cover
Contact Name
Walisongo Journal of Chemistry
Contact Email
wjc@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
teguhwibowo@walisongo.ac.id
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. Hamka (Campus 2), Ngaliyan, Semarang, Central Java-Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo Journal of Chemistry
ISSN : 2549385X     EISSN : 26215985     DOI : 10.21580/wjc
Core Subject : Science,
Walisongo journal of chemistry is a peer reviewed and open access journal published by Chemistry Department, faculty of Science and Technology, UIN Walisongo Semarang. This journal covering all areas of chemistry including inorganic, organic, physic, analytic, biochemistry, and environmental chemistry. Walisongo Journal of Chemistry publish two issues annually (July and October). Article which accepted in this journal was written by Bahasa and English.
Arjuna Subject : -
Articles 203 Documents
Efektifitas Penggunaan Kembang Sepatu sebagai Indikator Alam untuk Identifikasi Senyawa Asam Basa Nur Elisa Hawa T; Sri Mulyanti
Walisongo Journal of Chemistry Vol 4, No 1 (2021): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v4i1.6579

Abstract

Asam dan basa merupakan suatu zat yang dapat mengionisasi ion H+ dan ion OH- dalam larutan. Untuk mengidentifikasi suatu zat yang bersifat asam dan basa bisa menggunakan indikator bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jumlah kembang sepatu dan air yang digunakan sebagai pelarut, dengan bahan, alat dan metode sederhana. Metode penelitian ini menggunakan uji optimalisasi. Hasil dari penelitian ini memiliki perbedaan respon bahan yang bersifat asam maupun basa saat diidentifikasi menggunakan kembang sepatu yang sudah digiling dengan pelarut air menggunakan jumlah Kembang Sepatu (KS) yang berbeda yaitu A terdiri dari 5 buah KS, B 10 buah KS, dan C 15 buah KS. Perubahan warna tersebut seiring dengan perubahan struktur dari senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada kembang sepatu yakni antosianin pada setiap kondisi pH. Percobaan dengan jumlah kembang sepatu yang sedikit dan air yang lebih sedikit menunjukkan degredasi warna di setiap percobaan. Percobaan yang menggunakan kembang sepatu dan air yang lebih banyak terlihat bahwa warna yang dihasilkan semakin pekat akan tetapi degredasi warnanya tidak berubah secara signifikan jika dibandingkan dengan pengujian pada kode A1 (kembang sepatu dengan jeruk manis), A2 (kembang sepatu dengan jeruk nipis), A3 (kembang sepatu dengan cuka), A4 (kembang sepatu dengan soda kue), dan A5 (kembang sepatu dengan sabun cair).  Kembang sepatu dapat dijadikan sebagai indikator alam karena pada kembang sepatu terdapat struktur senyawa antosianin pada setiap pH.
Analisis Dampak Limbah Buangan Limbah Pabrik Batik di Sungai Simbangkulon Kab. Pekalongan Muhammad Zammi; Atik Rahmawati; Ratih Rizqi Nirwana
Walisongo Journal of Chemistry Vol 1, No 1 (2018): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v2i1.2667

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah sungai Simbangkulon sudah tercemar ataupun tidak berdasarkan baku mutu yang dikeluarkan/ditetapkan oleh pemerintah/lembaga yang berwenang. Penentuan stasiun pengamatan pada lokasi penelitian didasarkan pada kegiatan masyarakat di Simbangkulon sebagai pusat pembuangan limbah batik. Hasil analisa parameter fisika dan kimia (suhu, pH dan DO) pada air sungai dibandingkan dengan Kriteria Baku Mutu Air Sungai berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-02/MENKLH/I/1988 Tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Berdasarkan hasil penelitian, pH air sungai Simbangkulon antara 6,70 – 6,94 dan DO antara 1,62 – 4,32 mg/L, dan suhu antara 27 – 28 0C yang berarti bahwa kuantitas limbah batik yang dibuang langsung ke sungai Simbangkulon telah mengurangi/mencemari pH dan DO air sungai Simbangkulon, sedangkan suhu belum/tidak tercemar (masih berada pada batas aman yang ditetapkan pemerintah).
Adsorpsi Ion Logam Kromium Heksavalen Cr (VI) Dalam Larutan Menggunakan Zeolit Berlapis Oksida Mangan (MnO2) Maula Nabiela; Malikhatul Hidayah; Zidni Azizati
Walisongo Journal of Chemistry Vol 3, No 2 (2020): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v3i2.6073

Abstract

Sumber utama pencemaran air dapat berasal dari limbah domestik, industri, pertanian maupun limbah radioaktif yang mengandung berbagai logam beracun dan non-biodegradable seperti Cr, Cu, Pb, Mn, Hg, Cd dll yang dapat terakumulasi dalam organisme hidup dan menyebabkan berbagai macam gangguan penyakit. Ion kromium heksavalen menjadi karsinogen golongan 1 yang diklasifikasikan dengan mekanisme kompleks multipel yang menjadi pemicu perkembangan kanker, Peningkatan tingkat stres oksidatif, kerusakan kromosom, dan pembentukan adduksi DNA.  Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menyisihkan logam berat seperti Cr adalah menggunakan metode adsorpsi melalui zeolit berlapis oksida mangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan kapasitas adsorpsi terbaik MOCZ pada penyerapan ion logam Cr6+ diperoleh pada pH 2 dengan waktu kontak 60 menit dengan nilai qe = 0,72756 mg/g mengikuti persamaan pseudo orde dua. Secara keseluruhan MOCZ cukup baik dalam mengadsorp ion logam Cr.
Uji Adsorpsi Bentonit Teraktivasi KOH Terhadap Logam Cu(II) Mega Roikhanah Fauziyati
Walisongo Journal of Chemistry Vol 2, No 2 (2019): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v2i2.6028

Abstract

Peningkatan perkembangan industri setiap tahun menyebabkan limbah cair yang dihasilkan semakin meningkat. Limbah yang tidak mengalami pengolahan menyebabkan pencemaran lingkungan. Salah satu upaya untuk mengurangi kadar ion logam dalam limbah yaitu meminimalisir kandungan ion logam berat menggunakan metode adsorpsi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh proses aktivasi pada bentonit dengan menggunakan KOH dan mengaplikasikannya sebagai adsorben ion logam Cu(II). Parameter yang digunakan pada penelitian ini adalah variasi konsentrasi aktivator KOH, waktu optimum dan pH. Selain itu studi kinetika adsorpsi juga dipelajari dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan adsorben terbaik adalah bentonit teraktivasi KOH 6M. Karakteristik bentonit ditandai dengan munculnya gugus spesifik Si-O dan Si-O-Si pada panjang gelombang 1009,31 cm-1 dan 466,71 cm-1, munculnya difaktogram khas montmorillonit pada intensitas 2 = 20,880o (d=4,508 Å), luas permukaan spesifik 87,2001 m2/g dengan kapasitas adsorpsi 50,013 mg/g. Kondisi optimum waktu kontak adalah 120 menit pada konsentrasi awal ion logam Cu(II) 1000 ppm 50 ml. Adsorpsi ini mengikuti model kinetika pseudo orde dua dengan konstanta laju adsorpsi ion logam Cu(II) sebesar 9,08 x 10-4 g.mg-1.
Langmuir and Freundlich Equation Test on Methylene Blue Adsorption by Using Coconut Fiber Biosorbent Anselmus Boy Baunsele; Hildegardis - Missa
Walisongo Journal of Chemistry Vol 4, No 2 (2021): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v4i2.8941

Abstract

Methylene blue is a cationic dye often used for various industries. Methylene blue waste harms aquatic biota. Most ways have been done to reduce the methylene blue pollution that includes photocatalytic, electrochemical, and adsorption. This study aimed to reduce the impact of methylene blue pollution on the aquatic environment and to test the adsorption isothermal for methylene blue adsorption using coconut fiber. The abundant coconut fiber waste around the Kupang city was taken and prepared to be used as an adsorbent. The characterization results showed that the active groups in cellulose were clearly described on the FTIR spectra which showed the presence of  O-H vibrations at 3296.35 cm-1, C-O vibrations were seen at 1267.23 and 1060.85 cm-1, at wavelengths 1608.63 cm-1 and 817.72 cm-1 there is a vibration from the C=C bond, while the C-H vibration appears at a wavelength of 2939.52 cm-1. The results of this research analysis showed that the adsorption of methylene blue according to the Langmuir isotherm indicated by the value of the equation of the straight line R2 being one and the direction of the curve depicting occurring the effective adsorption. The maximum adsorption capacity was 4.467 mg g-1 with the percentage of methylene blue adsorbed at 99.3%. Adsorption occurs chemically with an energy of 27.29 kJmol-1 so it can be determined that the adsorption occurs with a monolayer mechanism.
PELAPISAN BAHAN MAGNETIK PASIR BESI BUGEL DENGAN SITRAT Nur Mutia Rosiati; Dikki Miswanda; Muflikhah Muflikhah
Walisongo Journal of Chemistry Vol 2, No 1 (2019): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v3i1.3577

Abstract

Pemanfaatan bahan alam sebagai sumber bahan magnetik (BM) merupakan keuntungan tersendiri, yakni preparasi yang lebih mudah dilakukan, jumlah bahan kimia yang digunakan lebih sedikit dan biaya preparasi lebih terjangkau. Hasil membuktikan bahwa unsur terbanyak yang terkandung pada BM pasir besi Pantai Bugel adalah Fe, Ti dan Si dengan fasa oksida dominan berupa magnetit. Modifikasi BM dilakukan untuk mendukung perannya sebagai adsorben magnetik. Bahan magnetik pasir besi Pantai Bugel terlapis sitrat (BM/Sitrat) telah berhasil disintesis pada penelitian ini. Variasi waktu perendaman BM dalam larutan sitrat dilakukan dengan waktu 6, 12 dan 24 jam untuk mengetahui waktu optimum perendaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimum perendaman dicapai pada waktu 24 jam.
Silica-Rice Husk as Adsorbent of Cr (VI) Ions Prepared through Sol-Gel Method Siti Rodiah; Mifta Huljana; Jauharuddin Luthfi Al Jabbar; Chairul Ichsan; Hasan Marzuki
Walisongo Journal of Chemistry Vol 4, No 1 (2021): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v4i1.8045

