cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Studi Teknik Pengeringan Gelatin Ikan dengan Alat Pengering Kabinet Harianto harianto; Tazwir tazwir; Rosmawaty Peranginangin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i1.13

Abstract

Pengeringan gelatin dari bahan baku kulit ikan telah dilakukan menggunakan alat pengering tipe kabinet (cabinet dryer) dengan pemanasan bertahap dan aliran udara yang telah didehumidifikasi. Bahan yang akan dikeringkan adalah larutan gelatin kental yang didinginkan kemudian diekstrusi sehingga terbentuk mie gelatin kemudian diletakkan di atas tray dan dimasukkan ke ruang pengering. Untuk menghindari resiko pelumeran (melting), mie gelatin diangin-anginkan selama 2 jam pada suhu 25oC dengan udara yang didehumidifikasi. Selanjutnya suhu ditingkatkan secara bertahap dengan tingkat kenaikan 2 – 4oC perjam hingga tercapai kadar air sekitar 10%. Performansi model alat pengering tipe kabinet atau cabinet dryer yang digunakan adalah dengan spesifikasi panjang kabin 190 cm, lebar 65, dan tinggi 97 cm. Dehumidifikasi udara pengering dengan AC 0,5 HP, sumber pemanas dari lampu infra merah 3 x 1.500 Watt dengan rata-rata kecepatan aliran udara 1,1 m/detik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 2.100 g mie gelatin dengan kadar air awal 75% dihasilkan 584 g gelatin kering dengan kadar air 10%. Dibandingkan dengan alat pengering gelatin komersial maka terlihat bahwa kemampuan dehumidifikasi dari alat pengering ini perlu diperbesar untuk dapatmempersingkat waktu pengeringan.
Uji Fitokimia, Kandungan Total Fenol Dan Aktivitas Antioksidan Mikroalga Spirulina Sp., Chlorella Sp., dan Nannochloropsis Sp. Diini Fithriani; Sri Amini; Susiana Melanie; Rini Susilowati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i2.222

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia, total fenol, dan aktivitas antioksidan dari mikroalga Spirulina sp., Nannochloropsis sp., dan Chlorella sp. Mikroalga diekstrak dengan ekstraksi tunggal menggunakan etanol. Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif. Analisis total fenol dilakukan secara spektrofotometri dengan metode Folin-Ciocalteu. Analisis antioksidan dilakukan dengan metode 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Skrining fitokimia menunjukkan keberadaan tanin, flavonoid, steroid, glikosida, dan alkaloid pada ekstrak etanol ketiga jenis mikroalga, sedangkan saponin hanya terdeteksi pada ekstrak etanol Spirulina sp. dan Chlorella sp., adapun triterpenoid tidak terdeteksi pada ekstrak etanol ketiga jenis mikroalga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan total fenol, aktivitas antioksidan (IC50), dan kapasitas antioksidan (FRAP) tertinggi diperoleh pada ekstrak etanol Spirulina sp. dengan nilai berturut turut sebesar 0,32 ± 0,025 mg GAE g-1D.W., 518,94 ppm, dan  49,95 ± 2,02 (mmol Fe2+ eq.g-1D.W). Dalam penelitian ini diketahui bahwa kandungan fenol total memiliki korelasi  yang kuat  dengan kapasitas antioksidan metode FRAP (R2= 0,84), dan aktivitas antioksidan metode DPPH (R2= 0,79).
Pengawetan Ikan Segar Menggunakan Biji Picung (Pangium edule reinw) Endang Sri Heruwati; Hangesti Emi Widyasari; John Haluan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v2i1.29

