cover
Contact Name
iqbal
Contact Email
khazanah@uin-antasari.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
iqbalassyauqi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora
ISSN : 0215837X     EISSN : 24607606     DOI : -
Khazanah : Jurnal Studi Islam dan Humaniora ISSN 0215-837X and E-ISSN 2460-7606 is peer-reviewed national journal published biannually by the State Islamic University (UIN) of Antasari Banjarmasin. The journal is published biannually in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
PERSPEKTIF SOSIOLOGIS TERHADAP TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DI KOTA SINGKAWANG Sri Sudono Sudono Saliro
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v17i2.3214

Abstract

The purpose of this study is to analyze the religious tolerance among different communities in the city of Singkawang. It focuses on the forms of the tolerance as well as the supporting and challenging factors toward tolerance among religious people in the city. This is an empirical research in which it employs descriptive qualitative methods that were used to obtain data through observation and interviews. Among the results of the field research is a finding that in Singkawang City, inter-religious relationships have been facilitated by collaborated forums namely FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) and FKPELA (Forum Komunikasi Pemuda Lintas Agama). Special for FKPELA, this forum has been claimed as the only interfaith youth communication forums found in Indonesia. Among the supporting factors for the interfaith cooperations are the emotional ties and environmental condition. In this context, the community grows and develops in an environment surrounded by people of different religions. Regarding the challenging factors, it was found that the socio-political situation and traumatic memory of conflict in the city’s history could constitute as inhibiting factors.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa toleransi beragama di antara komunitas yang berbeda di kota Singkawang. Penelitian ini berfokus pada bentuk-bentuk toleransi, serta faktor pendukung dan penghambat toleransi antar umat beragama di kota ini. Penelitian ini bersifat empiris dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang digunakan untuk memperoleh data melalui observasi dan wawancara. Di antar hasil dari penelitian lapangan tersebut adalah temuan bahwa hubungan keagaman di kota Singkawang diafasilitasi dalam sebuah wadah kolaboratif yakni FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) dan FKPELA (Forum Komunikasi Pemuda Lintas Agama). Khusus FKPELA, lembaga ini diklaim sebagai satu-satunya forum komunikasi pemuda lintas agama yang ada di Indonesia. Di antara faktor pendukung toleransi dimaksud adalah ikatan emosional dan kondisi lingkungan. Dalam hal ini, masyarakatnya tumbuh dan berkembang di lingkungan yang dikelilingi oleh orang-orang yang berbeda agama. Di sisi lain, faktor sosial politik dan beban ingatan traumatis terkait konflik dalam sejarah masyarakat di kota ini menjadi faktor penghambat.
Kombinasi Kecerdasan Intelektual? dan Kecerdasan Spiritual dalam Pendidikan Era Global Biah Biah
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v12i2.300

Abstract

The era development is something absolute. Each country must work together to improve the quality of their nation because the globalization is something that cannot denied. Along with globalization, the problem arose especially in education. Education that focuses only on the intellectual level of the output makes the output of education is getting away from traditional values , culture and nation religious value should be preserved. To counteract the negative effects of the globalization, it is required education that is not only pursuit intellectual of success but also combine them with spiritual intelligence. It is expected for the quality of graduates intellectually and spiritually.
KEISLAMAN DAN KEBANGSAAN: TELAAH PEMIKIRAN KH. HASYIM ASY’ARI Muhammad Rijal Fadli; Ajat Sudrajat
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v18i1.3433

Abstract

This article reviews the thoughts of KH. Hasyim Ash'ari concerning Islam and nationality. The method in this research is the library research method with a descriptive analysis study. The analytical study uses content analysis and descriptive analysis related to Islamic thought and nationality KH. Hasyim Ash'ari. The results showed that the problem that was found today was that a phenomenon had happened to the life of the Indonesian nation, with the re-emergence of groups that opposed Islam and nationality (Indonesian-ness). So, it is necessary to tune in KH. Hasyim Ash’ari about Islam and nationality, KH. Hasyim Asy'ari himself has proven that the two do not need to be contested because they are the realm of one concept of struggle. Islamic thought KH. Hasyim Ash'ari has a traditional Islamic style that focuses on the fields of Sufism, theology (ahlussunah wal jama'ah), and fiqh. Meanwhile, his national thinking about political ideas was used as a struggle to unite the people and confront confrontation with the Colonial as well as efforts to fight for Indonesian independence.Artikel ini menalaah kembali tentang pemikiran KH. Hasyim Asy’ari mengenai keislaman dan kebangsaan. Metode dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan (library research) dengan studi analisis deskriptif. Studi analisis menggunakan analisis conten dan deskriptif terkait pemikiran keislaman dan kebangsaan KH. Hasyim Asy’ari. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa permasalahan yang didapatkan deawasa ini adalah terjadi fenomena yang menimpa  kehidupan bangsa Indonesia, dengan kembali munculnya golongan-golongan yang mempertentangkan keislaman dan kebangsaan (keindonesiaan). Maka, perlu menalaah pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang keislaman dan kebangsaan, KH. Hasyim Asy’ari sendiri telah membuktikan bahwa keduanya tidak perlu dipertentangkan, karena keduanya adalah ranah dalam satu konsep perjuangan. Pemikiran keislaman KH. Hasyim Asy’ari bercorak Islam tradisional yang berfokus pada bidang tasawuf, teologi (ahlussunah wal jama’ah) dan fiqh. Sedangkan, pemikiran kebangsaannya mengenai ide-ide politik yang digunakan sebagai perjuangan untuk mempersatukan umat dan melakukan konfrontasi terhadap Kolonial serta usaha dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia
The Concept of Amal Jamai According to The Prophets Tradition : An Overview Mohd Nizho bin Abdul Rahman; Alias Azhar
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v13i1.514

Abstract

This paper focuses on Islamic management issues as one of excel- lent legacies left by the Prophet (S.A.W). This paper will review the accomplishment of Islamic approach to management which had been practiced by the Prophet SAW and his companions. Based on archival research method, this paper will analyze the concept of Amal Jamai(team work) based on Islamic management centered onthetraditionsof theProphet(SAW).Thediscussionshowed that team work is an imperative element in Islamic management and not merely confined to the practice of dawah (inviting to Is- lam) but also in term of daily activities. In fact, the practice had been taught and shown by the Prophet (SAW). Even though the West had introduced many contemporary management theories, there is a huge difference compared to the Islamic approach to management. The concept of management in Islam does not merely based on material gained but also spiritual attainment and heavily emphasizes on the equality of the spiritual and material
SPIRITUALITAS, TRANSENDENSI FAKTISITAS, DAN INTEGRASI SOSIAL Husain Heriyanto
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v16i2.2384

Abstract

Abstract: This article is aimed to provide an epistemological framework to arrange the account for the importance and relevance of Islamic spirituality along with its Sufism tradition in relation to keep social integration in contemporary global society particularly in Indonesia.  One of the reasons of this effort is driven by a fact that the rising influence of extrimism among young Muslim generation as well as students has led the growing emergence of social disintegration forces in Muslim communities and countries. Another concern of this article is the decline of knowledge related to the Islamic intellectual and spiritual tradition among Muslim academicians. Due to intellectual capitulation of liberal modernist Muslim scholars on one side and shallow interpretation of Muslim puritanical fundamentalism on the other side, many Muslim people have been in a complete break with traditional Islamic teachings including Sufism. The core thesis of this article is that Sufism as well as Islamic intellectual tradion in general can be elaborated in a such profound way that it has tremendous capacity to provide Muslim society with vision and insight for recovering and flourishing social integration.  Its rationale is that the best way to integrate human society is first of all to integrate oneself. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memberikan kerangka kerja epistemologis yang akan menjabarkan pentingnya dan relevansi spiritualitas Islam bersama dengan tradisi tasawufnya dalam kaitannya untuk menjaga integrasi sosial dalam masyarakat global kontemporer khususnya di Indonesia. Signifikansi  penjabaran ini karena adanya fakta meningkatnya pengaruh ekstrimisme di kalangan generasi muda Muslim dan juga mahasiswa yang telah menyebabkan meningkatnya kekuatan disintegrasi sosial di komunitas dan negara Muslim. Fokus lain dari artikel ini adalah berkurangnya kajian-kajian terkait dengan tradisi intelektual dan spiritualitas Islam di kalangan akademisi Muslim. Karena kapitulasi intelektual para sarjana Muslim modernis liberal di satu sisi dan di sisi lain kedangkalan interpretasi dari fundamentalisme Muslim puritan, banyak kaum Muslim mengalami kesenjangan dengan ajaran Islam tradisional, termasuk tasawuf. Tesis inti dari artikel ini adalah bahwa tasawuf dan tradisi intelektual keislaman dapat dielaborasi secara mendalam sehingga dapat memberikan pandangan maupun pencerahan yang dapat memulihkan dan menumbuhkembangkan integrasi sosial kepada masyarakat Muslim. Dasar pemikirannya adalah bahwa cara terbaik untuk mengintegrasikan masyarakat manusia adalah dimulai dengan mengintegrasikan diri sendiri.
STRATEGI DAKWAH MELALUI MEDIA TELEVISI (TINJAUAN METODE PENGEMBANGAN DAKWAH) Nahed Nuwairah
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v3i1.3163

Abstract

Sebagai medium informasi kebenaran, dakwah sudah semestinya memiliki penguasaan terhadap jaringan komunikasi dan informasi. Saat ini, di tengah maraknya dunia pertelevisian di tanah air perlu dikembangkan sistem dakwah melalui media televisi yang menggunakan teknologi informasi yang efisien. Manfaat televisi sebagai media penerangan, pendidikan dan penghibur dengan bobot Islami mestinya menyatu dan mengalir pada setiap program televisi sehingga bermuatan dakwah, dengan tampilan yang dinamis, aktual dan menarik. Melalui tulisan ini, penulis mencoba membahas bagaimana strategi dakwah melalui media televisi sehingga diharapkan ia menjadi pengisi nilai spiritual bagi pemirsa, khususnya masyarakat muslim
KURIKULUM PENDIDIKAN VS KURIKULUM SINETRON Aslan Aslan
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v14i2.1482

Abstract

Kurikulum yang ada di Indonesia saat ini selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman. Kurikulum rentan terhadap perubahan sosial. Hal ini disebabkan, adanya tingkah laku perbedaan peserta didik dari tahun ke tahun yang mengalami penurunan bukan kenaikan, sehingga mau tidak mau Pemerintah harus mengganti kurikulum dengan berbagai macam namanya, tujuannya dan output yang dihasilkan. Akan tetapi, adanya perkembangan teknologi saat ini, telah mempengaruhi hasil output pendidikan saat ini, sehingga kurikulum sinetron lebih berhasil ketimbang kurikulum pendidikan. 
HARMONISASI AGAMA DAN SAINS MENURUT SEYYED HOSSEIN NASR DAN IMPLEMENTASINYA BAGI PENGEMBANGAN STUDI ISLAM DI PTAI Hamidi Ilhami
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 8, No 2 (2010)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v8i2.3039

Abstract

Ketegangan antara agama dan sains yang terjadi sejak abad ke-16 dirasakan tidak menguntungkan bagi perkembangan peradaban manusia. Kesadaran ini muncul setelah sains modern dinilai tidak bersahabat dengan alam dan manusia. Bagi Seyyed Hossein Nasr harmonisasi agama dan sains merupakan suatu keniscayaan dengan cara menghidupkan unsur metafisika pada sains modern sehingga tercipta apa yang dia sebut dengan sains sakral. Dalam rangka mewujudkan gagasan Nasr ini, peran Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) menjadi sangat signifikan mengingat paradigma keilmuan yang dikembangkannya berdasarkan integrasi antara ayat-ayat qauliyyah (sakralisasi) dan ayat-ayat kauniyyah (profanisasi). Untuk memperkuat paradigma keilmuan ini, kelembagaan PTAI selayaknya berbentuk universitas, karena pada dasarnya paradigma ilmu- ilmu ke-Islaman termasuk dalam kategori paradigma ilmu pada umumnya
RESEPSI ESTETIS TERHADAP TERJEMAH AL-QURAN BAHASA BANJAR Nur Istiqamah; Ridhatullah Assya'bani
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v19i2.4869

Abstract

 Translation of the Qur'an into Banjar language is one of the ethical receptionists in bridging passive understanding and active understanding in Banjar societies. The translation also certainly has self-characteristic and implicates understanding of the Qur'an. It was meant to study the local reception in the Koran and its characteristics. To see the attributes of ideologies and translation methods, the study uses Peter Newmark's theory of receptions. To explore the form of receptions, it uses the aesthetic reception theory Hans Robert Jauss. The idea of the reception is used to read the translated text and assess how the translator responds to the Qur’an text. According to the reception theory, a Banjar translation seems to be inclined to a literal translation detected from the sentence structure and the overall translation. The method used was the literal method. A Banjar translation has two forms, a book's physical product and a digital application. Then, another nonphysical form or use of it is the way of language and expression. The rhetoric and language that he used was a form of speech. As for his expression forms admiration, anger, gentleness, and so forth. The same is true of the subjective side seen in enhanced texts and the use of Mushaf in the form of digital products. Moreover, the transition does not fall apart from the synchronous, leaning toward the thinking of the objective thinkers of their contemporaries and the diachronic, that is, the conception of understanding from the ancient scripturesPenerjemahan al-Qur’an ke dalam Bahasa Banjar merupakan salah satu bentuk resepsi etis dalam menjembatani pemahaman pasif dan pemahaman aktif pada masyarakat Banjar. Penerjemahan ini juga tentu memiliki karakteristik tersendiri dan memberikan implikasi terhadap pemahaman dari ayat al-Qur’an tersebut. Atas dasar inilah artikel ini bertujuan untuk meneliti resepsi lokal dalam terjemah al-Qur’an dan karakteristiknya. Untuk melihat karakteristik ideologi dan metode penerjemahan, penelitian ini menggunakan teori Peter Newmark, untuk mengeksplorasi bentuk resepsi, penelitian ini menggunakan teori resepsi estetis Hans Robert Jauss. Teori resepsi digunakan untuk membaca teks terjemahan dan menilai bagaimana penerjemah merespons teks al-Qur’an. Berdasarkan teori resepsi, terjemah Bahasa Banjar terlihat cenderung pada terjemah literal yang dideteksi dari struktur kalimat dan penerjemahan keseluruhan. Metode yang digunakan ialah metode literal. Terjemah Bahasa Banjar memiliki dua bentuk, produk fisik kitab dan aplikasi digital. Lalu, bentuk lain dari bentuk non fisik atau pemaknaannya ialah gaya Bahasa dan ekspresi. Bahasa retorika dan tindak tuturnya merupakan gaya Bahasa yang digunakan. Adapun bentuk ekspresinya berupa kekaguman, kemarahan, kelembutan, dan sebagainya. Begitu pula dengan sisi subjektivitasnya yang terlihat pada ayat-ayat yang ditransformasikan, serta penggunaan mushaf dalam bentuk produk digital. Selain itu juga penerjemahan ini tidak terlepas dari bias sinkronik, yakni cenderung mengikuti cara berfikir para pemikir objektif sezamannya dan diakronik, yakni meresepsi pemahaman dari kitab-kitab klasik. 
GERAKAN POLITIK MASYUMI DALAM MEMBENDUNG KOMUNISME PADA MASA KONSTITUANTE 1956-1959 Sulaiman Kurdi
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v7i1.3033

Abstract

Mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam. Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, Islam menjadi salah satu kekuatan ideologi yang berpengaruh di Indonesia yang mencita- citakan Islam sebagai dasar negara, tapi keinginan tersebut mengalami kegagalan, hal ini terlihat dalam sidang-sidang parlementer, seperti dalam sidang BPUPKI dan PPKI pada tahun 1945. Sidang Badan Konstituante 1956-1959 secara garis besar terbagi dalam tiga golongan pembela gagasan dasar negara yaitu: Islam, nasionalis-sekuler dan komunis. Dari ketiga golongan tersebut yang paling mencolok perdebatan antara kelompok pembela dasar negara menurut Islam dan Pancasila. Masyumi bersama partai politk Islam lainnya sama- sama memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Namun, yang paling menarik perdebatan anggota-anggota Konstituante dengan Masyumi mengenai pembelaan terhadap Pancasila sebagai dasar negara oleh PKI. Dalam realitas di masyarakat, munculnya fatwa anti komunis oleh Pimpinan Masyumi Jawa Barat yang menganjurkan agar seluruh Indonesia dibentuk Front Anti Komunis sebagai pernyataan pendirian tegas dan tantangan perlawanan terhadap ideologi komunis. Dan dalam dinamika sosial politik masih adanya tarik menarik antara Islam dan komunis sampai saat ini.