cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
MAPPING SUHU GUDANG NARKOTIKA PADA SALAH SATU PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF) DI KOTA BANDUNG FADHILAH, FAHRINA NUR; GOZALI, DOLIH
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.43425

Abstract

Sebagai upaya menjaga keamanan, mutu, dan efikasi dari masing – masing obat, kestabilan setiap sediaan obat selama masa penyimpanan harus dijaga dan dipertahankan. Ketidak patuhan terhadap persyaratan kondisi penyimpanan, salah satunya suhu penyimpanan merupakan salah satu penyimpangan yang paling banyak ditemukan di fasililtas penyimpanan obat. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan sebagai upaya pemantauan kondisi suhu penyimpanan adalah pemetaan suhu. Pemetaan suhu dilakukan untuk mengetahui rentang suhu pada ruangan gudang penyimpanan obat, serta mengetahui keberagaman suhu pada masing – masing titik di ruangan gudang penyimpanan obat. Dilakukan pemetaan suhu dengan peletakan dua belas alat pengukur suhu pada empat titik sudut dengan masing – masing tiga ketinggian di Gudang Narkotika salah satu Pedagang Besar Farmasi di Kota Bandung. Dari hasil pengamatan selama 72 jam, diperoleh hasil rentang suhu penyimpanan berada di antara 15oC – 25oC dengan titik kritis pada titik 3 dengan suhu 24,3oC dijadikan sebagai dasar pertimbangan peletakan alat pengukur suhu.Kata kunci: Pemetaan suhu, rentang suhu, titik kritis
SISTEMATIK REVIEW AKTIVITAS ANTIOKSIDAN TANAMAN SACHA INCHI (Plukenetia volubilis L.) NUHA, QURROTA A'YUNINA LIE ULIN
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.40445

Abstract

Sacha inchi (Plukenetia volubilis Linneo) merupakan tanaman dari famili Euphorbiaceae dengan buah berwarna hijau, berbentuk bintang, dan pada bagian dalamnya terdapat daging buah beserta biji berwarna coklat. Tanaman ini telah diakui memiliki potensi besar karena tingginya nilai gizi serta aktivitas antioksidan yang dimiliki. Maka dari itu, studi literatur ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar aktivitas antioksidan dari bagian tanaman sacha inchi yang diberikan perlakuan berbeda untuk mengetahui pengaruhnya pada masing-masing ekstrak minyak tersebut. Dimana data yang diperoleh didapat dengan studi literatur berupa artikel atau jurnal ilmiah dengan metode sistematik review melalui online database google scholar  menggunakan  kata kunci sacha inchi, P. volubilis, antioksidan, sacha inchi leaves, sacha inchi seeds, dan sacha inchi shell. Hasil kapasitas antioksidan yang diperoleh menggunakan metode DPPH atau ABTS dengan hasil pada bagian biji sebesar 18.2 1.3( TE/g) - 95.0 2.8 ( TE/g), pada bagian cangkang buah sebesar 70.5  5.8 (mol TE/g) - 93.9  3.4 (mol TE/g), dan pada bagian daun sebesar 0.050 0.001 (mol TE/g) - 0.051 0.002 (mol TE/g).Kata kunci: Sacha inchi, Plukenetia volubilis Linneo, Antioksidan, DPPH,ABTS
REVIEW ARTICLE: UJI EFEKTIVITAS IN VIVO DAN IN VITRO ANTI-AGING PADA SEDIAAN KOSMETIK SHIBA, KAMILA; NURSIFA, HARITSA; KUSUMAWULAN, CAHYA KHAIRANI; SOPYAN, IYAN
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.38775

Abstract

Penuaan terjadi secara alamiah pada manusia yang ditandai dengan munculnya keriput dan hiperpigmentasi.  Penuaan menjadi hal yang mendapat perhatian lebih oleh kaum wanita pada umumnya karena mempengaruhi penampilan. Banyak tanaman herbal maupun senyawa sintetis yang ditujukan sebagai agen anti penuaan. Bahan aktif tersebut diformulasikan menjadi bentuk sediaan kosmetik untuk memudahkan penggunaan pada konsumen dan mencapai efek yang maksimum. Dalam pembuktiannya, dibutuhkan pengujian yang komprehensif. Pengujiaan ini dapat berupa metode pengujian in vivo dan in vitro. Adapun penelitian ini dilakukan dengan metode article review dan didapatkan jurnal dari literature online jurnal lokal dan jurnal internasional yaitu pencarian secara elektronik dengan kata kunci efektivitas anti-aging, in vitro, in vivo, anti-aging dan sediaan kosmetik pada situs web yaitu Google Scholar. Hasil studi article review didapatkan bahwa beberapa metode yang digunakan adalah metode DPPH, kultur fibroblast dermal manusia, uji pada tikus, dan uji klinis pada manusia.Kata Kunci: Efektivitas anti-aging, in vitro, in vivo, anti-aging dan sediaan kosmetik 
ARTIKEL REVIEW : MEKANISME KERJA BAHAN PENYUSUN UTAMA ANTISEPTIK DAN DESINFEKTAN DALAM MENURUNKAN RISIKO PENULARAN COVID-19 BAGI TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT IVANKA W, MEY DIANA
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.39796

Abstract

Pandemi yang terjadi secara merata di seluruh negara sangat meresahkan kehidupan masyarakat serta menimbulkan kekhawatiran yang sangat mendalam. Covid-19 dengan tingkat penularan dan penyebaran yang sangat tinggi ini dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih dengan menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Salah satu upaya pada pencegahan penularan virus corona ini yaitu dengan menggunakan antiseptik dan desinfektan. Metode yang digunakan pada artikel review ini adalah melalui pencarian data ilmiah yang dilakukan secara online pada database PubMed, Science Direct, Research Gate dan Google Scholar dengan kata kunci “Antiseptik”, “Desinfektan”, “Mekanisme Antiseptik”, “Bahan Penyusun Antiseptik”. Berdasarkan hasil penelusuran dan pengumpulan data tersebut diketahui bahwa Terdapat berbagai macam jenis sediaan antiseptik dan desinfektan yang beredar di pasaran, berbagai macam jenis sediaan ini tergantung pada bahan dan formulasi yang digunakan serta bentuk dan proses pembuatan sediaan. Perbedaan beberapa hal tersebut dapat mempengaruhi efektivitas sediaan antiseptik dan desinfektan dalam mencegah penularan Covid-19. Serta efektivitas nya dalam menurunkan resiko penularan COVID-19 bagi tenaga Kesehatan yang di Rumah Sakit.
REVIEW ARTIKEL : KANDUNGAN KIMIA DAN POTENSI TANAMAN SACHA INCHI (PLUKENETIA VOLUBILIS L.) UNTUK KESEHATAN NINGRUM, ANISSA SAFA
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.40583

Abstract

Saat ini masih terdapat banyak tanaman yang kurang dimanfaatkan namun memiliki banyak potensi yang dapat berkontribusi dalam ketahanan pangan, termasuk peningkatan gizi dan kesehatan. Salah satu tanaman yang belum banyak diteliti yaitu Sacha inchi (Plukenetia volubilis L.). Sacha inchi mengandung berbagai senyawa serta memiliki potensi nilai ekonomi yang signifikan dalam kosmetik, farmasi, dan industri makanan. Sacha inchi mengandung berbagai senyawa yang berpotensi untuk kesehatan. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk menganalisis berbagai penelitian yang telah dilakukan terkait kandungan kimia dan manfaat dalam tanaman sacha inchi yang berpotensi dalam bidang kesehatan. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini yaitu studi tinjauan pustaka pada basis data berupa PubMed, Cochrane, dan Embase serta search engine Google Scholar. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan, Sacha inchi memiliki kandungan kimia seperti asam lemak, tocopherol, trigliserida dan senyawa lain yang mengandung berbagai manfaat dalam bidang kesehatan seperti antiinflamasi, antioksidan, dan sumber nutrisi.
NARRATIVE REVIEW : ALASAN PENARIKAN VALSARTAN DARI PEREDERAN DAN KAITAN NYA TERHADAP PENGAWASAN MUTU NOVIANTI, INA; Indradi, Raden Bayu
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.38875

Abstract

Berdasarkan penjelasan BPOM RI pada Desember 2018 mengenai penarikan sutau produk obat antihipertensi di Indonesia yakni golongan angiotensin receptor blocker yaitu valsartan dikarenakan mengandung cemaran organik berupa N-Nitrosodimethylamine (NDMA) dan N-Nitrosodiethylamine (NDEA). Valsartan sendiri merupakan obat golongan Angiotensin Receptor Blocker yang memiliki indikasi sebagai antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengaitkan alasan penarikan valsartan dari peredaran dengan pengawasan mutu nya. Metode yang digunakan yakni studi Pustaka dimana dilakukan pencarian data primer yang didapat dari website BPOM RI dan data sekunder dari hasil pencarian literatur sebagai sumber informasi yang relavan dengan identifikasi  jurnal-jurnal penelitian internasional maupun nasional dan mengacu kepada pedoman standar terhadap pengawasan mutu nya. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengawasan mutu pada valsartan yang ketat harus diiringi dengan instrumentasi analitik yang sensitif dan andal, hal ini diperlukan untuk mendeteksi dan kuantifikasi zat pengotor nya, dan metode yang disarankan oleh FDA ialah menggunakan triple quadrupole GC-MS/MS, karena memberikan keuntungan dari segi peningkatan sensitivitas deteksi (terutama untuk NDEA) dan selektivitas yang sangat baik dalam susunan matriks obat valsartan
REVIEW: AKTIVITAS FARMAKOLOGI SENYAWA KALKON DALAM TANAMAN ASHITABA (Angelica keiskei Koidzumi) LESTARI, IRA NOVIANTY
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.39896

Abstract

Ashitaba (Angelica keiskei Koidzumi) atau yang sering disebut juga sebagai seledri Jepang adalah tanaman yang berasal dari pantai Pasifik Jepang dan akhir – akhir ini menjadi populer sebagai obat herbal di negara – negara Asia. Di Indonesia, tanaman ini bisa ditemukan antara lain di Trawas, Tawangmangu, Manoko, dan Lombok. Berbagai macam golongan metabolit sekunder telah diisolasi dan di karakterisasi dari tanaman Ashitaba seperti kalkon, flavanon dan kumarin yang diketahui memiliki berbagai macam aktivitas farmakologi. Senyawa utama yang banyak terkandung dalam Ashitaba adalah kalkon berupa 4-hidroksiderisin dan xantoangelol. Pada review ini, dibahas aktivitas farmakologi dari senyawa kalkon dalam tanaman Ashitaba beserta mekanismenya. Metode yang digunakan yaitu review article dengan penelusuran literatur melalui Pubmed dan Google Scholar menggunakan sumber data elektronik yang terpublikasi dari tahun 2012 - 2022. Dari hasil review yang diperoleh menunjukkan bahwa Ashitaba memiliki potensi besar untuk pengembangan obat baru misalnya sebagai antidiabetes, antitumor, antibakteri, anti-inflamasi, dan lain – lain.
REVIEW: PERKEMBANGAN RESISTENSI ANTIBIOTIK MEROPENEM TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA, ACINETOBACTER BAUMANNNII, SERTA KLEBSIELLA PNEUMONIAE DI INDONESIA SANTOSO, IVANA; ROSTINAWATI, TINA
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.40708

Abstract

Pada tahun 2017, WHO mengeluarkan daftar bakteri yang sangat membutuhkan antibiotik baru akibat tingkat resistensi yang tinggi, diantaranya yaitu Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannnii, serta Klebsiella pneumoniae. Ketiga bakteri ini telah resisten terhadap sejumlah besar antibiotik, termasuk karbapenem yang merupakan lini terakhir dalam pengobatan (broad spectrum). Salah satu karbapenem yang seringkali digunakan adalah meropenem, yang digunakan untuk mengatasi infeksi pada kulit dan jaringan, infeksi saluran cerna, serta infeksi lainnya. Saat ini, penggunaan meropenem di rumah sakit semakin meningkat dan mengakibatkan resistensi pada bakteri gram negatif. Review ini bertujuan untuk menggambarkan perkembangan dari resistensi meropenem terhadap bakteri P. aeruginosa, A. baumannii, K. pneumoniae serta terapi yang telah digunakan untuk resistensi meropenem di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan peninjauan literatur yang terkait. Berdasarkan hasil penelusuran, ketiga bakteri tersebut telah mengalami resistensi terhadap meropenem dengan mekanisme resistensi pada mutasi gen pompa efflux pada P. aeruginosa, penurunan permeabilitas dan pembentukan biofilm pada A.baumanii, serta produksi karbapenemase oleh K. pneumoniae. Terapi yang telah digunakan saat ini terdiri dari kolistin, kombinasi seftolozan/tazobaktam, polimiksin serta fosfomisin.
REVIEW ARTIKEL : BERBAGAI TANAMAN SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN HALITOSIS (BAU MULUT) ANDANI, MAYA
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.39574

Abstract

Halitosis merupakan kondisi bau mulut yang terjadi pada seseorang. Penduduk negara Indonesia sebagian mengalami halitosis yaitu 25,9%, sedangkan pada populasi dunia, terdapat 25%. Halitosis akan menimbulkan rasa tidak percaya diri hingga kecemasan berlebihan pada penderitanya ketika melakukan interaksi dengan orang lain ataupun buka mulut apabila tidak ditangani. Bakteri yang terdapat di lidah, seperti Solobacterium moorei, Actinomyces, Fusobacterium, Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus dan sebagainya akan menyebabkan munculnya senyawa-senyawa penyebab bau busuk. Pada umumnya, orang-orang yang sudah mengalami halitosis atau yang ingin mencegahnya menggunakan cara konvensional, yaitu obat kumur. Dalam penelitian yang dilakukan dengan metode studi literatur ini, menjelaskan bahwa kondisi bau mulut dapat ditangani dengan obat tradisional menggunakan tanaman, antara lain Dari penelitian yang dilakukan, terdapat berbagai tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi halitosis (bau mulut), antara lain apel (Malus domestica), gambir (Uncaria gambir Roxb), jambu biji (Psidium guajava), kemangi (Ocimum americanum L), salam (Syzygium polyanthum), dan sirih (Piper betle).  Tanaman tersebut mengandung minyak atsiri yang dapat berfungsi sebagai antibakteri.Kata Kunci: Ekstrak, Tanaman, Halitosis, Bau Mulut
REVIEW ARTIKEL: EFEK FARMAKOLOGI MINUMAN KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA) ASAM DAN JAHE (ZINGIBER OFFICINALE) SEBAGAI PEREDA NYERI DISMENORE PRIMER PADA REMAJA DI INDONESIA SALSABILA, ALISHA ZAHRA
Farmaka Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i3.39920

Abstract

Dismenore primer menjadi salah satu gangguan pada perempuan yang sedang mengalami menstruasi, dimana gejalanya terasa kejang otot pada perut bagian bawah hingga menyebabkan rasa tidak nyaman. Gejala tersebut biasanya berlangsung selama dua hingga tiga hari. Sering kali nyeri tersebut menjadi penyebab ketidakhadiran remaja putri di sekolah. Di negara Indonesia prevalensi dismenore menunjukkan frekuensi yang cukup tinggi, yakni 64,25%, dimana perkiraan tingkat kejadian dismenore primer berkisar 54,89% dan dismenore sekunder 9,36%. Tanaman tradisional yang berpotensi menurunkan nyeri dismenore primer adalah jahe (Zingiber officinale) dan kunyit (Curcuma domestica).  Tujuan dari kajian artikel ini, yaitu untuk mengetahui efek farmakologi dari minuman kunyit asam dan jahe sebagai pereda nyeri dismenore primer pada remaja di Indonesia. Tinjauan literatur ini meneliti kemanjuran minuman kunyit (Curcuma Domestica) asam dan jahe (Zingiber Officinale). Data hasil dari tiga publikasi jurnal telah diidentifikasi. Penulis secara independen meninjau artikel dan mengekstrak data yang membandingkan keefektifan kedua tanaman tersebut. Minuman kunyit asam ternyata lebih efektif untuk mengurangi keparahan nyeri daripada minuman jahe. Hal ini dibuktikan dari hasil uji statistik Mann-Whitney ketiga publikasi jurnal terlihat selisih mean pengurangan intensitas nyeri antara setelah dan sebelum mengonsumsi minuman kunyit asam lebih tinggi daripada minuman jahe.Kata kunci: Dismenore Primer, Minuman Kunyit (Curcuma domestica) Asam, Minuman Jahe (Zingiber officinale)

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue