cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia)
ISSN : 16933591     EISSN : 2579910X     DOI : -
Core Subject : Science,
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) is a scientific journal publishing original articles research in pharmaceutical science such as Pharmaceutical Technology, Pharmacology and Toxicology, Pharmaceutical Chemistry, Drug Discovery, Pharmacokinetics, Pharmaceutical Biology, Herbal Medicines, Pharmaceutics, Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, Community and Clinical Pharmacy, and Pharmaceutical Care.
Arjuna Subject : -
Articles 538 Documents
DAYA REPELAN GEL MINYAK ATSIRI BUNGA KENANGA ( Cananga odorata ( Lmk ) Hook.f & Thoms ) DALAM BASIS CMC Na,TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti Emi Rahma Wulandari; Indri Hapsari; Dwi Hartanti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 01 April 2011
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v8i1.600

Abstract

ABSTRAK Minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata ( Lmk ) Hook.f & Thoms) mempunyai aktvitas sebagai repelan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Penggunaaan secara langsung pada kulit kurang efektif dan khasiatnya kurang maksimal karena sifat minyak atsiri yang mudah menguap, sehingga perlu diformulasikan dalam bentuk gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi CMC Na terhadap sifat fisik dan efektifitas minyak atsiri bunga kenanga sebagai repelan nyamuk Aedes aegypti. Minyak atsiri diperoleh dengan destilasi uap air. Dalam penelitian ini dibuat tiga formula gel minyak atsiri bunga kenanga dengan konsentrasi CMC Na 3%, 4%, 5%. Gel minyak atsiri bunga kenanga ini digunakan untuk uji sifat fisik gel ( pH, viskositas, homogenitas, daya sebar, daya lekat ) dan uji daya repelan dilakukan dengan memasukan tangan naracoba dalam sangkar dengan interval waktu 5 menit dan waktu pemaparan 30 detik. Data analisis hasil uji daya sebar, daya lekat dan daya repelan nyamuk dianalisis dengan anova satu arah, data hasil uji viskositas dianalisis dengan uji anova dua arah dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji BNT. Analisis uji korelasi dilanjutkan dengan regresi pada taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui hubungan viskositas gel dengan daya repelan gel minyak atsiri bunga kenanga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi CMC Na berbanding terbalik dengan daya sebar tapi berbanding lurus dengan daya lekat, viskositas dan daya repelan gel minyak atsiri bunga kenanga. Kata kunci : Minyak atsiri bunga kenanga, gel, CMC Na, repelan, Aedes aegypti. ABSTRACT Volatile oil of cananga (Cananga odorata (Lmk ) Hook.f & Thoms) flower has an activity as repelant against Aedes aegypti. It is less effective if it is used immediately because it will be vapor easily in the air, so it is formulated into gel. This research was aimed to know the effect of concentration variation of CMC Na toward its physically characteristic and repellency against Aedes aegypti. Volatile oil was taken by distillation method. This research was held by making three formulas with different concentration of CMC Na, they are 3%, 4%, 5%. Analyzed parameters are physically characteristic ( pH, viscosity, homogeneity, dispersive and adhesive) and repellency. The result of dispersive, adhesive and repellency was analysed by one way anova test, viscosity was analysed by univariate with 95% significance level continued by least significant defference (LSD Test ). Corelation and regresion with 95% significance level was done to know the relation of gel, viscosity with repellency gel of cananga flower volatile oil. The result of this research showed that concentration of CMC Na opposite- proportional with dispersive ability but directly proportional with adhesive ability, viscosity and repellancy of cananga flower volatile oil gel. Key words : Volatile oil of cananga flower (Cananga odorata (Lmk) Hook.f &Thoms ), gel, CMC Na, repellant, Aedes aegypti.
Efektivitas Rebusan Daun Salam (Syzygium polyanthum) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Dalam Darah Mencit Putih Jantan Meiriza Djohar; Rovi Paramitha
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 02 Desember 2015
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Hiperurisemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan meningkatnya kadar asam urat dalam darah. Daun salam dipercaya mampu menurunkan kadar asam urat darah, karena memiliki kandungan flavonoid, tanin, dan minyak asiri 0,05% yang terdiri dari eugenol dan sitral sebagai diuretik (peluruh kencing) dan analgesik (penghilang nyeri). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas rebusan daun salam terhadap penurunan kadar asam urat dalam darah mencit putih jantan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Pre and Post Test Controlled Group Design. Sampel pada penelitian ini adalah 24 ekor mencit putih jantan, dibagi dalam 4 kelompok. Analisa statistik mengunakan program SPSS 17.0 for Windows. Uji ANOVA dan Post Hoc Test digunakan sebagai uji statistik untuk melihat perbedaan antara masing-masing kelompok dan uji T untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah pemberian rebusan daun salam. Hasil uji ANOVA menunjukkan hasil yang signifikan p=0,000 (p0,05). Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kadar asam urat pada kelompok sampel mencit putih jantan setelah pemberian rebusan daun salam. Kata kunci: asam urat, daun salam, mencit putih, uji anova. ABSTRACT Hyperuricemia is a condition characterized by increased levels of uric acid in the blood. Bay leaves is believed to be able to lower blood uric acid levels, because it contains flavonoids, tannins, and 0.05% essential oils consisting of eugenol and citral, and active as a diuretic and analgesic. This study aims to determine the effectiveness of the decoction of bay leaves to decrease uric acid blood level of white male mice. This research is an experimental research design with Pre and Post Test Controlled Group Design. Samples in this study were 24 male white mice divided into 4 groups. Statistical analysis using SPSS 17.0 for Windows. ANOVA and Post Hoc Test was used as a statistical test to analyze the difference between each group and the T test to analyze the difference before and after administration of decoction of bay leaves. Results of ANOVA showed significant results p=0.000 (p0.05). From the results, it can be concluded that there are differences in uric acid blood level of white male mice after administration of decoction of bay leaves. Key words: ANOVA test, bay leaf, gout, white mice.
PENGARUH PRAPERLAKUAN PEMBERIAN JUS JAMBU BIJI TERHADAP PROFIL FARMAKOKINETIKA TETRASIKLIN PADA TIKUS PUTIH JANTAN Erlin Nurul Azizah; Wiranti Sri Rahayu; Anjar Mahardian Kusuma
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 03 Desember 2012
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v9i3.756

