cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Penapisan Actinobacteria Akuatik Penghasil Antibakteri dari Ikan Bandeng (Chanos chanos) dan Belanak (Mugil cephalus) dengan Metode Double-Layer Diffusion Muhammad Alfid Kurnianto; Harsi Dewantari Kusumaningrum; Hanifah Nuryani Lioe
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.406 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i1.647

Abstract

Saluran pencernaan (terutama usus) ikan perairan estuaria merupakan salah satu ceruk lingkungan potensial Actinobacteria yang belum tereksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi karakteristik morfologi Actinobacteria asal ikan bandeng (Chanos chanos) dan belanak (Mugil cephalus) serta mengevaluasi aktivitas antimikroba yang dihasilkannya. Penelitian ini diawali dengan mengambil usus ikan, kemudian digesta usus secara perlahan dipisahkan untuk dieksplorasi keberadaan Actinobacteria dengan menggunakan media isolasi selektif. Isolat yang diperoleh dikarakterisasi berdasarkan ciri makroskopik dan mikroskopik, serta dilakukan penapisan antibakteri awal menggunakan metode double-layer diffusion. Isolat dengan zona penghambatan terbaik dipilih untuk dilakukan produksi dan ekstraksi senyawa antibakteri, serta uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli. Sebanyak 44 isolat Actinobacteria telah diisolasi dari digesta usus ikan bandeng (Chanos chanos) dan belanak (Mugil cephalus) menggunakan media strach casein dan actinomycete isolation agar. Sebagian besar isolat yang diperoleh menunjukkan karakteristik morfologi genus Streptomyces sp., seperti koloni memiliki tekstur menyerupai serbuk, bertepung dan kasar, memiliki aerial miselium berwarna putih dan substrat miselium berwarna krim susu, serta memiliki bentuk rantai spora rectus-flexibilis. Proses penapisan antibakteri isolat Actinobacteria menunjukkan 22 isolat memiliki indeks penghambatan terhadap sedikitnya satu bakteri uji, dengan aktivitas terbaik ditunjukkan oleh isolat A-SCA-11. Uji antibakteri terhadap ekstrak kasar isolat A-SCA-11 menunjukkan aktivitas antibakteri berspektrum luas yang mampu menghambat seluruh bakteri uji dengan zona hambat tertinggi pada P. aeruginosa.  AbstractThe gut of estuary fish is one of the potential novel niches of Actinobacteria that has not yet been explored. This study aimed to isolate and identify the morphological characteristics of Actinobacteria from milkfish (Chanos chanos) and blue-spot mullet fish (Mugil cephalus) and to evaluate the antibacterial activity produced. This research was started by taking the fish gut, and then the digesta were slowly separated to explore the presence of Actinobacteria using selective isolation media. The isolates obtained were characterized by macroscopic and microscopic characteristics, and antibacterial preliminary screening of isolates was performed using a double-layer diffusion method. The isolates with the best inhibition zone were selected for production and extraction of antibacterial compounds, and antibacterial activity tests using the disk-diffusion method against the test bacteria Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Pseudomonas aeruginosa, and Escherichia coli. A total of 44 isolates of Actinobacteria have been isolated from the gut of fish using starch casein and actinomycete isolation agar. Most isolates showed morphological characteristics of the genus Streptomyces sp., such as colonies with a tough or powdery texture, antibacterial have white aerial mycelium and milk-cream substrate mycelium, and rectus-flexibilis spore chain. The antibacterial preliminary screening of Actinobacteria isolates showed 22 isolates had inhibitory index against at least one test bacterium, with the best activity indicated by A-SCA-11. Antibacterial test of A-SCA-11 crude extract showed broad-spectrum antibacterial activity that was able to inhibit all test bacteria with the highest inhibitory zone on P. aeruginosa.
Cover Depan JPBKP Vol. 15 No. 1 Tahun 2020 Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi KP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.269 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i1.683

Abstract

Performa dan Analisis Konsumsi Energi Pengeringan Rumput Laut Menggunakan Energi Gelombang Mikro Arif Rahman Hakim; Wahyu Tri Handoyo; Adrianto Widi Prasetyo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1090.334 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i1.639

Abstract

Pengeringan menggunakan energi gelombang mikro menjadi alternatif agar pengeringan berjalan lebih cepat tanpa terpengaruh kondisi cuaca. Namun performa dan efisiensi energi dalam mengeringkan rumput laut belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui performansi pengeringan rumput laut menggunakan energi gelombang mikro (microwave) dan analisa konsumsi energinya. Metode yang digunakan ialah mengeringkan rumput laut segar dalam oven gelombang mikro secara batch. Dalam proses pengeringan dilakukan variasi level daya (400, 500, 600 watt) ke dalam oven gelombang mikro dan variasi ketebalan rumput laut (3, 5, 7 cm). Parameter yang diamati meliputi rasio kadar air (moisture ratio/MR), laju pengeringan (g/menit), difusi efektif air/Deff (mm2/detik), specific energy consumption/SEC (J/g H2O) dan efisiensi energi (%). Hasil penelitian menunjukkan, level daya magnetron 600 watt menghasilkan MR terendah (0,19), laju pengeringan tertinggi (13,15 g/menit) dan Deff tertinggi (2,28 x 10-2 mm2/detik). Rumput laut ketebalan 3 cm memperoleh MR terendah (0,05), laju pengeringan tertinggi (6,42 g/menit) dan Deff tertinggi (9,42 x 10-2 mm2/detik). SEC pengeringan sebesar 4,38-4,51 J/g H2O dan efisiensi energi 22,56-23,42% untuk level daya 400-600 watt. Perbedaaan level daya tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap SEC dan efisiensi. Sedangkan variasi ketebalan rumput laut antara 3 cm dan 7 cm memberi hasil yang berbeda. SEC terendah diperoleh pada perlakuan rumput laut tebal 3 cm yaitu 2,96 J/g H2O sementara efisiensi tertinggi pada rumput laut dengan tebal 5 cm yaitu 22,93%.Oleh karena itu pengeringan rumput laut menggunakan energi gelombang mikro dengan level daya 600 watt dan ketebalan 3 cm menghasilkan performasi dan konsumsi energi yang lebih baik. AbstractMicrowave drying becomes alternative method to get faster process without being influenced by weather. However performance and energy efficiency of microwave drying for seaweed are still unknown. This research aims to find out performance of seaweed drying in microwave oven as well as energy consumption analysis. The method used was drying seaweed in microwave oven. Seaweed drying was conducted at various power level (400, 500, 600 watt) and thickness of seaweed (3, 5, 7 cm). Observed parameters were moisture ratio/MR, drying rates (g/min), effective diffusion/Deff (mm2/s), specific energy consumption/SEC (J/g H2O) and energy efficiency (%). Result of research showed that power level, 600 watt of magnetron produced lowest MR (0,19), highest drying rate and Deff i.e 13.15 g/min and 2.28 x 10-2 mm2/s respectively. Seaweed 3 cm thickness achieved lowest MR (0.05), highest drying rates 6.42 g/min and Deff 9.42 x 10-2 mm2/s. SEC of drying were 4.38-4.51 J/g H2O while energy efficiency were 22.56-23.42 % for 400-600 watt. Differences of power level have not given significant effect to SEC and efficiency values. Whereas differences of seaweed thickness between 3 cm and 7 cm have given significant effect. Seaweed in 3 cm thickness resulted in the lowest SEC i.e 2.96 J/g H2O, however, the highest efficiency energy was 5 cm thickness i.e 22.93%. Therefore drying seaweed utilize microwave energy of 600 watt power level and 3 cm thickness generated better performance and energy consumption.
Kualitas Bulir Cairan Caulerpa racemosa yang Disalut dengan Na-Alginat dan Ca-Laktat Jamal Basmal; Nurhayati Nurhayati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i1.681

Abstract

Caulerpa racemosa mengandung serat, vitamin, antioksidan, polisakarida sulfat, sulfat bebas, dan mineral sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pangan fungsional. Namun, cairan C. racemosa mudah mengalami kemunduran mutu selama proses penyimpanan dan transportasi, sehingga perlu dipertahankan mutunya dalam bentuk bulir. Perlakuan yang diberikan dalam proses penyalutan adalah variasi konsentrasi Na-alginat 0,4%; 0,6%; dan 0,8% dan variasi larutan Ca-laktat 0,4%; 0,6%; dan 0,8% yang diulang sebanyak tiga kali. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kombinasi konsentrasi Na-alginat dan Ca-laktat terbaik dalam mempertahankan mutu bulir cairan C. racemosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan C. racemosa mengandung mineral, serat pangan, dan asam amino, baik esensial maupun non esensial dengan kadar air cairan C. racemosa sebesar 97,77%±0,02% dan setelah ditambah air dengan rasio 1:4, kadar airnya menjadi 99,6%±0,61%. Perlakuan konsentrasi Ca-laktat berpengaruh terhadap kadar air dan kadar abu bulir yang dihasilkan, sementara kadar serat kasar bulir dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi Na-alginat. Nilai terbaik berdasarkan kadar serat ditemukan pada perlakuan kombinasi Na-alginat 0,6% dan Ca-laktat 0,8%, yaitu sebesar 4,05% dengan kadar air 97,22% dan kadar abu 0,65%.ABSTRACTCaulerpa racemosa contains fiber, vitamins, antioxidants, sulfated polysaccharides, free sulfates, and minerals so that it can be used as functional food. However, C. racemosa liquid deteriorates easily during storage and transportation, therefore it is necessary to maintain the quality of C. racemosa liquid in encapsulated form as grain. The treatments given in encapsulation process were variation of Na-alginat concentration i.e. 0.4%; 0.6%; and 0.8%, and variation of Ca-lactate solution i.e. 0.4%; 0.6%; and 0.8% which were repeated three times. The aim of the study was to determine the best combination of Na-alginate and Ca-lactate concentrations in maintaining the quality of encapsulated C. racemosa liquid grain. The results showed that C. racemosa liquid contained minerals, dietary fiber and amino acids, both essential and non-essential, with moisture content of 97.77±0.02%. After added with water with a ratio of 1:4, the moisture content of C. racemosa liquid was 99.6%±0.61%. The treatment of Ca-lactate concentration affected the moisture content and ash content of the liquid grain, while the crude fiber content was affected by Na-alginate concentration. The best value based on fiber content was found in the combination treatment of 0.6% Na-alginate and 0.8% Ca-lactate (A6K8) at 4.05%, with moisture content of 97.22% and an ash content of 0.65%.
Ekstraksi dan Bioaktivitas Antioksidan Pigmen Fikoeritrin dari Rumput Laut Merah Halymenia sp. Tias Suci Lailani; Ifah Munifah; Hermanto Hermanto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i2.653