Abstract

ABSTRAKBiji buah picung (Pangium edule Reinw) secara tradisional sudah lama digunakan sebagai bahan pengawet ikan segar. Walaupun demikian, kajian ilmiah tentang efektivitas biji picung dalam mengawetkan ikan belum banyak dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kombinasi biji picung cincang 2%, 4%, dan 6% (bobot picung/bobot ikan) dengan garam 2% dan 3% (bobot garam/bobot ikan). Pengamatan kesegaran ikan dilakukan setiap 3 hari selama penyimpanan pada suhu kamar, dengan pengamatan pertama dilakukan 8 jam setelah aplikasicampuran garam dan picung. Parameter yang digunakan untuk menentukan kesegaran ikan adalah nilai organoleptik, TVB, jumlah bakteri penghasil H2S, dan Enterobacteriaceae sedangkan parameter pendukung adalah kadar air, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara organoleptik, pada perlakuan dengan biji picung pada kadar 4% dari bobot ikan, yang dikombinasikan dengan garam 2% atau 3%, mutu ikan masih dapat diterima panelis hingga 6 hari pada penyimpanan suhu kamar. Meskipun demikian, dilihat dari perkembangan TVB, hanya penggunaan biji picung dengan kadar 6% yang mampu menahan perkembangan kadar TVB hingga hari ke-6, sedangkan pada perlakuan di bawah 6%, nilai batas ambang TVB 30 mgN% telah dilewati pada hari ke-3. Sementara itu perkembangan bakteri pembentuk H2S maupun Enterobacteriaceae terus meningkat selama penyimpanan dan tidak dipengaruhi oleh kadar biji picung yang ditambahkan. Garam hanya dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk H2S, tetapi tidak menghambat pertumbuhan Enterobacteriaceae.
Karakteristik dan Aktivitas Antioksidan Sabun Padat Transparan yang Diperkaya dengan Ekstrak Kasar Karotenoid Chlorella pyrenoidosa Ni Wayan Sri Agustini; Agustina H. Winarni
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.379

Abstract

AbstrakSabun berfungsi membersihkan kulit, tidak merusak kulit serta mampu melindungi kulit dari efek radikal bebas. Senyawa yang mampu menangkal radikal bebas adalah antioksidan yang antara lain bersumber dari Chlorella pyrenoidosa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak kasar karotenoid C. pyrenoidosa yang diformulasikan pada sabun padat transparan dan karakteristik sabun yang dihasilkan. Konsentrasi ekstrak kasar karotenoid yang digunakan adalah 5%, 10% dan 15%. Sabun padat transparan dibuat dengan metode setengah panas (semi-boiled). Evaluasi sediaan meliputi warna, kekerasan sabun, pH, kadar air, asam lemak bebas, lemak tidak tersabunkan, aktivitas antioksidan dan daya stabilitas sabun pada penyimpanan suhu 25-30 °C dan 60 °C selama 3 minggu. Hasil studi menunjukkan bahwa sabun padat transparan yang mengandung ekstrak kasar karotenoid sebanyak 5%, 10%, dan 15% memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 66,42 µg/ml, 59,18 µg/ml, dan 10,21 µg/ml. Sabun padat transparan dengan kandungan ekstrak kasar karotenoid sebanyak 5% berwarna kuning neon carrot, ekstrak 10% berwarna kuning pizzaz dan ekstrak 15% berwarna kuning pumpkin. Seluruh sabun beraroma lemongrass. Sabun padat transparan memiliki nilai pH sebesar 9,31-10,47, kadar air 14,45-16,28%, kekerasan sabun 1,40-1,81 mm/detik, jumlah asam lemak bebas 0,42-0,68% dan lemak tidak tersabunkan 1,79-1,84%. Berdasarkan hasil uji stabilitas, sabun tahan disimpan dalam suhu kamar selama 2 tahun, karena sabun relatif stabil pada penyimpanan suhu 60 °C selama 3 minggu. Characteristics and Antioxidant Activity from Transparent Solid SoapEnriched with Carotenoid Crude Extract of Chlorella pyrenoidosaAbstractSoap was used to clean the skin but not damage the skin and able to protect skin from free radical effect. The compounds that could counteract free radical are antioxidants which can be found in  Chlorella  pyrenoidosa. The aims of this research were to determine the characteristic of soap and the antioxidant activity of C. pyrenoidosacarotenoids crude extract that was formulated in transparent solid soap. The carotenoid crude extract concentrations were 5%, 10%, and 15%. The transparent solid soap was made using semi-boiled methods. The transparent solid soap were evaluated for color, soap solidity, pH, water content, free fatty acid content, unsaturated fatty acid content, antioxidant activity and soap stability at 25-30 °C and 60 °C in 3 weeks storage. The study showed that transparent solid soaps containing 5%, 10% and 15% carotenoid crude extracts had antioxidant activity with IC50 value of 66.42 µg/ml, 59.18 µg/ml and 10.21 µg/ml respectively. Transparent solid soap with 5% carotenoid extract appeared in neon carrot yellow color, 10% extract appeared in pizzaz yellow color and 15% extract apperared in pumpkin yellow color. Soaps had lemongrass odor. Transparent solid soap had pH value of 9.31-10.47, water content of 14.45-16.28%, soap hardness of 1.40-1.81mm/sec, amount of free fatty acid 0.42-0.68% and unsaponified fat 1.79-1.84%. Based on the stability test results, the soap could be stored for 2 years at room temperature because the soap was relatively stable at storage temperature of 60 °C for 3 weeks.
Optimasi Waktu Proses Hidrolisis dan Fermentasi dalam Produksi Bioetanol dari Limbah Pengolahan Agar (Gracilaria sp.) Industri Rodiah Nurbaya Sari; Sugiyono Sugiyono; Luthfi Assadad
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i2.57

Abstract

Produksi bioetanol sebagai sumber energi dari biomassa lignoselulosa merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan kerusakan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan waktu hidrolisis dan fermentasi yang optimal untuk memproduksi bioetanol dari limbah pengolahan agar (Gracilaria sp.) industri denganmenggunakan kapang Trichoderma viride dan khamir Saccharomyces cerevisiae. Penelitian yang dilakukan terdiri dari beberapa tahap yaitu karakterisasi limbah agar industri, hidrolisis enzimatis menggunakan kapang Trichoderma viride penghasil selulase, dan fermentasi dengan khamir Saccharomyces cerevisiae. Hasilnya menunjukkan bahwa waktu optimal untuk hidrolisis enzimatis adalah 4 hari pada suhu 28 oC dan pH 3,91; aktivitas CMCase 210,48 IU/ml dan menghasilkan total gula pereduksi 6,74 mg/ml. Sedangkan untuk waktu fermentasi yang optimal adalah 2 hari pada suhu 32 oC dan pH 4,66 dengan nilai OD 600 nm 0,0181 menghasilkan etanol kasar dengan kadar 0,47% (b/b).
Studi Bakteri Pembentuk Histamin Pada Ikan Kembung Peda Selama Proses Pengolahan Ninoek Indriati; Rispayeni Rispayeni; Endang Sri Heruwati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i2.394

Abstract

Histamin merupakan salah satu senyawa biogenik amin yang dianggap sebagai penyebab utama keracunan makanan yang berasal dari ikan, terutama dari kelompok skombroid. Peda adalah produk fermentasi ikan yang umumnya dibuat dari ikan kembung yang merupakan kelompok ikan skombroid, yang diketahui banyak mengandung asam amino histidin bebas, sehingga potensial menimbulkan masalah keracunan histamin. Untuk mengetahui jenis‑jenis bakteri yang berperan pada pembentukan histamin pada ikan peda, telah diisolasi bakteri pembentuk histamin selama proses pengolahan peda, menggunakan media Niven yang sudah dimodifikasi. Isolat yang diperoleh diidentifikasi menggunakan BIOLOG Micro StationTm. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 15 jenis bakteri pembentuk histamin pada bagian daging dan 11 jenis pada bagian isi perut. Selama proses fermentasi, saat histamin diproduksi secara intensif, bakteri pada ikan peda didominasi oleh Enterobacter spp. dan Staphylococcus spp. Enterobacter spp. sudah berada pada bahan baku, baik pada daging maupun pada isi perut, sedangkan Staphylococcus spp. merupakan bakteri yang mengkontaminasi selama proses pengolahan.
Sifat Fungsional Formula Kappa dan Iota Karaginan dengan Gum Ellya Sinurat; Murdinah Murdinah; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i1.82

Abstract

Pemakaian karaginan sudah sangat luas, baik dalam pangan maupun non pangan. Namun dalam aplikasinya masih terbatas karena banyak kelemahan dalam sifat fungsionalnya. Untuk memperbaiki kelemahan sifat fungsional tersebut, dalam penelitian ini dilakukan formulasi campuran antara karaginan dengan gum yaitu gum arabik, guar gum, Locust Bean Gum (LBG) dan konjak dengan harapan bahan campuran ini dapat menyempurnakan fungsi karaginan dalam aplikasinya. Dalam penelitian ini dibuat formulasi campuran karaginan dengan gum dengan rasio 1:3, 1:1 dan 3:1.  Dari hasil analisis diperoleh kesimpulan adanya peningkatan kekuatan gel pada formula campuran antara k-karaginan dan konjak pada rasio 1:1 dengan nilai 1276 g/cm2  dan k-karaginan dengan LBG pada rasio 1:1 dengan nilai 225 g/cm2. Peningkatan viskositas juga terjadi pada formulasi campuran antara k-karaginan dengan konjak pada rasio 1:3 dengan viskositas sebesar 4510 cPs dan pada formulasi campuran antara k-karaginan dengan LBG pada rasio 1:3 dengan nilai 817 cPs. Hal yang sama juga terjadi pada formulasi campuran antara i-karaginan dengan konjak pada rasio 1:3  dengan nilai 4775 cPs dan i-karaginan dengan guar gum pada rasio 1:3 dengan nilai viskositas 2936 cPs. Hasil ini menunjukkan adanya pengaruh nyata penambahan gum pada karaginan terhadap viskositasnya.
Pengaruh Konsentrasi Maleat Anhidrida terhadap Mutu Papan Partikel yang Dibuat dari Limbah Padat Gracilaria sp. dan Polietilen sebagai Perekat Diini Fithriani; Jamal Basmal; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v6i2.410

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh maleat anhidrida terhadap mutu papan partikel yang dibuat dari limbah padat hasil pengolahan Gracilaria sp. Dan polietilen. Pada penelitian ini limbah padat hasil pengolahan Gracilaria sp.dicampur secara homogen pada suhu ruang dengan bahan perekat polietilen dengan perbandingan berat 1:1, dan ditambahkan maleat anhidrida dengan konsentrasi 0,6, 9, dan 12% b/b. Pembuatan papan partikel dilakukan dengan teknik pengempaan panas pada cetakan 30 x 30 x 4 cm3. Pengempaan dilakukan pada tekanan 9 kg/cm2, suhu 150°C, dengan lama waktu pengempaan 7 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan maleat anhidrida sebagai compatibilizerpada pembuatan papan partikel dari limbah padatpengolahan Gracilaria sp. dan polietilen berpengaruh pada meningkatnya kadar air, daya serap air dan pengembangan tebal serta berpengaruh pada menurunnya modulus patah  (MOR) dan modulus elastisitas papan. Pada penelitian ini pembuatan papan partikel dari limbah Gracilaria sp.dan polietilen dapat menghasilkan papan dengan sifat fisik dan mekanis yang s es uai s tandar J IS A5908 kecuali pada nilai modulus elastisitasnya.
Pemanfaatan Limbah Pengolahan Agar sebagai Komponen Medium Produksi Selulase dari Mikroba Yusro Nuri Fawzya; Amelia Latifa; Nita Noriko
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i1.99

Abstract

Pengolahan agar dari rumput laut berkembang pesat di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan produksi rumput laut yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Produksi yang meningkat ini diikuti dengan meningkatnya limbah pengolahan agar. Limbah ini diketahui memiliki kandungan selulosa yang tinggi. Pemanfaatan limbah ini umumnya untuk pembuatan pupuk dan komponen pakan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah pengolahan agar sebagai komponen medium produksi enzim selulase dari mikroba. Tiga jenis isolat mikroba yaitu PMP1206, Serratia marcescens SGS 1609, dan isolat bakteri PC3, dikultivasi dalam medium padat yang mengandung karboksimetil selulosa (CMC). Isolat mikroba yang menghasilkan zona bening paling besar, dipilih dan enzim diproduksi dalam medium cair yang mengandung selulosa dari limbah agar. Enzim yang dihasilkan dari perlakuan terbaik dilakukan karakterisasi. Medium produksi enzim adalah medium sintetik minimal (MSM) cair dengan penambahan 1% limbah agar yang telah diberi perlakuan dengan NaOH 0, 2, 4, dan 6%. Inkubasi dilakukan pada suhu 30 oC, 150 rpm. Pengambilan sampel dilakukan setiap hari untuk diuji aktivitas enzimnya. Hasil seleksi isolat menunjukkan bahwa S. marcescens SGS 1609 menghasilkan zona bening paling besar dengan indeks selulolitik 2,25. Produksi enzim selulase dari isolat ini pada medium limbah agar menunjukkan bahwa waktu optimal produksi enzim diperoleh pada inkubasi selama 1–3 hari dari perlakuan NaOH 6%. Enzim yang dihasilkan bekerja optimum pada pH 6 dan suhu 50 oC. Enzim bersifat stabil terhadap panas. Pada suhu 40–60 oC selama 4 jam penurunan aktivitas enzim tidak lebih dari 30%. Aktivitas selulase meningkat dengan penambahan ion Ca2+, dan Mg2+, dan menurun dengan adanya 10 mM ion Zn2+.
Produksi Kitinase dan Kitin Deasetilase dari Vibrio Harveyi. Suyuti Nasran; Farida Ariyani; Ninoek Indriati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i5.464

Abstract

         Penelitian untuk mengetahui potensi Vibrio harveyi sebagai penghasil kitinase dan kitin deasetilase telah dilakukan. Untuk mengetahui kondisi yang diperlukan untuk memproduksi enzim, telah dilakukan percobaan produksi enzim pada pH 6,7, dan 8 dengan 3 tingkatan suhu inkubasi yaitu suhu kamar (28‑31 derajad Celcius), 37 derajad Celcius, dan 47 derajad Celcius selama 5 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Vibrio harveyi dapat memproduksi enzim kitinase dan kitin deasetilase seperti ditunjukkan dari hasil uji daya kitinolitik, walaupun aktivitas enzim yang diperoleh masih rendah. Sama halnya dengan perkembangan jumlah bakteri selama masa produksi enzim, aktivitas enzim kitinase dipengaruhi oleh suhu inkubasi, tetapi tidak oleh pH media. Terdapat perbedaan aktivitas enzim pada inkubasi 37 derajad Celcius selama 5 hari yang mencapai rata‑rata 10,82 x 10‑6 u/ml dibandingkan dengan pada suhu 47 derajad Celcius yang hanya mempunyai aktivitas sebesar 3,56 x 10‑6 u/ml. Sebaliknya, aktivitas enzim kitin deasetilase justru lebih dipengaruhi oleh pH media daripada suhu dan lama inkubasinya. Aktivitas kitin deasetilase rata‑rata pada pH 6,7, dan 8 berturut‑turut adalah 5,6 x 10‑1 u/ml ‑1 3,8 x 10‑5 u/ml, dan 6,0 x 10‑5 U/Ml.

Page 3 of 41 | Total Record : 403


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue