cover
Contact Name
Tajerin
Contact Email
marina.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
marina.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Ilmiah Marina : Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 25020803     EISSN : 25412930     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Buletin Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
Analisis Konsumsi Ikan pada Masyarakat Pesisir Sumba Timur Krisman Umbu Henggu; Yatris Rambu Tega; Firat Meiyasa; Suryaningsih Ndahawali; Nurbety Tarigan; Yopi Nurdiansyah
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v7i2.10368

Abstract

Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu daerah dengan sumber daya perikanan yang melimpah, namun saat ini belum terdapat data jumlah konsumsi dan asupan gizi ikan masyarakat pesisir. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil konsumsi ikan, angka konsumsi ikan, dan status asupan gizi ikan masyarakat pesisir di Kabupaten Sumba Timur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei—Juni 2020, di sepuluh desa dan dua kelurahan pesisir. Jumlah responden yang dilibatkan adalah 347 orang, yang dipilih menggunakan metode slovin dengan kriteria usia responden 18—60 tahun dan memiliki preferensi tentang ikan. Pengambilan data profil konsumsi ikan dilakukan dengan wawancara, sedangkan angka konsumsi ikan dan status asupan gizi ikan harian menggunakan instrumen food frequency questionnaires. Data hasil penelitian dianalisis deskriptif dan analisis regresi linier tunggal untuk mengetahui hubungan karakteristik keluarga terhadap jumlah konsumsi ikan (kg/kapita/bulan). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas masyarakat pesisir berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan bermatapencaharian nelayan. Masyarakat pesisir sebanyak 56,80% mengkonsumsi ikan 2—5 kg/kapita/bulan dan 43,20% mengkonsumsi ikan > 5 kg/kapita/bulan. Angka konsumsi ikan masyarakat pesisir berdasarkan usia dan jenis kelamin adalah 45,62—48,00 kg/kapita/tahun atau setara dengan 118,37—133,45 gram/kapita/hari. Angka konsumsi ini masih rendah dibandingkan target konsumsi ikan nasional tahun 2020, yakni 56,39 kg/kapita/tahun. Kontribusi angka konsumsi ikan terhadap rata-rata status asupan gizi ikan masyarakat pesisir adalah protein 7,53 (gram/kapita/hari), lemak 1,08 (gram/kapita/hari), dan energi 107 (kkal/kapita/hari). Khusus pada status kecukupan protein ikan harian belum memenuhi standar asupan gizi hewani ikan, yakni minimal jumlah asupannya harus mencapai 18,53 gram/kapita/hari. Oleh sebab itu, perlu dilakukan strategi untuk membudayakan konsumsi ikan pada masyarakat melalui sosialisasi, edukasi, dan diversifikasi produk perikanan.Title: Fish Consumption Analysis of East Sumba Coastal CommunitiesEast Sumba Regency is one of the areas with abundant fishery resources. Currently, there is no data on fish consumption and nutritional intake in coastal communities. The purpose of the study was to find the profile of fish consumption, the number of fish consumption, and the nutritional status of fish in coastal communities in East Sumba Regency. This research was conducted in May—June 2020 in ten and two coastal villages. The number of respondents involved was 347. The number of respondents was determined using the Slovin approach with the criteria of the respondent’s age being 18—60 years and having a preference for fish. Data collection on fish consumption profiles was conducted by interview, while fish consumption figures and daily fish nutritional status used the food frequency questionnaire instrument. The research data were analyzed descriptive and single linear regression analysis to decide the relationship of family characteristics to fish consumption (kg/capita/month). The study results show that most coastal communities have a junior high school education, earning a livelihood from fishermen. Coastal communities 56.80% consume fish 2—5 kg/capita/month and 43.20% consume fish >5 kg/capita/month. The fish consumption rate of coastal communities based on age and gender is 45.62—48.00 kg/capita/year or equal to 118.37—133.45 grams/capita/day. This consumption figure is still low compared to the national fish consumption target in 2020, which is 56.39 kg/capita/year. The contribution of fish consumption figures to the average nutritional status of fish in coastal communities is protein 7.53 (grams/capita/day), fat 1.08 (grams/capita/day), and energy 107 (kcal/capita/day). In particular, the daily fish protein adequacy status does not meet the standard of fish animal nutrition intake, namely the smallest amount of intake must reach 18.53 grams/capita/day. Therefore, a strategy is needed to cultivate fish consumption in the community through socialization, education, and diversification of fisheries products.
Diseminasi Sistem Akuaponik sebagai Alternatif Pendapatan Pembudi Daya Ikan Air Tawar di Kabupaten Lampung Tengah Helvi Yanfika; Herman Yulianto; Anna Gustina Zainal; Rudy Rudy; Abdul Mutolib
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i1.9873

Abstract

Provinsi Lampung mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai produsen ikan terbesar di Indonesia, baik perikanan air tawar, air payau (tambak udang dan bandeng), maupun air laut. Akan tetapi, angka konsumsi ikan Provinsi Lampung masih berada di bawah rata-rata nasional. Walaupun begitu, angka konsumsi yang masih terbilang rendah itu cukup menjadi bukti bahwa konsumsi ikan di Provinsi Lampung memiliki prospek yang baik dan menjanjikan bagi produsen ikan. Studi ini bertujuan untuk mengkaji proses diseminasi informasi sistem akuaponik, mengidentifikasi masyarakat sasaran kegiatan inkubasi, merumuskan metode/model sistem inkubasi melalui proses diseminasi informasi sistem akuaponik, melaksanakan sosialisasi metode/model sistem inkubasi melalui proses diseminasi, mengembangkan pabrik percontohan (pilot plant) kegiatan inkubasi melalui diseminasi, dan mengidentifikasi nilai tambah proses diseminasi informasi sistem akuaponik bagi pembudi daya ikan air tawar. Analisis data pada kajian ini dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif, analisis SWOT, dan analisis kelayakan finansial. Waktu penelitian ini dimulai dari waktu inkubasi itu sendiri. Title: Dissemination of Aquaponics System as Freshwater Fish Cultivation Income Alternatives in Central Lampung RegencyLampung Province has enormous potential to be developed as the largest fish producer in Indonesia, both freshwater fisheries, brackish water (shrimp and milkfish ponds) and marine fisheries. However, the fish consumption rate of Lampung Province is still below the national average. However, the consumption rate which is still relatively low enough is to prove that fish consumption in Lampung Province has good and promising prospects for fish producers. This study aims to examine the process of dissemination of system information, identify the target community of incubation activities, formulate methods/models of incubation system, carry out socialization of incubation method/models through the diseemination process, develop pilot plants for incubation activitis through dissemination process and identify the added value of the aquaponic system information throuh dissemination process for freshwater fish farmers. Data analysis in this study was carried out using qualitative descriptive analysis methods, SWOT analysis and financial feasibility analysis. This study time starts from the incubation time itself.
Pemberdayaan Nelayan Berbasis Gender dalam Peningkatan Ekonomi Rumah Tangga di Desa Darul Aman, Provinsi Riau Melsya Trivianti; Zulkarnain Zulkarnain; Darwis AN
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i1.10351

Abstract

Pada tahun 2016, BPS menyatakan bahwa kemiskinan masyarakat nelayan di Kabupaten Bengkalis terus meningkat menjadi 7,38% dari tahun sebelumnya 7,20%. Angka tersebut masih tinggi meskipun Pemerintah Kabupaten Bengkalis telah berupaya mengurangi kemiskinan melalui Program Pemberdayaan Desa (PPD) berbentuk Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP). Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis peran gender dalam rumah tangga nelayan di Desa Darul Aman; 2) menganalisis peran Program Pemberdayaan Unit Ekonomi Desa Simpan Pinjam dalam meningkatkan ekonomi rumah tangga nelayan; serta (2) merumuskan skenario untuk strategi pemberdayaan nelayan berbasis gender. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan hasil wawancara terhadap 23 responden rumah tangga nelayan, sedangkan data sekunder didapatkan dari kantor UED-SP dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis. Analisis data yang digunakan adalah kerangka analisis model Moser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran gender dalam rumah tangga nelayan di Desa Darul Aman masih belum seimbang. Hal itu terjadi karena peran istri dalam aspek reproduktif tidak seimbang dengan suami, sedangkan peran kerja produktif dan peran komunitas didominasi oleh suami. Oleh karena itu, skenario pemberdayaan masyarakat nelayan di Desa Darul Aman adalah mendorong perempuan untuk bekerja atau memiliki usaha sampingan melalui kegiatan usaha kelompok menggunakan dana UED-SP, seperti usaha ikan duri asap, usaha kerupuk ikan lomek renyah (crispy), usaha terasi, dan usaha warung boga bahari (seafood). Title: Gender-Based Fishermen Empowerment in Improving the Household Economy in Darul Aman Village, Riau ProvinceIn 2016, BPS stated that the poverty rate of fisherman communities in Bengkalis Regency continued to increase to 7.38% from the previous year’s 7.20%. This number is still high even though the government in Bengkalis Regency has been trying to reduce poverty through the Village Empowerment Program (PPD) in the form of Savings and Loan Village Economic Business (UED-SP). This study aims to (1) analyze gender roles in fisherman households in Darul Aman Village; 2) analyze the role of the Village Empowerment Program of the Saving – Loan Village Economic Unit (UED-SP) in improving the economy of fisherman households and (2) formulate scenarios for gender-based fishermen empowerment strategies. The method used in this study is the survey method using simple random sampling techniques. The data used in this study are primary data and secondary data. The primary data is the result of interviews with 23 respondents from fisherman households. In contrast, secondary data is obtained from the office of the Saving-Loan Village Economic Unit (UED-SP) and the Bengkalis Regency Marine and Fisheries Office. Data analysis used in this study is the Moser model analysis framework. The results showed that gender roles in fisherman households in Darul Aman Village were still not balanced. This is due to the role of the wife in the reproductive aspect is not balanced with the husband, while the role of productive work and the role of community are dominated by husbands. Therefore, empowering the fishermen community in Darul Aman Village encourages women to work or have side businesses through group business activities using UED-SP funds such as smoked thorn fish business group, crispy “lomek” fish cracker business, shrimp-paste business and seafood stall business.
Studi Kualitatif tentang Jebakan Kemiskinan pada Masyarakat Pesisir di Pasuruan, Jawa Timur Aun Falestien Faletehan; Muchammad Firman Mauludin; Ahmad Khairul Hakim
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i1.10960

Abstract

Kemiskinan cenderung menjadi problem sosial yang tidak bisa hilang di kalangan masyarakat pesisir. Studi yang difokuskan pada eksplorasi akar masalah kemiskinan di kawasan ini tampaknya tidak begitu banyak. Riset ini dilakukan di Desa Jatirejo, Jawa Timur dengan tujuan untuk menjelaskan karakteristik rumah tangga miskin di kawasan pesisir dan menganalisis faktor penyebab kemiskinan yang ada di sana. Melalui pendekatan kualitatif bergenre fenomenologi pada tahun 2021, riset ini memanfaatkan perangkat lunak (software) kualitatif NVivo 12 untuk menganalisis data lapangan yang berupa transkripsi wawancara, catatan lapangan (field notes) observasi, dan dokumen kearsipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompleksitas masalah rumah tangga miskin di kawasan pesisir ternyata tidak hanya berkaitan dengan isu rendahnya sumber daya manusia atau ketidakmampuan dalam mengelola sumber daya alam, tetapi juga adanya perangkap kemiskinan yang dibuat oleh pihak lain. Masyarakat pesisir dianggap miskin karena memiliki mata pencaharian yang tidak menguntungkan, beban utang rumah tangga yang makin besar, dan kualitas hidup yang rendah. Kondisi tersebut tetap langgeng karena mereka bergantung pada sumber daya laut, terjebak dalam perangkap tengkulak dan pemilik modal, dan memiliki kreativitas dalam usaha yang rendah serta pola pikir pengelolaan uang rumah tangga yang tidak efektif. Pengungkapan akar masalah kemiskinan di kawasan pesisir ini seyogianya bisa membantu pihak-pihak terkait (pemerintah, LSM, dsb.) dalam hal merumuskan strategi pengentasan kemiskinan secara jitu. Title: A Qualitative Study on Poverty Trap in Coastal Community of Pasuruan, East JavaPoverty tends to be a sustained social problem in coastal communities. Studies focusing on exploring the causes of poverty in this region seem lagging. Taking a research location in Jatirejo Village, East Java, this research aims to explain the characteristics of poor households in coastal areas and analyze the causes of poverty that exist there. Employing phenomenological-approach-based qualitative methods in 2021, this study utilizes qualitative software NVivo 12 in order to analyze data from interview transcripts, observation field notes, and archival documents. The results show that the complexity of the poverty problem for households in coastal areas is not only related to the issue of low quality of human resources or the inability to manage natural resources but also due to the existence of poverty traps made by other parties. Coastal communities are considered poor because they have unprofitable livelihoods, increasing household debt burden, and low quality of life. These poor conditions stay longer because of their dependence on marine resources, trapped in the decoy of capital owners, low creativity in business, and an ineffective household money management mindset. Disclosure of the causes of  poverty in this coastal area should be able to assist the relevant parties (government, NGOs, etc.) in formulating strategies for poverty alleviation in a precise manner. 
Analisis Kesenjangan Pendapatan Nelayan Buruh Orang Asli Papua (OAP) dan Non-OAP Berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR) di Merauke, Papua, Indonesia Setiawan Daka Yusup; Ineke Nursih Widyantari; Ferdinand C Situmorang
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i1.10626

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pendapatan yang diterima nelayan buruh dari kalangan orang asli Papua (OAP) dan non-OAP serta tingkat kesenjangan pendapatan nelayan buruh OAP dan non-OAP berdasarkan upah minimum regional (UMR). Tempat penelitian adalah Kampung Timur dan Kampung Binaloka di Pantai Lampu Satu, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis yang dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2021. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari kuesioner dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari BPS, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, serta Kelurahan Samkai. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 62 orang yang meliputi 26 nelayan buruh OAP dan 36 nelayan buruh non- OAP. Responden diperoleh dengan teknik pemilihan sampel, yaitu sensus untuk nelayan buruh OAP dan purposive sampling untuk nelayan buruh non-OAP. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, analisis pendapatan, dan analisis kesenjangan (gap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan nelayan buruh OAP adalah Rp2.598.478,00 per bulan, sedangkan nelayan buruh non-OAP adalah Rp3.517.814,00 per bulan. Dalam diagram kartesius ditunjukkan bahwa nelayan buruh OAP berada pada kuadran I yang berarti pendapatannya di bawah UMR Kabupaten Merauke. Sementara itu, nelayan buruh non-OAP berada pada kuadran II yang berarti pendapatannya di atas UMR Kabupaten Merauke. UMR Kabupaten Merauke tahun 2021 adalah sebesar Rp3.516.700,00. Pendapatan nelayan buruh OAP adalah 73,88% lebih rendah daripada nelayan buruh non-OAP dengan tingkat kesesuaian pendapatan sebesar 100,03% terhadap UMR Kabupaten Merauke yang memiliki persentase sebesar 100%. Kesenjangan pendapatan nelayan buruh OAP terhadap UMR adalah sebesar 26,11% di bawah UMR, sedangkan nelayan buruh non-OAP adalah -0,03% di atas UMR Title: Gap Analysis of OAP and Non-OAP Fishermen’s Incomes on the Regional Minimum Wage in Merauke, Papua, IndonesiaThis study aims to analyze the amount of income received by labor fishermen from Papuan natives (OAP) and non-OAP as well as the level of income disparity between OAP and non-OAP based on the regional minimum wage (UMR). The research sites are Kampung Timur and Kampung Binaloka in Coastal Lampu Satu, Merauke District, Merauke Regency. This research is an analytical descriptive study which is conducted from June to August 2021. The data used in this study are primary data and secondary data. Primary data was obtained from questionnaires and intervies, while the secondary data was obtained from BPS, Department of Marine Affairs and Fisheries, Department of Employment and Transmigration, and Samkai District Office. The number of respondents in this study was 62 people which included 26 OAP labor fishermen and 36 non-OAP labor fishermen with a sample selection technique, namely census for OAP labor fishermen and purposive sampling for non-OAP labor fishermen. The data were analyzed using cost, income, and gap analysis. The results showed that the average income of OAP labor fishermen was IDR2.598.478,00 per month, while the non-OAP labor fishermen were IDR3.517.814,00 per month. In the Cartesian diagram, OAP labor fishermen are in quadrant I, which means their income is below the UMR of Merauke Regency, while non-OAP labor fishermen are in quadrant II, which means their income is above the UMR of Merauke Regency. Meanwhile, the UMR of Merauke Regency in 2021 is IDR3.516.700,00. The income level of OAP labor fishermen is 73.88% lower than non-OAP labor fishermen with an income suitability level of 100.03% against the UMR of Merauke Regency, which has a percentage of 100%. The gap between the incomes of OAP labor fishermen is 26.11% higher than non-OAP labor fishermen, with a gap of -0.03% above the UMR of Merauke Regency.
Peran Cold Storage Dalam Pengembangan Kawasan Minapolitan Perikanan Tangkap Di Pasir Jambak Kota Padang Deltri Apriyeni; Wati Wati
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i1.10918

Abstract

ABSTRAK  Kemajuan ekonomi wilayah sangat ditentukan oleh perkembangan pusat pertumbuhan ekonomi. Kawasan Minapolitan Pasir Jambak sebagai lumbung penghasil produk perikanan tangkap di Kota Padang dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan kawasan sebagai lumbung penghasil tangkapan yang optimal dan meningkatkan keberadaan cold storage (ruang pendingin) dalam menyerap hasil tangkapan nelayan lokal, menganalis langkah strategis dalam mengatasi kelangkaan produk dan menstabilkan harga di pasaran. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Penelitian dilakukan pada Januari 2021. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan FGD (Focus Group Disscusion). Teknik pemilihan responden menggunakan purposive sampling. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif dengan langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kawasan sebagai lumbung penghasil produk tangkapan laut belum mencapai optimal. Karena belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi lokal. Hasil tangkapan nelayan langsung diserap oleh pasar tanpa harus dibeli oleh pemilik cold storage. Pemilik cold storage justru membeli produk tangkapan nelayan yang berasal dari luar kawasan minapolitan. Dalam skala mikro cold storage sudah berperan dalam mengatasi kelangkaan produk di pasar dan bisa menstabilkan harga ketika terjadi kelangkaan komoditi. Perlu dilakukan pengembangan kawasan menjadi kawasan mandiri dengan meningkatkan volume hasil tangkapan nelayan, jenis komoditi yang dihasilkan dengan meremajakan armada kapal, meningkatkan kemampuan alat tangkap nelayan yang lebih moderen. Fasilitas penunjang suatu kawasan perikanan tangkap harus menjadi fokus pengembangan selanjutnya untuk menjadi kawasan yang maju dan berkembang. Kata kunci: kawasan minapolitan; hasil tangkapan; cold storage; kualitatif;  armada kapal; alat tangkap
Analisis Dampak Sampah Plastik di Laut terhadap Aktivitas Nelayan Skala Kecil di Jakarta Andi Sagita; Muhammad Danny Sianggaputra; Christy Desta Pratama
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i1.10731

Abstract

Sampah plastik yang memenuhi pesisir dan laut telah menganggu aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan skala kecil di Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak kerugian ekonomi akibat sampah plastik di laut terhadap aktivitas nelayan skala kecil di Jakarta. Objek penelitian ini adalah nelayan kecil yang didefinisikan dalam UU Nomor 7 Tahun 2016 sebagai nelayan yang menggunakkan kapal penangkapan ikan berukuran paling besar 10 gros ton (GT). Untuk itu, narasumber dibagi menjadi nelayan 0 GT, 3 GT, 5 GT, 7 GT, dan 10 GT. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat studi kasus sehingga pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kategori nelayan skala kecil di Jakarta mengalami perubahan upaya penangkapan ikan akibat sampah plastik di laut. Nelayan 0 GT merupakan nelayan yang paling besar mengalami peningkatkan biaya operasional, yaitu sebesar 69,5% dari Rp154.500,00 menjadi Rp259.500,00 per trip sehingga menurunkan pendapatan hingga 38% dari Rp2.001.500,00 menjadi Rp1.297.611,00 per trip. Sementara itu, nelayan 10 GT merupakan kategori nelayan yang paling kecil dampak ekonominya akibat sampah plastik di laut dibandingkan dengan kategori nelayan lainnya, yaitu mengalami peningkatkan biaya operasional hanya sebesar 9,4% dari Rp5.384.000,00 menjadi Rp5.884.500,00 per trip dan secara signifikan menurunkan pendapatan sebesar 9,4%, yaitu dari Rp138.115.500,00 menjadi Rp125.843.619,00 per trip. Peningkatan biaya operasional pada nelayan skala kecil disebabkan oleh perubahan jarak dan waktu tempuh ke daerah penangkapan ikan akibat sampah plastik. Tittle: Analysis of the Impact of Plastic Waste in the Sea on Small-Scale Fishermen Activities in JakartaPlastic waste that fills up and covers coastal and marine waters has disrupted the fishing activities of small-scale fishermen in Jakarta. The purpose of this study was to analyze the impact of economic losses on plastic waste on the activities of small-scale fishermen in Jakarta. The object of this research were small fishermen as defined in Law Number 7 of 2016 as fishermen who catch fish to fulfill their daily needs using fishing vessels with a maximum size of 10 gross tons (GT). For those reason, the informants were divided into 0 GT, 3 GT, 5 GT, 7 GT and 10 GT. This research is a qualitative type of case study where data collection is done by observation and structured interviews using a quaestionnaires, while data analysis is carried out in a qualitative descriptive manner. The results showed that all categories of small-scale fishermen in Jakarta have undergone changes in fishing activities due to the marine plastic waste. The fishermen of 0 GT are the group who experienced the largest increase in operational costs, which was 69.5%, from Rp154,500.00 to Rp259,500.00, per trip thus reducing their income by 38%, from Rp2,001,500.00 to Rp1,297,611.00 per trip. On the other hand, the fishermen of 10 GT are the group who have the least economic impact due to plastic waste compared to other categories. These fishermen only suffer the operational costs by only 9.4%, from Rp5,384,000.00 to Rp5,884,500.00 per trip, significantly reducing their income by 9.4%, that is from Rp138,115,500.00 to Rp125,843,619.00 per trip.  The increase in operational costs for small-scale fishermen is caused by changes in distance and travel time to fishing areas due to plastic waste.
Daya Tahan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Sektor Perikanan Kabupaten Takalar Pada Era Ketidakpastian Syamsari Syamsari; M Syamsul Maarif; Elisa Anggraeni; Siti Amanah
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i1.10636

Abstract

UMKM pada era ketidakpastian membutuhkan beberapa faktor untuk bertahan menghadapi gangguan yang terus-menerus terjadi, tidak terduga, dan makin kompleks. Pendekatan holistik yang menggunakan empat teori, yaitu teori sumber daya, teori entrepreneurial orientation, teori corporate entrepreneurship, dan teori entrepreneurship ecosystem dibutuhkan untuk memperkuat daya tahan UMKM. Penelitian ini bertujuan menemukan formulasi faktor yang membentuk daya tahan UMKM dan memilih bisnis UMKM yang memiliki daya tahan tinggi. Lokasi penelitian berada di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan dan penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2021. Data diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh dua puluh orang pakar untuk menyusun ranking empat belas kriteria yang berasal dari empat teori yang mendasari penelitian. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Eckenrode untuk memperoleh bobot setiap kriteria dan metode TOPSIS untuk menetapkan bisnis yang memiliki daya tahan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan urutan bobot empat belas kriteria dari terbesar ke terkecil, yaitu sumber daya (0,111), pasar (0,108), perilaku inovatif (0,103), strategi (0,93), perilaku proaktif (0,093), pembiayaan (0,087), pengambilan risiko (0,075), kebijakan (0,073), agresivitas kompetitif (0,063), proses (0,061), supporting (0,054), struktur (0,036), budaya (0,028), dan perguruan tinggi (0,015). Urutan bobot kriteria tersebut ditetapkan sebagai formulasi faktor yang membentuk daya tahan UMKM. Bisnis UMKM yang memiliki daya tahan tinggi adalah rumput laut karena memiliki koefisien kedekatan tertinggi (0,815). Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa formulasi faktor yang membentuk daya tahan UMKM secara berurut adalah sumber daya, pasar, perilaku inovatif, strategi, perilaku proaktif, pembiayaan, pengambilan risiko, kebijakan, agresivitas kompetitif, proses, supporting, struktur, budaya, dan perguruan tinggi. UMKM sektor perikanan yang memiliki daya tahan tinggi adalah UMKM yang berbisnis rumput laut. Title: The Resilience of Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) of Takalar District Fisheries in the Era of UncertaintyFacing the era of uncertainty, MSMEs need several factors to survive due to unpredictable and complex disruption. A holistic approach that uses four theories, namely resource theory, entrepreneurial orientation theory, corporate entrepreneurship theory and entrepreneurship ecosystem theory is needed to strengthen the resilience of MSMEs. The research aims to find the formulation of factors forming the resilience of MSMEs as well as to choose the kind of MSMEs businesses that have strong resilience. The location of the research was in Takalar Regency, South Sulawesi. The research was carried out from August to October 2021. Data obtained from a questionnaire filled out by twenty experts and analyzed using the Eckenrode and TOPSIS method. Fourteen criteria derived from the four theories approach in this research were assessed by experts then calculating their weights according to Eckenrode method. The results show the order of the weights of fourteen criteria from largest to smallest as following: resources (0.111), market (0.108), innovative behavior (0.103), strategy (0.93), proactive behavior (0.093), financing (0.087), risk taking (0.075), policy (0.073), competitive aggressiveness (0.063), process (0.061), supporting (0.054), structure (0.036), culture (0.028) and higher education (0.015). The order of criterion weight is determined as factors formulation forming the resilience of MSMEs. The strongest resilience of MSMEs business is seaweed with the highest closeness coefficient (0.815). The conclusion of this study states that the formulation of factors that shape the resilience of MSMEs in sequence are resources, market, innovative behavior, strategy, proactive behavior, financing, risk taking, policy, competitive aggressiveness, process, supporting, structure, culture and higher education. MSMEs in the fisheries sector that have high resilience is MSMEs in the seaweed business. 
Pengorganisasian Nelayan Skala Kecil di Zona Penangkapan Ikan Perikanan Industri dalam Mendukung Rencana Kebijakan Penangkapan Ikan Terukur Armen Zulham; Radityo Pramoda; Nensyana Shafitri
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i2.11279

Abstract

Kebijakan pengelolaan penangkapan ikan di laut Indonesia sudah direncanakan akan bergeser dari kebijakan kontrol input menjadi kebijakan kontrol output. Izin penangkapan ikan dengan kebijakan pertama diberikan kepada armada dan alat tangkap, sedangkan kebijakan kedua didasarkan pada kuota ikan yang ditangkap dengan armada perikanan dan alat tangkap. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mempelajari kondisi perikanan tangkap skala kecil (nelayan lokal) jika kebijakan kontrol output dilaksanakan. Dua tujuan lain, yaitu: mempelajari tiga prinsip pengorganisasian nelayan skala kecil; serta melakukan penilaian terhadap indikator aksi kolektif pada koperasi nelayan di lokasi penelitian, terkait strategi memperoleh kuota penangkapan ikan. Perikanan skala kecil <10 GT jumlahnya mencapai 90% dari total armada perikanan tangkap. Usaha perikanan skala kecil biasanya tidak terorganisasi dalam sebuah bisnis yang terorganisasi, tetapi kontribusi terhadap produksi ikan Indonesia mencapai 50%. Nelayan lokal secara teoretis dapat diorganisasikan dan pengorganisasian tersebut dapat dilakukan melalui koperasi untuk melakukan aksi kolektif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui survei dan focus group discussion (FGD) di Kabupaten Natuna dan Sebatik (Kabupaten Nunukan) serta PPS Cilacap pada bulan Mei sampai dengan September 2021. Penelitian ini menggunakan sepuluh indikator (atribut) dalam menilai aksi kolektif nelayan lokal (perikanan skala kecil) melalui koperasi atau korporasi untuk memanfaatkan kuota penangkapan ikan. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sekitar 85% perikanan skala kecil menangkap ikan di perairan >12 mil. Armada perikanan skala kecil yang menangkap ikan di perairan >12 mil (pada zona industri perikanan) harus bergabung dalam koperasi atau korporasi agar sesuai dengan regulasi. Pembentukan koperasi/korporasi pada usaha perikanan skala kecil dilakukan melalui konsolidasi, kolaborasi, dan integrasi. Penelitian ini merekomendasikan bahwa atribut tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk pengorganisasian nelayan skala kecil di dalam koperasi atau korporasi di berbagai zona industri penangkapan ikan dan di berbagai wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia. Title: Organizing Small Scale  Fishers for Catching Fish in The Industrial Fishing  Zone to Support  A Measurable Fishing Policy Planning The fishing policy on Indonesian seas is in the plan to shift from an input control policy to an output control policy. The first policy, fish license, is given to the fishing fleet and gear, while the output control policy focusc on the quota of fish caught to the fishing fleet and fishing gear. The main purpose of this research is to study the condition of small-scale capture fisheries (local fishers) if the output control policy is implemented. Two other objectives were also studied related to the principles of organizing small-scale fishers, as well as indicators of collective action in small-scale fisheries organizations. Small-scale fisheries <10 GT account for 90% of the total fishing fleet. The small-scale fishery businesses were not organized in an organization but contributed to Indonesian fish production, reaching 50%. Fishers theoretically are organized, and the organization can be through cooperatives to carry out collective action. Primary data was collected through surveys and focus group discussions (FGD). The data were collected in Natuna Regency and Sebatik island (Nunukan Regency) and Cilacap Ocean Fishing Port from May to September 2021. This study uses ten indicators (attributes) to assess the collective action of local fishermen (small-scale fisheries) through cooperatives or corporations to take advantage of fishing quotas. The data collected were analyzed by descriptive statistics. The study results indicate that about 85% of small-scale fisheries catch fish in waters > 12 miles. To comply with regulations, small-scale fishing fleets that catch fish in waters > 12 miles (in industrial fishing zones) should have to join with cooperatives or corporations. The formation of cooperatives/corporations in small-scale fishery businesses through consolidation, collaboration, and integration. This study recommends that these attributes use as a reference for organizing small-scale fishers in cooperatives or corporations in various fishing industry zones throughout the Republic of Indonesia Fisheries Management Area.
Analisis Pemasaran Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis) di Pangkalan Pendaratan Ikan Kranji, Kabupaten Lamongan Iwan Fadli Pasaribu; Trisnani Dwi Hapsari; Bambang Argo Wibowo
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v8i2.11043

Abstract

Permasalahan dalam pemanfaatan sumber daya ikan tongkol (Euthynnus affinis) di PPI Kranji, Lamongan tidak hanya pada produksi dan faktor produksi, tetapi juga pada distribusi pemasaran tangkapan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik lembaga pemasaran ikan tongkol serta menganalisis pola distribusi pemasaran, margin pemasaran, fisher’s share, dan efisiensi pemasaran pada setiap pelaku usaha. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari—Februari 2022 di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kranji, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Jumlah responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini ialah 79 orang yang terdiri atas 25 nelayan, 16 agen pemasaran, 7 pedagang lokal Kranji, 13 pengepul, 12 pedagang lokal kota Lamongan, 3 pedagang luar kota, 2 pengolah ikan asap, dan 1 pengelola pabrik pengalengan tongkol. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis margin pemasaran, fisher’s share, dan efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat pola distribusi pemasaran ikan tongkol di PPI Kranji. Total nilai margin dari saluran pemasaran 1 dan 2 adalah sebesar Rp12.832,00 dengan persentase margin sebesar 40% dan persentase Fisher’s share sebesar 60%. Total margin pada saluran pemasaran 3 yang diperoleh adalah sebesar Rp25.832,00 dengan persentase margin sebesar 57% dan persentase fisher’s share sebesar 43%. Total margin pada saluran pemasaran 4 adalah sebesar Rp20.832,00 dengan persentase margin sebesar 52% dan persentase Fisher’s share sebesar 48%. Hasil efisiensi distribusi pemasaran di PPI Kranji <1 menunjukkan bahwa pemasaran ikan tongkol tergolong efisien.  Dengan tujuan menunjang pemasaran tangkapan yang baik, PPI Kranji sebaiknya menyediakan serta membangun infrastruktur yang memadai sehingga kegiatan pemasaran bisa terlaksana dengan baik. Title: Marketing Analysis of Mackerel Tuna (Euthynnus Affinis) at Kranji Fish Landing Base, Lamongan RegencyProblems in the utilization of mackerel tuna resources (Euthynnus affinis) at Fish Landing Base of Kranji (PPI Kranji), Lamongan are not only in production and factors of production, but also in marketing distribution of the catch. The purpose of this study is to identify the characteristics of tuna marketing institutions and analyze marketing distribution patterns, marketing margins, fisher’s share and marketing efficiency for each business actor. The study was conducted in January-February 2022 at the Kranji Fish Landing Base, Lamongan Regency, East Java Province. The sampling methods used are purposive sampling and snowball sampling. The number of respondents who were sampled in this study were 79 people consisting of 25 fishermen, 16 marketing agents, 7 local Kranji traders, 13 collectors, 12 local traders from Lamongan, 3 traders outside the city, 2 smoked fish processors and 1 cob cannery. The data analysis method used is marketing margin analysis, fisher’s share and marketing efficiency. The results showed that there were 4 distribution patterns of tuna marketing. The total margin value from marketing channels 1 and 2 is Rp12,832 with the margin percentage 40% and the Fisher’s share percentage 60%. The total margin of marketing channel 3 is Rp25,832 with the margin percentage 57% and the fisher’s share percentage 43%. Marketing channel 4 earned total margin of Rp20,832 with the margin percentage 52% and the fisher’s share percentage 48%. The results of marketing distribution efficiency at PPI Kranji <1 indicates that the marketing of tuna is classified as efficient. To support the good marketing of the catches, it is suggested chat, PPI Kranji provides or builds adequate infrastructure so that marketing activities can be carried out properly.