cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Pengaruh Perendaman Cumi Cumi Segar Dalam Larutan Kitosan Terhadap Daya awetnya Selama Penyimpanan Pada Suhu Kamar Jovita Tri Murtini; Arifah Kusmarwati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i2.399

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh perendaman dalam larutan kitosan terhadap daya awet cumi‑cumi yang disimpan pada suhu kamar. Pada penelitian ini, cumi‑cumi direndam dalam larutan kitosan masing‑masing dengan variasi konsentrasi 0; 0,30; 0,38; 0,50; dan 0,75% selama 30 menit. Pengamatan kesegaran dilakukan setiap 8 jam sampai produk cumi‑cumi ditolak oleh panelis. Parameter yang diamati meliputi analisis proksimat, Total Volatile Base (TVB), Total Plate Count (TPC) dan nilai organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nilai TVB dan TPC, perlakuan perendaman dalam larutan 0,75% kitosan dapat memperpanjang daya simpan cumi‑cumi selama 16 jam, tetapi perlakuan yang lain, termasuk kontrol, hanya mempunyai daya simpan hingga 8 jam. Akan tetapi dari hasil pengamatan rupa, warna, bau dan tekstur, tanpa memperhatikan rasa pahit, produk baru ditolak panelis pada jam ke‑24 untuk kontrol, jam ke‑32 untuk perlakuan konsentrasi kitosan 0,30; 0,38; dan 0,50%, dan jam ke‑40 untuk konsentrasi tertinggi, yaitu 0,75%. Pada konsentrasi kitosan 0,38 dan 0,50% terdeteksi rasa tambahan berupa rasa agak asam, sedangkan pada konsentrasi 0,75% rasa tambahan berupa rasa agak pahit. Pada konsentrasi kitosan di atas 50%, kulit cumi‑cumi banyak terkelupas, sehingga menurunkan nilai rupa/kenampakan.
Toksisitas Subkronik Gelatin Kulit Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) Terhadap Mencit (Mus musculus) Novalia Rachmawati; Radestya Triwibowo; Ajeng Kurniasari Putri
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v6i1.87

Abstract

ABSTRACT Gelatin from catfish (Pangasius hypophthalmus) skin had been produced by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology. To determine the safety of thegelatin, a subchronic in vivo toxicity study had been done on mice. The study used male mice (Mus musculus) with 20–30 g body weight each. Gelatin was given orally by gavage once a day. Mice were divided into 4 groups of treatment. The doses given were 0 (negative control) 1.5; 3 and 6% of gelatin which was equal to 0, 12, 24 and 48 mg/g of mice body weight. The study had been conducted for 4 weeks and continued for 2 weeks of recovery phase. Blood serum condition, i.e. Glutamic Oxaloacetic Transaminase (GOT), Glutamic Pyruvic Transaminase (GPT), creatinine, albumine and Blood Urea Nitrogen (BUN) and organ (liver, kidney, stomach) damage were investigated. The results showed that gelatin at the highest dose (48 mg/g bw of mice) gave asignificant effect on GOT level at the second week of treatment. Furthermore, there was no significant effect of treatments on organ damage level. 
Uji Toksisitas Sub Kronik Spirulina platensis secara In-vivo Jovita Tri Murtini; Radestya Triwibowo; Nandang Priyanto; Ninoek Indriati; Farida Ariyani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i2.416

Abstract

Penelitian toksisitas subkronik Spirulina platensis secara in-vivo telah dilakukan. Spirulina spp. merupakan sumber protein nabati yang cukup tinggi sehingga pada umumnya dimanfaatkan sebagai suplemen makanan. Spirulina platensis dalam bentuk tablet dan kapsul telah dihasilkan oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, maka perlu dilakukan uji keamanannya bagi konsumen. Uji toksisitas sub-kronik Spirulina platensisdilakukan secara bioassaymenggunakan mencit jantan (Mus musculus L.) dari galur DDY, umur 2-3 bulan dengan bobot 20–30 g/ekor. Pemberian bahan uji (bubuk Spirulinakering disuspensikan dalam larutan 0,5% CMC-N a) dilakukan secara oral selama 4 minggu, selanjutnya dilakukan masa pemulihan selama 2 minggu dan setiap 2 minggu dilakukan pengambilan darah dan organ (hati, ginjal, dan lambung). Dibuat 4 kelompok perlakuan yaitu control negatif (0,5% CMC-Na sebesar 0,8 mL), dosis I (2,6 mg Spirulina/20 g bb mencit), dosis II (5,2 mg Spirulina/20 g bb mencit), dan kelompok dosis III (10,4 mg Spirulina/20 g bb mencit). Parameter yang diamati adalah kandungan GOT (Glutamic Oxaloacetic Trans aminase), GPT (Glutamic Piruvate Transaminase), kreatinin, dan albumin. Hasil analisis kandungan GOT dan, GPT, kreatinin, dan albumin mencit selama perlakuan masih dalam batas normal. Hasil analisis statistik semua parameter tidak berbeda nyata pada variasi dosis, kecuali pada dosis II, namun semua nilai masih dalam rentang nilai normal untuk mencit sehat. Pengamatan secara histopatologi menunjukkan bahwa pada kontrol dan dosis I tidak terjadi kerusakan yang berat pada hati, ginjal, dan lambung, sedangkan pada perlakuan dosis II dan III terjadi kerusakan ringan pada organ hati dan ginjal ditandai dengan adanya pengkerutan buluh darah, degenerasi sel hati; nekrosis pada sel tubulus, dan adanya endapan protein pada glomerulus ginjal, tetapi tidak terjadi kerusakan pada lambung.
Pemanfaatan Limbah Ekstraksi Alginat dan Silase Ikan sebagai Bahan Pupuk Organik Jamal Basmal; Adwin Widanarto; Rinta Kusumawati; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.104

Abstract

Percobaan pemanfaatan limbah padat ekstraksi alginat dengan tepung silase ikan (tepsil) menjadi bahan pupuk organik telah dilakukan. Perlakuan yang diberikan adalah rasio antara tepung limbah ekstraksi alginat : tepsil = 1:1; 2:1 dan 3:1. Sebagai pengikat antara tepung limbah ekstraksi dengan tepsil digunakan pasta Sargassum. Perlakuan rasio limbah padat ekstrasi alginat dengan tepsil mempengaruhi komposisi unsur hara makro dan mikro serta kadar hormon pemacu pertumbuhan dalam bahan pupuk. Ditinjau dari unsur hara makro maka perlakuan yang terbaik ditemukan pada perlakuan P11 yakni satu bagian limbah alginat dan satu bagian tepsil dengan komposisi P 34,56 mg/100g, N 3,01%, K 1,2 mg/100g, Ca 48,23 mg/100g, Corganik 21,31mg/100g, Mg 1,41 mg/100 g, kemampuan daya serap air 587,93% dengan unsur mikro Fe 217,01 ppm, Zn 8 ppm, Cu 0,02 ppm dan nilai hormon pertumbuhan giberelin 82,36 ppm, auksin 67,65 ppm, sitokinin-zeatin 36,86 ppm dan sitokinin-kinetin 28,71 ppm. Bahan pupuk yang dihasilkan dapat diproses lebih lanjut menjadi pupuk organik untuk kebutuhan pertanian setelah ditambah dengan unsur hara mikro dan makro dari bahan organik yang lain.
Studi Pembuatan Edible Film dari Karaginan. Th. Dwi Suryaningrum; Jamal Basmal; Nurochmawati Nurochmawati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i4.471

Abstract

            Penelitian pembuatan edible film dari karaginan telah dilakukan. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan dimaksudkan untuk memperoleh formulasi bumbu yang akan digunakan dalam penelitian utama. Penelitian utama dilakukan dengan menggunakan perlakuan volume larutan pengencer dan penambahan tepung tapioka. Larutan pengencer yang digunakan adalah kaldu ebi dengan vo­lume 75 dan 80 kali bobot karaginan serta penambahan tepung tapioka dengan perbandingan bobot antara tepung karaginan dan tepung tapioka 21 dan tanpa penambahan tepung tapioka. Pengamatan dilakukan terhadap sifat fisik (ketebalan, persentase pemanjangan serta kekuatan tarik), sifat kimia (analisis proksimat) serta uji organoleptik. Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa formulasi bumbu yang terbaik adalah gula 2,5%, garam 0,6%, kecap 0,4%, MSG 0,05%, bahan pewarna 0,4%, dan sorbitol 0,4%. Analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan volume pengencer berpengaruh (U=0,05) terhadap ketebalan film yang dihasilkan, sedangkan penambahan tepung tapioka berpengaruh terhadap menurunnya nilai kekuatan tarik film. Perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap persentase pemanjangan film, perlakuan volume pelarut dan penambahan tepung tapioka hanya berpengaruh terhadap kandungan protein dan kadar lemak film. Pada uji organoleptik, hanya bau yang dipengaruhi oleh perlakuan volume pelarut, sedangkan uji organoleptik lainnya seperti tekstur, penampakan, warna dan rasa tidak dipengaruhi oleh semua perlakuan yang diberikan, 
PENGGUNAAN ALGINAT PADA FORMULASI PENYALUT TIPIS TABLET VITAMIN A Dina Fransiska; Murdinah Murdinah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.433

Abstract

Penelitian penggunaan alginat sebagai pahan penyalut tipis (film coating) pada tablet vitamin A telah dilakukan. Pada penelitian ini digunakan alginat yang merupakan hasil ekstraksi dari rumput laut coklat Sargassum sp. Formula larutan penyalut terdiri dari 5 perlakuan yaitu perlakuan A (1,00 g alginat + 0,20 g PEG), perlakuan B (1,25 g alginat + 0,25 g PEG), perlakuan C (1,5 g alginat + 0,30 g PEG), perlakuan D (1,75 g alginat + O,35 g PEG) dan sebagai pembanding adalah (10 g HPMC + 1 g PEG), uji yang dilakukan terhadap tablet inti dan tablet salut adalah uji visual, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, keseragaman kandungan bahan aktif, kekerasan, keregasan, waktu hancur, dan uji stabilitas vitamin A. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik pada penelitian ini adalah perlakuan D.
Isolasi dan Karakterisasi Bakteriosin yang Dihasilkan Oleh Lactobacillus lactis dari Sedimen Laut Rofiq Sunaryanto; Tarwadi Tarwadi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i1.240

Abstract

Telah dilakukan isolasi dan karakterisasi bakteriosin yang dihasilkan oleh Lactobacillus lactis yang berasal dari sedimen laut. Karakterisasi bakteriosin meliputi uji aktivitas antimikroba, stabilitas terhadap suhu, pH, penambahan enzim, surfaktan, dan stabilitas bakteriosin terhadap penyinaran lampu UV. Aktivitas antimikroba bakteriosin diuji melawan bakteri uji Escherichia coli ATCC 25922, Enterococcus faecalis ATCC 29212, Bacillus subtilis ATCC 66923, Staphyllococcus aureus ATCC 25923, Lactobacillus plantarum, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus casei, dan Candida albican. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteriosin mampu menghambat pertumbuhan E.coli ATCC 25922, E. faecalis ATCC 29212, S. aureus ATCC 25923 dan B. subtilis ATCC 66923, namun demikian tidak mampu menghambat pertumbuhan L. plantarum, L. bulgaricus, L. casei, dan C. albican. Bakteriosin yang dihasilkan oleh Lactobacillus lactis stabil terhadap pemanasan sampai dengan suhu 70 °C dan stabil pada rentang pH 3 sampai dengan 7. Aktivitas bakteriosin hilang dengan penambahan tripsin, pepsin, dan proteinase-K, namun aktivitas bakteriosin stabil terhadap penambahan a-amilase. Penambahan tween 20, tween 80, dan EDTA mampu meningkatkan aktivitas bakteriosin sebesar 1,1 sampai dengan 1,2 kali dibandingkan dengan tanpa penambahan surfaktan. Penyinaran lampu UV selama 15 menit tidak berpengaruh terhadap aktivitas bakteriosin.
Keberadaan Vibrio parahaemolyticus Patogenik pada Udang Tambak yang Berasal dari Pantai Utara Jawa Arifah Kusmarwati; Irma Hermana; Yusma Yennie; Singgih Wibowo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i1.285

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi cemaran Vibrio parahaemolyticus patogenik pada udang tambak. Pengambilan sampel udang segar vaname dari tambak  dilakukan pada musim hujan dan musim kemarau di wilayah Pantai Utara Jawa dengan metode purposive random sampling. Sebanyak 103 sampel (masing-masing 33 sampel dari wilayah Jawa Barat, 14 sampel dari wilayah Jawa Tengah dan 56 sampel dari wilayah Jawa Timur) telah diestimasi kandungan V. parahaemolyticus total dan patogenik  menggunakan metode kultivasi pada medium CHROMagarTM Vibrio  (CV) dan metode  polymerase chain reaction (PCR) melalui amplifikasi gen toxR untuk total V. parahaemolyticus, serta gen tdh dan trh untuk V. parahaemolyticus patogen. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 103 sampel, 91 sampel bersifat tipikal pada medium CHROM agarTM Vibrio (CV).  Selanjutnya dari 91 sampel tipikal tersebut, 62 (63,27%) sampel menunjukkan hasil positif untuk V. parahaemolyticus dengan metode PCR. Sementara dari 31 sampel positif V. parahaemolyticus yang berasal dari Jawa Timur ditemukan 2 sampel (3,23%) positif mengandung gen tdh, 1 sampel (1,61%) positif mengandung gen tdh dan trh, dan 1 sampel (1,61%) positif mengandung gen trh.
Pembentukan Formaldehida Alami dan Penurunan Mutu Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus fuscoguttatus × E. microdon) selama Penyimpanan pada Suhu Beku Giri Rohmad Barokah; Ajeng Kurniasari Putri; Umi Anissah; Jovita Tri Murtini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i1.511

Abstract

AbstrakFormaldehida merupakan bahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan (BTP) berdasarkan Permenkes No 033 Th 2012. Namun demikian, pada beberapa produk pangan termasuk ikan, formaldehida dapat terbentuk secara alami karena terjadinya proses penurunan mutu melalui penguraian secara enzimatis. Pembentukan formaldehida alami pada ikan terjadi melalui proses degradasitrimethylamine oxide  (TMAO) oleh enzim TMAO-ase. Berdasarkan latar belakang tersebut, dilakukan penelitian untuk mengkaji pembentukan formaldehida dan beberapa parameter penurunan kualitas pada ikan kerapu cantik (Epinephelus. fuscoguttatus × E. microdon) selama penyimpanan beku. Penelitian dilakukan melaui kuantifikasi pembentukan formaldehida alami,  total volatile base(TVB), trimetilamin (TMA), dan TMAO dalam sampel ikan kerapu cantik sesaat setelah kematian dan selama penyimpanan beku dalam kurun waktu lima bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan TMA, TVB dan formaldehida alami antar individu sampel ikan kerapu cantik dalam populasi yang sama memiliki perbedaan yang nyata. Pembentuk an formaldehida alami dalam sampel ik an k erapu cantik selama lima bulan penyimpanan pada kondisi beku membentuk pola parabolik, di mana kadar formaldehida meningkat seiring waktu dan mencapai nilai maksimum hingga bulan ke-2 kemudian menurun hingga bulan ke-5. Pembentukan formaldehida alami dalam sampel ikan kerapu cantik selama peyimpanan dalam suhu beku berkorelasi positif dengan proses penurunan mutunya berdasarkan parameter TVB dan TMA. Formation of Natural Formaldehyde and Deterioration of Cantik Grouper (Epinephelus  fuscoguttatus ×  E.  microdon) during Frozen Storage AbstractFormaldehyde is banned to be used as food additive under the Ministry of Health Regulation Number 033/2012. However, in some food products including fish, formaldehyde can be formed naturally due to deterioration process through degradation enzy matically. Endogenous formaldehyde in fish formed through degradation of trimethylamine oxide (TMAO) by TMAO-ase. Based on these, a study on the formation of formaldehyde and some deterioration parameters of cantik grouper (Epinephelus  fuscoguttatus ×  E.  microdon) during frozen storage condition has been conducted. The research was conducted by observing the immediate post mortem formation of natural formaldehyde, total volatile base (TVB), trimethylamine (TMA) and TMAO of cantik grouper and during frozen storage within five months. The results showed that TMA, TVB and natural formaldehyde among individual samples of cantik groupers in the same population were significantly different. The formation of natural formaldehyde in cantik grouper within five months frozen storage form a parabolic pattern, in which formaldehyde content increased and reached a maximum point in the 2nd month and then decreased until the 5th month. The formation of natural formaldehyde in cantik grouper samples during frozen storage positively correlated with their deterioration processes based on TVB and TMA parameters.
Karakteristik Serat Nano Komposit Kitosan-Polivinil Alkohol (PVA) dari Cangkang Rajungan Melalui Proses Electrospinning Muhamad Darmawan; Syamdidi Syamdidi; Yusma Yennie; Singgih Wibowo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i2.293

Abstract

Kitosan merupakan salah satu polimer alam yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat serat nano. Namun demikian, serat nano yang dibuat dari kitosan saja tidak memiliki karakteristik yang baik sehingga perlu dicampur dengan polimer sintetis lain seperti polivinil alkohol (PVA). Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari karakteristik serat nano yang dibuat dari kompositkitosan cangkang rajungan dengan derajat deasetilasi 89,06% dan PVA menggunakan metode electrospinning. Perbandingan campuran kitosan-PVA yang digunakan adalah 1:9, 2:8, 3:7, dan 4:6 (v/v). Parameter yang diamati adalah karakteristik kitosan yang digunakan (derajat deasetilasi, kadar air, kadar abu, total N, viskositas, analisis gugus fungsi menggunakan FTIR), dan karakteristik serat nano yang dihasilkan (viskositas, struktur morfologi menggunakan scanning electron microscopy-SEM, dan analisis gugus fungsi menggunakan FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur serat nano komposit kitosan-PVA yang dihasilk an masih menunjukkan adanya gumpalan-gumpalan (beads). Peningkatan jumlah kitosan dalam larutan kitosan-PVA meningkatkan jumlah gumpalan (beads) pada serat nano yang dihasilkan. Peningkatan jumlah PVA di dalam komposit meningkatkan viskositas larutan kitosan-PVA. Hasil dari FTIR menunjukkan adanya interaksi intermolekular antara PVA dan kitosan yang diduga melalui ikatan hidrogen.

Page 2 of 41 | Total Record : 403


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue