cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Aplikasi kesehatan berbasis aplikasi seluler pada perawatan pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis: A literature review Handayani, Wita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 8 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i8.13033

Abstract

Bakcground: Chronic Kidney Disease is a progressive and irreversible disorder of kidney function. The use of technology for further health promotion in particular patient self care proposed by the field of mobile health applications offers new opportunities to support preventative care and disease monitoring tailored to individual needs and which is a promising means to deliver information and health intervention to individuals living with chronic health conditions.Purpose:  To provide an overview and ideas from the results of a literature review regarding the evaluation of the effectiveness of using mobile based health applications related to the care of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis.Method: The form of a literatur review, database searches are carried out through, Science, Direct, Scopus, Pubmed, ProQuest and Sagebetween 2019-2023. Then filtering was carried out using PICO PICO (Population, Intervention, Comparative, Outcome) to obtain 10 suitable articles.Results: From the results of the study and review of 10 selected articles, it was concluded that the use of mobile based health applications is effective and provides benefits in the treatment of chronic disease undergoing hemodialysis.Conclusion: The use of mobile-based health applications related to the care of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis has the potential to improve the effectiveness of care and the quality of life of patients.Keywords: Caring; Chronic Renal Failure; Dialysis; Mobile Application.Pendahuluan: Penyakit ginjal kronis adalah gangguan fungsi ginjal yang progresif dan tidak dapat pulih kembali.Penggunaan teknologi untuk promosi kesehatan lebih lanjut khususnya perawatan diri pasien yang diusulkan oleh bidang aplikasi kesehatan seluler  menawarkan peluang baru untuk mendukung perawatan pencegahan dan pemantauan penyakit yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, serta merupakan sarana yang menjanjikan untuk menyampaikan informasi dan intervensi kesehatan kepada orang-orang yang hidup dengan kondisi kesehatan kronis.Tujuan: Memberikan gambaran dan menganalisis hasil-hasil penelitian tentang evaluasi  efektivitas penggunaan aplikasi kesehatan berbasis mobile yang berkaitan dengan perawatan pasien penyakit ginjal kronis yang sedang menjalani hemodialisis.Metode: Penelitian ini adalah literature review. Penelusuran artikel akademik melalui Online Database (pencarian melalui Science, Direct, Scopus, Pubmed, ProQuest dan Sage dalam periode tahun 2019-2023). Kemudian dilakukan penyaringan dengan PICO (Population, Intervention, Comparative, Outcome) didapatkan 10 artikel yang sesuai.Hasil: Dari hasil telaah dan review 10 artikel pilihan menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi kesehatan berbasis mobile efektif dan memberikan manfaat dalam perawatan penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Simpulan: Penggunaan aplikasi kesehatan berbasis mobile yang berkaitan dengan perawatan pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis memiliki potensi untuk meningkatkan efektivitas perawatan dan kualitas hidup pasien.
Continuous glucose monitoring for hypoglycemia and diabetic ketoacidosis risk reduction among diabetic patient using insulin: A literature review Rohmah, Assyfa Siti; Herawati, Tuti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 10 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i10.13305

Abstract

Background: Hypoglycemia and diabetic ketoacidosis (DKA) are the two most common complications in diabetes patients. Monitoring blood glucose levels to prevent acute complications is an important part of diabetes management. In the era of increasingly advanced technology, technology can be used to monitor blood glucose, namely continuous glucose monitoring (CGM).Purpose: To provide an overview of the effectiveness of using CGM devices as diabetes management to reduce the incidence of hypoglycemia and DKA in diabetes patients receiving insulin therapy.Method: Literature review research to identify through a database all articles related to the topic of the effectiveness of continuous glucose monitoring (CGM). Literature search using boolean search with population "Diabetes Type 1" OR "Diabetes Patients" OR "Diabetes Type II", Intervention "Flash Glucose Monitoring" OR "Continuous Glucose Monitoring" OR "Real Time Glucose Monitoring", and outcome: "Hypoglycemia" OR “Diabetic Ketoacidosis” OR “Complications” OR “Diabetes Management”.Results: Identified 360,710 articles and found 15 suitable articles, of which 7 articles discussed that CGM can reduce the incidence of hypoglycemia, 7 articles discussed that CGM installation was related to reducing HbA1C, and 2 articles proved that CGM was related to reducing the incidence of DKA.Conclusion: The use of CGM effectively and efficiently helps nurses in monitoring blood glucose levels while in the inpatient room in the management of diabetes patients so that it is easier to detect the possibility of hypoglycemia and prevent DKA due to ongoing hyperglycemia.Suggestion: It is hoped that further research can compare the effectiveness of using CGM equipment based on various types or models. Keywords: Blood Glucose Monitoring; Continuous Glucose Monitoring; Diabetic Ketoacidosis; Hyperglycemia. Pendahuluan: Hipoglikemia dan diabetic ketoacidosis (DKA) merupakan dua komplikasi paling sering terjadi pada pasien diabetes. Pemantauan kadar glukosa darah sebagai pencegahan komplikasi akut menjadi bagian penting dalam manajemen diabetes. Di era teknologi yang semakin maju, penggunaan teknologi dapat digunakan sebagai pemantauan glukosa darah yaitu continuous glucose monitoring (CGM).Tujuan: Untuk memberikan gambaran efektivitas penggunaan alat CGM sebagai manajemen diabetes untuk menurunkan kejadian hipoglikemia dan DKA pada pasien diabetes yang mendapat terapi insulin.Metode: Penelitian literature review untuk melakukan identifikasi melalui basis data dari semua artikel berkaitan dengan topik efektivitas continuous glucose monitoring (CGM). Pencarian literatur menggunakan boolean search dengan population “Diabetes Type 1” OR “Diabetes Patient” OR “Diabetes Type II”, Intervention “Flash Glucose Monitoring” OR “Continuous Glucose Monitoring” OR “Real Time Glucose Monitoring”, dan outcome: “Hypoglycemia” OR “Diabetic Ketoacidosis” OR “Complications” OR “Diabetes Management”.Hasil: Mengidentifikasi sebanyak  360.710 artikel dan mendapatkan 15 artikel yang sesuai dimana 7 artikel membahas CGM dapat menurunkan kejadian hipoglikemia, 7 artikel membahas pemasangan CGM berkaitan dengan penurunan HbA1C, dan 2 artikel membuktikan CGM berkaitan dengan penurunan kejadian DKA.Simpulan: Penggunaan CGM efektif dan efisien membantu perawat dalam melakukan pemantauan kadar glukosa darah selama di ruang rawat inap dalam manajemen penanganan pasien diabetes sehingga lebih mudah dalam mendeteksi kemungkinan terjadinya hipoglikemia dan pencegahan DKA akibat hiperglikemia berkelanjutan.Saran: Diharapkan penelitian selanjutnya dapat membandingkan efektivitas penggunaan alat CGM berdasarkan dari berbagai jenis atau modelnya. Kata Kunci: Continuous Glucose Monitoring; Diabetic Ketoacidosis; Hiperglikemia; Pemantauan Glukosa Darah.
Pemantauan transkutan non invasif: Co2 pada bayi dengan terapi High frequency oscillatory ventilation (HFOV): A literature review Endah Dessirya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 7 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i7.12871

Abstract

Background: High Frequency Oscillatory Ventilation (HFOV) is an effective breathing apparatus in infants to optimize lung volume.  Continuous monitoring of CO2 is required to determine diagnosis and therapeutic evaluation. The best standard method for partial pressure measurement of carbon dioxide (PCO2) is an invasive arterial blood gas analysis. Noninvasive monitoring of transcutaneous CO2 (TCPCO2) is a well-documented, noninvasive method for tracking ventilation in newborns.Purpose: Provide an overview and idea of the results of the literature review on non-invasive monitoring of transcutaneous CO2 in infants with High Frequency Oscillatory Ventilation (HFOV) therapy.Method: The form ofa literatur review. database searches are carried out through Summons, Proquest dan Sciencedirect, Pub Med articles, between 2010-2023. Then filtering was carried out using PICO (Population, Intervention, Comparative, Outcome) to obtain 10 suitable articles.Results: Based on several studies show that the most accurate CO2 monitoring is by blood gas analysis but non-invasive monitoring of transcutaneous CO2 (tcPCO2) can describe CO2 trends without repeated piercing and the results resemble venous blood gas analysis.Conclusion: Non-invasive monitoring of tcPCO2 can be applied to monitoring CO2 in infants using High Frequency Oscillatory Ventilation (HFOV) therapy so that CO2 can be monitored continuously.Keywords: High Frequency Oscillatory Ventilation; Infants;  Non-Invasif Transcutaneous CO2Pendahuluan: High Frequency Oscillatory Ventilation (HFOV) merupakan alat bantu pernapasan yang efektif pada bayi untuk mengoptimalkan volume paru. Diperlukan pemantauan CO2 yang kontinu untuk menentukan diagnosis dan evaluasi terapeutik. Metode standar yang paling baik untuk pengukuran tekanan parsial karbondioksida (PCO2) adalah analisa gas darah arteri yang dilakukan secara invasif. Pemantauan non-invasif transcutaneous CO2 (TCPCO2) adalah metode non-invasif yang terdokumentasi dengan baik untuk melacak ventilasi pada bayi baru lahir. Tujuan: Memberikan gambaran dan gagasan dari hasilliterature review tentang pemantauan non-invasif transcutaneous CO2 pada bayi dengan terapi High Frequency Oscillatory Ventilation (HFOV).Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review. Penelusuran artikel akademik melalui Online Database pencarian melalui Summons, Proquest dan Sciencedirect, PubMed dari tahun 2010-2023. Kemudian dilakukan penyaringan dengan PICO (Population, Intervention, Comparative, Outcome) didapatkan 10 artikel yang sesuai.Hasil: Berdasarkan beberapa studi menunjukkan bahwa pemantauan CO2 paling akurat adalah dengan analisa gas darah namun pemantauan non-invasif transcutaneous CO2 (tcPCO2) dapat menggambarkan trend CO2 tanpa penusukan berulang dan hasilnya menyerupai dengan analisa gas darah vena.Simpulan: Pemantauan non invasive tcPCO2 dapat diterapkan untuk pemantauan CO2 pada bayi yang menggunakan terapi High Frequency Oscillatory Ventilation (HFOV) agar CO2 dapat terpantau secara kontinu.
Workshop Basic Trauma & Cardiac Life Support (BT&CLS) terhadap pengetahuan dokter kecil pelajar SMA di Kota Bengkulu Hidayat, Yance; Sofais, Danur Azissah Roesliana; Hermiati, Dilfera; Pebriani, Emi; Susanti, Meri Epriana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 10 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i10.13176

Abstract

Background: Indonesia is one of the countries that faces a double nutritional problem (double burden). Nutritional problems are an indicator that leads to non-communicable diseases that begin with obesity, especially at a young age. The problem of obesity among teenagers has increased quite significantly with prevalence findings reaching 34%. In other words, teenagers are a group of people who are at risk of developing diseases such as high blood pressure, heart attacks, and so on. Another problem that must be faced is the limited number of health workers. To overcome this, the government created a small doctor program to deal with health problems in schools.Purpose: To utilize a demonstration model involving pediatricians to increase knowledge in basic life support (BT) and cardiac life support (CLS).Method: Experimental study to analyze the effects of each treatment using two experimental concepts, namely small doctors in public and private high schools. Participants were divided into two groups, namely pre and post-test. This study took participants from high school students who had duties as junior doctors in high school and did not have skills in BT&CLS practice. The total number of schools taken was 60 schools, consisting of 30 private and 30 state high schools.Results: The demonstration model was more effective in small private school doctors. This means that this concept can be easily applied in private schools. The 95% Confidence Interval (CI) for public high schools is -12.3 to 2.24 and for private high schools is -15.64 to 2.77.Conclusion: Little doctors in private schools are more skilled than little doctors in public schools. However, overall using demonstration techniques in minor doctor training can increase students' BT&BLS knowledge.Suggestion: Public schools should provide more training to minor doctors to increase the life expectancy of patients in schools. This can help and save the patient's life. Keywords: Basic Life Support (BT); Cardiac Life Support (CLS); Little Doctor; Workshop. Pendahuluan: Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi masalah gizi ganda (double burden). Masalah gizi merupakan indikator yang mengarah pada penyakit tidak menular yang diawali dengan obesitas, terutama pada usia muda. Masalah obesitas di kalangan remaja mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan temuan prevalensi mencapai 34% dengan kata lain, remaja merupakan kelompok masyarakat yang memiliki risiko terkena penyakit seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan sebagainya. Masalah lain yang harus dihadapi adalah terbatasnya tenaga kesehatan. Dalam mengatasinya, pemerintah membuat program dokter kecil untuk menangani masalah kesehatan di sekolah.Tujuan: Untuk memanfaatkan model demonstrasi yang melibatkan dokter kecil untuk meningkatkan pengetahuan dalam basic life support (BT) dan cardiac life support (CLS).Metode: Studi eksperimen untuk menganalisis efek dari setiap perlakuan menggunakan dua konsep eksperimen yaitu dokter kecil di SMA negeri dengan swasta. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pra dan post-test. Penelitian ini mengambil partisipan dari siswa sekolah menengah atas yang memiliki tugas sebagai dokter junior di sekolah menengah atas dan tidak memiliki keterampilan dalam praktek BT&CLS. Total sekolah yang diambil adalah 60 sekolah, terdiri atas 30 SMA swasta dan 30 negeri.Hasil: Model demonstrasi lebih efektif pada dokter kecil sekolah swasta. Artinya, konsep ini dapat dengan mudah diterapkan di sekolah swasta. Confidence Interval (CI) 95% pada SMA Negeri adalah -12.3 sampai 2.24 dan pada SMA Swasta adalah -15.64 sampai 2.77.Simpulan: Dokter kecil di sekolah swasta lebih terampil daripada dokter kecil di sekolah negeri. Namun secara keseluruhan dengan menggunakan teknik demonstrasi dalam pelatihan dokter kecil dapat meningkatkan pengetahuan BT&BLS para siswa.Saran: Sekolah negeri harus memberikan lebih banyak pelatihan kepada dokter kecil untuk meningkatkan harapan hidup pasien di sekolah. Hal ini dapat membantu dan menyelamatkan nyawa pasien. Kata kunci: Basic Life Support (BT); Cardiac Life Support (CLS); Dokter Kecil; Workshop.
Pengembangan video edukasi tersedak (viedak) untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan penanganan tersedak Sutrisno Sutrisno; Vitri Dyah Herawati; Fajar Alam Putra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 6 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i6.12848

