cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)" : 12 Documents clear
ANALISIS PINJAMAN DAN BIAYA PINJAMAN DALAM POLA BAGI HASIL USAHA GARAM RAKYAT DI KABUPATEN PAMEKASAN, JAWA TIMUR Campina Illa Prihantini; Yusman Syaukat; Anna Fariyanti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.595 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3176

Abstract

Masalah keterbatasan modal sering dihadapi dalam pengembangan bisnis pertanian pedesaan.Usaha garam rakyat di Kabupaten Pamekasan juga menghadapinya. Pada umumnya, petanipenggarap memutuskan untuk berpartisipasi dalam sistem bagi hasil, yang menyediakan pinjaman,untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah : (1) mengestimasi biaya pinjaman yangditanggung petani penggarap; (2) mengidentifikasi faktor penentu besarnya pinjaman yang diperoleholeh petani penggarap, dan; (3) mengidentifikasi faktor penentu biaya pinjaman yang ditanggung olehpetani penggarap. Penelitian ini menggunakan teknik purposive dan snowballing sampling. Metodeanalisis yang digunakan adalah analisis biaya pinjaman dan analisis regresi linier berganda. Biayapinjaman yang harus ditanggung oleh petani penggarap ternyata jauh lebih besar daripada tingkatsuku bunga pinjaman formal. Biaya pinjaman berada dalam kisaran angka 6.00% hingga 93.45% perbulan. Besarnya pinjaman yang diperoleh oleh petani penggarap dipengaruhi secara signifikan olehlama pinjaman, jumlah anggota keluarga petani penggarap, biaya pinjaman, keuntungan yang diterimapetani penggarap, asal daerah petani penggarap, ketersediaan jaminan, sumber pinjaman lain, dan polabagi hasil. Biaya pinjaman dipengaruhi secara signifikan oleh lama pinjaman, harga garam, produksigaram, ketersediaan jaminan, sumber pinjaman lain, dan pola bagi hasil. Pemerintah perlu bekerjasamadengan perbankan daerah untuk memberikan pinjaman bersubsidi. Hal ini dilakukan untuk mengatasipermasalahan biaya pinjaman yang sangat tinggi.Title: Analysis of Credit and Cost of Fund in Sharecropping System of Salt Production Business in Pamekasan Regency, East JavaLimited capital problem is often faced in developing rural agricultural business. Salt production business in Pamekasan Regency also faced it. Generally, the sharecroppers choosed to join sharecropping system, providing credit, to finish that problem. The objectives of this research are : (1) to estimate cost of fund paid by the sharecropper; (2) to identify the determinants of credit accepted by the sharecropper; and (3) to identify the determinants of cost of fund paid by the sharecropper. This research use purposive and snowballing sampling technique. Analysis methods of this research are the cost offund analysis and multiple linier regression analysis. Cost of fund paid by the sharecropper is more higher than the credit formal interest rate. It was about 6.00% to 93.45% per mounth. Credit nominalaccepted by the sharecropper is affected significantly by duration, number of sharecropper’s family, cost of fund, sharecropper’s profit, sharecropper’s region, collateral, another credit, and sharecroppingsystem. Cost of fund is affected significantly by are duration, price, number of output, collateral, another credit, and sharecropping system. The government should cooperate with the regional bank to give subsidized credit. It can solve the cost of fund problem that is very high. 
STRATEGI PENYELESAIAN MASALAH SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DI KEPULAUAN BANDA NEIRA, KABUPATEN MALUKU TENGAH Adil M Firdaus; Julham MS. Pelupessy; Jimmi RP. Tampubolon
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.83 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3172

Abstract

Pendekatan sosial ekonomi sangat diperlukan dalam menyusun strategi penyelesaian masalahmasyarakat pesisir. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan sosial ekonomi di KepulauanBanda Neira. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, pengamatan, dan studi literatur.Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosial ekonomi dengan analisis deskriptif,SWOT, dan AHP. Hasil kajian menunjukkan ada tiga prioritas masalah masyarakat Banda Neira yaitufasilitas kebersihan, pendapatan masyarakat khususnya nelayan masih rendah, dan ketersediaanair tawar. Strategi penyelesaian masalah dapat dilakukan melalui upaya meningkatkan modal sosialekonomi dengan cara memperkuat kelembagaan (kelompok masyarakat dan nelayan) dan kearifanlokal, kelestarian lingkungan dan budaya, dan pemberdayaan masyarakat.Title: Socio-Economic Problem Solving Strategies of Coastal CommunitySocio-economic approach is indispensable in developing problem-solving strategies of the coastalcommunities. This study aims to assess socio-economic problems in Banda Neira Islands. Data werecollected by interview, observation, and literature studies. Data was analyzed using socio-economicapproach with descriptive analysis, SWOT and AHP. Results showed, there are three priorities BandaNeira communities issues namely sanitary facilities, community income is still low especially the fishers,and availability of fresh water. Strategies for eliminating problems can be done through increasingthe socio-economic capital by strengthening the institutions (community and fishers groups) and localwisdom, environmental and culture sustainability, and community empowerment.
KAJIAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA NELAYAN BURUH DI DESA BAJO SANGKUANG KABUPATEN HALMAHERA SELATAN Fajria Dewi Salim; Darmawaty Darmawaty
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.638 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3177

Abstract

Ketahanan pangan rumah tangga dipengaruhi oleh banyak faktor dan bervariasi antar individuataupun rumah tangga. Salah satu kelompok masyarakat di perkotaan yang masih tergolong rawanpangan adalah nelayan. Masyarakat Desa Bajo Sangkuang bermata pencahariaan utama sebagainelayan, dan mayoritas adalah menjadi buruh pada bagang perahu. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui kondisi ketahanan pangan rumah tangga nelayan buruh di Desa Bajo Sangkuang.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan survei. Pengumpulan datadilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada 97 rumah tangga nelayan buruh yangdipilih secara acak dan wawancara mendalam kepada informan kunci yakni kepala desa, nelayan buruh,pemilik bagang. Kondisi ketahanan pangan dianalisis dengan menggunakan indeks ketahanan panganyang dikembangkan oleh FAO. Hasil kajian menunjukkan bahwa 92,78% rumah tangga nelayan buruhdalam kategori tidak tahan pangan, sebanyak 7,22% termasuk kurang tahan pangan dan tidak adarumah tangga nelayan buruh termasuk dalam kategori tahan pangan.Title: Analysis of Household Food Security of The Fishers Labors in The Village of Bajo Sangkuang South Halmahera RegencyHousehold food security is affected by many factors and varies among individuals or households. One of the groups of people in urban areas are classified as food insecurity is the fisher. Most of the people in the Village of Bajo Sangkuang is the fishers and most of them became laborers at bagang boats. The aim of this study was to determine the food security of households of fisher workers. This study used a descriptive-analytical method with survey approach. Data were collected through interviews using a questionnaire for 97 fisher labor households as randomly selected and in-depth interviews with four keys informant such as the head of village, fishing laborers, and owner of Bagang perahu. Food security condition is analyzed using food security index by FAO. Results show that 92,78% of fishing laborers household are insecure, 7,22% are middle-secure and there is no fisher labor households are categorized as highly food security. 
ESTIMASI KERUGIAN NELAYAN DAN PEMBUDIDAYA IKAN AKIBAT REKLAMASI DI TELUK JAKARTA Andrian Ramadhan; Maulana Firdaus; Rizky Aprilian Wijaya; Irwan Muliawan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.872 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3168

Abstract

Kondisi pesisir Jakarta tengah mengalami perubahan besar akibat reklamasi Teluk Jakarta. Perubahan tersebut mengakibatkan hilangnya wilayah perikanan baik untuk kegiatan penangkapan maupun budidaya. Nelayan dan pembudidaya langsung merasakan dampaknya terhadap produksi dan pendapatan hasil usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kerugian nilai ekonomi yang dialami nelayan dan pembudidaya ikan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalahvaluasi ekonomi dengan analisis data menggunakan effect on production (EoP) dan residual rent. Hasil penelitian menunjukkan potensi kerugian nelayan dari hilangnya wilayah perairan mencapai Rp. 94.714.228.734 per tahun. Sementara kerugian pembudidaya kerang sebesar Rp. 98.867.000.591 per tahun dan pembudidaya ikan di tambak sebesar Rp. 13.572.063.285 per tahun. Besarnya kerugian yang dialami oleh nelayan dan pembudidaya tersebut hendaknya menjadi perhatian semua pihakterutama bila kegiatan reklamasi terus dilakukan. Title: Economic Loss of Fisher and Fish Farmer Due to Reclamation of Jakarta BayCoastal area in Jakarta faces a huge change since reclamation in this area is started. The change resulted the loss of fishing and aquaculture areas. Fisher and fish farmer directly feel the impact in the form of loss of production and income. This research aim to estimate the economic loss of fisher and fish farmer regarding to the reclamation. Approach used is economic valuation with effect on production (EoP) and residual rent as tools of data analysis. The result showes the economic loss of fisher reach Rp. 94.714.228.734 per year. Meanwhile the losses of shellfish farmers are Rp. 98,867,000,591 per year and pond fish farmers are Rp. 13,572,063,285 per year. These losses should be the concern of all parties, especially when the reclamation is continues. 
DETERMINAN PENDAPATAN NELAYAN TANGKAP TRADISIONAL WILAYAH PESISIR BARAT KABUPATEN BARRU Abd. Rahim; Diah Retno Dwi Hastuti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.373 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3173

Abstract

Nelayan tradisional telah dicirikan sebagai kelompok masyarakat miskin dengan tingkatketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya perikanan. Penelitian yang dilakukan di wilayahpesisir pantai Barat Kabupaten Barru bertujuan untuk mengetahui besarnya perbedaan pendapatannelayan tangkap tradisional dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukandengan metode deskriptif dan metode penjelasan dengan analisis regresi berganda pada data crosssectionpada Tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan nelayan tangkaptradisional perahu motor tertinggi terdapat di Kecamatan Balusu sebesar Rp.580.242/ trip dan terendahKecamatan Tanete Rilau sebesar Rp.418.728/ trip. Nelayan perahu tanpa motor pendapatan usahatangkapnya tertinggi pada Kecamatan Tanete Rilau sebesar Rp.250.562/trip dan terendah KecamatanSoppeng Riaja Rp.176.106/trip. Lain halnya perubahan pendapatan usaha tangkap nelayan perahumotor dipengaruhi secara positif oleh harga minyak tanah, lama melaut, umur nelayan, serta secaranegatif oleh harga bensin, pengalaman melaut, dan perbedaan wilayah Kecamatan Barru, artinya setiapperubahan kenaikan harga minyak tanah, lama melaut, umur nelayan serta penurunan harga bensin,pengalaman melaut, dan perbedaan wilayah Kecamatan Barru, maka akan menaikkan/ menurunkanpendapatan usaha tangkap nelayan perahu motor. Pendapatan usaha tangkap nelayan perahu tanpamotor dipengaruhi secara positif oleh pengalaman melaut dan perbedaan wilayah Kecamatan TaneteRilau serta secara negatif oleh lama melaut dan umur nelayan, artinya setiap perubahan bertambahnyapengalaman melaut dan perbedaan wilayah Kecamatan Tanete Rilau serta berkurangnya lama melautdan umur nelayan maka akan menaikkan/ menurunkan pendapatan usaha tangkap nelayan perahumotor. Implikasinya, dalam meningkatkan pendapatan dari usaha tangkapnya nelayan tradisionaldiperlukan adanya dukungan armada laut dan alat tangkap sehingga dari jumlah nelayan yang adadapat meningkatkan jumlah trip penangkapan.Title: Determinants of Traditional Fishing Income in West Coast of Barru RegencyThe traditional fishers have been characterized as a poor community with a high level of dependency on fisheries resources. This research was conducted in the coastal areas of West Barruwith aims to determined the magnitude of differences in traditional fishers income and to analyze theinfluence factors. The study was conducted with descriptive methods and multiple regression analysison cross-section data in 2013. The results showed that the average income of traditional fishers withoutboard motor was highest in the District Balusu Rp580.242/trip and the lowest in the District TaneteRilau Rp418.728/trip. The highest fishers income with non powered was in Tanete Rilau DistrictRp250.562/trip and the lowest was in Riaja Soppeng District of Rp176.106/trip. Another case changes inincome capture fisheries motorboat positively influenced by fuel price, fishing duration, fishers age, andnegatively influenced by gasoline price, fishing experience, and the difference in region District Barru,meaning that any changes to the increase in the fuel price, fishing duration, fishers ages and declinein gasoline prices, fishing experience, and the difference in Barru District, it will increase/decrease themotorboat fishers revenues. Revenues of fishers without motors positively influenced by the experience of fishing and difference in region DistrictTaneteRilau and negatively influenced by fishing experience and fishers ages, meaning that any changes in accumulation of experiences and differences in the District ofTaneteRilau and reduced fishing duration and fishers ages will increase/decrease in operating revenues of fishers fishing motorboat. The implication, increasing the income of their fishing effort required traditional fishing fleets and fishing gear support so that from the number of fishers can increase the number of fishing trips.
Front Matter Matter, Front
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3908

Abstract

Front Matter
KINERJA SUB SEKTOR PERIKANAN DAN PARIWISATA BAHARI DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH PESISIR Mira Mira; Cornelia Mirwantini Witomo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1344.75 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3169

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja perikanan dan bahari pada wilayah pesisir.Apakah sub sektor tersebut termasuk unggulan/terbelakang/potensial/berkembang, apakah prospektifdan memiliki keunggulan komparatif. Penelitian berlangsung pada tahun 2014 di Kabupaten Brebesdan Kabupaten Sumbawa. Penelitian menggunakan metode analisis ”shift share”. Hasil analisismengindikasikan, pertama pada analisis profil pertumbuhan, sub sektor perikanan di Kabupaten Brebestermasuk sektor yang terbelakang/mundur (kuadran 4); sedangkan di Sumbawa termasuk padakategori sektor yang potensial. Guna menggenjot sub sektor perikanan ke sektor unggulan, BappedaKabupaten Sumbawa sudah membuat klaster perikanan budidaya, garam, dan tangkap yang sejalandengan program Minapolitan. Pemerintah Kabupaten Sumbawa harus meningkatkan nilai tambahpada sub sektor perikanan supaya masuk pada kategori produktif atau potensial dengan penguasaaanteknologi yang tepat guna. Sektor pariwisata bahari pada Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Brebestermasuk pada kategori sektor unggulan. Kedua, pada analisis pertumbuhan pangsa wilayah, subsektor perikanan dan wisata bahari termasuk pada sektor yang memiliki keunggulan komparatifkarena hanya sedikit komponen input yang diimpor, karena keuggulan komparatif pada suatu wilayahadalah bagaimana wilayah tersebut menghasilkan komoditas/jasa yang bahan bakunya berdasarkansumberdaya yang dimiliki bukan impor dari negara lain. Akan tetapi, sub sektor perikanan di KabupatenBrebes tidak memiliki daya saing karena adanya abrasi di pantai utara Brebes yang menyebabkanhilangnya tambak di beberapa wilayah dan menurunnya hasil tangkapan, hanya sektor wisata bahariyang memiliki keunggulan komparatif.Title: Fisheries and Tourism Sub Sectors Performance in Economic Structure of Coastal AreaThe objective of this research is to analyze performance of fisheries and marine tourism atcoastal area. Performance were assessed to understanding whether sub-sector featured/backward/potential/ developing, whether these sub sector had a prospective and comparative advantagecategory. This research was conducted on 2014 in Brebes and Sumbawa District. This researchwas using shift share analysis. The result showed that Brebes fisheries sector was in quadrant 4or backward condition, whereas in Sumbawa included in the category of potential sectors. In orderto boost the fisheries sub-sector to the superior sector, Regional Planning Agency of SumbawaDistrict already made cluster aquaculture, salt, and capture fisheries line with minapolitan program.Sumbawa District Government should increase the value added in the fisheries sub-sector in orderto enter the category of productive or potential authorization appropriate technologies. Marine tourismsector in Sumbawa and Brebes included in the category of leading sectors. Second, the analysis ofthe share region growth, sub sector of fisheries and marine tourism, including in sectors that have acomparative advantage because only a few imported inputs components, because comparativeexcellence to an area is how the region produces commodities / services with raw materials based onthe resources they have not import from other countries. However, the fisheries sub-sector in Brebes isnot competitive because of their abrasion on Brebes north coast which causes a loss of ponds in someareas and declining catches, only the marine tourism sector has a comparative advantage.
DOMINASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DI KOTA KENDARI Studi Kasus: Nelayan Bugis Makassar Christina Yuliaty; Riesti Triyanti; Nendah Kurniasari
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.432 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3174

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi etos kerja nelayan Bugis-Makassar yang mempengaruhidominasi mereka dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di Kota Kendari. Tulisan ini menggunakanpendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancaramendalam menggunakan topik data sebagai pedoman wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi.Analisis data dilakukan dengan menggunakan push-pull theory. Hasil pembahasan menunjukkandominasi nelayan Bugis - Makassar dalam pemanfatan sumberdaya perikanan di Kota Kendari didorongoleh falsafah hidup yang terwujud dalam etos kerja yang tinggi. Etos kerja tersebut tergambar padacurahan waktu kerja, pemanfaatan waktu luang, disiplin dan pandangan ke depan/visioner. Di sisi lain,letak geografis dan masih tersedianya lahan potensial, potensi perikanan yang besar menjadi faktorpenarik berpindahnya nelayan Bugis-Makassar ke Kota Kendari.Title: Domination Fisheries Resources Used in Kendari City Case Study : Bugis Makasarese FishersThis study aims to explore the work ethic of Bugis-Makassar fishermen affecting their dominancein the utilization of fishery resources in Kendari and background history of Kendari ethnic (Tolaki) whoprefer to controled the formal sector and the agricultural sector. This study used a qualitative descriptiveapproach with data collection techniques used in-depth interview with data topic, observation anddocumentation. Data were analyzed by push-pull theory. The results showed the dominance ofBugis - Makassar fishermen in utilization of fishery resources in Kendari driven by a philosophy of lifethat is embodied in a high work ethic. The work ethic is reflected in working hours, use of leisure time,discipline and foresight / visionary. The other side, geographical location, the available potential land andfisheries becomes pull factors for migration of Bugis-Makassar to Kendari.
Back Matter Matter, Back
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3909

Abstract

Back Matter
TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN SKALA KECIL DENGAN PENDEKATAN PENGHIDUPAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN INDRAMAYU Riesti Triyanti; Maulana Firdaus
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.266 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3170

Abstract

Kabupaten Indramayu memiliki jumlah rumah tangga menengah kebawah paling banyak diProvinsi Jawa Barat. Artinya, tingkat kesejahteraan yang dimiliki masih rendah. Penelitian ini bertujuanuntuk mengkaji tingkat kesejahteraan nelayan skala kecil (≤ 5 GT) di Kabupaten Indramayu. Datayang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang dikumpulkan dengan menggunakanteknik wawancara, observasi dan pencatatan. Analisis data menggunakan pendekatan penghidupanberkelanjutan menggunakan indikator sumber daya keuangan, sosial, manusia dan alam. Tingkatkesejahteraan nelayan dapat dihitung dengan pendekatan penghidupan berkelanjutan yang berfungsiuntuk mengetahui kesejahteraan secara relatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks penghidupannelayan berada pada kategori sedang (54,93%); capaian indikator modal keuangan (83,51%) dengankategori sangat baik; indikator modal alam (60,00%) dengan kategori sedang; indikator modal sosial(13,20%) dengan kategori buruk; dan indikator modal sumber daya manusia (56,65 %) dengan kategorisedang. Oleh karena itu, strategi yang direkomendasikan dalam mewujudkan penghidupan berkelanjutandi Kabupaten Indramayu adalah melalui peningkatan indikator modal sosial seperti peningkatanakses masyarakat terhadap kelembagaan ekonomi, mengoptimalkan kelembagaan masyarakat yangada khususnya dalam setiap program pemerintah, mengintegrasikan kelembagaan informal dengankelembagaan formal, dan mengaktifkan kembali koperasi yang telah ada atau mendirikan koperasiperikanan baru.Title: Welfare Level of Small Scale Fishers Based on Sustainable Livelihood Approach in Indramayu DistrictIndramayu District has a majority of fisher’s household with less prosperity in the West Javaprovince. This study aimed at analyzing the welfare of small-scale fisheries (≤ 5 GT) in IndramayuDistrict. Primary and secondary data were collected by using interviews, observation and recording.Analysis of the data used to determine the level of welfare of fisher’s are using the sustainable livelihoodsapproach using indicators of financial, social, human and natural resources. The welfare level of fisherscountable with sustainable livelihood approach which serves to determine relative welfare. The analyzeresults showed that the fisher livelihood index in middle category (54.93) with performance indicatorsof financial resources (83.51%) with very good categories; indicators of natural resources ( 60.00%)in the medium category; indicators of social resources (13,20%) with bad categories; and indicatorsof human resources (56.65%) with medium category. Therefore, recommendation strategy in order torealize sustainable livelihoods in Indramayu through increasing people’s access to economic institutions;optimize existing community institutions, especially in any government program; institutional integrateinformal with formal institutions; and activated existing cooperatives or built the new cooperative.

Page 1 of 2 | Total Record : 12