Abstract

ABSTRAK Penggunaan makanan atau minuman bersamaan dengan obat sering kali dapat menimbulkan interaksi. Tetrasiklin dapat membentuk kompleks tak-larut dengan sediaan besi, alumunium, magnesium dan kalsium, sehingga resorpsinya dari usus gagal. Jambu biji mengandung kalsium 14,00 mg, besi 1,1 mg, karbohidrat 12,20 gram, protein 0,90 gram, dan lemak 0,30 gram, vitamin C lebih dari 490 setiap 100 gram buah jambu biji. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan profil farmakokinetik tetrasiklin dengan praperlakuan 1 jam dan bersamaan serta tanpa perlakuan pemberian jus jambu biji pada tikus putih jantan. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental sederhana dengan hewan uji tikus jantan galur wistar berbobot 200 g (±10%). Hewan uji dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari lima ekor tikus. Kelompok 1 diberikan tetrasiklin 63 mg/kg BB. Kelompok 2 diberikan praperlakuan 2 ml jus jambu biji 1 jam sebelum pemberian tetrasiklin 63 mg/kg BB peroral. Kelompok 3 diberikan 2 ml jus jambu biji bersamaan dengan pemberian tetrasiklin 63 mg/kg BB. Setelah hewan uji mendapatkan perlakuan, pada waktu-waktu tertentu diambil cuplikan darah guna penetapan kadar tetrasiklin utuh dengan metode KCKT. Harga-harga parameter farmakokinetika tetrasiklin seperti Ka, Kel, Cpmax, tmax, Cl, t1/2, dan AUC dihitung berdasarkan data kadar tetrasiklin utuh lawan waktu. Parameter farmakokinetika tersebut antar perlakuan dibandingkan secara statistika menggunakan uji ANAVA satu jalan dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan praperlakuan 1 jam sebelum pemberian tetrasiklin dan bersamaan pemberian 2 ml jus jambu biji tidak mempengaruhi parameter farmakokinetika tetrasiklin dosis 63 mg/kg BB yang diberikan peroral pada tikus jantan (P>0,05). Kata kunci: Farmakokinetika,jus jambu biji, tetrasiklin ABSTRACT Drug interaction can happen when consumption food or drink are given together with drug.Tetracyclinecan form insoluble complexes with iron preparations, aluminum, magnesium and calcium, so absorption of intestinal was failure.Every 100 grams of guava fruit contains 14.00 mg of calcium, iron 1.1 mg, 12.20 grams of carbohydrate, protein 0.90 grams and 0.30 grams of fat, vitamin C is more than 490 mg and vitamin A. This research was aimed to comparing the pharmacokinetic profile of tetracycline with pretreatment 1 hour, treated simultaneously and without giving guava juice in male rats.The study was conducted employing a posttest only control group design, using male Wistar rats weight 200 g (±10%). The animals were divided into three groups (5 rats for each group). Group I was given a single oral tetracycline 63 mg/kg BW. Group II was given a single oral of pretreatment 2 ml guava juice 1 hour before treatment with tetracycline 63 mg/kg BW.Group III was given a single oral 2 ml guava juice do simultaneously with tetracycline 63 mg/kg BW. After all rats were pretreated, serial blood samples were withdrawn and were analyzed using HPLC for unchanged tetracycline. Pharmacokinetic parameters of tetracycline i.e. Ka, Kel, Cmax, tmax, Cl, t1/2 and AUC were determined based onconcentration to time data in the blood. The tetracycline pharmacokinetic parameters were analyzed by one-way analysis of varians (ANOVA) using 95% confidence interval.The results showed that the pharmacokinetic parameters of tetracycline in the animal with pretreatment 1 hour and simultaneously of guava juice did notchange significantly (P > 0.05). Key words : Pharmacokinetics, guava juice, tetracycline
Pengaruh Konsentrasi Natrium Alginat Terhadap Gel Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis L.) Sebagai Inhibitor Tirosinase Hanifah Rahmi; Rizky Ramadhan; Naniek Setiadi Radjab
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 02 Desember 2017
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v14i2.1904

