cover
Contact Name
nuryani
Contact Email
nuryanigz@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
gjph.ug@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Gorontalo Journal of Public Health
Published by Universitas Gorontalo
ISSN : 26145057     EISSN : 26145065     DOI : https://doi.org/10.32662/gjph.v6i1.3035
Core Subject : Health,
Gorontalo Journal of Public Health (GJPH) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo. GJPH terbit dua kali dalam setahun yakni pada bulan April dan Oktober. Jurnal ini menerima tulisan ilmiah berupa laporan penelitian dengan fokus dan Scope meliputi: 1. Epidemiologi; 2. Biostatistik; 3. Pendidikan dan Promosi Kesehatan; 4. Kesehatan Lingkungan; 5. Kesehatan dan Keselamatan Kerja; 6. Administrasi Kebijakan Kesehatan; 7. Manajemen Rumah Sakit; 8. Gizi Kesehatan Masyarakat; 9. Kesehatan Reproduksi
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "VOLUME 3 NOMOR 1, APRIL 2020" : 6 Documents clear
OPINI REMAJA TENTANG PERINGATAN KESEHATAN BERGAMBAR DAN PERATURAN DAERAH KAWASAN TANPA ROKOK Devhy, Ni Luh Putu; Widana, Anak Agung Gde Oka
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 3 NOMOR 1, APRIL 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gjph.v3i1.932

Abstract

Pictorial health warnings (PHW)) and local regulations non-smoking areas (NSA) are among the government's efforts to reduce the prevalence of smoking. This study aims to describe adolescent opinions about PHW and Perda involving 158 samples. The sample was chosen by random sampling, the sample was teenagers who sat in junior high school. Data collection was done through structured interviews using questionnaires that have been tested before then analyzed descriptively. The average results of respondents were 13 years old, 57.6% were women and 42.4% were men. 93% of respondents already knew of PHW and 89.2% saw PKB within 30 days. 94.9% of respondents said that PWH made them concerned about the dangers of smoking, 94.3% of respondents believed that PWH was more effective than written health warnings, and 97.5% of respondents supported implementing PWH. 90.5% of respondents knew about the NSA regulation, 98.1% of respondents knew that schools were the NSA regional regulation area, 97.5% respondents supported the implementation of the NSA regulation in all public areas, 97.5% of respondents supported the government in enforcing the local regulation NSA in the room. In this study the five most frightening PWH images according to adolescents in the first position are lung cancer PWH. The results showed positive opinions and obtained support from adolescents to the regional regulation on smoke free area and PHW, so this can be used to develop a cigarette hazard control program.Peringatan kesehatan bergambar (PKB) dan peraturan daerah (PERDA) Kawasan tanpa rokok (KTR) merupakan salah satu upaya pemerintah yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi merokok. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan opini remaja tentang PKB dan Perda yang melibatkan 158 sampel. Sampel dipilih secara random sampling, sampel merupakan remaja yang duduk dibangku SMP. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan kuisioner yang telah diuji sebelumnya kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan rerata responden berusia 13  tahun, 57,6% adalah perempuan dan 42,4% adalah laki-laki. 93% responden sudah tahu adanya PKB dan 89,2% melihat PKB dalam 30 hari. 94,9% responden mengatakan bahwa PKB membuat mereka peduli terhadap bahaya merokok, 94,3% responden percaya bahwa PKB lebih efektif daripada peringatan kesehatan berupa tulisan, dan 97,5% responden mendukung PKB implementasi PKB. 90,5% responden sudah tahu adanya Perda KTR, 98,1% responden sudah tahu di sekolah merupakan kawasan Perda KTR, 97,5% reponden mendukung implementasi Perda KTR di semua area tempat umum, 97,5% responden mendukung pemerintah dalam menegakkan Perda KTR di dalam ruangan. Pada penelitian ini kelima gambar PKB yang paling menakutkan menurut remaja pada posisi pertama adalah PKB kanker paru. Hasil menunjukkan opini yang positif dan didapatkan dukungan remaja terhadap Perda KTR dan PKB, maka hal ini dapat digunakan untuk pengembangan program pengendalian bahaya rokok.  
HUBUNGAN POLA KONSUMSI IKAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DI PESISIR TELUK PANDAN KABUPATEN PESAWERAN Sutrio, Sutrio; Mulyani, Roza
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 3 NOMOR 1, APRIL 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.448 KB) | DOI: 10.32662/gjph.v3i1.918

