cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
DINAMIKA PENDAPATAN PENDUDUK DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR Ngadi Ngadi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.4 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5666

Abstract

Paper ini ditujukan untuk membahas dinamika pendapatan penduduk di wilayah pesisir Kabupaten Kepulauan Selayar. Penelitian dilakukan di dua desa kawasan pesisir yaitu desa Buki dan Bungaiya. Data yang digunakan untuk analisis adalah data survai sosial ekonomi masyarakat pesisir Kabupaten Kepulauan Selayar yang dilakukan pada tiga titik waktu yaitu : tahun 2006, 2008dan 2011. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik survai, wawancara terbuka dan penelusuran data sekunder. Responden untuk survai pada tiga titik waktu tersebut adalah responden yang sama,  kecuali jika responden tersebut telah meninggal dunia atau bermigrasi ke daerah lain maka digantikan dengan anggota keluarga atau tetangga terdekat. Analisis data dilakukan dengan analisis diskriptif baik dengan tabel sederhana, tabel silang antar variabel dan diagram/grafik. Hasil analisis menunjukkan terjadi peningkatan pendapatan rumah tangga mulai dari tahun 2006-2011 yaitu sebesar 5,99 persen per tahun. Pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan bersifat fluktuatif karena dipengaruhi oleh kondisi gelombang. Pada waktu musim gelombang kuat, sebagian besar nelayan tidak melaut sehingga tidak memperoleh pendapatan dari perikanan. Pada waktu musim gelombang lemah, hampir seluruh nelayan dapat melaut. Hasil tangkapan ikan sangat besar, tetapi harga jualnya murah.Title: A Dynamic Income of Population in The Coastal Area of The Selayar Islands DistrictThis paper aimed to discuss dynamic income of population in the coastal area of the Selayar Islands District. The study was conducted in two coastal villages, i.e., Bungaiya and Buki. Data were collected through a socio-economic survey in coastal communities conducted at three time points from 2006, 2008 and 2011. Respondents to the survey at three time points were the same respondents, unless respondents have either died or move to other areas then it replaced by a family member or neighbour nearby. Data analysis was done descriptively in terms of a simple table, cross table between variables and charts/graphs. Results showed that an increase in household income from the year 2006-2011 was accounted to 5.99 percent/ year. Household income from fishing activity was influenced by season dynamics. At the strong waves season, most of fishers do not go fishing so that they do not have an income from fishing activities. At the weak waves season, most of fishers go fishing. At this season, fisher’s fish caught was a huge, but it‘s price was low.
DINAMIKA DAYA SAING USAHA RUMPUT LAUT Mira Mira; Riesti Triyanti; Yayan Hikmayani
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.923 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i2.1258

Abstract

Program revitalisasi pada sektor perikanan telah berjalan sejak 8 tahun yang lalu dan telah berdampak pada usaha budidaya dan daya saing rumput laut di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika daya saing rumput laut yang banyak dibudidayakan di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. Metode pengumpulan data menggunakan metode survey dan wawancara dengan pembudidaya rumput laut di Nusa Penida dan Lombok Timur. Metode analisis data yang digunakan adalah Policy Analysis Matrix (PAM) dengan membandingkan daya saing rumput laut tahun 2005 dan 2013. Hasil analisis mengindikasikan bahwa di dua lokasi penelitian dengan adanya intervensi pemerintah dari tahun ke tahun menyebabkan keuntungan yang diterima pembudidaya pada tahun 2013 rumput laut lebih besar (PC (Profitabity Coofficient) > 1)) jika dibandingkan tanpa kebijakan (PC < 1) (tahun 2005). Keefektifan perhatian pemerintah tersebut bisa dilihat dari nilai SRP (Subsidy Ratio to Producers) dan EPC (Effective Protection Coofficient) yang berubah dari tahun 2005 dan 2013, bila pada tahun 2005 nilai SRP bertanda negatif dan EPC < 1, yang artinya subsidi dan kebijakan pemerintah belum efektif melindungi usaha rumput laut. Tahun 2013, nilai SRP bertanda positif dan EPC ) > 1 di masing-masing lokasi penelitian, yang artinya kebijakan pemerintah dan subsidi efektif mengembangkan usaha rumput laut. Dalam kurun waktu 8 tahun usaha rumput laut memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif yang bisa dilihat dari nilai DRC dan PCR (Private Cost Ratio), meskipun ada tren penurun keungulan kompetitif, karena pada tahun 2013 di Nusa Penida menggunakan BBM yang memiliki komponen impor yang lebih besar. Implikasi kebijakan pemerintah (kebijakan input) di dua lokasi penelitian yang diindikasikan dengan nilai NPCI (Nominal Protection Coofficient on Input) yang semakin meningkat maka keberpihakan pemerintah Nusa Penida lebih tinggi dibandingkan keberpihakan pemerintah Lombok Timur terhadap input usaha rumput laut baik itu tahun 2005 maupun pada tahun 2013. (Competitive and Comparative Dinamics of the Seaweed Busineses)Revitalization policy programs in the fisheries sector which has been creating since 8 years ago have the impact on the competitiveness seaweed at Small Islands. The purpose of this study examines competitive and comparative of seaweed. Survey and interview with seaweed cultivators were conducted at The Eastern Nusa Penida and The Eastern Lombok. Data analysis method uses a Policy Analysis Matrix (PAM). Results of the analysis indicate that in the two study sites government intervention have a positive impact. Benefits received by farmers in 2013 (PC (Profitabity Coofficient) > 1) greater than without a policy of revitalization in 2005 ( PC <1). The effectiveness of government policies showed by SRP (Subsidy Ratio to Producers) and EPC (Effective Protection Coofficient) values were changed from 2005 and 2013. The value of the SRP in 2005 is negative and EPC <1, it means subsidies and government policies have not been effective in protecting the seaweed business. SRP value is positive and EPC)> 1 in each of the research sites after 8 years of revitalization was launched (2013), it means government policies and subsidies effectively develop seaweed business. Seaweed business has also a competitive advantage and comparative advantages, it shown the DRC (Dosmetic Cost Ratio) and PCR (Private Cost Ratio) value. There is trend-lowering competitive advantage in Nusa Penida, because farmers in 2013 using a fuel that has a greater import components. Intervention of government (in terms of policy input) at two study sites increases the value of NPCI (Nominal Protection Coofficient on Input). The concern of Nusa Penida government on input seaweed business is higher than in the Eastern Lombok government.
DAMPAK KEBERADAAN INDUSTRI SEMEN TERHADAP SISTEM MATA PENCAHARIAN (LIVELIHOOD SYSTEM) NELAYAN BAYAH Yunia Rahayuningsih
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.446 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i2.5976

Abstract

Keberadaan industri semen di Kecamatan Bayah seperti dua sisi mata uang logam, memiliki dampak positif dan negatif tertentu bagi masyarakat sekitar, khususnya terhadap mata pencaharian nelayan Bayah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi mata pencaharian nelayan sebelum dan sesudah adanya industri semen, dan mengidentifikasi strategi adaptasi untuk menjamin keberlanjutan mata pencaharian di kalangan nelayan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan nelayan sebagai key informan. Data didapatkan melalui kuesioner, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masuknya industri semen (PT. Cemindo Gemilang) di Kecamatan Bayah membawa perubahan berantai, baik dari perubahan ekologis maupun kehidupan sosial ekonomi nelayan. Perubahan ekologis menyebabkan bergesernya daerah tangkapan ikan, perubahan ketersediaan produk perikanan sebagai modal utama, peningkatan biaya dalam mengakses sumber daya, dan berimplikasi pada pendapatan rumah tangga nelayan. Ketidakpastian penghasilan seringkali ditanggulangi dengan diversifikasi mata pencaharian, yang merupakan salah satu bentuk strategi nafkah ganda yang sudah dilakukan oleh nelayan Bayah sebelum adanya industri semen. Namun setelah adanya industri semen membuka peluang untuk bekerja di sektor non perikanan yaitu sebagai buruh pabrik dan kuli panggul di dermaga. Strategi adaptasi untuk menjamin keberlanjutan mata pencaharian dilakukan melalui adaptasi berupa penganekaragaman sumber pendapatan, penganekaragaman alat tangkap, perubahan daerah tangkapan, dan memanfaatkan hubungan sosial. Title: The Impact of the Cement Industry to the Livelihood System of Bayah Fishers The existence of cement industry in Bayah Sub-district is like two sides of the same coin, it has a positive and negative impacts for the surrounding community, especially on the livelihood of Bayah fishers. This study aims to describe the livelihood conditions of fishers before and after the cement industry exists in their village as well as to identify adaptation strategies to ensure the sustainability of fishers livelihoods. The study used descriptive qualitative method involving fishers as the key informant. Data were collected through questionnaires, in-depth interviews, FGD, and field observations. Results showed that the existence of cement industry (PT. Cemindo Gemilang) in Bayah Sub-district brought about a series of change toward ecological and socio-economic life of the fishers. Ecological change led to shifting of catchment areas, changes in the availability of fisheries product as their major capital, increased costs of access to resources, and implications toward household incomes. Uncertainty of income was frequently solved by varying livelihoods, and it was one of strategies that has been implemented by Bayah fishers even before the cement industry exists. However, the existence of cement industry has created job opportunity in non-fishery sector such as factory workers and dock porters. Adaptation strategies to ensure the sustainability of their livelihood are: diversification of sources of income, diversification of fishing gear, relocation of fishing area and empowerment of social relationship. 
KARAKTERISTIK DAN NILAI MANFAAT LANGSUNG SUMBER DAYA PESISIR (Studi Kasus di Perairan Segara Anakan, Kabupaten Cilacap) Riesti Triyanti; Rizki Aprilian Wijaya; Sonny Koeshendrajana; Fatriyandi Nur Priyatna
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni (2010)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.843 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v5i1.5790

Abstract

Perairan Segara Anakan di Kabupaten Cilacap merupakan perairan semi tertutup (laguna) yang terdiri dari laguna pusat (utama), yang dikelilingi oleh hutan mangrove dan lahan pasang surut (intertidal). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik sumber daya dan mengetahui nilai manfaat langsung dari pemanfaatan sumber daya yang dilakukan oleh masyarakat. Penelitian dilakukan di perairan Segara Anakan Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah, pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2009. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survey dengan metode analisis Effect on Production (EoP) -Residual Rent (RR) - Replacement Cost Method (RCM). Hasil penelitian menunjukkan nilai manfaat langsung dari sumber daya perairan Segara Anakan yang digunakan untuk kegiatan perikanan, pertanian dan pemanfaatan kayu mangrove sebesar Rp 911.046.869.346 per tahun, dengan nilai pemanfaatan dari kegiatan perikanan sebesar Rp 891.526.405.816 per tahun (98,9%), pertanian Rp 6.280.864.030 per tahun (0,7%) dan penggunaan mangrove sebagai bahan bakar sebesar Rp 3.239.599.500 per tahun (0,4%). Nilai tersebut memberikan gambaran bahwa keberadaan sumber daya perairan Segara Anakan memberikan kontribusi ekonomi yang cukup besar baik bagi masyarakat maupun pemerintah khususnya di sektor perikanan. Tittle: Characteristic and Direct Use Value of the Coastal Resources (Case Study of the Segara Anakan Resource of Cilacap District)Segara Anakan in Cilacap is a semi-enclosed lagoon which consists of the central lagoon as primary and bounded by mangrove forest and tidal land (intertidal). Mangrove ecosystem provides important roles for fisheries. Mangrove ecosystem contributes as nursery ground for marine biotas and as the filter of material contamination and wave drag. This research was to describe the characteristics of the resources and direct use value from the aquatic resources utilization in Segara Anakan, Cilacap Regency, Central Java Province during June to August 2009. This research used survey methods by applying the Effect on Production (EOP) - Residual Rent (RR) - Replacement Cost Method (RCM) method. Results of this research showed the direct use value from fishery, agriculture and mangrove extraction is IDR 911 billion per year thatinclude utilization of fisheries activity IDR 891 billion per year (98,9%), agriculture IDR 6 billion per year (0,7%), and mangrove extraction as firewood IDR 3 trillion per year (0,4%). This value describes large economic contributions of aquatic resources in Segara Anakan to local community and government, especially from fisheries.
PERANAN LEBUNG SEBAGAI SUMBER EKONOMI BAGI NELAYAN DAN SARANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN RAWA BANJIRAN DI SUMATERA SELATAN Yoga Candra Ditya; Aroef Hukmanan Rais; Syarifah Nurdawati; Ngurah Nyoman Wiadnyana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1512.595 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1193

Abstract

Perairan rawa banjiran di Sumatera Selatan dikenal dengan Lebak Lebung. Pengelolaannya mengikuti sistem lelang dengan berdasarkan pada kearifan lokal yang disesuaikan dengan keadaan alam. Tujuan penulisan ini adalah menelaah peran lebung sebagai sumber ekonomi bagi nelayan dan menjadi sarana pengelolaan sumber daya ikan khususnya di rawa banjiran Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif berdasarkan data dan informasi yang diperoleh melalui survei dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebung memiliki kekhasan dari jenis-jenis ikan yang rata-rata tergolong ikan ekonomis penting dan beberapa diantaranya adalah gabus (Channa striata), tembakang (Helostoma temminckii) dan sepat siam (Trichogaster pectoralis). Selain itu, lebung juga berperan dalam meningkatkan pendapatan tambahan nelayan, ini terlihat dari nilai R/C Ratio yang diperoleh pada tahun 2009 sebesar 2,45 dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 4,04. Hal ini mengindikasikan pengaruh positif keberadaan lebung terhadap sumber ekonomi masyarakat. Dilihat dari segi eksistensi pengelolaannya, keberadaan lebung harus tetap dijaga dengan sistem lelang yang selama ini dilakukan oleh masyarakat. Diharapkan dengan pola pengelolaan yang bijak dan bertanggung jawab, eksistensi lebung dapat terpelihara secara berkesinambungan.
KONTRIBUSI EKSPOR SEKTOR PERIKANAN DALAM PEREKONOMIAN NASIONAL: ANALISIS INPUT OUTPUT Risna Yusuf; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.878 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5861

Abstract

Kajian ini bertujuan mengetahui sejauhmana kontribusi ekspor sektor perikanan ”dalam arti luas” dalam perekonomian nasional, khususnya pada pertumbuhan output, pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja. Kajian ini menggunakan data sekunder yaitu tabel Input Output tahun 2000 yang dikeluarkan oleh BPS. Kajian ini menggunakan metode analisis Input Output. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kontribusi ekspor sub sektor industri pengolahan hasil perikanan dalam pembentukan output dan pendapatan masyarakat ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan sektor perikanan yaitu masing-masing 10,28% dari Rp 102.264.263 juta; 5.55% dari Rp. 28.721.949. Namun sebaliknya dalam penyerapan tenaga kerja, ternyata kontribusi ekspor sektor perikanan justru lebih besar dibandingkan dengan sub sektor industri pengolahan hasil perikanan sebesar 7,45% dari 2.685.339 orang. Oleh karena itu diperlukan peran pemerintah secara lebih nyata dalam mendorong besaran multiplier effect melalui penciptaan lapangan kerja dari kegiatan ekspor sub sektor industri pengolahan hasil perikanan dengan cara menumbuhkan kegiatan usaha di sub sektor industri perikanan yaitu di sub sektor industri pengeringan dan penggaraman dan sub sektor industri pengolahan dan pengawetan ikan. Tittle: Export Contribution of Fisheries sector in National Economy: An Input Output AnalysisThe objective of the research is to assess the extent of export contribution of Fisheries sub sector and its products in National Economy, especially on output growth, social income and labor absorption. Secondary data of input output table 2000, which published by BPS was used in this study. The method of input output analysis was used. Results of the research indicate that export contribution of processed fish product industries on output growth and social income are higher than the fisheries sector, which are 10.28% of Rp 102.264.26% and 5.55% of Rp 28.721.949, respectively. On the other hand, contribution of fisheries sector is higher than the one of processed fish product industries. Therefore, the government plays an important role to boost the multiplier effect on labor absorption of industrial fish processing by growing the activities on this sector; i.e. salted and dried fish and processed and preserved fish in terms of labor absorption.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS PELATIHAN PERIKANAN BUDIDAYA (Studi Kasus di Wilayah Kerja Balai Diklat Perikanan Banyuwangi) Madyunin Madyunin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2012): DESEMBER (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2679.633 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i2.5687

Abstract

Untuk mengejar ketertinggalan teknologi budidaya perikanan yang dialami oleh pembudidaya ikan saat ini, salah satu solusi yang dapat dilakukan yaitu melalui pelatihan perikanan budidaya. Penelitian analisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pelatihan budidaya perikanan ini bertujuan untuk mengukur hubungan kausalitas dari faktor sarana pelatihan, kualitas peserta pelatihan, ketepatan metode pelatihan, kualitas bahan ajar, dan faktor kualitas pelatih terhadap efektivitas pelatihan budidaya perikanan. Obyek penelitian ini yaitu purnawidya pelatihan budidaya perikanan yang dilatih di Balai Diklat Perikanan Banyuwangi, yang tersebar di tiga provinsi, sebanyak 105 orang. Data dianalisis dengan Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian mengemukakan bahwa faktor sarana pelatihan berpengaruh positif signifikan terhadap efektivitas pelatihan budidaya perikanan dan efektivitas pelatihan budidaya perikanan terhadap efisiensi kinerja pembudidaya ikan berpengaruh positif signifikan. Selanjutnya diperoleh hasil bahwa faktor kualitas peserta pelatihan , kualitas isi bahan ajar, ketepatan metode pelatihan dan kualitas pelatih tidak signifikan terhadap efektivitas pelatihan yang dilakukan. Hasil penelitian merekomendasikan bahwa Balai Diklat Perikanan Banyuwangi perlu pembenahan terhadap kriteria calon peserta pelatihan, kualitas bahan pembelajaran, peningkatan kualitas pelatih Title: Analysis of Factors Affecting Effectiveness of Aquaculture Training (Case Study on the Fisheries  Training Center of Banyuwangi)One of the solutions to pursue the lack of the aquaculture technology is providing a training program for fish farmer.This research was used using the Analysis of factors affecting the training effectiveness. Objective of the research were to measure the causality relations of the training equipment factor, the quality of the participants and the material, the provision of the training methods, and the quality of the trainers toward the effectiveness of training program. Object of the research was the Purnawidya of aquaculture training in the Banyuwangi Training Center which spread out in 3 provinces with over 105 participated. Data were analyzed by using the Structural Equation Modeling (SEM). Results shows that equipments have a positive significant impact toward the effectiveness of the training and the efficiency of the aquaculture performance. The quality of the training and the material, the methods, and the quality of the trainers not significant impacted the of effectiveness of the training program. The result recommends the Banyuwangi Training Center need to improve the criteria for selecting the participants, the quality of the materials, and to improve the quality of the trainers
POTENSI SUB-SEKTOR PERIKANAN UNTUK PENGEMBANGAN EKONOMI DI BAGIAN SELATAN GUNUNGKIDUL Gilang Adinugroho
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.06 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3698

Abstract

Pembangunan di bagian selatan Gunungkidul masih tertinggal dibandingkan daerah lain. Pada tahun 2014 nilai produksi perikanan laut di bagian selatan mencapai 29 milyar, menjadi potensi mengembangkan ekonomi wilayah. Penelitian ini bertujuan penelitian untuk: (1) mengidentifikasi perkembangan kegiatan perikanan laut, dan; (2) mengidentifikasi peran dan potensi sub sektor terhadap ekonomi wilayah di bagian Selatan Gunungkidul. Metode penelitian deskriptif kualitatif dan lokasi berada di 6 kecamatan di bagian selatan yaitu Panggang, Purwosari, Tepus, Saptosari, Tepus, dan Girisubo. Produksi perikanan laut di bagian selatan selama 2004-2013 mengalami peningkatan sedangkan nilai produksinya relatif fluktuatif. Komoditas utamanya adalah teri, tuna, cakalang dan pari. Terdapat 8 PPI di Gunungkidul, Sadeng mempunyai produksi tertinggi dan fasilitas paling lengkap. Kontribusi sub sektor perikanan kecamatan bagian selatan terhadap kabupaten terus menurun selama 2004-2013. Hampir semua sub sektor perikanan di bagian selatan merupakan sektor unggulan, kecuali di Purwosari. Hasil analisis menunjukkan bahwa kegiatan perikanan di Tepus merupakan unggulan dan prospektif. Sub sektor perikanan di Saptosari, Tanjungsari, Panggang dan Girisubo termasuk unggulan tapi tidak prospektif. Kegiatan perikanan di Purwosari bukan sektor unggulan dan tidak prospektif.Title: Potention Of Fishery Sub-Sebctor For Economic Development In Southern GunungkidulSouthern part of Gunung kidul still undeveloped among other regions. The economic potential in the southern part are tourism and fishery. In 2014, value of marine fishery production in the south reach 29 billion, can be potential regional economic development. Purpose of research are 1) to identify the development of marine fisheries and 2) to identify the potention of fishery sub-sector to economy region in the southern Gunung Kidul. Research methods is qualitative descriptive and locations are in Panggang, Purwosari, Tepus, Saptosari, Tepus, and Girisubo. Marine fisheries production in the south during 2004-2013 has increased but the value of production is fluctuating. Main commodities are anchovies, tuna, skipjack and rays. There are 8 fishery ports in Gunung Kidul, Sadeng has the highest production and the most complete facilities. Almost all fishery activities in the south are leading sectors in economy regional, except in Purwosari. Analysis results showed that fishing activities in Tepus is seeded and prospective. Fisheries in Saptosari,Tanjungsari, Panggang and Girisubo are seeded but not prospective. fisheries activities in Purwosari isn't seeded and not prospective. 
STUDI KEBERLANJUTAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PERIKANAN MARJINAL DI KABUPATEN TAPANULI TENGAH, PROVINSI SUMATERA UTARA Rizki Aprilian Wijaya; Luky Adrianto; Gatot Yulianto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): DESEMBER (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1260.668 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i2.5825

Abstract

Program Pengembangan Masyarakat Perikanan Marjinal (MFCDP) merupakan program yang difasilitasi oleh Bappenas pada tahun 2004 melalui dana hibah Bank Dunia, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan kecil dalam mengelola sumberdaya perikanan yang lebih baik melalui upaya pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu dan berkelanjutan. Program ini bersifat dana bantuan yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan teknologi penangkapan serta budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan implementasi program, pengaruh program terhadap kondisi usaha perikanan dan tingkat keberlanjutan program. Metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif dan kualitatif Hasil penelitian menunjukkan tahap awal pelaksanaan program berjalan dengan baik seperti sosialisasi program dan pemberian dana bantuan. Namun demikian, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa masalah, diantaranya adalah beberapa bantuan tidak dapat digulirkan kembali, konflik alat tangkap antara nelayan marjinal dengan pukat trawl, lemahnya koordinasi antara unit pengelola kegiatan. Pengaruh program terhadap kondisi hasil tangkapan nelayan dalam 5 tahun terakhir mengalami penurunan yang disebabkan karena kondisi perairan yang telah tercemar. Tingkat keberlanjutan program terhadap usaha perikanan tangkap tergolong tinggi sedangkan untuk usaha budidaya tergolong sedang. Tittle: Sustainability Study of Marginal Fishing Community Development Program in District Centre Tapanuli, North Sumatera ProvinceMarginal Fishing Community Development Program (MFCDP) is a program facilitated by Bappenas in 2004 through the World Bank grants aiming to improve the welfare of coastal community and small fisher in order to manage better fisheries resources through integrated and sustainable management fisheries area. The program grants are used for infrastructure and technology development of fishing and aquaculture. This study aims to find out the process and implementation program, its implication to the conditions of fisheries business and the level of sustainability. Case study method was used in this research. Primary and secondary data were used in this research. Analysis was carried out by using qualitative and descriptive methods.Results showed that there are several obstacles in the first stage of program implementation, including socialization of the program and find aid program. However, in the laterimplementation of the program, several problems occured, such as in returned revolving fund aid program, conflict between trawler is fishing and marginal fisher, and weak coordination the management unit. Unfortunately, during the last five years, the impact of the program to caught by fishers was negative due to resource degradation. In tune of program sustainability on fishing and aquaculture development, the farmer showed a relatively high while the later showed a mediocre.
PENILAIAN PULAU KECIL SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN INVESTASI EKOWISATA (Studi Kasus Pulau Tidung Kecil, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI) Puguh W. Widodo; Rahmat Kurnia; Sulistiono Sulistiono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.915 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1249

Abstract

Pulau Tidung Kecil merupakan pulau kecil tidak berpenduduk yang mempunyai potensi untuk pengembangan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung indeks investasi ekowisata yang akan menentukan kelayakan investasi ekowisata pulau kecil. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey dengan menggunakan analisis indeks. Pegumpulan data primer dilakukan dengan observasi dan analisi peta, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Tidung Kecil mempunyai nilai natural resources and geostrategic island index (NI) sebesar 3,67, govermenance index (GI) sebesar 4,20, infrastructure index (II) sebesar 3,22 dan, sosio economic and culture index(SI) sebesar 2,64. Sehingga dengan formulasi Small Island Investmen Index (SIII) didapatkan indeks investasi pulau sebesar 3,69. Dari nilai indeks tersebut, Pulau Tidung Kecil dapat dikategorikan kedalam pulau dengan kelayakan investasi siap. Sehingga Pulau Tidung Kecil bisa direkomendasikan sebagai pulau yang layak untuk pengembangan investasi ekowisata. (Assessment of Small Island As A Basis For Ecotourism Investment Developing(Case Study Tidung Kecil Island, Kepulauan Seribu Regency, DKI)Tidung Kecil Island is the unhabited small island that have ecotourism development potential. The aims of this study is to calculate the index of ecotourism investment that will determine the investment feasibility of small island ecotourism. Method used in this study was a survey method with index analysis. Primary data collection was done by observation and map analysis, while the secondary data obtained by study of literature. Results showed that the Tidung Kecil Island have a value of natural resources and geostrategic island index (NI) of 3.67, govermenance index (GI) of 4.20, infrastructure index (II) of 3.22 and, socio-economic and culture index (SI) of 2.64. So that with the Small Island Investment Index (SIII) formulation index obtained the investment index island of 3.69. From the index value Tidung Kecil Island can be categorized into the island with the feasibility of ready investment. So Tidung Kecil Island can be recommended as a viable island for the development of ecotourism investment.