cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Ketersediaan APD, pengetahuan, dan kecemasan perawat di masa pandemi Covid-19 Riny Apriani; Ambia Ambia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 4 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i4.7283

Abstract

Background: The massive spread of Covid-19 caused paralysis in almost all aspects, including the health aspect. In the health sector, nurses are at the forefront of dealing with Covid-19 patients.Purpose: To analyze the relationship between the availability of PPE, knowledge, and anxiety among nurses during the Covid-19 pandemicMethod: This research was conducted from July 2021 to September 2021 at the Madani General Hospital in Medan City. The data used are primary data, the method of collecting data uses the survey method, the population is hospital nurses and the number of samples is 50 nurses as respondents. The analytical method used is Pearson bivariate correlation analysis.Results: Found that there was a negative relationship between the availability of Personal Protective Equipment (PPE) and anxiety with an r coefficient of -0.559 and a significance level (p) of 0.000, and there was a negative relationship between knowledge and anxiety levels with an r coefficient of -0.480 with a significance level (p) of 0.000Conclusion: There is a negative and significant correlation between the availability of personal protective equipment (PPE) and knowledge of the anxiety among nurses during the Covid-19 pandemicSuggestion: Hospital management to provide optimal Personal Protective Equipment and provide information to improve knowledge and reduce the level of anxiety among nurses during the Covid-19 pandemicKeywords: Personal Protective Equipment (PPE); Knowledge; Nurses; Anxiety; Covid-19 pandemic Pendahuluan: Penyebaran Covid-19 yang sangat masif menyebabkan kelumpuhan hampir pada segala aspek termasuk aspek kesehatan. Pada bidang kesehatan, perawat menjadi garda terdepan dalam menangani pasien Covid-19.Tujuan: Untuk menganalisis korelasi antara ketersediaan alat pelindung diri (APD), pengetahuan dan kecemasan perawat di masa pandemi Covid-19Metode: Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021 sampai dengan September 2021 pada Rumah Sakit Umum Madani di Kota Medan. Data yang digunakan adalah data primer, metode pengumpulan data menggunakan metode survei, menggunakan sampel jenuh, dimana sampel seluruhnya berjumlah 50 perawat sebagai responden.Metode analisis yang digunakan adalah analisis korelasi bivariate pearson.Hasil: Diperoleh bahwa ada hubungan negatif antara ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) terhadap kecemasan dengan koefisien r sebesar -0.559 dan tingkat signifikansi (p) sebesar 0.000, ada hubungan negatif antara pengetahuan dengan tingkat kecemasan dengan koefisien r sebesar -0.480 dengan tingkat signifikasi (p) sebesar 0.000Simpulan: Ada korelasi negatif dan signifikan antara ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan pengetahuan terhadap kecemasan perawat di masa pandemi Covid-19Saran: Manajemen rumah sakit untuk menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) secara optimal dan memberikan informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan mengurangi tingkat kecemasan perawat selama masa pandemi Covid-19
Hubungan dislipidemia dengan kejadian stroke Jun Edy Samosir Pakpahan; Bintang Hartati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 6 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i6.8089

Abstract

Background: Stroke is a loss of brain function caused by the cessation of blood supply to part of the brain, which results in impaired blood flow to the brain and can cause blockage (ischemic stroke) or bleeding (hemorrhagic stroke). Dyslipidemia and hyperlipidemia are risk factors for stroke, which is a lipid profile disorder characterized by a decrease or increase. The main lipid profiles were total cholesterol levels, triglyceride levels, HDL-C levels, and LDL-C levels.Purpose: To determine the relationship between cholesterol levels with ischemic (non-hemorrhagic) and hemorrhagic strokeMethod: A descriptive-analytic correlative observational study with a retrospective cross-sectional approach. The sampling technique using purposive sampling obtained as many as 30 samples. Processing and analysis of the data obtained using a program on a computer. Analysis of the data used is a univariate, bivariate, and multivariate analysis using contingency coefficients with a significance level of p <0.05.Results: Most respondents have high total cholesterol levels as many as 24 respondents (80%), and high triglyceride levels as many as 19 respondents (63.3%). High LDL-C levels were 16 respondents (53.3%), and high HDL-C levels were 16 respondents (53.3%). Calculation of statistical tests obtained the results of total cholesterol levels p=0.033 (p<0.05), triglyceride levels p=0.016 (p<0.05), LDL-C levels p=0.464 (p>0.05), HDL levels -C p=0.088 (p>0.05). Multivariate analysis using multiple logistic regression was the most correlated of the characteristics of dyslipidemia with the incidence of stroke in total cholesterol levels (p = 0.014).Conclusion: Dyslipidemia and dyslipidemia characteristics, namely total cholesterol and triglyceride levels have a significant relationship with the incidence of stroke. The most related characteristic of dyslipidemia is total cholesterol level with the incidence of stroke.Keywords: Cholesterol level; Ischemic (non hemorrhagic); Hemorrhagic strokePendahuluan: Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh terhentinya suplai darah kebagian otak, yang mengakibatkan gangguan aliran darah ke otak dan dapat menyebabkan penyumbatan (ischemic stroke) atau pendarahan (hemorrhagic stroke). Dislipidemia dan hiperlipidemia adalah suatu faktor risiko stroke yang merupakan suatu kelainan profil lipid yang ditandai dengan adanya penurunan atau peningkatan. Profil lipid yang utama adalah kadar kolesterol total, kadar trigliserida, kadar HDL-C, dan kadar LDL-C.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar kolesterol dengan stroke hemoragik and iskemik (non hemoragik).Metode: Deskriptif analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional yang bersifat retrospektif. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling didapatkan sebanyak 30 sampel. Pengolahan dan analisis data yang diperoleh menggunakan program SPSS. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat, bivariat dan multivariat menggunakan koefisiensi kontigensi dengan tingkat kemaknaan p<0,05.Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kadar total kolesterol tinggi sebanyak 24 reponden (80%), kadar trigliserida yang tinggi sebanyak 19 responden (63,3%), kadar LDL-C tinggi sebanyak 16 responden (53,3%), dan kadar HDL-C tinggi sebanyak 16 responden (53,3%). Perhitungan uji statistik diperoleh hasil kadar total kolesterol p=0,033 (p<0,05), kadar trigliserida p=0,016 (p<0,05), kadar LDL-C p=0,464 (p>0,05), dan kadar HDL-C p=0,088 (p>0,05). Analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistic berganda yang paling berhubungan dari karakteristik dislipidemia dengan kejadian stroke ialah kadar total kolesterol (p=0,014).Simpulan: Dislipidemia dan karakteristik dislipidemia yaitu kadar total kolesterol dan trigliserida memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stroke. Karakteristik dislipidemia yang paling berhubungan yaitu kadar total kolesterol dengan kejadian stroke.
Pengetahuan dan perilaku mahasiswa keperawatan vokasi dalam upaya preventif di masa pandemi Covid-19 Praty Milindasari; Juniah Juniah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i3.6101

Abstract

Background: At the end of 2019 the world was attacked by the disease Covid-19 (Corona Virus Disease-19) or the Coronavirus. The number of cases and deaths due to the Covid-19 outbreak continues to occur in various countries in the world with new cases being reported every day. Preventive efforts carried out by vocational nursing students and information about Covid-19 help themselves to prevent and overcome Covid-19 problems.Purpose: Knowing the relationship between knowledge and behavior of vocational nursing students in preventive efforts during the Covid-19 pandemicMethod: Quantitative research with a correlation design approach with a population was D3 nursing students at three nursing education institutions in the Bandar Lampung City area, and data collection was carried out in October 2021. The sample size was 90 respondents. The sampling technique was taken using the Simple random sampling technique, which is the simplest probability sampling technique. The instrument was used as a questionnaire to determine the knowledge and behavior of students about preventive efforts during the Covid-19 pandemic.Results: From the research, it is known that 88.9% of students have good knowledge. 82 students (91.1%), students who use hand sanitizers 84 (93.3%), students who keep their distance 68 (75.6%), students who have the habit of touching their eyes, nose, and mouth 46 (51.1 %), and students who experienced an increase in endurance were 76 (84.4%).Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and efforts to prevent the use of masks, use of hand sanitizers, maintain distance, and increase endurance (p-value < 0.05), and there is no significant relationship between knowledge and behavior of touching eyes, nose, and mouth (p-value > 0.05).Suggestion: Expand knowledge related to Covid-19 by following developments and continuing to take preventive actions or efforts in daily life to prevent further Covid-19 transmission.Keywords: Knowledge; Behavior; Student of Nursing; Prevention; Covid-19 Pendahuluan: Penghujung tahun 2019 dunia diserang oleh penyakit Covid-19 (Corona Virus Desease-19) atau virus Corona. Jumlah kasus dan korban jiwa akibat wabah Covid-19 ini terus terjadi di berbagai negara di dunia dengan terus dilaporkannya kasus baru setiap harinya. Upaya preventif yang dilakukan oleh mahasiswa keperawatan vokasional dan informasi tentang Covid-19 membantu diri mereka untuk mencegah dan mengatasi masalah Covid-19.Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku mahasiswa keperawatan dalam upaya preventif di masa pandemi Covid-19Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan correlation designs, populasinya mahasiswa Keperawatan swasta jenjang D3 keperawatan di tiga institusi pendidikan perawat  di wilayah Kota Bandar Lampung, dan pengambilan data dilaksanakan pada bulan Oktober 2021. Besarnya sampel pada sebanyak 90 responden. Teknik sampling yang diambil menggunakan teknik Simple random sampling, yang merupakan teknik probabilitas sampling paling sederhana. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner untuk mengetahui pengetahuan dan prilaku mahasiswa tentang upaya preventif  di masa pandemik Covid-19Hasil: Dari penelitian didapatkan mahasiswa yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 88,9%. mahasiswa yang memakai masker sebanyak 82 (91,1%), mahasiswa yang menggunakan hand sanitizer 84 (93,3%), mahasiswa yang menjaga jarak 68 (75,6%), mahasiswa yang mempunyai kebiasaan menyentuh mata, hidung, dan mulut sebanyak 46 (51,1%), dan mahasiswa yang meningkatkan daya tahan tubuh sebanyak 76 (84,4%).Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan upaya preventif memakai masker, menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak, dan meningkatkan daya tahan tubuh (p-value < 0,05), dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku menyentuh mata, hidung, dan mulut (p-value > 0,05).Saran: Perluas pengetahuan terkait dengan Covid-19 dengan mengikuti perkembangan yang terjadi dan lakukan terus tindakan atau upaya preventif dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah penularan lebih lanjut Covid-19.
Hydroterapi minum air putih untuk menurunkan kadar gula darah sewaktu (GDS) Ifon Driposwana Putra; Donny Hendra; Annisa Pratiwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7885

Abstract

Background: Diabetes Mellitus is a metabolic disorder disease characterized by increased levels of glucose in the blood (hyperglycemia) caused by a lack of the hormone insulin and a decrease in the hormone insulin in the body. Hydrotherapy is one therapy that can meet the needs of fluids and fiber, by drinking at least 8 glasses of water a day can help the detoxification process in the body, including the removal of excess sugar. Drinking water regularly (Hydrotherapy) is a natural complementary treatment that aims to optimize the function of the body's organs.Purpose: To determine the effect of hydrotherapy drinking water to reduce random blood sugar.Method: A quasi-experimental design with a pre and post-test design without control. The sampling technique used purposive sampling according to the inclusion and exclusion criteria. The intervention was given for 14 consecutive days. Measurement of blood sugar levels while using a glucometer. Differences in the results of blood sugar levels when using the Pairet Sample t-test which is used to test the difference in the mean of the 2 measurement results.Results: Indicating the effect of hydrotherapy drinking water to reduce random blood sugar after the intervention (p value = 0.000).Conclusion: There is a decrease in blood sugar levels when drinking water. This research is expected to be an alternative option for people with type 2 diabetes mellitus to apply drinking water to lower random blood sugar.Keywords: Hydrotherapy; Drinking water; Random Blood Sugar.Pendahulan: Diabetes Mellitus merupakan penyakit gangguan metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa didalam darah (Hiperglikemia) yang disebabkan oleh kurangnya hormon insulin dan menurunnya hormon insulin dalam tubuh. Hydroterapi merupakan salah satu terapi yang dapat memenuhi kebutuhan cairan dan serat, dengan meminum air putih minimal 8 gelas sehari dapat membantu proses detoxifikasi didalam tubuh, termasuk dalam pembuangan gula berlebih. Minum air putih secara rutin (Hydroterapi) merupakan salah satu pengobatan komplementer secara alamiah yang bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi organ tubuh.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh hydroterapi minum air putih untuk menurunkan kadar gula darah sewaktu (GDS). Metode: Penelitian quasi experiment dengan rancangan pre and post-test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Intervensi diberikan selama 14 hari berturut-turut. Pengukuran kadar gula darah sewaktu dengan menggunakan alat glukometer. Perbedaan hasil kadar gula darah sewaktu dengan menggunakan uji Pairet Sample t-test yang digunakan untuk menguji beda mean dari 2 hasil pengukuran.Hasil: Menunjukkan adanya pengaruh hydroterapi minum air putih untuk menurunkan kadar gula darah sewaktu (GDS) setelah dilakukan intervensi (p value = 0,000).Simpulan: Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa ada penurunan kadar gula darah sewaktu dengan minum air putih. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan alternative bagi penderita diabetes mellitus tipe 2 untuk mengaplikasikan dengan minum air putih dapat menurunkan kadar gula darah sewaktu (GDS).
Analisis efektifitas ringkasan pulang elektronik dalam mendapatkan data klinis yang berkualitas Dian Widyaningrum; Aris Puji Widodo; Septo Pawelas Arso
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 4 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i4.6878

Abstract

Background: Discharge summary format is the one of the enhancement applied to Rekam Medis Elektronik system at Dr Kariadi Hospital. Discharge Summary data is very important to support clinical diagnosis when the patient is about to apply for medical checkup or when he is going to be transferred/referred to another health facility. Discharge summary is also required in claim process by a health insurance verifier or a third party authorized to cover the cost of patient care during hospitalization. Electronic discharge summaries is reliable and it reduces time to read patient histories and search for relevant examination results, helping to find faults, mistakes, or error, missing information faster. There are no published research data on how the quality of the electronic discharge summary is measured. The human, organizational, and technology suitability (HOT-fit) model is utilized to evaluate the implementation of the RME and e-discharge summary as well as the perceived usefulness and acceptance of the developed system.Purpose: Knowing that correlation between human, organization and technology characteristics with perceived usefulness, perceived ease of use of RME and discharge summary and acceptance of the systems, using HOT Fits models in Kariadi General Hospital Semarang Central Java.Method: The research was conducted to knowledge variable by 100 copies questionnaire that sent out to physician who assess inpatient. Ninety nine completed copies returned, indicating a valid response rate of 99%. The questionnaire was filled out by the respondent immediately after verifying the return summary using RME. Data analyzed using Pearson Correlation test. Statistical test was considered significant if p < 0.05.Results: Upon e-Discharge Summary testing, self-efficacy of the responden at 69,7% in the implementation of e-discharge summary  Perceived ease of use rated at 78.8%  as easy to use; while 76.8% Perceive of usefulness rate was achieved as respondents found themselves easy to navigate and fulfill all the requirements when verifying the electronic discharge summary and RME.Conclusion: There is a significant correlation between Human Organization Technology characteristics with Net Benefit in HOT Fit models. These correlation effect discharge summary acceptance. Suggestions; Extensive and comprehensive evaluation on the development of electronic discharge summary and RME is required to meet the Non-physician care provider achievement.Keywords: Electronic Medical Records; Electronic Discharge Summary; HOT – Fit Models.Pendahuluan: Pengembangan rekam medis elektronik di RSUP dr Kariadi dengan salah satu format yang dielektronikkan adalah ringkasan pulang (discharge summary). Data yang ada di ringkasan pulang sangat penting untuk mendukung diagnosis klinis saat pasien akan melakukan kontrol ulang atau saat akan dirujuk ke fasilitas kesehatan lainnya. Manfaat lain dari ringkasan pulang yang terisi lengkap sebagai persyaratan yang mempengaruhi proses klaim oleh verifikator asuransi kesehatan atau pihak ketiga yang berwenang untuk menanggung biaya perawatan pasien selama rawat inap. Ringkasan pulang elektronik mengurangi waktu membaca riwayat pasien dan pencarian hasil pemeriksaan yang relevan, membantu menemukan kesalahan atau informasi yang hilang dengan lebih cepat dan lebih andal. Belum ada data penelitian yang terpublikasi tentang bagaimana kualitas ringkasan pulang elektronik diukur. Kerangka kerja manusia, organisasi, dan kesesuaian teknologi (HOT-fit) digunakan untuk mengevaluasi implementasi RME dan ringkasan pulang elektronik serta persepsi manfaat dan penerimaan terhadap sistem yang dikembangkan.Tujuan: Mengetahui Hubungan antara karakteristik Human Organization Technology dengan Net Benefit ringkasan pulang elektronik dan RMEMetode: Penelitian deskriptif korelasi dengan jumlah sampel 100 orang dokter penanggung jawab pasien (DPJP) dan Asisten DPJP yang menjalankan praktek di bangsal rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat dr Kariadi Semarang. Kuesioner diisi oleh responden saat itu juga setelah melakukan verifikasi ringkasan pulang menggunakan RME. Uji korelasi menggunakan uji Pearson Correlation. Uji statistik dianggap bermakna jika p < 0,05.Hasil: Responden yang mengganggap dirinya mampu menggunakan ringkasan pulang elektronik (self efficacy) sebanyak 69,7% responden. Persepsi Kemudahan Penggunaan ringkasan pulang elektronik sebanyak 78,8% responden mudah memahami saat melakukan ujicoba ringkasan pulang elektronik. Sedangkan persepsi penerimaan Ringkasan pulang elektronik dan RME sebanyak 76,8% responden merasa terampil saat melakukan verifikasi ringkasan pulang elektronik. Penelitian ini Karakteristik Human, variabel kompatibilitas pengguna berhubungan secara bermakna dengan persepsi kemudahan penggunaan ringkasan pulang elektronik (p = 0,000). Karakteristik Organization, variabel Dukungan top manajemen berhubungan bermakna dengan persepsi manfaat dan persepsi kemudahan penggunaan ringkasan, variabel Kompetensi Tim Pengembang berhubungan bermakna dengan persepsi kemudahan penggunaan ringkasan  pulang elektronik (p < 0,05). Karakteristik Teknologi berhubungan bermakna dengan persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan ringkasan pulang elektronik. Persepsi Net Benefit berhubungan bermakna dengan penerimaan ringkasan pulang elektronik oleh penggunanya (p < 0,05).Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara karakteristik human organization technology dengan net benefit serta penerimaan pengguna terhadap ringkasan pulang elektronik dan RME. Saran: Evaluasi pengembangan ringkasan pulang elektronik serta RME secara menyeluruh dan komprehensif untuk melihat penerimaan profesional pemberi asuhan selain dokter. 
Pengaruh latihan isometric handgrip terhadap tekanan darah penderita hipertensi pada lansia: Literature review Agus Miraj Darajat; Rulla Luqiana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 4 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i4.7548

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease, which occurs in systolic blood pressure of 140 mmHg and diastolic 90 mmHg. The Elderly is one of the factors of hypertension. Prevalence of Hypertension according to Riskesdas 2018, Hypertension occurs in the age group of 31-44 years (31.6%), age 45-54 years (45.3%), and age 55-64 years (55.2%). Physical activity that can be used to lower blood pressure is the Isometric Handgrip Exercise which is done with static exercises on contracting muscles, without any change in muscle length or hand joint movement.Purpose: Analyzing research articles related to the effect of isometric handgrip exercise on blood pressure in patients with hypertension in the elderly.Method: A literature Review method using a systematic design with a research sample of 11 journals consisting of 2 national journals and 9 international journals indexed by ISSN and DOI, the sample collection technique is using purposive sampling with inclusion and exclusion criteria in it, feasibility evaluation data using the JBI Critical Appraisal Checklist for Analytical Quasy Experimental.Results: Based on the evaluation of the feasibility of scoring, 9 international journals, and 2 national journals were included in category A (strong recommendation).Conclusion: Shows that there is an effect of isometric handgrip exercise on blood pressure in patients with hypertension in the elderly.Suggestion: The results of this Literature Review are expected to be the basis for providing complementary interventions for hypertension drugs in community settings and also for the development of further research.Keywords: Isometric Handgrip; Hypertension; Elderly. Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular, yang terjadi pada tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan diastolik ≥90 mmHg. Lansia merupakan salah satu faktor terjadinya Hipertensi. Prevalensi Hipertensi menurut Riskesdas 2018, Hipertensi terjadi pada kelompok usia 31-44 tahun (31,6%), usia 45-54 tahun (45,3%), usia 55-64 tahun (55,2%). Aktivitas fisik yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah adalah Latihan Isometric Handgrip yang dilakukan dengan latihan statis pada otot yang berkontraksi, tanpa adanya perubahan pada panjang otot atau pergerakan sendi tangan.Tujuan: Menganalisis artikel penelitian terkait latihan isometric handgrip terhadap tekanan darah penderita hipertensi pada lansia.Metode: Penelitian Literature Review dengan menggunakan desain Systematic dengan sampel penelitian berjumlah 11 jurnal yang terdiri dari 2 jurnal Nasional dan 9 jurnal Internasional yang terindeks ISSN dan DOI, tekhnik pengumpulan sampel yaitu menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi dan ekslusi didalamnya, evaluasi kelayakan data menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist for Analitycal Quasy Experimental.Hasil: Berdasarkan dari evaluasi kelayakan scoring didapatkan 9 jurnal Internasional dan 2 artikel Nasional yang termasuk dalam kategori A (rekomendasi kuat).Simpulan: Analisa hasil penelitian literature review ini menunjukan ada pengaruh latihan isometric handgrip terhadap tekanan darah penderita hipertensi pada lansia.Saran: Hasil Literature Review ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam memberikan intervensi pendamping obat hipertensi di tatanan komunitas dan juga pengembangan penelitian lanjutan.
Faktor-faktor determinan penyebab loss to follow up pada orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang menerima terapi Antiretroviral (ARV) Rahmat Kurniawan; Rita Dwi Pratiwi; Suyono Suyono
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 6 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i6.7820

Abstract

Background: Based on data from the Tangerang District Hospital in October 2020, it was found that data on follow-up under antiretroviral therapy (ARV) among people living with HIV/AIDS (PLWHA) during the pandemic period for the last 3 months from February to April 2020 showed a decrease in the number but had a fluctuating graph in taking drugs every month, reaching 1012 patients, of which 20% were children. In addition, during the pandemic, there was an increase in LFU (lost to follow-up) cases of ARV treatment regimens.Purpose: To identify determinant factors of loss to follow-up under antiretroviral therapy (ARV) among people living with HIV/AIDS (PLWHA)Method: A quantitative research with a cross-sectional approach. The number of samples in this study was 45 respondents. The analysis used is univariate and bivariate. The statistical tests used are Chi-Square test and logistic regression.Results: Finding that the factors related to the cause of the withdrawal of ARV drugs were health insurance, side effects of ARVs, CD4 values, family support, hopelessness, stress levels, and self-esteem. Then a logistic regression test was carried out to find out which factor had the most influence and the results showed that the CD4 value was the most significant indicator with an OR (Odds Ratio) value of 26,812 812, meaning that people living with HIV who had CD4 values < 200 had a 26,812 times greater risk of dropping out of ARV drugs, compared to people living with HIV who have CD4 values 200.Conclusion: CD4 value is the most significant factor in the incidence of ARV drug withdrawal in living with HIV.Keywords: Loss to follow-up; Antiretroviral therapy (ARV); People living with HIV/AIDS (PLWHA)Pendahuluan: Berdasarkan data RSUD Kab.Tangerang Oktober 2020 didapatkan data follow up pada orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang menerima terapi Antiretroviral (ARV selama masa pandemi 3 bulan terakhir Februari-April 2020 menunjukan penurunan angka follow up  namum memiliki grafik fluktuatif dalam pengambilan obat tiap bulan mencapai 1012 pasien dimana 20% termasuk usia anak. Selain itu, selama pandemi terjadi peningkatan kasus LFU (lost to follow up) dari regiment pengobatan ARV.Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor determinan penyebab loss to follow up pada orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang menerima terapi Antiretroviral (ARV)Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini 45 responden. Analisis yang digunakan adalah univariat dan bivariat. Uji statistik yang digunakan yakni, uji Chi Square dan regresi logistik.Hasil: Didapatkan bahwa faktor yang berhubungan dengan penyebab loss to follow up ARV adalah jaminan kesehatan, efek samping ARV, nilai CD4, dukungan keluarga, keputusasaan, tingkat stress, dan harga diri. Selanjutnya dilakukan uji regresi logistic untuk mendapatkan faktor mana yang paling berpengaruh dan didapatkan hasil bahwa nila CD4 merupakan indicator paling bermakna dengan nilai OR (Odds Rasio) sebesar 26.812 812 artinya ODHA yang memiliki kadar nilai CD4 < 200 memiliki risiko 26.812 kali lebih besar penyebab loss to follow up ARV dibandingkan dengan ODHA yang memiliki kadar nilai CD4 ≥ 200.Simpulan: Nilai CD4 merupakan faktor yang paling bermakna terhadap kejadian loss to follow up  ARV pada ODHA.
ASSESMENT QUALITY OF LIFE (QOL) DENGAN KETERPAPARAN COVID-19 Suarnianti Tawil; Emilia Emilia; Nur Khalid
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8221

Abstract

Latar Belakang: Covid-19 menjadi salah satu masalah kesehatan dunia yang meningkat dari beberapa bulan yang lalu. Peningkatan ini diikuti oleh berbagai masalah termasuk kualitas hidup. Pencegahan merupakan langkah awal untuk meningkatkan jumlah kasus Covid-19.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai hubungan kualitas hidup dengan pajanan covid-19 di Puskesmas Paccerakg.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Instrumen yang digunakan adalah pertanyaan berupa pertanyaan tentang kualitas hidup yang dianalisis dengan chi square (p<0,05). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 93 responden dengan paparan Covid-19 di wilayah kerja Puskesmas Paccerakg Kota Makassar dengan metode non probability sampling menggunakan teknik purposive sampling.Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara kualitas hidup dengan paparan COVID-19 (p = 0,02).Kesimpulan: COVID-19 dapat meningkatkan kesadaran untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, seperti mematuhi protokol kesehatan, menjaga asupan energi dalam tubuh, hingga mencegah terjadinya Covid-19. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kualitas hidup dengan pajanan Covid-19 di Puskesmas Paccerakkang, dimana kualitas hidup merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan pajanan COVID-19.
Perceived benefit, perceived barrier dan dukungan sosial terhadap perawatan diri pasien setelah operasi Coronary Artery Bypass Graft (CABG) Mulida Arifiati; Sri Yona; Tuti Herawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 4 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i4.7392

Abstract

Background: CABG surgery is one of the surgical treatments for CHD and improves the patient's quality of life. However, patients who have undergone CABG remain at risk for ischemic events. Cardiovascular secondary prevention plays an important role to maintain the long-term patency of the graft, slowing the atherosclerotic process. Behavior change is influenced by a person's belief to change and support around him. The beliefs that are considered to have an effect on the pattern of behavior change are perceived benefits and perceived barriers.Purpose: To determine the relationship between perceived benefit, perceived barrier, and social support to patient self-care after CABG surgery.Method: Cross-sectional design, with a sample size of 75 respondents, inclusion criteria: CABG surgery patients more than 6 months, Age more than 30 years.Results: From the analysis, there are four significant relationships with self-care, education p-value of 0.015, perceived benefit p-value of 0.001, perceived barrier with a p-value of 0.004, and social support p-value of 0.000. What is not significant is the age p-value of 0.631 and knowledge p-value of 0.418 Gender p-value of 0.357.Conclusion: There is a significant relationship between perceived benefit, perceived barrier, and social support for patient self-care after CABG surgery.Keywords: Perceived Benefit; Perceived Barriers; Social Support; Self Care; CABG.Pendahuluan: Operasi CABG merupakan salah satu penanganan bedah pada PJK dan meningkatkan kualitas pasien kehidupan baik. Namun pasien yang telah menjalani CABG tetap berisiko untuk kejadian iskemik. Pencegahan sekunder kardiovaskular memainkan peran penting untuk mempertahankan jangka panjang patensi cangkok, memperlambat proses aterosklerotik. Perubahan perilaku dipengaruhi oleh keyakinan seseorang untuk berubah dan dukungan disekitarnya. Keyakinan yang dianggap berpengaruh terhadap pola perubahan perilaku adalah perceived benefit dan perceived barrier.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan perceived benefit, perceived barrier dan dukungan sosial terhadap perawatan diri pasien setelah operasi CABG.Metode: Desain cross-secrtional, dengan jumlah sampel 75 responden, kriteria inklusi: Pasien operasi CABG lebih dari 6 bulan, Usia lebih dari 30 tahun.Hasil: Dari analisis terdapat empat hubungan yang bermakna terhadap perawatan diri, didapatkan pendidikan nilai p 0,015, perceived benefit nilai p 0,001, perceived barrier dengan nilai p 0,004 , dan dukungan social nilai p 0,000. Yang tidak bermakna yaitu usia nilai p 0.631dan pengetahuan nilai p 0.418 Jenis kelamin nilai p 0,357.Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna anatara perceived benefit, perceibved barrier, dan dukungan social terhadap perawatan diri pasien setelah operasi CABG.
Pengetahuan gizi, pola asuh, dan asupan makanan dengan status gizi bayi dan balita Citra Indah Sari; Fika Minata Wathan; Eka Rahmawati; Titin Dewi Sartika Silaban
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i3.6956

Abstract

Background: Nutritional status is a balance between nutrient intake from food and the nutritional requirements needed for body metabolism. WHO 2018 stated that in 2017 around 7.5% or 50.5 million children under five experienced malnutrition which resulted in failure to grow and develop.Purpose: To determine the relationship: its nutritional knowledge, parenting, and food intake with the nutritional status of infants and toddlersMethod: The quantitative study with a cross-sectional approach, was done in January-February 2022 in Tanjung Ning Lama village. The population in this study were mothers who had infants or toddlers with a sample of 83 respondents who were taken by simple random sampling technique. The results of the analysis used statistical tests, namely the chi-square test to see the univariate and bivariate analysis.Results: Show that the knowledge of nutrition was good 57 respondents with a percentage of 68.7%, good food intake 53 respondents with a percentage of 63.9%, poor parenting 47 respondents with a percentage of 56.6%, and good nutritional status 52 respondents with a percentage of 62.7%. While the results of the bivariate analysis of maternal knowledge were good 80.8% (p-value = 0.005, OR: 4.480), good food intake 75% (p-value = 0.012. OR: 1.415), bad parenting 74.2% (p-value = 0.012).= 0.012 and OR: 3.354) that there is a partial relationship with the nutritional status of toddlers and infants.Conclusion: There is a relationship between maternal knowledge, food intake, and parenting simultaneously with the nutritional status of infants and toddlers.Keywords: Knowledge; Food intake; Parenting; Nutritional Status of Infants and Toddlers. Pendahuluan: Status gizi adalah keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dengan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk metabolisme tubuh. WHO 2018 menyatakan pada tahun 2017 di dunia sekitar 7,5% atau 50,5 juta balita mengalami gizi kurang yang berdampak gagal tumbuh kembang.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan: pengetahuan gizi, pola asuh, dan asupan makanan dengan status gizi bayi dan balitaMetode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilakukan pada bulan Januari-Februari 2022 di desa Tanjung Ning Lama. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi atau balita dengan sampel sebanyak 83 responden yang diambil dengan teknik simple random sampling. Hasil analisis menggunakan uji statistik yaitu uji chi-square untuk melihat analisis univariat dan bivariat.Hasil: Menunjukkan pengetahuan gizi baik 57 responden dengan persentase 68,7%, asupan makanan baik 53 responden dengan persentase 63,9%, pola asuh kurang baik 47 responden dengan persentase 56,6%, dan status gizi baik 52 responden dengan persentase 62,7%. Sedangkan hasil analisis bivariat pengetahuan ibu baik 80,8% (p-value = 0,005, OR: 4,480), asupan makanan baik 75% (p-value = 0,012. OR: 1,415), pola asuh buruk 74,2% (p-value = 0,012. OR: 1,415), pola asuh buruk 74,2% (p- nilai = 0,012 dan OR: 3,354) bahwa ada hubungan parsial dengan status gizi balita dan bayi.Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan ibu, asupan makanan, dan pola asuh secara simultan dengan status gizi bayi dan balita.