cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Uji Coba Peti Ikan Segar Berpendingin untuk Pedagang Ikan Keliling Tri Nugroho Widianto; Wawan Hermawan; Bagus Sediadi Bandol Utomo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.111

Abstract

Uji coba peti ikan segar berpendingin untuk pedagang ikan keliling telah dilakukan. Percobaan diawali dengan pengamatan suhu ruang peti ikan dalam kondisi kosong (tanpa ikan) yang dilakukan tiap 10 menit selama 2 jam. Percobaan berikutnya dilakukan dengan cara pengamatan terhadap proses penjualan ikan menggunakan peti berpendingin oleh pedagang keliling selama 3 hingga 4 jam. Suhu ikan diukur tiap 10 menit, sedangkan mutu kesegaran ikan diamati pada awal dan akhir percobaan. Hasil uji coba peti dalam kondisi kosong menunjukkan bahwa suhu dapat mencapai 11,1–15,5 °C. Setelah diisi 30 kg ikan yang telah didinginkan hingga 0–1 °C dan dilakukan praktek penjualan ikan eceran selama 3–3,8 jam, suhu ikan mencapai sekitar 3 °C dengan nilai mutu organoleptik dan jumlah bakteri yang hampir tidak berubah. Dapat dikatakan bahwa peti ikan berpendingin mampu mempertahankan suhu dan mutu kesegaran ikan selama proses penjualan ikan eceran oleh pedagang ikan keliling.
Perkembangan Produksi Histamin Ikan Peda pada Penyimpanan dengan Cara Berbeda. Ninoek Indriati; Suwarno T Sukarto; Sinta Utiya Syah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i4.478

Abstract

            Penelitian tentang perkembangan histamin pada ikan peda selama penyimpanan telah dilakukan. Bahan baku peda yaitu ikan kembung (Rastrelliger neglectus) diperoleh dari TPI Pekalongan. Pada pengolahan peda, ikan dicuci bersih (tanpa disiangi), digarami dengan perbandingan 1:1 selama semalam, setelah itu dicud bersih dan dijemur selama 7‑8 jam, kemudian dikemas dalam kotak kayu yang dilapisi kertas semen. Setelah 3 minggu kotak dibuka, ikan dibagi menjadi 3 bagian dan disimpan dengan cara yang berbeda yaitu: dikeringkan lagi kemudian disimpan pada suhu kamar; tidak dikeringkan kemudian disimpan pada suhu kamar; tidak dikeringkan kemudian disimpan pada suhu dingin (5‑10 derajad Celcius). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan histamin tertinggi terdapat pada ikan peda yang disimpan pada suhu kamar tanpa dikeringkan dan terendah pada ikan peda yang disimpan pada suhu dingin tanpa dikeringkan. Kandungan histamin ikan peda selama penyimpanan berkisar antara 3,1‑25,9 mg%.
UJI UNJUK KERJA EVAPORATOR TIPE FALLING FILM EFEK TUNGGAL UNTUK PEMEKATAN GELATIN IKAN Harianto, Harianto; Tazwir, Tazwir; Peranginangin, Rosmawaty
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i2.440

Abstract

Pengujian unjuk kerja telah dilakukan pada prototipe evaporator tipe lapisan tipis jatuh (falling film) efek tunggal untuk memekatkan larutan gelatin yang dibuat dari kulit ikan tuna. Bahan pengujian adalah larutan gelatin sebanyak 180 liter dengan padatan total awal 3,5% kamudian dipekatkan dalam evaporator dengan laju air masuk 84 liter/jam. Evaporator ini dioperasikan pada tekanan vakum sekitar 2,5 cmHg pada suhu penguapan bahan 55ºC dari sumber panas uap (steam boiler) dengan tekanan 2,5-4,0 kg/cm². Rata-rata suhu bahan yang masuk ke evaporator adalah 32ºC. Larutan yang telah melalui permukaan evaporasi dikembalikan lagi ke tangki umpan dan dievaporasikan lagi secara berulang-ulang (sirkulasi) sampai larutan menjadi kental yang tampak seperti madu. Akhir evaporasi manghasilkan volume produk sebanyak 30 liter dengan padatan total 9,1% yang diselesaikan dalam waktu 5 jam. Dengan demikian kapasitas evaporator ini adalah 30 liter air teruapkan per jam dan tingkat ekonomi uap adalah 0,78 liter air teruapkan dari bahan per kg uap pemanas yang digunakan. Luas permukaan evaporasi dari evaporator ini adalah 1,67 m², dengan menggunakan persamaan pindah panas dan neraca entalpi didapatkan koefisien pindah panas keseluruhan sebesar 668 W/m² ºC. Konsumsi bahan bakar dari evaporator ini adalah 3,58 liter/jam atau 0,12 liter minyak tanah per liter air teruapkan sehingga efisiensi energi bahan bakar evaporator ini sebesar 60%. Konsumsi energi listrik pada pengujian ini 34,7 kWh, dengan demikian efisiensi energi keseluruhan dari evaporator ini action 50%.
Preparasi Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) pada Proses Pemisahan Daging Menggunakan Meat Bone Separator Wullandari, Putri
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i1.247

Abstract

Untuk mendapatkan cara pemisahan daging ikan yang efektif menggunakan meat bone separator, dilakukan preparasi terhadap ikan sebelum dimasukan ke dalam mesin, yaitu: utuh, disayat, dan dibelah. Selain itu, dilakukan juga simulasi pengepresan terhadap ikan menggunakan Texture Analyzer, meniru proses pemisahan daging ikan di antara sabuk penekan dan permukaan silinder berpori pada mesin. Hasil uji menunjukkan bahwa kekerasan ikan dipengaruhi oleh jenis preparasi, dengan nilai tertinggi ikan utuh, kemudian diikuti dengan ikan yang disayat dan dibelah.  Jenis preparasi dan kekerasan ikan juga turut mempengaruhi lamanya waktu proses pemisahan, rendemen, serta kualitas daging lumat yang dihasilkan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa secara umum, teknik preparasi terbaik yaitu dengan cara disayat, dengan waktu proses pemisahan tercepat (11,35 kg/jam), jumlah rendemen yang tinggi (67,5%), serta kadar abu yang merepresentasikan kandungan tulang yang terikut dalam daging paling rendah (0,82% WB). Selain itu, pada preparasi ikan yang disayat juga memberikan karakteristik fish-gel yang terbaik untuk nilai kekerasan 1.295 g, chewiness 684, dan gumminess 576.
Kandungan Nutrisi, Aktivitas Penghambatan ACE dan Antioksidan Hemibagrus nemurus Asal Waduk Cirata, Jawa Barat, Indonesia Rini Susilowati; Diini Fithriani; Sugiyono Sugiyono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.355

Abstract

AbstrakKandungan nutrisi dan aktivitas biologis ikan baung (Hemibagrus nemurus) ditentukan oleh kondisi lingkungan dan ketersediaan sumber makanannya. Ikan baung yang dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sumber protein dapat ditemukan di habitat aslinya dan lingkungan budidaya dalam karamba jaring apung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan nutrisi dan aktivitas biologis ikan baung asal Waduk Cirata sebagai penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor) dan antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein dan kadar abu ikan baung hasil budidaya maupun alam tidak berbeda nyata, sedangkan kadar lemak ikan baung hasil tangkapan alam jauh lebih tinggi dibanding kadar lemak hasil budidaya. Kadar mineral makro dan mikro menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kadar K (budidaya 313,04±14,84 mg/100g; alam 457,33±7,50 mg/100g) dan Ca (budidaya 29,15±1,06 mg/100g; alam 42,13±0,85 mg/100g). Mineral mikro didominasi oleh Zn sebesar 0,42±0,04 mg/100g (budidaya) dan 0,44±0,02 mg/100g (alam). Asam amino esensial (AAE) yang dominan yaitu lisin sebesar 7,70±0,97 mg/g (budidaya) dan fenilalanin sebesar 0,80±0,26 mg/g (alam), sedangkan asam amino non esensial (AANE) yang utama pada populasi budidaya adalah alo iso-leusin sebesar 13,77±0,23 mg/g dan prolin 1,79±0,70 mg/g (alam). Rasio AAE/AANE populasi budidaya memiliki nilai sebesar 0,83 dan alam sebesar 0,54. Aktivitas biologi ikan baung menunjukkan nilai aktivitas antioksidan pada populasi budidaya sebesar 0,16±0,02 µmol Fe2+/g dan alam sebesar 0,09 µmol Fe2+/g berat kering. Sedangkan aktivitas penghambat  ACE menunjukkan nilai penghambatan pada populasi budidaya sebesar 96,18±1.37% dan alam  sebesar 88,76±1,82%. Secara umum, ikan baung dari Waduk Cirata memiliki kandungan gizi dan komposisi kimia yang bagus, begitu juga dengan bioaktivitasnya sebagai penghambat ACE, sehingga berpotensi sebagai bahan baku suplemen kesehatan, khususnya untuk suplemen penghambat ACE. Nutritional Contents, ACE Inhibitor and Antioxidant Activities of  Hemibagrus nemurusfrom Cirata Reservoir, West Java, IndonesiaAbstractThe nutritional content and biological activities of redtail catfish (Hemibagrus  nemurus) are determined by environmental condition and food sources. Redtail catfish is consumed by peoples as protein source. It can be found in their natural habitat as well as in maricultured-cage system. This study was carried out to determine the nutritional content and biological activity of redtail catfis h from Cirata Reservoir as ACE and antioxidant inhibitor. The result showed the that protein and ash contents of both populations were not significantly different, while fat content of wild population  was much higher than that of cultured. The Mineral content showed  significant difference for K content (cultured 313.04±14.84 mg/100g; wild 457.33±7.50 mg/100g) and Ca content (cultured 29.15±1.06mg/100g; wild 42.13±0.85 mg/100g). The micro minerals were dominated by Zn i.e., 0.42±0.04 mg/100 for cultured and 0.44±0.02 mg/100g for wild fish. The essential amino acids (EAA) were dominated by lysine i.e., 7.70±0.97 for cultured and phenylalanine i.e., 0.80±0.26 mg/g for wild; while the major non-essential amino acids (AANE) were alo iso-leoucine i.e., 13.77±0.23 mg/g (cultured) and proline i.e., 1.79±0.70 mg/g (wild). The EAA/AANE ratio showed that the cultured population was 0.83 and wild was 0.54. The biological activity of redtail catfish showed that the cultured population had antioxidants activity value of 0.16±0.02 µmol Fe2+/g while the wild was 0,09 µmol Fe2+/g. The inhibitory activity of angiotensin in converting enzyme (ACE inhibitory) of wild population was 84.41±1.17% and cultured was 88.76±1.82%. In general redtail catfish from Cirata Reservoir had a complete nutrient content and chemical composition, as well as its bioactivity as ACE inhibitor. So that the fish is very potent for raw material of health supplement, especially for ACE inhibitor supplement
Pengaruh Konsentrasi kappa Karaginan Pada Es Krim Terhadap tingkat Kesukaan Panelis Ellya Sinurat; Rosmawaty Peranginangin; Singgih Wibowo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v2i2.451

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap es krim yang dibuat dari : gula 20%, susu kental manis 13%, santan kelapa 13%, tepung maizena 2,5%, tepung tapioka 1%, air 50%, flavor, essence dan garam secukupnya serta karaginan sebagai stabilizer dengan variasi konsentrasi 0,04; 0,05; 0,06; 0,07 dan 0,08%. Hasil uji sensori dari 25 orang panelis dengan 3 kali ulangan menunjukkan bahwa konsentrasi karaginan 0,06% paling disukai oleh panelis dengan nilai rata‑rata penerimaan umum 7,15 dalam skala hedonik 1‑9. Hasil analisis dengan metode Kruskall Wallis menunjukkan bahwa penggunaan karaginan sebagai stabilizer pada konsentrasi 0,06% menghasilkan es krim dengan rasa, tekstur dan penerimaan umum lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi yang lain.
Kajian Perubahan Parameter Sensori dengan Metode Demerit Point Score pada Penurunan Kesegaran Ikan Patin Selama Pengesan Farida Ariyani; Irma Hermana; Radestya Triwibowo; Singgih Wibowo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i1.282

