cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia)
ISSN : 16933591     EISSN : 2579910X     DOI : -
Core Subject : Science,
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) is a scientific journal publishing original articles research in pharmaceutical science such as Pharmaceutical Technology, Pharmacology and Toxicology, Pharmaceutical Chemistry, Drug Discovery, Pharmacokinetics, Pharmaceutical Biology, Herbal Medicines, Pharmaceutics, Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, Community and Clinical Pharmacy, and Pharmaceutical Care.
Arjuna Subject : -
Articles 475 Documents
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PROFILAKSIS PADA PASIEN SEKSIO SESAREA DI RUMAH BERSALIN DAERAH (RBD) PANTI NUGROHO PURBALINGGA TAHUN 2009 Nuraliyah Nuraliyah; Indri Hapsari; Wahyu Utaminingrum
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 02 Agustus 2012
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v9i2.696

Abstract

ABSTRAK Seksio sesarea adalah teknik untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim. Pada pelaksanaanya, seksio sesarea memerlukan antibiotika profilaksis yang diberikan pada penderita yang menjalani pembedahan, sebelum terjadi infeksi atau pencegahan Infeksi Luka Operasi (ILO). Operasi seksio sesarea merupakan operasi bersih dari kontaminasi, sehingga pemilihan antibiotika profilaksis harus disesuaikan dengan standar yang ada (antibiotic guidlines, dll). Berdasarkan literatur Antibiotic prophylaxis for cesarean section 2007, dan Urologic Surgery Antimicrobial Prophylaxis bahwa jenis antibiotika profilkasis pada seksio sesarea adalah golongan penicillin dan sefalosporin golongan I dan II. Penelitian tentang “Evaluasi Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Seksio sesarea Di Rumah Bersalin Daerah (RBD) Panti Nugroho Purbalingga” merupakan penelitian deskriptif non analitik secara retrospektif. Hasil penelitian terhadap 321 rekam medik pasien seksio sesarea, menunjukkan bahwa anibiotik profilaksis yang digunakan adalah 73,21% menggunakan golongan Sefalosporin generasi III (Ceftazidim 22,74% dan Ceftriaxon 50,26%), dan selebihnya menggunakan golongan penisilin (Amoxicillin 12,5% dan Ampisillin 11,53%). Dosis yang digunakan adalah 1 gram/12 jam untuk golongan sefalosporin dan 1 gram/ 6-8 jam untuk golongan penisilin, cara dan waktu pemberian adalah intravena yang diberikan 30 menit sebelum insisi atau setelah klamp tali pusar. Berdasarkan hasil evaluasi dosis, cara pemberian, waktu pemberian antibiotik profilaksis pada seksio sesarea telah sesuai dengan standar Antibiotic prophylaxis for cesarean section 2007. Berdasarkan hasil evaluasi jenis antibiotika profilaksis yang digunakan terdapat ketidaksesuaian penggunaan obat sebesar 73,21 % . Kata Kunci : Antibiotika, seksio sesarea, rumah bersalin daerah Panti Nugroho Purbalingga. ABSTRACT Caesareansection is a technique to born of fetus by opening the abdominal wall and uterine wall. In application, caesarean section requires antibiotic prophylaxis which given to patients who undergo surgery before the infection is happend, or the prevention of Operation Wound Iinfection (ILO). Caesarean section operation was a cleaned contaminated surgery. Cause of them, the selection of antibiotic prophylaxis should existing with standards (antibiotic guidlines, etc.). Based on the literature Antibiotic prophylaxis for cesarean section 2007, and Urologic Surgery Antimikrobial Prophylaxix that variety of antibiotic prophylaxis in caesarean section is a class of Penicillin and sefalosporin. The research about “Evaluation of The Antibiotic Used inCesareanSectionPatient in PantiNugrohoRegion MaternityHospital of Purbalingga in 2009” is descriptive-non analitical study with retrospective design.The result of study on 321 medical records ofcaesarean section patients, showed that profilactive antibiotic are used 73.21% using third-generation Cefalosporin group (22.74% and CeftriaxonCeftazidim 50 , 26%), and the used of penicillin group are Amoxicillin 12.5% and Amphicilin 11.53%.The dose are used 1g/ 12 hours for cefalosforin and 1 gram / 6-8 hours for penicilin, the rute of administration and time used is intravenous rute and 30 minutes before insisi or after craft klamp. Based on the evaluation results ofdoses,rute and time of antibiotic prophylaxis caesarean administrationshowed that any conformity with standard Antibiotic prophylaxis for cesarean section 2007.But based on class of antibiotic prophylaxis administration showed that, there are any inconformity with Antibiotic prophylaxis for cesarean section 2007, calculate 73,21 %. Key word : Antibiotic prophylaxis, caesarean section, Panti Nugroho public maternity hospital of Purbalingga
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BEDAH SESAR DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH BANTUL YOGYAKARTA Haafizah Dania; Faridah Baroroh; Moch Saiful Bachri
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan antibiotika pada pasien bedah sesar perlu dicermati untuk memperkecil adanya resiko infeksi luka operasi. Antibiotika yang diresepkan seharusnya dipilih secara bijaksana, dengan tepat dosis, cara pemberian dan lama pemberian yang sesuai dengan kebutuhan pasien, dan efek samping yang minimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotika dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pasien bedah sesar di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan data retrospektif. Subyek penelitian adalah semua pasien bedah sesar pada periode 1 Januari–31 Maret 2014. Data diperoleh dari rekam medik dan catatan medik lain secara restrospektif di RS PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta. Data pasien yang dianalisis meliputi ketepatan pemilihan antibiotik, dosis, dan lama pemberian. Analisis ketepatan pemilihan antibiotik dengan perhitungan persentase berdasarkan pada guideline dan pedoman terapi di rumah sakit sedangkan analisis dosis, frekuensi, dan lama pemberian berdasarkan pada Drug Information Handbook edisi 19 tahun 2010-2011. Total pasien yang masuk dalam kriteria inklusi adalah sejumlah 59 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik profilaksis sejumlah 3 pasien (5,08%), antibiotik terapi pascabedah sesar sejumlah 10 pasien (16,95%), dan antibiotik kombinasi profilaksis dan terapi sejumlah 46 pasien (77,97%). Antibiotik profilaksis yang digunakan adalah ceftriaxone sejumlah 48 pasien dan ferotam (sulbactam Na 500 mg, cefoperazone Na 500 mg) sejumlah 1 pasien. Jenis antibiotik terapi pascabedah yang paling banyak digunakan adalah amoxicillin sejumlah 25 pasien (44,64%) kemudian diikuti dengan kombinasi ceftriaxone dan amoxicillin sejumlah 20 pasien (35,71%). Kesesuaian jenis antibiotik yang digunakan berdasarkan pada pedoman terapi di rumah sakit adalah 100%, sedangkan kesesuaian jenis antibiotik berdasarkan pada Guideline Antibiotic Prophylaxis in Obstetric Procedures tahun 2010 adalah 0%. Kesesuaian dosis dan frekuensi antibiotik berdasarkan Drug Information Handbook edisi 19 tahun 2010-2011 adalah 100%. Antibiotic usage for cesarean section have to be observed to minimize the risk of wound infections. The prescribed antibiotics should be selected correctly, with exact doses, appropriate method and term of administration regarding patient needs, and with minimum side effect. This research was intended to find a description of antibiotic usage and evaluate the use of antibiotics for caesarean patients at PKU Muhammadiyah hospital in Bantul Yogyakarta. The type of this research was a descriptive research using retrospective data. The subject of this research were all caesarean patients within the period of 1 January-31 March 2014. The data were collected from medical records and other medical history retrospectively at PKU Muhammadiyah hospital, Bantul Yogyakarta. Patients data were analyzed including appropriate antibiotics choice, doses, and term of administration. Analysis on correct antibiotics choice was based on guidelines and therapy handbook at the hospital, while the analysis on doses, frequency dan term of administration was based on Drug Information Handbook edition 19th. The amount of patient included in inclusion criteria is 59 patients. The results of the research showed that the use of antibiotic prophylaxis involved 3 patients (5.08%), post-caesarean therapy antibiotics involved 10 patients (16.95%), and combined prophylaxis and therapy antibiotics involved 46 patients (77.97%). Prophylaxis antibiotics used were ceftriaxone for 48 patients and ferotam (sulbactam Na 500 mg, cefoperazone Na 500 mg) for 1 patient. The most used antibiotic for therapy was amoxycillin for 25 patient (44.64%) and then combination of ceftriaxone+amoxicillin for 20 patients (35.71%). The appropriateness of antibiotics usage based on hospital therapy handbook was 100%, while the correctness of antibiotics type based on Guideline Antibiotic Prophylaxis in Obstetric Procedures was 0%. The appropriateness of antibiotic doses and frequency based on Drug Information Handbook edition 19th was 100%.
Pengelola dan Daftar Isi Jurnal Pharmacy Vol. 9 No. 01 April 2012 Admin Pharmacy
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 01 April 2012
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v9i1.390

Abstract

Pengelola dan Daftar Isi Jurnal Pharmacy Vol. 9 No. 01 April 2012
UJI ANTI LELAH (ANTI FATIGUE) KOMBINASI NIRA AREN DAN AIR TEBU DENGAN METODE KETAHANAN BERENANG (NATATORY EXHAUSTION) PADA MENCIT JANTAN Fajriyan Hakimi Lukman; Vivi Vivi
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v10i2.794

Abstract

ABSTRAK Kesehatan adalah kondisi yang dibutuhkan setiap manusia untuk bisa menjalankan aktivitas setiap harinya, dan akan terganggu apabila tubuh dalam keadaan lelah. Sejumlah obat stimulan dapat digunakan untuk mengatasi kelelahan. Telah dilakukan penelitian tentang efek anti fatigue campuran nira aren (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr) dan air tebu (Saccharum officinarum L.) perbandingan (1:1) dan (1:2) dengan metode ketahanan berenang (natatory exhaustion) terhadap mencit jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek anti fatigue dari kombinasi nira aren dan air tebu terhadap mencit jantan. Penelitian ini menggunakan hewan uji mencit jantan dengan umur 6-8 minggu, bobot 20-40 g sebanyak 20 ekor yang dibagi secara acak menjadi 4 kelompok perlakuan uji dengan masing-masing kelompok berjumlah 5 ekor mencit. Penelitian ini dilakukan pengukuran terhadap waktu ketahanan berenang dengan mencatat waktu ketahanan berenang pertama yang merupakan waktu ketahanan berenang sebelum mencit diberikan sediaan uji, waktu ketahanan berenang kedua yang merupakan waktu ketahanan berenang setelah mencit diberikan sediaan uji kemudian dihitung selisih waktunya. Tanda mencit mengalami kelelahan yaitu mencit tidak menunjukkan gerakan, bagian kepala mencit berada di bawah permukaan air selama 4-7 detik, kaki dan ekor mencit meregang. Data pengamatan dilakukan uji statistik dengan metode Mann Whitney dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh perlakuan terhadap waktu ketahanan berenang untuk kelompok I,II,III,IV, pada menit ke-45 adalah 0,442±0,086; 1,230±0,045; 1,137±0,025; 1,443±0,030 menit. Semua perlakuan menunjukan berbeda signifikan dengan kelompok kontrol negatif dengan nilai signifikansi < 0,05. Pada perlakuan kelompok II menunjukan waktu ketahanan berenang paling optimal. Dari hasil tersebut menunjukan bahwa kombinasi nira aren dan air tebu dengan perbandingan (1:1) dan (1:2) menunjukan efek antifatigue. Kata kunci: efek anti fatigue, Arenga pinnata (Wurmb.) Merr, Saccharum officinarum L., natatory exhaustion . ABSTRACT Health is a condition of human being to carry out daily activities, and will be disturbed if the body in a state of exhaustion. Some stimulant drugs can be used to overcome fatigue. It was carried out a research on anti fatigue effect combinations of palm juice and sugarcane juice using nattatory exhaustion method on male mice. This research used laboratory animals with male mice aged 6-8 weeks, weight 20-40 g of as many as 25 tails were randomly divided into 5 treatment groups with their respective test groups of 5 mice. This study measured the endurance time swimming with the first swim endurance record time which is the time before the mice were given a swim endurance test preparation, endurance swim a second time which is the time after the mice were given a swim endurance test preparation then calculated the difference in time. Signs of mice suffering from fatigue that mice showed no movement, the head of the mouse was under water for 4-7 seconds, stretch the legs and tail mice. Data observations performed statistical tests with Mann Whitney method with 95% confidence level. The results showed that the effect of treatment on swimming endurance time for groups I, II, III, IV in the 45th minute was 0.442±0.086; 1.230±0.045; 1.137±0.025; 1.443±0,030 minute. All treatments showed significant difference with the negative control group with a significance value
Pengelola dan Daftar Isi Pharmacy Vol. 14 No. 02 Desember 2017 Admin Pharmacy
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 02 Desember 2017
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.848 KB)

Abstract

Pengelola dan Daftar Isi Pharmacy Vol. 14 No. 02 Desember  2017
PENGARUH METODE PENAMBAHAN PVP SEBAGAI BAHAN PENGIKAT TERHADAP SIFAT FISIS TABLET ASAM MEFENAMAT Iskandar Soedirman; Agus Siswanto; Yuni Ernawati
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 02 Agustus 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v6i2.419

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh metode penambahan polivinil pirolidon (PVP) sebagai bahan pengikat terhadap sifat fisis asam mefenamat. Tablet dibuat dengan cara granulasi basah berdasarkan pada cara penambahan dan konsentrasi.F1, F2, F3 berisi 5%, 10%, 15% PVP yang ditambahkan dalam bentuk kering. F4, F5, F6 berisi 5%, 10%, 15% PVP yang ditambahkan dalam bentuk larutan. Tablet yang dihasilkan diuji sifat fisisnya meliputi sifat alir granul, kekerasan tablet, kerapuhan dan waktu hancur. Hasil uji statistika anava dua arah dan uji Duncan menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara metode penambahan PVP sebagai bahan pengikat terhadap fisis tablet asam mefenamat. PVP lebih efektif sebagai bahan pengikat dalam bentuk larutan daripada kering. Kata kunci: PVP, Bahan pengikat, Tablet, Asam mefenamat ABSTRACT The aim of this research was to study affect addition method of polyvinyl pyrollidon (PVP) as binder on the physical characteristic mefenamic acid tablets. Tablets were made by wet granulation in six formulation based on different addition method and concentration. F1, F2, F3 contain 5%, 10%, 15% PVP in dry form. F4,F5, F6 contain 5%, 10%, 15% which were added in solution. The produced tablets were tested for physical characteristic such as fluidity of granule, uniformity of weight, tablet hardness, friability and disintegration time. The result of annova and Duncan test showed that addition method of PVP as binder difference significancy on physical characteristic of mefenamic acid tablets. PVP more effective as binder in solution rather than in dry form. Keywords: PVP, Binder, Tablets, Mefenamic acids.
PENGARUH ELISITOR BIOTIK DAN ABIOTIK PADA PRODUKSI FLAVONOID MELALUI KULTUR JARINGAN TANAMAN Indah Yulia Ningsih
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 02 Desember 2014
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v11i2.829

Abstract

ABSTRAK Kultur jaringan tanaman merupakan alternatif produksi metabolit sekunder bioaktif, seperti flavonoid, yang efisien dan sangat menguntungkan. Flavonoid termasuk golongan senyawa fenolik alami pada buah, sayur, biji, kulit batang, akar, batang, dan bunga yang memiliki berbagai aktivitas biologis. Dengan menerapkan kultur jaringan tanaman, maka dapat dilakukan peningkatan produktivitas metabolit sekunder melalui perubahan ekspresi jalur metabolisme. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan elisitor, baik elisitor biotik maupun abiotik. Elisitor bekerja dengan cara memicu pembentukan metabolit sekunder melalui pengaktifan jalur sekunder dalam merespon stres biotik dan abiotik. Hingga saat ini masih terus dilakukan berbagai penelitian untuk mengetahui jenis dan mekanisme kerja elisitor yang efektif dalam peningkatan produksi flavonoid. Kata kunci: kultur jaringan tanaman, flavonoid, elisitor biotik, elisitor abiotik. ABSTRACT Plant tissue culture appears to be a good alternative for production of bioactive secondary metabolites, such as flavonoids. These metabolites are naturally phenolic compounds in fruits, vegetables, seeds, bark, roots, stems, and flowers with various biological activities. Application of this method can increase secondary metabolites productivity through changes in expression of metabolic pathways, mainly by biotic and abiotic elicitors utilization. Elicitors influence secondary metabolites production through secondary pathway activation as a major response to biotic and abiotic stresses. Many studies have been being performed to find elicitors with an outstanding influence on the accumulation of flavonoids and its mechanisms. Key words: plant tissue culture, flavonoids, biotic elicitors, abiotic elicitors.
Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Penurunan Kandungan Vitamin C pada Jambu Biji (Psidium guajava, Linn) Yeni Utami Dewi; Sumantri Sumantri; Pri Iswati Utami
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 02 Agustus 2007
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1818.033 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh lama dan suhu penyimpanan terhadap penurunan kadar vitamin C dalam buah jambu biji (Pdisium guajava, Linn). Penepatan kadar vitamin C menggunakan metode 2,6 diklorofenolindofenol (2,6-DIP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C dalam jambu biji yang disimpan pada suhu kamar (30o C) dan suhu rendah (10oC) mengalami penurunan. Analisis varian dua arah dengan taraf kepercayaan 95% (p=0,05) menunjukan lamanya penyimpanan berpengaruh terhadap kadar vitamin C dalam buah jambu biji, sedangkan suhu penyimpanan (30oC dan 10o C) memberikan pengaruh yang tidak bermakna terhadap kadar vitamin C dalam buah jambu biji.
PENGARUH GELATIN, AMILUM DAN PVP SEBAGAIBAHAN PENGIKAT TERHADAP SIFAT FISIK TABLET EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma Xanthorrhiza, Rxob) Widya Cahya Ariswati; Agus Siswanto; Dwi Hartanti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 02 Agustus 2010
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v7i1.557

