cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 167 Documents
Teologi Fagogoru: Mewujudkan Perdamaian Berbasis Budaya Ravanelly Fabrizio Gabriel
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.271

Abstract

Abstract: This paper analyzes contextual theology based on peace through the philosophical culture of Fagogoru in Lelilef Sawai village and Lelilef Woebulen village, Central Halmahera district. In this study, the method used a qualitative method with interview techniques, observation and literature study. The results of the study found that the values contained in Fagogoru's philosophy were unity, brotherhood, and harmony. These three values are come from life practices that appear in three forms, namely babari or mutual cooperation activities, famasie or acts of loving each other and faderere or acts of helping each other. Based on this, GMIH can elaborate Fagoogoru's philosophical culture in the light of Christian faith as the basis for theology in society. In carrying out its role as a social institution, GMIH is called upon to care for the interfaith brotherly relations formed through the Fagogoru Philosophy culture as the basis of strength to build and apply the theology of peace in common life. Thus, the theology of peace based on Fagogoru's philosophy is not only at the conceptual level but is come from the reality of people's lives.Keyword: Fagogoru, GMIH, Lelilef Sawai, Lelilef Woebulen, Peace. Abstrak: Tulisan ini menganalisis tentang teologi kontekstual yang berbasis perdamaian melalui budaya falsafah Fagogoru di desa Lelilef Sawai dan desa Lelilef Woebulen, Kecamatan Halmahera Tengah. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan teknik wawancara, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Fagogoru ialah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan. Ketiga nilai ini lahir dari praktik hidup yang nampak dalam tiga bentuk, yakni babari atau kegiatan gotong royong, famasie atau tindakan saling menyayangi dan faderere atau tindakan saling menolong. Berdasarkan hal inilah, GMIH dapat mengelaborasikan budaya falsafah Fagoogoru dalam terang iman Kristen sebagai dasar berteologi di tengah masyarakat. Dalam melakukan peran sebagai lembaga sosial, GMIH terpanggil untuk merawat relasi-relasi persaudaraan antaragama yang terbentuk melalui budaya Falsafah Fagogoru sebagai dasar kekuatan untuk membangun dan menerapkan teologi perdamaian dalam kehidupan bersama.  Dengan demikian, teologi perdamaian berbasis falsafah Fagogoru tidak hanya sekedar pada tataran konseptual melainkan lahir dari realitas kehidupan masyarakat.Kata Kunci: Fagogoru, GMIH, Lelilef Sawai, Lelilef Woebulen, Perdamaian.
Rekonstruksi Apokaliptis Antara Wahyu 22 1-5 Dengan Tradisi Kebo-Keboan Ricky Atmoko; Andreas Hauw
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.356

Abstract

Abstract: "Kebo-keboan" tradition has been widely discussed in various journals nowadays. But no one has studied the gospel bridge from Christian apocalyptic literature with "kebo-keboan" tradition. The author asked, can the apocalyptic concept in Revelation 22:1-5 be a gospel bridge for the “kebo-keboan” tradition? The author uses Paul Hiebert's critical contextualization concept as a research methodology. This methodological procedure consist of cultural analysis, Bible analysis, critical responses, and making new contextualization practices. From the cultural and Bible analysis, the author compares the vision receiver, apocalyptic environment, vision, and trancendent person. The author gives two critical response. The trancendent person replaced by God and the Lamb. The vision receiver, apocalyptic environment, and the Using community’s vision is acceptable. The author proposes three things for the new contextualization practice. The sowing seeds practice can be seen as a consumnation from God through tree and water of life. Offerings can be interpreted as an expression of gratitude for God as He lifted the curse. Then the dependence and eminence of Dewi Sri are diverted to God. In conclusion, the writer proves that the apocalyptic concept in Revelation 22:1-5 can be a gospel bridge for the “kebo-keboan” tradition. Keywords: Revelation 22:1-5, apocalyptic, kebo-keboan tradition, and critical contextualization Abstrak: Tradisi “kebo-keboan” ramai diperbincangkan dalam banyak jurnal kekinian. Namun belum ada yang mengkaji jembatan injil dari literatur apokaliptik Kristen dengan tradisi “kebo-keboan”. Penulis bertanya, apakah konsep apokaliptik dalam Wahyu 22:1-5 dapat menjadi jembatan injil bagi tradisi “kebo-keboan”? Penulis memakai konsep kontekstualisasi kritis Paul Hiebert sebagai metodologi penelitian. Prosedur metodologi ini yaitu analisa kultur, analisa Alkitab, memberi respons kritis, serta membuat praktik kontekstualisasi baru. Dari analisa kultur dan Alkitab, penulis membandingkan sosok pahlawan yang menerima visi, lingkungan apokaliptik, visi yang diterima, dan pribadi transenden yang disembah. Penulis memberikan dua respon kritis. Respons pertama adalah pribadi transenden yang dipercayai masyarakat Using perlu diganti dengan Allah dan Anak Domba. Respons kedua adalah sosok pahlawan, lingkungan apokaliptik, dan visi yang diterima masyarakat Using dapat diterima. Penulis mengusulkan tiga hal dalam praktik yang diperbaharui. Penyemaian bibit dapat dilihat sebagai pemulihan Allah melalui pohon dan air kehidupan. Sesaji dapat dimaknai sebagai ungkapan syukur atas kutukan yang telah diangkat oleh Tuhan. Lalu kebergantungan dan keutamaan dari Dewi Sri dialihkan kepada Allah. Pada akhirnya penulis membuktikan bahwa konsep apokaliptik dalam Wahyu 22:1-5 dapat menjadi jembatan injil bagi tradisi kebo-keboan. Kata Kunci: Wahyu 22:1-5, apokaliptik, tradisi kebo-keboan, kontekstualisasi kritis 
Analisis Komparatif Eklesiologi Tata Gereja 2010 Dan 2021 Gereja Kristen Pemancar Injil Julianus Mojau
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.297

Abstract

Abstract: This article is the result of research on the comparison of the ecclesiology of the 2010 and 2021 Church Order of the Evangelist Christian Church (Gereja Kristen Pemancar Injil/GKPI). By using qualitative research methods through library research, the researcher does a comparative analysis of the ecclesiological reasons the GKPI pioneer separated from the Indonesian Christian Gospel Tabernacle Church (Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia/KINGMI) in 1959 and the differences between the ecclesiology of the 2010 and the 2021 GKPI Church Orders. The results of the study show the following. First, the ecclesiological reason for the GKPI pioneer separating from KINGMI was to develop an ecclesiology beyond KINGMI’s docetic tendencies and develop a holistic-empirical ecclesiology that answers the life challenges of congregation members and the peoples of North and East Kalimantan. Second, the 2010 GKPI church order ecclesiology, which has a “presbyterial-synodal” pattern with bureaucratic and feudal characteristics, tends to weaken the autonomy of the congregations in the GKPI Synod. Third, the 2021 Church Order ecclesiology develops a synodal-presbyterial institutional pattern that prioritizes equal and democratic relations between congregations and between congregations and synod. Fourth, both the ecclesiology of the 2010 Church Order and the 2021 Church Order do not sufficiently consider the culture of the Dayak people. Fifth, both the 2010 and 2021 Church Order pay enough attention to the Church’s social work in the midst of the North and East Kalimantan’s society.  However, this still needs to integrate church order, liturgy, understanding of faith and the main tasks of the church’s social work so that the presence of the GKPI can become the ritual body of Christ as well as the social body of Christ.  Keywords: ecclesiology, Church Order, GKPI, contextual.  Abstrak: Artikel ini adalah hasil penelitian tentang perbandingan eklesiologi Tata Gereja 2010 dan 2021 Gereja Kristen Pemancar Injil (GKPI). Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui jenis penelitian kepustakaan peneliti melakukan analisis komparatif tentang alasan eklesiologis perintis GKPI memisahkan diri dari Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia (KINGMI) tahun 1959 dan perbedaan eklesiologi Tata Gereja 2010 dan 2021 GKPI.  Hasil penelitian ini memperlihatkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, alasan eklesiologis perintis GKPI memsahkan diri KINGMI tahun 1959 adalah panggilan Injili untuk melampaui kecenderungan eklesiologi dokestis KINGMI dan mengembangkan suatu eklesiologi holistik-empirik yang menjawab tantangan kehidupan sehari-hari warga jemaat dan masyarakat Kalimantan Utara dan Timur pada saat itu. Kedua, eklesiologi Tata Gereja 2010 yang berpola kelembagaan sinodal-presbiterial berciri birokratis dan feudal cenderung melemahkan kemandirian jemaat-jemaat dalam Sinode GKPI. Ketiga, eklesiologi Tata Gereja 2021 yang mengembangkan pola kelembagaan presbyterial-sinodal yang mengedepankan hubungan setara dan demokrats antarjemaat dan antara jemaat dan sinode.  Keempat, baik eklesiologi Tata Gereja 2010 maupun Tata Gereja 2021  tidak cukup mempertimbangkan budaya orang Dayak. Kelima, baik Tata Gereja 2010 maupun 2021 cukup memberi perhatian pada tugas/karya  sosial Gereja di tengah-tengah masyarakat. Namun perhatian ini masih perlu mengintegrasikan tata gereja, liturgi, pemahaman iman dan pokok-pokok tugas/karya sosial gereja sehingga dapat menjadikan kehadiran GKPI menjadi Gereja publik yang meragakan tubuh ritual Kristus sekaligus tubuh sosial Kristus.  Kata-kata Kunci: eklesiologi, Tata Gereja, GKPI, Kontekstual.      
Potret Pendidikan Kristiani dalam Konteks Bergereja di Indonesia pada Masa Pandemi COVID-19 Justitia Vox Dei Hattu
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.265

Abstract

Abstract: The COVID-19 pandemic has had a significant impact on the life of the church in Indonesia, including the design of Christian education organized by the church. The pandemic, in which digital technology develops rapidly and massively, urges the church to rethink the concept and purpose of Christian education to demonstrate its critical, adaptable, and creative dimensions. Based on a literature study of the various dynamics and changes that occur in the area of Christian education during the COVID-19 pandemic, this research proposes the three fundamental transformative efforts for the churches in Indonesia to design their concept and elaborate their purposes of Christian education, focusing on strengthening relationships among people, changing ways of thinking and learning (teaching), and socializing with digital media.  Keyword: christian education; COVID-19 pandemic; digital technology Abstrak: Pandemi COVID-19 berdampak signifikan terhadap kehidupan bergereja di Indonesia, termasuk pelaksanaan Pendidikan Kristiani yang diselenggarakan oleh gereja. Pandemi, yang di dalamnya teknologi digital berkembang secara cepat dan masif, mendesak gereja untuk memikirkan kembali konsep dan tujuan Pendidikan Kristianinya, sehingga mampu menunjukkan daya kritis, daya adaptasi, dan daya kreatifnya. Dengan berbasis pada studi literatur tentang berbagai dinamika yang terjadi dalam ranah Pendidikan Kristiani selama masa pandemi COVID-19, penelitian ini menawarkan tiga upaya transformatif bagi gereja-gereja di Indonesia dalam mendesain konsep dan mengelaborasi tujuan Pendidikan Kristiani yang berorientasi pada penguatan relasi antar individu, perubahan cara berpikir dan cara belajar (mengajar), serta bersosialisasi dengan media digital. Kata Kunci: pendidikan kristiani; pandemi COVID-19; teknologi digital
Remaja dalam Budaya Keluarga: Kontribusi Teori Urie Bronfenbrenner bagi Pelayanan Kaum Muda Ivan Christian
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.301

Abstract

Abstract: Understanding youth is a complex task. Youth ministers cannot base their understanding of adolescents on popular stereotypes that are biased. This paper will present Bronfenbrenner's theoretical framework to provide a better perspective for understanding adolescent development in relation to the network relationships surrounding them. In a network of relationships that adolescents have, the discussion in this paper will focus on adolescents who live in their family culture. This study uses qualitative  approach with library research method. This paper finds four main concepts in Bronfenbrenner's bioecological theory, namely process, person, time, and context. Based on Bronfenbrenner's theory, there are three implications for youth ministry, namely popular stereotypes about youth should not be the basis for understanding and building relationships with adolescents, youth ministry needs to understand youth development theologically, and youth ministers need to involve parents in youth ministry. Keywords: adolescents, family culture; bioecological theory, Urie Bronfenbrenner, youth Ministry Abstrak: Memahami remaja adalah sebuah tugas yang kompleks. Pelayan kaum muda tidak bisa mendasari pengenalannya tentang remaja berdasarkan stereotip populer yang bias. Tulisan ini akan menyajikan kerangka teori Bronfenbrenner yang dapat memberikan perspektif yang lebih baik untuk memahami perkembangan remaja dalam kaitan dengan jejaring relasi yang ada di sekitar mereka. Dalam jejaring relasi yang remaja miliki, pembahasan dalam tulisan ini akan fokus pada remaja yang hidup dalam budaya keluarganya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan. Tulisan ini menemukan bahwa terdapat empat konsep utama dalam teori bioekologi dari Bronfenbrenner, yaitu proses, person, waktu, dan konteks. Berdasarkan teori Bronfenbrenner tersebut, terdapat tiga implikasi bagi pelayanan kaum muda, yaitu stereotip populer tentang remaja tidak boleh menjadi dasar dalam memahami dan membangun relasi dengan remaja, pelayanan kaum muda perlu memahami perkembangan remaja secara teologis, dan pelayan pelayanan kaum muda perlu melibatkan orang tua dalam pelayanan kepada remaja. Kata Kunci: remaja, budaya keluarga, teori bioekologi,Urie Bronfenbrenner, pelayanan kaum muda
Implementasi Karakteristik Pelayan Tuhan Menurut Filipi 2:1-11 bagi Guru Sekolah Minggu GPdI Ekklesia Jember Pacel Zacharias; Nelly Nelly; Roberth Ruland Marini
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.288

Abstract

Abstract: The main problem in this research is the character of Sunday school teachers in their service. This study focuses on the characteristics of God's servants according to Philippians 2:1-11 which aims to provide an understanding of the characteristics of God's servants to the teachers of the GPdI Ekklesia Jember Sunday School. With a qualitative approach applying descriptive analysis method to the text of Philippians 2:1-11, the results obtained are three characteristics of God's servants, namely unity, example and obedience, which can be implemented in life and ministry in the field of Sunday School. Keywords: Philippians 2; Sunday School Teachers; Servant of God Abstrak: Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah karakter guru Sekolah Minggu dalam pelayanannya. Penelitian ini berfokus pada karakteristik pelayan Tuhan menurut Filipi 2:1-11 yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai karakteristik pelayan Tuhan kepada para guru Sekolah Minggu GPdI Ekklesia Jember. Dengan pendekatan kualitatif menerapkan metode deskriptif analisis pada teks Filipi 2:1-11 diperoleh hasil tiga karakteristik pelayan Tuhan yaitu kesatuan, keteladanan dan ketaatan, yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan dan pelayanan di bidang Sekolah Minggu. Kata kunci: Filipi 2; Guru Sekolah Minggu; Pelayan Tuhan
Merangkul Ibadah Virtual/Online: Melihat Keniscayaan Pengalaman Transendensi dalam Ruang Digital Cristin Logo
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.309

Abstract

Ibadah virtual/online bukan hanya sebagai pengganti ibadah onsite di tengah pandemi ini atau sebagai ibadah yang kurang sakral dari yang seharusnya atau yang memberikan dampak buruk karena media digital yang digunakan. Itu sebabnya, respons pragmatis tidak cukup untuk merangkul ibadah virtual/online, melainkan gereja perlu merangkulnya dengan pemahaman bahwa pengalaman esensial, yaitu pengalaman transendensi, sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan dalam ibadah virtual/online. Keniscayaan tersebut dilihat dari dua hal, pertama, sifat imanen dan mediated dari teori pengalaman transendensi selama ini yang selaras dengan sifat ibadah virtual/online itu sendiri. Kedua, keniscayaan tersebut ditinjau dari refleksi terhadap seni digital intermedia teori Elwell Sage. Pengalaman esensial justru terjadi ketika komposisi digital secara sengaja “dikorbankan” untuk digabungkan dengan objek nyata yang rentan dengan kesalahan, untuk dihubungkan kepada pengalaman liminal, atau pengalaman ambang antara keterbatasan dan ketidakterbatasan. Sekali lagi, ini selaras dengan sifat pengalaman transendensi dalam ibadah. Rangkulan gereja kepada ibadah virtual/online dengan pemahaman keniscayaan tersebut dapat mendorong gereja untuk berefleksi dan bertindak lebih dalam di konteks yang aktual. 
Gambar Allah yang Problematis: Meninjau Ulang Gambar Allah pada Kitab Suci Ibrani Tony Wiyaret Fangidae
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.308

Abstract

Abstract: This article is written with the understanding that the Hebrew Bible records, in general, the testimony of God’s image in both senses, good and bad ways (cruel, violent). This article aims to identify several texts in the Hebrew Bible that depict God in a violent manner. Because it has the potential to legitimate and encourage violence, God’s image is viewed as problematic and troubling. Three attempts, at least, have been constructed to deal with the problematic image of God. Firstly, defending the image of God by stating that everything God does is for a good thing. Secondly, utilizing the method of interpretation claiming that God does not really enforce violence. Thirdly, acknowledging the problematic image of God as part of God, protesting the image, and arguing that humans do not imitate the violent God. By employing the critical analysis method on a number of texts, this article revisits the three attempts to interpret the problematic image of God. In conclusion, this study proposes a reading principle for dealing with the problematic image of God: befriend the problematic image of God while protesting against it. In this way, readers avoid justifying and imitating the violent image of God. Keywords: imitating God, Interpretations, Problematic Image of God, Hebrew Bible, testimony. Abstrak: Naskah ini datang dengan kesadaran bahwa Kitab Suci Ibrani mencatat, dalam pengertian yang umum, kesaksian tentang gambar Allah yang baik dan tidak (kejam, penuh kekerasan). Naskah ini bertujuan untuk mengindentifikasi sejumlah teks dalam Kitab Suci Ibrani yang menarasikan mengenai gambar Allah yang berkonotasi kekerasan. Gambar Allah itu dipandang problematis dan meresahkan karena berpotensi untuk melegitimasi dan mendukung kekerasan. Setidaknya, ada tiga usaha yang telah dikonstruksi untuk berurusan dengan gambar Allah yang problematis. Pertama, membela gambar Allah dengan menyatakan bahwa semua yang Allah lakukan demi kebaikan. Kedua, menggunakan metode tafsir yang mengeklaim bahwa Allah tidak sungguh memberlakukan kekerasan. Ketiga, mengakui gambar Allah yang problematis sebagai bagian dari Allah dan memprotes gambar Allah itu sembari menyatakan bahwa manusia tidak mengimitasi gambar Allah yang berkonotasi kekerasan. Dengan metode analisis kritis pada sejumlah teks, naskah ini meninjau ulang ketiga usaha menginterpretasi gambar Allah yang problematis tersebut. Sebagai kesimpulan, naskah ini menawarkan sebuah prinsip membaca untuk berurusan dengan gambar Allah yang problematis: bersahabat dengan gambar Allah yang problematis sembari memprotesnya. Dengan demikian, para pembaca terhindar dari menjustifikasi dan mengimitasi gambar Allah yang berkonotasi kekerasan. Kata Kunci: Allah yang problematis, imitasi Allah, kesaksian, Kitab Suci Ibrani, tafsir.
Liturgi Ratapan Sebagai Model Liturgi Pelayanan Kedukaan Pasca Pemakaman Dalam Konteks Pandemi Covid-19 Dikky Agung Triatmodjo
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.314

Abstract

Abstract : This article is discussed about the use of lamentation as a ritual in the mourning service liturgy after the funeral in the context of covid-19 pandemic. Lamentation as a ritual gives space for the mourning family to express their deepest feeling through ritual elements where it intertwined in the function of liturgy as a mean of congregations companion when they fave mourning condition. Keywords : lamentation, ritual, mourning, liturgy, covid-19 pandemic. Abstrak: Tulisan ini mendiskusikan penggunaan ratapan sebagai sebuah ritual dalam liturgi pelayanan kedukaan pasca pemakaman dalam konteks pandemi Covid-19. Ratapan sebagai sebuah ritual memberi ruang bagi keluarga yang berduka untuk mengekspresikan perasaan terdalamnya melalui unsur-unsur ritual dimana hal tersebut berkelindan dalam fungsi liturgi sebagai sarana pendampingan warga jemaat ketika tengah menghadapi kondisi kedukaan. Kata-kata kunci : ratapan, ritual, kondisi kedukaan, liturgi, pandemi covid-19.
Pakaian Liturgis Sebagai Sarana Berteologi Dalam Pengalaman GPIB John C Simon
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.317

Abstract

Abstract: This paper aims to clarify the polemics surrounding the implementation of the ordination of prospective pastors at GPIB, as well as to determine a clear and responsible theological position. The polemic was triggered by differences in the process of carrying out the ordination of prospective pastors in a congregation that was not in accordance with the usual practice which was the result of the decision of the synodal assembly. By using qualitative methods, literature and interviews, this paper intends to construct the meaning of a priest's ordination through the symbolization of the use of liturgical clothing or a white toga during the ordination worship procession. The results of this study found that the meaning of pastoral ordination is in the tradition of baptism in the early church, reformatory theology about the priesthood of believers, and synodal decisions about pastoral ordination. His form is a prospective pastor who will be ordained already wearing liturgical clothes or a white toga since the procession into the church building. Imposition means that a person is fit to wear the symbol of liturgical clothing to be a servant of God in His holy house and in other pastoral duties. Keywords: liturgical clothing, theology, GPIB Abstrak: Tulisan ini bertujuan memperjelas polemik di seputar pelaksanaan penahbisan calon pendeta di GPIB, sekaligus menentukan posisi teologis yang jelas dan bertanggungjawab. Polemik tersebut dipicu oleh perbedaan dalam proses pelaksanaan penahbisan calon pendeta di sebuah jemaat yang tidak sesuai dengan kebiasaan yang lazim yang merupakan hasil keputusan sidang sinodal. Dengan menggunakan metode kualitatif, kepustakaan dan wawancara, tulisan ini bermaksud mengonstruksi makna penahbisan pendeta melalui simbolisasi penggunaan pakaian liturgis atau toga putih pada saat prosesi ibadah penahbisan tersebut. Hasil penelitian ini menemukan bahwa makna tahbisan pendeta terdapat dalam tradisi baptisan di gereja perdana, teologi reformatoris tentang imamat am orang percaya, dan keputusan secara sinodal tentang penahbisan pendeta. Wujudnya adalah seorang calon pendeta yang akan ditahbiskan sudah mengenakan pakaian liturgis atau toga putih sejak prosesi masuk gedung gereja. Pengenaan itu bermakna bahwa seseorang dilayakkan mengenakan simbol pakaian liturgis untuk menjadi seorang pelayan Allah di dalam rumah-Nya yang kudus dan di dalam tugas-tugas kegembalaan lainnya.Kata kunci: pakaian liturgis, teologi, GPIB