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan parameter sensori pada penurunan kesegaran ikan patin (Pangasius hypopthalmus) selama pengesan menggunakan metode demerit point score (DPS). Percobaan dilakukan dengan mematikan ikan patin secara hypothermia, menyusunnya dalam kotak berinsulasi yang berisi es dengan perbandingan es : ikan = 2:1 (b/b), dan menyimpan kotak tersebut pada suhu ruang. Penggantian es yang mencair dilakukan setiap hari. Penurunan kesegaran ikan diamati secara sensori berdasarkan metode demerit point score (DPS) selama 25 hari dengan interval waktu pengamatan setiap 5 hari terhadap atribut kenampakan, mata, insang, perut, anus dan rongga perut menggunakan skala 0-3 untuk setiap parameter pada masing-masing atribut. Hasil kajian menunjukkan bahwa parameter utama yang menentukan perubahan sensori secara signifikan pada patin segar adalah kenampakan dan kekakuan pada atribut kenampakan umum, kejernihan dan bentuk pada atribut  mata, warna dan bau pada atribut  insang, bau pada atribut anus, dan stains pada atribut  rongga perut. Adapun beberapa parameter yang relevansinya rendah terhadap penilaian panelis pada penurunan kesegaran patin antara lain lendir permukaan pada atribut kenampakan umum, darah pada atribut mata, lendir pada atribut insang, kekakuan dan diskolorasi pada atribut perut, dan kondisi pada atribut anus, sedangkan parameter kulit tidak memiliki relevansi terhadap penilaian panelis pada penurunan kesegaran patin. Berdasarkan penilaian panelis terhadap semua atribut, lama penyimpanan patin segar yang dinyatakan ditolak panelis adalah 25 hari. 
Kandungan Senyawa Aktif Spirulina platensis yang Ditumbuhkan pada Media Walne dengan Konsentrasi NaNO3 Berbeda Hartoyo Notonegoro; Iriani Setyaningsih; Kustiariyah Tarman
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i2.555

Abstract

AbstrakSpirulina platensis merupakan sumber makanan organik  yang mengandung protein tinggi dengan asam amino yang seimbang. Spirulina juga memiliki kandungan senyawa aktif yaitu fikosianin dan flavonoid. Senyawa aktif tersebut pada umumnya memiliki aktivitas yang potential sebagai suplemen dan sediaan bahan aktif pada pangan fungsional. Salah satu faktor yang mempengaruhi kandungan fikosianin dan flavonoid dari mikroalga adalah nutrisi yang digunakan dalam media pertumbuhan sehingga perlu dilakukan kajian mengenai pengaruh komposisi media terhadap kandungan fikosianin dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi kandungan NaNO3 pada media pertumbuhan terhadap kandungan fikosianin dan flavonoid S. platensis; serta menentukan konsentrasi NaNO3 terbaik pada media Walne untuk menghasilkan biomassa S. platensis dengan kandungan fikosianin dan flavonoid  tertinggi. Penelitian ini terdiri dari 2 tahapan yaitu kultivasi S. platensis; dan ekstraksi fikosianin, flavonoid, dan komponen aktif lainnya. Kultur S. platensis menggunakan media Walne dengan variasi kandungan NaNO3 yaitu masing-masing sebesar 80, 100 dan 120 g selama 11 hari. Total protein dan nitrogen tertinggi diperoleh pada perlakuan 100 g NaNO3 masing-masing sebesar 44,30% dan 7,09%. Biomassa S. platensis setiap perlakuan NaNO3 mengandung flavonoid, steroid, fenol dan saponin. Konsentrasi dan rendemen fikosianin terbaik diperoleh pada perlakuan 80 g NaNO3 sebesar 1,32 mg/ml dan 32,93%.Total flavonoid ekstrak S. platensis tertinggi diperoleh pada perlakuan 80 g NaNO3 sebesar 16,56%. S. platensis terpilih adalah perlakuan NaNO3 80 g karena menghasilkan kandungan senyawa aktif flavonoid dan fikosianin tertinggi. ncentration. The Active Compounds of  Spirulina  platensis Grown on Walne Media with Different NaNO3 ConcentrationsAbstractSpirulina platensis is a source of organic foods that contain high protein with balanced amino acids. Spirulina also contains active compounds of phycocyanin and flavonoids. The active compound communly to have potential activities as supplement and functional food. One of the factors that affects the content of phycocyanin and flavonoids from microalgae is the nutrients used in growth media. So that it is necessary to study the effect of media composition on the content of phycochyanin and flavonoids. This study aimed to determine the effect of various concentrations of NaNO3 on growth media on the content of flavonoids and phycocyanin and determine the best NaNO3 concentration in Walne media that produce S. platensis biomass with the highest phycocyanin and flavonoid contents. This study was run in two steps that were cultivation of S. platensis and extraction of phycocyanin, flavonoid, and other active components. S. Platensis were cultured in Walne media with various NaNO3 concentrations that were 80, 100 and 120 g for 11 days. The highest total protein and nitrogen were obtained from 100 g NaNO3 treatment which were 44.30% and 7.09% respectively. The biomass of S. platensis for each of NaNO3 treatment contains flavonoids, steroids, phenols and saponins. The best concentration and yield of phycocyanin were obtained from the treatment of 80 g NaNO3 of 1.32 mg/ml and 32.93% respectively. The highest total flavonoids of S. platensis extract were obtained at 80 g NaNO3 treatment of 16.56%. The best treatment to grow S. platensis which produced highest active content of phycocyanin and flavoniud was gained from 80 g NaNO3 medium
Preface JPBKP Vol. 9 No. 2 Preface Preface
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.346

Abstract

Aplikasi Ekstrak Daun Sirih (Piper Betle Linn) dalam Menghambat Oksidasi Lemak Jambal Patin (Pangasius hypophthalmus) Farida Ariyani; Irianti Amin; Dedi Fardiaz; Slamet Budiyanto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i2.20

Abstract

ABSTRAKPenelitian aplikasi ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) untuk menghambat proses oksidasi jambal patin telah dilakukan. Percobaan dilakukan dengan penambahan ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) dalam larutan garam yang digunakan untuk penggaraman ikan. Perbandingan ekstrak daun sirih dan larutan garam yang digunakan adalah 1:2, 1:3, 1:4, 1:5 (v/v), sedangkan larutan garam tanpa penambahan ekstrak daun sirih digunakan sebagai kontrol. Selesai perendaman dalam campuran larutan garam dan ekstrak sirih (48 jam), patin asin dikeringkan di bawah sinar matahari selama 4–5 hari, selanjutnya disimpan pada suhu ruang (25-32oC) selama 8 minggu. Perubahan mutu jambal patin dimonitor secara organoleptik dan kimiawi (angka Thiobarbituric Acid Reactive Substances/TBARS, angka anisidin, dan produk berfluoresen), sebelum jambal patin kering disimpan dan setiap 2 minggu selama penyimpanan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun sirih pada larutan garam selama penggaraman mampu menghambat oksidasi lemak jambal patin selama penyimpanan 8 minggu tercermin dari rendahnya angka TBARS, anisidin, dan produk berfluoresen jambal patin yang diperlakukan dengan daun sirih dibanding dengan kontrol. Berdasarkan hasil uji sensori, jambal patin yang diberi ekstrak air daun sirih tidak berbau tengik, walaupun warna dan rasa jambal patin sedikit berubah. Perlakuan ekstrak sirih yang mampu menghambat oksidasi lemak jambal patin dengan nilai sensori terbaik adalah kelompok perlakuan ekstrak daun sirih dengan perbandingan 1:5 (v/v).

Page 11 of 41 | Total Record : 403


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue