cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
ANALISIS POLA MIGRASI DAN KONSUMSI RUMAH TANGGA DI DESA PESISIR TERKAIT KEMISKINAN DAN KERENTANAN PANGAN Armen Zulham; Subhechanis Saptanto; Retno E. Rahmawati; Lindawati Lindawati; Teuku Fauzi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): DESEMBER (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.919 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i2.5829

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pola migrasi masyarakat pesisir, mengidentifikasi determinan migrasi, mengkaji keterkaitan antara arus tenaga kerja, uang, barang dan jasa karena migrasi. Penelitian dilakukan pada bulan September-Oktober 2009 dengan menggunakan metode survey pada migran di daerah asal dan daerah tujuan migrasi. Responden yang dipilih adalah migran berdasarkan daerah asal dan daerah tujuan migrasi berjumlah 45 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa migrasi dari daerah pesisir didorong oleh kelangkaan potensi ikan di perairan pesisir dan terbatasnya akses masyarakat terhadap perekonomian desa serta tersedianya pekerjaan di daerah tujuan migrasi. Keputusan bermigrasi karena jaminan pekerjaan. Pola migrasi umumnya adalah migrasi sirkulasi: mingguan dan bulanan. Migrasi itu mendorong terjadinya aliran tenaga kerja, uang dan barang antara daerah asal migrasi dan daerah tujuan migrasi. Secara ekonomi migrasi tersebut memberi dampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian di desa asal migran dan daerah tujuan migran. Rata-rata jumlah yang bermigrasi per keluarga adalah sekitar 2 orang dan jumlah uang yang dikirim karena migrasi ke desa asal migran mencapai Rp. 500 juta per bulan. Migrasi cenderung mendorong terjadinya pengelompokanmasyarakat menurut pekerjaan dan tempat tinggal di daerah tujuan migrasi, karena adanya hubungan “patron client” antara pemilik modal (patron) dan migran (client). Migrasi merupakan salah satu alternatif masyarakat pesisir untuk keluar dari masalah kemiskinan dan memenuhi kebutuhan pangan rumah tangganya. Hasil penelitian ini merekomendasikan agar program-program bantuan termasuk corporate social responsibility (CSR) yang masuk ke desa pesisir harus dikonsolidasikan dengan modal/aset yang dihimpun oleh para migran untuk menjadi pengungkit perekonomian desa pesisir. Tittle: Analysis of Migration and Household Consumption Pattern in the Coastal Villages Related to Poverty and Food Resiliency.The purpose of this research was to study the migration pattern, to identify the determinant of migration, to investigate the dependency between labor movement, money, good and services. The data were collected in September 2009 and October 2009 by using survey method. Respondents were migrant based on migrant origin and migrant destination accounted for as 45 person. Results of the study showed as the following: migration from coastal villages where due to the depletion of fish in coastal water, limited access in local economic gain, and the availability of occupation in labor destination places. Weekly and monthly migration (periodic) pattern are common in both migrant destination and origin areas. Migration persuades the movement of labor, money, good and services between labor destination and origin places. From economic point of view, migration gives a positive impact to migrant destination and origin areas, respectively. In an average, 2 labors in each household in coastal villages were migrant, and Rp. 500 million were transfer to each respective village. Migration tends to push establishing society group according to type of recepation and residential place in the migration destination due to patron client relationship. Migration for the coastal community seems, to be one alternative to alleviate poverty and provide food for household. Results of the research recommend that aid’s programs including the corporate social responsibility (CSR) in coastal village should be consolidated with the accumulate asset of the migrant in stimulating economic development of their respective village.
TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN PENGEMBANGAN USAHA MINA PEDESAAN (PUMP) PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN Rismutia Hayu Deswati; Riesti Triyanti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.459 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1253

Abstract

Partisipasi masyarakat merupakan hal penting dalam keberhasilan pelaksanan program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (PUMP P2HP) di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program; (2) Mengidentifikasi perbedaan tingkat partisipasi masyarakat dan faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PUMP P2HP. Penelitian menggunakan metode survei di 6 lokasi yaitu Kabupaten Cirebon, Kabupaten Tangerang, Kota Aceh, Kota Sibolga, Kota Makasar dan Kabupaten Banjar. Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif frekuensi untuk mengetahui tingkat partisipasi dan faktor yang mempengaruhi serta analisis chi square untuk melihat perbedaan partisipasi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat pada tahap persiapan di 6 lokasi masuk kategori sedang senilai 58%, pada tahap pelaksanaan masuk kategori tinggi dengan skor 77% dan tahap evaluasi masuk kategori sedang dengan capaian skor 64%. Analisis chi square menunjukkan terdapat perbedaan tingkat partisipasi dengan faktor yang mempengaruhi adalah sosialisasi, pelatihan yang diikuti, workshop dan Kelompok Usaha Kelautan dan Perikanan (KUKP). Berdasarkan hasil tersebut rekomendasi yang disarankan bahwa untuk menunjang keberhasilan program PUMP P2HP diperlukan partisipasi masyarakat mulai dari tahap persiapan hingga akhir.(Community Participation Level in the Implementation of Processing and Marketing Business Development Program)Community participation is essential in the success of program implementation of program on fisheries business development at village level the Processing and Marketing Business Development Program (PUMP-P2HP) in Indonesia. This study aims to 1). Identifyng the level of community participation in the implementation of the program; 2). Identifyng the difference in the level of community participation and the factors that affect the level of community participation in the implementation of P2HP PUMP. The research using survey method in 6 locations: Cirebon, Tangerang, Aceh, Sibolga, Makasar and Banjar. Data analysis method used descriptive frequency to determine the level of participation andthe factors that influence and chi square analysis to know the difference in participation. The results showed the level of public participation in the preparation stage at 6 locations in the medium category at 58%, in the implementation at high stage category with a score of 77% and evaluation stages are categorized by performance score of 64%. Chi square analysis shows that there are differences in the level of participation with factors that affecting are socialization, training, workshop and Business Group Maritime Affairs and Fisheries. Base on those results, this study recommend that implementation of the PUMP-P2HP program should include community participation from the planning stage to evaluating stage.
MINIMALISASI BIAYA DISTRIBUSI INDUSTRI PENGOLAHAN PRODUK PERIKANAN: APLIKASI TRANSPORTASI PROGRAM SOLVER Risna Yusuf; Yayan Hikmayani
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.996 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i2.6480

Abstract

Masalah pendistribusian suatu komoditas atau produk dari sejumlah sumber ke sejumlah tujuan perlu dilakukan agar biaya pengiriman produk seminimal mungkin. Program solver merupakan salah satu software yang banyak digunakan untuk masalah optimasi misalnya dalam menyelesaikan masalah transportasi. Model transportasi berkaitan dengan penentuan rencana biaya terendah untuk mengirimkan satu barang dari sejumlah sumber pasokan ke sejumlah daerah tujuan yang menjadi sentra industri. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji penerapan metode transportasi dengan program solver dalam meminimunkan biaya distribusi ikan yang berasal dari beberapa daerah sentra pasokan ke beberapa daerah yang menjadi sentra industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi biaya distribusi yang dikeluarkan dalam mendistribusikan ikan tuna sebesar Rp. 757.983.424 dan efisiensi biaya distribusi yang dikeluarkan dalam menditribusikan ikan pelagis kecil sebesar Rp. 268.012.767. Ikan tuna dari Bitung lebih efisien didistribusikan ke Surabaya, ikan tuna dari Ternate lebih efisien didistribusikan ke Makassar, ikan tuna dari medan lebih efisien ke Surabaya, dan ikan tuna Banyuwangi lebih efisien didistribusikan ke Jakarta dan terakhir ikan tuna dari daerah pasokan lainnya dapat diditribusikan ke Makassar, Surabaya, Jakarta dan daerah tujuannya lainnya. Ikan pelagis dari Bitung lebih efisien ke Makassar, ikan pelagis dari Ternate lebih efisien ke Surabaya, ikan pelagis dari Medan lebih efisien ke Makassar dan Banyuwangi lebih efisien ke Makassar dan Surabaya, dan daerah pasokan lainnya lebih efisien ke Jakarta dan Surabaya. Implikasi penelitian dimana daerah pasokan ikan dapat lebih fokus pada daerah tertentu yang menjadi daerah tujuan mengakibatkan biaya distribusi ikan menjadi lebih efisien dan pasokan ikan di daerah tujuan menjadi lebih stabil. Title: Minimalization Distribution Cost of Fisheries Product Processing Industry: The Application of Transportation in Program SolverSolution to distribution problem of a commodity or product is necessary in order to minimize its distribution cost. Program solver is one of the most widely used software to solve problem related to transportation. Transportation model determines distribution cost of a product from port of origin to port of destination. This research purpose is intending on analyzing the application of program solver in minimizing fish distribution cost from suppliers to industrial centers. The result showed that efficiency distribution cost of tuna was Rp. 757.983.424,- and the efficiency distribution cost of small pelagic fish was Rp. 268.012.767,-. Distribution cost of tuna from Bitung to Surabaya is more efficient, distribution cost of tuna from Ternate to Makassar is more efficient, distribution cost of tuna from Medan to Surabaya is more efficient, distribution cost of tuna from Banyuwangi to Jakarta is more efficient, and distribution cost of tuna from the other ports of origin are more efficient to Makassar, Jakarta, Surabaya and the other ports of destination. Distribution cost of small pelagic fish from Bitung to Makassar is more efficient, distribution cost of small pelagic fish from Ternate to Surabaya is more efficient, distribution cost of small pelagic fish from Medan to Makassar is more efficient, distribution cost of small pelagic fish from Banyuwangi to Makassar and Surabaya is more efficient, and distribution cost of small pelagic fish from the other ports of origin are more efficient to Jakarta and Surabaya. Therefore, fish distribution from port of origin should be focused to a particular destination port in order to get more efficient distribution cost and stable fish supply in the destination area.
ANALISIS EKONOMI USAHA RUMAH TANGGA NELAYAN PELAGIS KECIL DI KELURAHAN AEK HABIL, SIBOLGA, SUMATERA UTARA Subhechanis Saptanto; Manadiyanto Manadiyanto; Rizki Aprilian Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.766 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5775

Abstract

Kota Sibolga merupakan salah satu wilayah penghasil ikan pelagis kecil di Indonesia. Salah satu desa perikanan di wilayah Sibolga adalah Kelurahan Aek Habil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji usaha penangkapan ikan pelagis kecil di Kelurahan Aek Habil. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden pada bulan April 2010. Data sekunder berasal dari dinas perikanan dan kelautan dan berbagai literatur yang mendukung penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survey sedangkan metode analisis yang digunakan adalah metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RC ratio pada saat musim puncak adalah sebesar 2,23 dan pada saat musim paceklik adalah sebesar 1,01. Pendapatan kepala keluarga pemilik, nahkoda dan ABK yang berasal dari perikanan secara harian masing-masing sebesar Rp 113.278,- ; 57.011,- dan 45.773,-. Dari sisi pola konsumsi rumah tangga pada umumnya konsumsi untuk pangan lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi non pangannya. Tittle: Analysis of Small-Pellagic Fisher’s Household  in Aek Habil, Sibolga, North Sumatera.The Regency of Sibolga is one of the center production for small-pellagic fish in Indonesia. One of the fisheries rural region in Sibolga is in the Aek Habil Village. This study aimed to analyse small pellagic fish in Aek Habil Village. Study was conducted in April 2010. Primary and secondary data were collected by interviewing respondents and secondary data were collected from many sources, such as marine affairs and fisheries local services and other relevant literatures. A survey method was used in this study. Data were analized using descriptive statistics and cross-tabulated techniques. Results show that RC -ratio in peak season was 2,23 and famine season was 1,01. Income of ship owner, crew leader and crewfrom fisheries business were IDR 113,278, IDR 57,011 and IDR 45,773, respectively. From consumption pattern, household food expenditure was greater than non-food expendeiture, indicating that their welfare status were a relatively poor.
ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLA TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU Hariyani Sambali; Fredinan Yulianda; Dietriech G. Bengen; M. Mukhlis Kamal
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.031 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1188

Abstract

ABSTRAKPermasalahan kewenangan secara kelembagaan dalam pengelolaan kawasan konservasikhususnya Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) masih terus mengemuka, halini dapat berpotensi konflik kewenangan yang berdampak terhadap keberlanjutan pengelolaan. Penelitian ditujukan untuk mengetahui kelembagaan yang paling berwenang dalam pengelolaan TNKpS dan dampak penambangan karang terhadap sumber daya terumbu barang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan pengisian kuisioner. Analisis data menggunakan metode ISM (Interpretative Structural Modelling) dan data lapangan menggunakan metode Line Intercept Transects (LIT). Hasil penelitian menunjukkan Kementerian Kehutanan dan Pemerintah Daerah adalah kelembagaan yang mempunyai pengaruh kuat terhadap keberlangsungan pengelolaan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Agar pengelolaan sumber daya Taman Nasional Kepulauan Seribu dapat berkelanjutan, makaelemen Tujuan Program yang dapat dirujuk sebagai kebijakan pengelolaan bersama kedua kelembagaan tersebut adalah Kelestarian Sumber daya Taman Nasional.
OPTIMALISASI PERAN GENDER DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN NELAYAN Istiana Istiana; Hikmah Hikmah; Mursidin Mursidin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): DESEMBER (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.573 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i2.5853

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji peran gender pada rumah tangga melalui peningkatan pendapatan, optimalisasi peran gender dan kaitannya dengan pelaksanaan program pemberdayaan yang ada. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Lamongan (nelayan Brondong), Jawa Timur dan Kota Padang (nelayan Koto tangah) Sumatera Barat pada bulan april dan Juni 2007. Penelitian menggunakan metode survei (wawancara terstruktur) terhadap 60 rumah tangga dan diolah dengan analisis deskriptif. Keterlibatan istri nelayan Padang di sektor produktif menghasilkan pendapatan sedangkan istri nelayan Lamongan tidak karena dianggap membantu pekerjaan suami. Pada masyarakat nelayan Brondong, lakilaki memiliki beban lebih daripada perempuan, sebaliknya di padang, istri memiliki beban lebih dan beban ganda. Keputusan di sektor domestik di dominasi istri. Keputusan sektor produktif di Lamongan didominasi suami (100%) sedangkan di Padang dilakukan secara bersama. Optimalisasi peran gender pada masyarakat nelayan Brondong perlu dilakukan melalui pelibatan peran perempuan sedangkan di Padang, peran suami dalam usaha pengolahan perlu dilibatkan. Gender merupakan konstruksi sosial budaya, gender tidaksehingga bersifat universal melainkan relatif pada konteks sosial budaya masyarakatnya. Arahan kebijakan yang sesuai untuk nelayan Brondong adalah pemberdayaan ekonomi perempuan karena mereka memiliki waktu luang 7,47 jam/hari (31,11%). Sedangkan untuk masyarakat nelayan Padang, pemberdayaan lebih kearah peningkatan pemahaman konsep gender dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga. Tittle: Optimalization of the Gender Role in Increasing Fishers’ ProsperityThis research aimed to analyze gender role in increasing familys properity through increasing income, optimalization gender role and relation with empowerment program. This research were done in Lamongan (Brondong fisheries), East Java and Padang (Koto tangah fisheries) West Sumatra on April and June 2007. The research used survey method of 60 families and processed by a descriptive analysis. Results of the study show that the Padang wife's fisheries involved in productive sector can generate income, but the situation was not happened in Lamongan because the wife's supposed helping husband's work only. In Brondong fisheries society, men have a more work-load than women. Women have a lot of work-load than men. In Lamongan, the decission for domestic sector is dominanted by wife and for productive sector is dominanted by husband (100%). Decisions were made together. The optimalization gender role in Brondong fisheries society needs to be done by involving women's role. In Padang, men should be involved in the procesing industry. Gender was inclusive in the of social-culture contruction, so that gender is not universal, but relative in each society context. Suitable policy guidance for Brondong fisheries is to empowering women economic activity, because they have spare time for about 7,47 hours/day (31,11%). Mean while for Padang fisheries society, empowerment should be directed to increase understanding gender concept to achieve the family's prosperity. 
PENGUASAAN ASET DAN STRUKTUR PEMBIAYAAN USAHA PENANGKAPAN IKAN TUNA MENURUT MUSIM YANG BERBEDA Rizki Aprilian Wijaya; Hakim Miftakhul Huda; Manadiyanto Manadiyanto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2012): DESEMBER (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.42 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i2.5682

Abstract

Tulisan ini menyajikan struktur pembiayaan usaha penangkapan ikan tuna di Kota Bitung. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui biaya investasi yang dibutuhkan, struktur pembiayaan usaha berdasarkan perbedaan musim ikan dan ukuran kapal, serta prospek pengembangan usaha. Penelitianmenggunakan metode survei. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara terhadap pemilik kapal. Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif dan analisa finansial. Hasil analisis menunjukan bahwa biaya total armada tuna mengalami peningkatan pada saat musim paceklik dan penerimaan mengalami peningkatan pada saat musim puncak ikan. Ukuran kapal yang digunakan berhubungan positif dengan biaya total, penerimaan dan pendapatan usaha. Berdasarkan analisa kelayakan usaha, ukuran kapal < 5 GT lebih layak secara ekonomi dibandingkan dengan kapal berukuran 5 – 10 GT. Implikasi kebijakan yang disarankan adalah menciptakan iklim investasi yang baik untuk penangkapan ikan tuna dengan batasan ukuran kapal < 10 GT melalui skema kerjasama antara nelayan lokal dan investor yang berminat dengan prinsip bagi hasil yang adil. Title: Asset Acquisition and Financial Structure of Tuna Fishing According to Different SeasonThis paper presents the asset acquisition and financial structure of tuna fishing in the Bitung City. Purpose of this paper was to determine of the required investment costs and financing structure based on difference season and size of the vessel, as well as the prospects for business development. The research employs survey method. Data were collected by using interview techniques to a number of vessel owners. Data analysis uses descriptiv statistics method and financial analysis. Results of the analysis showed that total cost of the fleet has increased during bad season and revenues increased during peak season. Sizeof the vessels used were a positively associated with total cost, revenue and operating income. Based on feasibility analysis, vessel size of <5 GT was more economically viable than the vessel size of 5-10 GT. Policy implication suggested is to create a favorable investment climate environment for tuna fishing vessel size limit <10 GT through estabilismeant meat cooperative scheme between local fisher and investor according to the principle of equitable sharing
Front Matter Matter, Front
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3908

Abstract

Front Matter
DINAMIKA PERAN SEKTOR PERIKANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA: Analisis Input-Output 1990-2005 Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): juni (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.824 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i1.5820

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika peran sektor perikanan dalam perekonomian Indonesia, khususnya dalam output perekonomian, pendapatan rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari buku Tabel Input-Output (I-O) Tahun 1990, 1995, 2000 dan 2005. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan model (I-O) melalui perolehan nilai koefisien angka pengganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum peran sektor perikanan dalam perekonomian Indonesia menunjukkan kecenderungan peningkatan pada era sebelum, transisi dan setelah berdiri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Namun secara spesifik, peran sub sektor perikanan sekunder lebih besar dalam pembentukan output perekonomian dan pendapatan rumah tangga dibanding sub sektor perikanan primer. Sementara dalam penyerapan tenaga kerja, peran sub sektor perikanan primer lebih besar dibanding sub sektor perikanan sekunder, khususnya pada era sebelum berdiri DKP, namun kemudian lebih besar peran sub sektor perikanan sekunder pada era transisi dan setelah berdiri DKP. Tittle: Dynamic of Fisheries Sector’s Role in the Indonesian Economy: Input-Output Analysis 1990-2005.This study was focused on analyzing the dynamic of fisheries sector's role in the Indonesian economy, especially on economic output, household income and labor absorbsion. Secondary data used in this study were obtained from Input-Output (I-O) Table of 1990, 1995, 2000 and 2005 published by the Central Bureau of Statistics Indonesia, and later on analyzed through I-O approach and its multiplier coefficients result. Results showed that in general, the role of the fisheries sectors in Indonesian economy has tended to increase– be it before. During the transition and after the estabilishment of the Ministry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF) era. Specifically, the role of secondary fisheries sub sector was more dominant than the primary fisheries sub sector in the formation of economy's output. As for the labor absorbsion, the role of primary fisheries sub sector was more dominant than secondary fisheries sub sector, especially before the estabilishment of MMAF; however, this dominance went a vice versa during the transition and after the estabilishment of MMAF.
PENILAIAN KESIAPAN MALUKU SEBAGAI LUMBUNG IKAN NASIONAL Siti Hajar Suryawati; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1688.678 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1244

Abstract

Maluku merupakan propinsi kepulauan dengan potensi sumberdaya perikanan tangkap yang besar. Potensi tersebut meliputi kelompok jenis ikan pelagis besar seperti tuna dan cakalang, pelagis kecil, demersal, udang, cumi-cumi dan ikan karang. Hal tersebut mendorong pemerintah menjadikan wilayah Maluku menjadi lumbung ikan nasional (M-LIN). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status kesiapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional. Metode analisis yang digunakan adalah Multi Dimensional Scaling (MDS) dala bentuk RAP-MLIN (Rapid Appraisal for Maluku as ‘Lumbung Ikan Nasional’) yang merupakan modifikasi dari software RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries). Hasil analisisnya dinyatakan dalam bentuk indeks dan kesiapan program tersebut. Analisis leverage dan Monte-Carlo digunakan untuk mengetahui faktor pengungkit yang merupakan atribut-atribut yang sensitif terhadap indeks dan status kesiapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi ekologi statusnya cukup siap (50,33%), dimensi ekonomi cukup siap (67,62%), dimensi sosial siap (92,37%), dimensi teknologi siap (99,90%), dimensi infrastruktur cukup siap (70,56%), dan dimensi kelembagaan dan kebijakan siap (86,26%). Dari 47 atribut yang dianalisis, terdapat 18 atribut yang merupakan faktor pengungkit terhadap indeks dan status kesiapan, sehingga perlu dilakukan upaya perbaikan atau intervensi terhadap atribut-atribut tersebut. Dengan melakukan intervensi terhadap 18 faktor tersebut diharapkan dapat meningkatkan status kesiapan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional ke tingkat yang lebih siap.(Evaluation of Readiness for Maluku as “Lumbung Ikan Nasional”)Maluku is an archipilagic province with large potential for fisheries resources including pelagic groups such as tuna and skipjack tuna, small pelagic, demersal, shrimp, squid and reef fish. This situation encourages the government to establish Maluku as “Lumbung Ikan Nasional (M-LIN)”. This study aimed to analyze the status of readiness of Maluku as “Lumbung Ikan Nasional”. Analytical method was used Multi Dimensional Scaling (MDS) which is so called RAP-MLIN (Rapid Appraisal for Maluku as Lumbung Ikan Nasional) which is a modification of the software RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries). Analysis results expressed in terms of index and status of program readiness. Leverage and Monte Carlo analysis was used to determine attributes that are sensitive to the index and readiness status. Results showed that the ecological dimension was quite ready status (50.33%), the economic dimension was quite ready (67.62%), the social dimension ready (92.37%), the dimensions of the technology is ready (99.90%), the dimensions of the infrastructure was quite ready (70.56%), and the institutional and policy dimensions were ready (86.26%). Of the 47 attributes to be analyzed, there were 18 attributes enter during to factor of the index and the readiness status of the project, so that improvement and precise intervention can be made. With those intervention the implementation of Maluku as ‘Lumbung Ikan Nasional’ can be ensured.

Page 11 of 35 | Total Record : 349