cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Review Artikel : Pengaruh Bisphenol-A (BPA) Dalam Kemasan Pangan Terhadap Kesehatan Aulia, Gina; Mita, Soraya Ratnawulan
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.41469

Abstract

Bisphenol A (BPA) adalah bahan kimia yang sering digunakan dalam pembentukan plastik polikarbonat dan epoxy resins, sebagai antioksidan atau penstabil dalam polivinilklorida (PVC). BPA diketahui terdapat dalam kemasan pangan diantaranya dalam botol minum plastik, botol bayi, kemasan kaleng, kemasan kertas, gelas hingga tetra pak. BPA dapat berpindah dari kemasan kedalam makanan oleh adanya proses pemanasan dan penyimpanan. Batas toleransi BPA yang dapat dikonsumsi oleh manusia diatur oleh European Food Safety Authority yaitu 4 μg/Kg berat badan per hari, sedangkan menurut BPOM yaitu 0,6 mg/kg per hari. Diketahui bahwa BPA merupakan salah satu endocrine disrupting compound (EDC), EDC adalah substansi yang terdapat di lingkungan, makanan dan produk-produk industri lain yang dapat mengganggu biosintesis, metabolism serta aksi hormon, sehingga dapat mengakibatkan gangguan homeostasis atau reproduksi. Metode yang dilakukan pada review jurnal ini adalah studi literatur dengan sumber data dari berbagai Pustaka yang relevan. Dari hasil penelusuran literatur, BPA dapat menyebabkan gangguan Kesehatan diantaranya yaitu Hipertensi, Obesitas, Diabetes, dan Kanker.
Evaluasi Metode Penjualan dan Aspek CDOB Transportasi di Salah Satu PBF di Kabupaten Bekasi APRINI, AMELIA
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.39479

Abstract

Kegiatan distribusi dimulai dari pengadaan, pembelian, penyimpanan, hingga penyaluran kepada PBF lainnya ataupun fasilitas kesehatan lain seperti klinik, puskesmas, IFRS (Instalasi Farmasi Rumah Sakit), apotek, dan toko obat. Dalam melakukan pendistribusian obat, diperlukan sistem pembelian dan sistem penjualan agar tidak terjadi kekosongan barang dan stok barang yang ada dapat terdistribusi secara merata sesuai dengan permintaan. Selain itu, proses pendistribusian membutuhkan kendaraan sebagai moda transportasi. Pemilihan moda transportasi menjadi hal yang penting karena berhubungan dengan efisiensi pergerakan di wilayah PBF cabang. Transportasi merupakan salah satu aspek terpenting dalam menjaga kualitas obat selama pengiriman. Oleh karena itu, dilakukan evaluasi metode penjualan dan penerapan aspek Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) Transportasi di salah satu PBF di Kabupaten Bekasi. Penelitian ini dilakukan selama bulan Januari 2022 menggunakan metode observasional yang bersifat deskriptif dan evaluatif, serta metode wawancara. Hasil penelitian mengenai metode penjualan pada PBF X menunjukkan bahwa metode yang menghasilkan penjualan lebih tinggi adalah metode kanvas dengan persentase 88% dibandingkan dengan metode taking order, sedangkan untuk aspek CDOB Transportasi sudah terimplementasi sebesar 63%.Kata Kunci: Distribusi, PBF, Cara Distribusi Obat yang Baik (CPOB), transportasi, kanvas, taking order
REVIEW ARTIKEL : ADVERSE DRUG EVENTS ARIPIPRAZOLE PADA PASIEN DENGAN GEJALA PSIKOSIS TANTIE NOER APRILIYA
Farmaka Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i1.42695

Abstract

Psikosis merupakan gangguan mental ditandai dengan adanya halusinasi, delusi, perilaku katatonik, perilaku kacau, berbicara kacau dan umumnya disertai dengan kinerja yang buruk. Antipsikotik digunakan untuk mengatasi psikosis dibagi menjadi antipsikotik generasi pertama dan kedua. Kedua generasi antipsikotik memiliki aktivitas farmakologi yang sama, yaitu memblokir reseptor dopamin D2. Efek samping ekstrapiramidal antipsikotik generasi kedua diketahui lebih rendah dibandingkan antipsikotik generasi pertama. Aripiprazole adalah obat antipsikotik generasi kedua golongan kuinolinon dengan mekanisme kerja yang unik di antara antipsikotik generasi kedua lainnya karena merupakan agonis parsial pada reseptor D2 dan 5HT-1a dan antagonis pada 5HT-2a. Penulisan review artikel ini bertujuan untuk mengumpulkan data terkait adverse drug events (ADE) aripiprazole berdasarkan uji klinis pada pasien dengan gejala psikosis. Pencarian sumber dilakukan secara elektronik melalui situs PubMed dengan menggunakan kata kunci “Adverse drug event” dan “Aripiprazole” didapatkan 307 artikel, sebanyak 12 artikel diantaranya memenuhi kriteria penulisan. ADE yang terjadi pada penggunaan aripiprazole diantaranya gangguan sistem saraf pusat, gangguan gastrointestinal, gangguan metabolisme, gangguan tidur, gangguan pergerakan otot, gangguan ritme jantung, dan gangguan insulin, dimana kejadian efek ekstrapiramidal berupa akathisia merupakan ADE yang paling sering terjadi.Kata kunci: Aripiprazole, adverse drug events, antipsikosis, psikosis.
PEMETAAN SUHU GUDANG PENYIMPANAN PADA SALAH SATU PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF) DI KOTA BANDUNG Putri, Michelle Eka; Sopyan, Iyan
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.46748

Abstract

Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) merupakan standar yang ditetapkan untuk mengatur penyaluran dan penyerahan obat dengan tujuan menjaga produk tetap dalam kualitas yang sama sampai ke tangan konsumen. Pedagang Besar Farmasi (PBF) sebagai salah satu dari pihak yang terlibat dalam penyimpanan dan pendistribusian sediaan obat atau bahan obat dalam jumlah yang besar harus memenuhi persayaratan yang telah ditetapkan yaitu CDOB dalam pelaksanaanya. Penyimpanan obat memiliki syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi, salah satunya adalah suhu yang sesuai dengan kondisi penyimpanan yang dipersyaratkan. Pemetaan suhu merupakan prosedur yang dilakukan dengan tujuan kualifikasi dan verifikasi ruangan yang akan digunakan untuk penyimpanan obat atau bahan obat. Hasil dari pemetaan suhu yang dilakukan di salah satu PBF di Kota Bandung sudah memenuhi persyaratan suhu yang ditetapkan.
ARTICLE REVIEW: PARAMETER DAN PENDEKATAN BERBASIS RISIKO TERKAIT VALIDASI PEMBERSIHAN DI INDUSTRI FARMASI Veronika Ellena; Dolih Gozali
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.40454

Abstract

Validasi pembersihan merupakan suatu pembuktian yang terdokumentasi terkait proses pembersihan alat atau mesin di industri farmasi. Validasi prosedur pembersihan merupakan hal yang sangat penting dalam industri farmasi untuk mendapatkan informasi terkait konsistensi dan efisiensi metode pembersihan dalam peralatan di industri farmasi. Validasi pembersihan berbasis risiko bertujuan untuk meningkatkan mutu dan keamanan produk dengan memvalidasi metode pembersihan secara efektif dan juga membantu dalam meningkatkan kesiagaan untuk mengatasi risiko. Artikel ini membahas tentang berbagai parameter pada validasi pembersihan serta validasi pembersihan berdasarkan pendekatan berbasis risiko.
Pemantauan Terapi Obat Pada Pasien Unstable Angina Pectoris dan Hypertensive Heart Disease (HHD) di Salah Satu Rumah Sakit di Bandung Wiseva, Karina Olga; Setiadi, Anggi; Suwantika, Auliya A.
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.46809

Abstract

ABSTRAKAngina pektoris merupakan manifestasi klinis dari Sindrom Koroner Akut (SKA) yang mengarah pada penyakit jantung koroner. Hypertensive Heart Disease (HHD) atau dikenal sebagai penyakit jantung hipertensi merupakan bentuk respon atas kejadian peningkatan tekanan darah berkepanjangan yang mengakibatkan berbagai perubahan pada struktur miokard. Pasien mengeluhkan nyeri ulu hati dan dada selama satu minggu. Pemantauan terapi obat dilakukan di salah satu Rumah Sakit di Kota Bandung terhadap pasien yang memiliki diagnosis utama Acute Coronary Syndrome (ACS). Terapi yang diberikan diantaranya infus NaCl 0,9%, clopidogrel, ISDN, injeksi pantoprazole, injeksi furosemide, sirup sukralfat, amlodipine, bisoprolol, atorvastatin, curcuma, fenofibrate, allopurinol, dan lansoprazole. Terdapat efek samping dari terapi obat yang diberikan, namun terapi telah sesuai dengan kondisi pasien. Setelah pemeberian terapi selama lima hari, gejala yang dirasakan oleh pasien membaik dan berkurang.Kata kunci: Angina Pektoris, Penyakit Jantung Hipertensi, Pemantauan Terapi Obat ABSTRACTAngina pectoris is a clinical manifestation of Acute Coronary Syndrome (ACS) which leads to coronary heart disease. Hypertensive Heart Disease (HHD) or known as hypertensive heart disease is a form of response to prolonged increases in blood pressure which results in various changes to the myocardial structure. The patient complained of heartburn and chest pain for one week. Monitoring of drug therapy is carried out in a hospital in the city of Bandung for patients who have a primary diagnosis of Acute Coronary Syndrome (ACS). The therapies given included 0.9% NaCl infusion, clopidogrel, ISDN, pantoprazole injection, furosemide injection, sucralfate syrup, amlodipine, bisoprolol, atorvastatin, curcuma, fenofibrate, allopurinol, and lansoprazole. There are side effects from the drug therapy given, but the therapy is in accordance with the patient's condition. After giving therapy for five days, the symptoms felt by the patient improved and decreased.Keywords: Angina Pectoris, Hypertensive Heart Disease, Monitoring Drug Therapy
Review : Efek Samping Obat Antituberkulosis Oral Lini Pertama Pada Anak Khairunnisa, Shintani Ayunda; Puspitasari, Irma Melyani
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.46054

Abstract

World Health Organization (WHO) melaporkan tingginya tingkat kematian pada anak (<15 tahun) akibat tuberkulosis pada tahun 2021. Tingginya kasus disebutkan karena akses yang buruk terhadap diagnosis dan pengobatan. Pengobatan tuberkulosis memerlukan penggunaan obat antituberkulosis (OAT) dalam jangka panjang, namun pembahasan tentang efek samping OAT tersebut terhadap anak jarang dibahas. Penulisan artikel review ini bertujuan untuk mengetahui efek samping OAT lini pertama pada anak untuk mencegah risiko efek samping serius hingga kematian pada anak akibat penggunaan OAT lini pertama. Artikel review ini disususn dari artikel, jurnal, atau laporan kasus terkait efek samping OAT lini pertama pada anak yang telah terbit pada situs Sciencedirect, Pubmed-NCBI, dan Google Scholar. Berdasarkan artikel yang ditinjau, didapatkan bahwa efek samping serius OAT lini pertama pada anak jarang terjadi, dengan efek samping yang paling banyak dilaporkan adalah hepatoksisitas. Walaupun kejadian efek samping pada anak jarang dilaporkan, tenaga kesehatan tetap harus waspada terhadap kemungkinan efek samping tersebut melalui follow up rutin pasien.
Narrative Review: Aktivitas Nefroprotektif Tanaman Herbal Yang Diinduksi Etilen Glikol Fitriani, Anisa Nur; Amalia, Eri
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.46796

Abstract

Ginjal berperan penting dalam sistem eksresi dan dapat terggangu dengan adanya agen nefrotoksik sebagai contoh etilen glikol. Cemaran etilen glikol yang melebihi batas aman dapat menyebabkan kasus gagal ginjal akut hingga menimbulkan kematian. Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai tanaman yang memiliki aktivitas nefroprotektif yang diinduksi oleh etilen glikol. Metode yang digunakan yaitu mengumpulkan dan meninjau data yang memiliki kriteria inklusi dan ekslusi. Dari 55 artikel diperoleh 16 jenis tanaman yang mengandung senyawa antioksidan seperti flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid yang bersifat nerfoprotektif, diantaranya balakka, gedi merah, pepolo, naga merah, kumis kucing, jamur tiram, jamur kancing, rumput bahama, ranggitan, cocor bebek, gletang, mengkudu, rumput krambilan, kemukus, jeringau, peterseli, dan kacang tunggak. Disarankan untuk penelitian lebih lanjut terkait uji klinis pada manusia untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.Kata Kunci: Ginjal, Etilen glikol, Tanaman herbal, Nefroprotektif 
Review Artikel : Identifikasi Bahan Kimia Obat (BKO) dalam Sediaan Obat Tradisional Menggunakan Metode Kromatografi Lapis Tipis Nichairin, Wilda; Mita, Soraya Ratnawulan
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.45900

Abstract

Obat tradisional merupakan bahan-bahan atau campuran bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, dan mineral yang telah turun temurun digunakan untuk pengobatan. Karena penggunaannya yang banyak diminati konsumen, hal ini dimanfaatkan oleh kelompok atau individu dengan memasukkan Bahan Kimia Obat (BKO) ke dalam sediaan obat tradisional untuk mempercepat efek terapeutik atau khasiat yang diklaim. Efek samping yang serius dapat terjadi dengan penggunaan jamu yang mengandung BKO yang tidak terkendali. Artikel ini bertujuan untuk merangkum dan mengulas cara untuk identifikasi BKO tersebut dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Penulis melakukan studi literatur melalui database elektronik seperti Google Scholar, NCBI, Science Direct, PubMed, Researchgate, dan sumber elektronik lainnya. Studi literatur dilakukan terhadap beberapa jurnal penelitian nasional dan internasional yang dipublikasi dalam sepuluh tahun terakhir (2013-2023). Obat tradisional yang sering dicemari BKO umumnya jamu untuk pelangsing, diabetes, pegal linu, asma, dan peningkat stamina, dengan BKO yang umum ditemukan dalam sediaan obat tradisional yaitu parasetamol, natrium diklofenak, antalgin, prednison, fenilbutason, sibutramin hidroklorida, glibenklamid, piroksikam, teofilin, deksametason, dan sildenafil sitrat. Obat tradisional dianalisis dengan metode KLT.
REVIEW ARTIKEL: STUDI KOMPARASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PHOSPHATE BINDER PADA PENGOBATAN PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) Guspira, Yunitasya; Syah, Insan Sunan Kurniawan
Farmaka Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i2.46876

Abstract

Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis merupakan penyakit yang mengalami kenaikan jumlah kasus serta dianggap permasalahan yang gawat. Kondisi CKD menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit seperti hiperfosfatemia. Hiperfosfatemia didefinisikan sebagai gangguan metabolisme mineral pada pasien CKD. Fosfat adalah jenis mineral yang sering terganggu metabolismenya diantara komplikasi CKD yang perlu menjadi perhatian khusus karena berperan tinggi pada morbiditas dan mortalitas. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah perbandingan efektivitas adanya terapi tambahan phosphate binder ke dalam regimen pengobatan CKD. Metode yang digunakan adalah penelaahan beberapa literatur melalui Google Scholar dan Pubmed mengenai literatur atau tulisan yang menjelaskan penambahan phosphate binder pada pasien CKD. Disimpulkan bahwasanya phosphate binder yang paling efektif dengan dilihat dari penurunan kadar fosfat yang signifikan yaitu sevelamer, namun tetap dikembalikan terhadap kondisi individu.Kata Kunci: Chronic Kidney Disease (CKD), hiperfosfatemia, phosphate binder

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue