cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Pupuk Cair dari Rumput Laut Eucheuma cottonii, Sargassum sp. dan Gracilaria sp. Menggunakan Proses Pengomposan Assadad, Luthfi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i1.100

Abstract

Pembuatan pupuk organik cair berbahan dasar rumput laut untuk mendapatkan pupuk yang kaya kandungan hormon pemacu tumbuh (HPT) telah dilakukan dengan teknik pengomposan. Tiga jenis rumput laut segar yaitu: Eucheuma cottonii, Sargassum sp. dan Gracilaria sp. dikompos (semi-anaerob) selama 30 hari menggunakan drum komposter, dengan ditambahkan bakteri starter komersial dan ikan rucah untuk mempercepat proses penguraian serta menambah unsur hara pupuk cair yang dihasilkan. Pupuk cair (lindi) yang dihasilkan kemudian dianalisis senyawa HPT-nya, meliputi: auksin, giberelin dan sitokinin, serta unsur hara makro dan mikronya. Selanjutnya, pupuk cair diujicobakan terhadap tanaman terung (Solanum melongena) dan tomat (Lycopercisum esculentum). Pupuk organik cair (lindi) hasil proses pengomposan terbukti mengandung senyawa HPT yang tinggi, yaitu: auksin (144–1128 ppm), giberelin (130–1552 ppm), dan sitokinin yang terdiri dari kinetin (58–65 ppm) dan zeatin (65–86 ppm). Sedangkan masing-masing kandungan tertinggi dari senyawa tersebut berturut-turut didapatkan dari rumput laut yang berasal dari E.cottonii, Gracilaria sp. dan Sargassum sp. Jumlah kandungan HPT tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah yang terkandung dalam pupuk cair rumput laut komersial, namun unsur hara makro dan mikro yang terkandung masih lebih rendah dari standar pupuk cair organik yang dipersyaratkan. Ujicoba pupuk cair terhadap tanaman terung dan tomat menunjukkan pertumbuhan tanaman yang lebih cepat dibandingkan kontrol.
Penelitian mengenai Keberadaan Biotoksin pada Biota dan Lingkungan Perairan Teluk Jakarta. Mulyasari Mulyasari; Rosmawaty. Peranginangin.; Th. Dwi. Suryaningrum.; Abdul. Sari.
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i5.465

Abstract

           Penelitian dilakukan di perairan pantai Teluk Jakarta yaitu sekitar Muara Angke, Muara Dadap, Cilincing dan Tanjung Pasir. Untuk mengetahui kadar biotoksin seperti paralytic shellfish poison­ing (PSP) dan diarrhetic shellfish poisoning (DSP) pada biota laut, dilakukan bioassay dan analisis HPLC. Parameter pendukung yang diamati adalah kondisi fisik seperti suhu, salinitas, pH, kecepatan dan arah arus, kecerahan dan kedalaman laut, nilai DO dan BOD; kandungan zat hara (nitrat, nitrit, fosfat, ammonia dan sulfur),‑ dan plankton Oenis dan kelimpahan). Pengamatan dilakukan dua kali dalam setahun yaitu bulan Mei dan Oktober 2001, pada 9 titik yaitu 1, 2 dan 3 mil dari garis pantai dan pada masing‑masing titik diambil 1 mil ke kanan dan 1 mil ke kiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan jumlah plankton ternyata dipengaruhi oleh kondisi zat hara. Jenis fitoplankton yang dominan adalah Chaetocheros. Jenis plankton yang potensial sebagai penyebab harmful algal bloom (HAB) yang terdapat di perairan Teluk Jakarta adalah dari filum dinoflagellata seperti: Ceratium, Dynophysis, Ganyaulax, dan Gymnodium. Dari filum Bacillariophyceae adalah genus Nitzchia, Chaetocheros dan Thalassiosira, sedangkan dari filum Cyanophyceae adalah genus Trichodesmium. Kandungan paralytic shellfish poisoning (PSP) dari kerang berdasarkan uji bioassay, tidak menyebabkan kematian. Contoh kerang mengandung saxitoxin sekitar 2,1‑2,3 ug/1 00 g. Kandungan okadaic acid pada kerang dan ikan karang berkisar antara 0,05‑0,1 ug/100 g. Pada ikan karang, kandungan toksin lebih banyak terdapat pada isi perut dibandingkan pada daging ikan. Namun demikian, kandungan saxitoxin dan okadaic acid pada kerang dan ikan tersebut masih dibawah ambang yang diijinkan.
Pengaruh Pencucian Daging Lumat Ikan Patin Siam terhadap Karakteristik Dendeng yang Dihasilkan Suryanti, Suryanti; Irianto, Hari Eko; Muljanah, Ijah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.428

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencucian daging lumat ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) terhadap karakteristik dendeng. Ikan patin siam hidup diberi perlakuan pemberokan selama 24 jam, kemudian dimatikan dengan cara perendaman dalam es selama ± 20 menit. Daging dipisahkan dari tulang dan kulit serta digiling hingga diperoleh daging lumat. Daging lumat diberi perlakuan pencucian satu sampai tiga kali masing-masing dalam air suhu 4-5oC dengan perbandingan 1:5 (b/v), yang dilanjutkan dengan pengepresan. Daging lumat yang diperoleh dari masing-masing perlakuan pencucian kemudian diolah menjadi dendeng dengan mencampurkan bahan tambahan gula putih, garam serta rempah-rempah seperti bawang putih (2%), bawang merah (1,5%), ketumbar (2,5%), asam jawa (3%), lengkuas (2,5%), dan jahe (0,5%). Tahap selanjutnya adalah pencetakan campuran bahan dalam loyang dan dikeringkan dengan sinar matahari selama ±15 jam. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semakin banyak perlakuan pencucian menyebabkan kandungan protein dan karbohidrat semakin kecil, dan sifat tekstur (kekuatan tarik dan elongasi) semakin besar. Dendeng berwana coklat kekuningan dengan rasa dan aroma rempah-rempah, sedangkan tekstur agak kenyal dan tidak mudah sobek. Dendeng dari perlakuan satu sampai tiga kali pencucian memiliki nilai angka lempeng total (ALT) antara <25 x 102 sampai dengan 1,6 x 104 kol/g serta tidak terdapat kapang yang tumbuh.
Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan dari Rumput Laut Halymenia harveyana dan Eucheuma cottonii Suryaningrum, Theresia Dwi; Wikanta, thamrin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i1.231

Abstract

Penelitian uji aktivitas senyawa antioksidan dari rumput laut Halymenia harveyanadanEucheuma cottoniitelah dilakukan. Aktivitas antioksidan dan uji toksisitasnya diamati terhadapekstrak kasar, fraksi n-heksana, dan fraksi metanol dari rumput laut segar dan kering, sertaidentifikasi senyawa aktif menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitasantioksidan ekstrak rumput laut segar lebih tinggi dari pada ekstrak rumput laut kering. Ekstrakfraksi metanol dari Halymenia harveyanasegar memiliki aktivitas antioksidan yang paling poten.Pada kedua jenis rumput laut tersebut, toksisitas ekstrak dari sampel kering lebih tinggidibandingk an dengan ekstrak dari rumput laut segarnya. Ekstrak Halymenia harveyanamengandung senyawa-senyawa antioksidan mirip BHT (butil hidroksi toluen), ester danhidrokarbon aromatis, demikian pula ekstrak Eucheuma cottoniibanyak mengandung antioksidan tetapi mempunyai toksisitas yang tinggi terhadap Artemia salina.
Kandungan Fukosantin dan Fenolik Total pada Rumput Laut Coklat Padina australis yang Dikeringkan dengan Sinar Matahari Muhammad Nursid; Dedi Noviendri
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.341

Abstract

AbstrakRumput laut cokelat Padina australis dikenal memiliki kandungan fukosantin dan fenolik total yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fukosantin dan fenolik total serta aktivitas antioksidan P. australis yang dikeringkan dengan sinar matahari. Rumput laut cokelat diambil dari Pantai Binuangeun, Lebak, Banten, Indonesia lalu dikeringkan selama 0, 1, 2, 3 dan 4 hari.  Kandungan fukosantin dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) sedangkan kandungan fenolik total diukur dengan menggunakan  metode Folin-Ciocalteau. Uji antioksidan dilakukan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kandungan fukosantin pada rumput laut P. australis semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu pengeringan sedangkan kandungan fenolik total pada hari ke 1, 2 dan 3 tidak menunjukkan perbedaan tetapi pada hari ke 4 kandungannya menurun tajam. Kandungan fukosantin dan fenolik total tersebut jauh di bawah kandungan fukosantin dan fenolik yang berasal dari rumput laut segar. Hasil uji DPPH memperlihatkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut semakin menurun dengan bertambahnya waktu pengeringan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fukosantin dan fenolik merupakan faktor yang menentukan aktivitas antioksidan. Fucoxanthin and Total Phenolic Content of  Padina  australis Brown Algae after Sun Drying ProcessAbstractThe brown algae  Padina  australis is known to have high fucoxanthin and phenolic content. This study aimed to investigate fucoxanthin and polyphenol content as well as antioxidant activity of  P. australis after sun drying process. The brown algae was collected from Binuangeun beach, Lebak, Banten, Indonesia and sun dried for 0 (fresh), 1,2,3 and 4 days. Fucoxanthin content was analyzed by using High Performance Liquid Chromatography (HPLC) whereas total phenolic content was measured by Folin-Ciocalteau method. Antioxidant activity was determined by 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method. The results of study showed that fucoxanthin content decreased in line with drying time, while total phenolic content showed no difference on 1st, 2nd and 3rd day but on 4th day it decreased sharply. It was found that fucoxanthin and phenolic content of dried seaweeds decreased as compare to fresh seaweed. The results of DPPH assay showed that the antioxidant activity of seaweed extract decreased with the increasing of the drying time. This research revealed that fucoxanthin and phenolic were significant factor that determining antioxidant activity.
PERBAIKAN VISKOSITAS ALGINAT DARI Sargassum filipendula DAN Turbinaria decurens MENGGUNAKAN CaC03 DAN LOCUST BEAN GUM (LBG) Subaryono, Subaryono; Peranginangin, Rosmawaty
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i2.445

Abstract

Penelitian untuk meningkatkan viskositas alginat dari Sargassum filipendula dan Turbinaria decurens telah dilakukan dengan menggunakan bahanbakurumput laut dari Perairan Binuangeun, Provinsi Banten. Peningkatan viskositas alginat dari kedua jenis rurnput laut yang umurnnya rendah, dilakukan dengan pembentukan ikatan silang menggunakan ion Ca² sebagai jembatan penghubung dan interaksinya dengan locust bean gum (LBG). Pembentukan ikatan silang antar molekul alginat dilakukan dengan penambahan CaC03 sebagai sumber ion Ca². Konsentrasi CaCO3 yang digunakan divariasi 2,5; 3,5; dan 4,5; mM. Sebagai pembanding digunakan alginat kontrol tanpa penambahan CaCO3. Penarnbahan LBG dilakukan pada konsentrasi CaCO3 terpilih yaitu 3,5 mM. Penambahan LBG divariasi 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 g/100 g alginat. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Data dianalisis dengan uji sidik ragam dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penarnbahan CaC03 berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan viskositas alginat. Viskositas alginat dari S. filipendula dan T decurens meningkat masing-masing dari 108 cP menjadi 274 cP dan 72 cP menjadi 111 cP pada penambahan CaCO3 3,5 mM. Locust bean gum (LBG) mempunyai efek sinergis dalarn meningkatkan viskositas alginat. Viskositas alginat dari S. filipendula dan T decurens meningkat masing-masing menjadi 556 cP dan 238 cP pada penambahan LBG 30 g/100 g alginat. Penambahan CaCO3 dan LBG tidak hanya meningkatkan viskositas alginat tetapi juga meningkatkan stabilitas viskositas alginat terhadap pengaruh panas.
Kualitas Karaginan dari Rumput Laut Kappaphycus alvarezii pada Lokasi Berbeda di Perairan Maluku Tenggara Bayu Kumayanjati; Rany Dwimayasanti
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i1.490

