cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
STUDI IN-SILICO SENYAWA PADA BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) SEBAGAI INHIBITOR NEURAMINIDASE PADA INFLUENZA Fatiya, Nadia Ulil; Kusnadi, Ivanna Fauziyah; Riyaldi, Muhammad Raihan; Dipadharma, Ratu Hanifa Fayza; Suhandi, Cecep; Hidayat, Syahrul; Muchtaridi, Muchtaridi
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.37598

Abstract

Influenza merupakan penyakit pernapasan menular yang disebabkan oleh virus influenza. Salah satu glikoprotein permukaan utama virus influenza adalah Neuraminidase. Pencegahan dan pengobatan influenza dapat dilakukan dengan menghambat Neuraminidase untuk mengganggu proses pelepasan virus influenza turunan dari sel inang yang terinfeksi. Ekstrak dari Bawang putih (Allium sativum L.) dilaporkan dapat menginhibisi virus influenza A (H1N1) pdm09 dengan cara menghambat sintesis nukleoprotein dan aktivitas polimerase virus. Penelitian ini dilakukan untuk karakterisasi lebih lanjut dan mekanisme spesifik bawang putih terhadap penghambatan virus influenza. Penelitian dilakukan dalam dua langkah yaitu penambatan molekuler dan pemodelan farmakofor. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, senyawa S-allylmercapto-cysteine memiliki afinitas terbaik dengan nilai ∆G dan Ki terendah, yaitu -6.46 kkal/mol dan 18.41 uM.Kata Kunci: Influenza, Bawang putih, Penambatan molekuler, Pemodelan farmakofor
REVIEW: PENGARUH VARIETAS TANAMAN TERHADAP AKTIVITAS PROTEASE BROMELIN DARI KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.) PUTRI, ARRAUDHA ADINDA; Saptarini, Nyi Mekar
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.39817

Abstract

Enzim bromelin merupakan enzim protease yang terkandung pada tumbuhan nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) umum digunakan dalam industri makanan dan obat-obatan. Bagian dari tumbuhan nanas umumnya digunakan pada bagian buah, sedangkan bagian seperti kulit, mahkota, dan inti nanas dijadikan limbah dan dibuang yang dimana sebenarnya bagian-bagian ini juga memiliki kandungan enzim bromelin yang dapat dimanfaatkan. Aktivitas dari enzim bromelin dipengaruhi oleh suhu dan pH. Tujuan review artikel ini adanya untuk mengetahui pengaruh dari varietas tumbuhan nanas terhadap aktivitas protease bromelin pada bagian kulit nanas. Metode dilakukan dengan cara penelusuran melalui database jurnal elektronik yaitu Google Scholar, Science Direct, Pubmed, Elsevier, dan sebagainya sehingga diperoleh 9 artikel ilmiah internasional. Pada penelitian ini mengumpulkan data aktivitas spesifik enzim bromelin pada kulit nanas, pH optimum pada rentang 3 - 8 dan suhu optimum pada rentang 30 – 70oC. Selain itu, seluruh varietas nanas telah sesuai dengan kisaran pH dan suhu optimum yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kerusakan pada enzim bromelin yang terkandung di dalam kulit nanas.Kata kunci: Ananas comosus, bromelin, aktivitas bromelin, pH, suhu
Analisis Overall Equipment Effectiveness (OEE) serta Peningkatan Produktivitas Mesin Pengemasan Primer dengan Pendekatan Total Productive Maintenance (TPM) AFIFAH, NURUL; Megantara, Sandra
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.43442

Abstract

Total Productive Maintenance merupakan suatu sistem yang dapat dimanfaatkan untuk merawat dan meningkatkan kualitas produksi melalui perawatan mesin maupun alat yang digunakan. Total Productive Maintenance dilaksanakan dengan melibatkan kompetensi dan kinerja operator melalui perubahan kebiasaan dalam bekerja. Dalam penerapan TPM, dikenal 8 pilar TPM yang merupakan panduan untuk penerapan Total Productive Maintenance (TPM). Adapun 8 pillar dari TPM yaitu Autonomour maintenance, Planned maintenance, Equipment and Process Improvement, Early Management of New Equipment, Process Quality Management, TPM in the office, Education nand Training, Safety and Environmental Management. OEE dapat didefinisikan sebagai salah satu indikator pengukuran dari penerapan TPM (Total Productive Maintenance) yang dapat menunjukkan seberapa efektif mesin dapat beroperasi. Artikel ini ditulis untuk menganalisis nilai OEE dari mesin pengemas primer serta meningkatkan produktivitasnya dengan menerapkan prinsip pada TPM.Kata Kunci: TPM, OEE
REVIEW ARTIKEL: AKTIVITAS FARMAKOLOGI TANAMAN SACHA INCHI (Plukenetia volubilis L.) JIHAN ARKHA SANIA
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.40196

Abstract

Sacha inchi  ( Plukenetia volubilis L.) dikenal juga sebagai kacang inka atau incha inchi merupakan tanaman dari family Euphorbiaceae. Tanaman ini tumbuh di ketinggian antara 200-1500 meter di hutan Amazon. Tanaman Sacha inchi ini banyak dibudidayakan di Peru dan Kolombia Selatan. Di Indonesia sendiri masih belum banyak dibudidayakan. Tanaman ini merupakan salah satu sumber terbaik omega-3 (45-55%) dan memiliki lebih banyak kandungan asam lemak tak jenuh. Hal ini menjadikan sacha inchi memiliki potensi yang besar dalam industri kosmetik, nutraceutical, makanan dan obat-obatan. Review artikel ini dibuat untuk menyediakan informasi terkait aktivitas farmakologi yang dimiliki oleh Sacha inchi yang diperoleh dari pencarian melalui Google Scholar dan Pubmed . Berdasarkan hasil pencarian, Sacha inchi memiliki berbagai aktivitas farmakologi, antara lain antioksidan, immunomodulator, antiinflamasi, antilipemik, antikonvulsan, antimutagenik, menghambat perlekatan S.aureus  pada keratinosit dan eksplan kulit manusia, serta menghambat beberapa enzim pencernaan. Potensi dari tanaman ini perlu dikembangkan dan diteliti lebih lanjut.
REVIEW ARTIKEL: AKTIVITAS DAN PEMANFAATAN BRAZILIN DARI KAYU SECANG (Caesalpinia Sappan L.) DALAM SEDIAAN KOSMETIK Puspitadewi, Nurhanifah; Sriwidodo, Sriwidodo
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.37702

Abstract

Brazilin merupakan senyawa utama yang terkandung dalam kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) adalah tanaman yang banyak ditemukan di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. Masyarakat Indonesia umumnya menggunakan kayu secang sebagai pewarna pada minuman atau makanan. Senyawa brazilin dalam kayu secang juga memiliki berbagai aktivitas lain yang dapat dimanfaatkan. Kosmetik merupakan salah satu produk yang diminati masyarakat. Saat ini perkembangan kosmetik berbahan alam juga meningkat. Tujuan dilakukannya review artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana aktivitas dan pemanfaatan brazilin khususnya pada bidang kosmetik. Metode dilakukan dengan mencari publikasi terkait brazilin dan kosmetik melalui Google Scholar, Pubmed, dan Science Direct. Hasil kajian menunjukan bahwa brazilin diketahui memiliki aktivitas sebagai anti-acne, whitening agent, anti-aging dan antiinflamasi. Berbagai aktivitas yang dimiliki Brazilin menunjukan bahwa Brazilin merupakan senyawa yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sediaan kosmetik.Kata Kunci: Brazilin, Kosmetik, Kayu Secang
REVIEW ARTIKEL: PENGARUH METFORMIN SEBAGAI OBAT OFF-LABEL UNTUK TERAPI PADA WANITA DENGAN POLYCYSTIC OVARY SYNDROME Christine - Christine; Eli - Halimah; David Christianto Yohanes
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.44306

Abstract

Salah satu penyebab infertilitas pada wanita disebabkan oleh PCOS yang mempengaruhi anovulasi menstruasi dengan gejala klinis berupa hiperandrogenemia, gangguan menstruasi, jerawat berlebih serta hirsutisme. PCOS juga ditandai dengan morfologi ovarium polikistik, infertilitas anovulasi,  gangguan metabolisme seperti obesitas, serta peningkatan kadar androgen dalam darah. Beberapa obat telah digunakan untuk pengobatan gejala klinis dari PCOS termasuk obat off-label yang sering digunakan sebagai terapi selain indikasi yang telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Administation). Metformin merupakan salah satu obat off-label yang digunakan untuk pengobatan PCOS dengan indikasi untuk menginduksi ovulasi, mengatur regulasi menstruasi, penurunan berat badan, serta hirsutisme. Metode penulisan artikel ini menggunakan kajian naratif dengan menggunakan database PUBMED dengan kata kunci Metformin Effect dan PCOS.  Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa metformin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan berat badan, hiperandrogenisme, hirsutisme dan jerawat, perbaikan terhadap siklus menstruasi, tingkat kehamilan meningkat, penurunan volume ovarium, serta peningkatan induksi ovulasi pada wanita infertilitas yang mengidap PCOS dalam rentang dosis yang diberikan 500 – 2550 mg setiap harinya.
REVIEW : AKTIVITAS ANTIBAKTERI TANAMAN OKRA (ABELMOSCHUS ESCULENTUS L) Erlangga Ramadan
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.40229

Abstract

Tanaman okra memiliki kemampuan bertahan di daerah panas dan kering sehingga cocok untuk tumbuh dan dibudayakan di daerah tropis. Tanaman okra sering digunakan sebagai sayuran di bahan makan, selain itu tanaman ini juga diketahui memiliki berbagai manfaat dalam bidang kesehatan. Maka dari itu  pada artikel ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri tanaman ini dengan melakukan kajian terhadap penelitian terdahulu. Selain itu, dalam tulisan ini juga melakukan kajian terkait senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman okra dan berperan sebagai senyawa antibakteri. Berbagai penelitian yang ditemukan, diketahui melakukan pengujian terhadap tanaman okra dengan melakukan ekstraksi pada sejumlah bagian dari tanaman ini seperti, bunga, daun, biji, dan buah, ekstraksi dilakukan menggunakan berbagai macam pelarut. Berdasarkan literatur yang ditemukan, menunjukkan bahwa tanaman okra, yang memiliki kandungan senyawa aktif utama berupa polisakrida dan senyawa fenolik, efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif. 
UJI ANGKA LEMPENG TOTAL (ALT) PADA JAMU GENDONG DI PASAR TANJUNG REJO KABUPATEN SUKOHARJO Cicilia Dwi Anggraini; Aulia Nur Rahmawati
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.39325

Abstract

Usaha jamu tidak wajib mempunyai izin edar, karena itu keamanan, khasiat dan mutu masih cukup rendah. Parameter untuk pengukuran cemaran mikroba yang terdapat dalam jamu menggunakan Angka Lempeng Total. Jamu yang digunakan yaitu jamu daun pepaya temu ireng, kunyit asam, dan pahitan brotowali. Penelitian ini bertujuan mengetahui ALT pada  jamu gendong di pasar Tanjung Rejo, Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian dimulai penentuan dan pemilihan tempat pengambilan sampel. Langkah selanjutnya mempersiapkan bahan dan alat yang digunakan untuk uji ALT. Langkah pertama untuk uji ALT yaitu membuat pengenceran sampel jamu sebanyak 10-5 dengan cara sampel jamu diambil 1 ml dan NaCL 0,9% sebanyak 9 ml. Uji ALT menggunakan media Nutrient Agar. Kemudian di inkubasi selama 24 jam dengan posisi terbalik, dan hasilnya dibaca dengan colony counter. Pada penelitian didapatkan nilai ALT jamu gendong di pasar Tanjung Rejo, Kabupaten Sukoharjo untuk jamu daun pepaya temu ireng 1,4x107 koloni/ml - 5,2x107 koloni/ml, jamu kunyit asam 1,5x102 koloni/ml - 8,9x102 koloni/ml, jamu pahitan brotowali <1x101 koloni/ml - 2,8x103 koloni/ml. Hasil Angka Lempeng Total jamu daun pepaya temu ireng tidak memenuhi persyaratan peraturan BPOM No. 32 th 2019. Hasil Angka Lempeng Total jamu kunyit asam dan jamu pahitan brotowali memenuhi persyaratan peraturan BPOM No. 32 th 2019. Kata kunci : jamu gendong, angka lempeng total
Pengaruh Model Desain Optik Lensa Intraokular Hidrofobik Terhadap Posterior Capsule Opacification (PCO) Pascaoperasi Katarak Ayu Utami Dewi; Sriwidodo - -
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.44347

Abstract

Operasi katarak adalah yang terbanyak prosedur bedah yang umum dilakukan di dunia dengan mengganti lensa alami dengan lensa buatan untuk mencapai ketajaman penglihatan mendekati normal. Lensa yang digunakan yaitu lensa intraocular. Pascaoperasi katarak masih terjadi komplikasi berupa peningkatan Posterior Capsule Opacification (PCO). Peningkatan PCO menyebabkan penurunan ketajaman visual dan sensitivitas kontras, serta silau dan diplopia monokuler yang dapat mengurangi kualitas hidup pasien sehingga perlu pencegahan dengan menggunakan lensa intraokular yang berbahan hidrofobik yang dapat menurunkan skor angka PCO. Lensa intraokular hidrofobik memiliki banyak model desain optik yang berbagai macam, pengaruh desain optik juga menjadi pertimbangan dalam memilih lensa intraocular yang baik untuk pasien. Model desain optik yang baik digunakan adalah sharp optic edge yang dapat mengurangi migrasi sel epitel yang berproliferasi dari pinggiran kapsul berhenti ketika mencapai tepi optik IOL yang tajam.Kata Kunci: Katarak, Lensa Intraokular, Hidrofobik, Posterior Capsule Opacification (PCO)
Review Article: Indeks Glikemik (IG) dan Beban Glikemik (BG) Sebagai Faktor Resiko Diabetes Mellitus Tipe II Pada Pangan Sumber Karbohidrat SUNANI, SUNANI
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.44951

Abstract

ABSTRAKPrevalensi diabetes di Indonesia menempati rangking kelima tertinggi di dunia. Pada tahun 2021, jumlah warga Indonesia yang terdiagnosis diabetes mencapai 19,5 juta dan diprediksikan akan terus berkembang di tahun 2030 menjadi 21,3 juta. Salah satu faktor resiko pencetus diabetes mellitus tipe II yaitu pola makan. Hal ini dapat diperbaiki melalui konsumsi pangan dengan indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG) rendah. Pangan berkarbohidrat dapat ditentukan kecepatan dipecahnya menjadi glukosa dan terserap ke dalam darah dengan menggunakan IG, sedangkan BG sudah mempertimbangkan IG beserta jumlah karbohidrat aktual yang terdapat dalam satu kali penyajian pangan tertentu. Review ini bertujuan untuk mengetahui IG dan BG sebagai faktor risiko diabetes mellitus tipe II pada pangan sumber karbohidrat. Metode yang digunakan yaitu pencarian beberapa pustaka berupa original research article maupun review article yang memuat informasi mengenai IG dan BG pada pangan sumber karbohidrat. Hasil review diketahui bahwa cara pengolahan pangan yang berbeda pada jagung bakar, rebus dan tumis serta perbedaan jenis karbohidrat  pada nasi, singkong dan jagung dapat mempengaruhi variasi nilai IG yang dihasilkan. Selain itu, kandungan karbohidrat untuk satu kali penyajian pada nasi, singkong dan jagung juga mempengaruhi variasi nilai BG yang dihasilkan. Simpulannya dapat diketahui bahwa, cara pengolahan, jenis karbohidrat, dan jumlah takaran yang dikonsumsi dari suatu pangan dapat menjadi pertimbangan oleh masyarakat dalam memilih asupan untuk diet rendah gula. Kata Kunci : Diabetes Mellitus Tipe II, Indeks Glikemik, Beban Glikemik ABSTRACTThe prevalence of diabetes in Indonesia is the fifth highest in the world. The number of diabetics in Indonesia in 2021 will reach 19.5 million people and is predicted to increase to 21.3 million people in 2030. One of the risk factors for triggering type II diabetes mellitus is diet. This can be corrected through food management with glycemic index (GI) and glycemic load (BG). Carbohydrate foods can be determined by the speed at which they are broken down into glucose and absorbed into the blood using the GI, while the BG has considered the GI and the actual amount of carbohydrates contained in one serving of certain foods. This review aims to determine GI and BG as risk factors for type II diabetes mellitus in food sources of carbohydrates. The method used is a search for several literature in the form of original research articles and review articles which contain information about GI and BG in food sources of carbohydrates. The results of the review revealed that different food processing methods for grilled, boiled and stir-fried corn as well as different types of carbohydrates in rice, cassava and corn can affect the variation in the GI values produced. In addition, the carbohydrate content for one serving of rice, cassava and corn also affects the variation in the resulting BG value. In conclusion, it can be seen that the method of processing, the type of carbohydrates, and the amount of dose consumed from a food can be considered by the community in choosing intake for a low sugar diet. Keywords: Diabetes Mellitus Type II, Glycemic Index, Glycemic Load

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue