cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 167 Documents
Instrumen Evaluasi Non-Tes dalam Penilaian Hasil Belajar Ranah Afektif dan Psikomotorik Rinto Hasiholan Hutapea
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.94

Abstract

Abstact: The Non-test Evaluation Instrument That Is Ignored in the Assessment of Affective and Psychomotor domains. This study aims to see the description of Christian Religious Education teachers in using non-test evaluation instruments in evaluating the learning outcomes of the affective and psychomotor domains of students. The method used in this research is survey method and literature study. Where it is explained that to measure and assess the learning outcomes of the affective and psychomotor domains, the right type of instrument to use is the non-test. The findings of this study explain that Christian Education teachers in SMP Negeri 5 and SMP Negeri 20 Kota Kupang are still low in using non-test evaluation instruments. The indicator is that teachers have difficulty using non-test evaluation instruments, and do not have time to prepare non-test evaluation instruments in evaluating the affective and psychomotor domains of students.Abstrak: Instrumen Evaluasi Non-tes yang Terabaikan Dalam Penilaian Ranah Afektif dan Psikomotorik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat gambaran guru-guru Pendidikan Agama Kristen dalam menggunakan instrumen evaluasi non-tes dalam penilaian hasil belajar ranah afektif dan psikomotorik peserta didik.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan studi pustaka.Dimana dijelaskan bahwa untuk mengukur dan menilai hasil belajar ranah afektif dan psikomotorik, jenis instrumen yang tepat digunakan adalah non-tes. Temuan hasil penelitian ini menerangkan bahwa guru-guru Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 20 Kota Kupang masih rendah dalam menggunakan instrumen evaluasi non-tes. Indikatornya adalah guru-guru meng-alami kesulitan menggunakan instrumen evaluasi non-tes, serta tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan instrumen evaluasi non-tes dalam penilaian ranah afektif dan psikomotorik peserta didik.
Kosmopatriotisme Digital: Tantangannya dan Prospek Pendidikan Berdimensi Kosmopolitanisme Leonard Chrysostomos Epafras
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.250

Abstract

The present article offered an analytical framework to evaluate critically the current phenomenon in Indonesia revolved on the patriotism claim, in particular religious patriotism, in which the formation of the narrative is adopting cosmopolitan imagination, metaphors, and presumptions. The narrative revolved on religious and cultural purity, and nationalism, appeared as cosmopolitanism through digital signifiers and its global networking. This framework might overcome the persistent dichotomies such as “West and East,” “Cosmopolitanism and Nationalism,” or “Nusantara and Transnational.” Further elaboration might reveal complex exchange, overlapping and synthesizing narratives undergone within our society. Three cases are the focus of the present investigation in building the cosmopatriotism’s argument, i.e. Islamism discourse, pro-Israel Christians, and historical comic books by the Bali and Jakarta-based publishers, which manifested the historical burdens among Hindu and Buddhist communities in Indonesia. It is ultimately offered an insight the significance of considering the cases at hands in order to seek cosmopolitan dimension and relevant education of citizenship and netizenship. AbstrakDalam artikel ini penulis menawarkan bingkai analisa dalam melihat secara kritis gejala yang sedang berkembang di Indonesia yaitu menguatnya semacam klaim patriotisme, khususnya patriotisme agama, sementara pembentukan narasinya mengadopsi imajinasi, metafora, dan asumsi-asumsi kosmopolitan. Narasi yang dikembangkan berkisar pada wacana kemurnian agama, budaya, dan nasionalisme, namun diungkapan dalam rupa yang kosmopolit melalui penanda-penanda digital dan jejaring globalnya. Bingkai yang disebut sebagai kosmopatriotisme ini membebaskan diri dari dikotomi-dikotomi, mulai dari yang klasik namun gigih semacam “Barat dan Timur,” hingga yang lebih kekinian seperti “Kosmopolitanisme dan Nasionalisme,” atau “Nusantara and Transnasional.” Sebab telisikan yang lebih dalam menunjukkan arus ulang alik, tumpang tindih dan sintesa terus menerus di tengah masyarakat. Tiga rumpun contoh akan menjadi perhatian dalam membangun argumentasi kosmopatriotisme, yaitu wacana Islamisme, kelompok Kristen pro-Israel, dan inisiatif komik-komik sejarah terbitan penerbit Bali dan Jakarta, yang mencerminkan beban sejarah komunitas Hindu Bali dan Buddha di Indonesia. Pada akhirnya diskusi dalam artikel ini menyarankan pentingnya memberi perhatian kritis pada anggitan-anggitan tersebut di atas dalam pencarian model pendidikan kewargaan dan kewarganetan yang berdimensi kosmopolitan dan yang lebih relevan.
Rahim Mandul Allah: Suatu Konstruksi Imajinatif yang Menginterpretasi Realitas Chaotic Penciptaan bagi Pengalaman Perempuan Mandul Risye Yulika Rieuwpassa
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.304

Abstract

This paper proposes a constructive imagination that sees the world as an infertile womb of God in the context of creation. The chaosmic dimension of Catherine Keller gives positive fluctuations for nihil and chaos that is often interpreted as evil and ugliness. My thesis is that the chaosmic contributes to the imagination’s positive affirmation of infertility and God’s infertility. This paper attended purpose to give a new lens to the reality of Barren women and make approving for barren women in the social community. The method was a descriptive qualitative method with a literary study approach. Finally, this paper invites the reader to accept barren and childfree women and see the world as a home and house in a diversity of chaotic.Tulisan ini mengusulkan sebuah imajinasi konstruktif yang melihat dunia sebagai rahim mandul Allah dalam konteks penciptaan. Dimensi chaosmic dari Catherine Keller menghasilkan fluktuasi positif bagi nihil dan chaos yang sering ditafsir sebagai kejahatan dan keburukan. Penulis berpendapat bahwa Pemikiran tersebut turut memberi ruang imajinasi untuk mengafirmasi kemandulan secara positif dan menampilkan kemandulan Allah. Penulisan ini bertujuan untuk memberi lensa baru dalam melihat realitas kemandulan perempuan, serta memberi ruang bagi perempuan mandul dalam komunitas masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi literatur. Pada akhirnya, Konstruksi dalam tulisan ini menghasilkan undangan bagi pembaca untuk menerima perempuan mandul dan perempuan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Serta, melihat dunia sebagai rumah bersama dalam kebersamaan chaotic. 
Memahami dan Menerapkan Prinsip Kepemimpinan Orang Muda Menurut 1 Timotius 4:12 bagi Mahasiswa Teologi Desti Samarenna; Harls Evan R. Siahaan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.60

Abstract

Leadership is mostly required in church management. There are many leadership characteristics in the Bible that can be used as leadership patterns in the church. This article is a literature study with a qualitative approach to the text of 1 Timothy 4:12 concerning the leadership of a young person, which aims to encourage students to understand and apply the pattern of leadership referred to in the text of 1 Timothy 4:12. The method used is descriptive analysis in the text of 1 Timothy 4:12, to provide a clear picture and understanding of the principles of the leadership of young people. In addition, descriptive methods are also used to determine students' understanding of the principles of leadership according to the text, as well as the level of application in life and service. In conclusion, students understand the principle of leadership in 1 Timothy 4:12, which is about giving an example, but not all students are ready and able to do it.AbstrakKepemimpinan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam manajemen gereja. Ada banyak karakteristik kepemimpinan dalam Alkitab yang dapat dijadikan pola kepemimpinan dalam gereja. Artikel ini merupakan kajian literatur dengan pendekatan kualitatif terhadap teks 1 Timotius 4:12 tentang kepemimpinan seorang muda, yang bertujuan untuk mendorong mahasiswa memahami dan menerapkan pola kepemimpianan yang disebut dalam teks 1 Timotius 4:12 tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif analasis pada teks 1 Timotius 4:12, untuk memberikan gambaran dan pemahaman yang jelas tentang prinsip kepemimpinan orang muda. Selain itu, metode deskriptif juga digunakan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa tentang prinsip kepemimpinan menurut teks tersebut, serta tingkat penerapannya dalam kehidupan dan pelayanannya. Kesimpulannya, mahasiswa memahami prinsip kepemimpinan dalam 1 Timotius 4:12, yaitu tentang memberikan teladan, namun tidak semua mahasiswa siap dan mampu melakukannya.
Dampak Injil Bagi Transformasi Spiritual Dan Sosial David Eko Setiawan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.78

Abstract

Abstract: The presence of the Gospel in the midst of human life is very interesting subject to study. Humans with all the complexity of their needs turn out to need something that can provide absolute answers. Abraham H. Marslow showed that in addition to material needs, humans also have social and spiritual needs. Through the gospel the needs are answered. Even the gospel can have a very significant impact on everyone who accepts it. The purpose of this research is to explain the impact of the gospel on spiritual and social transformation. The method used in this research is the literature study methode. The conclusion of  this research is that the gospel was able to transform the humans' spiritual and social lives.Abstraksi: Kehadiran Injil ditengah-tengah kehidupan manusia sangatlah menarik untuk ditelaah. Manusia dengan segala kompleksitas kebutuhannya ternyata membutuhkan sesuatu yang dapat memberikan jawaban secara utuh. Abraham H.Maslow menunjukkan bahwa selain kebutuhan yang bersifat materi, manusia juga memiliki kebutuhan yang bersifat sosial dan spiritual. Melalui Injil yang diberitakan kebutuhan-kebutuhan tersebut terjawab. Bahkan injil mampu memberikan dampak yang sangat signifikan bagi setiap orang yang mau menerimanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dampak Injil bagi transformasi spiritual dan sosial Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi literatur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah  bahwa injil mampu untuk mentransformasi kehidupan spiritual dan sosial manusia.
Uang Panai Pada Suku Bugis Makassar dan Implikasinya Bagi Orang Kristen Eliyanata Ratuk Rammang; Buce Zeth Tuhumury
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.246

Abstract

The purpose of this paper is to find out what the panai money wedding dowry tradition is and to know the biblical perspective on the Bugis panai money panai wedding dowry tradition and to know the implications of the panai money panai wedding dowry tradition for Christians today in Congko Village, Marioriwawo District, Soppeng Regency. The research method used in writing this thesis is to use qualitative methods, namely interviews that are managed by qualitative phenomenology. The conclusions of this study are: 1) a marriage dowry is a common thing. In the Bible, there is no prohibition on giving a dowry of marriage but also no commandment to give a dowry, so in this case, there is no absolute condition regarding a dowry of marriage; 2) one of the wedding dowry traditions is the panai money tradition which is characteristic of the Bugis people. Panai money itself is a form of appreciation to Bugis women; 3) there are differences in the implementation of the panai money tradition between Muslim Bugis and Christian Bugis; 4) the government, the church, traditional leaders, and the community all have nothing against the implementation of the panai money tradition.Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui apa itu tradisi mahar pernikahan uang panai dan untuk mengetahui perspektif Alkitab terhadap tradisi mahar pernikahan uang panai Suku Bugis serta mengetahui implikasi dari tradisi mahar pernikahan uang panai bagi orang Kristen pada masa kini di Desa Congko, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif yaitu wawancara yang dikelola secara fenomenologi kualitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) mahar pernikahan merupakan suatu hal yang biasa dijumpai. Dalam Alkitab tidak ada larangan untuk memberikan mahar pernikahan tetapi juga tidak ada perintah untuk memberikan mahar, sehingga dalam hal ini tidak ada syarat mutlak terkait mahar pernikahan; 2) tradisi mahar pernikahan yakni memberikan uang panai merupakan salah satu ciri khas Orang Bugis. Tradisi ini merupakan bentuk penghargaan kepada wanita Bugis.; 3) ada perbedaan pelaksanaan tradisi uang panai antara orang Bugis Islam dan orang Bugis Kristen; 4) pemerintah, gereja, tokoh-tokoh adat, dan masyarakat semua tidak ada yang menentang pelaksanaan tradisi uang panai.
Evaluasi Kritis Penggunaan Membangun Jemaat Dari Perspektif Teologi Kontekstual Oktoviandy Oktoviandy
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.20

Abstract

Using a qualitative approach we researched and then evaluated the use model of the book Building a Church in the Toraja Church in the South Sangalla Klasis by using a perspective on contextual theology. In this study we found 2 (two) models of using the Church Building book used by the servants there, namely the translation model and the post-translation model. We evaluate these two models as a model of use that is not sufficient to be able to bring the church to the celebration of God's great presence and work that surrounds all. We evaluate Both of these models is still very narrow in providing space for the development of theology and/ or preaching that is truly contextual. AbstrakDengan menggunakan pendekatan kualitatif kami meneliti untuk kemudian mengevaluasi model penggunaan buku Membangun Jemaat di Gereja Toraja se-Klasis Sangalla’ Selatan dengan menggunakan perspektif teologi kontekstual. Dalam penelitian ini kami menemukan 2 (dua) model penggunaan buku Membangun Jemaat yang digunakan oleh para pelayan di sana, yakni model terjemahan dan model post-terjemahan. Kedua model tersebut kami nilai sebagai model penggunaan yang belum memadai untuk bisa membawa jemaat (gereja) kepada perayaan akan kemahahadiran dan karya Allah yang besar dan yang melingkupi semua. Kedua model itu, kami nilai masih sangat sempit dalam memberi ruang bagi pengembangan teologi dan/atau khotbah yang sungguh-sungguh kontekstual.
Peran Gereja Masa Kini Menyikapi Teologi Pembebasan Gutiérrez Fajar Gumelar; Hengki Wijaya
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.69

Abstract

The background of Latin American society in the past who were familiar with the hegemony of power of the bourgeoisie caused concern in the hearts of Christian theologians at the time. This concern finally gave birth to a theological model known as Liberation Theology. Liberation Theology is a praxis-oriented theological model, namely real action for the liberation of marginalized, poor and oppressed people. But the thought of Marxism influenced the concept of Liberation Theology so that the theological model was more like a destructive ideology. Bringing the concept of Liberation Theology to the light of the word of God is the right action for the church today in responding to the Liberation Theology. The aim is to analyze the contents of Liberation Theology, and how should the role of the church address the Liberation Theology, and apply liberation theology in everyday life. The method used is an explanatory qualitative approach to the role of the church in response to Liberation Theology.Abstrak: Latar belakang masyarakat Amerika Latin di masa lampau yang akrab dengan hegemoni kekuasaan kaum borjuis menyebabkan timbulnya keprihatinan dalam hati para teolog Kristen kala itu. Keprihatinan ini akhirnya melahirkan suatu model teologi yang dikenal dengan nama Teologi Pembebasan. Teologi Pembebasan adalah model teologi yang berorientasi pada praksis, yaitu tindakan nyata untuk pembebasan kaum termarginalkan, miskin dan tertindas. Akan tetapi pemikiran Marxisme turut memengaruhi konsep Teologi Pembebasan sehingga model teologi ini lebih mirip ideologi yang destruktif. Membawa konsep Teologi Pembebasan kepada terang firman Tuhan adalah tindakan yang tepat bagi gereja masa kini dalam menyikapi Teologi Pembebasan. Tujuan tulisan ini adalah menganalisis isi Teologi Pembebasan, dan bagaimana seharusnya peran gereja menyikapi Teologi Pembebasan tersebut, dan menerapkan teologi pembebasan dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bersifat eksplanatori tentang peran gereja menyikapi Teologi Pembebasan.
Pendekatan Historis Kristis Terhadap Bilangan 3 dan 4 tentang Tanggung Jawab Pendeta Astin Mangean
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.133

Abstract

The tribe of Levi was chosen and ordained by God for hold whorsip in tabernacle of the congregation. Their work is simple but they must to do accordingly with their role in Number 3 and 4 and exactly that God command.  To investigate and review  the Number 3 and 4, the author uses critical history method by putting attention to the situation in the text and the situation gave the text.   The role of the tribe of Levi is offer sacrifices and pray, interpretation the urim dan tumim,  difference between holy and unholy and between clean and unclean, turn on the lamps, blowing of trumpets, unload, transport and rebuild the tabernacle. When the tribe of Levi doing the role they must maintain holiness in front of God. Based on that role then the life of tribe of Levi can be a reference for life of priest it mainly concerns the role of serving the Lord.Abstrak: Suku Lewi dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan untuk menyelenggarakan ibadat di kemah suci. Mereka harus melaksanakannya sesuai yang diperintahkan Tuhan. Kajian terhadap peran suku Lewi dalam Bilangan 3 dan 4 ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library research) dengan pendekatan kritik historis. Metode ini  menaruh perhatian pada situasi yang digambarkan dalam teks dan situasi yang melahirkan teks. Adapun peran suku Lewi yakni mempersembahkan korban-korban serta menaikan doa, menafsirkan urim dan tumim, harus dapat membedakan kudus dan tidak kudus, najis dan tidak najis, menyalakan kandil, meniup serunai perak, memberikan berkat dalam nama Allah, penasehat umat, menjaga kemah suci, membongkar, mengangkut dan mendirikan kembali kemah suci. Ketika melaksanakan peran tersebut suku Lewi harus tetap menjaga kekudusan hidupnya dihadapan Tuhan. Berdasarkan peran tersebut, maka kehidupan suku Lewi dapat menjadi acuan bagi kehidupan pendeta masa kini terutama menyangkut peran sebagai pelayan Tuhan.
Membincang Homoseksualitas: Membangun Sikap Etis Kristiani Terhadap Pelaku Homoseksual Firman Panjaitan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.189

Abstract

Homosexuality is often seen as deviant and abnormal actions, and therefore must be avoided and avoided. Actions away from homosexuality have an impact on homosexuals getting the stigma of sinners and ultimately being marginalized by the existing social system, including the church. There is an injustice felt by homosexuals. This problem is the main focus in this article. By using qualitative methodologies, specifically by studying various literatures as material for analysis and then responding to the problems set forth in the form of narratives, the authors try to build ethical-Christian attitudes toward homosexuals. Ethically - Christianity, the practice of homosexuality is an unacceptable act, but against homosexual actors, the church must dare to accept them as brothers because their existence as human beings is the same, namely as 'imago Dei’. AbstrakHomoseksualitas seringkali dipandang sebagai tindakan yang menyimpang dan abnormal, oleh sebab itu harus dijauhi dan dihindari. Tindakan menjauhi homoseksualitas berdampak kepada kaum homoseksual mendapat stigma kaum berdosa dan akhirnya dimarginalisasikan oleh sistem kemasyarakatan yang ada, termasuk gereja. Ada ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum homoseksual. Masalah inilah yang menjadi sorotan utama dalam artikel ini. Dengan menggunakan metodologi kualitatif, khususnya dengan memelajari berbagai literatur sebagai bahan analisis kemudian menanggapi masalah yang dituangkan dalam bentuk narasi, penulis berusaha membangun sikap etis – Kristiani terhadap pelaku homoseksualitas. Secara etis – Kristiani, praktik homoseksualitas adalah tindakan yang tidak bisa diterima, namun terhadap para pelaku (kaum) homoseksual, gereja harus berani menerima mereka sebagai seorang saudara karena keberadaan mereka sebagai manusia adalah sama, yaitu sebagai ‘gambar dan rupa Allah’.