cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
Back Matter Matter, Back
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6375

Abstract

Back Matter
KINERJA PRODUKTIVITAS DAN FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP TOTAL FACTOR PRODUCTIVITY (TFP )TAMBAK UDANG INDONESIA Ono Juarno; Rina Oktaviani; Akhmad Fauzi; Nunung Nuryartono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.728 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5770

Abstract

Kuantitas produksi udang tambak Indonesia meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir, dari 97,2 ribu ton tahun 1989 menjadi 352 ribu ton tahun 2010, dengan puncaknya 409 ribu ton pada tahun 2008. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kinerja produktivitas tambak udang dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi TFP menggunakan pendekatan angka Indeks Tornqvist Theil. Hasil studi menunjukkan bahwa pertumbuhan udang tambak Indonesia periode 1989-2008 lebih karena pertumbuhan input/faktor produksi bukan karena pertumbuhan TFP. TFP berfluktuasi disebabkan belum berhasil diatasinya permasalahan penyakit. Hasil konfirmasi pada tingkat lapang menggunakan data primer dari 163 petak tambak menunjukkan bahwa serangan penyakit berpengaruh negatif dan signifikan terhadap TFP. Intensifikasi, benur bersertifkat, dan lamanya pendidikan berkorelasi positif, akan tetapi kondisi riil Indonesia berbeda yaitu mayoritas tambak dikelola secara non intensif. Studi ini juga menunjukkan bahwa luas pengusahaan dan sistem kerjasama antara pembudidaya dengan lembaga pemasaran lainnya berpengaruh negatif terhadap TFP. Terkait dengan hal itu, pemerintah perlu memprioritaskan meningkatkan produktivitas dengan mengatasi serangan penyakit melalui penambahan anggaran riset bidang penyakit, penyediaan benur bermutu, peningkatan sumber daya manusia (SDM). Selain itu, diperlukan regulasi dalam hal pengaturan pola tanam dengan penggantian species yang dapat memutus rantai penyakit. Disamping itu, direkomendasikan agar mengurangi padat penebaran. Tittle: Productivity Performance and Factors Influencing to the Total Factor Productivity (TFP) of Indonesia Shrimp Cultured.Production of Indonesian shrimp cultured has experienced a remendeous growth during the last two decades with its peak performance at 409 metric tons in the year of 2008. The objective of this research was to analyze productivity performance of Indonesian shrimp cultured using the Tornqvist Theil Index and its determinants. Results showed that source of growth was mainly due to input gowth. TFP fluctuations were mainly because of disease outbreaks. Using field data comprises a total of 163 ponds confirm that disease outbreaks plays an important role in lowering TFP. Intensification, fry certification, and education halved a positive correlation with TFP. However, the Indonesian shrimp farmers in majority cultured the shrimps using traditional system. On the other hand, cooperation between farmers and other marketing institution and total pond area show a negative effects on achieving higher TFP. Therefore, the government could improve farmed shrimp productivity through increasing research budget on diseases, improving seed quality and human resources. The government should also put a priority regulation on changing cropping system accompanied by changing shrimp species cultured so that carrier agents of diseases can be broken. Apart from these, lowering stocking density was also suggested.
PENGEMBANGAN SEKTOR PEMASARAN SEBAGAI DUKUNGAN TERHADAP PROGRAM INDUSTRIALISASI PERIKANAN (Studi Kasus: Komoditas Nila di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan) Hertria Maharani; Rani Hafsaridewi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.279 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.33

Abstract

Industrialisasi perikanan yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bertujuan untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan yang berdaya saing tinggi. Peningkatan produksi yang tanpa disertai oleh upaya meningkatkan pemasaran akan berdampak pada kurang berhasilnya program tersebut. Penelitian ini mengkaji usaha budidaya, pasar, saluran pemasaran dan perdagangan ikan nila yang berasal dari Kabupaten Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan. Studi lapangan dilakukan pada Bulan Maret-Juni 2012. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan bantuan kuesioner dan wawancara mendalam dengan informan kunci. Responden terdiri dari pembudidaya, pengumpul, pedagang serta penentu kebijakan yang terkait dengan komoditas ikan nila. Metode analisis dilakukan secara analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan produksi budidaya ikan nila, namun pemasaran ikan terbatas pada pasar lokal. Pihak pembudidaya masih menjadi pihak price takeryang artinya tidak dapat meningkatkan posisi tawarnya. Struktur pasar pembudidaya bersifat persaingan sempurna, pada sisi lain dengan struktur pedagang bersifat oligopsoni sehingga harga di tingkat pembudidaya berada dibawah pengendalian pedagang. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani budidaya, dibutuhkan upaya menghilangkan pola patron-clientdalam pembiayaan usaha dan pengembangan jalur pemasaran baru perlu dilakukan seperti dengan mencari pelanggan untuk keperluan restoran ataupun melakukan pemasaran ikan nila hingga ke daerah lain(Title: Marketing Sector Development As A Support For Fisheries Industrialization Program (Case Study: Tilapia Fish in the Musi Rawas Regency, South Sumatera))Fisheries industrialization were announced by the Ministry of Marineand FisheriesAffairs aims to increase production, productivity and value-added of fishery products. But of course, increased production without increasing marketing efforts will makeless successful impact for the program. This research will examine aquaculture bussiness, market, marketing channel and trading of tilapia from Musi Rawas Regency, South Sumatra Province. Field studies conducted in March until June 2012 .The main instrument of this study using a survey method with questionnaires and in-depth interviews with key informants. Respondents were consist of farmers, fish collectors, traders and policy makers related tilapia. Methods of analysis conducted with descriptive analysis. Results study showed that despite an increase in production experienced by farmers, but commodities marketed limited to the local market. Fish farmer is still as price takers meaning it cannot increasing their bargaining power. The structure of farmers markets are perfectly competitive, on the other hand the structure of merchanct is oligopsonistic. So the prices at the farmers level are controlled by merchants. To improve the welfare of fish farmers, it should diminish patron client relationship and develop a new marketing channels, such as searching customer for restaurant or marketing tilapia to another region.
KAJIAN STRUKTUR INDUSTRI PERIKANAN UNTUK MENYUSUN MODEL PEMBERDAYAAN USAHA PERIKANAN TANGKAP DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Mulyono Partosuwirjo; John Haluan; Mulyono S. Baskoro; Soepanto Soemokaryo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): DESEMBER (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1885.624 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i2.5848

Abstract

Usaha perikanan tangkap berperan penting dalam kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta, namun dinamika interaksi di antara komponen perikanan belum harmonis karena penanganan permasalahannya belum sesuai dengan intensitas interaksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengidentifikasi komponen/aspek yang berinteraksi signifikan sehingga dapat diantisipasi untuk penyusunan model pemberdayaan usaha perikanan tangkap yang lebih tepat. Penelitian ini dilakukan melalui analisis interaksi kompleks menggunakan Structure Equation Modelling (SEM). Hasil analisis SEM menerangkan bahwa komponen lingkungan internal, lingkungan eksternal, dan lingkungan industri, strategi usaha, kinerja industri perikanan, dan tujuan pembangunan perikanan berinteraksi signifikan berturut-turut dengan aspek manajemen, sosial, entry barier, keuangan, pay back period. Pada lingkup interaksi lebih tinggi, Lingkungan Internal berinteraksi positif signifikan dominan terhadap Lingkungan Eksternal. Lingkungan Eksternal berpengaruh positif signifikan dominan terhadapLingkungan Industri. Sedangkan Strategi Usaha berpengaruh positif signifikan dominan terhadap Tujuan Pembangunan Perikanan. Dalam kaitan ini, maka berbagai permasalahan menyangkut komponen yang berinteraksi signifikan tersebut harus diprioritaskan karena bila tidak akan dapat secara serius mengganggu aktivitas perikanan tangkap yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tittle: Assessment of Fisheries Industrial Structure to Develop an Empowerment Model of the Capture Fisheries Business in Yogyakarta.Capture fishery has an important role in the economic activity and livelihood among the people of Yogyakarta. However, the dynamic interactions among the components of fisheries have yet harmonised because problem solving had yet in accordance to interaction intensity. This research aimed to analyse and identify some components having significant interaction so that they can be used to anticipate in developing appropriate model for empowering capture fishery business. This research was conducted through analysis of complex interaction with Structure Equation Modelling (SEM). Results of the SEM analysis showed that the environments (internal, external, and industrial), business strategies, fishing industry performance, and development goals had a significant interaction respectivelly with management, socialaspect, entry barrier, finance, and pay back period. For higher interaction scope, internal environment has a significant positive dominancy to the external environment. External environment had a significant positive dominancy to the industrial environment. While business strategies had a significant positive effect on the goal of fisheries development. In these respect, various problems related to component that significantly interacted has to be prioritised. This is because it directly leads to disturb the capture fishery activity in Yogyakarta.
LUBUK LARANGAN: BENTUK PERILAKU EKOLOGIS MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN PERAIRAN UMUM DARATAN (TIPOLOGI SUNGAI) Nendah Kurniasari; Maharani Yulisti; Christina Yuliaty
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.957 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5676

Abstract

Perilaku ekologis masyarakat di sekitar sungai merupakan sebuah modal mendasar bagi keberlangsungan sumberdaya ikan di kawasan sungai tersebut. Oleh karenanya, makalah ini bertujuan untuk menganalisis perilaku ekologis masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumberdaya sungai. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 pada masyarakat Nagari Manggilang Kecamatan Pangkalan Koto Baru Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat yang menetap di daetah aliran sungai Batang Talagiri dan Batang Manggilang. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang menginterpretasikan secara logic hubungan antara faktor-faktor pendorong, implementasi serta implikasi perilaku ekologis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku ekologis masyarakat Nagari Manggilang dalam memperlakukan sungai didukung oleh beberapa hal yaitu kondisi geografis, pola kepemimpinan, hukum adat, dan sistem mata pencaharian masyarat. Keempat unsur ini turut andil dalam melestarikan perilaku ekologis tersebut. Perilaku ekologis masyakat Manggilang yang terwujud dalam lubuk larangan tidak hanya berimplikasi terhadap perilaku ekologi masyarakat secara kolektif, juga merubah perilaku sosial ekonomi masyarakat ke arah yang lebih produktif dan memiliki nilai moral yang tinggi. Title: Lubuk Larangan: Form of Ecological Behavior of Local Community in The Inland Fisheries Resource Management (River Tipology)Ecological behavior is a potential capital of sustainable resources. This paper aims to study the ecological behavior of local communities in the use of river resources. This study was conducted in 2012 at Nagari Manggilang, Pangkalan Koto Baru, Lima Puluh Kota District, West Sumatera with the objects are the community who settled in the watershed of the Batang Talagiri river and Batang Manggilang river. Data analysed by using descriptive qualitative that interpreted logically the relation among the supportive factors, implementation factors, and the implication of the ecological behavior. The results  showed that the ecological behavior of Nagari Manggilang’ residents in treating the river suppoerted by several elements: geography, leadership patterns, customary laws, and livelihood systems. All of these elements contributed to preserve the ecological behavior. This ecological behavior at Nagari Manggilang’ residents that materialized as “Lubuk Larangan” was not only implicated to the ecological behavior of the society, but also changed the social behavior as well as economic behavior towards a more productive society and higher morale values
KAJIAN SISTEM PEMASARAN IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL, PROVINSI DIY Catur Sarwanto; Eko Sri Wiyono; Tri Wiji Nurani; John Haluan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.757 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i2.1222

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memformulasikan sistem pemasaran ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Gunungkidul, khususnya tentang jenis produk yang dipasarkan, sistem pemasaran yang terjadi, saluran pemasaran, margin pemasaran serta efisiensi pemasaran. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2012 - Januari 2013 dan Juli 2013 di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, margin pemasaran, dan farmer’s share. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 pola saluran pemasaran ikan di Kabupaten Gunungkidul. Jalur terpendek adalah saluran pemasaran tipe 1 (nelayan-konsumen) ,sedangkan margin pemasaran tertinggi diperoleh dari saluran pemasaran 3 ( Rp. 3.000 – Rp. 200.000). Saluran pemasaran tipe 3 (nelayan – pengumpul – restoran/ warung kuliner – konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling tidak efisien, sedangkan tipe 1 merupakan saluran pemasaran paling efisien. Strategi kebijakan yang dapat dipertimbangkanadalah: 1) pengembangan diversifikasi produk olahan khususnya komoditas ikan yang kurang laku, 2) penyempurnaan sistem informasi pemasaran ikan di TPI.
VALUASI NILAI EKONOMI TERUMBU KARANG DI BANDA NEIRA Mira Mira; Subhechanis Saptanto; Hikmah Hikmah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1203.977 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6284

Abstract

Banda Neira merupakan salah satu wilayah yang berada di Provinsi Maluku. Wilayah ini kayaakan potensi sumber daya perikanan karena memiliki ekosistem terumbu karang, pelagis dan demersal.Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji nilai ekonomi terumbu karang di Banda Neira. Penelitianini dilakukan pada tahun 2015 di Banda Neira. Nilai Ekonomi Total (TEV) terumbu karang di kawasanTNKpS dihitung dengan mengagregasi nilai pemanfaatan dan nilai non pemanfaatan. Berdasarkan hasilpenelitian, Pertama, nilai pemanfaatan tidak langsung dari terumbu karang adalah pelindung pantai,dimana panjang pantai yang dilindungi oleh karang pada wilayah Banda Neira diperkirakan mencapai10.562 meter sehingga nilai yang terbentuk adalah Rp.1.936.366.667 atau setara dengan Rp.4.588.547/ha karang. Kedua, nilai keberadaan terumbu karang adalah sebesar rata-rata Rp.113.162,-/tahun. Jikadikalikan jumlah populasi dibagi luas terumbu karang, maka WTP Rp.2.580.733,-/orang/ ha/ tahun.Ketiga, nilai pemanfaatan langsung perikanan sebesar Rp.323.071.865,- per pelaku usaha perikanan,nilai pemanfaatan langsung untuk pariwisata sebesar Rp.482.654.114,10. Jadi total, nilai total ekonomiterumbu karang di Banda Neira mencapai lebih dari 17 triliun rupiah. Sebagian besar masih disumbangdari sumber daya ikan yang telah dimanfaatkan khususnya pelagis. Nilai ekosistem secara ekologiberdasarkan parameter-parameter yang diukur hanya menyumbang kurang dari 1% dengan nilai sekitarempat miliar rupiah per tahun. Kecilnya kontribusi nilai pariwisata terhadap pemanfaatan langsung karenasulitnya aksesibilitas Banda Neira, sistem transportasi yang kurang mendukung seperti penerbanganudara hanya satu kali seminggu. Diharapkan pemerintah memperbaiki aksesibilitas ke Banda Neira,dengan memperbanyak frekuensi transportasi udara.Title: Economic Values Valuation Of Coral Reefs In Banda NeiraBanda Neira is one of the areas located in Maluku Province. This region has potential fisheriesresources because of coral reef ecosystems, pelagic and demersal. The purpose of this study wasto analyze the economic value of coral reefs in Banda Neira. The study was conducted in 2015 inBanda Neira district, Maluku Province. The Total Economic Value (TEV) of coral reefs in the TNKpSarea is calculated by aggregating the value of utilization and non utilization. Based on the results ofthe research, First, the indirect use value of coral reefs is coastal protection, where the length of coralprotected beaches in the Banda Neira region was estimated to reach 10,562 meters so that the valuewas 1,936,366,667 IDR or equivalent to 4,588,547 IDR / ha corals. Secondly, the value of coral reefswas an average of 113.162 IDR, - / year. If multiplied by the total population divided by coral reef area,then the WTP value was 2.580.733 IDR, - / person / ha / year. Third, direct fishery utilization value was323,071,865 IDR, - per fishery business actor, direct use value for tourism was 482.654.114,10 IDR.So that total economic value of coral reefs in Banda Neira reaches more than 17 trillion rupiah. Most ofit is still contributed from fish resources that have been utilized, especially pelagic. Ecological value ofecosystem based on measured parameters only contribute less than 1% with value of about 4 billionrupiah per year. The small contribution of tourism value to direct use because of difficulty of Banda Neiraaccessibility, less supportive transportation system like air flight only once a week . The government isexpected to improve accessibility to Banda Neira, by increasing the frequency of air transport.
ANALISIS INDIKATOR UTAMA PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERBASIS MASYARAKAT DI DESA CURAHSAWO KECAMATAN GENDING 1 KABUPATEN PROBOLINGGO Nuddin Harahab; Graziano Raymond P
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.147 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i1.5751

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu sumber daya pesisir yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi. Pengelolaan hutan mangrove berbasis masyarakat merupakan salah satu strategi pengelolaan yang dapat meningkatkan efisiensi dan keadilan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam. Indikator penting dalam keberhasilan pengelolaan hutan mangrove adalah partisipasi masyarakat. Ada banyak variabel yang diperkirakan saling berinteraksi dan berkorelasi dalam partisipasi masyarakat tersebut. Oleh karenanya penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan menentukan indikator utama dalam pengelolaan hutan mangrove berbasis masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode analisis Principle Component Analysis (PCA). Hasil analisis faktor menggunakan SPSS menunjukkan bahwa dari 15 (limabelas) variabel yang dianalisis diperoleh tiga indikator utama partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove di Kecamatan Gending, yaitu faktor manajemen, pengetahuan, dan sikap. Tittle: Analysis of Main Indicator in the Community-Based Management of Mangrove Forestry in the Curahsawo Vilage Subdistrict Gading, Probolinggo RegencyMangrove forest is among coastal resources that has essential role in economic development. Community - based mangrove forest management is a strategy to improve efficiency and fairness in theuse and management of natural resources mangrove forest.Important indicators in successing mangrove forest management is a community participation. There are many variables which were expected to interact with each other and correlated in community participation. Then study was conducted to analyze and determine primary indicators in community-based management of mangrove forestry. Method Principle Component Analysis (PCA) was used in this study. Results from factor analysis of 15 variables using SPSS shows that 3 major indicators of public participation in the mangrove forest management in district Gending are factor, knowledge and attitude.
DAMPAK SUBSIDI TERHADAP SURPLUS PRODUSEN DAN TOTAL BENEFIT PERIKANAN TANGKAP PANTURA JAWA TENGAH Armen Zulham
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): JUNI (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.349 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i1.5838

Abstract

hidup nelayan. Salah satu indikator untuk menilai peningkatan taraf hidup nelayan akibat dari subsidi adalah surplus produsen dan total benefit dari eksploitasi potensi ikan. Penelitian ini menggunakan quaterly data 1998 - 2002, pada delapan lokasi pendaratan ikan di Pantura Jawa Tengah. Penelitian ini menghitung surplus produsen berdasarkan: baseline (tanpa subsidi) dan subsidi. Perhitungan surplus produsen dilakukan dengan program Maple dengan memasukkan koefisien yang diperoleh dari pendekatan regresi. Secara umum hasil analisis tersebut menunjukkan subsidi perikanan akan mendorong peningkatan surplus produsen. Pengaruh subsidi perikanan yang meningkatkan surplus produsen dalam jumlah yang relatif tinggi terjadi pada daerah Kabupaten Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, dan Kota Pekalongan. Sementara pengaruh subsidi perikanan terhadap peningkatan surplus produsen di Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Kendal dapat dikatakan relatif kecil. Peningkatan surplus produsen belum tentu meningkatkan total benefit, hal ini terjadi jika surplus produsen baseline lebih besar dari surplus produsen subsidi. Penelitian ini merekomendasikan bahwa pemberian subsidi pada perikanan tangkap perlu lebih teliti dan terarah agartujuan alokasi subsidi tersebut dapat lebih efektif. Tittle: Impact Of Subsidy On Producer Surplus And Total Benefit In The North Coast of the Central Java FisherySubsidy is a fiscal policy; fisheries subsidy proposed by the government intended to support the the standart of living for fishing community. Producer surplus and total benefit could be used as indicators to measured the impact of subsidy on the fishery. The quaterly data from 1998 - 2000 from 8 fish landing centers in Northcoast of Central Java were used in the analysis. The producer surpluses were calculated for baseline and subsidy. The Maple software was used to calculate producer surpluses. In general fisheries subsidy lead to increase producer surplus. A relatively high impact of fisheries subsidy on producer surplus was indicated by Kabupaten Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, and Kota Pekalongan. Meanwhile, the increasing of producer surplus in Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan and Kabupaten Kendal was indicating relatively low. The increasing value of producer surplus is not necessary follow by the increasing value of the total benefit, particularly when the baseline's producer surplus is greater than subsidy's producer surplus. This research recommends that the fisheries subsidies should be allocated properly to the fishery in order to ensure the effectiveness of the policy.
DOMINASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DI KOTA KENDARI Studi Kasus: Nelayan Bugis Makassar Christina Yuliaty; Riesti Triyanti; Nendah Kurniasari
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.432 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3174

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi etos kerja nelayan Bugis-Makassar yang mempengaruhidominasi mereka dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di Kota Kendari. Tulisan ini menggunakanpendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancaramendalam menggunakan topik data sebagai pedoman wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi.Analisis data dilakukan dengan menggunakan push-pull theory. Hasil pembahasan menunjukkandominasi nelayan Bugis - Makassar dalam pemanfatan sumberdaya perikanan di Kota Kendari didorongoleh falsafah hidup yang terwujud dalam etos kerja yang tinggi. Etos kerja tersebut tergambar padacurahan waktu kerja, pemanfaatan waktu luang, disiplin dan pandangan ke depan/visioner. Di sisi lain,letak geografis dan masih tersedianya lahan potensial, potensi perikanan yang besar menjadi faktorpenarik berpindahnya nelayan Bugis-Makassar ke Kota Kendari.Title: Domination Fisheries Resources Used in Kendari City Case Study : Bugis Makasarese FishersThis study aims to explore the work ethic of Bugis-Makassar fishermen affecting their dominancein the utilization of fishery resources in Kendari and background history of Kendari ethnic (Tolaki) whoprefer to controled the formal sector and the agricultural sector. This study used a qualitative descriptiveapproach with data collection techniques used in-depth interview with data topic, observation anddocumentation. Data were analyzed by push-pull theory. The results showed the dominance ofBugis - Makassar fishermen in utilization of fishery resources in Kendari driven by a philosophy of lifethat is embodied in a high work ethic. The work ethic is reflected in working hours, use of leisure time,discipline and foresight / visionary. The other side, geographical location, the available potential land andfisheries becomes pull factors for migration of Bugis-Makassar to Kendari.