cover
Contact Name
Albertus Rusputranto Ponco Anggoro, S.Sn., M.Hum
Contact Email
acintya@isi-ska.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
acintya@isi-ska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Acintya
ISSN : 20852444     EISSN : 26555247     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 512 Documents
“DURMA” (Model Penciptaan Pesan dan Kesan Musik Melalui Pembenturan Teks Lirik dengan Ekpresi Musik) Manggala, Bondan Aji
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3139

Abstract

ABSTRACT This article is part of a report on the results of artistic research (works of music) in the field of music. Briefly expresses experience and some knowledge findings related to the process of creating musical works of art. "Durma" is an editorial for this artwork, which contains three works of music with a popular music creation approach. Inspired by the anxiety of observing the infertility of creativity in the area of popular music in Indonesia, through "Durma" the thought was made to model the creativity of popular music by paying attention to the clash of lyric texts with musical expressions to produce messages and impressions of songs that are not public. In the habits of popular music, the elements of lyric text and musical expression are linear and mutually reinforcing relationships. It has never been imagined before that when a popular musical creation thinks a little freely and tries to clash ideas with an established knowledge of popular music creation, it will instead create ambiguity and the complexity of a refreshing taste. The outputs of the "Durma" artistic research include (1) art work products in the form of audio recordings of three songs entitled (a) Candles, (b) Girls, and (c) Good Night, (2) research reports, and (3) scientific publications articles that unravel the knowledge behind this work process.Keywords : Music creation, popular, clash of musical expressions and lyric texts ABSTRAK Artikel ini adalah bagian dari laporan hasil penelitian artistik (karya musik) di bidang musik. Secara singkat, ini mengungkapkan pengalaman dan beberapa temuan pengetahuan terkait dengan proses penciptaan karya seni musik. "Durma" adalah editorial untuk karya seni ini, yang berisi tiga karya musik dengan pendekatan penciptaan musik populer. Terinspirasi oleh kecemasan mengamati ketidaksuburan kreativitas di bidang musik populer di Indonesia, melalui "Durma" pemikiran dibuat untuk memodelkan kreativitas musik populer dengan memperhatikan benturan teks lirik dengan ekspresi musik untuk menghasilkan pesan dan tayangan lagu yang tidak umum. Dalam kebiasaan musik populer, unsur-unsur teks lirik dan ekspresi musik adalah hubungan linier dan saling menguatkan. Belum pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ketika sebuah ciptaan musik populer berpikir sedikit dengan bebas dan mencoba untuk bertabrakan dengan pengetahuan mapan tentang ciptaan musik populer, ia malah akan menciptakan ambiguitas dan kompleksitas rasa yang menyegarkan. Output dari penelitian artistik "Durma" meliputi (1) produk karya seni dalam bentuk rekaman audio dari tiga lagu berjudul (a) Lilin, (b) Gadis, dan (c) Selamat Malam, (2) laporan penelitian, dan (3) artikel publikasi ilmiah yang mengungkap pengetahuan di balik proses kerja ini. Kata kunci: Penciptaan musik, populer, benturan ekspresi musik dan teks lirik
PEMANFAATAN TEKNOLOGI LASER ENGRAVING UNTUK MEMBUAT MATRIX RELIEF PRINT DENGAN MEDIA MDF Rahman, Deni
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3577

Abstract

ABSTRACTThe invention of laser technology is an extraordinary breakthrough in human life. The needs of human life are mostly helped by laser technology, including medicine, and the creative industries. In the creative industry, laser technology is very significant in producing works and products that require complicated details, form precision, and speed of cultivation.The advantages of laser technology are utilized in the studies of graphic art creations in making matrix relief print with MDF (Medium Density Fibreboard) media. The use of laser engraving technology is to create a matrix of graphic print works with high print principles by combining the forms produced by manual images and the forms of digital processing, which is, then, assisted by laser technology. Keywords: MDF, cutting laser, high printing technique, matrix ­­ABSTRAKPenemuan teknologi laser merupakan terobosan yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Banyak kebutuhan hidup manusia yang kemudian terbantu oleh teknologi laser ini, di antaranya bidang kedokteran, dan industri kreatif. Khusus di bidang industri kreatif, teknologi laser sangat signifikan dalam menghasilkan karya dan produk yang memerlukan detail yang rumit, kepresisian bentuk, dan kecepatan penggarapan.Kelebihan teknologi laser tersebut dimanfaatkan dalam studi penciptaan karya seni grafis untuk membuat matrix relief  print dengan media MDF (Medium Density Fibreboard). Pemanfaat teknologi laser engraving tersebut untuk menciptakan matrix karya cetak grafis dengan prinsip cetak tinggi dengan memadukan bentuk–bentuk yang dihasilkan antara gambar manual dan bentuk-bentuk hasil olah digital, yang kemudian pengerjaan dibantu oleh teknologi laser. Kata kunci: MDF, laser cutting, teknik cetak tinggi, matrix
Jagad Jawa RM Kristiadi pada Proses Kreatif Program Televisi di TVRI Yogyakarta Adji, Titus Soepono
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3141

Abstract

ABSTRACT RM Kristiadi is a TV producer at TVRI who has been working since 1997. He is involved in programs that still exist at TVRI Yogyakarta, such as Obrolan Angkringan, Plengkung Gading, Karang Tumaritis, etc. These programs stil exist until right now, among others, because they lift the atmosphere of Javanese Culture in accordance with the principle of the similarity of body memory, the framework of fantasy that is believed in the process of its creation. RM Kristiadi also conducted experiments in building new works through critical thinking on the achievements that have ever existed. This research is a qualitative descriptive study, which focuses on knowing the background of RM Kristiadi's creative process. Data was collected through a series of direct interview processes with the interviewees, with data reinforced from documents. Key Word: Java Athmosphere, TV Produser, TV Program.  ABSTRAK RM Kristiadi seorang produser televisi di TVRI yang berkarya sejak tahun 1997. Dia terlibat dalam program-program yang hingga saat ini masih eksis di TVRI Yogyakarta, seperti Obrolan Angkringan, Plengkung Gading, Karang Tumaritis, dll. Program-program tersebut eksis antara lain karena mengangkat atmosfer Budaya Jawa sesuai dengan prinsip kesamaan Memori tubuh, Kerangka fantasi yang diyakini dalam proses penciptaannya. RM Kristiadi juga melakukan eksperimentasi dalam membangun kebaruan karya melalui daya kritis atas capaian-capaian yang pernah ada. Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif Kualitatif, yang berfokus untuk mengetahui latar belakang alur pemikiran proses kreatif RM Kristiadi. Data dikumpulkan melalui serangkaian proses wawancara langsung pada narasumber, dengan diperkuat data-data dari dokumen. Kata Kunci: Jagad Jawa, Produser Televisi, Program Acara Televisi.
SASMITA GENDHING: Dulu dan Kini. Harti, Sri
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3583

Abstract

ABSTRACTSasmita gendhing is a series of words that lead to the name gendhing-gendhing as a supporter of the wayang kulit purwa show. While the wayang kulit show format still refers to the format of last night's show with the genre of palace performance, the gendhing grade became a bridge between the mastermind and the singer to sound the gendhing as a support for certain scenes. In the development of the existence of gendhing-gendhing grades are slowly declining, even the majority of masterminds no longer use gendhing grades. The text-context approach from HeddyShri Ahimsa is used to reveal the variety of gendhing grades and to find the cause of the decline in the use of gendhing grades. The study conducted found various forms of gendhing grades, among them, are figurative words, wangsalan, and cangkriman. While the cause of the decline in the use of gendhing grades is noted due to the change of image, freedom of scene structure, freedom of choice of play, and cross-style performance. Keywords: gendhing grades, text-context, performance ABSTRAKSasmita gendhing merupakan rangkaian kata yang mengarah pada nama gendhing-gendhing sebagai pendukung pertunjukan wayang kulit purwa. Ketika format pertunjukan wayang kulit masih mengacu pada format pertunjukan semalam dengan genre pakeliran istana, sasmita gendhing menjadi jembatan antara dalang dengan pengrawit untuk membunyikan gendhing sebagai pendukung adegan tertentu. Dalam perkembangannya eksistensi sasmita gendhing- gendhing perlahan surut, bahkan mayoritas dalang tidak lagi menggunakan sasmita gendhing. Pendekatan teks-konteks dari HeddyShri Ahimsa digunakan untuk mengungkap ragam sasmita gendhing serta mencari penyebab surutnya penggunaan sasmita gendhing. Dari kajian yang dilakukan ditemukan beragam bentuk sasmita gendhing, di antaranya adalah kata kiasan, wangsalan, dan cangkriman. Sedangkan penyebab surutnya penggunaan sasmita gendhing ditengarai karena adanya perubahan citra, kebebasan struktur adegan, kebebasan pemilihan lakon, dan silang gaya pakeliran. Kata kunci: sasmita gendhing, teks-konteks, pakeliran
DESAIN TAMAN IN-DOOR HYDROPONIC UNTUK BANGUNAN PUBLIK BERLAHAN SEMPIT DI SURAKARTA Prasetyo, Ersnathan Budi; Purnomo, Agung
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3146

Abstract

Abstract Parks are important parts that cannot be left out in the design of urban landscape, architecture and interior design. Its existence is able to provide a fresh and comfortable atmosphere so that the quality of human life will be better. In its development, the availability of an ideal park in an urban environment is felt to be lack due to the increasingly limited land such as the narrow yard of the house or even no more area to make the park. Another challenge is how to utilize limited areas for in-door parks in both residential and public buildings that are more practical and efficient. This applied research aims to address this problem by offering a garden design with a hydroponic planting system which is now commonly used in agriculture or plantations to be applied to in-door garden designs. The research carried out in Surakarta is the process through identification, design experiments and design trials. The data in the form of artifacts, literature, and informants is carried out through observation, study of literature, interviews, and documentation. Design experiments are carried out using a design and aesthetic approach strengthened by an evocative, educative, psychological and socio-cultural approach. The SWOT analysis model is used in designing in-door garden designs. Design trials is executed through the activities of realizing design (experimental products) and their application (design implementation), evaluation, refinement of design concepts and formulation of recommendations. Keywords: in-door garden, hydroponic, narrow land, Surakarta.  Abstrak  Taman merupakan bagian penting yang tidak bisa ditinggalkan dalam perancangan landskap kota, arsitektur dan desain interior. Keberadaannya mampu memberikan suasana segar dan nyaman sehingga kaulitas hidup manusia akan menjadi lebih baik. Dalam perkembanganya tersedianya taman yang ideal di lingkungan perkotaan dirasakan masih kurang oleh karena semakin terbatasnya lahan seperti sempitnya halaman rumah atau bahkan tidak ada lagi area untuk dibuat taman. Hal lainnya adalah bagaimana memanfaatkan area-area yang terbatas untuk taman in-door baik di rumah tinggal maupun bangunan umum yang lebih praktis dan efisien juga menjadi sebuah tantangan. Penelitian terapan ini bertujuan menjawab permasalahan tesebut dengan menawarkan sebuah desain taman dengan sistem tanam hydroponic yang pada masa sekarang biasa digunakan dalam pertanian atau perkebunan untuk diaplikasikan ke dalam desain taman in-door. Penelitian yang dilakukan di Surakarta ini prosesnya melalui identifikasi, eksperimen desain dan uji-coba desain. Untuk menggali data yang berupa artefak, literatur, dan informan dilakukan melalui observasi, studi literatur, wawancara, dan dokumentasi. Eksperimen desain dilakukan dengan pendekatan desain dan estetis diperkuat oleh pendekatan evokatif, edukatif, psikologi dan sosio-budaya. Model analisis SWOT dipakai ketika akan melakukan perumusan desain taman in-door. Uji-coba desain melalui kegiatan mewujudkan desain (produk eksperimen) dan penerapannya (implementasi desain), evaluasi, penyempurnaan konsep desain dan perumusan rekomendasi. Keywords: taman in-door, hydroponic, lahan sempit, Surakarta.
Model Penerjemahan Bahasa Ungkapan Dalam Pertunjukan Wayang Lakon Wahyu Purba Sejati Numani, Dewi
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3578

