cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia)
ISSN : 16933591     EISSN : 2579910X     DOI : -
Core Subject : Science,
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) is a scientific journal publishing original articles research in pharmaceutical science such as Pharmaceutical Technology, Pharmacology and Toxicology, Pharmaceutical Chemistry, Drug Discovery, Pharmacokinetics, Pharmaceutical Biology, Herbal Medicines, Pharmaceutics, Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, Community and Clinical Pharmacy, and Pharmaceutical Care.
Arjuna Subject : -
Articles 475 Documents
AKTIVITAS ANTIVIRUS EKSTRAK ETANOL DAUN BANDOTAN (Ageratum conyzoides L.) TERHADAP VIRUS NEWCASTLE DISEASE BESERTA PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Egi Laila Solichati; Anjar Mahardian Kusuma; Diniatik Diniatik
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 01 April 2010
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v7i1.545

Abstract

ABSTRAK Virus merupakan parasit berukuran mikroskopik, menginfeksi sel organisme biologis, dan hanya dapat bereproduksi dalam material hidup. Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.), pada umumnya digunakan untuk mengobati demam, menghilangkan pembengkakan dan sakit tenggorokan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas antivirus dari ekstrak etanol daun bandotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap virus Newcastle Disease beserta profil kromatografi lapis tipisnya. Ektrak dibuat dengan cara maserasi menggunakan cairan penyari etanol 96 %. Penelitian ini dilakukan secara in Ovo yaitu dengan mengunakan telur ayam berembrio umur 9 – 11 hari. Pengamatan penghambatan virus digunakan uji hemaglutinasi (HA). Penelitian ini dianalisis dengan Uji Anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bandotan mampu menghambat pertumbuhan virus Newcastle Disease. Konsentrasi yang digunakan adalah 1, 10 dan 100g/ml, dengan hambatan tertinggi 99.480.23 % dan terendah 50.00±0 %. Aktivitas antivirus ekstrak etanol daun bandotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap virus Newcastle Disease mempunyai perbedaan yang bermakna antara ketiga konsentrasi (P
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP KEJADIAN DROP OUT KONTRASEPSI SUNTIKAN DI KABUPATEN CILACAP Windu Rujianto; Sudarso Sudarso; Didik Setiawan
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v6i3.878

Abstract

ABSTRAK Keluarga Berencana adalah suatu kebutuhan dalam menyelenggarakan kehidupan yang sejahtera. Tetapi hal ini tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup tentang kontrasepsi, khususnya kontrasepsi suntikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap kejadian Drop Out kontrasepsi suntikan di Kabupaten Cilacap tanggal 14 maret-30 april 2009. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel yang berupa responden sebanyak 380 responden. Kemudian data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif analitik, data juga dianalisis dengan teknik Korelasi Product moment untuk mengetahui tingkat hubungan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hubungan yang negatif antara tingkat pengetahuan terhadap kejadian Drop Out kontrasepsi suntikan. Kata Kunci: Pengetahuan, Kontrasepsi suntikan, Drop Out. ABSTRACT Family planning is a requirement in carrying out secure and prosperous life. But this matter not make balance with enough knowledge concerning contraception, specially parenteral contraception. Object of this research is to know relationship level knowledge and Drop Out parenteral contraception in Sub-Province of Cilacap date 14 march-30 april 2009. This research is sample which in the form of respondent 380 respondents. Then analyzed descriptiv, data is also analyzed with Correlation technique of Product moment to know relation level. Pursuant research result can conclude the existence of negative relationship which is between level knowledge of parenteral contraception with occurrence of Drop Out parenteral contraception. Keyword: Knowledge, Parenteral Contraception, Drop Out.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TERHADAP PASIEN ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID DI RUMAH SAKIT WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO TAHUN 2009 Muhammad Abbas Rifa`i; Sudarso Sudarso; Anjar Mahardian Kusuma
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 01 April 2011
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v8i1.593