Abstract

Background: Choking is a very dangerous emergency event, this is because within a few minutes a condition will occur where a person can lack oxygen in general so that in just a matter of minutes a person who is choking will lose their breathing reflexes, heart rate, and die permanently from the trunk. brain. Choking is a condition where the respiratory tract is blocked by a foreign object in the form of food, toys, etc. Babies and toddlers are at higher risk of experiencing respiratory emergencies compared to teenagers or adults. Young children often lack coordination, making them vulnerable to choking on food and small objects which can cause the heart and lungs to stop working. Approximately 17,537 children aged 3 years or younger were at risk of choking, of which (59.5%) were food-related (31.4%) were choking on foreign objects and 9.1% had unknown causes.Purpose: To determine the effect of educational choking videos on mothers' knowledge, attitudes and skills in handling choking in toddlers.Method: Quantitative research uses a quasi-experimental design with a one group pre and post test design. This research was conducted to measure practitioners' knowledge, attitudes and skills regarding the management of choking in infants and children before and after intervention. The intervention carried out was in the form of providing education on choking management through the choking educational video method. This research was conducted in June-July 2023. The population in this study were all mothers who had toddlers at the Integrated Health Service Center for toddlers in Betengsari village, Kartasurura, Sukoharjo, with 40 participants with using total sampling.Results: All variables, namely knowledge, attitudes and skills, show that the data is not normally distributed, as evidenced by a significance value of less than 0.05. So it is necessary to carry out the Wilcoxone test to obtain a p-value for the knowledge, attitudes and skills variables of 0.001. The p-value obtained means that learning through choking educational videos influences participants' knowledge, attitudes and skills in dealing with choking in children.Conclusion: Education using choking educational videos has a significant effect on mothers' knowledge, attitudes and skills in handling choking in toddlers as evidenced by the difference in the average score of knowledge, attitudes and skills before and after the intervention. A significant effect was also proven by obtaining a p-value of 0.001. Keywords: Choking; Educational Videos; ToddlersPendahuluan: Tersedak merupakan suatu kejadian darurat yang sangat berbahaya, hal ini disebabkan dalam beberapa menit akan terjadi kondisi dimana seseorang dapat kekurangan oksigen secara general sehingga hanya dalam hitungan menit seseorang yang tersedak akan kehilangan reflek nafas, denyut jantung, dan kematian secara permanen dari batang otak. Tersedak adalah kondisi tersumbatnya saluran pernafasan oleh benda asing berupa makanan, mainan, dan lain-lain Bayi dan balita berisiko lebih tinggi untuk mengalami kedaruratan pernafasan dibandingkan dengan remaja maupun orang dewasa. Anak kecil sering kali kurang koordinasi  sehingga membuat mereka rentan tersedak makanan dan benda kecil yang dapat menyebabkan berhenti kinerja jantung dan paru-paru. Sekitar 17.537 anak-anak berusia 3 tahun atau lebih muda sangat berbahaya karena tersedak, sebesar (59.5%) berhubungan dengan makanan (31.4%) tersedak karena benda asing dan sebesar 9.1% penyebab tidak diketahui.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh video edukasi tersedak (viedak) terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan ibu dalam penanganan tersedak pada balita.Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan quasi-experimental dengan rancangan one group pre and post test design. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur pengetahuan, sikap, dan keterampilan para tentang penatalaksanaan  tersedak pada bayi dan anak sebelum dan setelah intervensi. Intervensi yang dilakukan yakni berupa pemberian edukasi penanganan tersedak melalui metode video edukasi tersedak (viedak). Penelitian ini dilakukan pada bulan juni-juli 2023, Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak balita di posyandu balita desa Betengsari, Kartasurura, Sukoharjo yaitu sejumlah 40 partisipan dengan pengambilan sampel menggunakan total sampling.Hasil: Seluruh variabel yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan menunjukan datanya tidak berdistribusi normal dibuktikan dengan nilai signifikansi yang kurang dari 0.05. Sehingga perlu dilakukan uji  wilcoxon test yang didapatkan p-value variabel pengetahuan, sikap, dan keterampilan bernilai 0.001. P-value yang didapat bermakna bahwa edukasi dengan viedak mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan keterampilan partisipan dalam menangani tersedak pada anak.Simpulan: Edukasi menggunakan video edukasi tersedak berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan ibu dalam penanganan tersedak pada anak balita dibuktikan dengan adanya perbedaan skor rata-rata pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebelum dan sesudah intervensi. Pengaruh yang signifikan juga dibuktikan dengan perolehan p-value 0.001.
Implementasi metode pembelajaran campuran berbasis sistem manajemen pembelajaran pada pelatihan keperawatan: A literature review Azizah, Yuni; Hariyati, Roro Tutik Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 9 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i9.13035

Abstract

Background: Technical competency nursing training is the basis for efforts to develop nurse competency, the implementation of which can be modified using the blended learning method or mixed system. The blended learning system combines face-to-face and online learning both virtual synchronously and virtual asynchronously. In accommodating virtual asynchronous learning, one of the learning technologies that can be used is a Moodle-based Learning Management System (LMS).Purpose: To provide views and descriptions of the use of the Learning Management System in nursing training using the blended learning method, analyzing the effectiveness of use, inhibiting and supporting factors, accuracy of target use, and outcomes resulting from LMS-based learning.Method: This research uses a literature review design, namely collecting and analyzing previous literature or research references that have been selected from various sources to become a conclusion on new ideas or a compilation of new ideas. The literature study selection process is based on Preferred Reporting Items for Systematic Reviews (PRISMA-ScR). The literature used in this study is various articles discussing topics with three categories of keywords, namely learning management system (LMS); blended learning; and nursing training. Search for articles via online databases, including Scopus, ProQuest Clinical Key, Ebscohost, and Pubmed. Based on these keywords, they were input using "and" and "or" which were then filtered to produce specific literature findings by narrowing the year range, namely 2018-2023.Results: Based on a review of 10 articles, the use of LMS produces positive effects in blended learning for teachers, students or participants with good preparation and media. International literature shows that the use of Learning Management Systems (LMS) as a mode of asynchronous learning can accommodate and provide a positive impact in the development of blended learning. In its implementation, blended learning with LMS also influences the success of learning in this electronic evaluation model investigation, namely that it depends on the learning strategies used by the students themselves, the environment where the learning takes place, the teaching design brought by the teacher into the classroom, and student learning behavior.Conclusion: A Moodle-based Learning Management System is an alternative form of developing competency improvement in effective and efficient nursing practice. Support for interactive and creative learning media modifications can increase interest in learning. Keywords: Blended Learning; Learning Management System (LMS); Nursing TrainingPendahuluan: Pelatihan keperawatan teknis kompetensi menjadi dasar upaya pengembangan kompetensi perawat yang mana dalam pelaksanaannya dapat dimodifikasi dengan metode blended learning atau sistem bauran. Sistem pembelajaran blended learning menggabungkan pembelajaran tatap muka dan online baik secara sinkronus maya maupun asinkronus maya. Dalam mengakomodir pembelajaran asinkronus maya salah satu teknologi pembelajaran yang dapat digunakan adalah Learning Management System (LMS) berbasis moodle.Tujuan: Untuk memberikan pandangan dan gambaran terhadap pemanfaatan Learning Management System pada pelatihan keperawatan dengan metode blended learning, menganalisa efektifitas pemanfaatan, faktor-faktor yang menghambat dan mendukung, ketepatan sasaran penggunaan, serta luaran yang dihasilkan dari pembelajaran berbasis LMS.  Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan literature review yaitu melakukan pengumpulan dan menganalisis literatur-literatur atau referensi penelitian terdahulu yang telah dipilih dari berbagai sumber hingga menjadi sebuah kesimpulan gagasan baru atau satu kompilasi ide baru.  Proses pemilihan studi literatur berdasarkan oleh Preferred Reporting Items for Systematic Reviews (PRISMA-ScR). Literatur yang digunakan dalam studi ini adalah berbagai artikel yang membahas topik dengan tiga kategori kata kunci yakni learning management system (LMS); blended learning; dan nursing training. Penelusuran artikel melalui online database antara lain, Scopus, ProQuest Clinical Key, Ebscohost, dan Pubmed. Berdasarkan kata kunci tersebut diinput dengan menggunakan “and” dan “or” yang kemudian dilakukan penapisan untuk menghasilkan temuan literatur yang spesifik dengan mempersempit penetapan rentang tahun yaitu tahun 2018-2023.Hasil: Berdasarkan telaah 10 artikel, pemanfaatan LMS menghasilkan efek yang positif dalam pembelajaran bauran (blended learning) baik bagi pengajar, siswa atau peserta dengan persiapan dan media yang baik. Literatur internasional menunjukkan bahwa pemanfaatan Learning Management System (LMS) sebagai salah satu moda pembelajaran asinkron dapat mengakomodir dan memberikan dampak yang positif dalam pengembangan pembelajaran blended learning. Dalam Pelaksanaannya juga pembelajaran blended learning dengan LMS yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran dalam penyelidikan model evaluasi elektronik ini yaitu bergantung kepada strategi pembelajaran yang digunakan oleh siswa itu sendiri, lingkungan tempat pembelajaran berlangsung, desain pengajaran yang dibawa oleh guru ke dalam kelas, dan perilaku belajar siswa. Simpulan: Learning Management System berbasis moodle menjadi salah satu alternatif bentuk pengembangan peningkatan kompetensi dalam praktik keperawatan yang efektif dan efisien. Dukungan modifikasi media pembelajaran yang interaktif dan kreatif dapat meningkatkan minat pembelajaran. Kata Kunci: Blended Learning; Learning Management System (LMS); Pelatihan Keperawatan.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita Sari, Cucuk Kunang; Sari, Yunita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 8 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i8.12491

Abstract

Background: Stunting is a problem that occurs in children's growth and development due to poor nutrition, recurrent infections, and inadequate psychosocial support. The word stunting is given to children whose height for age is below two standard deviations of the median child's growth. The stunting process can begin when the fetus is in the womb and will become visible when the child enters the second year of age. According to the World Health Organization, the prevalence of stunted toddlers is 22.9% and the nutritional status of under-fives is the cause of 2.2 million of all under-five deaths worldwide. Nearly half the death rate in children under 5 years in Asia and Africa is caused by malnutrition. This causes the deaths of three million children per year. Indonesia is in 17th position out of 117 countries that have nutritional problems among children under five, namely stunting, wasting and being overweight. Based on the results of Basic Health Research in 2018, the prevalence of stunting in toddlers was 30.8% with the very short category 11.5% and the short category 19.3%. Stunting data in 2018 decreased compared to stunting data in 2013 of 37.2%.Purpose: To determine the factors associated with the incidence of stunting.Method: This type of quantitative research uses an analytical survey method with a case control or retrospective study design, namely an analytical study of the effects of disease or case events identified at this time and then risk factors identified as existing or occurring in the past. The research was carried out in the working area of the Jambe Community Health Center, Tangerang Regency in June-August 2022 with the research sample being 68 toddlers taken using a total sampling technique. The inclusion criteria for the case group were toddlers aged 2-5 years who were registered as stunting toddlers, parents were willing to be respondents, could communicate well, and had a cellphone. Meanwhile, the inclusion criteria for the control group were that toddlers aged 2-5 years were registered as normal toddlers, parents were willing to be respondents, could communicate well, and had a cellphone. The exclusion criteria for the case and control groups were toddlers born with LBW and congenital defects.Results: Based on vaccination status, the statistical test with chi-square p-value was 0.473 (>0.05), so it can be concluded that there is no relationship between vaccination status and the incidence of stunting. Statistical test of history of infectious disease with a chi-square p-value of 0.000 (<0.05), meaning that there is a relationship between history of infectious disease and the incidence of stunting. According to the exclusive breastfeeding variable, the resulting chi-square p-value is 0.000 (<0.05), meaning that there is a relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting. Apart from that, there is a relationship between parental height, maternal knowledge, and parental parenting patterns on the incidence of stunting.Conclusion: Based on seven variables, namely, gender, vaccination status, history of infectious diseases, exclusive breastfeeding, parents' height, mother's knowledge, and parenting patterns, only the vaccination status variable has no relationship to the incidence of stunting. In fact, whether toddlers are fully vaccinated or not, they are equally at risk of contracting infectious diseases if they are not balanced with good eating habits.Keywords: Exclusive Breastfeeding; Parenting; Stunting; Vaccination.Pendahuluan: Stunting merupakan permasalahan yang terjadi pada tumbuh dan kembang anak dikarenakan mengalami gizi buruk, adanya infeksi yang berulang, dan dorongan psikososial yang kurang memadai. Kata stunting diberikan pada anak yang tinggi badannya sesuai usia berada dibawah nilai dua standar deviasi median pertumbuhan anak. Proses stunting dapat dimulai saat janin dalam kandungan dan akan terlihat ketika anak memasuki usia di tahun kedua. Menurut World Health Organization, prevalensi balita stunting sebesar 22.9% dan keadaan gizi balita pendek menjadi penyebab 2.2 juta dari seluruh penyebab kematian balita di seluruh dunia. Hampir setengah tingkat kematian pada anak-anak di bawah 5 tahun di Asia dan Afrika disebabkan oleh kekurangan gizi. Hal ini menyebabkan kematian tiga juta anak per tahun. Indonesia berada dalam posisi 17 negara dari 117 negara yang memiliki permasalahan gizi pada balita yaitu stunting, wasting, dan kelebihan berat badan. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018, prevalensi stunting pada balita sebesar 30.8% dengan kategori sangat pendek 11.5% dan kategori pendek 19.3%. Data stunting tahun 2018 tersebut sudah terjadi penurunan dibandingkan data stunting tahun 2013 sebesar 37.2%.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting.Metode: Jenis penelitian kuantitatif menggunakan metode survey analytic dengan desain atau rancangan case control atau retrospective study yaitu suatu penelitian analytic efek penyakit atau kejadian kasus diidentifikasi saat ini kemudian faktor risiko diidentifikasi ada atau terjadi pada waktu yang lalu. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Jambe Kabupaten Tangerang pada bulan Juni-Agustus tahun 2022 dengan sampel penelitian adalah 68 balita diambil dengan teknik total sampling. Kriteria inklusi pada kelompok kasus yaitu balita usia 2-5 tahun tercatat sebagai balita stunting, orangtua bersedia menjadi responden, dapat berkomunikasi dengan baik, dan memiliki handphone. Sedangkan kriteria inklusi kelompok kontrol yaitu balita usia 2-5 tahun tercatat sebagai balita normal, orangtua bersedia menjadi responden, dapat berkomunikasi dengan baik, dan memiliki handphone. Kriteria eksklusi kelompok kasus maupun kontrol adalah balita yang lahir dengan BBLR dan cacat bawaan.Hasil: Berdasarkan status vaksinasi, uji statistik dengan chi-square nilai p-value sebesar 0.473 (>0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan status vaksinasi dengan kejadian stunting. Uji statistik riwayat penyakit infeksi dengan chi-square nilai p-value yang dihasilkan sebesar 0.000 (<0.05), artinya ada hubungan riwayat penyakit infeksi terhadap kejadian stunting.  Menurut variabel ASI eksklusif dengan chi-square p-value yang dihasilkan sebesar 0.000 (<0.05), artinya ada hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Selain itu, ada hubungan tinggi badan orang tua, pengetahuan ibu, dan pola asuh orangtua terhadap kejadian stunting.Simpulan: Berdasarkan tujuh variabel yakni, jenis kelamin, status vaksinasi, riwayat penyakit infeksi, pemberian ASI eksklusif, tinggi badan orangtua, pengetahuan ibu, dan pola asuh pemberi makanan hanya variabel status vaksinasi yang tidak memiliki hubungan terhadap kejadian stunting. Sebenarnya baik balita yang divaksinasi lengkap maupun tidak, sama-sama beresiko terkena penyakit infeksi jika tidak diimbangi dengan pola asuh makan yang baik.
Pemberian sari kacang hijau (vigna radiata) terhadap kadar hemoglobin dalam upaya pencegahan anemia pada remaja putri Santoso, Mochamad Budi; Supriadi, Dedi; Puspitasari, Devi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 10 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i10.12931

Abstract

Background: Teenagers are the next generation of the nation who are able to develop better than the previous generation with an intelligent mentality and mindset, so that they can develop into good individuals. A health problem that often occurs in young women is anemia. The prevalence of anemia in Indonesia is 32% at the age of 15-24 years, while the prevalence of anemia in adolescents in Cimahi City is 37.99%. Efforts to overcome anemia are by consuming blood supplement tablets. Apart from that, increase foods that contain high iron from animal or vegetable sources. One type of food that contains high iron from vegetable elements is green beans because they contain ingredients that can help the formation of red blood cells.Purpose: To determine the effect of giving green bean juice (vigna radiata) on hemoglobin levels in adolescent girls.Method: Quasi-experimental design research with a non-equivalent control group design. The research was carried out on 23-26 May 2023. The population in this study was teenage girls in class X of SMAN 6 Cimahi, totaling 255 students. The sampling technique used was purposive sampling technique so that the sample in this study was 24 people who were divided into two, namely the intervention and control groups. The statistical test in this study used the Independent T-test.Results: Statistical tests using the Independent T-test resulted in p value = 0.001 (p<0.05), meaning that Ha accepted there was a difference in hemoglobin levels in the intervention group and the control group. These results indicate that there is an effect of giving green bean juice (vigna radiata) on hemoglobin levels in adolescent girlsConclusion: There is an effect of giving green bean juice (vigna radiata) on hemoglobin levels in adolescent girls.Suggestion: Young women must pay attention to their lifestyle, such as consuming foods that contain iron and avoiding foods that contain iron inhibitors such as tea, coffee and chocolate. Keywords: Green Bean Juice; Hemoglobin Levels; Teenage Girl. Pendahuluan: Remaja adalah generasi penerus bangsa yang mampu berkembang lebih baik dari generasi sebelumnya dengan mental dan pola pikir yang cerdas, sehingga dapat berkembang menjadi individu yang baik. Masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja putri yaitu anemia. Prevalensi anemia di Indonesia yaitu 32% pada usia 15-24 tahun sedangkan prevalensi anemia remaja di Kota Cimahi yaitu 37.99%. Upaya untuk mengatasi anemia yaitu dengan mengkonsumsi tablet tambah darah. Selain itu, menaikkan makanan yang mengandung zat besi tinggi dari sumber hewani ataupun sumber nabati. Salah satu jenis makanan yang mengandung zat besi tinggi dari unsur nabati yaitu kacang hijau karena mempunyai kandungan yang bisa membantu pembentukan sel darah merah.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian sari kacang hijau (vigna radiata) terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri.Metode: Penelitian desain quasi eksperimen dengan rancangan non-equivalent control group. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 23-26 Mei 2023. Populasi pada penelitian ini merupakan remaja putri kelas X SMAN 6 Cimahi yang berjumlah 255 siswa. Teknik sampel yang digunakan yaitu teknik purposive sampling sehingga sampel dalam penelitian ini sebanyak 24 orang yang terbagi menjadi dua, yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Uji statistik pada penelitian ini menggunakan uji T-Independen.Hasil: Uji statistik dengan menggunakan uji T-Independen diperoleh hasil p value = 0.001 (p<0.05) artinya Ha diterima terdapat perbedaan kadar hemoglobin pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil ini menyebutkan bahwa terdapat pengaruh pemberian sari kacang hijau (vigna radiata) terhadap kadar hemoglobin pada remaja putriSimpulan: Terdapat pengaruh pemberian sari kacang hijau (vigna radiata) terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri.Saran: Bagi remaja putri harus memperhatikan pola hidup, seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan menghindari makanan yang memiliki kandungan penghambat zat besi seperti, teh, kopi, dan coklat. Kata Kunci: Kadar Hemoglobin; Remaja Putri; Sari Kacang Hijau.
Efektifitas perawat navigator berbasis telenursing dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pada pasien kanker paru: A literatur review Ngolu Kasihan Siregar; Sigit Mulyono
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 7 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i7.12872

Abstract

Background: Cancer treatment and care require oncology nurse navigators who serve as the primary point of contact for patients and families when undergoing oncology treatment and life after cancer treatment. Tele-nursing-based oncology nurse services are important to facilitate smooth diagnosis, treatment, survival, and end-of-life care to improve cancer patient services.Purpose: To provide an overview and insights from the literature review on the effectiveness of technology-based nurse navigation in improving healthcare services for lung cancer patients.Method: The form of a literatur review. database searches are carried out through ProQuest, Scopus dan Science Direct articles, between 2018-2023 and to obtain 14 suitable articles.Results: Based on the review of 10 selected articles, it can be result that the effectiveness of healthcare services is closely related to the navigator who serves as a long-term link between patients and the healthcare system.Conclusion: the nurse navigation model helps patients facing difficulties in the patient care system with multi morbidity and elderly patients.Keywords: Healthcare Improvement; Lung Cancer; Nurse Navigator; Telenursing.Pendahuluan: Pengobatan dan perawatan kanker membutuhkan perawat navigator (oncology Nurse Navigator) yang menjadi kontak terpenting bagi pasien dan keluarga ketika menjalani perawatan onkologi dan kehidupan setelah pengobatan kanker. Layanan perawat onkologi berbasis telenursing penting untuk memfasilitasi kelancaran diagnosis, pengobatan, kelangsungan hidup dan perawatan akhir hayat untuk meningkatkan pelayanan penderita kanker.Tujuan: Memberikan gambaran dan gagasan dari hasil literature review tentang efektivitas perawat navigator pasien kanker paru berbasis teknologi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data tinjauan literature-review. Penelusuran jurnal melalui online database diantaranya ProQuest, Scopus dan Science Direct tahun 2018-2023 didapatkan 14 artikel yang sesuai.Hasil: Dari hasil telaah 10 artikel pilihan, didapatkan hasil bahwa Efektifitas pelayanan kesehatan mempunyai hubungan yang erat dengan Navigator yang berfungsi sebagai penghubung jangka panjang antar pasien dan system pelayanan kesehatan. Simpulan: Model navigasi perawat membantu pasien yang mengalami kesulitan dalam system perawatan pasien dengan multi morbiditas dan pasien lansia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan vaksinasi dasar pada balita usia 9-24 bulan Samino, Samino; Rahmandini, Hafizhah Harjiati; Lukman, Iing; Amirus, Khoidar; Riyanti, Riyanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 9 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i9.13984

