perubahan karakteristik nilai salinitas, pH serta suhu sekitar Teluk, sehingga banyak biota laut yang tidak dapat hidup di sekitar fumaroles tersebut.
Salinity Structure Within The Estuary Of Bintuni Bay, At The Southern Part Of Bird Head Of West Papua, Indonesia I Wayan Nurjaya
Jurnal Segara Vol 12, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3704.188 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i2.7657

Abstract

Bintuni Bay is a semi-closed bay which a lot of big rivers flow into the bay and bring a huge amount of freshwater. This bay is not directly connected to the open sea but separated by the Berau Bay. The bay of Berau has wider bay mouth as well as deeper than Bintuni Bay, the deepest part more than 70 m located at the center part of bay. Tidal force generated offshore is able to push higher salinity water (HSW) mass further into the inner bay, otherwise the low salinity water (LSW) mass pushed out toward the head of the bay. In the area where LSW and HSW masses meet each other is found steep salinity gradient (salinity front). Two times field observations were conducted with lowered CTD (Conductivity Temperature Depth) sensor from the surface layer until one meter above seabed at 30 stations, either at the end of north-east monsoon (March 2013) or at south-east monsoon (July-August 2013). The HSW mass was dominant found at deeper layer and southern side of the bay, while the LSW mass occupied surface layer at the northern side of the bay.
Estimation of Sediment Distribution Based on Bathymetry Alteration (2014-2016) in the Inner Bay of Ambon, Maluku, Indonesia Guntur Adhi Rahmawan; Wisnu Arya Gemilang; Ulung Jantama Wisha; Ruzana Dhiauddin; Koko Ondara
Jurnal Segara Vol 15, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1370.579 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i2.6956

Abstract

The development of Ambon city is centered around Ambon Bay. As the major area of marine and social activities, changes occurred directly affect to seawater degradation. Sedimentation is the main issue that has been occurring. Marine ecosystem can be potentially hampered by the high rate of sedimentation in the Inner Bay of Ambon (TAD). This study aimed to determine the distribution of sediment volume within the bay. Bathymetry of TAD was surveyed using transducer (Echosounder Echo track CVM Teledyne Odom Hydrographic Single Beam), which the depth of certain position was connected to GPS to record all the position data accurately. The field data are then analyzed spatially modelled in the form of 2D and 3D maps, overlaid with the past bathymetry data to calculate the bathymetry alteration and sediment volume estimation during 2014-2016. The depth of TAD in 2014 ranged between 0 - -42 meters, while, in 2016 the water depth slightly changed to 0 – -44 meters. The reduction of the water depth is observed in the 25 – 125 m from shoreline, where the bed thickness changes observed ranging from 0.1 - 1.4 m. Total volume of sediment augmentation reaches 13,236,182 m3 that covers about 67.67 Ha. Tidal current, that ranged averagely from 0-1.2 m/s, has a tremendous influence on sediment transport in TAD. The bay mouth, that is a semi-enclosed enclosed area, triggers sediment accumulation due to the weak tidal current transport. If ongoing, these conditions may endanger the environment and biota survival ability.
Mina Wisata Sebagai Alternatif Pengembangan Wisata Bahari di Kawasan Pesisir Buleleng, Bali Utara Gede Ari Yudasmara
Jurnal Segara Vol 12, No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3461.41 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i1.7653

Abstract

Kawasan pesisir Kabupaten Buleleng saat ini telah dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan kepariwisataan, akan tetapi kegiatan tersebut masih belum memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan memiliki kecenderungan mengalami kejenuhan. Untuk itu, diperlukan suatu pengembangan wisata alternatif yang sesuai dengan kondisi dan potensi sumber daya alam yang ada serta saling  bersinergi dengan aktivitas wisata lainnya, seperti contohnya pengembangan mina wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kondisi dan potensi sumberdaya alam pesisir dan laut, tingkat kesesuaian kawasan pesisir Buleleng dalam menunjang pengembangan mina wisata dan menghasilkan model aktivitas mina wisata di kawasan pesisir Buleleng yang terpadu dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kesesuaian kawasan dengan rancangan penelitiannya berupa survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Buleleng apabila dilihat dari kondisi dan potensi sumberdaya alamnya masih mampu untuk mendukung aktivitas mina wisata dengan tingkat kesesuaian kawasan berdasarkan indeks kesesuaian wisata, yaitu pesisir Buleleng timur terkategori cukup sesuai (76,92), pesisir Buleleng tengah terkategori cukup sesuai (61,53) dan pesisir Buleleng barat terkategori sangat sesuai (87,17). Rencana model mina wisata yang dapat dikembangkan antara lain pesisir Buleleng timur adalah mina wisata budidaya laut (ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures), pesisir Buleleng tengah adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures), dan pesisir Buleleng barat adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut, Bandeng, Kerapu, Mutiara, ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures).

Page 6 of 20 | Total Record : 191