cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia)
ISSN : 16933591     EISSN : 2579910X     DOI : -
Core Subject : Science,
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) is a scientific journal publishing original articles research in pharmaceutical science such as Pharmaceutical Technology, Pharmacology and Toxicology, Pharmaceutical Chemistry, Drug Discovery, Pharmacokinetics, Pharmaceutical Biology, Herbal Medicines, Pharmaceutics, Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, Community and Clinical Pharmacy, and Pharmaceutical Care.
Arjuna Subject : -
Articles 475 Documents
Pengelola dan Daftar Isi Jurnal Pharmacy Vol. 11 No. 01 Juli 2014 Admin Pharmacy
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 01 Juli 2014
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v11i1.395

Abstract

Pengelola dan Daftar Isi Jurnal Pharmacy Vol. 11 No. 01 Juli 2014
EKSTRAK DAUN COCOR BEBEK (Bryophyllum pinnatum) SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA SEDIAAN SIRUP HERBAL TOMAT (Solanum lycopersicum) Elis Yuliya Sandi; Retno Wahyuningrum; Binar Asrining Dhiani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v10i2.799

Abstract

ABSTRAK Penggunaan antimikroba sintetik atau pengawet sintetik secara terus menerus pada makanan, seperti formalin jika dikonsumsi dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Berdasarkan kejadian tersebut masyarakat mulai mencari alternatif lain dalam penggunaan antimikroba dan pengawet yang lebih sedikit memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Salah satunya dapat diperoleh dari daun cocor bebek yang diketahui memiliki aktifitas antimikroba yang bisa digunakan sebagai pengawet alami. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan efektifitas ekstrak etanol daun cocor bebek sebagai pengawet pada sediaan sirup herbal tomat, serta menentukan tingkat cemaran mikroba yang timbul pada sirup herbal tomat yang telah ditambahkan ekstrak cocor bebek terhadap variasi suhu penyimpanan. Penelitian dilakukan dengan cara menguji cemaran mikroba pada sirup herbal tomat yang dinyatakan dengan Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Kapang/Khamir Total (AKT) dan uji identifikasi Staphylococcus aureus. Pada penggunaan variasi konsentrasi ekstrak daun cocor bebek, dengan konsentrasi 3,2 % mampu mengawetkan sirup herbal tomat selama 1 minggu. Dilihat dari nilai AKT, ALT dan identifikasi Staphylococcus aureus menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu kulkas memiliki tingkat cemaran mikroba yang lebih rendah dibanding penyimpanan pada suhu kamar. Ekstrak daun cocor bebek dengan konsentrasi 3,2 % mampu mengawetkan sirup herbal tomat selama 1 minggu, dan suhu penyimpanan sirup yang baik yaitu pada suhu kulkas. Kata Kunci: Bryophyllum pinnatum, cocor bebek, pengawet alami, sirup herbal tomat, Solanum lycopersicum, Staphylococcus aureus. ABSTRACT Synthetic preservatives application in foods continuously, such as formalin can cause a variety of diseases. Alternatives of antimicrobials and preservatives which have less negative impact on health becomes necessary. It can be obtained from the cocor bebek leaves which is possess antimicrobial activity. Thus can be developed as a natural preservative. This research was aimed to determine the effectiveness of the ethanol extract of cocor bebek leaves as a preservative in Tomato Syrup, and also to determine microbial contamination in tomato syrup that has added leaf extract of cocor bebek against storage temperature variations. This research method was an experimental by testing microbial contamination in tomatoes syrup by observing Total Plate Count and Fungus / Yeast Total, and Staphylococcus aureus test. The result show that extract cocor bebek with the concentration 3.2 % was able to preserve tomatoes syrup for 1 week. It could be observed from the value of total plate count, yeast total and Identification of Staphylococcus aureus. Storage at refrigerator temperature indicates a smaller value than at room temperature. Cocor bebek leaf extract with the concentration 3.2% was able to preserve syrup tomatoes herbal for 1 week. Key words: Bryophyllum pinnatum, cocor bebek, natural preservatives, tomato syrup, Solanum lycopersicum, Staphylococcus aureus.
Kandungan Kimia dari Fraksi Aktif Antioksidan Ekstrak Kulit Batang Garcinia forbesii King Madyawati Latief; Supriyatna Soetardjo; Husein H. Bahti; Dachriyanus Dachriyanus
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 01 April 2007
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1784.677 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak kulit batang daun Garcinia forbesii (Guttiferae). Uji aktivitas antioksiodan dari masing-masing ekstrak menggunakan metode pembentukan radikal DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Dari fraksi aktif antioksidan telah diisolasi senyawa stigmasterol dengan teknik kromatografi kolom. Identifikasi struktur dilakukan berdasarkan data UV, IR, 1H NMR dan 13C NMR. Ekstrak heksan, diklorometan dan metanol menunjukan persentase inhibisi berturut-turut pada 88%, 93% dan 86%.
UJI FOTOTOKSISITAS SEDIAAN KRIM MUKA “X” TERHADAP KELINCI PUTIH JANTAN Syifa Peresia; Indri Hapsari; Susanti Susanti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 02 Agustus 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v6i2.424

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian efek fototoksik dari produk Hand and Body Lotion “X” terhadap kelinci putih jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek fototoksik dari sampel produ Hand and Body Lotion “X” pada kelinci sebagai hewan uji. Penelitian ini menggunakan 3 ekor kelinci jantan yang dicukur punggungnya sebanyak 2 area masing-masing sebesar 2 inchi. Area 1 merupakan area kontrol negatif yang diberi perlakuan ethanol, sedangkan area 2 merupakan area uji yang diberi perlakuan produk Hand and Body Lotion “X” sebanyak 1 ml. Setelah pemejanan dengan senyawa uji selama 30 menit dilakukan pemaparan dengan sinar UV 320 – 400 nmselama 30 menit. Efek fototoksik yang harus diamati berupa eritema dan hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan metode scoresing. Hasil penelitian menunujukan bahwa produk Hand and Body Lotion “X” memberi nilai positif fototoksik sebesar 66,67% dengan rata-rata score 1 berupa eritema sangat sedikit. Kata kunci : Fototoksisitas, eritema. ABSTRACT A research on phototoxicity effect of Hand and Body Lotion “x” product has been conducted. The aim of this research is to find out the phototoxicity effect of the Hand and Body Lotion “x” product sampel against rabbits as test animals.The research was done by using three male rabbits which were treated by removing their back hairs at two areas. One area was treated by the Hand and Body Lotion “x” as test tretment, and the other one give by ethanol as negatif control. After 30 minutes of the treatment, all rabbits were exposed to UV- ray of 320 – 400 nm wavelengh for 30 minutes. Phototoxicity effect appeared in the form of erythema and were analyzed by erythema scoresing method. The research result shows that Hand and Body Lotion “X” product give positif rate phototoxic effect 66,67% with means score is 1 (very slight erythema). Key word : Phototoxicity, erythema.
POTENSI BIJI SAGA (Abrus precatorius) SEBAGAI KONTRASEPSI PRIA Siti Muslichah; Wiratmo Wiratmo; Diana Holidah; Fifteen Aprilia Fajrin
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 02 Desember 2014
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v11i2.836

Abstract

ABSTRAK Saga (Abrus precatorius) merupakan salah satu tanaman yang dikenal mempunyai banyak aktivitas farmakologi. Biji saga digunakan oleh pengobat tradisional Ayurveda sebagai bahan kontrasepsi oral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi fraksi biji n-heksana, fraksi kloroform, dan fraksi biji saga sebagai bahan kontrasepsi pria. Fraksi-fraksi tersebut diberikan secara oral dengan dosis masing-masing 75 mg/kg bb selama 20 hari. Sebanyak 20 ekor tikus jantan dengan berat badan 200-250 g berumur 2-2,5 bulan dikelompokkan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya penurunan jumlah, motilitas, viabilitas serta peningkatan abnormalitas spermatozoa yang signifikan dibandingkan kontrol. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak biji saga mempunyai efek terhadap reproduksi pria yang menunjukkan potensi tanaman ini sebagai pengatur kesuburan pria. Kata kunci: biji saga, kontrasepsi pria, kualitas sperma, jumlah sperma. ABSTRACT Saga (A. precatorius) is a medicinal plant having various pharmacological activities. A. precatorius seed was used by Ayurvedic practitioners as an oral contraceptive. The present study was aimed to evaluate the contraceptive potentials of hexane, chloroform and methanolic fractions of precatory seed as male contraceptive. The organic fractions were administered orally with the dose of 75 mg/kg body weight for 20 days. Twenty five male rats weight 200-250 g of 2-2.5 month old are grouped using Complete Random Design. A significant decline in sperm count and viability, total inhibition of sperm motility, and increased numbers of sperm abnormalities were observed after 20 days of treatment. The result showed that A. precatorius seed extract affected male reproduction, suggesting the potential role of this plant in the regulation of male fertility. Key words: Abrus precatorius, male contraceptive, sperm quality, sperm count.
Evaluasi Pewarnaan Alcian Blue Terhadap Sel Mast Jaringan Ikat dari Preparat Beku Jaringan Kulit Kaki Tikus Agung Endro Nugroho; Kazutaka Maeyama
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 02 Agustus 2011
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3700.146 KB)

Abstract

Alcian blue merupakan pewarna golongan phthalosianin tembaga yang digunakan dalam pewarnaan asam mukopolisakarida dan proteoglikan jaringan ikat. Alcian blue mengandung empat gugus tetrametillisothiouronium yang bermuatan positif (tetrakationik) yang berikat secara elektrostatik dengan muatan negatif dari glikoaminoglikan (heparin). Alcian blue tidak mewarnai semua sel mast. Hal ini kemungkinan karena sisi anionik dari heparin terlindungi oleh protein, atau ikatan kompleks dalam granul sel mast sangat kuat. Safranin sering digunakan sebagai pewarna lanjutan sebagai kombinasi alcian blue dengan safranin untuk mewarnai articular cartilage proteoglikan pada pengamatan histologi.Pewarna tunggal aclian blue terhadap sel mast jaringan ikat memberikan warna biru langit hingga hijau, sedangkan pewarna alcian blue-safranin memberikan warna biru langit hingga hijau, sedangkan pewarnaan alcian blue-safranin memberikann variasi warna yaitu biru, merah dan campuran kedua warna tersebut. Sel mast akan teramati cukup jelas pada pewarnaan toluidine blue dibandingkan dengan pewarnaan alcian blue. Namun, pada pewarnaan alcian blue terutama alcian blue-safranin, jumlah sel mast jaringan ikat yang teramati lebih banyak dibandingkan pewarnaan toluidine blue.
SIFAT FISIK DAN UJI IRITASI PRIMER GEL EKSTRAK ETANOL BUAH MAHKOTA DEWA Phaleria macrocarpa (Schft Boert) DENGAN BASIS CMC Na DAN AQUPECT 505 Gigih Iryoto; Ika Yuni Astuti; Didik Setiawan
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 02 Agustus 2010
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v7i1.565

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang akan dilakukan ini mempunyai tujuan untuk dapat mengetahui sifat fisik gel ekstrak buah mahkota dewa dengan basis CMC dan Aqupec 505. Serta dapat mengetahui efek kedua basis terhadap iritasi primer. Pada penelitian ini akan diformulasikan Gel Ekstrak Buah Mahkota Dewa dengan basis CMC dan Aqupec 505. Selanjutnya kedua formula tersebut diuji sifat fisik dan uji iritasi primer. Uji sifat fisik meliputi uji organoleptis, pengukuran pH dan viskositas dari kedua formula gel tersebut. Pada formula III yaitu gel ekstrak kulit dan buah biji mahkota dewa dengan basis CMC-Na memberikan efek iritasi yang lebih besar (iritan moderat). Hal ini dimungkinkan karena CMC-Na merupakan surfaktan yang dapat menurunkan tegangan permukaan serta viskositas terlalu rendah, maka tidak dapat mempertahankan (mengontrol) pelepasan zat aktif sehingga terjadi penyerapan zat aktif yang berlebih oleh epidermis. Karena pelarut yang digunakan dalam ekstraksi bersifat toksik maka menimbulkan efek mengiritasi yang lebih besar (berat). kesimpulan Secara organoleptis, formula I dan III mengalami perubahan fisik selama penyimpanan. Selain itu, Perbedaan basis gel mempengaruhi viskositas dan pH sediaan gel. Gel basis Aqupec HV 505 lebih tepat untuk zat aktif dibandingkan dengan gel basis CMC-Na. Karena gel basis Aqupec HV 505 dapat mempertahankan sifat fisik dan dari uji iritasi memberikan efek sedikit merangsang iritasi. Kata Kunci : Iritasi primer, Mahkota dewa, CMC Na, Aqupect ABSTRACT The research will be carried out this has the objective to determine the physical properties of the gel extracts Phaleria with CMC and Aqupec base 505. And can determine the effects of both the base of the primary irritation. This research will be formulated gel Mahkota Dewa fruit extract with CMC and Aqupec base 505. Furthermore, the two formulas are tested physical properties and primary irritation test. Test physical properties include organoleptic test, measurement of pH and viscosity of both the gel formula. In the gel formula III skin and fruit seed extracts gods crown with CMC-Na base gives greater irritant effects (moderate irritant). This is possible because CMC-Na is a surfactant that can reduce the surface tension and the viscosity is too low, it can not maintain (control) release of active substances causing excessive absorption of the active substance by the epidermis. Since the solvents used in the extraction of toxic irritant effects were larger (heavier). organoleptic In conclusion, the formula I and III undergo physical changes during storage. In addition, the difference in the base gel viscosity and pH influence the gel preparation. Gel base Aqupec HV 505 is more appropriate for active substances compared with CMC-Na gel base. Because the gel base Aqupec 505 HV to maintain the physical properties of the test and a little irritation to stimulate irritant effect. Keyword : primary iritation, Mahkota dewa, CMC Na, Aqupect.
PENGARUH VARIASI BASIS SALEP MINYAK LENGKUAS ( Alpinia galanga (L.)Swartz. ) TERHADAP SIFAT FISIK SALEP DAN AKTIVITAS ANTI JAMUR Arif Budiman; Mufrod Mufrod; Tatang shabur
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v10i2.1057

Abstract

Rimpang lengkuas (Alpinia galanga(L.)Swartz.) telah banyak digunakan oleh masyarakat didalam pengobatan tradisional sebagai obat infeksi pada kulit yaitu sebagai obat anti jamur yang masih digunakan dalam bentuk sederhana sehingga perlu dibuat suatu sediaan yang lebih praktis dan efektif yaitu dalam bentuk sediaan salep.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tipe basis yaitu basis hidrokarbon, basis serap dan basis larut air terhadap aktivitas anti jamur minyak rimpang lengkuas terhadap penghambatan pertumbuhan Malassezia furfur. Minyak lengkuas diperoleh dengan menggunakan metode destilasi uap-air kemudian diuji sifat organoleptis yang meliputi bentuk,warna, dan bau dan sifat fisik yang meliputi berat jenis dan indeks bias dan uji kimianya dengan menggunakan GCMS (Gas Chromatography - Mass Spectrometer) serta dihitung rendemennya baru kemudian dibuat sediaan salep dalam 3 formula berdasarkan jenis basis( F1= basis hidrokarbon, F2= basis serap, F3= basis larut air) dengan metode yang sama yaitu metode peleburan. Salep yang diperoleh dilakukan uji stabilitas fisik meliputi homogenitas, daya lekat dan daya sebar, sedangkan untuk uji aktivitas anti jamurnya menggunakan metode difusi (dengan cara sumuran) dalam media agar dengan mengukur data diameter derah hambatannya terhadap pertumbuhan Malassezia furfur. Data diameter daerah hambatan tersebut dianalisis dengan uji anova satu jalan dan dilanjutkan dengan uji tuckey pada tingkat kepecayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa basis larut air merupakan yang terbaik dalam menghambat aktivitas anti jamur Kata kunci: minyak atsiri lengkuas, basis salep, Malassezia furfur
UJI ANTIDIABETIKA INFUS BIJI ALPOKAT (Punica granatum L.) TERHADAP KELINCI JANTAN YANG DIBEBANI GLUKOSA DAN PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPISNYA Nunuk Aries Nurullita; Susanti Susanti; Sharas Swara Maulita
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 01 April 2012
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v9i1.692

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian uji antidiabetika infus biji alpokat (Punica granatum L.) terhadap kelinci jantan yang telah dibebani glukosa serta profil KLTnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek antidiabetika infusa biji alpokat dan kandungan kimianya yang terdapat pada infus biji alpokat. Penelitian ini menggunakan 15 ekor kelinci jantan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 (kontrol negatif) diberi perlakuan aquadest, Kelompok 2 (kontrol positif) diberi perlakuan suspensi glibenklamid dalam CMC-Na 0,5%. Kelompok 3, 4, dan 5 diberi perlakuan infus biji alpokat (Punica granatum L.) dengan dosis 0,3289 g/kgBB, 0,6571 g/kgBB, dan 0,9856 g/kgBB. 30 menit kemudian masing-masing kelompok diberi glukosa dengan dosis 1 g/kgBB. Penurunan efek kadar glukosa darah ini menggunakan metode enzimatik. Kadar glukosa darah yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji ANAVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95 % dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infus biji alpokat dengan dosis 0,3289 g/kgBB, 0,6571 g/kgBB, dan 0,9856 g/kgBB dapat menurunkan kadar glukosa darah dimana infusa biji alpokat dosis 0,9856 g/kgBB memberikan aktivitas yang lebih tinggi dalam menurunkan kadar glukosa darah. Hasil pengujian KLT menunjukkan bahwa infusa biji alpokat mengandung flavonoid, alkaloid dan saponin. Kata kunci : Biji alpokat, antidiabetika, KLT ABSTRACT A research had been conducted to test the antidiabetic effect of the avocado fructus infusa (Punica granatum L.) to male rabbits preloaded glucose and also TLC profiles. The aim of the research was to know antidiabetic effect of infusa and its active compounds. This study applied at 15 male rabbits which classified into 5 groups. Group 1 as negative control was given aquadest, group 2 as positive control was given glibenclamide in CMC-Na 0,5 % . Groups 3, 4, and 5 were given avocado fructus infusa with dose 0,3285 g/kg body weight, 0,6571 g/kg body weight, and 0,9856 g/kg body weight. After 30 minutes all rabbits within groups were given glucose solution with dose 1 g/kg body weight. This research used enzymatic method to determine glucose blood level. The blood glucose levels were analyzed statistically by one way ANOVA at confidence level at 95 % and then continued with LSD test. The result of this study shows that avocado fructus infusa with dose 0,3285 g/kg body weight, 0,6571 g/kg body weight, and 0,9856 g/kg body weight had hypoglycemic effect and dose 0,9856 g/kg body weight gave higher activity on decreasing of blood glucose level. The result of TLC test shows that avocado fructus infusa contains flavonoid, alkaloid and saponin. Key word: Avocado fructus, Antidiabetic, TLC
KAJIAN AKTIVITAS ANTIDIABETES DARI EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSINYA DARI DAUN SINGAWALANG (Petiveria alliacea L.) Elis Susilawati; I Ketut Adnyana; Neng Fisheri
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman singawalang sebagai obat herbal antidiabetes masih belum banyak dikenal oleh masyarakat dan juga penelitiannya belum cukup mendalam sebagai suatu obat herbal Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktifitas antidiabetes dari ekstrak etanol dan fraksinya dari daun singawalang. Pengujian aktivitas antidiabetes dilakukan dengan metode uji toleransi glukosa dan uji resistensi insulin. Pada Uji Toleransi Glukosa Oral (Oral Glucose Tolerance Test/OGTT), mencit dibagi dalam enam kelompok. Kelompok I (kontrol) diberikan glukosa sebayak 3 mg/kg berat badan (bb). Kelompok II diberikan ekstrak etanol 80 mg/kg bb. Group III, IV, dan V diberikan sebanyak 80 mg/kg bb dari fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air. Kelompok VI diberikan glibenklamida 0,65 mg/kg bb. Pengaruh pemberian ekstrak etanol dan fraksinya terhadap OGTT pada kelompok mencit normal diukur pada rentang waktu 30, 60, 90, dan 120 menit. Pada uji resistensi insulin dievaluasi dengan tes toleransi insulin dimana hewan uji terlebih dahulu diberikan emulsi tinggi lemak selama 14 hari dan dilanjutkan dengan diberikan bahan uji selama 14 hari dan metformin 65 mg/kg bb sebagai pembanding. Pada uji toleransi glukosa menunjukkan bahwa kelompok yang diberikan ekstrak dan fraksi dari daun singawalang pada dosis 80 mg/kg bb memiliki kemampuan untuk menghambat kenaikan kadar glukosa darah akibat pemberian glukosa. Pada uji resistensi insulin, kelompok yang diberikan fraksi n-heksana dan fraksi etil asetat dengan dosis 80 mg/kg bb dan ekstrak etanol dan fraksi air dengan dosis 160 mg/kg bb, mampu meningkatkan nilai KTTI (konstanta tes toleransi insulin). Nilai KTTI paling besar ditunjukan pada pemberian fraksi air dengan dosis 160 mg/kg bb. Ekstrak etanol dan fraksinya dari daun singawalang dapat menurunkan kadar glukosa darah. Ekstrak etanol dan fraksinya dari daun singawalang dosis 160 mg/kg bb menunjukkan aktivitas antidiabetes yang lebih baik dibandingkan dosis 80 mg/kg bb. Singawalang (Petiveria alliacea), an Indonesian herbal medicine as antidiabetic is not widely known, but definitive studies on efficacy and mechanism of action are lacking.This study aimed to evaluate the antidiabetic activity of various fractions of ethanol extract from Petiveria alliacea leaves. The effect on the glucose absorption was investigated by the oral glucose tolerance and insulin resistance test. On oral glucose tolerance test (OGTT), the mice were divided into six groups. Group I (control) received glucose 3 mg/kg body weight (bw). Group II received ethanol extract 80 mg/kg bw. Group III, IV, and V were given 80 mg/kg bw of n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction, respectively. Group VI received glibenclamide 0.65 mg/kg bw. The effect of ethanol extract and its fractions on OGTT in normal mice group was assessed at different time intervals (30, 60, 90, and 120 min). On insulin resistance test, mice given high fat emulsion for 14 days and then given ethanolic extract and its fraction for another 14 days and metformin at dose of 65 mg/kg bw as control. On OGTT, the ethanol extract and its fraction at dose of 80 mg/kg bw were able to inhibit increasing of the level of glucose in blood due to feeding of glucose. On insulin resistance test, the fraction of n-hexane and ethyl acetate at dose of 80 mg/kg bw and the ethanol extracts at dose of 160 mg/kg bw were able to increase the value of the KTTI (the rate constant for plasma glucose disappearance). The highest value of KTTI was for water fraction at dose of 160 mg/kg bw. The ethanol extract and its fraction from Petiveria alliacea leave at dose of 160 mg/kg bw able to decreased level glucose in blood significantly.

Filter by Year

2007 2021


Filter By Issues
All Issue Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 02 Desember 2021 Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 01 Juli 2021 Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 02 Desember 2020 Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 01 Juli 2020 Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019 Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 01 Juli 2019 Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 02 Desember 2018 Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 01 Juli 2018 Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 02 Desember 2017 Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 01 Juli 2017 Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016 Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 01 Juli 2016 Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 02 Desember 2015 Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 01 Juli 2015 Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 02 Desember 2014 Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 01 Juli 2014 Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013 Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 01 Juli 2013 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 03 Desember 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 02 Agustus 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 01 April 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 03 Desember 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 02 Agustus 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 01 April 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 03 Desember 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 02 Agustus 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 01 April 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 02 Agustus 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 01 April 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 03 Desember 2007 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 02 Agustus 2007 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 01 April 2007 More Issue