cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)" : 7 Documents clear
MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN KEPADA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA LABUHAN BHAKTI, KABUPATEN SIMEULUE PROPINSI NANGGROE ACEH DARRUSSALAM Rizky Muhartono; Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.733 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5863

Abstract

Secara khusus tsunami berdampak besar terhadap kehidupan nelayan. Tulisan ini bertujuan mengkaji mekanisme pemberian bantuan terhadap masyarakat nelayan setelah terjadinya gempa dan tsunami di Desa Labuhan Bhakti Kabupaten Simeulue, Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Riset dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus pada mekanisme pemberian bantuan kepada masyarakat nelayan. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan menggunakan pendekatan survei terhadap responden menggunakan cara wawancara semi terstruktur dengan panduan beberapa topik data. Data yang diperoleh baik data primer maupun data sekunder dianalisis secara deskriptif. Hasil riset menunjukkan bahwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kabupaten Simeulue telah mengakibatkan rusaknya sarana dan fasilitas di sektor kelautan dan perikanan, bahkan korban jiwa pada masyarakat nelayan. Pemberian bantuan kepada masyarakat nelayan di Kabupaten Simeulue melalui beberapa tahapan, mulai dari menentukan lokasi penerima bantuan dankelompok pendamping, hingga pentahapan yang berupa kegiatan pendaftaran, pendaftaran ulang, penegasan, penguatan organisasi dan administrasi. Kemudian, dilanjutkan dengan penguatan modal, usaha produktif dan penguatan jaringan menuju tahap pengembangan usaha. Program pendampingan telah berhasil dilakukan pada nelayan setempat yang ditunjukkan oleh dua aspek yaitu respon masyarakat dan aspek ekonomi. Disarankan proses pemberian bantuan terhadap nelayan memperhatikan kondisi sosial budaya, adat dan kebiasaan dalam menangkap ikan, sehingga bantuan dapat berguna bagi nelayan, melalui proses need assessment yang dilakukan secara cepat, tepat dan terarah. Tittle: The Giving Aid Mechanism to the Fishers at Labuhan Bhakti Village, Simeulue District, Nanggroe Aceh Darrussalam Province.Specially, tsunami has big impact for fishers. The aim of this paper is to recite the aid mechanism for fishers after tsunami and earthquake at Labuhan Bhakti Village, Simeulue District Nanggroe Aceh Darrussalam Province. This reaserch was done by using case study approach in term to see fishers aid mechanism. Primary and secondary data was used. Data was collected by using survey approach to responden that contain semi-structure interview with some data topics as a guideline. Descriptive analysis was used to analize primary and secondary data. The result shows that earthquake and tsunami that happened in Simeulue District has destroyed facilities in marine and fisheries sector, include fishers victims. Steps in giving aid mechanism to the fishers at Simelue District; Choosing location for aid receiver and assistant group, arranging in phases that contents registers, re-registers, confirmation, administration and organization strenghten. Then, it was continued by capital strenghten, productive effort and network strenghten to the development phase. Assistance programe has been done successfully by the local fishers  that showed by two aspects : society response and economy aspect. The study suggests that donation or aid mechanism has to be considered with social-culture condition and customs in fishing, so that the aid can be useful for the fishers through need assessment process done quickly, exactly and directed.
OPTIMASI PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN KARANG HIDUP KONSUMSI (LIFE REEF FISH FOR FOOD / LRFF) DI PERAIRAN KEPULAUAN SPERMONDE, SULAWESI SELATAN Benny Osta Nababan; Yesi Dewita Sari
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1143.474 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5859

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan dan menentukan tingkat optimal pemanfataan sumberdaya LRFF di perairan Kepulauan Spermonde. Penelitian ini dilakukan di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan model surplus produksi dengan fungsi pertumbuhan logistik. Model pengelolaan dilihat dari rezim maximum economi yield, maximum sustainable yield dan open access. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai biomas optimal pada rezim maximum economic yield (MEY) adalah 5.120 ton, tingkat produksi optimal adalah 1.047 ton dan jumlah effort (trip) optimal yang diperbolehkan adalah 284.792 trip. Pada rezim maximum sustainable yield (MSY) biomas, produksi dan upaya lestari adalah berturut-turut 4.154 ton, 1.107 ton dan 371.128 trip. Rezim akses terbuka biomas maksimum hanya 1.933 ton, produksi maksimum yang dapat diperoleh sebesar 790 ton dan jumlah trip maksimum yang diperbolehkan 569.584 trip. Rente ekonomi yang diperoleh jika menerapkan rezim MEY adalah Rp 41.587.148.882, rezim MSY adalah Rp 37.765.171.742 dan rezim open access adalah Rp.0. Pemanfaatan sumberdaya LRFF di Kepulauan Spermonde telah terjadi overfishing karena diketahui produksi aktual lebih tinggi daripada produksi optimal yang disarankan. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan perikanan sumberdaya LRFF yang mengarah kondisi optimal agar dalam jangka panjang pemanfaatan sumberdaya LRFF tetap lestari. Tittle: Optimal Exploitation Of Life Reef Fish For Food (LRFF) In The Spermonde Islands Of South Sulawesi.This research aimed to understand about the LRFF resources exploitation rate and its optimal used in the Spermonde Islands. The research was conducted in Spermonde Island of South Sulawesi. This research was used surplus production model with logistic growth function. Management model of LRFF resources based on maximum economic yield, maximum sustainable yield and open access regimes. Results showed that optimal biomass, optimal production and optimal effort at maximum economic yield were obtained at 5.120 ton, 1.047 ton and 284.792 trip. Sustainable biomass, productions and effort at maximum sustainable yield were 4.154 ton, 1.107 ton and 371.128 trip. Maximum biomass, productions and effort at open access were 1.933 ton, 790 ton and 569.584 trip. Economic rent obtained if applying regime of MEY was Rp 41.587.148.882, regime MSY was Rp 37.765.171.742 and regime open access was Rp.0. Exploitation of LRFF at Spermonde Island had indicated over fishing, because actual productions was greater than optimal productions. Therefore, on optimal management of LRFF fisheries resource is required to ensure long-term sustainability of the LRFF
DAMPAK PEMBERITAAN PENYALAHGUNAAN FORMALIN DI SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN Yayan Hikmayani; Siti Hajar Suryawati; Agus Heri Purnomo; Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.091 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5864

Abstract

Riset dampak pemberitaan penyalahgunaan formalin di sektor kelautan dan perikanan telah dilakukan pada tahun 2006. Riset ini bertujuan untuk melihat sejauhmana dampak yang ditimbulkan akibat pemberitaan tentang penyalahgunaan formalin di sektor kelautan dan perikanan pada produsen dan konsumen. Pendekatan studi digunakan melalui analisis kebijakan. Data primer dan sekunder dirumuskan sesuai keperluan analisis kebijakan ini yaitu penelusuran terhadap dampak pemberitaan formalin terhadap produsen dan konsumen di sektor kelautan dan perikanan. Kemudian data hasil verifikasi dan survey lapang yang berasal dari kuesioner dan catatan lapangan (field notes) diolah secara deskriptif untuk mendapatkan interpretasi logis. Lokasi studi ditetapkan secara sengaja (purposive) dengan kriteria tersebut merupakan sentra penanganan dan pengolahan produk perikanan dan diberitakan banyak menggunakan bahan kimia formalin yaitu Jawa Barat (Karawang), Jawa Tengah (Semarang), DKI Jakarta dan Bandar Lampung. Hasil studi menunjukkan bahwa bagi produsen yang meliputi nelayan, pengolah dan pembudidaya ikan dampak negatif dari pemberitaan formalin adalah menurunnya permintaan ikan hasil tangkapan dan olahan sehingga pendapatan nelayan dan pengolah menjadi berkurang, sedangkan bagi konsumen dampak negatifnya konsumen jadi takut mengkonsumsi ikan laut dan hasil olahan sehingga lebih memilih mengkonsumsi tempe/tahu dan telur. Dampak positifnya bagi produsen baik nelayan dan pengolah yaitu sebagian dari mereka jadi mengetahui bahwa formalin tersebut membahayakan dan berusaha tidak menggunakan lagi. Dampak positif bagi konsumen bertambah pengetahuan tentang bahaya formalin sehingga mereka akan lebih hati-hati dalam mengkonsumsi ikan dan untuk sementara konsumsi ikan mereka dialihkan ke ikan hasil budidaya yang banyak dijual dalam kondisi hidup. Tittle: The Impact of Announcement on The Mis-used of Formalin in Marine and Fisheries SectorResearch on impact of mis-used of formalin in marine and fisheries sector have been done in 2006. The aim of the research was to show the impact of announcement on the mis-used of formalin to producers and consumers. Policy analysis approach was used as the method of study. Primary and secondary data were formulated accordingly to meet the requirement of the policy analysis, that is impact of media release on both side of producers and consumers. Verified data and field survey processed descriptively to build logical interpretation.The locations of study were specified in purpose to represent the center of handling and processing of fisheries product indicated with formalyn abuse. These location were West Java (Karawang), Central Java (Semarang), DKI Jakarta and Bandar Lampung. The results of study showed that the negative impacts of the news on formalin abuse to the producers were decreasing on demand of catch and processed fish products, which in turn reduce the income of the fisherman and fish processors. On the other side, the consumer shift their preference to other products such as tempe, tofu and eggs. The positive impacts to the fisherman and fish processors were the knowledge of the danger of formalin abuse on their products and they avoid to use the chemical. The positive impact on fish consumers were the awareness on formalin use on health arose and temporary their fish consumption shifted to the aqucultured fish which sold in living form.
KETERKAITAN SEKTOR PERIKANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA: PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT Tajerin Tajerin; Risna Yusuf; Sastrawidjaja Sastrawidjaja; Asnawi Asnawi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.996 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5860

Abstract

Keterkaitan sektor perikanan dalam perekonomian nasional akan menentukan peran strategis sektor tersebut dalam pembangunan perikanan dan pemulihan perekonomian nasional. Untuk itu telah dilakukan kajian mengenai keterkaitan sektor perikanan ”dalam arti luas” dengan menggunakan metode analisis keterkaitan ke belakang (backward lingkage) dan ke depan (forward lingkage) berdasarkan pendekatan model input output. Data yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder dari table input output tahun 1990, 1995 dan 2000. Hasil kajian menunjukkan bahwa selama periode 1990-2000, secara rata-rata keterkaitan sektor perikanan dalam perekonomian nasional masih relatif lemah dengan indeks keterkaitan berkisar sebesar 0,46-1,10. Kecenderungan penguatan keterkaitan ke belakang terjadi pada perikanan darat, sedangkan penguatan keterkaitan ke depan terjadi pada industri pengolahan dan pengawetan ikan. Selain itu, keterkaitan antara kelompok perikanan primer (perikanan laut dan perikanan darat) dan kelompok perikanan sekunder (industri pengeringan dan penggaraman ikan dan industri pengolahan dan pengawetan ikan) lebih mencerminkan keterkaitan ke depan berupa aliran pasokan komoditas ikan untuk bahan baku. Namun keterkaitan itu masih relatif lemah dan cenderung semakin lemah. Tittle: Fisheries Sector Linkages in The National Economy: An Input-Output Approach.Fisheries sector linkage in National Economy will determine the strategic roles of the sector for its development and National Economic recovery. In line with this, a study was conducted to determine backward and forward linkage of the sector using input output model approach. Secondary data were used, that are input output tables of the year 1990, 1995 and 2000. The results of the study showed that during the period of 1990 - 2000, the average linkage of these sector in National economy are relatively weak with the index of linkage approximately of 0,46 - 1,10.Stronger backward linkage was observed in inland fisheries, while stronger forward linkage demonstrated on industrial fish processing and preservation. The linkage of primary fisheries group (sea and inland fisheries) to the secondary fisheries group (industrial fish processing) indicating the forward linkage such as fish supply as raw materials. However, the linkage is relatively weak.
PENGGABUNGAN BUMN SEKTOR PERIKANAN : STRATEGI MEWUJUDKAN KINERJA BUMN YANG EFISIEN DAN EFEKTIF Tenny Apriliani; Mira Mira; Agus Heri Purnomo; Tjahjo Tri Hartono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.138 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5865

Abstract

Kajian mengenai penggabungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perikanan bertujuan untuk mengkaji kinerja BUMN perikanan sebelum dan setelah dilakukannya kebijakan penggabungan terhadap 4 BUMN Perikanan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Januari hingga Desember tahun 2006. Tahapan penelitian meliputi pendeskripsian masalah dan perumusan pilihan kebijakankebijakan yang dilakukan secara deskriptif dan penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Hasil penelitian ini diperoleh informasi mengenai kinerja BUMN perikanan sebelum penggabungan dan prediksi kinerja setelah adanya penggabungan. Secara umum, hasil analisis kinerja keuangan keempat BUMN sektor perikanan sebelum penggabungan menunjukkan kinerja buruk. Artinya, perusahaan kesulitan untuk memenuhi kewajiban/utang-utang jangka pendek maupun jangka panjangnya. Kinerja PT Perikanan Nusantara (hasil penggabungan empat BUMN perikanan) pada prinsipnya sangat bertumpu pada unit usaha yang sebelumnya diusahakan oleh PT PSB. Unit usaha ini memiliki bisnis utama (core bussiness) pada kegiatan penangkapan tuna. Disisi lain perkembangan hasil tangkapan ikan tuna yang dilakukan oleh PT. PSB sebagai salah satu satuan unit bisnis PT.Perikanan Nusantara justru mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dua opsi kebijakan yang perlu dipertimbangkan adalah Kebijakan Penguatan Status Hukum dan Kebijakan Pre-Restrukturisasi. Kebijakan yang diusulkan ini selanjutnya diharapkan menjadi landasan dalam mewujudkan langkah-langkah strategis yaitu: (i) Strategi Penajaman Fokus Bisnis; (ii) Strategi Perbaikan Skala Usaha; dan (iii) Strategi Penciptaan Core Competencies. Tittle: The National State Enterprises of Fisheries Sector Merger : Strategy To Realizing Efficient And Effective Government Corporate PerformanceResearch on merging of The National State Enterprises of Fisheries Sector aims to analyze the performance of government corporate on fisheries before and after the merging policy on four governments corporate in Indonesia. This research was conducted from January to December 2006. Methodology used was the problem description and formulation of policy options and followed by assessment of financial performance by financial ratio analysis. The result of the research was information on the performance of government corporate before and after the merger. In general, the financial performance of four governments corporate of fisheries working before merger was poor. The corporations have difficulties to pay short and long term debts. The performance of PT.Perikanan Nusantara (merged corporate of four BUMN), basically it was highly converged on business unit of PT.PSB. This unit has core business on tuna's capture, which experiencing a constant decreasing on its yield. Two policy options should be considered to improve the situation, they are: the law status improvement and pre-restructurization policy. These policies were expected to realize the strategic steps; (i) Sharpening the business focus, (ii) Fixing the business scale and (iii) Core competencies creation.
KONTRIBUSI EKSPOR SEKTOR PERIKANAN DALAM PEREKONOMIAN NASIONAL: ANALISIS INPUT OUTPUT Risna Yusuf; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.878 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5861

Abstract

Kajian ini bertujuan mengetahui sejauhmana kontribusi ekspor sektor perikanan ”dalam arti luas” dalam perekonomian nasional, khususnya pada pertumbuhan output, pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja. Kajian ini menggunakan data sekunder yaitu tabel Input Output tahun 2000 yang dikeluarkan oleh BPS. Kajian ini menggunakan metode analisis Input Output. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kontribusi ekspor sub sektor industri pengolahan hasil perikanan dalam pembentukan output dan pendapatan masyarakat ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan sektor perikanan yaitu masing-masing 10,28% dari Rp 102.264.263 juta; 5.55% dari Rp. 28.721.949. Namun sebaliknya dalam penyerapan tenaga kerja, ternyata kontribusi ekspor sektor perikanan justru lebih besar dibandingkan dengan sub sektor industri pengolahan hasil perikanan sebesar 7,45% dari 2.685.339 orang. Oleh karena itu diperlukan peran pemerintah secara lebih nyata dalam mendorong besaran multiplier effect melalui penciptaan lapangan kerja dari kegiatan ekspor sub sektor industri pengolahan hasil perikanan dengan cara menumbuhkan kegiatan usaha di sub sektor industri perikanan yaitu di sub sektor industri pengeringan dan penggaraman dan sub sektor industri pengolahan dan pengawetan ikan. Tittle: Export Contribution of Fisheries sector in National Economy: An Input Output AnalysisThe objective of the research is to assess the extent of export contribution of Fisheries sub sector and its products in National Economy, especially on output growth, social income and labor absorption. Secondary data of input output table 2000, which published by BPS was used in this study. The method of input output analysis was used. Results of the research indicate that export contribution of processed fish product industries on output growth and social income are higher than the fisheries sector, which are 10.28% of Rp 102.264.26% and 5.55% of Rp 28.721.949, respectively. On the other hand, contribution of fisheries sector is higher than the one of processed fish product industries. Therefore, the government plays an important role to boost the multiplier effect on labor absorption of industrial fish processing by growing the activities on this sector; i.e. salted and dried fish and processed and preserved fish in terms of labor absorption.
DAMPAK KEBIJAKAN MAKROEKONOMI TERHADAP KINERJA SUB SEKTOR PERIKANAN DI INDONESIA: SUATU PENDEKATAN EKONOMETRIKA Asnawi Asnawi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1136.623 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5862

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan makroekonomi terhadap kinerja sub sektor perikanan. Model ekonometrika yang dibangun sebagai sistem persamaan simultan yang memasukan variabel kebijakan makroekonomi. Analisis dampak dibedakan dalam 3 (tiga) periode, yaitu sebelum krisis ekonomi periode 1993-1996, pada krisis ekonomi periode 1997-2000 dan pada peramalan periode 2003-2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan makroekonomi: (1) depresiasi nilai tukar rupiah, (2) peningkatan kredit di sub sektor perikanan, (3) peningkatan investasi di sub sektor perikanan, (4) kombinasi penurunan tingkat suku bunga dan peningkatan kredit di sub sektor perikanan, dan (5) kombinasi kebijakan 1, 3 dan 4 pada peramalan periode 2003-2007 dapat meningkatkan kinerja sub sektor perikanan (produksi, konsumsi dan ekspor perikanan meningkat). Depresiasi nilai tukar rupiah, peningkatan kredit atau investasi di sub sektor perikanan (kebijakan tunggal) dapat meningkatkan kinerja sub sektor perikanan. Kinerja sub sektor perikanan akan meningkat lebih tinggi apabila dilakukan kombinasi kebijakan yang dapat menurunkan tingkat suku bunga, peningkatan kredit dan investasi di sub sektor perikanan pada kondisi depresiasi nilai tukar rupiah. Tittle:  Impacts of Macroeconomic Policy on The Performance of Fisheries Sector in Indonesia: An Econometrics ApproachThis research was intended to analyze the impact of macroeconomic policy on the performance of the fisheries sector. The Econometric model was built in terms of simultaneous equations system, which include macroeconomic policy variables. The impact analysis was elaborated into three periods, i.e. the period before the economic crisis (1993-1996), the period of economic crisis (1997-2000), and the forecasting period (2003-2007). The results of the macroeconomic policies of: (1) depreciation in exchange rate of rupiah, (2) the increasing of credit in fisheries sector, (3) the increasing of investment in fisheries sector, (4) the combination of the decreasing of interest rate and the increasing of credit in fisheries sector, and (5) the policy combination 1, 3 and 4 for the forecasting period 2003-2007 could increase the performance of fisheries sector in terms of production, consumption and fisheries export. The depreciation in exchange rate of rupiah, the increasing of credit or investment in fisheries sector (single policy) could increase the performance of fisheries sector. The performance of fisheries sector will be keep increasing by combining policies of: decreasing of interest rate, increasing of credit in fisheries sector and increasing of investment in fisheries sector at condition depreciations in exchange rate of rupiah.

Page 1 of 1 | Total Record : 7