cover
Contact Name
Tajerin
Contact Email
marina.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
marina.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Ilmiah Marina : Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 25020803     EISSN : 25412930     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Buletin Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 164 Documents
AKSI KOLEKTIF PETAMBAK UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI USAHA BUDI DAYA UDANG DI TAMBAK TRADISIONAL Zulham, Armen; Sumaryanto, Sumaryanto; Saptana, Saptana; Permana, Dadan; Iman Santoso, Ali Rahmat
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v11i2.16551

Abstract

Budi daya udang di tambak tradisional telah menggunakan input komersial. Usaha ini belum menerapkan cara budi daya yang baik (CBIB), sehingga permasalahan produktivitas dan inefisiensi bepotensi terjadi. Dengan data hasil wawancara dari 182 petambak di Brebes, Lampung Selatan dan Indramayu (Mei - Agustus 2024), penelitian kuantitatif dengan metoda statistik deskriptif dan Stochastic Frontier Analysis ini bertujuan: menganalisis karakteristik, produktivitas, kinerja ekonomi, dan faktor inefisiensi budi daya udang menggunakan Software STATA 15. Temuan penting adalah: R/C rata-rata (2,7), tertinggi Brebes (3,1), Indramayu (2,5) dan Lampung Selatan (2,2). Monokultur udang menghasilkan pendapatan tertinggi (Rp57,17 juta/ha/siklus), polikultur bandeng (Rp56,56 juta/ha/siklus). Praktek penjarangan sekali, kolam tandon, pembuangan limbah teratur, dan sumber air dari sungai meningkatkan produktivitas. Namun, budi daya udang yang lokasinya jauh dari rumah dan jalan utama, mempunyai banyak petak efisiensinya rendah. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat pendidikan, pengalaman petambak, modal yang memadai, luas tambak > 1 hektar, dan kepuasan petambak terhadap kelompok, meningkatkan efisiensi. Mengatur pemanfaatan petak tambak dalam berproduksi mampu mengatasi inefisiensi. Aksi kolektif bertujuan memperbaiki inefisiensi dan mendorong CBIB. Aksi ini dilakukan melalui pelatihan, pengadaan input, konsolidasi petak tambak untuk tandon air dan instalasi pembuangan limbah (IPAL). Federasi lintas wilayah dan tim teknis diperlukan untuk pencegahan penyakit udang. Korporasi untuk konsolidasi manajemen usaha perlu dibentuk agar tercapai skala ekonomi. Pemerintah diharapkan mendukung aksi kolektif ini agar pelatihan, dan CBIB dapat diwujudkan, sehingga budi daya udang menggunakan air yang berkualitas, dan budi daya itu bebas penyakit. Aksi kolektif peningkatan kapasitas petambak dapat mendorong perbaikan inßastruktur, membangun akses terhadap modal sehingga meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha.TITLE: COLLECTIVE ACTION OF BRACKISHWATER FARMERS TO ENHANCE THE EFFICIENCY OF SHRIMP CULTIVATION IN TRADITIONAL BRACKISH WATER PONDSShrimp farming in traditional ponds has already utilized commercial inputs. However, this activity has not yet implemented good aquaculture practices (CBIB), which is likely to lead to productivity and eflciency issues. Using interview data from 182 shrimp farmers in Brebes, South Lampung, and Indramayu, this quantitative study, employing descriptive statistical methods and Stochastic Frontier Analysis, aims to analyze the characteristics, productivity, economic performance, and ineflciency factors of shrimp farming using Stata 15. Key findings are: R/C ratio averages 2.7, with the highest in Brebes (3.1), Indramayu (2.5), and South Lampung (2.2). Monoculture shrimp culture is the most income-generating (Rp57.17 million/ha/cycle), followed by milkfish polyculture (Rp56.56 million/ha/cycle). Productivity-enhancing technologies are single thinning, reservoir ponds, periodical waste removal, and river water use. However, shrimp farms located far from the farmer’s residence and main roads, and with many plots, tend to be less eflcient. On the other hand, higher levels of education, greater farming experience, suflcient capital, pond areas over 1 hectare, and farmer satisfaction with their groups improve eflciency. Managing the use of pond plots for production can overcome ineflciencies. Collective action aims to address ineflciency and promote CBIB. This action is implemented through training, procurement of inputs, consolidation of pond plots for water reservoirs, and the establishment of waste- disposal installations (IPALs). Cross-regional federations and technical teams are needed to prevent shrimp disease. Business management consolidation corporations should be formed to achieve economies of scale. The government needs to encourage this group action to achieve training and CBIB adoption, so that shrimp farmers can use quality water and remain disease-free. Collective capacity-building efforts among farmers can also promote infrastructure improvements, build access to capital, and thereby enhance competitiveness and business sustainability.
PEMANFAATAN RUANG LAUT UNTUK EKOWISATA BERDASARKAN RULES IN-USE OSTROM DI KAWASAN KONSERVASI PULAU GILI MATRA Sidqi, Muhandis; Bengen, Dietriech Geoffrey; Priyanta, Maret; Anggraini, Eva
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v11i2.16650

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekurangan dan kelemahan substansi peraturan terkait pemanfaatan ruang laut dan pengelolaan Kawasan Konservasi Pulau (KKP) Gili Matra Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam konteks kelembagaan pengelola KKP untuk mendukung pengembangan ekowisata berkelanjutan. Penelitian dilakukan di KKP Gili Matra pada bulan Agustus 2024 dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui pemanfaatan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan mendalam dengan aktor-aktor utama yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan ruang laut, sedangkan data sekunder diperoleh melalui analisis substansi tiga peraturan utama: Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 28 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang Laut, Keputusan menteri Kelautan dan Perikanan No. 34 Tahun 2022 tentang Penetapan KKP Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan, serta Keputusan Dirjen Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut No. 62 Tahun 2023 tentang Rencana Pengelolaan KKP Gili Matra Tahun 2023–2042. Analisis dilakukan menggunakan konsep rules-in-use dari Elinor Ostrom untuk menilai keselarasan antarperaturan dan efektivitas pengaturan kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan masih terdapat ketidaksinkronan antara substansi peraturan pemanfaatan ruang laut dan pengelolaan KKP Gili Matra, yang berdampak pada hambatan implementasi kegiatan ekowisata. Ketidaksinkronan tersebut disebabkan oleh lemahnya koordinasi dan penguatan kelembagaan antar-pemangku kepentingan, serta belum optimalnya integrasi antara regulasi dan kondisi sosial-ekologis masyarakat setempat.TITLE: MARINE SPATIAL UTILIZATION FOR ECOTOURISM BASED ON OSTROM’S RULES-IN USE IN GILI MATRA CONSERVATION AREAThis study aims to analyze the weaknesses and deficiencies in the substance of regulations governing marine spatial utilization and the management of the Gili Matra Island Conservation Area (KKP Gili Matra) in West Nusa Tenggara Province, within the context of institutional arrangements supporting sustainable ecotourism development. The research was conducted in the Gili Matra Conservation Area in August 2024, using a qualitative approach that combined primary and secondary data. Primary data were collected through semi-structured and in-depth interviews with key stakeholders involved in marine spatial utilization and conservation management, while secondary data were obtained through document analysis of three main regulations: the Minister of Marine Affairs and Fisheries Regulation No. 28 of 2021 on Marine Spatial Planning Implementation, the Ministerial Decree No. 34 of 2022 on the Establishment of the Gili Air, Gili Meno, and Gili Trawangan Conservation Area, and the Directorate General of Marine Spatial and Ocean Management Decree No. 62 of 2023 on the Management Plan of the Gili Matra Conservation Area 2023–2042. The analysis applied Elinor Ostrom’s rules-in-use framework to assess the coherence and institutional effectiveness of these regulations. The findings reveal inconsistencies between the regulatory frameworks of marine spatial utilization and conservation management, resulting in implementation challenges for ecotourism activities. These inconsistencies stem from weak institutional coordination among decision-makers and insufficient integration of regulatory instruments with local socio-ecological dynamics.
EVALUASI SOLUSI DAN RENCANA AKSI UNTUK PERMASALAHAN LOGISTIK DI PT. PERINDO Elya, Ica; Hermawan, Maman; Hartono, Bambang Dwi
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v11i2.16054

Abstract

Distribusi hasil perikanan yang tidak efisien menjadi penyebab utama menurunnya kinerja operasional PT Perikanan Indonesia (Persero). Penelitian ini bertujuan merancang model logistik yang efisien menggunakan pendekatan Soft Systems Methodology (SSM) tahap 3 hingga 7. Permasalahan dianalisis melalui diagram fishbone dan pendekatan CATWOE untuk empat aspek utama logistik: pengadaan, penyimpanan, transportasi, dan distribusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi distribusi dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi baru dan cool system dalam pengadaan, sistem pemantauan suhu berbasis IoT dalam penyimpanan, sistem penjadwalan digital dalam transportasi, serta penerapan sistem ERP dalam distribusi. Rencana aksi juga mencakup pembentukan KUB, penambahan cold storage portable, dan peningkatan koordinasi mitra. Lokasi optimal fasilitas distribusi ditentukan dengan metode Centre of Gravity dan divalidasi melalui metode AHP, menghasilkan lokasi rekomendasi di Pergudangan Pantai Indah Dadap. Hasil ini menunjukkan perlunya integrasi teknologi dan penguatan inßastruktur untuk membangun sistem distribusi hasil perikanan yang efisien, berkelanjutan, dan mendukung pemulihan kinerja perusahaan.TITLE: EVALUATION OF SOLUTION AND ACTION PLANS FOR LOGISTICS PROBLEMS AT PT. PERINDODistribusi hasil perikanan yang tidak efisien menjadi penyebab utama menurunnya kinerja operasional PT Perikanan Indonesia (Persero). Penelitian ini bertujuan merancang model logistik yang efisien menggunakan pendekatan Soft Systems Methodology (SSM) tahap 3 hingga 7. Permasalahan dianalisis melalui diagram fishbone dan pendekatan CATWOE untuk empat aspek utama logistik: pengadaan, penyimpanan, transportasi, dan distribusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi distribusi dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi baru dan cool system dalam pengadaan, sistem pemantauan suhu berbasis IoT dalam penyimpanan, sistem penjadwalan digital dalam transportasi, serta penerapan sistem ERP dalam distribusi. Rencana aksi juga mencakup pembentukan KUB, penambahan cold storage portable, dan peningkatan koordinasi mitra. Lokasi optimal fasilitas distribusi ditentukan dengan metode Centre of Gravity dan divalidasi melalui metode AHP, menghasilkan lokasi rekomendasi di Pergudangan Pantai Indah Dadap. Hasil ini menunjukkan perlunya integrasi teknologi dan penguatan infrastruktur untuk membangun sistem distribusi hasil perikanan yang efisien, berkelanjutan, dan mendukung pemulihan kinerja perusahaan.
PENYULUHAN PERIKANAN DENGAN PERSPEKTIF GENDER DI WILAYAH PESISIR JAWA TENGAH Widihastuti, Retno; Fatchiya, Anna; Mujono, Pudji; Syahyuti, Syahyuti
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v11i2.15367

Abstract

Permasalahan pada sektor perikanan tangkap, budi daya, serta pengolahan dan pemasaran skala kecil menunjukkan bahwa kemampuan sumber daya manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam proses pembangunan masih perlu ditingkatkan. Kondisi ini menyebabkan perlu adanya suatu proses untuk meningkatkan kemampuan individu yang terlibat dalam perikanan melalui program penyuluhan perikanan yang mempertimbangkan aspek holistik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan penyuluhan perikanan pesisir dari perspektif gender dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan survey eksplanasi yang mengumpulkan data survei dan wawancara terhadap 291 pelaku perikanan skala kecil yang terdiri dari nelayan, pembudidaya, pengolah, dan pemasar di Kabupaten Jepara, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Cilacap. Analisis data menggunakan SEM PLS dan alat analisis Smart PLS. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan penyuluhan perikanan yang telah mengintegrasikan kebijakan pengarusutamaan gender, nyatanya belum responsif gender. Kabupaten Jepara Lokasi tersebut diidentifikasi sebagai daerah dengan persentase tertinggi laki-laki yang mudah dijangkau dalam pelaksanaan penyuluhan perikanan, yaitu 30,9% untuk program penyuluhan, 22% untuk metode penyuluhan, dan 26% untuk materi penyuluhan. Faktor yang mempengaruhi adalah nilai-nilai budaya masyarakat dan dukungan penyuluhan.TITLE: FISHERIES EXTENSION WITH GENDER ROLES IN CENTRAL JAVA’S COASTAL AREAProblems in the capture fisheries, aquaculture, and small-scale processing and marketing sectors indicate that the human resource capabilities of both men and women in the development process still need to be improved. This condition makes it important to have a process in place to enhance the capabilities of individuals involved in fisheries through Fisheries extension programs that consider holistic aspects. This study aims to analyze the implementation of sustainable coastal fisheries extension from a gender perspective and analyze the factors that inffuence it. The researcher used a quantitative and qualitative approach by collecting data through surveys and interviews on 291 small-scale fisheries actors consisting of fishermen, cultivators, processors, and marketers in Jepara Regency, Kebumen Regency, and Cilacap Regency. The data analysis using SEM PLS and Smart PLS analysis tools. The Results of the Study showed that the implementation of fisheries extension has not been equally accessible to men and women. Jepara Regency The location is identified as the area with the highest percentage of men who easily reach the implementation of fisheries extension, namely 30.9% for extension programs, 22% for extension methods, and 26% for extension materials. The inffuencing factors are the cultural values of the community and extension support.