Abstract

AbstrakRumput laut jenis Kappaphycus alvarezii merupakan jenis rumput laut yang dibudidayakan di Maluku Tenggara. Rumput laut jenis ini merupakan rumput laut penghasil karaginan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas karaginan dari rumput laut K. alvarezii yang dibudidayakan di tiga lokasi di Maluku Tenggara, yaitu Letman, Letvuan dan Revav. Kualitas karaginan yang diamati antara lain rendemen, kadar air, kadar abu, viskositas, gel strength, dan derajat putih. Rumput laut diekstrak dengan metode perlakuan alkali dengan larutan NaOH 9%. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan program statistik IBM SPSS Statistics 24 untuk mengetahui perbedaan kualitas karaginan dari tiga lokasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas karaginan dari tiga lokasi berbeda nyata (<0,05) untuk semua parameter. Karaginan dari rumput laut Letvuan memiliki nilai rendemen dan gel strength terbaik dibandingkan rumput laut Letman dan Revav, yaitu 43,25% untuk rendemen dan 207,50 g/cm2 untuk gel strength. Karaginan dari rumput laut Revav memiliki nilai viskositas terbaik yaitu sebesar 54,39 cP. Karaginan dari rumput laut Letman memiliki kenampakan terbaik dibandingkan dengan Letvuan dan Revav dengan nilai derajat putih sebesar 68,22%. Berdasarkan hasil pengujian, maka hanya karaginan dari lokasi Revav yang memenuhi standar kualitas FAO.The Quality of Carrageenan  from  Kappaphycus  alvarezii at Different Locations in Southeast Maluku WatersAbstractKappaphycus alvarezii is one of the seaweed species (red alga) cultivated in Southeast Maluku. This seaweed species produces carrageenan. The aim of this research was to determine the carrageenan qualities from K. alvarezii that was cultivated at three different locations in Southeast Maluku, which were Letman, Letvuan, and Revav. Carrageenan qualities observed in this reasearch were yield, moisture content, ash content, viscosity, gel strength and whiteness. The seaweed was extracted by alkaline treatment method with 9% NaOH solution. The data obtained were analyzed with IBM SPSS Statistics 24 to determine the differences of carrageenan qualities from those three locations. The results showed that the carrageenan from the three locations was significantly different (<0.05) for all parameters. Carrageenan from Letvuan seaweed has the best value of yield and gel strength compared to that of Letman and Revav seaweed, which were 43.25% for yields and 207.50 g/cm2 for gel strength. Carrageenan from Revav seaweed has the highest viscosity values among others with values of 54.39 cP. Carrageenan from Letman seaweed had the best appearance compared to that of Letvuan and Revav seaweed, with whiteness value equal to 68.22%. Based on the quality test results, only carrageenan from Revav met the FAO quality standard.
Pemurnian Minyak Ikan Patin dari Hasil Samping Pengasapan Ikan Bandol Utomo, Bagus Sediadi; Basmal, Jamal; Hastarini, Ema
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i2.224

Abstract

Isi perut merupakan hasil samping pengasapan ikan patin (Pangasius hypophthalmus) yang jumlahnya mencapai 5-6%/hari dari jumlah ikan yang diasap. Jumlah hasil samping yang besar tersebut apabila tidak diolah dapat mencemari lingkungan. Masyarakat pengolah di Kabupaten Kampar, Riau telah mengekstraksi isi perut tersebut menjadi minyak ikan kasar dengan produksi 110 L/hari. Untuk itu diperlukan teknologi pemurnian yang dapat meningkatkan nilai ekonomi minyak ikan kasar yang ada. Penelitian ini bertujuan melakukan pemurnian minyak kasar hasil samping pengasapan ikan patin dengan menggunakan empat metode pemurnian. Masing-masing metode pemurnian tersebut memiliki perbedaan seperti konsentrasi bentonit, waktu dan suhu proses, konsentrasi NaOH pada proses netralisasi, dan penggunaan asam sitrat atau natrium klorida pada proses degumming. Bahan penelitian yang digunakan adalah dua jenis minyak ikan patin kasar yaitu hasil ekstraksi isi perut ikan patin dengan pengukusan dan hasil ekstraksi dengan pemanasan. Sebelum dan setelah dimurnikan, minyak ikan dianalisis bilangan asam lemak bebas, bilangan peroksida, bilangan iodin, warna, dan profil asam lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada minyak ikan hasil ekstraksi dengan pengukusan yang dimurnikan menggunakan metode I, terjadi penurunan nilai asam lemak bebas sebesar 50,79%; peroksida sebesar 23,75%; dan peningkatan angka iodin 20,99%. Sedangkan pada minyak ikan hasil ekstraksi dengan pemanasan yang telah dimurnikan menggunakan metode II terjadi penurunan nilai asam lemak bebas sebesar 50,30%; peroksida 49,77%; dan peningkatan angka iodin 30,92% Pemurnian minyak ikan patin terbaik dihasilkan dari minyak hasil ekstraksi dengan pengukusan yang dimurnikan dengan metode I dan minyak hasil ekstraksi dengan pemanasan yang dimurnikan dengan metode II karena telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh International Association of Fish Meal Manufactures, International Fish Oil Standard, dan standar farmakope Indonesia sebagai minyak ikan mutu pangan.
Kajian Fisiologis Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) pada Suhu Dingin Sebagai Dasar untuk Penanganan dan Transportasi Hidup Sistem Kering Ikasari, Diah; syamdidi, syamdidi; Suryaningrum, Theresia Dwi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i1.9

Abstract

ABSTRAKKajian terhadap sifat fisiologis lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) pada suhu dingin telah dilakukan. Kajian ini bertujuan untuk menentukan metode dan waktu shock sebagai dasar untuk penanganan dan transportasi lobster hidup sistem kering. Penelitian dilakukan dengan menempatkan lobster pada media air yang bersuhu 12°C (shock secara langsung) dan pada media air yang suhunya diturunkan secara bertahap (shock secara bertahap) dari suhu lingkungan (28–29°C) hingga 12°C selama 30 menit. Pengamatan dilakukan setiap 15 menit selama 60 menit terhadap aktivitas dan metabolisme, dengan mengukur nilai respirasi dan produksi metabolit lobster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan metode shock secara langsung, aktivitas dan metabolisme lobster air tawar terendah terjadi pada menit ke-45 dengan tingkat respirasi 81,2 ppm O2/kg ikan/jam, produksi NH3 sebesar 1,29 ppm/kg ikan/jam, dan NO2 sebesar 0,036 ppm/kg ikan/jam. Adapun dengan metode shock secara bertahap, aktivitas dan metabolisme lobster air tawar terendah diperoleh pada menit ke-30 dengan tingkat respirasi 58,5 ppm O2/kg ikan/jam, produksi NH3 sebesar 0,76 ppm/kg ikan/jam, dan NO2 sebesar 0,092 ppm/kg ikan/jam. Metode shock secara langsung selama 45 menit dan metode shock secara bertahap selama 30 menit berpeluang untuk digunakan dalam penanganan dan transportasi lobster air tawar hidup.
Disain dan Kinerja Sistem Air Laut yang Direfrigerasi (ALREF) untuk Penampung Ikan pada Kapal Nelayan 10-15 GT Tri Nugroho Widianto; Ahmat Fauzi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i2.517

Abstract

AbstrakSistem ALREF (air laut yang direfrigerasi) untuk penyimpanan ikan pada kapal 10-15 GT telah didisain dan diuji. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan: penentuan kriteria disain, pembuatan konsep dan analisis disain, konstruksi dan pengujian. Kriteria disain ditentukan berdasarkan referensi kapal 10-15 GT di Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng Gunung Kidul, Yogyakarta. Bak penyimpan ikan dilengkapi pendingin sistem kompresi uap yang terdiri dari komponen utama berupa evaporator, kondensor, kompresor, palka, refrigerant dan katup ekspansi. Palka terbuat dari fiberglass dengan volume palka sekitar 2,03 m3. Palka menggunakan insulator stirofoam high density (densitas sekitar 34 kg/m3). Evaporator terbuat dari pipa tembaga dengan panjang 84 m, diameter 5/8 inchi dan tebal pipa 1,6 mm. Kondensor yang digunakan adalah Alfalaval McDEW 25 menggunakan sistem shell and tube, sedangkan kompresor yang digunakan adalah Blitzer Tipe LH IVY dengan refrigerant R-22. Hasil uji kinerja dengan beban air laut menunjukkan bahwa suhu air laut mencapai kisaran -0,8 sampai -0,4 oC selama 8,5 jam. Kebutuhan daya listrik sistem pendingin sebesar 2 kW. Uji kinerja dengan beban ikan selama 5 hari menunjukkan bahwa suhu ikan turun dari 27,8 oC menjadi berkisar -0,1 sampai -1 oC setelah 12 jam dan dapat dipertahankan selama pengujian.Design and Performance of Refrigerated Sea Water (RSW) for Fish Hold on 10-15 GT Fishing VesselsAbstractRefrigerated sea water (RSW) system for fish on 10-15 GT fishing vessels had been designed and studied. This study was carried out through defining the design criteria, defining the concept and analyzing the design, manufacturing and testing the performance. Design criteria was determined using references of 10-15 GT fishing vessel used in Sadeng Port of Gunung Kidul, Yogyakarta. The RSW used  vapor compression refrigeration system that consists of evaporator, condenser, compressor, fish storage tank, refrigerant and expansion valve. Fish storage tank was made of fiberglass with a volume of about 2.03 m3 using a high density styrofoam insulator (density of 34 kg/m3). Evaporator used copper pipe with length of 84 m, pipe diameter of 5/8 inch and pipe thickness of 1,6 mm. Condenser used was Alfalaval McDEW 25 with shell and tube system, while the compressor used was Blitzer Type LH IVY with refrigerant R-22. The performance test of the RSW loaded with sea water showed that the temperature of sea water reached in the range of - 0.8 to -0.4 oC for 8.5 hours. Electrical power consumption of cooling units was 2 kW. The performance test of the RSW loaded with fish showed that fish temperature dropped  from  27.8 oC to the range of -0,1 to -1 oC after 12 hours and could be maintained during testing.

Page 9 of 41 | Total Record : 403


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue