cover
Contact Name
Tajerin
Contact Email
marina.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
marina.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Ilmiah Marina : Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 25020803     EISSN : 25412930     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Buletin Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
Strategi Peningkatan Pendapatan Keluarga Nelayan Melalui Peran Perempuan: Studi Kasus pada Komunitas Nelayan Demak, Jawa Tengah Indrawarsih, Ratna; Ratri, Annisa Meutia
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v9i1.11743

Abstract

Peran perempuan dalam komunitas nelayan sangat signifikan, baik dalam aktivitas praproduksi, produksi, maupun pascaproduksi untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Peran seperti itu telah dilakukan oleh perempuan di wilayah pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan yang dihadapi perempuan di wilayah pesisir Kabupaten Demak dalam menjalankan usahanya di sektor kelautan dan perikanan dan memahami strategi yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Lokasi penelitian dilakukan di tiga desa nelayan di Kabupaten Demak, yaitu Desa Morodemak, Purworejo, dan Margolinduk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui fishcollabs sebagai alat bantu diagnosis partisipatif dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), dan observasi lapangan. Penelitian menemukan bahwa ragam persoalan yang dihadapi perempuan di wilayah pesisir yaitu terkait dengan kondisi lingkungan dan stagnasi di bidang usaha perikanan. Stagnasi usaha yang dimaksud terkait dengan aspek pemasaran. Hal itu disebabkan oleh kurangnya kemampuan dalam menciptakan nilai tambah produk olahan, dan jaringan pemasaran yang dimiliki perempuan di wilayah tersebut, serta adanya permasalahan degradasi lingkungan permukiman. Ada beberapa opsi strategi yang penting untuk meningkatkan peran perempuan yaitu: (1) pelatihan peningkatan kapasitas usaha; (2) pelatihan pengemasan produk olahan dan jaringan pemasaran; dan (3) pelatihan pengelolaan bank sampah. Tittle: Strategies for Increasing Fisher’s Family Income Through the Role of Women: A Case Study in the Fishing Community of Demak, Central JavaThe role of women is very significant, in production and post-production in the fisheries sector, including the contribution of women in the coastal area of Demak Regency, Central Java. This paper aims to discuss the problems women face in coastal areas in running their businesses in the fisheries sector, as well as strategies to overcome these problems, individually and collectively. The study focuses on case studies of three fishing villages in Demak Regency: Morodemak Village, Purworejo Village and Margolinduk Village. This study uses a qualitative method through fish collabs as a participatory diagnostic tool, with data collection carried out through in-depth interviews, FGDs, and field observations. However, the research found various barriers women face in coastal areas, especially environmental conditions and stagnation in the fisheries business. The business stagnation is associated with the marketing aspect caused by the lack of added value for processed products and marketing networks owned by women, as well as the problem of environmental degradation in settlements. This article shows how training to increase business capacity, packaging of processed products and marketing networks, as well as waste bank management are essential strategic options for women.
Analisis Keberhasilan Pengelolaan Hutan Mangrove: Kasus Rehabilitasi dan Konservasi oleh Komunitas Peduli Pesisir Sudrajat, Jajat; Jamaludin, Jamaludin; Anshari, Gusti Zakaria; Gusmayanti, Evi; Sawerah, Siti; Jabbar, Abdul
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v9i1.11845

Abstract

Kelompok peduli pesisir memiliki peranan penting dalam rehabilitasi dan perlindungan hutan mangrove, khususnya berkaitan dengan upaya menumbuhkan aspek kelembagaannya. Studi ini bertujuan menganalisis kinerja kelembagaan, peran stakeholders, dan hak pemilikan hutan yang mungkin diwujudkan setelah rehabilitasi mangrove dianggap berhasil, serta untuk mendeskripsikan beberapa dimensi pentingnya sebagai model pengelolaan hutan mangrove. Penelitian dilakukan pada bulan September 2021 hingga Agustus 2022 di Kelurahan Setapuk Besar- Kota Singkawang, Kalimantan Barat, melalui suatu metode campuran: kuantitatif-kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan dari 78 responden warga komunitas pesisir dengan cara wawancara terstruktur, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci. Analisis data kuantitatif mengenai kinerja kelembagaan diukur dari proporsi warga yang mengetahui terhadap aturan utama perlindungan hutan mangrove, sedangkan secara kualitatif dilihat dari partisipasi anggota kelompok dalam rutinitas kegiatan rehabilitasi dan konservasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kelembagaan telah berfungsi dengan baik, buktinya sekitar 90 persen warga pesisir mengetahui aturan perlindungan hutan mangrove di komunitasnya. Selain itu partisipasi anggota kelompok dalam aksi rehabilitasi atau konservasi melalui inisiatif kelompok merupakan faktor kunci keberhasilan. Dimensi penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi mangrove di sekitar kota pesisir adalah melalui pemeliharaan kelembagaan lokal dan penumbuhan ekowisata. Tittle: Analysis of the Success of Mangrove Forest Management: A Case Study on Rehabilitation and Conservation by the Coastal Care CommunityCoastal care groups have an essential role in rehabilitating and protecting mangrove forests, particularly concerning efforts to grow their institutional aspects. This study aims to analyse the institutional performance, stakeholder roles, and forest property rights that may be  realized after the success of mangrove rehabilitations, and to describe some of its essential dimensions as a model for mangrove forest management. This study was conducted in September 2021 until August 2022 in Setapuk Besar-Singkawang city, West Kalimantan, through a mixed methods: quantitative-qualitative. Quantitative data were collected from 78 respondents of the coastal communities using structured interviews, while qualitative data was gotten through in-depth interviews with the key informants. Quantitative data analysis, concerning the institutional performance is measured by the proportion of residents who know the main rules for protecting mangrove forests, while qualitatively it is seen from the participation of group members’ in their routine rehabilitation and conservation activities. The results showed that the institutional system has functioned well, as evidenced is around 90 percent of the coasta residents knowing precisely the rules for protecting the mangrove forest in their community. Besides, the group members’ participation in rehabilitation or conservation actions through group initiatives is the key to success. An important dimension in maintaining the sustainability of mangrove conservation around coastal cities is through the maintenance of local institutions and the growth of ecotourism.
Analisis Finansial Penggunaan Panel Surya Pada Budi Daya Udang Vaname Febrianti, Desy; Dewi, Resti Nurmala
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v10i1.12625

Abstract

Pada sistem budi daya udang intensif, penggunaan kincir air menjadi salah satu kunci keberhasilan budi daya. Kincir air memegang peranan penting dalam penyediaan oksigen terlarut untuk kehidupan udang. Saat ini, kincir air yang banyak digunakan adalah yang menggunakan listrik sebagai tenaga penggeraknya dan menghabiskan sekitar 14-15% dari biaya total yang dibutuhkan selama masa pemeliharaan. Hal inilah yang membuat para pembudidaya membutuhkan biaya operasional yang tinggi untuk menggunakan kincir air. Oleh sebab itu, menjadi penting untuk menganalisis kebutuhan biaya listrik untuk budi daya udang vaname dengan sistem intensif; menganalisis persentase penurunan biaya dengan penerapan solar panel sebagai penggerak kincir pada budi daya udang vaname; dan menganalisis parameter finansial pada budi daya udang vaname yang menggunakan solar panel sebagai pengganti listrik. Penelitian ini telah dilakukan selama dua siklus budi daya pada tambak udang vaname di Kabupaten Jembrana, Bali menggunakan metode survei dan pengamatan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan penggunaan listrik untuk menggerakkan kincir air menelan biaya hingga 9,04% dari biaya total produksi selama masa pemeliharaan. Tingginya kebutuhan listrik yang mencapai 95.040 kWh per tahun untuk empat kolam tambak dengan luas 5.600 m2 menyebabkan penggunaan solar panel menjadi sebuah solusi yang tepat. Selain disebabkan karena penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan, penggunaan solar panel untuk mensubstitusi listrik konvensional juga mampu menurunkan biaya operasional hingga 1,47% dan meningkatkan keuntungan usaha hingga 44,60%. Dengan demikian, penggunaan tenaga surya terbukti dapat menjadi solusi budi daya berkelanjutan. Akan tetapi, penerapan energi ini masih belum maksimal sehingga diperlukan dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan dan peraturan serta pengembangan kerja sama internasional Tittle: Financial Analysis of the Utilization of Solar Panels in the Vannamei Shrimps Farming In intensive shrimp farming system, the use of waterwheels is one of the keys to successful cultivation. Waterwheels play an important role in providing dissolved oxygen which is essential for shrimp life. However, the majority of waterwheels use electricity as its driving force and spends around 14-15% of the total cost required during the maintenance period. Because of this, cultivators need to incur significant operating costs in order to employ waterwheels. Therefore, it is important to analyze the need for electricity costs for vannamei shrimp farming with an intensive system, analyze the percentage of cost reduction by applying solar panels as a wheel drive, and analyze the financial parameters in using solar panels as an electric replacement. This study was conducted for two cultivation cycles in vannamei shrimp ponds in Jembrana, Bali utilizing survey and direct observation in the location. The results showed that the need to use electricity to drive the waterwheels costed up to 9.04% of the total production cost. The high demand for electricity, which reached up to 95,040 kWh per year for four ponds with an area of 5,600 m2, showed that the use of solar panels is a viable eco-friendly renewable energy solution. The use of solar panels decreased operational costs by up to 1.47% and raised business earnings by up to 44.60%. Thus, it has been shown that using solar energy for farming is a sustainable approach. Though this energy is still not being used to its full potential, government support in the form of laws and regulations as well as the growth of international cooperation are required.
Identifikasi Penguasaan dan Akses Modal Rumah Tangga Nelayan Kecil di Pulau-Pulau Kecil (Kasus Pulau Pari) Youwikijaya, Siti Erwina; Kinseng, Rilus A.; Sumarti, Titik; Hilmawan, Arif
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v9i2.12003

Abstract

Rumah tangga nelayan kecil di Pulau Pari masuk dalam kelompok rentan akibat perubahan iklim, kerusakan lingkungan perairan, konflik atas lahan, dan akibat Covid-19. Oleh sebab itu, untuk bertahan hidup, rumah tangga nelayan kecil melakukan upaya adaptasi dengan mengombinasi aset dan akses untuk merespons kerentanan nafkah yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penguasaan modal dan akses rumah tangga nelayan kecil atas lima modal, yaitu modal alam, modal sosial, modal ekonomi, modal manusia, dan modal fisik di Pulau Pari. Penelitian ini mengambil kasus di Pulau Pari, Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan menggunakan sequential explanatory strategy. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survei terhadap 90 responden rumah tangga nelayan kecil dan wawancara mendalam terhadap 8 subjek kasus serta diperkuat dengan FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga nelayan kecil memilih melakukan kombinasi aset dan akses, tetapi lapisan atas cenderung menggunakan modal fisik sementara lapisan bawah cenderung menggunakan modal alam dalam melakukan strategi nafkah sebagai upaya bertahan. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah adanya pengidentifikasian untuk dapat meningkatkan modal sosial dan manusia. Title : Identification of Ownership and Access to Small Fishermen’s Household Capital in Small Islands (Pari Island Case)Small fishing households on Pari Island fall into a vulnerable group due to climate change, damage to the aquatic environment, conflicts over land and the consequences of Covid-19. Therefore, to survive in the household, small fishermen make adaptation efforts by combining assets and access to respond to the assistance they face. This study aims to analyze the mastery of capital and access of small fishing households to five capitals, namely natural capital, social capital, economic capital, human capital, and physical capital in Pari Island. This study took a case in Pari Island, Pari Island Village, South Thousand Islands District, Thousand Islands Regency, DKI Jakarta Province. The research was conducted in March 2022. This research used a mixed method approach using a sequential explanatory strategy. The data collected are primary data and secondary data. Primary data was collected using a survey of 90 small-scale fishing household respondents and in-depth interviews with 8 case subjects and strengthened by FGDs. The results of the study show that small fishing households choose to combine assets and access, but those at the top layer tend to use physical capital while those at the bottom layer tend to use natural capital in carrying out livelihood strategies as a means of survival. Recommendations for further research are the identification of ways to increase social and human capital.
Tren Penelitian Konservasi Laut Berbasis Masyarakat di Indonesia: Analisis Bibliometrik Helmi, Alfian
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v10i1.13514

Abstract

Pengelolaan konservasi laut berbasis masyarakat merupakan pendekatan penting dalam upaya konservasi sumber daya laut. Indonesia sebagai negara maritim mempunyai ribuan pulau dan perairan yang luas, maka adanya penelitian-penelitian terkait pengelolaan konservasi laut berbasis masyarakat sangatlah penting. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menganalisis tren penelitian berbasis masyarakat untuk memahamipola dan kontribusi baik penulis maupun lembaga dalam bidang ini. Studi ini menggunakan metode analisis bibliometrik untuk mengevaluasi publikasi ilmiah terkait pengelolaan konservasi laut berbasis masyarakat di Indonesia. Studi ini mengumpulkan data dari basis data Scopus serta jurnal-jurnal terkait dari tahun 1994-2023. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah publikasi, penulis terkemuka, lembaga terkemuka, dan topik penelitian yang paling banyak dibahas. Hasil analisis bibliometrik menunjukkan bahwa jumlah publikasi terkait pengelolaan konservasi laut berbasis masyarakat di Indonesia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Studi ini menemukan bahwa penelitian terkait partisipasi masyarakat dalam pengelolaan konservasi, pembangunan kapasitas, dan pengembangan kebijakan menjadi topik penelitian yang paling banyak dibahas. Selain itu, IPB University menjadi lembaga yang paling banyak melakukan penelitian terkait pengelolaan konservasi laut berbasis masyarakat di Indonesia. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang tren penelitian terkini dan kontribusi para penulis dan institusi dalam bidang pengelolaan konservasi laut berbasis masyarakat di Indonesia dengan menemukan topik-topik kunci dalam literatur ilmiah terkait pengelolaan konservasi berbasis masyarakat, serta mengevaluasi perkembangan penelitian dan isu-isu terkini yang perlu ditelaah lebih lanjut pada masa mendatang. Hal ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan penelitian kedepan dan memperkuat pengelolaan konservasi laut berbasis masyarakat di Indonesia. Title: Research Trend on Community Based Marine Conservation in Indonesia: A bibliometric analysisCommunity-based marine conservation management is a crucial strategy for preserving marine resources. Studying this approach is particularly important in a maritime nation like Indonesia, with its thousands of islands and extensive waters. This research aims to analyze trends in community-based conservation studies to understand the contributions and patterns of authors and institutions in this field. The study uses bibliometric analysis to evaluate scientific publications on community-based marine conservation management in Indonesia, drawing data from the Scopus database and related journals spanning 1994-2023. The collected data includes publication counts, leading authors, leading institutions, and prevalent research topics. Findings reveal a steady increase in publications on this subject in Indonesia over time. Key research topics include community participation in conservation management, capacity building, and policy development, with IPB University as the leading institution in this research area. This study enhances understanding of current research trends and institutional contributions, highlighting critical topics and ongoing issues that require further investigation. These insights are a foundation for future research and efforts to strengthen community-based marine conservation management in Indonesia.
Pengelolaan Perikanan Gurita dengan Pendekatan Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem (EAFM) di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara Dwihastuty, Leny; Arkham, Muhammad Nur; Digdo, Akbar A; Putriraya, Ami Raini
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v9i2.12825

Abstract

Informasi mengenai kondisi pengelolaan perikanan gurita di Indonesia masih belum banyak diketahui. Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi dari perikanan gurita adalah di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi perikanan gurita dan pengelolaan perikanan gurita berdasarkan indikator EAFM di lokasi penelitian. Lokasi penelitian adalah di Kabupaten Minahasa Utara, sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah survei dan observasi langsung. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif dan penilaian berdasarkan indikator EAFM. Kondisi sosial ekonomi nelayan gurita di lokasi penelitian dilihat dari pendapatan rata-ratanya sebesar Rp2,920,654.29/bulan (Desa Bulutai) dan Rp3,317,336.38/bulan (Desa Gangga Satu). Status pengelolaan perikanan gurita di lokasi penelitian dari hasil penilaian dengan pendekatan indikator EAFM dilihat dari aggregate komposit semua domain sebesar 92 termasuk kategori “sangat baik”. Nilai terkecil dari hasil penilaian yaitu terdapat pada domain ekonomi sebesar 67 termasuk kategori “baik”. Sehingga diperlukan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan nelayan dalam pengelolaan gurita di Kabupaten Minahasa Utara. Hal ini dikarenakan kepemilikan aset oleh rumah tangga perikanan (RTP) tidak mengalami peningkatan, pendapatan rata-rata nelayan berada di bawah UMP Provinsi Sulawesi Utara tahun 2023 yaitu sebesar Rp3.485.000,00/bulan, dan pengeluaran nelayan sama dengan bunga kredit. Rekomendasi kebijakan yang bisa diberikan dari hasil penelitian adalah meningkatkan ekonomi nelayan gurita dengan mendukung sistem pemasaran dimulai dari membuat standar harga jual serta berkolaborasi dengan industri perikanan, selain itu juga meningkatkan kapasitas nelayan dalam penggunaan alat tangkap dan peningkatan nilai tambah produk gurita. Title: The Octopus Fishery Management with an Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) in North Minahasa Regency, North Sulawesi ProvinceInformation regarding the management of octopus fisheries in Indonesia is still relatively limited. One of the regions in Indonesia with the potential for octopus fisheries is in North Minahasa Regency, North Sulawesi Province. The objective of this research is to assess the socio-economic conditions of octopus fisheries and the management of octopus fisheries based on the EAFM indicators in the research location. The research was conducted in North Minahasa Regency, utilizing survey and direct observation methods. Data analysis was performed using descriptive analysis and evaluation based on EAFM indicators. The socio-economic conditions of octopus fishermen in the research area, as assessed by their average income, are IDR 2,920,654.29 per month in Bulutai Village and IDR 3,317,336.38 per month in Gangga Satu Village. The status of octopus fisheries management in the research area, based on the assessment using the EAFM indicators, received an aggregate composite score of 92, categorizing it as “very good.” The lowest score was in the economic domain, with a score of 67, categorized as “good.” Therefore, there is a need to improve the economic well-being of octopus fishermen in North Minahasa Regency. This is due to the fact that household asset ownership within the fishing community has not increased, the average income of fishermen is below the North Sulawesi Province’s 2023 Regional Minimum Wage of IDR 3,485,000.00 per month, and fishermen’s expenses are equal to their loan interest. Policy recommendations based on the research findings include improving the economic conditions of octopus fishermen by supporting marketing systems, starting with the establishment of standardized pricing and collaborating with the fishing industry. Furthermore, enhancing the capacity of fishermen in the use of fishing gear and adding value to octopus products are also recommended.
Mekanisme dan Kunci Keberhasilan Pengelolaan Kolaborasi Ekowisata Bahari di Kawasan Konservasi Raja Ampat Nuraini, Nuraini; Satria, Arif; Wahyuni, Ekawati Sri; Bengen, Dietriech Geoffrey
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v10i1.13054

Abstract

Tantangan pengembangan pariwisata di kawasan konservasi muncul ketika kepentingan pembangunan ekonomi tidak selaras dengan pembangunan ekologi. Raja Ampat memiliki keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi. Di sisi lain, keanekaragaman hayati tersebut menjadi potensi wisata yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menetapkan Kawasan Perairan Raja Ampat sebagai zona semiintensif, yakni kawasan yang dirancang untuk menerima kunjungan wisatawan dalam skala kecil dengan aktivitas wisata yang terbatas. Kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam pemanfaatan potensi wisata diperlukan untuk menghindari berbagai konflik kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan mekanisme dan hubungan dinamis yang kompleks antarpemangku kepentingan dan mengungkapkan kunci keberhasilan pengelolaan kolaborasi ekowisata di kawasan konservasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di Kampung Wisata Arborek, Yenbuba dan Sawinggrai Kabupaten Raja Ampat pada bulan Oktober 2020. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif dan focus group discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pengelolaan kolaborasi dilakukan melalui sinergi peran antara pemerintah, masyarakat, LSM, akademisi, dan swasta mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dengan tipe konsultatif. Tipe konsultatif ini ditandai dengan adanya mekanisme dialog antara pemerintah dan masyarakat, tetapi pengambilan keputusan masih dilakukan oleh pemerintah. Kunci keberhasilan pengelolaan kolaborasi ekowisata di kawasan konservasi meliputi (1) koordinasi antarpemangku kepentingan; (2) keterlibatan masyarakat lokal; (3) kesadaran dan komitmen bersama; (4) aturan pengelolaan disepakati bersama; (5) pembentukan kebijakan sesuai dengan kondisi lokal; (6) adanya pembagian kekuasaan dan tanggung jawab; (7) adanya mekanisme penyelesaian konflik; dan (8) berlakunya sanksi. Title: Mechanism and Keys to Successful Collaboration Management of Marine Ecotourism in The Raja Ampat Conservation Area   The challenge of developing tourism in conservation area arises when the interests of economic development are not aligned with ecological development. Raja Ampat has a biodiversity that needs to be protected. On the other hand, this biodiversity is a tourism potential utilized for economic interests. The Raja Ampat Regency Government has designated the Raja Ampat Waters Area as a semi-intensive zone, namely an area designed to receive tourist visits on a smaller scale with limited tourist activities. Collaboration among stakeholders in utilizing tourism potential is required to avoid various conflicts of interest. This research aims to elucidated complex dynamic mechanisms and relationships between stakeholders and revealed the keys to successful collaborative ecotourism management in conservation areas. This research used a qualitative approach with a case study method. Research was conducted in Arborek, Yenbuba, and Sawinggrai Tourism Villages, Raja Ampat Regency in October 2020. Data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and focus group discussion. The study results showed that the mechanism collaborative management was carried out through the synergy of multi-party, namely government, communities, NGOs, academics, and the private sector, by forming a collaborative management strategy from planning to monitoring with a consultative type. This consultative type is characterized by the existence of a dialogue mechanism between the government and the community, but decision making is still carried out by the government. The keys to successful collaborative management of ecotourism in conservation areas include (1) coordination between stakeholders; (2) involvement of local communities; (3) awareness and commitment among stakeholders; (4) mutually agreed management rules; (5) local based policies and regulations; (6) a division of power and responsibility; (7) a conflict resolution mechanism; and (8) sanctions apply.
Minat Berwisata Generasi Milenial ke Ekowisata Pesisir Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Kabupaten Malang, Jawa Timur Abidin, Zainal; Harahab, Nuddin; Muhaimin, Abdul Wahib; Prabowo, Meydo Omar Zyahrizal
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v9i2.11907

Abstract

Perpaduan antara konsep pariwisata dan konservasi menjadi tren pengelolaan wisata masa depan. Ekowisata Clungup Mangrove Conservation (CMC) di Kabupaten Malang, Indonesia merupakan salah satu community based ecotourism yang konsisten menerapkan prinsip ekowisata. Adanya perbedaan kepedulian lingkungan di antara pengunjung ataupun masyarakat, termasuk generasi milenial, menyebabkan minat berkunjung ke destinasi ekowisata CMC yang telah menerapkan prinsip ekowisata pun belum seberapa pulih. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis peran kepedulian lingkungan generasi milenial dalam menentukan minat berkunjung dan (2) menganalisis peran konstruk TPB (theory of planned behavior) dalam memediasi pengaruh kepedulian lingkungan terhadap minat berkunjung. Penelitian eksplanatori ini menggunakan metode survei terhadap pengunjung milenial domestik ekowisata pesisir CMC Tiga Warna pada bulan Mei—Juni 2022. Responden penelitian ini sebanyak 628 pengunjung. Metode analisis data menggunakan SEM-WarpPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya kepedulian lingkungan generasi milenial dapat menentukan minat berkunjung ke ekowisata pesisir karena efektifnya peran mediasi konstruk TPB (sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku). Temuan riset ini memperluas penerapan TPB karena menempatkan konstruk TPB sebagai mediating variable peran kepedulian lingkungan terhadap minat kunjungan wisatawan milenial ke ekowisata pesisir. Perlu peningkatan persepsi kontrol perilaku sebagai prediktor utama minat berwisata, disusul dengan peningkatan norma subjektif ataupun sikap. Pemerintah daerah perlu terus menjaga situasi perekonomian agar kondusif sehingga memampukan ekonomi masyarakat termasuk untuk pengeluaran berwisata, membuat pengunjung yakin, mau, dan mampu, serta memiliki sumber daya yang cukup mendukung pengeluaran untuk berwisata. Title : Millennial Visit Intention to the Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna Coastal Ecotourism in Malang Regency, East JavaThe integration of tourism with conservation principles is a future tourist management trend. Clungup Mangrove Conservation (CMC) ecotourism in Malang Regency, Indonesia, is a community-based ecotourism that adheres to the ecotourism idea. The CMC ecotourism destination, which has applied the philosophy of ecotourism that has not yet recovered, attracts visitors, including millennials, because of their environmental concerns. For this reason, this study aims to (1) analyze the role of the millennial generation’s environmental concern in determining the visit intention, (2) analyze the role of the TPB construct (Theory of Planned Behavior) in mediating the influence of environmental concern on the visit intention. This explanatory research uses a survey method for domestic visitors to the “CMC Tiga Warna” coastal ecotourism in May-June 2022. These research respondents were 628 domestic visitors. The data analysis method uses SEM-WarpPLS. Due to the successful involvement of TPB construct mediation (attitudes, subjective norms, and perceptions of behaviour control), millennials’ environmental concerns may impact their interest in coastal ecotourism. TPB’s construct position as a mediator variable between environmental concern and millennial visitors’ visit intention in coastal ecotourism boosted its utilisation. As the main predictor of visit intention, behavioural control must be increased, followed by subjective norms and attitudes. Local governments must keep the economy healthy to keep travel expenses rising. They also require enough money for trip.
Interaksi Sistem Sosial Ekologi Ekosistem Mangrove di Wilayah Pesisir Desa Teluk Awur, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah Pamungkas, Yesaya Putra; Rahadiya, Ardaffa Firdausy; Satrioajie, Widhya Nugroho; Pribadi, Rudhi; Indarjo, Agus
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2024): Desmber 2024 (Article in Press)
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v10i2.14299