Abstract

School children are important objectives in improving the nutritional status of society. Nutritional status one of them is influenced by protein consumption. Fish is a good source of protein for the growth period and low fish consumption in elementary school students is a problem caused by various factors. This research was to know the pattern of fish consumption with nutritional status in the school children in the Gulf of Pandan Coastal Regency Pesawaran. Research was used cross-sectional research study. The research was conducted at Teluk Pandan Coast Elementary School in August-September 2019. Samples in this study were children of V and VI classes as many as 111 students. Data analysis using chi-square test.The results was showed that the level of protein intake (p = 0.040) was association with the nutritional status while the amount of fish consumption (p = 0.599), the frequency of fish consumption (p = 0.954), the proportion of fish protein consumption (P = 0.076) were not related with nutritional status. The school can utilize media such as posters that contain the importance of consuming fish in school children and include material about the importance of protein intake and fish proteins into physical and sports education subjects and campaigning for the "love to eat fish" slogan. Parents make fish processed with a variety of menu variations so that children can prefer fish.Anak sekolah merupakan sasaran penting dalam perbaikan status gizi masyarakat. Status gizi salah satunya dipengaruhi oleh konsumsi protein. Ikan merupakan sumber protein yang baik untuk masa pertumbuhan dan rendahnya konsumsi ikan pada siswa Sekolah Dasar merupakan masalah yang disebabkan oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi ikan dengan status gizi pada anak sekolah di Pesisir Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran. Penelitian menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan di SDN Pesisir Teluk Pandan pada bulan Agustus-September 2019. Sampel pada penelitian ini adalah anak kelas V dan VI sebanyak 111 siswa. Analisa data menggunakan uji chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara tingkat asupan protein (p = 0.040) dengan status gizi dantidak ada hubungan yang bermakna antara jumlah konsumsi ikan (p = 0.599), frekuensi konsumsi ikan (p = 0.954), proporsi konsumsi protein ikan (p = 0.076) dengan status gizi. Pihak sekolah dapat memanfaatkan media seperti poster yang berisikan tentang pentingnya mengonsumsi ikan pada anak sekolah dan memasukkan materi tentang pentingnya asupan protein dan protein ikan kedalam mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga serta mengkampanyekan kembali slogan ?gemar makan ikan?. Orang tua murid membuat olahan ikan dengan berbagai variasi menu sehingga anak lebih bisa menyukai ikan.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG LABU KUNING TERHADAP KANDUNGAN KARBOHIDRAT DAN PROTEIN COOKIES Hatta, Herman; Sandalayuk, Marselia
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 3 NOMOR 1, APRIL 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.544 KB) | DOI: 10.32662/gjph.v3i1.892

Abstract

Yellow pumpkin is a commodity that is easily damaged so it needs for off harvest handling including preservation and processing. This study was aimed to determine the carbohydrate, protein content of pumpkin flour and get the best formulation in making cookies from pumpkin flour. The research method used was true experimental design using with completely randomized design (CRD) with variations in the addition of pumpkin flour in the treatment of P0 (60 gr), P1 (100 gr), P2 (150 gr), P3 (150 gr), P4 (250 gr) with two replications. Based on the results of the cookie test, the highest carbohydrate content in P0 treatment was 59.12% in treatment 1 and 57.61% in treatment 2 while the lowest in P4 treatment was 51.36% in replication 1 and 51.83% in replications 2, analysis of variance showed that carbohydrates in cookies significantly affected with addition of pumpkin flour, based on further analysis Duncan's test results (p < 0.00). Protein analysis test results showed that the highest protein content in treatment P4 was 8.44% replications 1 and 7.46% in replications 2, while the lowest in treatment P0 was 7.17% replications 1 and 7.44% in replications 2, analysis the variance showed that the protein in cookies had a very significant effect on the addition of pumpkin flour, based on further analysis Duncan's test results (p < 0.00). It was concluded that the addition of pumpkin flour significantly affected in carbohydrate and protein levels in cookies.Labu kuning adalah komoditas yang mudah rusak sehingga perlu adanya penanganan lepas panen termasuk pengawetan dan pengolahan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan karbohidrat, protein dari tepung labu kuning serta mendapatkan formulasi terbaik dalam pembuatan cookies dari tepung labu kuning. Metode penelitian yang digunakan adalah true experimental design  menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan variasi penambahan tepung labu kuning pada perlakuan P0 (60 gr), P1 (100 gr), P2 (150 gr), P3 (200 gr), P4 (250 gr) dengan perlakuan dua kali ulangan. Berdasarkan hasil uji kue cookies menunjukkan kandungan karobohidat tertinggi pada perlakuan P0 sebesar 59,12% pada pengulangan 1 dan 57,61% pada pengulangan 2 sedangkan terendah  pada perlakuan P4 sebesar 51,36% pada pengulangan 1 dan 51,83% pada pengulangan 2, analisa sidik ragam menunjukkan bahwa karbohidrat pada cookies berpengaruh nyata terhadap penambahan tepung labu kuning, berdasarkan hasil uji lanjut Duncan (p < 0,00). Hasil  uji analisa protein menunjukkan bahwa kandungan protein tertinggi pada perlakuan P4 sebesar 8,44% pengulangan 1 dan 7,46% pada pengulangan 2, sedangkan terendah  pada perlakuan P0 sebesar 7,17% pengulangan 1 dan 7,44% pada pengulangan 2, analisa sidik ragam menunjukkan bahwa protein pada kue cookies berpengaruh sangat nyata terhadap penambahan tepung labu kuning, berdasarkan hasil uji lanjut Duncan (p < 0,00). Disimpulkan bahwa penambahan tepung labu kuning berpengaruh nyata terhadap kadar karbohidrat dan protein pada cookies.
VARIABILITAS IKLIM DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA TANGERANG Juwita, Citra Puspa
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 3 NOMOR 1, APRIL 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.762 KB) | DOI: 10.32662/gjph.v3i1.914

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease of Tangerang City with fluctuating case month by month. DHF is a disease that caused by dengue virus and transmitted by Ae. Aegypti, and also have relation with climate variability conditions. This research is using secondary data with ecological study design by using time series, to see the correlations between climate variability (temperature, precipitation and humidity) with hemorarhagic dengue fever cases in Tangerang City in the period 2004-2013. This research was using univariate analysis method and bivariate analysis with correlation and linear regression.  This study revealed that significant correlation between dengue hemorrhagic fever cases with climate variability; in moderate correlation which correlation between dengue hemorrhagic fever with temperature has coefficient correlation 0,314 and p = 0.004; correlation between dengue hemorrhagic fever with precipitation has coefficient correlation 0,355 and p = 0.000; and correlation between dengue hemorrhagic fever with humidity has coefficient correlation 0,298 and p = 0.002. Strong correlations can be seen with a short period by year. Significant relationship on climate variability (temperature, rainfall and humidity) with the incidence of DHF period of 10 years (2004-2013) with moderate closeness.Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang endemis di Kota Tangerang dengan kejadian yang berfluktuasi per bulannya. Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Ae. aegypti ini akan tinggi ketika musim penghujan tiba dan akan berangsur-angsur menurun ketika tidak musim penghujan. Dengan menggunakan data sekunder yang tersedia, penelitian ini menggunakan desain studi ekologi, berdasarkan urutan waktu (time series) untuk melihat adakah hubungan antara variabilitas iklim (suhu, curah hujan dan kelembaban) dengan kejadian demam berdarah dengue di Kota Tangerang. Analisis yang digunakan adalah univariat dengan menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan uji korelasi dan regresi linear. Berdasarkan hasil penelitian dinyatakan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara kejadian demam berdarah dengue dengan variabilitas iklim dengan keeratan hubungan yang sedang yaitu pada hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan suhu memiliki koefesien korelasi 0,314 dan nilai p = 0,004; hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan curah hujan memiliki koefesien korelasi 0,355 dan nilai p = 0,000; dan hubungan antara kejadian demam berdarah dengue dengan kelembaban memiliki koefesien korelasi 0,298 dan p = 0,002. Hubungan yang erat dapat dilihat dengan periode waktu yang pendek yaitu per tahun. Hubungan yang bermakna pada variabilitas iklim (suhu, curah hujan dan kelembaban) dengan kejadian DBD periode 10 tahun (2004-2013) dengan keeratan sedang.
HUBUNGAN KEBIASAAN CUCI TANGAN, MENGELOLA AIR MINUM DAN MAKANAN DENGAN STUNTING DI SULAWESI TENGAH Syam, Dedi Mahyudin; Sunuh, Herlina S
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 3 NOMOR 1, APRIL 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.687 KB) | DOI: 10.32662/gjph.v3i1.919

Abstract

Environmental factors, birth weight and food intake can influence the incidence of stunting. The prevalence of stunting in toddlers in Central Sulawesi Province in 2015 was very short by 11.4% and short by 23.9%. 2-16 very short categories by 10.2% and short categories by 21.8%. 2017 the very short category was 14.0% and the short category was 22.1%. The purpose of this research was to know handwashing with soap, treating drinking water and food related to stunting in Central Sulawesi. The type of research was analytic with the approach of cross sectional survey with a sample 289 people in 4 (four) Regency Areas (Banggai, Donggala, Sigi and Palu). Data processing and analysis include univariate and bivariate were used chi square test. Results of 289 respondents carry out handwasing with soap 176 (60.9%), not carry out handwasing with soap activity 113 (39.1%), statistical test obtained p value = 0.000. Treating drinking water and food 270 (93.4%), not treating clean water and food only 19 (6.6%), stunting status 133 (46.0%), not stunting 155 (56.0%), statistical test obtained p value = 0.001. Conclusion There was a relationship between hand washing with soap, treating drinking water and food with stunting in Central Sulawesi.Faktor lingkungan, berat badan lahir dan asupan makanan dapat mempengaruhi kejadian stunting. Prevalensi stunting pada balita di Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2015 kategori sangat pendek sebesar 11.4% dan pendek sebesar 23.9%. 2-16 kategori sangat pendek sebesar 10.2% dan kategori pendek sebesar 21,8%. 2017 kategori sangat pendek sebesar 14.0% dan kategori pendek sebesar 22.1%. Tujuan penelitian adalah diketahuinya cuci tangan pakai sabun (CTPS), mengelola air minum dan makanan berhubungan  dengan stunting di Sulawesi Tengah. Jenis penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional survey dengan sampel berjumlah 289 orang di 4 (empat) daerah Kabupaten (Banggai, Donggala, Sigi dan Palu). Pengolahan dan analisis data meliputi univariat, Bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan dari 289 responden melaksanakan CTPS 176 (60,.9%), tidak CTPS 113 (39,1%), Uji statistik diperoleh nilai p = 0,000. Sudah mengelola air minum dan makanan 270 (93,4%), tidak mengelola air bersih dan makanan 19 (6,6%), status gizi stunting 133 (46,0%), tidak stunting 155 (56,0%), uji statistik diperoleh nilai p = 0,001. Kesimpulan ada hubungan cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan dengan stunting di Sulawesi Tengah.  
ANALISIS PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS BEKASI Mahadewi, Erlina Puspitaloka; Heryana, Ade
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 3 NOMOR 1, APRIL 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.557 KB) | DOI: 10.32662/gjph.v3i1.850

Abstract

UNICEF and WHO data showed that exclusive breastfeeding can reduce infant morbidity and mortality by 88%. The coverage of exclusively breastfeeding infants was 61.33%, the highest percentage was in West Nusa Tenggara (87.35%) and the lowest percentage was in Papua (15.32%). Exclusive breastfeeding is given when the baby is born until the age of 6 months. In Indonesia there are 31.36% of 37.94% of children sick because they do not receive exclusive breastfeeding. Aim of this study to determine the relationship of knowledge, work, and family support with the behavior of exclusive breastfeeding health center working area Bekasi City. This study was a cross sectional approach with a sample of 130 respondents. The sampling in this study using simple random sampling technique, analyzed by the chi square test conducted in July 2019 to April 2020. Results of this study there were 96 respondents (73.8%) mothers who did not provide exclusive breastfeeding and 34 resondents (26.2%) mothers who give exclusive breastfeeding to their babies. There was a significant relationship between knowledge (p = 0,000 and PR = 1,588), employment (p = 0,000 and PR = 1,995), family support (p = 0,001 and PR = 1,514) with exclusive breastfeeding health center working area Bekasi. It was concluded that knowledge, employment, and family support were related to exclusive breastfeeding. It was recommended for health workers to create innovations and new programs to increase exclusive breastfeeding, and in the family level should provide support for exclusive breastfeeding practices.Berdasarkan data UNICEF dan juga data WHO pemberian ASI eksklusif dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi lebih dari 88%. Cakupan bayi yang mendapat ASI eksklusif sebesar 61,33%, persentase tertinggi terdapat pada Nusa Tenggara Barat (87,35%) dan persentase terendah terdapat di Papua (15,32%). ASI eksklusif diberikan saat bayi mulai dilahirkan sampai pada usia 6 bulan. Di Indonesia terdapat 31,36% dari 37,94% anak yang sakit dikarenakan tidak dapat menerima ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan, pekerjaan dan dukungan keluarga dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan cross sectional, dengan besar sampel sebanyak 130 responden. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling, dan analisis data menggunakan uji chis-quare yang dilakukan pada bulan Juli 2019 sampai April 2020. Hasil penelitian terdapat 96 (73,8%) ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif dan 34 responden (26,2%) yang telah memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p = 0,000 dan PR = 1,588), pekerjaan (p = 0,000 dan PR = 1,995) dan dukungan keluarga (p = 0,001 dan PR = 1,514) dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kota Bekasi. Disimpulkan bahwa pengetahuan, pekerjaan, dan dukungan keluarga berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Disarankan untuk petugas kesehatan membuat inovasi dan program baru untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif, dan pada tingkat keluarga kiranya memberikan dukungan terhadap pemberian ASI eksklusif.

Page 1 of 1 | Total Record : 6