cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
METODE ANALISIS KADAR VITAMIN C NOVALISHA A/P TECHINAMUTI; Rimadani Pratiwi
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.409 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17547

Abstract

ABSTRAKVitamin C merupakan vitamin larut dalam air dan sering digunakan sebagai suplemen. Fungsi vitamin C bisa meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan sebagai antioksidan yang menetralkan radikal bebas didalam darah maupun cairan.Analisis vitamin C dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya vitamin C dalam sampel sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui kadar vitamin C dalam sampel. Artikel review ini akan mengulas mengenai analisis kualitatif dan kuantitatif vitamin C. Analisi kualitatif yang diuraikan adalah dengan menggunakan pereaksi benedict dan analisis kuantitatif yang diuraikan meliputititrasi asam basa, iodimetri, penggunaan diklorofenolindofenol (DCIP), spektrofotometri, dan metode DPPH.Kata kunci : Vitamin C, Analisis kualitatif, Analisis kuantitatif ABSTRACTVitamin C is a water-solublevitamin and is often used as a supplement. The function of vitamin C can increase the body's resistance to disease and as an antioxidant that neutralizes free radicals in the blood and fluids. Vitamin C can be analyzed qualitatively and quantitatively. Qualitative analysis was conducted to determine the presence or absence of vitamin C in the sample while quantitative analysis was done to determine the levels of vitamin C in the sample. This review article will cover the qualitative and quantitative analysis of vitamin C. The qualitative analyzes can be performed using benedict reagents and quantitative analysis including acid-basetitration, iodimetricmethod, dichlorophenolindophenol (DCIP) method, spectrophotometric method, and DPPH method.Keywords, Vitamin C, Qualitative analysis, Quantitative analysis
MEDIA YANG DIGUNAKAN PADA KULTUR SEL Hasna Nur Syahidah; Yuni Elsa Hadisaputri
Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.547 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i3.10615

Abstract

Kultur sel adalah suatu proses menumbuhkan suatu sel atau jaringan pada keadaan yang terkontrol. Perkembangan dalam teknologi kultur sel berkembang pesat seiring berkembangnya dalam pembuatan media yang merupakan komponen penting dalam kultur sel. Sel-sel tersebut adalah sel line CCA HuCCT-1, sel HaCat, sel line Hep-2, sel HepG2/C3A, sel line epitel, sel karsinoma hepatoselular manusia, HepG2 , dan sel epitel alveolar manusia tipe II, dua model sel ER+/Her2+, BT474 dan MDA-MB361, sel line MH-S makrofag murin alveolar, sel MRC-5(fibroblast paru-paru), sel HCC ( sel adenokarsinoma paru-paru), makrofag , tiga sel line kanker pancreas (HPAF-II, HPAC, dan PL45),  makrofag murin, mikroglia primer, dan sel B92. Dengan media yang digunakan diantaranya adalah EMEM (Eagle’s Minimum Essential Medium), DMEM (Dulbecco’s Modified Eagle’s Medium), RPMI-1640 (Roswell Park Memorial Institute), DMEM/F12, dan Ham’s F12-K Medium. Dengan adanya penambahan antibiotik/antimikotik untuk mencegah kontaminasi, asam amino dan serum.
Review: Virtual Screening dan Kokristalisasi Glibenklamid dalam Meningkatkan Sifat Kelarutan dan Laju Disolusi Putri Raraswati; Iyan Sopyan
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1907 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.23143

Abstract

ABSTRAKGlibenklamid adalah senyawa antidiabetik oral yang tergolong kedalam Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II yakni memiliki sifat permeabilitas tinggi dengan kelarutan rendah sehingga perlu dilakukan suatu modifikasi terhadap sifat kelarutannya. Sifat kelarutan dan laju disolusi suatu senyawa dapat ditingkatkan dengan berbagai macam metode diantaranya yang paling sederhana adalah metode kokristalisasi. Metodologi review jurnal ini dilakukan dengan cara penelusuran studi pustaka berupa jurnal penelitian kurang dari 10 tahun yang berhubungan dengan kokristal, metode kokristalisasi, uji kelarutan dan uji disolusi pada kokristal glibenklamid. Sehingga dalam review jurnal ini akan dibahas tentang tahapan desain kokristal, teknik pembuatan kokristal dengan berbagai metode serta evaluasi kelarutan dan disolusi kokristal gibenklamid yang dibandingkan dengan gibenklamid murni tanpa kokristalisasi.Kata Kunci : Glibenklamid, Kokristalisasi, Kelarutan, Disolusi.
FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK SEDIAAN GEL ANTISEPTIK TANGAN MINYAK ATSIRI BUNGA LAVENDER (Lavandula angustifolia Miller) Dwi Puji Astuti; PATIHUL HUSNI; Kusdi Hartono
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.738 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.13252

Abstract

ABSTRAKSalah satu media dalam penyebaran bakteri adalah tangan sehingga dibutuhkan suatu zat antibakteri. Minyak atsiri bunga lavender (Lavandula angustifolia Miller) berkhasiat sebagai antibakteri. Penggunaan minyak atsiri secara langsung pada tangan dinilai kurang acceptable sehingga perlu diformulasi dalam bentuk gel. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula gel antiseptik tangan minyak atsiri bunga lavender yang terbaik dan yang paling disukai oleh responden. Gel antiseptik tangan dibuat dalam tiga formula dengan konsentrasi carbopol yang berbeda yaitu 0,2 (F1); 0,3(F2) dan 0,4(F3). Evaluasi sediaan gel meliputi uji organoleptik, pH, viskositas, homogenitas dan uji kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna sediaan putih, bau khas lavender, bentuk sediaan gel semisolid, pH yaitu 4,6-6,3, viskositas sekitar 1.100 – 3.400 Cps dan homogen. Sediaan yang paling disukai oleh responden adalah F1 (warna, aroma, tekstur, dan kesan tidak lengket). Formula 1 merupakan formula terbaik berdasarkan uji stabilitas fisik dan uji kesukaan.Kata kunci : Minyak atsiri, bunga lavender (Lavandula angustifolia Miller), gel, antiseptik tangan, carbopol
HUMAN CATHELICIDIN ANTIMICROBIAL PEPTIDE LL-37 AS AN ANTIBACTERIA, ANTIFUNGAL, ANTIVIRAL AND WOUND HEALING AGENT DEA DIAN NURHIKMAH; Insan Sunan Kurniawan Syah
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.137 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17512

Abstract

LL-37 is a cathelicidin-derived peptide in human. This protein contains two helical regions, an unstructured C-terminal tail and a cathionic amphiphatic charge.  This review described the functions of human cathelicidin antimicrobial peptide LL-37. Cathelicidin peptides were shown to have some functions like to kill bacteria by distrupting the bacterial membranes of Staphylococcus aureus, Micrococcus luteus and Salmonella gastroenteritis, fungicidal against Candida albicans and Aspergillus sp , and work as antiviral agent against vaccinia virus by direct disruptive action on the viral envelope. Besides its antimicrobial effects, cathelicidins also play a role in wound healing through direct interaction or stimulation of the immune system, stimulating angiogenesis and re-epitheliazation. From the studies, it showed that LL-37 is a potential protein for the development of new drugs in the future.
REVIEW: PROSEDUR PELAKSANAAN KUALIFIKASI SUHU DAN WAKTU PEMBEKUAN DARI ICE GEL DENGAN METODE COMMISSIONING ADAM RENALDI; Ida Musfiroh
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1804.89 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22957

Abstract

Ice gel merupakan sebuah media gel yang digunakan untuk proses penyimpanan bahan dalam suhu rendah. Ice gel pada umumnya digunakan sebagai alat penunjang untuk penyimpanan obat-obatan agar berada pada suhu yang telah ditentukan. Proses kualifikasi merupakan proses yang penting dalam membuktikan bahwa sistem atau peralatan bisa berfungsi dengan baik dan memberikan hasil yang telah ditetapkan. Salah satu metode kualifikasi adalah commissioning, yaitu proses kualifikasi yang setara dengan kualifikasi instalasi, operasional dan kinerja. Proses ini ditentukan berdasarkan penilaian risiko terhadap produk (system impact assessment). Penilaian risiko bisa diterapkan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang memiliki jawaban “Yes/No”, sehingga sistem atau peralatan dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu berdampak secara langsung, tidak langsung dan tidak berdampak pada produk. Kemudian dibuat protokol commissioning yang berisikan desain pengujian yang diajukan.Kata Kunci: Ice Gel, Commissioning, System Impact Assessment
Teknologi Induced Pluripotent Stem Cell (IPSC) Berbasis Metode 3D Hanging Drop Sebagai Terapi Genodermatosis Generasi Baru DONI DERMAWAN; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2430.158 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12908

Abstract

Genodermatosis merupakan penyakit kulit disebabkan oleh faktor genetik yang berkaitan langsung dengan defisiensi struktur dan fungsi kulit. Beberapa jenis genodermatosis diakibatkan oleh adanya keterlibatan multisistem patologis yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas bagi penderitanya. Tingkat insidensi genodermatosis di seluruh dunia yakni antara 1:6000 sampai 1:500.000 dari penyakit kulit secara keseluruhan dan biasanya terjadi sejak lahir dan beberapa terjadi pada usia anak-anak. Keterbatasan akses terapi yang efektif, aman, dan terbukti secara klinis merupakan permasalahan utama dalam penanganan genodermatosis. Terapi gen merupakan fokus utama penelitian sebagai pilihan terapi genodermatosis namun juga memiliki keterbatasan meliputi risiko induksi tumor, pemilihan vektor, ekspresi gen dengan waktu yang singkat, adanya respons imun terhadap terapi gen yang diberikan, terbatas pada penyakit monogenik, dan risiko munculnya efek genotoksisitas. Tujuan dari literature review ini adalah untuk menganalisis secara komprehensif mengenai teknologi Induced Pluripotent Stem Cell (iPSC) berbasis metode kultur sel 3D Hanging Drop sebagai generasi baru terapi genodermatosis. Hasil studi menunjukkan Teknologi induced pluripotent stem cell (iPSC) yang dikombinasikan dengan metode kultur sel 3D hanging drop memiliki potensi yang sangat tinggi dalam penanganan penyakit genodermatosis ditinjau dari aspek keamanan berdasarkan profil keunggulan karakteristik koreksi secara genetik dengan mengganti jaringan yang mengalami mutasi dengan jaringan yang telah diprogram ulang. Kata Kunci : 3D hanging drop, Genodermatosis, iPSC (induced Pluripotent Stem Cell) 
AKTIVITAS BERBAGAI TANAMAN SEBAGAI ANTIHIPERURISEMIA KHOIRINA NUR SA'IDAH; Sri Adi Sumiwi
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.424 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.22100

Abstract

Abstrak Gangguan metabolik merupakan gangguan peningkatan kadar asam urat (hiperurasemia) penyakit ini sudah sering dijumpai baik di negara Indonesia ataupun negara lainnya di benua Asia. Obat golongan xantin oksidase inhibitor seperti alopurinol dan febuxostat direkomendasikan sebagai lini pertama untuk pengobatan, tetapi perlu diperhatikan penggunaan xantin oksidase yang terus menerus dapat menyebabkan efek samping toksisitas pada gastrointestinal dan meningkatkan serangan akut gout pada awal terapi. Oleh karena itu, banyak penelitian yang melibatkan banyak tumbuhan herbal yang diharapkan memiliki aktivitas antihiperurisemia karena tanaman herbal memiliki resiko toksisitas dan efek samping yang lebih rendah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan jahe merah (Zingiber officinale var. Amarum), daun salam (Syzygium polyanthum), Herba Suruhan (Peperomia pellucida (L.) Kunth), Meniran (Phyllanthus niruri Linn.) , kayu secang (Caesalpinia sappan L.) , Ekstrak Rebung (Schizostachyum brachycladum Kurz ), Pakis tangkur (Polypodium feei), Naga Putih (Hylocereus undatus), (Mimosa pudica L. ), Daun Sirsak (Annona muricata L.), Sparattosperma leucanthum , Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.), Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.), Dioscorea tokoro makino, dan chatupatika memiliki aktivitas antihiperurisemia. Oleh karena itu, pada review ini akan dibahas aktivitas antihiperurisemia pada lima belas tanaman tersebut. Hasil yang didapatkan dari beberapa artikel yaitu beberapa tanaman tersebut berkhasiat sebagai antihyperurisemia melalui uji daya hambat xantin oksidase dan menurunkan kadar asam urat pada hewan uji. Sehingga memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai obat untuk hyperurisemia. Kata Kunci: Hiperurisemia, Xantin Oksidase, Tanaman Herbal AbstractMetabolic disorders that affect the increase in uric acid levels (hyperurasemia) are diseases that have often been found in both Indonesia and other countries in the Asian continent. Xanthine oxidase inhibitors such as allopurinol and febuxostat are recommended as a first line for treatment, but it should be noted that the continued use of xanthine oxidase can cause gastrointestinal toxicity side effects and increase acute attacks of gout at the beginning of therapy. Therefore, many people use medicinal plants as anti gout because they have relatively small side effects, are easy to obtain, and are relatively inexpensive compared to synthetic drugs. Based on the research, red ginger (Zingiber officinale var. Amarum), bay leaf (Syzygium polyanthum), Suruhan Herb (Peperomia pellucida (L.) Kunth), Meniran (Phyllanthus niruri Linn.) , secang wood (Caesalpinia sappan L.), Bamboo Shoot Extract ( Schizostachyum brachycladum Kurz), Pakis tangkur (Polypodium feei), White Dragon (Hylocereus undatus), (Mimosa pudica L.), Soursop leaf (Annona muricata L.), Sparattosperma leucanthum, Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.), Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.), Dioscorea tokoro makino, and chatupatika have antihyperuricemia activities. Therefore, this review will discuss the antihyperuricemia activity in these fifteen plants. The results obtained from several articles, namely some of these plants are efficacious as antihyperurisemia through the inhibitory test of xanthine oxidase and reduce uric acid levels in test animals. So that it has the potential that can be developed as a medicine for hyperurisemia. Keywords: Hyperuricemia, Xanthine Oxidase, Herbal Plants
Analisis Overall Equipment Effectiveness (OEE) pada Proses Pengemasan Primer di Industri Farmasi ANUGRAHANI YUNIAR EKAWATI; Patihul Husni
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.437 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16749

Abstract

Pengemasan primer merupakan salah satu cara yang digunakan untuk melindungi obat dari lingkungan sekitarnya sehingga kualitas dari obat dapat tetap terjaga hingga nanti sampai ke konsumen. Produktivitas suatu proses pengemasan primer dapat ditingkatkan/dipertahankan dengan melakukan evaluasi rutin terhadap prosesnya. Evaluasi yang dilakukan adalah dengan analisis OEE (Overall Equipment Effectiveness). OEE (Overall Equipment Effectiveness) merupakan suatu metode perhitungan yang digunakan untuk mengetahui efektivitas suatu proses yang sedang dilaksanakan dengan mengidentifikasi persentase waktu produksi yang benar-benar produktif yang dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu availability, performance, dan quality. Penelitian dilakukan dengan mengamati proses pengemasan pada mesin pengemasan primer I serta mengumpulkan data-data yang diperlukan seperti time loss setiap harinya, hasil kemasan yang diperoleh dalam satu hari, hasil kemasan satu batch, dan data pendukung lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh nilai OEE pada mesin I sebesar 76,676% dengan penyebab losses utama yaitu set up/adjustment mesin.
Pengetahuan dan Kesadaran Apoteker dan Pasien dalam Melaporkan Adverse Drug Reaction (ADR) terhadap Keamanan Obat ALYA MAHIRA KUDRI
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1490.824 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17602

Abstract

Pelaporan Adverse Drug Reaction (ADR) merupakan salah satu cara untuk mencegah hal yang tidak diinginkan yang diakibatkan oleh obat yang beredar di pasaran. Apoteker memegang peranan peting dalam pemantauan obat baik dari proses penelitian, pembuatan hingga pemasaran, tentu harus memiliki pengetahuan akan ADR dan bagaimana mengatasinya. Selain itu, perlu dilakukan penelitian akan pengetahuan pasien akan ADR serta penerapannya. Berdasarkan hasil tinjauan dari beberapa literatur diketahui bahwa pengetahuan apoteker dan pasien akan ADR cukup tinggi dimana 93% apoteker dan 75% dari pasien memiliki pengetahuan yang tinggi akan ADR. Namun, kesadaran apoteker dan pasien untuk melaporkan reaksi ADR sangat rendah. Dalam artikel review ini responden berasal dari negara yang berbeda antara apoteker dan pasien, hal ini dapat menjadi penghalang karena perbedaan budaya yang dimiliki oleh kedua kelompok responden. Oleh karena itu artikel review ini melakukan analisis lebih lanjut untuk meneliti pengetahuan dan kesadaran apoteker dan pasien dalam melaporkan AD.Kata kunci: farmakovigilans, KAP (pengetahuan, sikap, praktek), ADR, keamanan.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue