cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bionatura
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Cikal bakal jurnal ilmiah di Unpad adalah Majalah Unpad. Majalah Unpad pada tahun 1999 dipecah menjadi dua berdasarkan bidangnya yaitu eksak dan sosial. Untuk bidang eksak diterbitkan Jurnal Bionatura sedangkan untuk bidang sosial diterbitkan Jurnal Sosiohumaniora.
Arjuna Subject : -
Articles 260 Documents
PENGENDALIAN BIOLOGI NEMATODA Meloidogyne spp. DENGAN JAMUR Paecilomyces fumosoroseus DAN BAKTERI Pasteuria penetrans SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) Toto Sunarto -; Luciana Djaja -; Rika Meliansyah -
Bionatura Vol 11, No 1 (2009): Bionatura Maret 2009
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.229 KB)

Abstract

Produksi buncis di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini diakibatkan oleh serangan nematoda bengkak akar (Meloidogyne spp.). Usaha pengendalian Meloidogyne spp. dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan pemanfaatan musuh alami Meloidogyne spp. yaitu Paecilomyces fumosoroseus dan Pasteuria penetrans. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh efektifitas P. fumosoroseus, dan P. penetrans, atau campuran keduanya terhadap indeks gall akar, jumlah telur, berat segar bagian atas tanaman, jumlah larva II Meloidogyne spp. dalam 100 ml tanah, dan hasil tanaman buncis. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok, terdiri atas 8 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut adalah tanaman buncis diinokulasi dengan: 1). Meloidogyne spp. + P. fumosoroseus, 2). Meloidogyne spp. + Pasteuria penetrans, 3). Meloidogyne spp. + P. fumosoroseus + P. penetrans, 4). Hanya Meloidogyne spp., 5). Hanya P. fumosoroseus, 6). Hanya P. penetrans, 7). P. fumosoroseus + P. penetrans. 8). Kontrol tanpa perlakuan. Data hasil percobaan dianalisis dengan menggunakan analisis ragam. Hasil percobaan menunjukkan, bahwa perlakuan yang mengandung Meloidogyne spp. dan P. fumosoroseus, atau Meloidogyne spp. dan P. penetrans, atau Meloidogyne spp. ditambah P. fumosoroseus dan P. penetrans mampu menurunkan indeks gall akar, jumlah telur, mampu meningkatkan berat segar bagian atas tanaman, menurunkan jumlah larva II Meloidogyne spp. dalam 100 ml tanah, dan meningkatkan hasil tanaman buncis. P. fumosoroseus dan P. penetrans yang diaplikasikan bersama mampu menurunkan jumlah telur, dan jumlah larva II Meloidogyne spp. dalam 100 ml tanah, dan hasil buncis lebih tinggi dibandingkan jika diaplikasikan secara sendiri-sendiri.Kata kunci : Pengendalian secara biologi, Meloidogyne spp., Paecilomyces fumosoroseus, Pasteuria penetrans, buncis
ZAT PENGHAMBAT PERTUMBUHAN, METIL FEOFORBIDA B DARI BIJI PETIR (Parkia intermedia Hassk) Ace Tatang Hidayat; Unang Supratman; Supriyatna, -; Ponis Tarigan
Bionatura Vol 5, No 2 (2003): Bionatura Juli 2003
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.535 KB)

Abstract

Dalam penelitian berkelanjutan terhadap kandungan zat pengatur tumbuh barudari tumbuhan Indonesia, di peroleh hasil bahwa ekstrak metanol dari biji mudatanaman petir (Parkia intermedia Hassk) suku Leguminosae memiliki aktivitaspengatur tumbuh yang signifikan terhadap bioindikator padi (Oryza sativa)kultivar Conde. Pemisahan ekstrak metanol dilakukan melalui partisi pelarutorganik dilanjutkan dengan kombinasi kolom kromatografi pada silika gel GF254menghasilkan suatu senyawa yang beraktivitas penghambat pertumbuhanterhadap bioindikator padi (Oryza sativa). Struktur kimia zat penghambatpertumbuhan diidentifikasi dengan metode spektroskopi dan di identifikasisebagai suatu metil feoforbida B. Metil feoforbida B menunjukkan aktivitaspenghambat pertumbuhan pada konsentrasi 0,1 bpj terhadap bioindikator padi.
IKAN KAWASAN MANGROVE PADA BEBERAPA SUNGAI DI SEKITAR TAMAN NASIONAL UJUNG KULON, PANDEGLANG: TINJAUAN MUSIM HUJAN Gema Wahyudewantoro -
Bionatura Vol 13, No 3 (2011): Bionatura Nopember 2011
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.199 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian di perairan mangrove pada beberapa sungai di TNUK, Pandeglang-Banten. Penelitian ini bertujuan mengungkap jenis-jenis ikan mangrove pada musim penghujan. Ikan dikoleksi dengan jala (mata jaring 1,5 dan 2,5 cm), jaring insang (diameter 1 cm) dan serokan ikan. Hasil yang diperoleh 32 jenis ikan yang tergolong ke dalam 27 marga dan 20 suku. Sungai Citamanjaya memiliki keanekaragaman tertinggi H = 1,999, d = 2,543 dan E = 0,834.Kata kunci : Taman Nasional Ujung Kulon, Ikan, Mangrove, S. Citamanjaya
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN POLA AKTIVITAS FISIS DENGAN OBESITAS PADA ANAK Suzy Irawati Sjahid; Dida A. Gurnida; Nia Kurnia
Bionatura Vol 3, No 2 (2001): Bionatura Juli 2001
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.704 KB)

Abstract

Perubahan gaya hidup yang juga berpengaruh terhadap perubahan polakonsumsi pangan dan pola aktivitas fisis menyebabkan prevalensi obesitas padaanak di Indonesia cenderung meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untukmenyelidiki hubungan antara pola makan dan pola aktivitas fisis denganterjadinya obesitas primer pada anak. Penelitian dilakukan pada 122 anak berusia4-12 tahun di Kota Bandung antara bulan Mei dan Juli 2000. Status obesitasditentukan berdasarkan klasifikasi indeks massa tubuh (IMT) dan berat badanterhadap tinggi badan (BBTB). Kepada 122 subjek ini dilakukan wawancara polamakan menurut pola kebiasaan (PK) dan rekaman diet 24 jam (RD) yang meliputiambilan kalori, makronutrien, dan mikronutrien yang dinyatakan dalam persenterhadap angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (KGA) untuk anak, jugawawancara skor aktivitas fisis (SAF) dan rekaman aktivitas fisis harian yangdinyatakn dalam keluaran energi (KE). Hasil penelitian menunjukkan bahwajumlah anak obes adalah sebanyak 81 orang dan non obes 41 orang berdasarkanklasifikasi IMT, sedangkan berdasarkan BB-TB didapatkan anak obes sebanyak 47orang dan non obes 75 orang. Ambilan kalori anak obes lebih besar dari anak nonobes dengan perbedaan sangat bermakna berdasarkan RD baik padapengklasifikasian status obesitas menurut IMT (p=0,0,026) dan BB-TB(p=0,0001). Ambilan makronutrien berdasarkan wawancara PK/RD antara anaknon obes dan obes menurut IMT/BB-TB tidak menunjukkan perbedaan bermakna,baik dalam ambilan karbohidrat, lemak, maupun protein (p.0,05). Hasil ANOVAmenunjukkan bahwa berdasarkan PK dan derajat obesitas IMT, lemak merupakanmakronutrien yang paling berperan (F=3,392; p=0,006) tetapi berdasarkan BBTB,kalori lebih berperan (F=2,557; p=0,042). Berdasarkan RD pada statusobesitas IMT maupun BB-TB, ambilan karbohidrat yang paling erat hubungannyadengan derajat obesitas (F=7,909; p=0,007 dan F=6,928; p=0.010). Ambilanmikronutrien tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara anak non obes danobes (p>0,05), kecuali untuk masukan kalsium berdasarkan PK dan statusobesitas berdasarkan BB-TB (p=0,043). Hasil uji t terhadap aktivitas fisismenunjukkan bahwa anak non obes memiliki SAF lebih tinggi daripada anak obes(p=0,000), dan dengan korelasi Pearson, SAF berkorelasi negatif negatif secarabermakna dengan IMT (r=-0,615; p=0,000). Sementara itu selisih ambil kalori(PK/RD) dan keluaran energi (KE) anak non obes lebih besar daripada anak obespada klasifikasi status obesitas menurut IMT [p=0,001 (PK) dan p=0.0068 (RD)].Pola makan dengan ambilan kalori berlebih dan aktivitas fisis rendahberhubungan dengan terjadinya obesitas pada anak, sedangkan derajat obesitaslebih dipengaruhi oleh ambilan nutrien lemak dan karbohidrat.Kata kunci: Pola makan, pola Aktivitas, obesitas pada anak.
SIFAT-SIFAT KUANTITATIF SUMBER DAYA GENETIK DOMBA GARUT JANTAN TIPE TANGKAS DI JAWA BARAT Heriyadi, D -; Sarwesti, A -; Nurachma, S. -
Bionatura Vol 14, No 2 (2012): Bionatura Juli 2012
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.87 KB)

Abstract

Penelitian mengenai Sifat-sifat Kuantitatif Sumber Daya Genetik Domba Garut Jantan Tipe Tangkas, telah dilaksanakan selama tiga bulan di tujuh kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sukabumi, Bogor, dan Purwakarta. Tujuan penelitian adalah untuk memperolehdeskripsi sifat-sifat kuantitatif Domba Garut jantan yang meliputi bobot badan, lingkar dada, dan panjang badan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analitik, jumlah domba yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah 244 ekor, data yang telah terkumpul selanjutnyadiolah dengan bantuan komputer menggunakan Program Microsoft Excell. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat kuantitatif Domba Garut jantan di Jawa Barat adalah sebagai berikut : rata-rata bobot badan adalah sebesar 57,74 kg, panjang badan 63,41 SD 5,72cm, dan lingkar dada sebesar 88,73 SD 7,58 cm.Kata kunci: Domba garut, bobot badan, panjang badan, dan lingkar dada.
PENGARUH MODIFIKASI KRISTAL KALSIUM ATORVASTATIN TERHADAP LAJU DISOLUSI Gozali, D -; Putra, A.F.C -; Sopyan, I -
Bionatura Vol 16, No 2 (2014): Bionatura Juli 2014
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.361 KB)

Abstract

Kalsium atorvastatin merupakan salah satu obatanti-kolesterol yang memiliki bentuk kristal yangbanyak dan kelarutan yang kurang baik, denganbioavailabilitas yang hanya mendekati 14%. Penelitianmengenai pengaruh perubahan bentuk kristal kalsiumatorvastatin terhadap profil disolusi bertujuan untukmengetahui terbentuk atau tidaknya kristal kalsiumatorvastatin bentuk lain setelah proses modifikasidan perbandingan profil disolusi berdasarkan hasiluji disolusi terbanding. Metode penelitian meliputimodifikasi kristal mengacu kepada jurnal EuropeanPatent dengan modifikasi pada suhu pemanasandan pendinginan, karakterisasi produk kristal yangterbentuk dengan menggunakan difraksi sinar xdan spektrofotometer infra merah, juga uji disolusiterbanding. Metode modifikasi kristal menghasilkankristal baru bentuk V. Hasil modifikasi kristal kalsiumatorvastatin menunjukkan kristal A adalah kalsiumatorvastatin tanpa modifikasi, kristal B dan C adalahkalsium atorvastatin modifikasi dengan pelarut etanoldan metanol. Hasil uji disolusi terbanding diperolehbahwa kristal B dan C melarut 16% dan 6,3% lebihbanyak dari kristal A pada 45 menit pada dapar fosfatpH 6,8, kristal B dan C melarut 14,55% dan 23,65%lebih banyak dari kristal A pada 45 menit pada daparasetat pH 4,5 kristal B dan C melarut 4,97% dan7,545% lebih banyak dari kristal A pada 45 menit padadapar asam klorida pH 1,2.Kata Kunci: Kalsium atorvastatin, difraksi sinar-x,disolusi, kristal, polimorfisme.
SINTESA, KARAKTERISASI DAN FABRIKASI MATERIAL BERPORI UNTUK APLIKASI PELET APUNG (FLOATING FEED) Bambang Sunendar Purwasasmita; Roland P.H. -
Bionatura Vol 10, No 1 (2008): Bionatura Maret 2008
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan material berpori untuk pelet apung (floating feed) telah berhasil dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat produk pakan ikan yang mampu mengapung di air dengan memodifikasi struktur pori dari materialnya. Parameter uji yang dibandingkan meliputi densitas, absorpsi air, porositas, dan waktu apung (floating time). Bahan baku yang digunakan adalah bahan baku polimer organik alam yang didapatkan dari bahan lokal yang banyak dikonsumsi masyarakat umum. Formulasi komposisi sampel dilakukan dengan metoda square. Pemasakan dilakukan dalam steam chamber mixer pada temperatur berkisar dari 70–95oC selama 20-30 menit, dilanjutkan dengan pembuatan pelet menggunakan extruder dengan dies berdiameter 4 mm untuk kompaksi. Hasil pengujian menunjukkan nilai waktu apung rata-rata dari semua variasi sampel sebesar 66 menit dan nilai waktu apung tertinggi mencapai 246 menit (4 jam) dengan rapat massa rata-rata 0,79 gr/cm3 dan tingkat porositas 66,7%. Nilai absorpsi air yang merupakan manifestasi karakteristik fisik swelling partikel mencapai 76,4%. Unsur pati (starch) pada kedua polimer organik yang digunakan merupakan unsur terpenting dalam keberhasilan proses gelatinisasi untuk mendapatkan kualitas produk pakan disamping temperatur uap, kandungan air dan waktu pemasakan. Rasio antara rantai polimer amilose dan amilopektin yang terdapat dalam granul pati akan menentukan modifikasi struktur pori yang dihasilkan.Kata kunci : Pelet apung, gelatinisasi, pati, porositas
MAPPING CONSTRUCTION OF SOIL VARIABILITY WITHIN THE LANDSCAPE M. Edi Armanto
Bionatura Vol 4, No 3 (2002): Bionatura Nopember 2002
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.697 KB)

Abstract

The research aimed to construct mapping soil variability within the landscape.The research was located in Central Lampung (308 ha). The survey type wasdetailed using topographic maps (scales of 1:5,000) and the aerial photointerpretations. The soil samples were performed by soil pits and borings forwhole survey area (1 composite sample/ha), classified and analyzed. Thebalancing methods used transect diagrams, delineated soil bodies and area pointstatistics. The research resulted that the aerial photo interpretation was a veryuseful method to delineate soil units on the map. A combination of aerialimagery, topographical maps and field observations provide the most effectiveapproach for soil mapping in complex landscapes with simple soil patterns.Although the soil sampling was carried out relatively systematic according torelief form and the driving lanes of tractors, there was some agreement betweenpoint statistics and map data. The difference between both methods wasmaximally 3 %. The result combination from both methods shows that 60 % ofthe landscape was classified as eroded, 35 % as normal and 5 % as colluviated.There was no balance of erosion and onsite sedimentation.Keywords : Construction, landscape, mapping, soil variability
TOTAL KARBOHIDRAT NONSTRUKTURAL PADA PANGKAL BATANG DAN AKAR TANAMAN RUMPUT GAJAH Budiman -; Soetrisno, R.D. -; Budhi, S.P.S -; Indrianto, A. -
Bionatura Vol 13, No 2 (2011): Bionatura Juli 2011
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pertumbuhan dan regrowth terhadap total nonstructural carbohydrates (TNC) yang terakumulasi dalam pangkal batang dan akar rumput gajah. Penelitian ini menggunakan rancangan tersarang dimana faktor regrowth (R) tersarang pada faktor tingkat pertumbuhan (P). Faktor tingkat pertumbuhan terdiri atas tingkat vegetatif (P1) dan tingkat reproduktif (P2). Faktor regrowth terdiri atas R0 (regrowth 0 hari), R4 (regrowth 4 hari), R8 (regrowth 8 hari) dan R12 (regrowth 12 hari). Peubah yang diamati adalah produksi bahan kering (BK) dan TNC yang terakumulasi dalam pangkal batang dan akar rumput gajah. Data dianalisis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan, produksi BK dan TNC yang terakumulasi pada pangkal batang dan akar pada tingkat pertumbuhan reproduktif sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dibanding dengan tingkat pertumbuhan vegetatif. Produksi BK dan TNC yang terakumulasi dalam pangkal batang dan akar pada tingkat pertumbuhan vegetatif dan reproduktif masing-masing pada regrowth R0, menurun tidak nyata pada R4 dan nyata pada R8, kemudian meningkat tidak nyata pada R12. Disimpulkan, bahwa ada perbedaan produksi BK dan TNC yang terakumulasi pada tingkat vegatatif dan reproduktif dalam pangkal batang dan akar rumput gajah. Produksi BK dan TNC yang terakumulasi dalam pangkal batang dan akar lebih tinggi pada tingkat reproduktif dibanding dengan tingkat vegetatif. Produksi BK dan TNC yang terakumulasi dalam pangkal batang dan akar menurun pada hari ke 0 hingga hari kedelapan, kemudian meningkat pada hari kedua belas untuk tingkat pertumbuhan vegetatif dan reproduktif.Kata kunci: Akumulasi, regrowth, rumput gajah, TNC
PENGARUH TINGKAT METIONIN DALAM RANSUM TERHADAP PRESTASI AYAM BROILER UMUR 3 – 6 MINGGU Datta H. Wiradisastra
Bionatura Vol 3, No 1 (2001): Bionatura Maret 2001
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian telah dilakukan di Laboratorium Nutrisi Unggas Fakultas PeternakanUniversitas Padjadjaran Jatinangor, untuk mengevaluasi pengaruh tingkatmetionin dalam ransum terhadap prestasi (konsumsi ransum, pertambahan beratbadan dan konversi pakan) pada ayam broiler berumur dari 3 sampai 6 minggu.Ayam yang digunakan 20 ekor strain Arbor Acres ( CP 707 ) umur 3 minggu,yang ditempatkan ke dalam 20 petak kandang individual secara acak. Rancanganacak lengkap digunakan dengan 4 pelakuan dan 5 ulangan. Sebagai pelakuanadalah ransum yang mengandung 0,312 %; 0,352%; 0,392% dan 0,432%metionin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat merionin dalam ransumsebanyak 0,392 dan 0,432 % sangat nyata ( P < 0.01 ) meningkatkanpertambahan berat badan dan menurunkan konversi pakan, tetapi konsumsiransumnya tidak berbeda nyata pada ayam broiler daripada tingkat metionindalam ransum sebanyak 0,312 dan 0,352 %.Kata Kunci: Broiler, metionin, prestasi, umur.