Abstract

One of the heavy metals contained in the textile industry wastewater is chromium (Cr). Chromium hexavalent ions (Cr6+) are highly toxic and its accumulation in the human body will cause various negative impacts. This study aimed to determine the characteristics of silica synthesized by the sol-gel method to gain homogeneity and high purity. Synthesized silica was calcined at 700°C for 4 hours and its performance to adsorb Cr(VI) ions  in textile wastewater was investigated. The presence of -OH group from silanol (–Si-OH) was appeared at wavenumber 3367.70 cm-1, meanwhile siloxane functional groups were recorded at 1056.99 cm-1 and 784.38 cm-1 due to the O-Si-O asymmetric stretching and Si-O bending vibration. Optimum conditions of silica to adsorb Cr(VI) ions took place at pH 2 and contact time of 90 minutes by adsorption efficiency of 75,65% and followed the Freundlich isotherm.
Aktifitas Kitosan-Glukosa Sebagai Pengawet Ikan Bandeng Duri Lunak Oftiana Irayanti Wardani; R. Arizal Firmansyah; Siti Mukhlishoh Setyawati
Walisongo Journal of Chemistry Vol 1, No 1 (2018): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v2i1.2672

Abstract

Modifikasi Kitosan dengan Glukosa mampu memperbaiki kemampuan kitosan dalam mengawetkan makanan. Kitosan-Glukosa yang diaplikasikan pada ikan bandeng duri lunak dengan cara pelapisan menghasilkan adanya perbedaan kandungan protein sebesar 0,0045%, 0,0048%, dan 0,072%. Sedangkan perbedaan kandungan mikroba sebesar 4,05 x 104 ; 7 x 104 ; dan 1,37 x 106. Pengukuran tersebut dilakukan di hari ke 1, 3, dan 5 pada kontrol ikan yang tidak mengalami pelapisan dengan ikan yang mengalami pelapisan. Hasil uji organoleptik dengan skala nilai 1-4 pada tampilan, aroma, warna dan rasa pada hari ke 5 menunjukkan bahwa nilai ikan yang mengalami pelapisan lebih tinggi dari pada yang tidak mengalami pelapisan. Uji IR menunjukkan tidak ada gugus baru terbentuk antara kitosan-glukosa.
Preparasi dan Karakterisasi Senyawa Tanin dari Daun Stevia (Stevia Rebaudiana) Menggunakan Instrumen HPLC sebagai Gula Pereduksi dalam Pembuatan Sukrosa Cecep Setiawan; Nur Jannah Asrilya
Walisongo Journal of Chemistry Vol 3, No 2 (2020): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v3i2.6591

Abstract

Daun stevia merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang menghasilkan sukrosa alami yang dapat dimanfaatkan dalam aplikasi pemanis dalam skala industri maupun rumah tangga. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstraksi senyawa tannin menggunakan karbon aktif. Karbon aktif dianalisis senayawa kimianya dan diidentifikasi gugus fungsi menggunakan FTIR. Senyawa tannin dari daun stevia dilakukan proses ektraksi dengan menggunakan perut etanol dan dianalisis senyawa kandungan tannin dengan menggunakan HPLC. Karbon aktif yang digunakan dalam proses ekstraksi sesuai dengan standar SNI dalam batas pemakaian penggunaanya sebagai adsorben dalam proses adsorpsi senyawa tannin. Gugus fungsiyang dihasilkan dari karbon aktif adalah vibrasi ulur O-H, C-O, C=O, C-H aromatik dan C-H finger print. Kadar senyawa kandungan tannin dari daun stevia yaitu 0,0122% dan 0,0123% dengan menggunakan pelarut etanol 30% dan 70%.
Effects of Temperature and Aeration on The Dissolved Oxygen (DO) Values in Freshwater Using Simple Water Bath Reactor: A Brief Report Febiyanto Febiyanto
Walisongo Journal of Chemistry Vol 3, No 1 (2020): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v3i1.6108

Abstract

This work investigated the effect of temperature and aeration treatments on the dissolved oxygen (DO) values in freshwater. The study was carried out using a simple water bath reactor in room temperature condition. Based on the results, freshwater sample without the aeration and temperature treatments (control) indicates a fluctuating profile on which the obtained values of DO were 4.21-4.98 mg/L at Taverage = 27.7 °C. However, the aeration treatment was slightly able to enhance the DO value up to 8.12 mg/L from the initial concentration of 3.88 mg/L at Taverage = 27.4 °C. Compared to the aeration treatment, the addition of temperature treatment has extremely increased the DO value up to 21 mg/L from 6.6 mg/L (T0 minutes = 27 °C)  for 20 minutes of DO observation (T20 minutes = 12.4 °C). Hence, this brief report suggests that the addition of temperature treatment gave a significant effect on the DO value in freshwater than the aeration treatment and control.

Page 6 of 21 | Total Record : 203