Articles
380 Documents
KARAKTER ARSITEKTUR RUMAH LAMIN DAYAK TUNJUNG SEBAGAI SALAH SATU IDENTITAS KABUPATEN KUTAI BARAT
A.BAMBAN YUUWONO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Globalisasi telah memberikan dorongan kemajuan yang pesat bagi kehidupan manusia, namun disisi lain juga membawa dampak negatif yang telah mengikis batasan-batasan ruang dan waktu, salah satunya adalah telah terjadi pengikisan dan hilangnya kekayaan karakter budaya suatu daerah dan bentuk Arsitektur merupakan salah satu unsur pembentuk karakter budaya suatu daerah. Kabupaten Kutai Barat merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Karta negara, meski baru berusia empat belas tahun namun perkembangan pembangunannya sangat pesat karena didukung oleh posisi yang strategis, tanah yang subur dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, kondisi ini perlu diimbangi dengan upaya-upaya pelestarian akan kekayaan keanekaragaman dan kekhasan budaya-budaya setempat salah satunya adalah bentuk arsitekturnya. Kabupaten Kutai Barat tersusun atas enam kelompok suku Dayak yaitu Dayak Tunjung, Dayak Kenyah, Dayak Benuaq, Dayak Bahau, Dayak Punan dan Dayak Aoheng. Bentuk dasar arsitektur dari ke enam suku Dayak tersebut adalah sama namun setelah di cermati dan diteliti lebih lanjut ternyta dari setiap suku Dayak tersebut memiliki detail-detail ornamen arsitektur yang berbeda-beda, dari ke enam suku Dayak tersebut suku Dayak tunjung merupakan suku dengan jumlah populasi penduduk dan wilayah yang paling besar sehingga mampu memberikan warna yang khas dan dominan bagi terbentuknya karakter identitas Kabupaten Kutai Barat.
PERWUJUDAN SIMBOLISME LANSEKAP SITIHINGGIL UTARA KRATON KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT
RULLY RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 3 No. 7 (2006): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
PERWUJUDAN SIMBOLISME LANSEKAP SITIHINGGIL UTARA KERATON SURAKARTA HADININGRAT Rully Abstrak Lansekap pada Sitihinggil Utara memiliki penataan yang terencana (planting design) sehingga tujuan perencanaan kawasan tersebut dapat tercapai, yaitu melalui aura yang diwujudkannya. Menurut GPH Poeger, tanaman di Sitihinggil Utara memiliki makna simbolis dan kekuatan gaib yang dipancarkannya, semua penanaman pohon di Keraton Surakarta adalah atas perintah raja,setelah mendapat petunjuk dari Tuhan, tujuan penanamannya untuk mendapatkan kekuatan gaib, yang dipancarkan oleh tanaman tersebut, yang berguna untuk menyelaraskan, menyeimbangkan, dan melindungi dari pengaruh buruk agar tidak masuk ke dalam Keraton. Pembahasan mengenai lansekap pada Sitihinggil Utara pada penelitian ini dibatasi pada hard material dan soft material atau tanaman yang mempunyai makna simbolis dan peran, serta waktu penanaman yang relatif lama. Komponen ruang luar pada Sitihinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat berupa soft material atau tanaman dan hard material berupa penempatan beberapa meriam secara hirarki memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan bangunan-bangunannya , komponen-komponen tersebut merupakan perwujudan pendukung makna simbolis utama Sitihinggil Utara serta aura magis yang ditimbulkan oleh bangunan inti dan bangunan penunjangnya. Kata Kunci : lansekap, makna, simbolis, ruang luar.
PERAN UNGGULAN DAYA SAING ARSITEK DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME PADA ERA GLOBALISASI
Rully Rully
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 5 No. 9.A (2008): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Era Globalisasi dan liberalisasi perdagangan ditandai dengan semakin tingginya mobilitas sumberdaya manusia, modal, teknologi, dan informasi (intelectual property). Bagi Indonesia era perdagangan bebas berarti kemampuan untuk menjadikan komoditi ekspor yang memiliki unggulan daya saing tinggi (competitive advantage) dan tenaga ahli (intelectual property) Indonesia yang diharapkan mampu menjadi salah satu komoditi di pasar global, tidak terbatas untuk pasar dalam negeri, tetapi mampu menjadi experties di luar negeri. Wawasan Arsitek yang secara profesional mampu menghayati dan menuangkan ide dan gagasannya secara runtut dalam kesatuan proses pembangunan yang sistematik, diharapkan dapat menjadi modal dalam mengikuti persaingan bebas, khususnya pada proses perancangan dan rekayasa bangunan. Saat ini beragam strategi dan reposisi profesi arsitek di negara maju telah banyak dilakukan dalam menyikapi gelombang ekonomi baru yang lazim disebut kapitalisme global. Cepat atau lambat sistem ekonomi dengan pendekatan pasar bebas ini akan menjadi ancaman serius bagi bidang arsitektur di Indonesia. Hal ini dikarenakan hasil rancangan tidak cukup hanya perancangan (design) namun harus sampai pada rekayasa (engineering). Proses perancangan juga harus memperhatikan proses-proses yang mendahului maupun akan berlangsung di depannya dalam satu kesatuan strategi dan tahapan pembangunan. Memperhatikan hal tersebut, maka masalah-masalah yang akan diteliti adalah hubungan antara wawasan Arsitek dalam menerapkan prinsip-prinsip perancangan dan rekayasa bangunan dengan hasil rancang bangun yang mampu berperan sebagai komoditi jasa konstruksi di pasar global. Dari penelitian yang dilakukan ternyata terdapat signifikansi yang erat antara latar belakang pendidikan dengan pertimbangan perancangan, artinya seorang Arsitek profesional dengan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan ciri profesionalismenya, akan mampu memberikan pertimbangan yang lebih baik dalam setiap tahapan pembangunan
PERANCANGAN ARSITEKTUR PADA BANGSAL SEWAYANA DI SITIHINGGIL UTARA KERATON SURAKARTA HADININGRAT
Rully Rully
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gaya arsitektur Keraton Surakarta menjadi daya tarik tersendiri diantara silsilah atau permasalahan Keraton lainnya.Kemegahan dan keunikan arsitektur Keraton Surakarta Hadiningrat sudah diakui masyarakat luas, bahkan masyarakat internasional. Gaya arsitekturnya memiliki nilai estetika yang sangat tinggi dan eksotis. Dibangun oleh Sunan Paku Buwono X tahun 1812 Jawa atau 1913 M. Lantai Bangsal Sewayana ditinggikan pada tahun Alip 1835 atau 1905 Masehi, letaknya di tengah halaman Sitihinggil. Berfungsi sebagai tempat para tamu undangan, para bangsawan, dan kerabat dalem serta abdi dalem yang akan menghadap raja (Sewa: menghadap, yana: orang). Mempunyai makna simbolis bahwa sampai di tempat ini  manusia diharapkan segera melanjutkan perjalanan menuju kesempurnaan hidup yang berorientasi pada Tuhan, hidup diibaratkan singgah untuk minum (urip hamung bebasan mampir ngombe). Pada bangsal Sewayana terbesit suatu aturan bahwa pada waktu menghadap raja diharapkan seseorang segera mengutarakan maksudnya, dan segera untuk meninggalkan tempat tersebut. Bentuk Bangsal Sewayana yang di dalamnya terdapat Bangsal Manguntur Tangkil serta Bangsal Manguneng di dalam Bangsal Witono, memiliki bentuk berbeda-beda terutama bentuk atapnya, sehingga secara simbolis akan membedakan fungsi dan aura magis serta tingkatan efek psikologis yang berbeda-beda bagi yang ber-empati. Tata letak bangunan pada Sitihinggil Utara yang mengacu pada makna simbolis konsep penataan bangunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang memposisikan bangunan inti berada pada pusat dari kawasannya dan merupakan pusat orientasi bangunan-bangunan disekitarnya akan menimbulkan aura magis, dan efek psikologis tertentu terhadap yang ber-empati terhadapnya.
PERWUJUDAN SIMBOLISME LANSEKAP SITIHINGGIL UTARA KERATON SURAKARTA HADININGRAT
Rully Rully
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Lansekap pada Sitihinggil Utara memiliki penataan yang terencana (planting design) sehingga tujuan perencanaan kawasan tersebut dapat tercapai, yaitu melalui aura yang diwujudkannya. Menurut GPH Poeger, tanaman di Sitihinggil Utara memiliki makna simbolis dan kekuatan gaib yang dipancarkannya, semua penanaman pohon di Keraton Surakarta adalah atas perintah raja,setelah mendapat petunjuk dari Tuhan, tujuan penanamannya untuk mendapatkan kekuatan gaib, yang dipancarkan oleh tanaman tersebut, yang berguna untuk menyelaraskan, menyeimbangkan, dan melindungi dari pengaruh buruk agar tidak masuk ke dalam Keraton. Pembahasan mengenai lansekap pada Sitihinggil Utara pada penelitian ini dibatasi pada hard material dan soft material atau tanaman yang mempunyai makna simbolis dan peran, serta waktu penanaman yang relatif lama. Komponen ruang luar pada Sitihinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat berupa soft material atau tanaman dan hard material berupa penempatan beberapa meriam secara hirarki memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan bangunan-bangunannya , komponen-komponen tersebut merupakan perwujudan pendukung makna simbolis utama Sitihinggil Utara serta aura magis yang ditimbulkan oleh bangunan inti dan bangunan penunjangnya.
TERJADINYA DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA KRATON KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT AKIBAT KERANCUAN ATURAN PENATAAN BANGUNAN
RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada umumnya kawasan yang berpotensi di Indonesia belum dikelola secara baik, sebagian peraturan yang ada masih bersifat peraturan secara umum, sehingga belum mampu berfungsi sebagai alat pengendali pada tingkat operasional di lapangan. Kenyataan tersebut disebabkan oleh desain kota/kawasan yang masih lebih bersifat dua dimensi dan penjelmaannya menjadi tiga dimensi, tidak lagi berskala kota atau kawasan tetapi lebih kepada pekerjaan individu dalam bentuk kapling. Disamping itu pranata-pranata pembangunan yang telah dipunyai oleh masing-masing Daerah (RIK, RDTK, RTRK dan sebagainya) sifatnya masih umum, dan walaupun telah dapat digunakan sebagai acuan untuk kawasan yang khusus sulit sekali dalam penerapannya dilapangan, oleh karena itu upaya penanganannya tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa melalui peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalian arsitektur bangunan secara tiga dimensional. Dari hasil penelitian: Peran Peraturan Bangunan Khusus dalam Meminimalisir Degradasi Kualitas Kawasan Cagar Budaya diperoleh gambaran tentang menurunnya kualitas kawasan cagar budaya oleh beberapa masalah yang salah satunya adalah belum adanya panduan baku rancangan khusus yang menjembatani pembangunan fisik di Kawasan Cagar Budaya Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tersebut.
PENELUSURAN BENTUK ARSITEKTUR BANGUNAN STASIUN KERETA API JAMAN KOLONIAL DI YOGJAKARTA
Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 22 No. 26 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Arsitektur kolonial merupakan ragam atau gaya arsitektur yang dibangun pada era Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik. Periode gaya arsitektur Kolonial berkembang sejak tahun 1884 yang sampai sekarang masih banyak yang berdiri dengan kokoh .Kota Yogjakarta banyak memiliki bangunan bangunan peninggalan jaman Belanda dengan gaya arsitektur kolonial, salah satu contoh bangunan peninggalan sejarah tersebut bangunan stasiun kereta api. UU RI No 5 Th 1992 pasal 1 & 2 tentang Perlindungan Bangunan Cagar Budaya bahwa, setiap benda yang mempunyai nilai sejarah dan budaya yang tinggi merupakan benda arkeologi serta berusia minimal 50 tahun wajib untuk dilestarikan serta dipertahankan dengan cara konservasi, renovasi maupun revitalasi.Penelitian dengan judul Penelusuran Bentuk Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api Jaman Kolonial dilakukan karena adanya permasalahan bahwa banyak bangunan peninggalan jaman kolonial khususnya bangunan Stasiun Kereta Api di kota Yogjakarta ini yang sudah banyak mengalami perubahan baik berubah fungsi , bentuk bahkan sudah banyak yang mengalami kepunahan.Kajian dilakukan melalui penelusuran bentuk - bentuk bangunan stasiun yang masih ada, kemudian dilakukan penganalisaan dari bentuk bangunan stasiun satu dengan lainnya. Hasil dari penelitian ini diharapkan mendapatkan suatu cara atau metode dalam rangka untuk ikut melestarikan bangunan cagar budaya tersebut. Manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah dapat dipakai sebagai acuan atau pedoman dalam rangka kegiatan pelestarian bangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu sejarah budaya bangsa.
PROSPEK REVITALISASI EKS PABRIK GULA COLOMADU KARANGANYAR TERHADAP PERKEMBANGAN KOTA KARANGANYAR DAN SURAKARTA
DWI SUCI SRI LESTARI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 22 No. 26 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Eks  Pabrik  Gula  (PG)  Colomadu Karanganyar  merupakan salah satu dari dua  buah pabrik  gula  di Karanganyar  sebagai peninggalan Sri Paduka  Mangkunegara  IV  (MN IV). Karenanya MN IV juga dikenal sebagai Bapak Gula. Lokasi PG Colomadu di Kecamatan  Colomadu,  suatu  enclave  dari  Kabupaten  Karanganyar  di  seb elah  barat Surakarta. Sedangkan PG Tasikmadu berlokasi di kecamatan Tasikmadu, di dekat Kecamatan  Kabupaten  Karangnyar,  di  sebelah  timur  Surakarta.  Dalam perkembangannya  PG  Tasikmadu  masih  beroperasi,  sedangkan  PG  Colomadu  tidak lagi.  Dengan  kehadiran  PG  ini,  Kabupaten  Karanganyar  sebagai  hinterland  kota Surakarta berkaitan dengan perkembangan kota Surakarta. Revitaslisasi PG Colomadu selain untuk menyelamatkan arsitektural dan aset-aset pabriknya, untuk menumbuhkan kembali  nilai-nilai  penting  Cagar  Budaya  dengan  penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak  bertentangan  dengan  prinsip  pelestarian  dan  nilai  budaya  masyarakat,  menjadi solusi  tepat  untuk  menghentikan  vandalisme  yang  melanda  peninggalan  arsitektural jaman   peninggalan   kolonial  Belanda   ini.   Pembahasan   revitalisasinya   ini  untuk mengetahui  apa  posisi  dan  makna  hasil  revitalisasinya  nanti  terhadap  perkembangan kota  Karanganyar  sendiri  dan  kota  Surakarta.  Dengan  metode  deskriptif  analitik kualitatif,  dihasilkan  bahwa  hasil  revitalisasi  bangunan  beserta  kawasannya  dimaksud akan  menjadi  ikon  baru  penanda  (landmark)     lingkungan  yang  menambah  dan merupakan rangkaian daerah tujuan wisata di daerah Karanganyar  dan Surakarta.
ANALISIS RESIKO TAHAP ENGINEERING DESIGN PADA PEMBIAYAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI PROYEK EPC (Studi Kasus : Asam-Asam CPP And OLC Project, PT. Krakatau Engineering)
GUNARSO GUNARSO;
KUKUH KURNIAWAN DWI SUNGKONO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 22 No. 26 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dalam  tahap  perencanaan  atau  engineering  perusahaan EPC  harus  mempunyai sumber daya  manusia  yang  sangat  tinggi.  Mengingat  kompleksitas  pekerjaan,  pada  tahap  ini harus  mempunyai  konseptual  dari  basic  engineering  design  sampai  detail  engineering design yang matang. PT. KE adalah perusahaan EPC yang telah melaksanakan beberapa pekerjaan konstruksi dengan jenis kontrak EPC. Salah satu pekerjaan pada tahun 2011 adalah  Asam-Asam  CPP  And  OLC  Project.  Pada  kajian  analisis  resiko  engineering terhadap  biaya  ini  digunakan  skala  likert.  Responden  memberikan  penilaian  pada variabel resiko yang kemungkinan terjadi dan dampak terhadap pembiayaan. Dari hasil penelitian  yang  dilakukan,  responden  menyatakan  bahwa  variabel  resiko  yang  ada sebanyak 57 variabel tersebut merupakan variabel yang dominan pada tahapan engineering.Tahap  basic  engineering,  variabel  yang dominan adalah manajemen perusahaan dimana untuk satu sumber daya manusia diperuntukan bagi berbagai proyek yang  ditangani  perusahaan.  Sumber  daya  manusia  sebagai  kebutuhan  utama  dalam proses  desain  engineering  menjadi  resiko  yang  dominan,engineer  harus  bekerja  secara matrik dan jadwal penyelesaian pekerjaan yang ketat. Tahap detail engineering variabel dominan produk  desain engineering yang ekonomis berdampak pada biaya yang cukup besar. Dalam proses detail desain dituntut menghasilkan desain yang optimal dan sesuai dengan  kebutuhan  pekerjaan  lapangan.  Karena  pada  tahal  detail  desain,  hasil  desain sudah harus bisa diaplikasikan dan meminimalisasi ketidak sesuaian saat dilakukan pemasangan. Â
CIRI KHAS DAN BENTUK RUMAH BANYUBIRU KABUPATEN SEMARANG
NDARU Hario Sutaji HARIO SUTAJI;
MUHAMMAD AGUNG WAHYUDI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 22 No. 26 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Banyubiru  merupakan  kecamatan  di  Kabupaten  Semarang  yang  di  sisi  Timur  Laut berbatasan langsung dengan danau Rawapening dan pada sisi Selatan terletak gunung Telomoyo.  Pemukiman  di  sekitarnya  diperkirakan  sudah  berumur  lama,  dibuktikan dengan  keberadaan  candi  Dukuh  di  area  tepian  Rawapening.  Selain  itu  juga  banyak batu-batu candi yang ditemukan di desa Kebondowo yang merupakan desa paling ramai di kecamatan Banyubiru. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap karakteristik atau kekhasan rumah yang ada di kawasan Banyubiru, yakni kawasan sekitaran Danau Rawapening  dan Gunung Telomoyo.  Utamanya  untuk  mendapat  gambaran karakteristik rumah  khas  perbukitan  di  kawasan  pinggiran  Negarigung,  yang  berbatasan  dengan Pesisiran Kilen dan Wetan.  Sementara  itu rumah-rumah  di daerah ini terbukti memiliki bentuk  dan ciri-ciri yang berbeda jika dibandingkan dengan rumah tradisional di daerah lain seperti pesisir atau disekitar Surakarta serta Yogyakarta. Kondisi geografisnya yang terletak  di  pegunungan,  orientasi  bangunan  rumah  yang  lebih  mengutamakan  jalan didepan  rumah,  tatanan  memanjang  ke  belakang,  dengan  bentuk  atap  kampung srotongan adalah kekhasan yang dimiliki.