cover
Contact Name
Rizky Mulya Sampurno
Contact Email
rizky.mulya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
j.teknotan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian
ISSN : 19781067     EISSN : 25286285     DOI : -
Core Subject : Education,
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian, merupakan publikasi ilmiah kerjasama antara Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (FTIP UNPAD) dengan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA) Cabang Bandung. Jurnal ini diterbitkan 2 kali setahun (1 Volume, 2 Nomor penerbitan) dalam upaya menyebarluaskan ide-ide konseptual dan/atau hasil-hasil penelitian dan penerapan serta pengembangannya dalam bidang ilmu keteknikan dan teknologi pertanian dalam arti luas (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan), khususnya pertanian tropika dan ilmu hayati. Penulis naskah/artikel jurnal adalah civitas academika, peneliti dan praktisi serta anggota perhimpunan/organisasi professional dari semua disiplin dan terbuka bagi umum yang menaruh minat dalam bidang ilmu terkait.
Arjuna Subject : -
Articles 398 Documents
KAJIAN KUALITAS AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI CITARUM HULU DENGAN PENDEKATAN ANALISIS ISOTOP Ari Sufyandi
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 2 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan sungai Citarum dan anak sungainya di wilayah hulu sangat penting bagi kehidupan dan  penghidupan penduduk yang berada disekitar cekunganBandung. Akan tetapi dengan perkembangan industri yang sangat pesat dan pertanian yang sangat intensif  di wilayah tersebut, kondisi sumber air Citarum dan anak sungainya telah mengalami degradasi baik kualitas maupun kuantitas. Menyadari akan keadaan tersebut di atas, diperlukan upaya pengelolaan DAS Citarum Hulu dengan baik.Hasil penelitian ini merupakan identifikasi masalah yang berkaitan dengan kualitas air sungai Citarum, sebagai salah satu komponen untuk yang dapat dijadikan dasar untuk pengelolaan DAS Citarum. Pada penelitian tersebut, kualitas air dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis Isotop. Pada pendekatan tersebut nisbah isotop hidrogen dan oksigen, dan belerang (sulfur) di dalam air digunakan sebagai unsur penilai untuk menelusuri aliran material di alam/lingkungan. Bila isotop suatu unsur tertentu stabil akan mengidentifikasikan siklus geokimia suatu senyawa dan memungkinkan untuk mengetahui sumber polutan. Lebih lanjut, komposisi isotop senyawa air akan bermanfaat sebagai alat untuk menelusuri pergerakan air pada suatu ekosistem, dan dengan isotop belerang dapat mengindikasikan polutan yang dilepaskan dari bahan bakar fosil dan berbagai produknya. Sehingga dengan pendekatan analisis tersebut secara keseluruhan dapat mengidentifikasikan pengaruh penggunaan lahan pada wilayah penelitian terhadap kualitas air di sungai Citarum.Hasil penilaian kualitas air berdasarkan isotop sulfur (belerang) menunjukan bahwa terdapat tiga sumber utama  polutan di setiap tata guna lahan yang berbeda menurut ketinggian tempat, yaitu :pupuk yang berasal dari kebun sayur pada zona ketinggian >1000 m dplpupuk  yang berasal dari sawah pada zona ketinggian <1000 m dpllimbah industri yang berasal dari dataranBandung Sebaran polutan yang berasal dari pupuk (kebun sayur & sawah) hampir menjangkau sebagian besar wilayah cekunganBandung, sedangkan sebaran polutan dari limbah industri hanya bersifat lokal, akan tetapi memberikan dampak yang sangat luas. Berdasarkan data isotop sulfur, air limbah domestik yang berasal darikotaBandungtidak berpengaruh nyata terhadap kualitas air sungai Citarum. Berdasarkan hasil analisis tersebut,  untuk tujuan pengelolaan sumber air di sungai Citarum agar sumber airnya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan diperlukan penanganan segera pada air limbah yang berasal dari limbah industri dan pengurangan penggunakan pupuk anorganik di lahan sawah dan kebun sayuran. Kata kunci: Isotop, Polutan
PENGARUH IMBANGAN TEPUNG RASI (Manihot utilissima) DAN TERIGU TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK TEPUNG SIAP PAKAI (CAKE MIX) Marleen Sunyoto; Tjutju Supriatin Achyar; Fajar Maully Pratama
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan tepung rasi dalam pembuatan tepung siap pakai belum dilakukan sehingga untuk meningkatkan kegunaan tepung rasi sebagai sumber pangan perlu diketahui batas maksimal penambahan tepung rasi dalam pembuatan tepung siap pakai untuk dapat menghasilkan produk olahan yang baik dan dapat diterima konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan imbangan yang tepat antara tepung rasi dan terigu yang digunakan dalam pembuatan tepung siap pakai sehingga dihasilkan tepung siap pakai dengan karakteristik yang baik dan bila diaplikasikan pada produk pemanggangan tertentu menghasilkan produk yang disukai oleh panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 6 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari imbangan tepung rasi dan terigu, yaitu 35:65, 45:55, 55:45 dan 65:35. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan tepung rasi dan terigu 55:45 memberikan hasil yang terbaik dengan kandungan kadar air 11,58%, daya serap air 34,40%, pengembangan 142,98%, kadar serat kasar 4,66%, kadar protein 5,76%, berwarna kuning cerah, ukuran partikel ≤ 60 mesh dan memiliki sifat organoleptik (rasa, warna, tekstur dan kenampakan keseluruhan) yang disukai oleh panelis. Kata kunci: Tepung rasi, Terigu, Tepung siap pakai
PEMANFAATAN EKSTRAK KENCUR DAN SEREH DAPUR UNTUK MENINGKATKAN DAYA TAHAN SIMPAN TOMAT SEGAR KULTIVAR MARTHA (Lycopersicum esculentum Mill.) YANG DISIMPAN PADA SUHU RUANG Tensiska -; Marsetio -; Noviandi Riawan
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tomat adalah jenis sayuran yang mudah rusak dan daya tahan simpan yang rendah, terutama karena mengalami kerusakan akibat kontaminasi mikroba. Ekstrak rempah-rempah seperti ekstrak kencur dan sereh dapur dengan kandungan minyak atsiri dan oleoresin yang berfungsi sebagai senyawa antimikroba mampu menahan kontaminasi mikroba serta sekaligus meningkatkan daya tahan simpan tomat segar. Penelitian dilakukan pada temperatur kamar dengan metode deskriptif eksplanatori, di mana dilakukan tiga pengamatan, yaitu:1) tomat segar  dicelupkan ke dalam ekstrak kencur, 2) ke dalam ekstrakt sereh dapur, masing-masing selama 30 menit, dan 3) tanpa pencelupan sebagai kontrol. Sedang variabel yang diamati adalah total mikroba, luas kerusakan permukaan, tekstur, kadar air, dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukan bahwa tomat dengan perlakuan pencelupan dalam ekstrak kencur memiliki daya tahan simpan yang terbaik yaitu selama 17 hari, sedangkan tomat dengan perlakuan pencelupan dalam ekstrak sereh dapur dan kontrol masing-masing memiliki daya tahan simpan selama 15 dan 12 hari. Tomat segar dengan pencelupan ke dalam ekstrak kencur yang disimpan selama 17 hari memiliki kadar air sebesar 95,7%, tekstur sebesar 14,8 mm/det/g, total mikroba 4,2x105 koloni/ml, dan total padatan terlarut sebesar 5,8° brix. Kata kunci : Tomat, Ekstrak kencur, Daya tahan simpan
KARAKTERISTIK CREAM CRACKERS BERSERAT TINGGI YANG DIBUAT DENGAN PERBANDINGAN JUMLAH TERIGU DAN BEKATUL Marleen Herudiyanto; Efri Mardawati; Herlina Marta
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cream crackers adalah sejenis biskuit yang dibuat dari adonan keras (stiff dough), melalui proses fermentasi oleh khamir Saccharomyces cerevisiae, berbentuk pipih dengan rasa asin, renyah dan tekstur dalam berlapis. Bekatul adalah hasil ikutan penggilingan gabah yang produksinya melimpah dan mengandung serat makanan cukup tinggi (13%) serta zat gizi lainnya. Kandungan protein konsentrat bekatul cocok sebagai campuran untuk jenis makanan padat.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan perbandingan jumlah terigu dan bekatul yang tepat sehingga dihasilkan cream crackers berserat tinggi  dengan karakteristik yang baik dan akan disukai panelis.Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan perbandingan terigu dan bekatul telah digunakan yaitu: 100:0, 95:5, 90:10, 85:15 dan  80:20 (b/b).Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbandingan jumlah terigu dan bekatul sebesar 95:5 menghasilkan cream crackers berserta tinggi dengan karakteristik yang baik menurut SNI no 01-2973 ( kadar protein 12,16%, Kadar abu 1,45%, kadar lemak 19,38%, nilai kerenyahan 0,52mm/10 detik/100g) kecuali kadar air 5,13% (diatas standar), secara organoleptik dapat diterima, serta memiliki kadar serat 2.18%, lebih tinggi dibandingkan cream crackers tanpa penambahan bekatul. Kata kunci: Bekatul, Crem crackers, Serat makanan.
STUDI KARAKTERISTIK PATI UBI JALAR MODIFIKASI GANDA METODE CROSS LINKING-ASETAT DAN APLIKASINYA DALAM PEMBUATAN SAUS CABAI Mira Miranti; Tita Rialita; Fitri Filianty
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik pati ubi jalar modifikasi ganda metode cross-linking-asetat dan aplikasinya pada saus cabai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian Deskriptif. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap yaitu: pembuatan pati dari ubi jalar, pembuatan pati modifikasi ganda crosslinking-asetat dan pembuatan saus cabai dengan 2 perlakuan (penambahan pati alami dan pati modifikasi ganda cross-linking-asetat) dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pati ubi jalar alami memiliki rendemen sebesar 12,7 %, kadar air 9,70 %, kadar abu 0,45 %, suhu gelatinisasi 76,90 oC, viskositas maksimum 2.233,6 cp dan konsistensi amilografi 646,4 cp. Pati ubi jalar modifikasi ganda crosslinking-asetat memiliki kadar air 8,00 %, kadar abu 0,44 %, persentase asetilasi 2,19 %,nilai derajat substitusinya (DS) 0,08, suhu gelatinisasi79,45oC, viskositas maksimum 4.564,1 cp dan konsistensi amilografi 1.571,2 cp. Viskositas puncak dan viskositas balik pada kedua jenis pati belum tercapai. Warna saus cabai yang dihasilkan dari kedua jenis pati tersebut berwarna merah, aroma saus cabai saus cabai agak kuat, kekentalan yang cukup. Viskositas saus cabai yang menggunakan pati modifikasi ganda crosslinking-asetat (3900 cp) memiliki viskositas yang lebih tinggi dibandingkan saus cabai yang menggunakan pati alami (2150 cp) dan terjadi penurunan viskositas selama penyimpanan. Total padatan terlarut saus cabai yang menggunakan pati modifikasi ganda crosslinking-asetat (35,20 obrix) lebih rendah dibandingkan saus cabai yang menggunakan pati alami (39,70 obrix) dan terjadi terjadi peningkatan total padatan terlarut selama penyimpanan. Kestabilan saus cabai baik yang menggunakan kedua jenis pati tersebut tidak berubah selama penyimpanan 30 hari.Kata kunci: Pati alami, Pati modifikasi ganda crosslingking-asetat, Saus cabe
ANALISIS TEKNIK DAN MODIFIKASI MESIN PENYOSOH SORGUM TEP-1 Asep Yusuf
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mesin Penyosoh Sorgum TEP-01 hasil rancang bangun Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian masih memiliki kelemahan, yaitu: konstruksi mesin masih belum baik karena masih berbentuk model, hasil penyosohan masih banyak yang pecah, kapasitas mesin masih kecil yaitu 4 kg/jam dan proses penyosohan belum kontinyu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rekayasa untuk memodifikasi model TEP-1 terkait dengan poros penyosoh, sabuk puli, dan komponen penumpu, dan menguji kinerja mesin terkait dengan kapasitas penyosohan, daya yang dibutuhkan, dan rendemennya. Hasil analisis teknik, menunjukkan bahwa komponen-komponen mesin, yaitu: poros, puli-sabuk dan bantalan telah memenuhi kelayakan teknik sehingga layak dan aman untuk digunakan. Sedang hasil pengujian mesin memperlihatkan bahwa data kapasitas efektif mesin 12 kg/ jam dengan kebutuhan daya 356 W, dan dengan rendemen rata-rata 68,85 % untuk saringan 1 mm dan 82,1 % untuk saringan 2 mm. Kata kunci: Sorgum, Mesin Penyosoh, analisis teknik, uji Kinerja
SIFAT REOLOGI DAN TEKSTUR GEL SUSU ASAM SEBAGAI AKIBAT VARIASI DALAM KADAR LEMAK DAN PERLAKUAN PEMANASAN Robi Andoyo
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gel susu fermentasi dibuat dari bubuk kasein dan whey protein yang direkonstitusi dengan kadar lemak divariasikan 0, 2 dan 4 % dipanaskan dengan tiga taraf kombinasi suhu-waktu yang berbeda yaitu 760C / 0 detik, 85 0C /0 detik dan 850C /20 menit, kemudian di asamkan dengan menggunakan glucono-d-lactone (GDL) pada 35°C selama 5 jam. Sifat reologi dan tekstur dari gel yang terbentuk kemudian di analisis dengan menggunakan dynamic low-amplitude oscillatory rheology dan texture profile analyis (TPA).Pemberian perlakuan panas menyebabkan peningkatan derajat whey protein terdenaturasi cenderung meningkatkan nilai Loss angle (δ) yang diukur pada frekuensi 1 Hz dan sebaliknya dengan meningkatnya kadar lemak dari sistem mengakibatkan nilai Loss angle (δ) semakin kecil. Meningkatnya derajat whey protein terdenaturasi akibat perlakuan  pemanasan juga mengakibatkan naiknya nilai storage modulus (G’) pada semua taraf kadar lemak sedangkan nilai G’ sedikit mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya kadar lemak pada sampel. Pengukuran TPA pada sampel menunjukan nilai kekerasan, fracturability, adhesivitas dan kohesivitas mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya derajat denaturasi whey protein namun pada pemanasan 850C /20 menit, semua parameter tersebut mengalami penurunan. Peningkatan kadar lemak sebesar 2 dan 4 % menyebabkan penurunan nilai kekerasan, fracturability, adhesivitas dan kohesivitas pada semua perlakuan pemanasan yang diberikan kecuali pada pemanasan 850C /20 menit. Kata kunci : Lemak, Pemanasan, Rheologi, Texture profile analysis
PENGARUH PENAMBAHAN AGAR TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK SUSU KAMBING YANG DIFERMENTASI OLEH Lactobacillus casei galur shirota Pramono U. u; Cucu S. Achyar; Marsetio -
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 1, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Susu Kambing yang difermentasi oleh Lactobacillus casei galur Shirota (Susu kasei dari Susu kambing) adalah produk susu fermentasi yang merupakan produk baru hasil pemanfaatan susu kambing. Kualitas susu kasei dari susu kambing masih rendah karena adanya permasalahan antara lain permukaan yang tidak seragam, sineresis dan adanya sejumlah air yang tidak terperangkap pada sistem gel (koagulum) dan membentuk genangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi penggunaan agar yang tepat dalam pembuatan susu kasei dari susu kambing sehingga diperoleh produk dengan karakteristik yang baik dan disukai panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dan diulang 5 kali. Perlakuan penambahan agar adalah A (0,2%), B (0,3%), C (0,4%), D (0,5%), dan E (0,6%). Kriteria pengamatan yang dilakukan terdiri dari pengamatan utama dan pengamatan penunjang. Pengamatan utama terdiri dari pengamatan terhadap sifat fisik (kestabilan selama 15 hari penyimpanan pada suhu 5-10°C dan kekentalan) dan pengamatan terhadap sifat organoleptik (kesukaan terhadap warna, aroma, rasa, kekentalan). Pengamatan penunjang terdiri dari pengamatan karakteristik susu (kadar lemak, densitas, total padatan terlarut), pengamatan sifat kimia (pH dan total asam tertitrasi) dan total bakteri asam laktat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan agar memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap kestabilan dan kekentalan susu kasei dari susu kambing. Perlakuan penambahan agar yang menghasilkan karakteristik yang baik adalah 0,5% dan 0,6%. Perlakuan penambahan agar sebesar 0,5% menghasilkan karakteristik yang baik yaitu memiliki karakteristik fisik berupa nilai kestabilan 100% (stabil) dan nilai viskositas 837 cP; karakteristik organoleptik berupa : skor kesukaan terhadap warna 3,97 (biasa), skor kesukaan terhadap aroma 3,39 (biasa), skor kesukaan terhadap kekentalan 3,47 (biasa); karakteristik kimia berupa : nilai pH 3,92, total bakteri asam laktat 4,6 x 108, dan kadar asam laktat 1,75% (berasam tinggi) namun memiliki karakteristik kesukaan terhadap rasa yang tidak disukai (nilai 2,60). Perlakuan penambahan agar sebesar 0,6% menghasilkan karakteristik yang baik yaitu memiliki karakteristik fisik berupa nilai kestabilan 100% (stabil) dan nilai viskositas 949 cP; karakteristik organoleptik berupa : skor kesukaan terhadap warna 3,98 (biasa), skor kesukaan terhadap aroma 3,35 (biasa), skor kesukaan terhadap kekentalan 3,41 (biasa); karakteristik kimia berupa : nilai pH 3,90, total bakteri asam laktat 3,4 x 108, dan kadar asam laktat 1,79% (berasam tinggi) namun memiliki karakteristik kesukaan terhadap rasa yang tidak disukai (nilai 2,58). Kata kunci: Fermentasi, Lactobacillus casei shirota strain, Susu kambing, Stabilitas, Viskositas
UJI KINERJA KOMPOR BERTEKANAN DENGAN MENGGUNAKAN MINYAK NABATI ASAL TANAMAN PERKEBUNAN Bambang Prastowo; Srimulato -; Abi Dwi Hastono; Martin Kratzeisen
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompor bertekanan (Protos-1) belum diuji pengoperasiannya menggunakan minyak nabati di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kinerja kompor dan mengevaluasi jenis bahan bakar nabati yang sesuai. Metode deskriptif analisis digunakan dengan mengacu pada penggunaan tiga jenis minyak nabati tanaman perkebunan, yaitu kelapa, kelapa sawit dan jarak pagar. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah residu pembakaran spesifik dalam vaporator kompor dengan bahan bakar minyak jarak pagar, minyak kelapa dan minyak kelapa sawit berturut-turut adalah 0,73 - 0,88; 0,13 - 0,23 dan 0,32 - 0,52 g/kg. Persentase residu carbon Conradson pada minyak kelapa secara umum lebih rendah daripada minyak jarak pagar dan minyak sawit, yaitu berturut-turut  0,17 - 0,21; 0,22 - 0,32 dan 0,22 - 0,31 g/kg. Kandungan residu carbon dan pospor dalam minyak berkaitan dengan residu dalam vaporator. Daya yang dihasilkan dari kompor dengan minyak jarak pagar dan minyak kelapa sawit tidak berbeda, yaitu rata-rata 2,765 dan 2,725 kW, namun berbeda pada minyak kelapa, yaitu sekitar 2,98 kW. Konsumsi bahan bakar masing-masing adalah 0,281 - 0,315 kg/jam (minyak kelapa), 0,266 - 0,287 kg/jam (minyak jarak pagar) dan 0,270 - 0,275 kg/jam (minyak kelapa sawit). Kebisingan kompor terukur 70,2 dB dan masih berada di bawah ambang standar maksimum yang diijinkan yaitu 90 dB. Secara umum kinerja kompor pada penggunaan ketiga bahan bakar nabati tersebut adalah sama baiknya. Kata kunci : Bahan bakar nabati, Minyak kelapa, Minyak kelapa sawit, Minyak jarak pagar, Kompor bertekanan
KARAKTERISTIK TEKNIS DAN OPTIMISASI TENAGA SURYA HIBRIDA UNTUK PENGERINGAN TEMBAKAU VIRGINIA Cahyawan Catur Edi Margana; Efen dy; Eko Basuki
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 6, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan model alat pengering tenaga surya hibrida (kombinasi energi dari panas surya, sel photovoltaik, batang tembakau kering, dan LPG) dilakukan untuk mereduksi ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak tanah dalam sistem pengeringan konvensional di sentra produksi tembakau Virginia di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Metode rekayasa dan analisis dimensi melalui metode similitude digunakan untuk memformulasi persamaan pengeringan. Hasil perancangan adalah sebuah protipe model alat pengering yang terdiri dari ruang pengering, kolektor energi surya termal, dapur pemanas sekam, flue dengan katup automasi, panel automasi, dan kolektor photovoltaik sebagai sumber energi listrik pada sistem automasi, dan ventilasi dengan pengaturan humidistat. Hasil analisis dimensi menunjukan bahwa proses pengeringan tembakau dapat dilaksanakan, baik untuk perancangan protipe maupun untuk scale up, melalui persamaan: dimana R2 = 0,8005 dan SEE = 263739 dengan  komposisi penggunaan energi panas surya 17,15 %, sekam 38,008 %, batang tembakau kering 15,22 % dan LPG  29,61 %. Performansi konversi energi surya ke energi listrik khusus untuk suplai energi berturut-turut pada kondisi cerah-berawan antara pk 07.00-18.00 menghasilkan daya sebesar: 1) 251,82 [Wh] dengan efisiensi 13.5 %r pada loading mulai pk 18.00 ke sistem automasi; 2) 244,52 [Wj] dengan efisiensi 55,6 % pada loading mulai pk 11.00; dan 3) 244,49 [Wj] dengan efisiensi 62,6 % pada  loading  mulai jam 10.00. Berdasarkan optimisasi ekonomi, diperoleh keuntungan bersih maksimum Rp. 2.007.411,- dengan berat optimal 2.6 ton/pengovenan, atau Rp . 5.661.696,- dengan berat optimal 4.83 ton pada kisaran harga tembakau krosok tahun 2010 antara Rp. 27-29.000,-/kg (grade harga tertinggi Rp. 32.000,-kg). Kerugian terjadi bila harga krosok tembakau kurang dari Rp. 15.000,-/kg. Kata kunci: sistem pengeringan tembakau konvensional, pengering tenaga surya hibrida, konversi energi surya

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025 Vol 19, No 2 (2025): TEKNOTAN, Agustus 2025 Vol 19, No 1 (2025): TEKNOTAN, April 2025 Vol 18, No 3 (2024): TEKNOTAN, Desember 2024 Vol 18, No 2 (2024): TEKNOTAN, Agustus 2024 Vol 18, No 1 (2024): TEKNOTAN, April 2024 Vol 17, No 3 (2023): TEKNOTAN, Desember 2023 Vol 17, No 2 (2023): TEKNOTAN, Agustus 2023 Vol 17, No 1 (2023): TEKNOTAN, April 2023 Vol 16, No 3 (2022): TEKNOTAN, Desember 2022 Vol 16, No 2 (2022): TEKNOTAN, Agustus 2022 Vol 16, No 1 (2022): TEKNOTAN, April 2022 Vol 15, No 2 (2021): TEKNOTAN, Desember 2021 Vol 15, No 1 (2021): TEKNOTAN, Agustus 2021 Vol 14, No 2 (2020): TEKNOTAN, Desember 2020 Vol 14, No 1 (2020): TEKNOTAN, Agustus 2020 Vol 13, No 2 (2019): TEKNOTAN, Desember 2019 Vol 13, No 1 (2019): TEKNOTAN, Agustus 2019 Vol 12, No 2 (2018): TEKNOTAN, Desember 2018 Vol 12, No 1 (2018): TEKNOTAN, April 2018 Vol 11, No 2 (2017): TEKNOTAN, Agustus 2017 Vol 11, No 1 (2017): TEKNOTAN, April 2017 Vol 10, No 2 (2016): TEKNOTAN, November 2016 Vol 10, No 1 (2016): TEKNOTAN, Agustus 2016 Vol 9, No 3 (2015): Teknotan, September 2015 Vol 9, No 1 (2015): Teknotan, Januari 2015 Vol 8, No 2 (2014) Vol 8, No 1 (2014) Vol 7, No 3 (2013) Vol 7, No 2 (2013) Vol 7, No 1 (2013) Vol 6, No 3 (2012) Vol 6, No 2 (2012) Vol 6, No 1 (2012) Vol 5, No 3 (2011) Vol 5, No 2 (2011) Vol 5, No 1 (2011) Vol 4, No 2 (2010) Vol 4, No 1 (2010) Vol 2, No 3 (2008) Vol 2, No 2 (2008) Vol 2, No 1 (2008) Vol 1, No 3 (2007) Vol 1, No 2 (2007) Vol 1, No 1 (2007) More Issue