Abstract

ABSTRAK Penelitian Model Penerjemahan Bahasa Ungkapan Dalam Pertunjukan Wayang Lakon Wahyu Purba Sejati ini berusaha menyusun model penerjemahan bahasa ungkapan dalam pertunjukan wayang Lakon Wahyu Purba Sejati dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Bahasa ungkapan tersebut diterjemahkan dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dan juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga orang yang berasal dari budaya selain Jawa di Indonesia dan juga orang dari budaya lain di negara lain bisa memahaminya dengan mudah. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah model penerjemahan bahasa ungkapan dalam pertunjukan wayang Lakon Wahyu Purba Sejati dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris. Keluaran dari penelitian ini berupa artikel yang akan dimuat dalam jurnal ilmiah. Dengan dimuat dalam jurnal ilmiah, hasil penelitian tersebut dibaca banyak orang sehingga bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang bahasa ungkapan berbahasa Inggris dalam pertunjukan wayang.Keywords: model penerjemahan, bahasa ungkapan, wayang, Wahyu Purba Sejati ABSTRACTThe Research on Model Penerjemahan Bahasa Ungkapan Dalam Pertunjukan Wayang Lakon Wahyu Purba Sejati (The Translation Model of the Idioms in Wayang Performance Lakon Wahyu Purba Sejati) attempts to develop a model of the translation of idioms in the wayang performance lakon Wahyu Purba Sejati from Javanese into English. The method used is descriptive qualitative. The idioms are translated from Javanese into Indonesia and then translated into English in order that people or students from other culture in Indonesia can easily understand it, besides, people from other country also can do it as well.The results achieved from this study are the translation model of idioms or expression language in lakon Wahyu Purba Sejati. The output of this research is in the form of articles which will be published in scientific journals. Being published in scientific journals, the results of the study were read by many people so that they could add insight and knowledge about English language expressions in wayang performance.Keywords: translation model, idioms, wayang, Wahyu Purba Sejati
STUDI PENCIPTAAN KARYA SITE SPECIFIC DANCE “HELAI KERTAS” Supendi, Eko; Isnanta, Satriana Didiek
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3140

Abstract

ABSTRACTDance has experienced extraordinary development. Now, dance is no longer in the area of fairies but has entered the modern civilization, the tradition is shifted to the industry and academic. This is because of the role of academic dancers who conduct the research, both creation studies and scientific studies. Dance has become the object of laboratories in the studios of art academics in Indonesia and various parts of the world, so that dance laboratories and studios have emerged in various places in Indonesia. Now dance is not only seen as practicing soul, dance is no longer limited to the beauty of aesthetic invisible , but dance  also has explored other art worlds, such as theater and fine arts.Now it is difficult to distinguish between dance and theater performance. The above phenomenon often becomes a trend of artists. Art observers call it a contemporary phenomenon. Contemporary phenomena continue to develop in artists and academic world. Contemporary art is critical towards social problems around it as well as the art itself. Contemporary spirit does not only break the ice of one art discipline but also across art disciplines. Almost all elements of dance are explored and developed, one of which is site specific dance. A genre of contemporary dance that focuses on creating dance works using special places.This study uses an artistic research method. The researchers as well as the creators of site specific dance works is in the lobby of the H.U office Solopos. The research stages are in accordance with the stages of artistic research.Keywords: site specific dance, space, body, time, dance.  ABSTRAK Seni tari telah mengalami perkembangan yang luar biasa.  Sekarang, tari tidak lagi berada di wilayah peri-peri, tetapi telah masuk ke sentrum peradaban modern, dari kantong-kantong tradisi bergeser ke kantong-kantong industri dan akademik. Hal tersebut tidak lepas dari peran penari akademik yang melakukan riset, baik studi penciptaan maupun kajian ilmiah. Tari telah menjadi objek laboratorium di studio-studio akademisi seni di Indonesia dan berbagai belahan dunia, sehingga bermunculan laboratorium-laboratorium dan studio tari di berbagai tempat di Indonesia.Tari saat ini dipandang tidak saja berolah sukma, tari tidak lagi sebatas keindahan estetika yang kasat mata, tetapi tari sudah menjelajah dunia seni lainnya, seperti teater dan seni rupa.Sekarang sulit membedakan antara penyajian tari dan teater. Fenomena di atas sering menjadi trend para seniman individual. Kalangan pengamat seni menyebut fenomena tersebut sebagai fenomena kontemporer. Fenomena kontemporer terus berkembang dalam kalangan seniman dan lingkungan akademik. Seni kontemporer selain kritis terhadap persoalan sosial yang ada di sekitarnya juga kritis kepada seninya sendiri. Spirit kontemporer tidak hanya mendobrak kebekuan sekat –sekat satu disiplin seni, tetapi juga lintas disiplin seni. Hampir semua elemen tari dieksplorasi dan dikembangkan, salah satunya adalah site specific dance. Sebuah genre seni tari kontemporer yang fokus kepada penciptaan karya tari menggunakan tempat-tempat yang khusus.Penelitian ini menggunakan metode penelitian artistik, dimana peneliti sekaligus pencipta karya site specific dance di lobi kantor H.U. Solopos yang tahapan penelitiannya sesuai dengan tahapan riset artistik. Kata kunci: site specific dance, ruang, ketubuhan, waktu, tari. 
MANAJEMEN PERTUNJUKAN DALAM UJIAN TUGAS AKHIR PEMENTASAN KARYA TARI suroto, Suroro; Supriadi, Supriadi; Nurhadi, M
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3584

Abstract

Abstrak Penelitian berjudul Manajemen Pertunjukan dalam Ujian Tugas Akhir Pementasan Karya Tari mengambil obyek pementasan karya-karya tari dari mahasiswa yang mengambil Tugas Akhir penciptaan tari. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan peran dan proses manajemen panggung dalam pelaksanaan pertunjukan tari pada Ujian Tugas Akhir prodi S-1 Tari. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti perlu menerapkan prinsip manajemen seni pertunjukan antara lain perancangan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah deskripsi tata kelola pertunjukan berjalan lancar, efektif, dan tepat waktu. Pencipta tari, penari, pendukung artistic (tata rias dan busana, set/property, lighting), music (sound system) mampu bekerjasama sesuai dengan rancangan artistic masing-masing sehingga mampu diapresiasi dengan baik oleh tim penguji dan penonton.  Kata kunci: Tata kelola, laboratorium, pertunjukan, manajemen, tari. AbstractThe research entitled Performance Laboratory Management in the Final Project Performance of Dance Works takes the object of staging dance works from students who take dance creation final projects. The purpose of this research is to explain the role and process of stage management in the implementation of dance performances in the Final Project Examination for S-1 Dance. To achieve this goal, researchers need to apply the principles of performing arts management, including design, organization, leadership, and supervision. The results achieved in this study are a description of performance governance that runs smoothly, effectively, and on time. Dance creators, dancers, artistic supporters (make-up and clothing, set/property, lighting), music (sound system) are able to work together in accordance with their respective artistic designs so that they can be well appreciated by the test team and the audience. Keywords: governance, laboratory, performance, management, dance.
Penciptaan Tari Anak-anak Disabilitas Kami Tak Berbeda Kuncoro, Jonet Sri; supendi, eko
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3148

Abstract

ABSTRACT  The dance work entitled "Kami Tak Berbeda” (We Are Not Different) is a dance work specifically for children with disabilities. This work is a development of previous works made by Jonet Sri Kuncoro. In this work combines deaf children, the blind, and physically disabled. This work is supported by three extraordinary schools in Solo Raya, namely SLB Cangakan Karanganyar and SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. This work was created with the approach of developing a pattern of six arising dots cell consisting of three rows with two dots on Braille letters made of 4/4 measure and sign language for the deaf and poetry reading. The peak process of the practice is a dance performance that has a form of performance combining the development of Braille letters pattern with sign language in group choreography supported by musical accompaniment as a power to express the atmosphere. Keywords: Disability, Deaf, Blind, Braille, Sign Language.  ABSTRAK Karya tari berjudul “Kami Tak Berbeda” merupakan karya tarian yang dikhususkan untuk anak-anak disabilitas. Karya ini merupakan pengembangan dari karya-karya sebelumnya yang dibuat oleh Jonet Sri Kuncoro. Pada karya ini menggabungkan antara anak-anak tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa. Karya ini di dukung oleh tiga sekolah luar biasa Kota Solo Raya, yaitu SLB Negeri Cangakan Karanganyar, dan SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. Karya ini diciptakan dengan pendekatan pengembangan pola enam sel titik timbul yang terdiri dari tiga baris dengan dua titik pada huruf Braille yang dibuat birama 4/4 dan bahasa isyarat bagi tuna rungu serta pembacaan puisi. Sebagai proses puncak dari latihan adalah pergelaran karya tari yang memiliki bentuk pertunjukan memadukan pengembangan pola huruf Braille dengan bahasa isyarat dalam koreografi kelompok yang didukung oleh iringan musik sebagai daya ungkap suasana. Kata kunci: Disabilitas, Tuna Rungu, Tuna Netra, Braille, Bahasa Isyarat.
IMAJINER RUANG KEPALA DALAM REKAMAN GAMELAN AGÊNG DENGAN TEKNIK STEREOFONIK Santosa, Iwan Budi
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3579

Abstract

ABSTRACT The presentation of Javanese gamelan cannot always be present in the midst of our busy lives. In order to present musical karawitan whenever needed by the audience, it requires the recording of Javanese gamelan that can represent the original sound. Javanese people generally realize that the presentation of Javanese gamelan will be better if it is presented in pendapa. To find musical recordings as a performance in pendapa, it needs to consider the recording equipment used as well as recording techniques so that the sound will be obtained in accordance to the original sound and can bring the soul or spirit of Javanese gamelan. In order to get the gamelan recording in accordance to the original sound and to present the soul or spirit of the gamelan, the recording equipment used must adjust to the sound characteristics of the gamelan instruments and the recording uses stereophonic techniques. Stereophonics is a recording technique that is done in order to produce sounds in according to the original sound where the listeners feel to see a live performance. Keywords: Javanese Gamelan, recording, stereophonic.  AbastrakPenyajian gamelan Jawa tidak selalu bisa hadir di tengah kesibukan kita. Untuk menyajikan musik karawitan setiap kali dibutuhkan oleh penikmatnya, diperlukan rekaman gamelan Jawa yang dapat merepresentasikan suara aslinya. Masyarakat Jawa umumnya menyadari bahwa penyajian gamelan jawa akan lebih baik jika disajikan dalam pendapa. Untuk mengetahui rekaman musik sebagai sebuah pertunjukan dalam pendapa perlu memperhatikan alat perekam yang digunakan serta teknik perekamannya agar didapat suara yang sesuai dengan suara aslinya dan dapat memunculkan jiwa atau ruh gamelan Jawa. Untuk mendapatkan rekaman gamelan yang sesuai dengan suara aslinya dan menghadirkan jiwa atau ruh dari gamelan tersebut, alat perekam yang digunakan harus menyesuaikan dengan karakteristik bunyi dari alat musik gamelan tersebut dan perekamannya menggunakan teknik stereofonik. Stereophonics adalah teknik perekaman yang dilakukan untuk menghasilkan suara yang sesuai dengan suara aslinya dimana pendengar merasakan secara langsung pertunjukannya. Kata kunci: Gamelan Jawa, rekaman, stereofonik.