cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 697 Documents
PETA PENGARUH FAKTOR DETERMINAN TERHADAP ANEMIA IBU HAMIL BERDASARKAN PENGUKURAN KADAR HB Ila Fadila; Deddy A. Suhardi
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan laporan pencapaian MDGs (2010) salah satu target di Indonesia yang masih memerlukan upaya keras untuk pencapaiannya dalam kemiskinan, gizi, air bersih dan kesehatan ibu melahirkan. Salah satu status kesehatan ibu yang mempengaruhi angka kematian ibu adalah kejadian anemia pada ibu hamil. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran struktur pengaruh faktor-faktor determinan yang diteliti terhadap status anemia pada ibu hamil di Kabupaten Serang. Desain penelitian bersifat causal analysis untuk menguji hipotesishipotesis pengaruh antar variabel. Perancangan kerangka model berdasarkan pengetahuan teori untuk dibandingkan terhadap penerapannya dalam kondisi tertentu. Misalnya, dalam penelitian ini, kondisi karakteristik ibu hamil, kondisi kandungan/kesehatan tubuh ibu hamil, dan status gizi diuji interelasinya terhadap kadar Hb ibu hamil melalui suatu model analisis jalur. Pengumpulan data dilakukan melalui pengambilan data primer dan sekunder. Primer dari hasil wawancara yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur, dan pengukuran lingkar lengan atas serta pemeriksaan kadar Hb ibu hamil. Data sekunder berisi tentang kondisi Kabupaten Serang yang tertuang pada Serang dalam Angka. Adapun jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 120 orang ibu hamil. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah Kabupaten Serang berdasarkan data pada 3 Puskesmas yang diteliti secara umum adalah 72.5 % dengan rata-rata kadar Hb adalah 9.7 gr/dL. Bila dirinci berdasarkan usia kehamilan diperoleh hasil prevalensi anemia pada ibu hamil secara berurut adalah: pada usia kehamilan trimester I (63.0%), trimester II (60.5 %) dan trimester III (85.5 %). Faktor kondisi kandungan /kesehatan tubuh dan status gizi berpengaruh kepada kadar Hb, sehingga apabila terjadi perubahan pada satu atau kedua faktor ini akan menyebabkan perubahan kondisi kadar Hb. Kedua faktor tersebut dipengaruhi oleh faktor- faktor sosial ekonomi, maka perubahan yang terjadi pada satu atau lebih faktor sosial ekonomi akan mendorong perubahan kondisi kandungan/kesehatan tubuh dan status gizi, yang selanjutnya mendorong perubahan pada kondisi kadar Hb.Kata kunci : Analisis Jalur, Anemia, Ibu Hamil, Kabupaten Serang
RE-VEGETASI TANAH VULKANIS TANDUS DENGAN AIR SUMUR I Nengah Simpen; I Nyoman Sutarpa Sutama; I Wayan Redana; Siti Zulaikah
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tanah vulkanis merupakan suatu perlapisan tanah yang terbentuk oleh hamparan material letusan gunung berapi saat meletus. Tanah vulkanis biasanya tandus. Perlu waktu yang lama bertahun-tahun dan bahkan sampai berpuluh-puluh tahun untuk menumbuhkan kembali vegetasi (re-vegetasi) di daerah ini. Untuk itu perlu dicari suatu cara agar pada tanah yang semula tandus dapat sesegera mungkin ditumbuhi tanam-tanaman, sehingga tanah vulkanis menjadi produktif. Melihat kondisinya yang seperti ini dapatlah dianalisa bahwa masalah utama pada daerah tersebut adalah air dan cara mengelolanya. Di sini diberikan salah satu contoh untuk mencari air pada daerah tanah vulkanis tandus yaitu dengan Metoda Geolistrik. Dari hasil yang didapat bahwa walaupun bagian atasnya berupa tanah vulkanik tandus, namun di bawahnya masih terpendam akuifer-akuifer yang dapat disadap airnya. Setelah airnya didapat, airnya mestinya dikelola sehngga dapat dipakai oleh hewan maupun tumbuhan. Simbiosis antara hewan dan tumbuhan dapat mempercepat proses re-vegetasi pada daerah vulkanis tandus. Sebagai hasil studi, dapat dilihat pada beberapa daerah di Kabupaten Karangasem Bali.Kata kunci: Re-vegetasi, Tanah vulkanis tandus, Metoda Geolistrik, Air sumur
Penentuan Konsentrasi Optimum Kurva Standar Antioksidan; Asam Galat, Asam Askorbat dan Trolox® terhadap Radikal Bebas DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl) 0,1 mM IB Ketut Widnyana Yoga
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Standar antioksidan seperti asam galat, asam askorbat dan Trolox® sering digunakan pada penentuan kapasitas antioksidan, konsentrasi standar optimum sangat diperlukan untuk menentukan kurva regresi linier yang memenuhi hukum Lambert-Beer. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi optimum masing-masing standar dalam membuat kurva regresi linier dengan nilai absorbansi 0,2-0,8. Metode pengujian dilakukan secara kuantitatif mencari nilai absorbansi dengan mereaksikan masing­masing standar terhadap radikal Bebas DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) 0,1 mM menggunakan spektrofotometer. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali, data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel, grafik, nilai absorbasi rata-rata dan standar deviasi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa masing-masing standar memberikan kurva regresi linier dengan rentang nilai optimum pada asam galat (2,5; 5; 10; 15 mg/L), asam askorbat (10; 20; 30; 40; 50; 60; 70 mg/L) dan Trolox® (10; 20; 30; 40; 50; 60 mg/L). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa asam galat yang paling efektif dalam mereduksi radikal Bebas DPPH 0,1 mM dibandingkan asam askorbat dan Trolox®.Kata Kunci : asam galat, asam askorbat, Trolox®, antioksidan, DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl)AbstractAntioxidant standard such as gallic acid, ascorbic acid, and Trolox® often are used to determine of antioxidant capacity, standard optimum concentration are needed to make regression of curve to follow of Lambert-Beer law. The purpose of this research is to determine of optimum concentration each standards to make regression of curve with absorbance value 0,2-0,8. The quantitative methode was done to search absorbance value by reaction between each standards to free radical of DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl) 0,1 mM by spectrophotometer. The experiment was done two replicates, all of datas were collected is showed on table, graph, absorbance value average and deviation of standard. The result show that each standards gave regression of curve by optimum interval of value respectively; gallic acid (2,5; 5; 10; 15 mg/L), ascorbic acid (10; 20; 30; 40; 50; 60; 70 mg/L) and Trolox® (10; 20; 30; 40; 50; 60 mg/L). The conclution of this researh is gallic acid is the most efective to against of free radicals DPPH 0,1 mM to compare with ascorbic acid and Trolox®.Kata Kunci : gallic acid, ascorbic acid, Trolox®, antioxidant, DPPH (2,2-diphenyl-1- picrylhydrazyl)
PENINGKATAN HASIL BEBERAPA JENIS SAYURAN DI LAHAN KERING BERBASIS KOMPOS LIMBAH PANEN KENTANG I Nengah Karnata; I W K Turaini; A. A. G Putra
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan dengan tujuan : a. Mengetahui pengaruh kompos limbah panen kentang terhadap peningkatan kesuburan tanah dan peningkatan hasil beberapa jenis sayuran; b. Memanfaatkan potensi lokal yang tersedia untuk meningkatkan ekonomi petani. Penelitian dilakukan di Desa Candikuning, Bedugul, Bali dengan ketinggian tempat 1.247 m di atas permukaan laut. Tipe iklimnya termasuk B3 dengan 7 - 8 bulan basah dan 4 5 bulan kering. Penelitian berlangsung mulai bulan Mei sampai Oktober 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial pola tersarang. Perlakuan yang dicoba adalah kompos limbah panen kentang pada beberapa jenis sayuran, perlakuan diulang tiga kali.Hasil penelitian menunjukkan kandungan hara limbah panen kentang setelah dikomposkan dengan mencampur cairan isi rumen sapi sebagai biofermantor menghasilkan C-organik sangat tinggi, yaitu 6,940 % sedangkan kandungan N-Total, P tersedia dan K Total masing-masing sedang. Pengaruh kompos limbah panen kentang pada lahan tanam (tanah) mampu meningkatkan C-organik tanah. Hal ini terbukti dari status C-organik tanah awal 1,840 % (rendah), setelah 2 minggu aplikasi kompos maka C-organiknya menjadi 3,75 % (tinggi). Begitu juga halnya dengan kandungan N-Total, dimana 2 minggu setelah aplikasi kompos mampu meningkatan N-Total dari 0,159 (rendah) menjadi 0,260 % (sedang). Pada unsur P, pengaruh 2 minggu setelah aplikasi kompos mampu meningkatkan P-Tersedia dan P-Total. P-Tersedia meningkat dari 437,180 ppm (sangat tinggi) menjadi P-Total 0,29 % atau setara dengan 2900 ppm (sangat tinggi). Selanjutnya kandungan K-Total tanah juga meningkat setelah diberikan kompos. Setelah 2 minggu aplikasi kompos mampu meningtakan K-Total tanah 0,04 % menjadi 0,08 %, walaupun masih dalam strata sangat rendah. Perlakuan kompos limbah panen kentang memberikan pengaruh yang bervariasi terhadap lima jenis sayuran yang dicoba. Empat jenis tanaman sayuran yang dicoba, yaitu Selada, Sawi Hijau, Phak Choy dan Bayam Cabut menunjukkan pengaruh yang nyata, sangat nyata dan tidak nyata. Akan tetapi, pada Kaylan, pemberian kompos limbah panen kentang tidak memberikan pengaruh yang nyata.Kata kunci : jenis sayuran, kompos, limbah panen kentang ABSTRACTThis study aims : a. To find out the effect of compost of potato harvest waste compost to ward improvement of soil fertility and improvement of the results of several types of vegetables at dry farm with wet temperate at Candikuning Village, Baturiti, Tabanan; b. Utilizing of existing local potency to improve economy. The study was conducted in the Candikuning Village, Bedugul, Bali it have height of 1,247 m on sea level. Its climate is B3 type with 7-8 months of wet and 4-5 months is dry. This study was took place from May upto October 2014. This study was applied Randomized Block Design (RBD) factorial nested pattern. The tested treatments was compost of potato harvest waste on several kind of vegetables, each treatment was repeated three times.The results shows the nutrient content of the potato harvest waste after composted by mixing of cow rumen fluid as biofermantor produce very high C-organic, which is 6.940 %, while the content of N - total , P is available and K Total each is moderate. The effect of compost of potato harvest waste on arable land (soil) able to improve C- organic of land. This proved from the status of C organic at beginning of soil is 1.840% (low), after 2 weeks the application of compost hence the C - organic become 3.75 % (high). Similarly, the content of N-total, that 2 weeks after the application of compost able to improve the N-total from 0.159 % (low) become 0.260% (moderate). In the P element, the effect of 2 weeks after the application of compost able to improve the P - available and P - total. P-available improve from 437,180 ppm (very high) become P-Total is 0.29%, equivalent to 2,900 ppm (very high). Furthermore, the content of K - Total of land also improve after given compost. After 2 weeks application of compost able to improve K-Total of land from 0.04 % become 0.08%, although still in a very low level. Treatment of compost of potato harvest waste give varying effect on the five types of tested vegetables. Four kind of tested vegetables as follows Lettuce, Mustard Greens, Phak Choy and Spinach shows significant effect, very significant and significant. However, in Kaylan, giving of compost of potato harvest waste was not significant effect.Keywords : vegetables, compost, potato harvest waste
LATIHAN FISIK DAN OSTEOPOROSIS PADA WANITA MENOPAUSE NI MADE SRI DEWI LESTARI
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Osteoporosis atau keropos tulang merupakan penyakit kronik dimana terjadi penurunan masa tulang. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan yang terjadi di seluruh dunia dan jumlahnya meningkat setiap tahunnya. Data dari WHO pada tahun 2010 diketahui bahwa di seluruh dunia ada sekitar 200 juta orang yang menderita Osteoporosis. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria terutama setelah wanita mengalami menopause karena pada masa ini hormon estrogen yang membantu pengangkutan kalsium kedalam tulang jumlahnya berkurang. Pada tahun 2050 diperkirakan angka patah tulang pinggul karena osteoporosis akan meningkat 2 kali lipat pada wanita daripada pria. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya osteoporosis salah satunya adalah dengan melakukan latihan fisik. Latihan fisik dapat meningkatkan kepadatan tulang dan kekuatan otot yang akan menyokong tulang. Latihan fisik yang direkomendasikan pada wanita menopause seperti berjalan, joging, bersepeda, renang dan chi. Latihan fisik ini harus dilakukan dengan baik, teratur, dan tidak boleh terlalu berlebihan atau berat karena dapat memicu peningkatan pembuangan masa tulang.Kata kunci: latihan fisik, osteoporosis, menopause
PRODUKSI PIGMEN WARNA MERAH DARI JAMUR PENICILLIUM PURPUROGENUM YANG DIISOLASI DARI TANAH TERCEMAR LIMBAH SUSU KAMBING DENGAN METODE SUBMERGED FERMENTATION I Dewa Gede Agus Sudarma; I Dewa Ketut Sastrawidana; Sit Maryam
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum produksi pigmen warna merah dari jamur Penicillium purpurogenum yang diisolasi dari tanah tercemar limbah susu kambing. Produksi pigmen menggunakan metode submerged fermentation dengan media PD Broth. Kondisi lingkungan yang diidentifikasi dalam produksi pigmen merah yaitu solid support (ampas kelapa dan rumput laut), suhu (30oC, 35oC, 40oC, dan 45oC), pH (4-10), waktu inkubasi (1-12 hari), sumber karbon (glukosa, sukrosa, dan pati) dan sumber nitrogen (ekstrak ragi, pepton, dan NaNO3). Pigmen merah yang diekstrak menggunakan akuades dan diukur nilai absorbansinya menggunakan spektronik 20+ pada panjang gelombang 490 nm. Jumlah pigmen direpresentasikan oleh nilai absorbansi pigmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pigmen warna merah dari jamur Penicillium purpurogenum optimum dengan solid support ampas kelapa, suhu 30oC, pH 5, waktu inkubasi 11 hari, sumber karbon sukrosa dan sumber nitrogen ektrak ragi.Kata-kata kunci: kondisi optimum, produksi pigmen, Penicillium purpurogenum.ABSTRACTThe aim is to determine optimum condition of red pigmen production by Penicillium puurpurogenum that is isolated from from soil contaminated by waste of milk. The method is submerged fermentation with PD broth as media. Environmental conditions in the production of the red pigment are solid support (coconut pulp and seaweed), temperature (30oC, 35oC, 40oC and 45oC), pH (4- 10), the incubation time (1-12 days), carbon source (glucose, sucrose, and starch) and nitrogen source (yeast extract, peptone, and NaNO3). Red pigment is extracted using distilled water and absorbance value is measured using spektronik 20+ at wavelength of 490 nm. The amount of pigment is represented by absorbance value. The results showed that the red pigment of the fungus Penicillium purpurogenum optimum with coconut pulp as solid support, 30°C, pH 5, 11-day incubation period, sucrose as carbon source, and yeast extract as nitrogen source.Key words: Pigment production, Penicillium purpurogenum, optimum conditions.
LANSIA SEHAT DAN BAHAGIA DENGAN SENAM BUGAR LANSIA Ni Putu Dewi Sri Wahyuni
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

WHO menggolongkan lanjut usia menjadi empat yaitu; usia pertengahan 45-59 tahun, lanjut usia 60-74 tahun, lanjut usia tua 75-90 tahun, dan usia sangat tua 90 tahun. Indonesia adalah salah satu negara yang terletak di Asia Tenggara yang memasuki era penduduk berstruktur lansia (aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia di atas 60 tahun sekitar 7,18 persen dan diperkirakan pada tahun 2015 akan mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan pada tahun 2011 menjadi lebih dari 432 ribu orang atau 11,4 persen dari jumlah penduduk. Proses penuaan disertai adanya penurunan fungsi organ, peningkatan gangguan organ dan fungsi tubuh, terjadi perubahan komposisi tubuh, sehingga muncullah berbagai keluhan gangguan kesehatan. Berbagai cara yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan salah satunya adalah melakukan olahraga secara teratur dan olahraga yang paling mudah dilakukan adalah senam bugar lansia. Beberapa penelitian menemukan bahwa olahraga pada lansia dapat meningkatkan kebugaran jasmani, mengurangi gejala gangguan tidur dan tingkat kecemasan sehingga lansia dapat hidup sehat dan bahagia di usianya yang senja.Kata kunci : Lansia, sehat, senam bugarAbstractWHO classified the elderly into four, namely; middle age 45-59 years, aged 60-74 years, 75-90 years old elderly and very old age of 90 years. Indonesia is one of the countries located in Southeast Asia are entering the era of the elderly population structure (aging structured population) because of the number of people aged over 60 years around 7.18 percent and is expected in 2015 will have increased almost two- fold compared to the year 2011 to more than 432 thousand people or 11.4 percent of the population. The aging process is accompanied by a decrease in organ function, increased disturbance organs and bodily functions, there is a change in body composition, so that there are the complaints of health problems. A variety of ways that can be done as an effort to prevent one of them is regular exercise and exercise is most easily done gymnastics fit elderly. Several studies have found that exercise in the elderly can enhance physical fitness, reduce symptoms of sleep disorders and anxiety level so that the elderly can live healthy and happy.Keywords: Elderly, healthy, fit gymnastics
PENERAPAN IPTEK KEOLAHRGAAN DALAM MENINGKATKAN HASIL GATEING PADA OLAHRAGA WOODBALL Gede Doddy Tisna
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Olahraga woodball termasuk olahraga yang baru berkembang. Hasil akhir dari olahraga ini adalah memasukkan bola ke dalam gawang (gateing). Salah satu permasalahan yang di hadapi oleh atlet adalah teknik yang digunakan dalam melakukan gateing belum berbasiskan Ilmu dan Pengatahuan dan Teknologi (IPTEK). Berdasarkan hasil obserpasi awal pada pada atlet woodball proses gateing belum menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah. Metode latihan gateing belum diterapkan dan aplikasi Ilmu Biomekanika Olahraga belum diterapkan. Latihan gateing harus menerapkan ilmu kepelatihan, diantaranya harus menerapkan set, repetisi, intensitas dan voluma latihan yang tepat. Metode gateing bisa dilatihkan dengan metode latihan padat dan latihan terdistribusi dengan jarak 3 meter, 5 meter dan 10 meter dengan sudut tembak 75, 90, 105, 255, 270 dan 285 derajat. Terkait dengan jarak dan sudut gateing atlet bisa menerapkan aplikasi ilmu biomekanika olahraga. Hasil yang diharapkan dari memberikan latihan padat dan terdistribusi adalah kemampuan gateing atlet bisa meningkat, bola yang masuk akan semakin banyak, akurasi tembakan ke gawang (gate) akan semakin baik dan terakhir rasa percaya diri melakuakn tembakan bola ke gawang akan meningkat, sehingga prestasi atlet bisa meningkat.Kata kunci: latihan padat dan terdistribusi, woodball, gateing.
AKTIVITAS FISIK (OLAHRAGA) PADA PENDERITA ASMA I Made Kusuma Wijaya
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran nafas, yang sangat dekat dengan masyarakat dan mempunyai populasi yang terus meningkat. Kasus asma didunia juga terus mengalami peningkatan dan diprediksi pada tahun 2025 penderita asma akan mencapai 400 juta jiwa dimana penyakit asma tersebut menduduki urutan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia. Asma dapat bersifat ringan yang tidak mengganggu aktivitas dan dapat bersifat menetap yang dapat mengganggu aktivitas serta dapat menimbulkan disability (kecacatan) sehingga akan menurunkan produktivitas serta menurunkan kualitas hidup seseorang.Olahraga merupakan salah satu cara untuk mengontrol penyakit asma, karena akan meningkatkan kebugaran jasmani penderita. Melalui olahraga yang teratur maka penderita akan jarang mendapatkan serangan asma serta serangan yang timbul akan menjadi lebih ringan. Tetapi olahraga haruslah dilakukan dengan baik karena olahraga juga akan dapat menjadi pemicu serangan asma yang dikenal dengan istilah EIA (Exercise Induced Asthma).Olahraga yang baik dilakukan adalah olahraga yang bersifat aerobik dengan intensitas yang tidak terlalu tinggi. Melalui aktivitas tersebut maka penderita akan dapat meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru serta memperkuat otot-otot pernafasannya sehingga pengambilan oksigen akan lebih banyak dan penderita asma akan dapat bernafas lebih nyaman.Kata kunci: olahraga, asma, kambuh
LATIHAN FISIK PADA PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER Putu Adi Saputra
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK), yang disebut juga penyakit arteri koroner adalah suatu penyakit dimana arteri koroner pada jantung yang berfungsi mensuplai oksigen dan nutrisi pada otot jantung, tidak adekuat dalam menjalankan fungsi normalnya. PJK terjadi ketika sebuah plak arterosklerotik menebal dan mengeras terjadi di arteri koroner. Secara klinis, pada penderita PJK yang respon terhadap obat-obatan, manfaat aktifitas fisik jauh lebih besar daripada resikonya. Aktifitas fisik sama efektifnya dengan pemberian obat-obatan untuk mencegah komplikasi sekunder. Aktifitas atau olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang memiliki banyak manfaat bagi penderita penyakit jantung koroner, mencegah pembuluh darah mengalami penyempitan lebih lanjut, mencegah pembekuan darah, mempertahankan irama jantung yang normal. Terdapat sebuah studi yang menemukan pasien dengan PJK yang mengikuti latihan, mengurangi tingkat kematian akibat PJK sebanyak 20-25 %. Ini merupakan bukti kuat bahwa latihan fisik mempengaruhi perbaikan penyakit jantung. Latihan aerobik atau cardio dapat meningkatkan kemampuan tubuh dalam menggunakan oksigen untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk bergerak. Latihan aerobik meningkatkan daya tahan kardiorespirasi. Rekomendasi latihan untuk penderita PJK adalah 30-60 menit per hari, dan dilakukan 3-5 kali semingguKata Kunci : Aktifitas fisik, latihan Aerobik, penyakit jantung koronerAbstractCoronary heart disease (CHD), also known as coronary artery disease is a disease of the coronary arteries of the heart which serves to supply oxygen and nutrients to the heart muscle, inadequate in carrying out its normal function. CHD occurs when a atherosclerotic plaque thicken and harden occurs in the coronary arteries. Clinically, in patients with CHD who respond to medication, the benefits of physical activity is more better than the risks. Physical activity is as effective as medication to prevent secondary complications. Activities or sports with mild to moderate intensity has many benefits for patients with coronary heart disease, prevent blood vessels from narrowing further, prevent blood clotting, maintaining normal heart rhythm. There is a study that found patients with CHD who participated in the training, reducing the death rate from coronary heart disease by 20-25%. This is strong evidence that physical exercise affects the repair of heart disease. Aerobic or cardio exercise enhance the body's ability to use oxygen to produce energy which is used to move. Aerobic exercise improves cardiorespiratory endurance. Exercise recommendations for patients with CHD is 30-60 minutes per day, and performed 3-5 times a weekKeywords : Physical activity, aerobic exercise, coronary heart disease