Abstract

Abstrak Temulawak (Curcuma Xanthoriza, Roxb) merupakan salah satu obat alam yang banyak tersebar di Indonesia. Berdasarkan penelitian dan pengalaman, temulawak telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit dan juga sebagai hepatoprotektor.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh gelatin, amilum dan PVP pada konsentrasi 5% sebagai bahan pengikat terhadap sifat fisik tablet ekstrak temulawak. Pembuatan tablet menggunakan metode granulasi basah. Dalam penelitian ini dibuat tiga formula dengan menggunakan bahan pengikat berbeda tetapi konsentrasinya sama (gelatin 5%, amilum 5%, PVP 5%).Tablet yang dihasilkan diuji sifat fisiknya yaitu keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur. Data yang diperoleh dilakukan uji Anava satu jalan dan apabila ada perbedaan dilanjutkan uji BNT. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa gelatin sebagai bahan pengikat tablet ekstrak temulawak menghasilkan tablet yang kekerasannya relatif besar, kerapuhannya kecil dan waktu hancurnya lama. Amilum sebagai bahan pengikat menghasilkan tablet ekstrak temulawak yang kekerasannya kecil, kerapuhannya relatif besar, waktu hancur cepat. PVP sebagai bahan pengikat menghasilkan tablet ekstrak temulawak yang kekerasannya kecil, kerapuhannya relatif besar dan waktu hancurnya cepat. Kata kunci : Temulawak (Curcuma Xanthoriza, Roxb), gelatin, amilum , PVP Abstract Temulawak (Curcuma Xanthoriza, Roxb) is one of medicinal plant in Indonesia., temulawak has been known effective as hepatoprotector. The purpose of this study is to determine the influence of gelatin, amilum and PVP at concentration of 5% as a binder to the physical properties of temulawak extract tablets. Tablets are made using wet granulation method. There are three formulas using different binder. The resulting tablets are tested for physical properties (weight uniformity, hardness, fragility, and disintegration time). The obtained data then proceed with one way anova and BNT test. From experimental results obtained that the gelatin as binder of temulawak extract tablet produced relatively hard, small fragility and long disintegration time, amilum as a tablet binder produce temulawak ekstract tablets that had the small level of hardness, the fragility are relatifely big,quick time destruction and PVP as a binder produce temulawak extract tablet that had the small level of hardness, the fragility are relatifely big and quick time destruction. Keywoards : Temulawak (Curcuma Xanthoriza, Roxb), gelatin, amylum, PVP.
Identifikasi Asam Mefenamat Dalam Jamu Rematik Yang Beredar Di Distrik Heram Kota Jayapura, Papua Rusnaeni Rusnaeni; Desy Ilmawati Sinaga; Fitria Lanuru; Imelda Meriyanti Payungallo; Is Ika Ulfiani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 01 Juli 2016
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Jamu merupakan sediaan tradisional yang berasal dari bahan tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk tujuan pengobatan. Asam mefenamat adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang merupakan turunan antranilat. Rumus kimia asam mefenamat adalah C15H15NO2 dan mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 102,0% C15H15NO2 dihitung berdasarkan bobot kering senyawanya. Asam mefenamat merupakan obat analgesik dan antiinflamasi. Analgesik merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit dengan mekanisme meningkatkan ambang batas nyeri pada susunann syaraf pusat tanpa mempengaruhi keasadaran, sedangkan antiinflamasi adalah obat yang digunakan untuk mengobati inflamasi. Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Obyek penelitian ini adalah jamu rematik yang beredar di Distrik Heram. Jamu rematik diperoleh dari toko-toko jamu yang berada di Distrik Heram. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi asam mefenamat dalam jamu rematik adalah Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Semua sampel jamu yang dianalisis negatif tidak mengandung asam mefenamat. Nilai Rf diidentifikasi pada berbagai kombinasi fase gerak. Fase gerak etil asetat : metanol : amonia memberikan bercak dengan nilai Rf 0,90; 0,16; dan 0,37 masing-masing untuk sampel 1, sampel 2, dan pembanding asam mefenamat. Fase gerak kloroform : metanol memberikan bercak dengan nilai Rf 0,34; 0,87; dan 0,94; masing masing untuk sampel 1, sampel 2, dan pembanding asam mefenamat. Fase gerak sikloheksana : kloroform : metanol : asam asetat glasial memberikan bercak dengan nilai Rf 0,67; 0,86; dan 0,40, masing-masing untuk sampel 1, sampel 2, dan pembanding asam mefenamat. Kata kunci: asam mefenamat, jamu rematik, Kromatografi Lapis Tipis. ABSTRACT Jamu is a traditional ingredient or ingredients in the form of plant material, animal, mineral materials, preparation sarian (galenik) or mixtures of these materials that have been used for generations to treatment based on experience. Mefenamic acid is one of the drugs known as NSAIDs (Non-steroidal Anti-Inflammatory Drugs), which is a derivative antranilat. Mefenamic acid has the chemical formula C15H15NO2 and contains not less than 98.0% and not more than 102.0% C15H15NO2, calculated on the dried substance. Mefenamic acid is an analgesic and anti-inflammatory drugs. Analgesics are drugs to relieve pain by increasing the pain threshold in the central nervous system without pressing consciousness, while the anti-inflammatory is a drug used to treat inflammation. This research is a descriptive survey. Object of this study is herbal preparation for rheumatic circulating in Heram District. Rheumatic jamu were obtained from herbal stores located in the District of Heram. Identification of mefenamic acid, in rheumatic jamu used Thin Layer Chromatography (TLC) method. All The sampel analized did not contain mefenamic Acid. The Rf value of the spots in each variation of mobile phase were observed. Mobile phase ethyl acetate: methanol: ammonia gave Rf value of 0.90; 0.16; and 0.37 for sample 1, sample 2, and mefenamic acid standart, respectively. Mobile phase chloroform : methanol gave Rf value of 0.34; 0.87; and 0.94 for sample 1, sample 2, and mefenamic acid standart. Mobile phase cyclohexane : chloroform: methanol: glassial acetic acid gave Rf value of 0.67; 0.86; 0.40 for sample 1, sample 2, and mefenamic acid standar, respectively. Key words: mefenamic acid, rheumatic jamu, Thin Layer Chromatography.

Page 10 of 48 | Total Record : 475


Filter by Year

2007 2021


Filter By Issues
All Issue Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 02 Desember 2021 Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 01 Juli 2021 Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 02 Desember 2020 Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 01 Juli 2020 Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019 Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 01 Juli 2019 Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 02 Desember 2018 Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 01 Juli 2018 Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 02 Desember 2017 Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 01 Juli 2017 Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016 Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 01 Juli 2016 Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 02 Desember 2015 Jurnal Pharmacy, Vol. 12 No. 01 Juli 2015 Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 02 Desember 2014 Jurnal Pharmacy, Vol. 11 No. 01 Juli 2014 Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 02 Desember 2013 Jurnal Pharmacy, Vol. 10 No. 01 Juli 2013 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 03 Desember 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 02 Agustus 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 01 April 2012 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 03 Desember 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 02 Agustus 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 01 April 2011 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 03 Desember 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 02 Agustus 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 01 April 2010 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 02 Agustus 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 01 April 2009 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 03 Desember 2007 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 02 Agustus 2007 Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 01 April 2007 More Issue