Abstract

Fikoeritrin adalah pigmen dari rumput laut merah Halymenia sp. dengan aktivitas antioksidan yang potensial untuk dikembangkan dalam bidang nutraseutikal. Ekstraksi fikoeritrin dapat dilakuan dengan berbagai jenis pelarut. Namun, penggunaan pelarut yang tidak sesuai dapat berdampak terhadap rendemen, kemurnian, dan juga bioaktivitas ekstrak fikoeritrin. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis pelarut dan durasi waktu ekstraksi (secara maserasi) yang tepat sehingga menghasilkan ekstrak dengan rendemen, kemurnian, dan daya antioksidan fikoeritrin terbaik. Ekstraksi dilakukan menggunakan tiga jenis pelarut (akuabides; buffer fosfat pH 6,8; dan aseton 80%) dengan variasi waktu maserasi (24, 48, 72, dan 96 jam). Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel (UV-Vis) dipergunakan dalam identifikasi fikoeritrin, sementara Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) merupakan metode dalam telaah daya antioksidan ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah rendemen ekstrak (w/w segar) dari ketiga pelarut, yaitu 1,76% (akuabides); 0,91% (aseton 80%); dan 2,91% (buffer fosfat pH 6,8). Selain itu, waktu ekstraksi juga menyebabkan perbedaan jumlah rendemen, yaitu 1,72% (24 jam); 1,51% mg/mL (48 jam); 1,37% (72 jam); dan 1,43% (96 jam). Hasil ini menunjukkan bahwa pelarut buffer fosfat dengan durasi waktu maserasi 24 jam adalah metode yang terbaik untuk mendapatkan rendemen fikoeritrin tertinggi dari rumput laut merah Halymenia sp. Aktivitas antioksidan dari ekstrak buffer fosfat ini terdeteksi sebesar 3,14 mg ekuivalen asam askorbat/100 g ekstrak pada konsentrasi 10 mg/mL. ABSTRACTPhycoerythrin is a pigment from red seaweed Halymenia sp., with antioxidant activity which is prospective in nutraceutical development. There are several solvents that could be used in the extraction of phycoerythrin. However, the use of inappropriate solvents may impact the yield, purity, and bioactivity of phycoerythrin extract. Therefore, this study aimed to obtain the type of solvent and the duration of extraction (with maceration technique) to produce the highest yield, purity, and antioxidant activity of phycoerythrin extract. Extraction was carried out using three types of solvents (aquabidest, phosphate buffer pH 6.8, and acetone 80%) with variations in extraction time (24, 48, 72, and 96 hours). Spectrophotometric Ultraviolet-Visible (UV-Vis) was used to identify the phycoerythrin, and Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) was applied to analyze the antioxidant activity in the extract. The results showed that there were differences in the amount of extract yield (w/w fresh) from three solvents, which was 1.77% (aquabidest), 0.91% (acetone 80%), and 2.91% (phosphate buffer pH 6.8). Moreover, extraction duration was also affecting the amount of yield, which was1.78% (24 hours), 1.51% mg/mL (48 hours), 1.37% (72 hours), and 1.43% (96 hours). These results indicated that the phosphate buffer solvent with a 24-hour extraction duration was the best method to get the highest yield of phycoerythrin from the red seaweed Halymenia sp. The antioxidant activity from the phosphate buffer extract was detected up to 3.14 mg equivalent ascorbic acid /100 g extract at a concentration of 10 mg/mL.
Cover Belakang JPBKP Vol. 9 No. 2 Cover Belakang JPBKP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.348

Abstract

Preface JPBKP Vol. 15 No. 2 Tahun 2020 Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi KP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i2.727

Abstract

Kualitas Tuna Kaleng dari Perairan Aceh yang Disterilisasi dengan Pressure Canner Sri Haryani Anwar; Rosa Wildatul Hifdha; Syarifah Rohaya; Hafidh Hasan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i1.705

Abstract

Ikan tuna termasuk komoditi yang mudah rusak sehingga perlu diolah untuk memperpanjang umur simpan, salah satu caranya dengan pengalengan. Penelitian tentang pengalengan tuna dari perairan Aceh belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kualitas tuna kaleng yang disterilisasi menggunakan alat pressure canner berkapasitas 24L dengan memvariasikan suhu dan lama sterilisasi (suhu 121°C selama 20 menit dan suhu 115°C selama 50 menit) serta jenis medium (larutan garam dan minyak kelapa sawit). Ikan tuna yang dikalengkan diperoleh dari perairan Aceh. Parameter kualitas bahan baku yang diuji pada tuna segar adalah kadar histamin, angka lempeng total (ALT), dan pH. Sementara itu, parameter kualitas yang diuji pada tuna kaleng adalah ALT, pH, kandungan logam berat (timbal dan merkuri), serta tingkat penerimaan konsumen melalui uji organoleptik (hedonik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ALT tuna kaleng pada semua perlakuan <1x101 koloni/g, sedangkan kandungan timbal (Pb) <0,0001 mg/kg, dan merkuri (Hg) berkisar antara 0,29-0,58 mg/kg. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa panelis secara umum dapat menerima kedua jenis produk tuna kaleng, namun panelis lebih menyukai rasa tuna kaleng dalam larutan garam serta warna tuna kaleng dalam minyak kelapa sawit. Hasil penelitian ini menyarankan pengalengan tuna sebaiknya dilakukan pada suhu 121°C selama 20 menit.ABSTRACTTuna is a perishable commodity thus it needs to be preserved to prolong its shelf life. The Canning process is one of the solutions to increase tuna shelf life at room temperature. Research on the tuna canning processes from Aceh waters has never been reported. Therefore, this research aimed to investigate the quality of canned tuna which was sterilized using a 24L pressure canner with varying the temperature and duration of sterilization (121°C for 20 minutes and 115°C for 50 minutes) and the type of medium (brine and palm oil). The fresh tuna used for canning was caught from Aceh water. The quality parameters evaluated for fresh tuna were histamine levels, total plate count (TPC), and pH. Meanwhile, the parameters tested on the quality of the canned tuna were TPC, pH value, heavy metals lead (Pb) and mercury (Hg) contamination, and levels of consumer acceptance through organoleptic tests (hedonic). The results indicated that the TPC values for all canned tuna were <1x101 cfu/g, the metal contaminations were <0.0001 mg/kg for Pb, and in the range of 0.29-0.58 mg/kg for Hg. The hedonic tests proved that although all the panelists accepted these two types of canned tuna, they prefer the taste of canned tuna in a salt solution and the color of canned tuna in palm oil. This research suggests that the sterilization process for canned tuna using a 24L pressure canner should be carried out at 121°C for 20 min.
Pemanfaatan Tepung Rumput Laut Gracilaria sp. pada Tempe sebagai Alternatif Pangan Sumber Yodium Monikasari, Ni Nyoman Trisa; Wayan Gunam, Ida Bagus; Wisaniyasa, Ni Wayan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i1.689

Abstract

Tempe merupakan produk pangan bergizi tinggi yang digemari dan diterima oleh masyarakat luas, tetapi umumnya memiliki kadar yodium yang rendah. Rumput laut yang kandungan yodiumnya cukup tinggi dapat digunakan sebagai bahan fortifikasi yodium pada makanan. Penambahan rumput laut pada tempe diharapkan dapat menjadi alternatif pangan sumber yodium untuk menanggulangi masalah GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung rumput laut Gracilaria sp. terhadap kadar yodium pada tempe serta mengetahui karakteristik yang dihasilkan. Perlakuan yang dilakukan adalah perbandingan kedelai dan tepung rumput laut 100:0; 97,5:2,5; 95:5; 92,5:7,5; dan 90:10. Perbandingan kedelai dan tepung rumput laut 92,5:7,5 merupakan komposisi terbaik yang menghasilkan tempe dengan kadar yodium 0,26 mg/g; nilai sensoris hedonik rata-rata 5 (agak suka), serta 100 gram tempe tersebut memenuhi 17,47% angka kecukupan gizi (AKG) yodium orang dewasa per hari. Studi ini menunjukkan bahwa tempe tersebut dapat digolongkan sebagai pangan sumber yodium karena telah memenuhi 15% AKG orang dewasa.ABSTRACTTempeh is a highly nutritious food that is popular and accepted by diverse community groups, but has low iodine levels. Seaweed, with a high iodine content can be used as a fortification ingredient to increase the iodine levels of the foods. The addition of seaweed in tempeh is expected to be used as an alternative food source of iodine contents to overcome the IDD (Iodine Deficiency Disorders) problem. This study aimed to determine the effect of the addition of Gracilaria sp. seaweed flour to iodine levels in tempeh and to determine the characteristic of the product. The treatments were 5 (five) compositions of soybean and seaweed flour at ratio of (100:0), (97.5:2.5), (95:5), (92.5:7.5), and (90:10). The composition of soybean and seaweed flour at ratio of 92.5:7.5 was the best composition that produces tempeh with an iodine content of 0.26 mg/g; hedonic sensory test results on average 5 (somewhat like) and 100 g of tempeh met 17.47% of the daily iodine requirements for the adults. This study showed that tempeh can be considered as an alternative food source of iodine content as it contributed to 15% of adult’s daily nutritional adequacy.
Optimasi Hidrolisis Mikrobiologi serta Bioaktivitas Antibakteri, Antioksidan, dan Antikoagulan Hidrolisat Ulva lactuca Putri, Ryana Tammi; Hardjito, Linawati; Santoso, Joko
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i2.657

Abstract

Ulvan dalam hidrolisat Ulva lactuca merupakan senyawa bioaktif yang potensial di bidang biofarmakologi. Proses hidrolisis untuk memperoleh golongan senyawa ini dapat dilakukan secara kimiawi atau mikrobiologi. Proses mikrobiologi merupakan teknik yang potensial karena lebih mudah dan berbiaya rendah dibanding metode kimiawi. Namun, penelitian yang menggunakan teknik hidrolisis mikrobiologi masih sangat terbatas, terutama terhadap U. lactuca. Oleh karena itu, optimasi diperlukan agar mendapatkan teknik dengan hasil rendemen hidrolisat yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi proses hidrolisis secara mikrobiologi dan menelaah aktivitas biologis ekstrak hidrolisatnya. Proses hidrolisis mikrobiologi dilakukan dengan teknik padat dan cair menggunakan kapang endofit dari tanaman Enhalus dan isolat bakteri laut dari rumput laut Eucheuma cottonii. Teknik mikrobiologis ini juga dibandingkan dengan teknik kimiawi (HCl). Optimasi dilakukan terhadap variabel durasi waktu (3, 6, 9, dan 12 hari) hidrolisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen metode hidrolisis cair menggunakan bantuan kapang endofit dari tanaman Enhalus (51,67%) dan isolat bakteri laut dari rumput laut E. cottonii (52,67%), lebih tinggi dan berbeda secara signifikan (p<0,05) dibandingkan teknik kimiawi (37,02%). Waktu hidrolisis terbaik yang ditemukan adalah selama tiga hari. Sementara itu, karakterisasi bioaktivitas menunjukkan bahwa hidrolisat U. lactuca memiliki potensi sebagai bahan aktif antikoagulan, tanpa adanya aktivitas sebagai antioksidan (IC50>200 ppm) maupun antibakteri (menghambat 36% Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeroginosa).ABSTRACTThe Ulvan in Ulva lactuca hydrolysate is a potential bioactive compound in the biopharmacology field. The hydrolysis process to obtain this class of compounds can be done in various ways, both chemically and microbiologically. The microbiological process is a potential technique because it is easier and cheaper than the chemical method. However, studies conducted with the microbiology hydrolysis technique are still very limited, especially for U. lactuca. Thus, optimation is needed to reveal an appropriate technique that produces the maximum yield. This study aimed to optimize the microbiological hydrolysis process and identify the biological activity of the hydrolyzed extract. The microbiological hydrolysis process was performed by solid and liquid techniques using microbial endophytic fungi from Enhalus plants and marine bacteria isolated from Eucheuma cottonii. The microbiology technique was compared with chemical techniques (HCl). Optimization was also carried out on the variable of hydrolysis duration (3, 6, 9, and 12 days). The results showed that yield of liquid hydrolysis method using the microbial endophytic fungi from Enhalus plants (51.67%) and marine bacteria isolated from E. cottonii (52.67%), were higher and significantly different (p<0.05) than that of chemical techniques (37.02%). Moreover, the best hydrolysis duration was found in three days. Meanwhile, bioactivity testing showed that the hydrolysate was a potent anticoagulant agent, but not prospective as antioxidant (IC50>200 ppm) or antibacterial agent (36% Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeroginosa inhibition).

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue