cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Kecemasan ibu hamil trimester III menghadapi proses persalinan dan melahirkan Ratna Dewi; Noviyanti Noviyanti; Adri Idiana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i2.6314

Abstract

Background: A pregnant woman will experience a period of labor and this is a critical period. It is not uncommon for mothers to have disturbing thoughts. The emergence of disturbing thoughts is related to the delivery process that will be passed and the form of thought that is felt is anxiety. Anxiety is a form of emotional response felt by pregnant women. This response is an anticipation of an experience that the patient perceives as threatening his or her role in life, the integrity of the body or life itself.Purpose: To determine the level of anxiety in third trimester pregnant women at PMB in the Working Area of the Ingin Jaya Health Center.Method: This research is descriptive to see the level of anxiety in third trimester primigravida pregnant women. The population in this study were pregnant women who were in PKM Ingin Jaya, totaling 50 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. The instrument used in this study was an observation sheet about anxiety using the HARS questionnaire, <14: no anxiety, 14-20: mild anxiety, 21-27: moderate anxiety, 28-41: very severe anxiety.Results: Based on the table above shows that aged 25-35 years with moderate anxiety 15 (12.3%) respondents with p-value 0.017, high school education with moderate anxiety level 14 (13.4%) respondents with p-value 0.017, parity 1-2 people 20 (15.7%) respondents, with a p-value of 0.030.Conclusion: There is a significant relationship between parity, age, education on the anxiety level of third trimester pregnant women in facing childbirth.Keywords: Anxiety; Third trimester; Primigravida; Pregnant women; Labor and deliveryPendahuluan: Seorang ibu hamil akan mengalami masa persalinan dan ini merupakan salah satu periode kritis. Tidak jarang ibu memiliki pikiran yang mengganggu. Munculnya pikiran yang mengganggu itu terkait dengan proses persalinan yang akan dilalui dan bentuk pikiran yang dirasakan adalah kecemasan. Kecemasan merupakan sebuah bentuk respon emosional yang dirasakan oleh ibu hamil. Respon ini merupakan antisipasi terhadap pengalaman yang pasien anggap mengancam perannya dalam kehidupan, integritas terhadap tubuh atau kehidupan itu sendiri .Tujuan: Untuk mengetahui tingkat kecemasan pada ibu hamil trimester III di PMB Wilayah Kerja Puskesmas Ingin Jaya.Metode: Penelitian ini bersifat deskripsi  untuk melihat tingkat kecemasan pada ibu hamil primigravida trimester ketiga. Populasi dalam penelitian ini yaitu Ibu Hamil yang berada di PKM Ingin Jaya, yang berjumlah 50 orang yang  memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi tentang kecemasan dengan menggunakan kuesioner HARS, <14: tdk ada kecamasan,14-20: kecemasan ringan,21-27:kecemasan sedang,28-41: kecemasan berat sekali.Hasil: Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa usia 25-35 tahun dengan kecemasan sedang 15 (12.3%) responden dengan p-value 0.017, pendidikan SMA dengan tingkat kecemasan sedang 14 (13.4%) responden denagn p-value 0.017, paritas 1-2 orang 20 (15.7%) responden, dengan p-value 0.030.Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara Paritas, Umur, Pendidikan terhadap tingkat kecemasan Ibu Hamil Trimester III dalma menghadapi persalinan. 
Persepsi pasien terhadap mutu pelayanan dalam penerapan patient safety Dalfian Dalfian; Nova Muhani; Nurul Afiah; Nur Azizah; M Ilham Rivaldi; Dandy Adji Pangestu; Listya Dini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i2.5435

Abstract

Background: Patient safety is the absence of preventable harm to patients during the health care process and the reduction of unnecessary harm associated with health care to a minimum.Patient safety is a framework of organized activities that creates a culture, processes, procedures, behaviors, technologies and environments in health care that consistently and sustainably reduce risk, reduce the occurrence of avoidable hazards, make mistakes less likely and reduce their impact when it happened.Purpose: To determine patients' perception of service quality in the application of patient safety at Pertamina Bintang Amin hospital, Bandar Lampung.Method: A quantitative study using a research design in the form of an analytic survey with a cross sectional approach. The population and samples in this study were patients who were treated in the inpatient unit at hospital.Results: The overall application of patient safety was 58.6% of respondents felt it was good and 41.4% felt it was not good. The ranking of patient safety implementation is good in service units, sequentially from the highest, namely pharmacy services (67.6%), medical services (61.0%), nutritional services (59.0%), laboratory services (58.0%), and radiology services (57.1%). Overall, 66.2% of respondents felt that the quality of service was good and 33.8% felt that it was not good. The ranking of service quality is good in service units based on patient perceptions, sequentially from the highest are medical services (80.0%), nutritional services (69.5%), pharmaceutical services (68.2%), laboratory services (58.0%), and radiology services (53.3%).Conclusion: There is a significant relationship between the application of patient safety to the quality of drug services, pharmacy installation services, nutrition services, laboratory services and radiology services. Keywords: Patients' perception; Service quality; Patient safety; HospitalPendahuluan: Keselamatan pasien adalah kerangka kerja kegiatan terorganisir yang menciptakan budaya, proses, prosedur, perilaku, teknologi dan lingkungan dalam pelayanan kesehatan yang secara konsisten dan berkelanjutan menurunkan risiko, mengurangi terjadinya bahaya yang dapat dihindari, membuat kesalahan lebih kecil kemungkinannya dan mengurangi dampaknya ketika itu terjadi.Tujuan:  Untuk mengetahui persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan dalam penerapan Patient Safety di RS Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung.Metode: Kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian berupa survei analitik dengan pendekatan cross sectional. populasi  dan sampel pada penelitian ini pasien-pasien yang dirawat di unit rawat inap  pada Rumah Sakit.Hasil: Penerapan keselamlatan pasien secara keseluruhan sebanyak 58,6% responden  merasakan sudah baik dan 41,4% yang mersakan tidak baik. Peringkat penerapan keselamlatan pasien sudah baik pada unit pelayanan berurutan dari tertinggi adalah  pelayanan famasi (67,6%), pelayanan pengobatan (61,0%), pelayanan gizi (59,0%),pelayanan laboratorium (58,0%),  dan pelayanan radiologi (57,1%). Mutu pelayanan pasien secara keseluruhan, sebanyak 66,2% responden  merasakan mutu layanan sudah baik dan 33,8% yang merasakan tidak baik.  Peringkat mutu pelayanan sudah baik  pada unit pelayanan berdasarkan persepsi pasien secara berurutan dari tertinggi adalah  pelayanan pengobatan (80,0%), pelayanan gizi (69,5%), pelayanan farmasi (68,2%),pelayanan laboratorium (58,0%),  dan pelayanan radiologi (53,3%).Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara penerapan keamanan pasien terhadap mutu pelayanan obat, pelayanan instalasi farmasi, pelayanan gizi, pelayanan laboratorium dan pelayanan radiologi.
Status psikologis dan meningkatnya tekanan darah pada lanjut usia Nova Gerungan; Ferdy Lainsamputty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i3.6813

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that causes major health problems with a high prevalence in adults and elderly. High blood pressure (BP) in elderly patients is expected to worsen their psychological condition.Purpose: To determine the correlation between blood pressure and psychological status among elderly patients with hypertension.Method: The current study applied a descriptive correlation and cross-sectional design. A total sample of 152 people were recruited using simple random sampling technique. The questionnaire used was the Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42). Descriptive statistics and bivariate analysis were applied to examine the relationship between variables.Results: Systolic pressure was significantly correlated with stress (r=0.19; p<0.05).Conclusion: The higher the systolic blood pressure, the more severe the stress level in the hypertensive elderly. Keywords: Anxiety; Blood Pressure; Elderly; Hypertension; Stress  Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menyebabkan masalah kesehatan besar dengan prevalensi tinggi pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia (lansia). Tekanan darah tinggi penderita lansia berpotensi memperparah keadaan psikologisnya.Tujuan: Untuk mengetahui korelasi antara tekanan darah dan status psikologis pada pasien lansia yang mengidap hipertensi.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dan berpendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 152 orang yang direkrut menggunakan teknik simple random sampling. Kuesioner yang digunakan yaitu Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42). Statistik deskriptif serta analisa bivariat diaplikasikan untuk menguji hubungan antar variabel.Hasil: Tekanan sistolik berhubungan secara signifikan dengan stres (r=0.19; p<0,05).Simpulan: Semakin tinggi tekanan darah sistol, semakin parah level stres pada lansia hipertensi.
Peningkatan pengetahuan dengan menggunakan media video dan booklet pada klien yang menjalani kemoterapi Fitri Yanti; Dina Dwi Nuryani; Dhiny Easter Yanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i3.7279

Abstract

Background: The role of health workers in helping prevent and overcoming problems of cancer patients by providing attention, motivation, support, and counseling providing direction, counseling, health education or education, and providing alternative problem solving as part of integrated nursing for cancer patients. The provision of knowledge and understanding of patients undergoing chemotherapy can be conveyed through visual media such as booklets or audiovisual media such as video animations.Purpose: To determine the effectiveness of video media and booklet media in increasing knowledge of chemotherapy clients.Method: Quantitative research with a quasi-experimental design with one group pre-test-posttest design. The population of this study was cancer chemotherapy clients with a total sample of 50 respondents, namely 25 samples of group I who were given education using video media and 25 other samples of group II who were educated using booklet media, taken by accidental sampling technique. Data analysis used univariate analysis to obtain the mean, median and standard deviation and bivariate analysis used paired t-test or Wilcoxon test as an alternative test.Results: Based on the results in both groups before and after education there were changes. That is an increase of 19.28 in group I and an increase of 18.2 in group II. The results before education in group I (44.28±11.480) and group II (42.44±11.439) while the results after education were seen in group I (63.56±11.218) and group II (60.64±11.083), there was an increase in knowledge before and after education. The results of bivariate data analysis using the Wilcoxon test obtained a significant value of knowledge level p-value 0.000 <0.05.Conclusion: There is an influence before and after education on participants' knowledge. So it can be concluded that there is an influence before and after education. Suggestion: Hospitals need to improve the competence of health workers and establish service SOPs by providing a special time for the needs of cancer chemotherapy clients and consider using videos and booklets as a means of education for cancer chemotherapy clients. Keywords: Education program; audio-visual; Booklets; Knowledge; Patient; ChemotherapyPendahuluan: Peran tenaga kesehatan dalam membantu mencegah dan mengatasi masalah pasien kanker dengan memberikan perhatian, motivasi, dukungan dan konseling dengan cara memberikan pengarahan, penyuluhan, pendidikan kesehatan atau edukasi serta memberikan alternatif pemecahan masalah sebagai bagian dari keperawatan terpadu pasien kanker. Pemberian pengetahuan dan pemahaman pasien yang menjalani kemoterapi dapat disampaikan melalui visual media seperti booklet atau media audiovisual seperti animasi video.Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas media video dan media booklet dalam meningkatkan pengetahuan pada klien kemoterapi.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen eksperimen dengan one group pre test-posttest design. Populasi penelitian ini adalah klien kemoterapi kanker dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden yaitu 25 sampel kelompok I yang diberikan edukasi menggunakan media video dan 25 sampel lainya kelompok II yang dilakukan edukasi menggunakan media booklet, diambil dengan teknik accidental sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat untuk memperoleh mean, median dan standar deviasi dan analisis bivariat menggunakan uji t berpasangan  atau  uji  Wilxocon  sebagai  uji alternatif.Hasil: Berdasarkan hasil pada kedua kelompok sebelum dan setelah dilakukan edukasi terdapat perubahan. Yaitu peningkatan sebanyak 19.28 pada kelompok I dan peningkatan 18.2 pada kelompok II. Hasil sebelum edukasi pada kelompok I (44.28±11.480) dan kelompok II (42.44±11.439) sedangkan hasil setelah dilakukan edukasi tampak pada kelompok I (63.56±11.218) dan kelompok II (60.64±11.083), terlihat peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan edukasi. Hasil analisa data bivariat menggunakan uji wilcoxon didapat nilai signifikan tingkat pengetahuan p-value 0,000 < 0,05Simpulan: Terdapat pengaruh sebelum dan sesudah edukasi terhadap pengetahuan partisipan. Jadi dapat ditarik kesimpulan terdapat pengaruh sebelum dan sesudah edukasi.Saran: Pihak Rumah Sakit perlu meningkatkan kompetensi petugas kesehatan dan menetapkan SOP layanan dengan menyediakan waktu khusus untuk kebutuhan klien kemoterapi kanker serta mempertimbangkan penggunaan video dan booklet  sebagai sarana edukasi bagi klien kemoterapi kanker.
Stres psikologis dan gejala kekambuhan gastritis kronis pada lansia: Studi cross-sectional Meiriyanti Meiriyanti; Rahma Elliya; Triyoso Triyoso
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i3.1537

Abstract

Background : Elderly people with some chronic conditions have a higher risk of experiencing gastric acid disease. Based on the results of the survey conducted on December 26, 2018 - January 2, 2019, there were 10 elderly patients diagnosed with gastritis, of which 70% revealed, often angry, often had difficulty sleeping, found it difficult to relax, irritable and as much as 30% revealed late eat and like to eat foods that are high in fat.Purpose: Knowing the relationship between psychological stress and symptoms of chronic gastritis recurrence in the elderlyMethod: Type of quantitative research, the study design was cross-sectional. The population of this study is the elderly. Independent variables: psychological stress and dependent variable: symptoms of chronic gastritis recurrence. Collecting data with questionnaires and medical records taken on  March - April 2019. Data analysis is univariate (frequency distribution) and bivariate using the chi-square test.Results: Finding of 66 (60.6%) respondents had symptoms of chronic gastritis recurrence and psychological stress 56 (51.4%) (p-value = 0,000 OR 6,234).Conclusion: There is a relationship between psychological stress and symptoms of chronic gastritis recurrence in the elderly in the UPTD Sri Bhawono,Suggestions: The management of the Public health center to provide information to patients about the factors that influence the symptoms of chronic gastritis recurrence, especially psychological stress, and provides a psychologist consultant.Keywords: Psychological stress; Symptoms; Gastritis; ElderlyPendahuluan: Lansia dengan beberapa kondisi kronis memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit asam lambung. Berdasarkan hasil prasurvey yang dilakukan tanggal 26 Desember 2018 – 2 Januari 2019, terdapat  10 pasien usia lanjut dengan diagnosa gastritis, dimana sebanyak 70% mengungkapkan, sering marah, sering susah tidur, merasa sulit untuk bersantai, mudah tersinggung dan sebanyak 30% mengungkapkan sering telat makan dan suka mengkonsumsi makanan yang berlemak tinggi.Tujuan: Mengetahui hubungan stres psikologis dengan gejala kekambuhan gastritis kronis pada lansiaMetode : Jenis penelitian kuantitatif, dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah lansia. Variabel bebas: stres psikologis dan variabel terikat: gejala kekambuhan gastritis kronis. Pengumpulan data dengan kuesioner dan rekam medis yang diambil pada bulan Maret – April 2019. Analisis data dilakukan secara univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat menggunakan uji chi-square.Hasil : Didapatkan 66 (60,6%) responden memiliki gejala kekambuhan gastritis kronis dan stres psikologis 56 (51,4%) (p-value = 0,000 OR 6,234).Simpulan: Didapatkan hubungan stres psikologis dengan gejala kekambuhan gastritis kronis pada lansia di UPTD Sri Bhawono,Saran: Manajemen Puskesmas memberikan informasi kepada pasien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi gejala kekambuhan gastritis kronis terutama stres psikologis, dan menyediakan konsultan psikolog. 
Status vaksinasi dengan kejadian stunting pada anak di bawah tiga tahun Andri Yulianto; Yusnita Yusnita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7498

Abstract

Background: Stunting conditions at birth affect the development or growth of children so stunting toddlers in the future will have difficulty in achieving optimal physical and cognitive development.Purpose: To determine the relationship between vaccination status and stunting occurrence among toddlers 1-3 years oldMethod: Observational analytic research with a case-control study approach. The sampling technique used is simple random sampling with a total sample of 99 respondents. Data collection uses an observation sheet on the Child's Identity Card (CIC). Statistical analysis using the Chi-Square Statistical Test.Results: From 33 toddlers 1-3 years old, there were 19 (57.6%) respondents who experienced stunting with a history of vaccination status in the incomplete category and 14 (42.4%) complete respondents. there is a relationship between vaccination status and the incidence of stunting in toddlers aged 1-3 years, the p-value is 0.011 (smaller than alpha = 0.05).Conclusion: There is a relationship between vaccination status and the incidence of stunting in toddlers aged 1-3 years in the work area of the Wates Health Centre.Keywords: Vaccination; Stunting; Toddler under 3 years oldPendahuluan: Kondisi stunting saat lahir berpengaruh terhadap perkembangan atau pertumbuhan anak sehingga batita stunting di masa datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan status imunisasi dengan kejadian stunting.Metode: Penelitian observational analitik dengan pendekatan  studi kasus control. Teknik sampling yang digunakan yaitu simple random sampling dengan jumlah sampel yaitu 99 responden. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi pada Kartu Identitas Anak (KIA). Analisis statistik menggunakan Uji Statistik Chi Square. Hasil: Diketahui dari 33 batita 1-3 tahun didapatkan yang mengalami stunting dengan riwayat status vaksinasi dalam kategori tidak lengkap sebanyak 19 (57,6%) responden dan lengkap 14 (42,4%) responden. ada hubungan status vaksinasi terhadap kejadian stunting pada batita 1-3 tahun  diperoleh nilai p sebesar 0,011 (Lebih kecil dari nilai alpha = 0,05).Simpulan: Ada hubungan status vaksinasi terhadap kejadian stunting pada batita usia 1-3 tahun  di wilayah kerja Puskesmas Wates.  
Infeksi Covid-19 pada tenaga kesehatan di wilayah kota Bandar Lampung Destriana Hasan; Nurhalina Sari; Nova Muhani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 4 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i4.5122

Abstract

Background: Indonesia requires the government to continue to carry out integrated prevention efforts through several steps including the involvement of health workers who are the main component in preventing the transmission of Covid-19, with the higher involvement of health workers, the higher the number of confirmed cases of Covid-19 among health workers. The high number of health workers who are positive for Covid-19 is due to the lack of optimization of health protocols.Purpose: Knowing the relationship between vaccination and the application of health protocols with Covid-19 infection in health workers at the Bandar Lampung Health CenterMethod: Quantitative research. The population of this research is health workers in Tanjung Karang, Kemilling and Sukarame Public Health Centers totaling 80. By using total sampling as respondents. Measuring tools and data collection used in this study in the form of a questionnaire. Data analysis using univariate and bivariate analysis.Results: The average age of respondents was 38.93 years, the majority were male, 81.3%, long working 3.78 years, dominant education was bachelor degree 58.7%, incidence of infection was 50%, vaccination was 91.3%, wearing masks 68.8%, washing hands 80%, maintaining distance 61.3%, avoiding crowds 53.8%, limiting mobility 56.3%, applying correct coughing and sneezing etiquette 77.6%.Conclusion: There is a significant relationship between using masks, washing hands, maintaining distance, avoiding crowds and limiting mobility with the incidence of Covid-19 in health workers with p-value <0.05. And there is no relationship between vaccination and applying cough and sneeze etiquette with the incidence of Covid-19 in health workers, with p-value >0.05.Keywords: Infection; Covid-19; Health Workers.Pendahuluan: Indonesia mengharuskan pemerintah terus melakukan upaya penanggulangan secara terpadu melalui beberapa langkah termasuk keterlibatan tenaga kesehatan yang menjadi komponen utama dalam melakukan pencegahan penularan Covid-19, dengan semakin tingginya keterlibatan tenaga kesehatan maka kasus terkonfirmasi postif Covid-19 pada tenaga kesehatan juga semakin tinggi, masih tingginya tenaga kesehatan yang positif Covid-19 dikarenakan kurangnya optimalisasi protokol kesehatan.Tujuan: Mengetahui hubungan antara vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan dengan penularan Covid-19 pada tenaga kesehatan di kota Bandar LampungMetode: Penelitian kuantitatif dan populasinya tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Tanjung Karang, Kemilling dan Sukarame yang berjumlah 80. Dengan menggunakan total sampling sebagai responden. Alat ukur dan pegumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner. Analisa data menggunakan analisis univariat dan bivariat.Hasil: Rata-rata umur responden 38.93 tahun, mayoritas jenis kelamin laki-laki 81.3%, lama bekerja 3.78 tahun, pendidikan dominan S1 58.7%, kejadian terinfeksi 50%, vaksinasi 91.3%, pemakaian masker 68.8%, mencuci tangan 80%, menjaga jarak 61.3%, menghindari kerumunan 53.8%, membatasi mobilitas 56.3%, menerapkan etika batuk dan bersin yang benar 77,6%.Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas dengan kejadian Covid-19 pada tenaga kesehatan dengan hasil p-value < 0.05. Dan tidak ada hubungan antara vaksinasi dan menerapkan etika batuk dan bersin dengan kejadian Covid-19 pada tenaga kesehatan, dengan hasil p-value >0.05.  
Implementasi layanan telemedicine di masa pandemi Covid-19: Literature review Resty Mauliana; Misnaniarti Misnaniarti; Rizma Adlia Syakurah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 3 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i3.7171

Abstract

Background: Telemedicine is a remote health service using audio, visual, and data communications, including treatment, diagnosis, consultation, and treatment, as well as the exchange of medical data. In the implementation of telemedicine services, cooperation from various parties is needed, including patients and health care facilities.Purpose: To analyze the implementation of telemedicine services during the Covid-19 pandemic.Method: A literature review study with the PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases. The assessment and quality of articles in this research use the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis instrument.Results: Based on the search results, obtained 9 articles that are relevant and in accordance with the research inclusion criteria. From these 9 articles, got 5 related to implementing telemedicine services and 3 factors that can affect telemedicine services..Conclusion: 5 matters related to implementing telemedicine namely the advantages and disadvantages, benefits, influencing factors, and implementation of telemedicine services during the Covid-19 pandemic. In addition, 3 factors can affect telemedicine services, namely finance, technology infrastructure, and organizational rules and regulations.Keywords: Covid-19; Implementation; Health service; Telemedicine.Pendahuluan: Telemedicine merupakan layanan kesehatan jarak jauh dengan memakai komunikasi audio, visual, dan data, termasuk perawatan, diagnosis, konsultasi, dan pengobatan, serta pertukaran data medis. Dalam pelaksanaan layanan telemedicine, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak termasuk pasien dan fasilitas layanan kesehatan.Tujuan: Menganalisis implementasi layanan telemedicine di masa pandemi Covid-19.Metode: Penelitian literature review dengan database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Penilaian dan kualitas artikel dalam penelitian ini menggunakan instrumen Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis.Hasil: Berdasarkan hasil pencarian, didapatkan 9 artikel relevan dan sesuai dengan kriteria inklusi penelitian. Dari 9 artikel tersebut, diperoleh 5 hal terkait implementasi layanan telemedicine dan 3 faktor yang dapat memengaruhi layanan telemedicine.Simpulan: 5 hal terkait implementasi layanan telemedicine yaitu kelebihan dan kekurangan, manfaat, faktor yang memengaruhi, dan implementasi layanan telemedicine pada masa pandemi Covid-19. Kemudian 3 faktor yang dapat memengaruhi layanan telemedicine yaitu keuangan, infrastruktur teknologi, serta aturan dan peraturan organisasi.
Pengaruh senam dysmenorrhoea terhadap premenstruasi syndrome pada remaja putri Sunarsih Sunarsih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 6 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i6.7883

Abstract

Background: Premenstrual syndrome or premenstrual syndrome is a collection of physical, psychological, and emotional symptoms associated with a woman's menstrual cycle. Dysmenorrhoea is the medical term for painful menstruation and about 75 percent of women experience dysmenorrhoea at some point during their reproductive years. Sometimes dysmenorrhoea can be accompanied by nausea, vomiting, diarrhea, and stomach cramps, some women even faint and get drunk, this situation appears severe enough to cause sufferers to experience temporary disruption of activity.Purpose: To determine the effect of exercise for dysmenorrhoea on premenstrual syndrome among teenage girlsMethod: This research was carried out using a quasi-experimental method. The population were all teenage girls students who had premenstrual syndrome (dysmenorrhoea). The research was conducted at senior high school 15 grade X Bandar Lampung. The sample was taken by accidental sampling method of 60 participants divided into the intervention and control groups.Results: Before the intervention, the participants had a pain scale level 56.67 percent moderate pain, after the intervention the pain scale level changed to a mild pain scale of 60 percent.Conclusion: There was a significant difference between the menstrual pain scale before and after dysmenorrhea exercise (p= 0.00 ; 0.05).Suggestion: School institutions are advised to hold dysmenorrhea exercises regularly for students who have premenstrual syndrome.Keywords: Exercise; Dysmenorrhea; Premenstrual syndrome; Teenage girlsPendahuluan: Premenstruasi Syndrom atau sindrom pramenstruasi adalah kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi perempuan. Dysmenorrhoea adalah istilah medis untuk haid yang terasa nyeri dan sekitar 75 persen wanita mengalami dysmenorrhoea pada suatu saat sepanjang usia reproduksinya. Terkadang dysmenorrhoea dapat disertai dengan rasa mual, muntah, diare dan kram perut, beberapa wanita bahkan pingsan dan mabok, keadaan ini muncul cukup hebat sehingga menyebabkan penderita mengalami gangguan aktivitas untuk sementara.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh senam dysmenorrhoea terhadap premenstuasi syndrome pada remaja putri di SMAN 15 Bandar Lampung.Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan metode quasi experiment. Populasinya seluruh siswi kelas x yang mengalami premenstruasi syndrome (dysmenorrhoea). Penelitian dilakukan di SMAN 15 Bandar Lampung. Sampel penelitian ini diambil dengan metode accidental sampling dengan jumlah sampel 60 partisipan yang dibagai menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol.Hasil: Sebelum dilakukan intervensi tingkat skala nyeri partisipan adalah nyeri sedang sebanyak 56,67 persen, setelah dilakukan intervensi tingkat skala nyeri berubah menjadi skala nyeri ringan sebanyak 60 persen.Simpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara skala nyeri haid sebelum dan sesudah senam dysmenorrhoea (p= 0,00 ; α 0,05).Saran: Instansi sekolah disarankan mengadakan senam dysmenorrhoea secara rutin bagi siswi yang mengalami premenstruasi syndrome.
Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta Umi Romayati Keswara; Andoko Andoko; Rahma Elliya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.8055

Abstract

Background: The disease of leprosy is one of the most prevalent infectious diseases in Lampung Province, both medically and socially. Data from the World Health Organization (WHO) recorded a prevalence of 0.2 per 10,000 population, with 208,619 new patients occurring throughout 2018. In Indonesia, the number of new cases of leprosy is 14,397 with a detection rate of 5.43 per 100,000 population.  In addition, there are a total number of 19,033 cases of leprosy, with a prevalence rate of 0.72 per 10,000 population. One of the problems that hinder efforts to control leprosy is the stigma of it, and the lack of public knowledge about stigma in people with leprosy.Purpose: Increasing public knowledge about the negative stigma of patients with leprosy.Method: Quantitative research type, with a Quasi-Experimental group pre-test post-test design. The population of the people of Sidodadi Asri Village, the Working Area of the Banjar Agung Inpatient Health Center, with a sample of 30 patriarchs. Dependent T-Test data analysis.Results: The average knowledge of the community about stigma before health education was 29.5 with a standard deviation of 2.82 and a minimum value of 23, after health education of 32 with a standard deviation of 2.15 and a minimum value of 25, p-value 0.000 < = 0.Conclusion: There is an effect of health education on increasing public knowledge about stigma in leprosy patients. Suggestions, health education can be used to increase public awareness of negative stigma of patients with leprosy.Keywords: Knowledge; Public Stigma; Leprosy; Health education.Pendahuluan : Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di Propinsi Lampung, baik aspek medis maupun social. Data World Health Organization (WHO), mencatat prevalensi 0,2 per 10.000 penduduk, dengan jumlah pasien baru 208.619 kasus terjadi sepanjang 2018. Di Indonesia jumlah kasus baru kusta 14.397 dengan case detection rate 5,43 per 100.000 penduduk dengan jumlah total kasus kusta 19.033 dengan angka prevalensi 0,72 per 10,000 penduduk. Salah satu masalah yang menghambat upaya penanggulangan kusta adalah adanya stigma terhadap penyakit kusta, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita penyakit kusta.Tujuan : Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta.Metode : Jenis penelitian Kuantitatif, dengan Quasi Experimental One group pre-test post-test design. Populasi masyarakat Desa Sidodadi Asri Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Banjar Agung dengan, sampel 30 Kepala Keluarga. Analisa data Dependent T Test.Hasil : Rata-rata pengetahuan masyarakat tentang stigma sebelum pendidikan kesehatan sebesar 29,5 dengan standar deviasi 2,82 nilai minimal 23, setelah pendidikan kesehatan sebesar 32 dengan standar deviasi 2,15 nilai minimal 25, p- value 0,000 < α = 0,05.Simpulan: Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta. Saran, pendidikan kesehatan dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta.