cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
Evaluasi Usaha Perikanan Jaring Insang di Waduk Cacaban, Kabupaten Tegal Kristian, Vincentius Andrian Putra; Ariyanto, Ridho; Wijanarko, Yusuf; Mudiasih, Dwi Retno; Hapsari, Trisnani Dwi; Ali Riza, Abdul Harits
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.15431

Abstract

Waduk Cacaban merupakan salah satu perairan darat di Kabupaten Tegal yang memiliki potensi sumber daya ikan untuk menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Catch per Unit Effort (CPUE), Revenue per Unit Effort (RPUE), serta melakukan evaluasi terhadap kelayakan usaha perikanan tangkap menggunakan jaring insang di perairan umum daratan Waduk Cacaban. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Jumlah responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, dari populasi nelayan jaring insang sebanyak 99 orang, sehingga diperoleh 80 responden. Jaring insang merupakan alat tangkap yang paling banyak digunakan oleh nelayan di Waduk Cacaban. Hal ini ditunjukkan oleh nilai CPUE tertinggi dibandingkan alat tangkap lainnya setelah dilakukan standarisasi. Berdasarkan data penangkapan bulanan selama satu tahun, nilai rata-rata CPUE pada tahun 2023 mencapai 10,01 kg/trip, sedangkan nilai RPUE sebesar Rp250.309,00/trip. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan menggunakan jaring insang memiliki NPV sebesar Rp33.304.637,00/10 tahun, IRR sebesar 80%, R/C ratio sebesar 1,27, dan payback period selama 2 tahun 3 bulan 29 hari. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap di Waduk Cacaban layak dan menguntungkan untuk dilanjutkan. Namun demikian, ketersediaan sumber daya ikan di lokasi ini masih bergantung pada kegiatan restocking oleh pemerintah daerah yang tidak selalu dilakukan setiap tahun. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.Title: Evaluation of Gillnet Fishing Business in the Cacaban Reservoir, Tegal RegencyCacaban Reservoir is one of the inland waters in Tegal Regency that possesses fish resources capable of supporting the livelihoods of surrounding communities. This study aims to analyze the Catch per Unit Effort (CPUE), Revenue per Unit Effort (RPUE), and to evaluate the feasibility of the gillnet fishing business in the inland public waters of the Cacaban Reservoir. The research employed a quantitative descriptive method with a purposive sampling technique. The number of respondents was determined using the Slovin formula with a 5% margin of error, resulting in 80 fishermen from a total population of 99 gillnet fishers. Gillnet is the most commonly used fishing gear among fishermen in Cacaban Reservoir, as indicated by the highest CPUE value compared to other standardized fishing gears. Based on monthly catch data for 2023, the average CPUE value was 10.01 kg/trip, and the RPUE value was IDR 250,309/trip. Financial analysis showed an NPV of IDR 33,304,637/10 years, an IRR of 80%, an R/C ratio of 1.27, and a payback period of 2 years 3 months 29 days. These findings indicate that the gillnet fishing business in the Cacaban Reservoir is financially feasible and profitable to continue. Nevertheless, the availability of fish resources in the area still depends on restocking activities by the local government, which are not conducted annually. Therefore, this study can serve as a reference for local policymakers in formulating sustainable fisheries management strategies.EVALUATION OF GILLNET FISHING BUSINESS IN THE CACABAN RESERVOIR, TEGAL REGENCY
Kepatuhan Pemerintah Daerah Terhadap Blue Economy Development Framework di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat Rizqiyanto, Saomi; Mausili, Dwi Rianisa
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.15450