Abstract

Background: Basic vaccination is the first type of vaccination that must be given to babies from birth to protect their bodies from certain diseases. The vaccination program is part of an effort to reduce morbidity, morbidity and mortality in infants and toddlers. In 2019-2020, basic vaccination achieved 95% according to the target, and from mid-2020 to the end of 2021 it was only 76% and in 2022 there will be an increase of around 85%.Purpose: To determine the determinants of the completeness of basic vaccinations for toddlers aged 9-24 months at the UPTD of the Capable Poned Inpatient Health Center in Tulang Bawang Barat in 2023.Method: Quantitative analytical research with a cross-sectional design. The technique for taking the sample size was purposive sampling, and those who met the inclusion criteria were 108 people. Data analysis used the chi square test and multivariate analysis used multiple logistic regression.Results: Analysis shows that mothers have low education (51.9%), receive family support (54.6%), access to affordable vaccination services (75.9%), receive support from the role of health workers (63.9%). There is a significant relationship between education level (p–value=0.026), family support (p–value=0.000), accessibility of vaccination services (p–value= 0.000), support from the role of health workers (p–value=0.000) and completeness of vaccination base. Multivariate analysis of family support is the dominant variable in the completeness of basic vaccinations in children compared to the role of health workers and access to health services (p-value=0.000).Conclusion: The most dominant influencing factor on the completeness of basic vaccination is the family support factor compared to the mother's education factor, service access factor, and the support factor of the role of health workers.Suggestion: There is a need to increase outreach and education about the importance of basic vaccinations for the health and immunity of babies to avoid dangerous diseases, to increase knowledge among the public, especially mothers and their families, so they can understand the purpose and benefits of vaccination for the health of their toddlers. Keywords: Children; Vaccinations; Toddlers. Pendahuluan: Vaksinasi dasar merupakan jenis vaksinasi pertama yangg harus diberikan pada bayi sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari penyakit tertentu. Program vaksinasi termasuk dalam upaya untuk menurunkan angka kesakitan, kecatatan dan kematian pada bayi dan balita. Pada tahun 2019-2020 awal pencapaian vaksinasi dasar 95% sesuai target, dan pertengahan tahun 2020 sampai akhir tahun 2021 menjadi hanya 76% dan pada tahun 2022 mengalami kenaikan sekitar 85%.Tujuan: Untuk mengetahui determinan kelengkapan vaksinasi dasar pada balita usia 9-24 bulan di UPTD Puskesmas Rawat Inap Mampu Poned Dayamurni Tulang Bawang Barat tahun 2023.Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan rancangan Cross-Sectional. Teknik pengambilan jumlah sampel purposive  sampling, dan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 108 orang. Analisa data menggunakan uji chi square dan analisa multivariat menggunakan regressi logistic ganda.Hasil: Analisis diperoleh bahwa ibu berpendidikan rendah (51.9%), mendapat dukungan keluarga (54.6%), aksesibilitas pelayanan vaksinasi yang terjangkau (75.9%), mendapatkan dukungan peran petugas kesehatan (63.9%). Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (p–value=0.026), dukungan keluarga (p–value=0.000), Aksesibilitas Pelayanan Vaksinasi (p–value= 0,000),dukungan peran petugas kesehatan(p–value=0,000) dengan kelengkapan vaksinasi dasar. Analisa multivariate dukungan keluarga merupakan variabel dominan terhadap kelengkapan vaksinasi dasar pada anak dibandingkan dengan peran petugas kesehatan dan akses pelayanan kesehatan ( p–value=0.000).Simpulan: Faktor berpengaruh yang paling dominan terhadap kelengkapan vaksinasi dasar adalah faktor dukungan keluarga dibandingkan dengan faktor pendidikan ibu, faktor akses pelayanan, dan faktor dukungan peran petugas kesehatan.Saran: Perlu ditingkatkan lagi penyuluhan dan edukasi tentang pentingnya vaksinasi dasar untuk kesehatan dan kekebalan tubuh bayi agar terhindar dari penyakit berbahaya, untuk meningkatkan pengetahuan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu dan keluarganya sehingga bisa mengerti apa tujuan dan manfaat dari vaksinasi untuk kesehatan balitanya. Kata Kunci: Anak-anak; Balita; Vaksinasi Dasar.