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia demam tifoid terdapat dalam keadaan endemik penyakit ini termasuk penyakit menular. Di daerah endemik demam tifoid insidensi tertinggi didapatkan pada anak-anak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik pada pasien anak penderita demam tifoid yang meliputi umur dan jenis kelamin pasien di Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto dan mengetahui gambaran penggunaan antibiotik dan kesesuaian penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita demam tifoid yang meliputi jenis antibiotik, ketepatan dosis antibiotik, cara pemberian antibiotik, dan lama pemberian antibiotik di Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto tahun 2009 yang dibandingkan dengan Standar Pelayanan Medik dari Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto tahun 2009 dengan Standar Pelayanan Medik Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Penelitian ini bersifat deskriptif non analitik, dan pengumpulan data di lakukan secara retrospektif dengan menggunakan alat kartu rekam medik pasien dan diperoleh 97 kasus untuk pasien anak demam tifoid. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jumlah pasien kebanyakan anak-anak sebanyak 70 (72,16%) pasien, jenis kelamin kebanyakan laki-laki 53 (55%). Gambaran antibiotik yang digunakan di Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto Tahun 2009 penggunaan jenis antibiotik terbanyak yang digunakan adalah sefotaxime sebanyak 61 pasien (62,89%). Gambaran pemberian dosis amoksisilin rata-rata rentang antara 150-250mg, ampisilin 200-350mg, kloramfenikol 250mg, tiamfenikol 30mg, cefotaxime 150-750mg, gentamisin 16-40mg. Cara pemberian antibiotik kebanyakan parenteral 70 pasien (72,17%). Dan lama pemberian banyak diresepkan 3-8 hari. jenis antibiotik (87,63%) berdasarkan Standar pelayanan Medik Rumah Sakit Wijayakusuma telah sesuai dan 90,72% berdasarkan Standar Pelayanan Medik Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) juga sesuai, untuk ketepatan dosis 92,77% berdasarkan Standar pelayanan Medik Rumah Sakit Wijayakusuma dan 74,22% berdasarkan Standar Pelayanan Medik Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) telah sesuai serta untuk cara pemberian dan lama pemberian tidak dapat dianalisis kesesuaiannya. Kata kunci: Antibiotika, Demam tifoid, Pasien anak Rawat Inap, RS Wijayakusuma ABSTRACT Typhoid fever is endemic diseases in Indonesia, including infectious diseases. In endemic areas showed the highest incidence of typhoid fever children. Knowing the purpose of this study is characteristic in children with typhoid fever patients, including age and sex of patients in hospitals and Knowing image Wijayakusuma Purwokerto antibiotic and suitability of the use of antibiotics in children with typhoid fever, including type of antibiotic, the accuracy of the dose of antibiotics, mode of administration antibiotics, and duration of using in Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto Year 2009 are comparable to the Standard of Medical Service of Rumah Sakitl Wijayakusuma Purwokerto Year 2009 by Medical Standard Perhimpunan Ahli Penyakik Dalam Indonesia (PAPDI). This research is non-analytic, and data collection is done retrospectively by using patients medical records and there where 97 cases of typhoid fever in pediatric patients. The results of this study showed that the number of patients are mosly of the kids as much as 70 (72.16%) patients, sex, mostly boy, 53 (55%). Preview antibiotic that is in use at the Rumah Sakit Wijayakusuma Year 2009 the use of most types of antibiotics used was cefotaxime of 61 patients (62.89%). Image amoxicillin dosage ranges on average between 150-250mg, 200-350mg ampicillin, cloramphenicol 250mg, tiamfenikol 30mg, cefotaxime 150-750mg, gentamisin 16-40mg. The way most parenteral antibiotics 70 patients (72.17%). And many in the prescribed duration of 3-8 days. 87,63% for the type of antibiotics based on the Standar Pelayanan Medik (SPM) Rumah Sakit Wijayakusuma is appropriate and 87.63% based on the Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) is appropriate, for the accurate dosage of 92.77% based on the Standar Pelayanan Medik (SPM) Rumah Sakit Wijayakusuma and 74.22% based on the Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) conformed well to the old mode of administration and delivery can not be analyzed. Keywords: Antibiotics, typhoid fever, Pediatric, Patients In patient RS Wijayakusuma
EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN ADAM HAWA (Rhoeo discolor) DAN DAUN PUCUK MERAH (Syzygium campanulatum Korth.) DALAM MENURUNKAN KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR DENGAN PEMBEBANAN GLUKOSA Elza Sundhani; Della Caya Nur Syarifah; Lita Ratriyana Zumrohani; Nunuk Aries Nurulita
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penderita diabetes melitus terus semakin meningkat seiring dengan pola hidup yang tidak seimbang. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah di atas normal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek ekstrak etanol daun adam hawa (Rhoeo discolor) dan daun pucuk merah (Syzygium campanulatum Korth.) terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan galur wistar yang dibebankan glukosa. Pada penelitian ini tikus jantan galur wistar dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol normal, kontrol positif (glibenklamida 0,6 mg/kg bb), kontrol negatif (CMC-Na), tiga kelompok ekstrak etanol daun adam hawa (dosis 100, 200, dan 400 mg/kg bb) dan tiga kelompok ekstrak etanol daun pucuk merah (dosis 300, 600, dan 1200 mg/kg bb. Data diperoleh dengan mengukur kadar gula darah tikus 30 menit setelah pemberian glukosa dan pada menit ke-30, 60, 90, dan 120 setelah perlakuan. Hasil uji penelusuran kandungan senyawa kimia menggunakan Kromatografi Lapis Lipis (KLT) dan pereaksi semprot menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, alkaloid, dan terpenoid pada ekstrak daun adam hawa, sedangkan ekstrak etanol daun pucuk merah hanya mengandung flavonoid dan terpenoid. Hasil uji statistika menggunakan Anova dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc LSD menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara ekstrak daun adam hawa (dosis 200 dan 400 mg/kg bb) dan ekstrak daun pucuk merah (300 dan 600 mg/kg bb) dengan glibenklamida (0,6 mg/kg bb) dalam aktivitasnya untuk menurunkan kadar glukosa darah tikus. Dosis rendah (100 mg/kg bb) pada adam hawa dan dosis tinggi pada pucuk merah (1200 mg/kg bb) tidak menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus. Ekstrak adam hawa dan pucuk merah diduga mempunyai aktivitas antidiabetik yang tergantung dosis (dose dependent). Patients with diabetes mellitus are increasing with the behavior of an unbalanced life. Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyperglycemic. This study aims to evaluate the effect of adam hawa (Rhoeo discolor) and pucuk merah (Syzygium campanulatum Korth.) ethanolic leaves extract to decrease blood sugar levels on male wistar rats induced by glucose. Rats were divided into 5 groups: the normal control group, positive control group (glibenclamide 0.6 mg/kg), negative control group (CMC-Na), ethanolic extract of adam hawa group with doses of 100, 200, and 400 mg/kg bw and ethanolic extract pucuk merah group with doses of 300, 600, and 1200 mg/kg bw. Blood glucose levels were measured 30 minutes before and 30, 60, 120 minutes after per oral glucose induction. The results of phytochemical screening using Thin Layer Chromatography (TLC) shown ethanolic extract of adam hawa contained alkaloids, flavonoids, and triterpenoid, while ethanolic extract of pucuk merah only contained flavonoids and terpenoids. Glucose blood levels and AUC datas were statistically analyzed using Oneway Anova and continued with LSD. The datas shown no significant difference between the ethanolic extract of adam hawa (200 and 400 mg/kg bw) and pucuk merah (300 and 600 mg/kg bw) compared with that of glibenclamide (0.6 mg/kg bw) (p>0.05). The ethanolic extract of adam hawa at lower dose (100 mg/kg bw) and pucuk merah at higher dose (1200 mg/kg bw) did not exhibit hipoglicemic effect on rats. Both extracts seems to have antidiabetic properties with dose dependent manner.
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DOSIS DAN TERAPI PADA PASIEN ANAK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) RAWAT INAP PENGGUNA ASKES DAN NON-ASKES DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO Dwi Harningsih; Didik Setiawan; Moeslich Hasanmihardja
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 03 Desember 2012
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v9i3.735

Abstract

ABSTRACT DHF disease is one of dangerous infectious diseases that can cause death within a short time if not handled properly. Therefore, patients who detected dengue were diagnosed and underwent inpatient management should get prompt treatment to prevent a more dangerous condition, that is by providing drug treatment and the appropriate dose, especially for pediatric patients in the dose calculation should be kept. The objectives of this study are to compared incidence of dosage and therapy problems in DHF pediatric Askes and Non-askes hospitalization patients. In addition also to see payment systems influence to the incidence of dosage and therapy problems. Analytical observational research with cross sectional approach and Chi-square analyze method. The research subject is DHF pediatric Askes and Non-askes group each amount 90 patients. The results showed that dosage too high most likely to occur in patients Askes (P value = 0,759), and dosage too low most likely to occur in patients with non-health insurance (P value = 0,999). The problem of therapy occurs in Non-askes patients, such as requiring additional drug therapy (P-value = 0,988) and do not require drug therapy (P-value = 0,759). It’s mean no incidence different incidence of dosage and therapy problems in Askes and Non-askes patients. Key words: DHF pediatric hospitalized patients, dosage and therapy problems, askes and non-askes. ABSTRAK Penyakit DBD merupakan salah satu wabah penyakit infeksi berbahaya yang dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat jika tidak ditangani dengan baik. Untuk itu, pasien yang didiagnosis terjangkit DBD dan menjalani rawat inap harus mendapatkan penatalaksanaan terapi yang tepat untuk mencegah terjadinya kondisi yang lebih buruk. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan angka kejadian permasalahan dosis dan terapi pada pasien DBD anak rawat inap Askes dan Non-askes. Selain itu juga untuk melihat apakah ada pengaruh sistem pembayaran dengan angka kejadian permasalahan dosis dan terapi. Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan metode analisis Chi-square. Subjek penelitian merupakan pasien DBD anak kelompok Askes dan Non-askes berjumlah masing-masing 90 pasien. Hasil penelitian menunjukkan permasalahan dosis berlebih paling banyak terjadi pada pasien Askes (P value = 0,759), dan dosis terlalu rendah paling banyak terjadi pada pasien Non-askes (P value = 0,999). Permasalahan terapi banyak terjadi pada Pasien Non-askes, berupa membutuhkan terapi obat tambahan (P-value = 0,988) dan tidak membutuhkan terapi obat (P-value = 0,759). Hal ini berarti tidak ada perbedaan angka kejadian permasalahan dosis dan terapi antara pasien Askes dan Non-askes. Kata kunci : pasien DBD anak rawat inap, permasalahanan dosis dan terapi, askes dan non-askes
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Community-Acquired Pneumonia (Cap) di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit “X” Jakarta Ridha Elvina; Nur Rahmi; Sandra Ayu Oktavira
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 01 Juli 2017
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.25 KB)

Abstract

Community Acquired Pneumonia (CAP) merupakan pneumonia yang berkembang pada pasien yang tidak ada kontak dengan fasilitas medis. Pengobatan CAP dapat diberikan antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik di RS “X” Jakarta dengan parameter tepat obat, dosis, dan lama pemberian berdasarkan standar acuan berupa Drug Information Handbook 2009, AHFS Drug Information 2011, Pharmacotherapy A Phatophysiologic Approach 2014, Pharmacotherapy Handbook Ninth Edition 2015, John Hopkins Medicine 2015, Current Medical Diagnosis and Treatment 2016, Koda-Kimble 2013, dan PDPI 2014. Data penelitian menggunakan rekam medik pasien pneumonia rawat inap secara retrospektif dengan metode purposive random sampling. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 96 sampel dihasilkan tepat dalam pemilihan jenis antibiotik sebesar 86,46%, tepat dosis 91,67%, dan tepat lama pemberian antibiotik 73,68%. 
PENGARUH BASIS SALEP TERHADAP SIFAT FISIK DAN IRITASI PRIMER EKSTRAK ETANOL JAHE MERAH (Zingiber officinale Roxb) Iskandar Soedirman; Ika Yuni Astuti; Kristanti Kristanti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 01 April 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v6i01.401

Abstract

Abstrak Pemilihan dasar salep untuk sediaan topical sangat berpengaruh terhadap sifat terapeutik. Pembuatan salep yang mengandung ekstrak bahan alam masih belum banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh basis salep terhadap sifat fisik dan iritasi primer ekstrak jahe. Pada penelitian ini dibuat dalam tiga basis adalah basis salep hidrokarbon, basis salep emulsi dan basis salep larut dalam air. Semua formula mengandung ekstrak etanol jahe 3%. Terhadap ketiga basis salep dilakukan uji organoleptis, uji homogenitas, uji kelengketan, uji daya menyebar dan uji iritasi primer. Metode analisis terhadap uji homogenitas, uji kelengketan dan uji daya menyebar dilakukan dengan analisis deskriptif, sedangkan uji iritasi primer dianalisis dengan menggunakan uji statistic satu arah. Hasil dari penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa ketiga basis salep mempunyai pengaruh yang berbeda dalam mengiritasi kulit. Indek iritasi yang palingbesar berturut-turut adalah basis salep larut dalam air, basis salep hidrokarbon dan basis salep emulsi. Kata kunci: ekstrak jahe, basis salep, iritasi primer Abstract The choice of ointment bases for topical dosage from are very influence on therapeutic effect. Ointment formulated which are content natural extract are still less. The reseach abaut the influence of ointment bases on physical property and primary irritation ginger ethanolic extract (Zingiber officinale Roxb). The aim of the reseach were to know the influence of ointment base on physical property and primary irritation effect. In this research maked hidrokarbon base, emulsion base and water soluble base. All formulation content ginger ethanolic extract (Zingiber officinale Roxb) of 3%. On ointment to the organoleptic test, homogeneity test, adhesive test and the area of spread test with description analysis, while primary irritation test be analyzed use statistic one way anova test. The result of the research be gotten show that third ointment bases have different influence to skin irritation . The biggest irritation index in succession is ointment water soluble base, hydrocarbon base and emulsion base. Key word: ginger extract, ointment base, primary irritation
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN PESERTA JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM BANYUMAS Desta Kurniawan; Moeslich Hasanmihardja; Didik Setiawan
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v6i3.430

Abstract

Perilaku penggunaan obat oleh pasien, sangat dipengaruhi oleh informasi yang diterima pasien mengenai obat-obat yang digunakannya. Oleh karena itu kualitas informasi yang mengiringi penggunaan suatu obat sama pentingnya dengan kualitas obat itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pasien peserta Jamkesmas rawat inap di RSU Banyumas merasa puas terhadap pelayanan informasi obat yang diberikan. Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan model pendekatan secara observasional. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui survey yaitu dengan penyebaran kuisioner kepada 88 reponden dengan cara mengambil seluruh populasi peserta jamkesmas rawat inap dibangsal penyakit dalam RSU Banyumas pada tanggal 1 April sampai dengan 20 Mei 2009. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi dan regresi linier. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kualitas pelayanan informasi obat terhadap kepuasan pasien peserta jamkesmas rawat inap di RSU Banyumas dengan nilai korelasi sebesar 0,308. Hal ini berarti semakin positif kualitas pelayanan informasi obat, maka akan diiringi dengan meningkatnya kepuasan pasien peserta jamkesmas rawat inap. Kata kunci : Kualitas pelayanan informasi obat, kepuasan pasien peserta jamkesmas rawat inap, RSU Banyumas.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI SIMPLISIA BASAH DAN SIMPLISIA KERING DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) Tiara Mega Kusuma; Nurul Uswatun
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 01 Juli 2014
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v11i1.844

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang isolasi dan identifikasi minyak atsiri dari simplisia basah dan simplisia kering daun sirih merah (Piper crocatum). Penelitian ini meliputi ekstraksi dengan metode destilasi dengan penyari akuades. Identifikasi minyak atsiri dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) untuk mencari harga Rf. Fase gerak yang digunakan adalah heksana dan etil asetat dengan perbandingan 7:3. Fase diam yang digunakan adalah silica gel GF254. Hasil identifikasi pada simplisia basah dan simplisia kering daun sirih merah menunjukkan hasil positif minyak atsiri setelah diamati pada sinar UV 254 nm. Warna totolan yang dihasilkan pada plat berwarna ungu tua. Randemen yang dihasilkan simplisia kering (1%) lebih banyak dari randemen yang dihasilkan simplisia basah (0,6%). Harga Rf yang dihasilkan simplisia kering adalah 0,89 dan Rf yang dihasilkan simplisia basah adalah 0,77. Kata kunci: daun sirih merah, Piper crocatum, isolasi, identifikasi, minyak atsiri. ABSTRACT Essential oils were isolated from dry and wet leaves of red betel (Piper crocatum) by hydro distillation. The compounds were identified by thin layer chromatography (TLC). The mobile phase was hexane ethyl acetate (7:3) on silica gel GF254 as stationary phase. The results were observed with UV light at wavelengths of 254 nm. The dark purple spots were observed on the plate. The Rf value of dry and wet leaves were 0.89 and 0.77, respectively. The recovery from dry leaves was 1%, higher than that of wet leaves (0.6%). Key words: Piper crocatum, isolation, identification, essential oil.
Uji Efektivitas Repellent Sediaan Lotion Kombinasi Minyak Atsiri Daun Zodia (Evodia suaveolens Scheff) dan Minyak Atsiri Batang Serai (Cymbopogon citratus) Terhadap Nyamuk Aedes aegypti L. Puput Mirawati; Eva Susanty Simaremare; Rani Dewi Pratiwi
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 01 Juli 2018
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.137 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v15i1.2286

Abstract

Zodia (Evodia suaveolens Scheff) and lemongrass (Cymbopogon citratus) are native Indonesian plants with repellant activity against mosquitoes and insects. The purpose of this research were to formulate and evaluate the repellant activity of zodia-serai lotion against Aedes aegypti and determine the protection power of three formulas of lotion. The method used in this research including steam distillation of essential oil from zodia leaves and lemongrass, formulation and evaluation of lotions, power protection test, and data analysis. The result of this research showed that lotion had acidic pH of 5, and they were stable without separation after stability evaluation with centrifugation. The most effective repellant activity of the lotion was exhibited at 0 hours with 100% of repellency. The best combination of essential oils of zodia (Evodia suaveolens Scheff) and lemongrass (Cymbopogon citratus) as Aedes aegypti repellent was at ratio of 7:3.

Filter by Year

2007 2021


Filter By Issues
All Issue Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 02 Desember 2021 Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 01 Juli 2021 Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 02 Desember 2020 Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 01 Juli 2020 Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019 Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 01 Juli 2019 Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 02 Desember 2018 Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 01 Juli 2018 Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 02 Desember 2017 Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 01 Juli 2017 Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016 Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 01 Juli 2016 Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 02 Desember 2015 Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 01 Juli 2015 Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 02 Desember 2014 Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 01 Juli 2014 Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013 Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 01 Juli 2013 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 03 Desember 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 02 Agustus 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 01 April 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 03 Desember 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 02 Agustus 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 01 April 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 03 Desember 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 02 Agustus 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 01 April 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 02 Agustus 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 01 April 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 03 Desember 2007 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 02 Agustus 2007 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 01 April 2007 More Issue