Abstract

Kabupaten Majene memiliki potensi pengembangan ekonomi biru yang luar biasa, namun potensi ini belum dimaksimalkan sebagai sumber ekonomi masyarakat maupun pendapatan daerah. Hal ini terlihat dari kontribusi sektor perikanan dan pariwisata yang relatif kecil dibanding sektor lainnya  . Badan Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengeluarkan cetak biru pengembangan ekonomi berbasis kelautan yakni Blue Economy Development Framework (BEDF),  sebagai panduan bagi pemerintah daerah yang ingin mengembangkan ekonomi berbasis kelautan. Tujuan dari penelitian ini adalah pertama, mengetahui adopsi kebijakan yang dikeluarkan pemerintahan Kabupaten Majene terhadap pengembangan ekonomi biru berdasarkan Blue Economy Development Framework, kedua, mengetahui penerapan dan pengembangan konsep ekonomi biru di Kabupaten Majene, terakhir ingin mengetahui hambatan pengembangan konsep ekonomi biru di Majene. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode depth interview   sebagai sumber data primer dan studi literatur sebagai data komplementer sementara hasilnya diolah dengan menggunakan analisis konten. Kabupaten Majene belum mengadopsi BEDF dalam pengembangan ekonomi berbasis kelautan. Disarankan supaya Pemerintah Kabupaten Majene menyesuaikan kebijakan pengembangan ekonomi biru berdasarkan BEDF dengan memperhatikan skala prioritas seperti pengembangan infrastuktur ekonomi yang menyerap banyak tenaga kerja serta pemberian insentif bagi pelaku usaha ekonomi biru dengan pangsa pasar ekspor.Title: Compliance of Local Government on Blue Economy Development Framework at Majene Regency, West Sulawesi Majene Regency has extraordinary potential for developing a blue economy; however, this potential has not been fully maximized as a source of community economic growth or regional income. This is evident from the relatively small contribution of the fisheries and tourism sectors compared to other sectors. The National Development Planning Agency has issued a blueprint for developing a marine-based economy, known as the Blue Economy Development Framework (BEDF), as a guide for local governments seeking to establish a marine-based economy. The objectives of this study are: first, to determine the adoption of policies issued by the Majene Regency government towards developing a blue economy based on the Blue Economy Development Framework; second, to determine the implementation and development of the blue economy concept in Majene Regency; and finally, to determine the obstacles to developing the blue economy concept in Majene. This study employed the in-depth interview method as the primary data source and literature studies as complementary data, with the results analyzed using content analysis. Majene Regency has not adopted BEDF in developing a marine-based economy. It is recommended that the Majene Regency Government adjust its blue economy development policy based on the BEDF by considering priority scales, such as the development of economic infrastructure that absorbs a large workforce, and providing incentives for blue economy business actors with a significant export market share.
Identifikasi Klaster Maritim Unggulan Melalui Analisis Interregional Input Output (IRIO) Studi Kasus: Provinsi Sulawesi Selatan Syafii, Ghulam An-Nabalah Bani; Sitanggang, Claudia Janefer Romora; Saputri, Wahyu Widuri Andoko
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.18023

Abstract

Ekonomi biru kini menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang krusial untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Sebagai pusat pertumbuhan di Kawasan Timur Indonesia, Sulawesi Selatan memiliki potensi maritim yang besar. Namun, wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam transisi menuju ekonomi biru untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalisasi kinerja sektor maritim Sulawesi Selatan dengan mengidentifikasi klaster maritim unggulan yang memiliki dampak pengganda ekonomi terbesar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis keterkaitan (linkage analysis) dan dampak pengganda (multiplier effect). Data yang digunakan meliputi Tabel Interregional Input-Output (IRIO) Indonesia 2016, data Produk Domestik Bruto (PDB) Maritim, dan Tabel Konkordansi KBLI-Klaster Maritim dari Kemenkomarves-BPS. Hasil analisis menunjukkan bahwa Klaster Sumber Daya Energi (SDE) Maritim menjadi klaster maritim unggulan di Sulawesi Selatan yang memberikan dampak pengganda terbesar. Secara spesifik, sektor industri makanan-minuman dan industri barang galian bukan logam memiliki keterkaitan kebelakang (backward linkage) dan kedepan (forward linkage) tertinggi. Hal ini mengindikasikan kemampuan stimulasi kuat sektor ini terhadap sektor hulu maupun hilir. Rekomendasi dari penelitian ini adalah memfokuskan investasi pada akselerasi hilirisasi produk laut seperti rumput laut dan perikanan tangkap melalui insentif fiskal di kawasan industri pengolahan, pengembangan industri material konstruksi ramah lingkungan untuk mendukung infrastruktur pesisir misalnya pembangunan pelabuhan hijau, dan penguatan konektivitas logistik pelabuhan untuk efisiensi distribusi produk unggulan ke pasar global.Title: Identification Of Leading Maritime Clusters Through Interregional Input-Output (IRIO) Analysis Case Study: South Sulawesi Province    The blue economy is now a crucial new source of economic growth that must be utilized sustainably. As a growth center in Eastern Indonesia, South Sulawesi has significant maritime potential. However, this region still faces challenges in transitioning to a blue economy to increase added value and regional competitiveness. This study aims to optimize the performance of South Sulawesi's maritime sector by identifying leading maritime clusters with the greatest economic multiplier impact. The study uses a quantitative approach through linkage analysis and multiplier effects. The data used include the 2016 Indonesian Interregional Input-Output (IRIO) Table, Maritime Gross Domestic Product (GDP) data, and the KBLI-Maritime Cluster Concordance Table from the Coordinating Ministry for Maritime Affairs and Investment-BPS. The analysis results indicate that the Maritime Energy Resources (SDE) is the leading maritime cluster in South Sulawesi with the greatest multiplier impact. Specifically, the food and beverage and non-metallic mining sectors have the highest backward and forward linkages. This indicates the sector's strong stimulating potential for both upstream and downstream sectors. This research recommends focusing investment on accelerating the downstream processing of marine products such as seaweed and capture fisheries through fiscal incentives in industrial processing areas, developing an environmentally friendly construction materials industry to support coastal infrastructure, such as the development of green ports, and strengthening port logistics connectivity for efficient distribution of superior products to the global market.
Analisis Kelengkapan Dokumen dan Alur Perizinan Kapal Perikanan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan Jawa Timur Larasati, Rakhma Fitria; Khikmawati, Liya Tri; Mahardika, Arireza Fachrudin Rahmadani
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.15888

Abstract

Kesyahbandaran memiliki peran penting dalam menjamin keamanan dan keselamatan operasional kapal perikanan, salah satunya melalui pengecekan kelengkapan dokumen kapal sebagai syarat berlayar. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelengkapan dokumen dan alur perizinan kapal perikanan saat kapal tiba, berangkat, serta manifest kapal di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan. Penelitian dilakukan pada Juni–Juli 2022 dengan metode observasi dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 dokumen utama yang wajib dimiliki kapal perikanan. Pemetaan alur perizinan memperlihatkan bahwa proses kedatangan dan keberangkatan telah terintegrasi secara digital melalui aplikasi Teman SPB untuk verifikasi dokumen dan pemeriksaan teknis–nautis oleh syahbandar. Namun, ditemukan kesenjangan kepatuhan terhadap dokumen operasional serta kendala efisiensi akibat lambatnya kinerja server aplikasi. Hasil observasi lapangan juga menunjukkan banyak kapal berukuran di bawah 30 GT memiliki Surat Kelaikan dan Pengawakan yang telah melewati masa berlaku. Secara akademis, penelitian ini menegaskan bahwa kepatuhan dalam sektor perikanan tidak semata dipengaruhi oleh sanksi, tetapi juga berkaitan langsung dengan kualitas sistem layanan digital pelabuhan. Temuan ini menjadi acuan empiris bagi syahbandar dan instansi terkait untuk meningkatkan efisiensi perizinan kapal serta memperkuat pengawasan dokumen operasional guna mendukung aktivitas perikanan yang tertib dan aman.Title: Analysis of Documents Completeness and Flow of Fishing Vessel Licences at Coastal Fishing Port (CFP) Mayangan East Java The harbor master plays a vital role in ensuring the safety and operational security of fishing vessels, particularly through the verification of vessel documents required for sailing. This study aims to analyze the completeness of fishing vessel documents and the licensing procedures for vessel arrival, departure, and manifest management at the Coastal Fisheries Port (CFP) Mayangan. The research was conducted from June to July 2022 using observation and interview methods, followed by descriptive qualitative analysis. The findings reveal that fishing vessels are required to possess 12 essential documents. The licensing workflow indicates that arrival and departure processes have been digitally integrated through the Teman SPB application, which facilitates document verification and technical–nautical inspection by the harbor master. However, the study also identifies gaps in compliance with operational documents and efficiency issues arising from slow server performance. Field observations further show that many vessels under 30 gross tons (GT) possess expired seaworthiness and manning certificates. Academically, this study highlights that compliance in the fisheries sector is influenced not only by sanctions but also by the quality of the port’s digital service system. The findings provide empirical insights for harbor authorities and related agencies to enhance the efficiency of vessel licensing and strengthen the supervision of operational documentation to ensure orderly and safe fishing activities.
Peran Budi Daya Keramba Jaring Apung Pada Aliran Rantai Pasok, Tantangan dan Peluang Industri Akuakultur di Karimun Jawa Arismawati, Paramaditya; Nurhalissa, Rahmalia
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.15764

Abstract

Budi daya perairan yang menggunakan metode Keramba Jaring Apung (KJA) merupakan industri yang sedang berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. KJA merupakan salah satu metode yang dapat mendorong peningkatan produksi serta optimalisasi pemanfaatan lahan budi daya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis aliran rantai pasok, tantangan dan peluang di industri akuakultur guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Tujuan penelitian untuk memetakan aliran rantai pasok dari hulu ke hilir serta mengidentifikasi tantangan dan peluang pengembangan produk sampingan ikan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka berpikir FSCN (Food Supply Chain Networks) yang dipetakan lima elemen rantai pasok diantaranya pra panen (pemasok benih ikan dan pembudi daya ikan) dan pasca panen (pengepul ikan hidup dan mati, pengecer dan konsumen akhir). Hasil penelitian menunjukan rantai pasok terintegrasi dengan baik antara para pelaku dan industri pengolahan ikan. Hasil analisis kinerja rantai pasok menggunakan margin pemasaran dan farmer’s share menunjukkan bahwa saluran II lebih efisien karena margin pemasarannya rendah, namun nilai farmer’s share-nya tinggi. Sementara itu, tantangan dan peluang yang teridentifikasi meliputi regulasi zonasi perairan, ekspor, serta pengolahan produk sampingan ikan kerapu cantang dengan membuat keripik kulit, abon dan berbagai aksesoris untuk sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat. Pemanfaatan produk sampingan ikan kerapu cantang berpotensi memberikan keuntungan bagi produsen utama dan sektor pangan (seperti pembudi daya ikan, peternakan, dan pertanian) di Karimun Jawa, Jepara. Rekomendasi kebijakan meliputi peningkatan akses masyarakat terhadap teknologi budi daya dan pengolahan ikan, pembinaan dan pelatihan untuk pengembangan produk sampingan olahan ikan, dukungan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur untuk keperluan budi daya ikan.Title: The Role of Floating Net Cage Farming in the Supply Chain Flow, Challenges and Opportunities of the Aquaculture Industry in Karimun Java Aquaculture utilizing the Floating Net Cage (KJA) method is a growing industry that provides economic benefits to coastal communities. KJA is one of the methods that can enhance production and optimize the utilization of aquaculture land. This research was conducted to analyze the supply chain flow, challenges, and opportunities in the aquaculture industry to improve the welfare of coastal communities. The study aims to map the supply chain flow from upstream to downstream and identify challenges and opportunities in developing fish by-products. The research method employs a qualitative approach with the Food Supply Chain Networks (FSCN) framework, mapping five supply chain elements, including pre-harvest (fish seedsuppliers and fish farmers) and post-harvest (collectors of live and dead fish, retailers, and end consumers). The findings indicate that the supply chain is well-integrated between stakeholders and the fish processing industry. Supply chain performance analysis using marketing margin and farmer’s share shows that Channel II is more efficient due to its low marketing margin but high farmer’s share. Meanwhile, the identified challenges and opportunities include water zoning regulations, export policies, and the processing of hybrid grouper (kerapu cantang) by-products into value- added products such as fish skin chips, shredded fish flakes (abon), and various accessories, providing additional income sources for the community. The utilization of hybrid grouper by- products has the potential to benefit primary producers and the food sector (e.g., fish farmers, livestock, and agriculture) in Karimun Jawa, Jepara.
Penentuan Komoditas Perikanan Strategis Bagi Penguatan Ekonomi Wilayah Pesisir di Kabupaten Buton Tengah Nursalam, Nursalam; Nur, Indriyani; Darlina, Darlina; Bahari, Doddy Ismunandar
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.16139

Abstract

Kabupaten Buton Tengah memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, baik dari sektor perikanan tangkap maupun budi daya. Akan tetapi pengembangan sektor ini belum optimal karena belum tersedianya peta komoditas unggulan yang terarah dan tidak adanya analisis kuantitatif berbasis wilayah untuk mengukur keunggulan komoditas secara objektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis komoditas perikanan yang termasuk dalam kategori basis dan non-basis, serta menganalisis tingkat pertumbuhan produksi sektor perikanan di Kabupaten Buton Tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2023 dengan menggunakan data sekunder berupa data runtun waktu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Buton Tengah dan Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan harga berlaku tahun 2018–2022. Analisis dilakukan dengan metode Location Quotient (LQ) untuk mengukur tingkat spesialisasi komoditas, dan Shift Share (SS) untuk menilai kecepatan pertumbuhan sektor. Hasil analisis menunjukkan bahwa satu-satunya komoditas basis dengan nilai rata-rata LQ > 1 adalah rumput laut, sedangkan komoditas non-basis (LQ < 1) meliputi ikan cakalang, tongkol, tuna, udang, bandeng, dan kerapu. Pertumbuhan produksi perikanan tergolong cepat (Gj – Nj > 1) pada periode 2018–2019, 2020–2021, dan 2021–2022, sedangkan pertumbuhan lambat (Gj – Nj < 1) terjadi pada periode 2019–2020.Title: Identification of Strategic Fisheries Commodities for Strengthening the Coastal Regional Economy in Buton Tengah Regency Buton Tengah Regency has considerable potential in fisheries resources, both in capture and aquaculture sectors. However, the development of this sector has not been optimal due to the absence of a well-directed map of leading commodities and the lack of region-based quantitative analysis to objectively assess commodity competitiveness. This study aims to identify fisheries commodities classified as basic and non-basic, and to analyze the production growth rate of the fisheries sector in Central Buton Regency. The research was conducted in November 2023 using secondary time series data from the Gross Regional Domestic Product (GRDP) of Central Buton Regency and Southeast Sulawesi Province at current prices for the period 2018–2022. The data were analyzed using the Location Quotient (LQ) method to measure the level of commodity specialization, and the Shift Share (SS) analysis to assess the sector's growth rate. The results show that the only basic commodity with an average LQ > 1 is seaweed. Non-basic commodities (LQ < 1) include skipjack, mackerel tuna, tuna, shrimp, milkfish, and grouper. Fisheries production growth was categorized as rapid (Gj – Nj > 1) during the periods 2018–2019, 2020–2021, and 2021–2022, while slow growth (Gj – Nj < 1) occurred during the period 2019–2020.
Rebuilding Coastal Institutions for Sustainable Fisheries Value Chains: Challenges and Pathways from Bajoe, Indonesia Jumiati, Jumiati; Indrawati, R A; Megawati, Megawati; MR, Syarifa Aeni; Ismail, Ismail
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.16395

Abstract

Local institutions play a pivotal role in enhancing the sustainability of small-scale capture fisheries value chains, yet their contributions often remain fragmented and underexplored. This study analyzes the roles, challenges, and opportunities of local institutions—including fishermen’s groups, cooperatives, and village-owned enterprises—in supporting each stage of the fisheries value chain in Bajoe Village, Bone Regency, South Sulawesi. Using a qualitative exploratory case study, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, focus group discussions, and document analysis. The findings reveal that government assistance programs have reached fishing communities but are unevenly distributed and highly dependent on active groups or elite networks. Institutional capacity remains weak, with cooperatives largely inactive and fishermen heavily reliant on mediators under informal patron–client arrangements. However, emerging aspirations for cooperative revitalization, digital marketing, and product diversification demonstrate strong potential for institutional renewal. This study introduces an integrative analytical model linking community-based institutional dynamics with value-chain governance—an approach rarely applied in Indonesian small-scale fisheries. Policy recommendations highlight the need for participatory governance reforms, equitable access to infrastructure and finance, and integration of digital innovations to strengthen fishermen’s bargaining position and ensure a more inclusive, resilient, and sustainable coastal econom.
Transformation of Sustainable Aquaculture Policy: The Blue Economy Perspective in Promoting Food Security Omalia, Noka; Mardhiah, Nellis
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.17510

Abstract

The high potential of aquaculture  does not automatically correlate with the achievement of sustainable food security due to the weak implementation of local aquaculture practices in the region.   Therefore, this study aims to identify the potential of aquaculture, the challenges of local practices, and recommendations for blue economy-based aquaculture policy transformation in promoting food security in West Aceh Regency. Data collection was conducted using a qualitative approach with in-depth interviews, field observations, and documentation studies. Informants were selected using purposive sampling techniques involving policy actors and key stakeholders in the aquaculture sector, including local government (policy actors), academics and knowledge institutions,  as key actors, and private parties involved in the production and distribution chain. Data analysis was carried out through data condensation, data reduction, data verification, and conclusion drawing.  The results show that the increase in aquaculture potential in West Aceh Regency is not directly proportional to sustainability and food security due to the gap between production expansion and governance capacity. The main obstacles include low adoption of eco-friendly technologies, limited capacity of farmers, and weak waste management, which reflect the lack of integration of blue economy principles such as resource efficiency and zero waste. This study identifies strengthening governance, zero waste-based waste management, and multisectoral collaboration as key leverage points in sustainable aquaculture transformation.   These findings indicate that strengthening aquaculture as a pillar of local food security requires policy leverage on governance reform, particularly zero waste management, capacity building and extension services for farmers, and cross-sector collaboration based on the blue economy.
Analisis Kinerja Ekspor Tuna Sirip Kuning Indonesia di Negara Nontradisional Syifaulhaq, Annisa; Agustina, Neli
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i1.16248

Abstract

Pada tahun 2021, nilai ekspor tuna sirip kuning Indonesia mencapai USD 5,179 juta, menjadikannya komoditas tuna dengan nilai ekspor tertinggi di antara lima jenis tuna yang diperdagangkan secara global. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan, seperti penurunan volume ekspor, terpusatnya pasar pada beberapa negara utama, serta melemahnya daya saing di pasar tradisional. Oleh karena itu, perlu dilakukan perluasan pasar ekspor ke negara-negara nontradisional. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi volume ekspor tuna sirip kuning Indonesia ke pasar tersebut dengan menggunakan data panel periode 2016–2021 dari UN Comtrade dan World Bank, mencakup sepuluh negara tujuan nontradisional: Britania Raya, Italia, Vietnam, Tiongkok, Hong Kong, Malaysia, Filipina, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Australia. Analisis dilakukan dengan regresi data panel menggunakan pendekatan Random Effect Model (REM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga ekspor tuna sirip kuning Indonesia dan harga pesaing berpengaruh negatif signifikan terhadap volume ekspor, sedangkan indeks Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) dan nilai tukar berpengaruh positif. Sementara itu, variabel jarak ekonomi tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa daya saing merupakan faktor utama dalam peningkatan kinerja ekspor tuna sirip kuning Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan upaya menjaga stabilitas harga melalui pengendalian pasokan dan biaya produksi, peningkatan mutu dan pemenuhan standar internasional, serta penguatan kerja sama perdagangan dengan negara nontradisional untuk mengurangi hambatan tarif dan nontarif.Title: Export Performance Analysis of Indonesian Yellowfin Tuna in Nontraditional Countries  In 2021, Indonesia’s yellowfin tuna exports reached a value of USD 5.179 million, making it the highest among the five tuna species traded internationally. However, several challenges persist, including a declining export volume, concentration in a few destination countries, and weakening competitiveness in major markets. To address this, expanding exports to nontraditional countries has become essential. This study analyzes the determinants influencing Indonesia’s yellowfin tuna export volume to such emerging markets. Panel data covering 2016–2021 from UN Comtrade and the World Bank were employed, encompassing ten nontraditional destinations: the United Kingdom, Italy, Vietnam, China, Hong Kong, Malaysia, the Philippines, Singapore, the United Arab Emirates, and Australia. Using a Random Effects Model (REM), the results indicate that both Indonesia’s export price and competitors’ prices have a significant negative effect, while the Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) index and the exchange rate positively affect export volume. Conversely, economic distance shows no significant impact. These findings highlight that competitiveness is a key driver of Indonesia’s yellowfin tuna export performance. Therefore, maintaining price stability through supply and production cost management, improving quality and international standard compliance, and strengthening trade partnerships with nontraditional markets are recommended to reduce tariff and non-tariff barriers and enhance long-term export sustainability.