Abstract

Daun teh hijau (Camellia sinensis L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa-senyawa polifenol seperti katekin dan galokatekin galat yang dapat digunakan sebagai inhibitor tirosinase. Dalam penelitian ini ekstrak daun teh hijau dibuat menjadi sediaan gel dengan menggunakan natrium alginat sebagai gelling agent. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi natrium alginat terhadap penghambatan tirosinase pada gel ekstrak daun teh hijau. Gel dibuat menjadi 3 formula dengan masing-masing konsentrasi natrium alginat sebesar 2%, 2,5%, 3%. Ekstraksi daun teh hijau dilakukan dengan cara refluks menggunakan pelarut metanol 50%. Hasil penelitian menunjukkan ketiga formula mempunyai nilai IC50 masing-masing sebesar 34,80 µg/ml, 23,27 µg/ml, 20,69 µg/ml. Kesimpulan penelitian ini, bahwa sediaan dengan natrium alginat 3% memberikan hasil penghambatan tirosinase yang paling baik dengan IC50 sebesar 20,69 µg/ml.
ANALISIS KUALITATIF PARASETAMOL PADA SEDIAAN JAMU SERBUK PEGAL LINU YANG BEREDAR DI PURWOKERTO Muhammad Irfan Firdaus; Pri Iswati Utami
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 02 Agustus 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v6i2.408

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang analisis kualitatif parasetamol pada sediaan jamu serbuk pegal linu yang beredar di Purwokerto. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi parasetamol dalam ramuan jamu tradisional pegal linu. Metode yang digunakan adalah kromatografi lapis tipis (KLT). Fase gerak yang digunakan pada KLT adalah kloroform:etil asetat (6:4) dengan penampak bercak ferri klorida. Hasil KLT dan menunjukkan bahwa pada sediaan jamu serbuk pegal linu tersebut tidak mengandung parasetamol. Kata kunci: jamu serbuk pegal linu, parasetamol, KLT ABSTRACT A study concerning the qualitative analysis of paracetamol in traditional herbs powder for relieving stiff and muscle pain circulating in Purwokerto. This study aimed to identify paracetamol in traditional herbs for relieving stiff and muscle pain. The method used is a thin-layer chromatography (TLC). The mobile phase used in TLC was chloroform: ethyl acetate (6:4) with ferric chloride reagen for spot detection. TLC and the results showed that the traditional herbs powder for relieving stiff and muscle pain does not contain paracetamol. Keywords: traditional herbs powder for relieving stiff and muscle pain, paracetamol, TLC
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR ORGANIZATIONAL CAPITAL: STUDI KASUS INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Githa Fungie Galistiani; Satibi Satibi
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v10i2.804

Abstract

ABSTRAK Kontribusi pendapatan Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) ke Rumah Sakit (RS) mencapai 40-60%, sehingga mejadi salah satu revenue center RS. Namun untuk pelayanan farmasi RS di Indonesia masih banyak kekurangannya, mengingat beberapa kendala antara lain kemampuan tenaga farmasi, terbatasnya kemampuan manajemen rumah sakit, kebijakan manajemen rumah sakit, dan terbatasnya pengetahuan pihak-pihak terkait tentang pelayanan farmasi rumah sakit. Kondisi semacam itu harus dilakukan upaya perubahan, salah satunya dengan menggunakan Balanced Score Card (BSC) melalui evaluasi perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, karena faktor tersebut (human capital, organizational capital dan information capital) dan pengelolaannya yang efektif merupakan sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran umum kondisi perspektif pembelajaran dan pertumbuhan terutama difokuskan pada organizational capital di IFRS wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jenis penelitian adalah penelitian non eksperimental bersifat deskriptif. Alat penelitian berupa kuesioner yang memuat indikator-indikator organizational capital. Subyek penelitian adalah kepala IFRS di RS wilayah DIY. Hasil yang diperoleh dari perhitungan statistik memperlihatkan bahwa gambaran secara umum kondisi organizational capital dalam Instalasi Farmasi Rumah Sakit di Daerah Istimewa Yogyakarta tergolong kategorisasi tinggi. Sebagian besar Instalasi Farmasi Rumah Sakit telah memiliki budaya organisasi yang baik, kepemimpinan yang baik, mengaplikasikan kerjasama, dan memahami arti keselarasan organisasi dalam mencapai tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Kata kunci: Balanced Score Card, pembelajaran dan pertumbuhan, organizational capital, instalasi farmasi rumah sakit ABSTRACT Hospital pharmacy installation (IFRS) revenue contribution to the hospital reached 40-60%, it became one of the hospital revenue center. However, pharmacy services in Indonesia still have many weaknesses, such as pharmacists ability, hospital management capability, hospital management policy and the lack of knowledge about hospital pharmacy services. Such conditions should be efforts to change, using the Balanced Score Card ( BSC ) through the evaluation of learning and growth perspective, because these factors (human capital , information capital and organizational capital ) and effective management is a source of sustainable competitive advantage . The purpose of the study was to determine the general condition of the learning and growth perspective is mainly focused on organizational capital in IFRS Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ) . Type of the research is descriptive non-experimental. Research tool is a questionnaire that contains indicators of organizational capital. Subjects were the heads of IFRS in DIY. The results obtained from statistical calculations showed that the general condition of organizational capital in IFRS DIY relatively high categorized. Most of IFRS has had a good organizational culture , good leadership, applying teamwork, and understanding the meaning of organization alignment in achieving IFRS objectives. Key words: Balanced Score Card, learning and growth perspective, organizational capital, hospital pharmacy installation
Konstituen Bioaktif Dari Kulit Batang Garcinia cymosa Muharni Muharni; Supriyatna Supriyatna; Husein H. Bahti; Dachriyanus Dachriyanus
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 01 April 2007
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1690.335 KB)

Abstract

Konstituen bioaktif terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli telah diisolasi dari ekstrak etil asetat kulit batang Garcinia cymosa. Identifikasi terhadap senyawa hasil isolasi dilakukan berdasarkan uji fitokimia dan penentuan struktur menggunakan metode spektroskopi UV dan IR.
PROFIL DISOLUSI IN VITRO TABLET LEVOFLOKSASIN GENERIK DAN LEVOFLOKSASIN NON GENERIK Frisky Almuksiti; Ika Yuni Astuti; Didik Setiawan
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 01 April 2010
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v7i1.543

Abstract

ABSTRAK Levofloksasin merupakan antibiotik berspektrum luas golongan kuinolon. Levofloksasin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang terjadi di saluran pernafasan, saluran kencing dan kulit. Hingga saat ini Levofloksasin belum terdaftar dalam monografi USP, sehingga belum memiliki metode disolusi yang pasti. Uji disolusi in vitro sangat penting untuk memastikan kualitas suatu produk obat dengan cara melihat profil pelepasan obat dalam medium pembawanya dan untuk memperkirakan profil disolusi obat yang terjadi didalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan profil disolusi tablet Levofloksasin dalam medium HCl 0,1 N dan dalam medium dapar fosfat pH 7,4, serta untuk membandingkan profil disolusi antara tablet Levofloksasin generik dengan non generik. Uji disolusi menggunakan metode pengaduk tipe dayung, medium HCl 0,1 N atau dapar fosfat pH 7,4 sebanyak 900 ml, suhu dijaga pada 37±0,5°C, dengan kecepatan perputaran 50 rpm. Sampel diambil (5 ml) pada menit ke 5, 10, 20, 30 dqn 45 dan volume yang diambil digantikan dengan medium yang baru. Sampel kemudian dibaca serapannya dengan spektrofotometer pada λ maksimum. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa konsentrasi obat Levofloksasin yang dilepaskan mencapai lebih dari 80% pada menit ke 45. Profil disolusi Levofloksasin dalam medium HCl 0,1 N lebih baik dari pada profil disolusi Levofloksasin dalam medium dapar fosfat pH 7,4, dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara tablet Levofloksasin generik dengan non generik. Kata kunci : profil disolusi, in vitro, levofloksasin ABSTRACT Levofloxacine is an antibiotic broad spectrum of quinolon. It has been used to treat bacterial infections in respiratory tract, urinary tract, and skin. Till in this time Levofloxacine no in monograph in USP, hence not yet owned definitive dissolution method. The in vitro dissolution testing very important to ensure quality of drug product with show that drug release in this solvent and to the prediction of in vivo performance. This research was proposed to compare dissolution profile Levofloxacine tablet in HCl 0.1 N medium and Phosphat buffer of pH 7.4, and also to compare profile dissolution of generic Levofloxacine with non generic one. In the dissolution testing used paddle methode. Medium was 900 ml of HCl 0.1 N and Phosphat buffer of pH 7.4 at 37± 0.5°C with a speed 50 rpm. Sample aliquots (5 mL) were withdrawn at 5, 10, 20, 30 and 45 minutes and replaced with equal volumes of fresh medium. Sample was absorbed with spectrophotometrically at λ max. The results of dissolution showed that the drug concenrations of Levofloxacine reaching more than 80% is released over 45 minutes. Dissolution profile of Levofloxacine in HCl 0.1 N medium better than Levofloxacine in Phosphat buffer of pH 7.4 medium and no significantly differences between generic Levofloxacine with non generic Levofloxacine. Key words : dissolution profile, in vitro, levofloxacine.
COST EFFECTIVENESS ANALYSIS PENGOBATAN PASIEN DEMAM TIFOID PEDIATRIK MENGGUNAKAN CEFOTAXIME DAN CHLORAMPHENICOL DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO Rima Fitriani Susono; Sudarso Sudarso; Githa Fungie Galistiani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 01 Juli 2014
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v11i1.854

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia insiden demam tifoid banyak dijumpai pada populasi yang berusia 3-19 tahun. Resistensi luas antibiotik aktif terhadap Salmonella typhi banyak ditemui salah satunya chloramphenicol. Chloramphenicol adalah antibiotik pilihan pertama untuk tifoid pediatrik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Telah dilakukan penelitian cost effectiveness analysis menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional, pengambilan data menggunakan pendekatan retrospektif melalui penelusuran rekam medik pasien. Terdapat 87 pasien yang masuk dalam penelitian ini, 64 pasien mendapatkan chloramphenicol dan 23 pasien mendapatkan cefotaxime. Total biaya rata-rata pasien demam tifoid pediatrik yang mendapat chloramphenicol sebesar Rp1.453.618,00 sedangkan pada pasien yang mendapat cefotaxime sebesar Rp1.319.413,00. Berdasarkan waktu bebas demam pasien, nilai ACER chloramphenicol sebesar Rp983.969,00 per hari bebas demam, sedangkan cefotaxime sebesar Rp761.917,00 per hari bebas demam dengan nilai ICER sebesar Rp-527.535,00 per hari bebas demam. Untuk lama rawat pasien, nilai ACER chloramphenicol sebesar Rp299.098,00 per hari rawat sedangakan cefotaxime sebesar Rp297.835,00 per hari rawat dengan nilai ICER sebesar Rp312.104,00 per hari pengurangan lama rawat. Sehingga cefotaxime lebih cost effective dibandingkan dengan chloramphenicol. Kata kunci: demam tifoid pediatrik, cefotaxime, chloramphenicol. ABSTRACT In Indonesia, incidences of typhoid fever were commonly identified among the population of 3 to 19 years. There is a wide resistance of active antibiotics to Salmonella Typhi, one of which is chloramphenicol. The first option of antibiotics for pediatric typhoid in a local hospital of Purwokerto is chloramphenicol. The method applied was analytical observation using cross-sectional design. The data collection was done using retrospective approach through examining patient’s medical record. Among 87 patients taken as the data, 64 patients were given chloramphenicol and 23 patients took cefotaxime. The average cost of chloramphenicol medication was Rp1.453.618,00, and that of cefotaxime was Rp1.319.413,00. Based their fever –free time, the value of ACER among the patients treated with chloramphenicol was Rp983.969,00 at the fever-free day, that of cefotaxime was Rp761.917,00 at the fever-free day, with ICER value of Rp-527.535,00 per fever-free day. In terms of their treatment period, ACER value of chloramphenicol was Rp299.098,00 per day in hospitalization. Meanwhile, the value of cefotaxime was Rp297.835,00 per day in hospitalization with ICER value of Rp312.104,00 per day of reduction in hospitalization. So cefotaxime more cost effective than chloramphenicol. Key words: pediatric typhoid fever, cefotaxime, chloramphenicol.
Profil Metabolit Sekunder Senyawa Aktif Minyak Atsiri Jinten Hitam (Nigella sativa L.) dari Habasyah dan India Mahfur Mahfur
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 01 Juli 2018
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v15i1.2274

Abstract

Nigella sativa L. atau yang biasa disebut jinten hitam, jinten ireng, black cumin, merupakan tanaman asli dari Eropa Selatan yang mempunyai beragam kandungan. Tanaman ini tumbuh di berbagai belahan dunia tetapi paling banyak ditemukan di daerah Timur Tengah, Asia, dan Afrika. Tanaman jinten hitam mempunyai banyak manfaat bagi dunia pengobatan. Secara historis, biji jinten hitam telah digunakan di era Mesir Kuno dan diresepkan oleh dokter Yunani untuk mengobati sakit kepala, hidung tersumbat, sakit gigi, cacing usus, diuretic, dan untuk meningkatkan produksi susu. Aktifitas farmakologi biji jinten hitam adalah antibakteri, antioksidan, antitumor, anti- inflamasi, sitotoksik, dan imunostimulan. Mutu dari minyak atsiri Nigella sativa dapat dilihat dari kelengkapan metabolit sekunder aktifnya. Industri herbal tanah air Indonesia kebanyakan mendapat sumber bahan baku yang berasal dari India dan Habasyah. Perbandingan jinten hitam dari berbagai daerah tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas sediaan minyak atsiri jinten hitam. Oleh karena hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang melihat kandungan metabolit sekunder aktif dari jinten hitam yang berasal dari India dan Habasyah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dimana sampel yang digunakan didapat dari distributor, kedua sampel tersebut berasal dari Habasyah dan India. Biji jinten hitam dari Habasyah dan India didestilasi terlebih dahulu menggunakan metode destilasi uap dan air. Minyak atsiri yang didapat dianalisis metabolit profilnya dengan menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan biji jinten hitam dari Habasyah dan India mempunyai kelengkapan metabolit sekunder aktif yang sama, akan tetapi kadar dari masing-masing metabolit sekunder berbeda.

Page 8 of 54 | Total Record : 538


Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Jurnal Pharmacy, Vol. 22 No. 02 Desember 2025 Jurnal Pharmacy, Vol. 21 No. 02 Desember 2024 Jurnal Pharmacy, Vol. 21 No. 01 Juli 2024 Jurnal Pharmacy, Vol. 20 No. 02 Desember 2023 Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 02 Desember 2021 Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 01 Juli 2021 Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 02 Desember 2020 Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 01 Juli 2020 Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019 Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 01 Juli 2019 Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 02 Desember 2018 Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 01 Juli 2018 Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 02 Desember 2017 Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 01 Juli 2017 Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016 Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 01 Juli 2016 Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 02 Desember 2015 Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 01 Juli 2015 Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 02 Desember 2014 Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 01 Juli 2014 Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013 Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 01 Juli 2013 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 03 Desember 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 02 Agustus 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 01 April 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 03 Desember 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 02 Agustus 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 01 April 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 03 Desember 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 02 Agustus 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 01 April 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 02 Agustus 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 01 April 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 03 Desember 2007 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 02 Agustus 2007 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 01 April 2007 More Issue