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki berbagai manfaat dari aspek ekologi, sosial ekonomi, hingga aspek fisik. Mangrove juga menyediakan jasa ekosistem yang dapat diperoleh secara langsung maupun secara tidak langsung oleh manusia. Aspek sosial dan ekologis di dalam ekosistem mangrove merupakan sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan didalam pendekatan pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa interaksi sistem sosial ekologi (SES), dan memformulasikan konektivitas SES untuk perbaikan tata kelola ekosistem mangrove di Desa Teluk Awur, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2023. Pengambilan data sosial ekologi dilakukan dengan menggunakan metode participatory mapping dan participatory data collection yang meliputi observasi lapangan, wawancara, dan focus group disscusion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang erat dari empat variabel SES yang terdiri dari Resource Unit (RU), Resources System (RS), Resources Actor (RA) dan Resources Governance (RG). Berdasarkan analisa jejaring hubungan antar variabel ditemukan bahwa, interaksi SES ekosistem mangrove di Desa Teluk Awur sangat dipengaruhi oleh Resources Actor. Terdapat 17 interaksi RA dengan 12 diantaranya interaksi yang memengaruhi. Sedangkan Resource Unit (RU) merupakan yang paling banyak dipengaruhi sebagai hubungan timbal balik satu sama lain. Hasil konektivitas SES didapatkan 24 konektivitas antar parameter di ekosistem mangrove Desa Teluk Awur. Interaksi antar parameter paling tinggi adalah pada parameter RA sebesar 50%. Mempertimbangkan hasil interaksi dan konektivitas antar variabel SES, maka perlu adanya rancangan strategi pengelolaan berfokus pada Resources Actor untuk mendukung keberlanjutan ekosistem mangrove di Desa Teluk Awur, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Title: Social-Ecological System Interaction of Mangrove Ecosystem, in Coastal Area Teluk Awur Village, Jepara Regency, Central Java Province  The mangrove ecosystem offers various ecological, socio-economic, and physical benefits, providing services that directly or indirectly benefit humans. Both social and ecological aspects in the mangrove ecosystem are interconnected and should be managed in unison. This research aims to analyze the interaction of social-ecological systems (SES), and formulate SES connectivity for improving mangrove ecosystem management in Teluk Awur Village, Jepara Regency, Central Java Province. The research was conducted in May 2023, involved the use of participatory mapping and participatory data collection, including field observations, interviews, and Focus Group Discussions (FGD). The research findings highlight the close relationship between four SES variables consisting of resource unit (RU), resource system (RS), resources actor (RA), and resources governance (RG). Network analysis revealed that SES interaction in Teluk Awur Village was significantly influenced by resource actor (RA) with 17 interactions observed, with 12 of which were influential. Additionally, reciprocal relationships were found to have the most impact on the Resource Unit (RU). The results of SES connectivity depicted 24 connections between parameters in the mangrove ecosystem in Teluk Awur Village, with the highest interaction observed for the RA parameter at 50%. Considering these findings, it is essential to develop a management strategy that prioritizes resource actors to ensure the sustainability of the mangrove ecosystem in Teluk Awur Village.
Insentif dan Disinsentif Ekonomi pada Perlindungan Hiu Martil (Sphyrna spp.) sebagai Tangkapan Sampingan di Aceh Jaya Rohmah, Lailia Nur; Yulianto, Gatot; Kamal, Mohammad Mukhlis; Adrianto, Luky; Booth, Hollie
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v9i2.12547

Abstract

Hiu martil (Sphyrna spp.) memiliki peluang tertangkap dan tingkat eksploitasi yang tinggi karena bentuk kepala yang unik dan perilaku agregasi remaja di perairan pesisir dangkal. Hiu yang didaratkan di PPI Rigaih umumnya merupakan bycatch, berukuran kecil dan belum dewasa/anakan.. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik nelayan di Aceh Jaya dan mengestimasi besaran insentif maupun disinsentif ekonomi sebagai upaya perlindungan hiu martil di Aceh Jaya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah survei. Pengambilan data primer dilakukan dengan wawancara terstruktur kepada nelayan kecil di Aceh Jaya, pada bulan April sampai dengan Agustus 2022. Responden berjumlah 48 orang yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Metode analisis penghitungan insentif nelayan menggunakan Contingent Valuation Methods (CVM). Hasil riset menunjukkan bahwa karakteristik nelayan di Aceh Jaya adalah nelayan kecil yang beroperasi menggunakan kapal kayu berukuran 5-10 gross tone dengan durasi penangkapan ikan adalah one-day fishing dan ada juga yang 2-5 hari/trip. Estimasi besaran denda (disinsentif) yang bersedia dibayarkan oleh nelayan apabila masih melakukan penangkapan hiu martil (WTP) rata-rata sebesar Rp259.375,00/trip. Kesediaan membayar denda dipengaruhi oleh usia, pendidikan, pendapatan, dan jumlah anak. Insentif ekonomi berupa kesediaan nelayan menerima kompensasi sebagai pengganti aktivitas penangkapan hiu martil (WTA) dengan estimasi rata-rata sebesar Rp434.895,83/trip. Variabel yang berpengaruh adalah usia, pendidikan, lama trip dan pendapatan Title: Economic Incentive and Disincentiveson Protection of Hammerhead Sharks (Sphyrna spp.) as By-catch in Aceh Jaya Hammerhead sharks (Sphyrna spp.) have a high chance of being caught due to their unique head shape and juvenile aggregation behavior in shallow coastal waters whose areas overlap with capture fisheries with high levels of exploitation. These Sharks have landed at the fish landing port Rigaih of Aceh Jaya Regency, which is generally by-catch with small size at the immature/pre-adult stage. This study aims to analyze the characteristics of hammerhead fishermen in Aceh Jaya and estimate the amount of economic incentives in the form of fines to protect hammerhead sharks in Aceh Jaya. The descriptive survey was used as the data collection method in this research. The deep interview was conducted to collect primary data from fishermen from April to August 2022. This research calculates the fisherman’s incentive using contingent valuation method (CVM) analysis. A total of 48 respondents were selected using the simple random sampling method. The findings show that the characteristics of fishermen in Aceh Jaya are small fisheries that operate using 5-10 gross-tone wooden boats with one-day fishing duration and some 2-5 days/trip. The estimated disincentives fishermen will pay if they still catch hammerhead sharks (WTP) is an average of IDR 259,375.00/trip. Willingness to pay is influenced by age, education, income, and number of children. Economic incentives include fishermen’s willingness to receive compensation instead of fishing for hammerhead sharks (WTA), with an average estimated IDR 434,895.83/trip. Influential variables are age, education, length of trip, and income.