cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Eboni
ISSN : 08539200     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 140 Documents
Hutan Tanaman Industri Jenis Eucalyptus sp. Sebagai Pakan Lebah Madu di Riau Avry Pribadi
Buletin Eboni Vol 13, No 2 (2016): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.269 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5083

Abstract

Pada awal berdirinya industri Hutan Tanaman Industri (HTI), jenis Acacia mangium menjadi jenis yang dominan dipilih pada tipe lahan mineral. Akan tetapi, jenis ini mulai tergantikan oleh Eucalyptus sp. dikarenakan beberapa hal yang salah satunya adalah serangan hama dan penyakit. Serupa dengan A. mangium, Eucalyptus sp. sebenarnya memiliki jasa lingkungan sebagai sumber pakan lebah madu. Tulisan ini memberikan gambaran potensi pakan lebah pada hutan tanaman Eucalyptus sp. Berbeda dengan jenis A. mangium dan A. crassicarpa yang mampu mensekresikan nektar ekstraflora mulai pada umur 3 bulan, jenis Eucalyptus sp. hanya akan mensekresikan nektar flora pada masa berbunga saja yaitu umur 2-3 tahun. Akan tetapi, keuntungan yang diperoleh adalah bunga Eucalyptus sp. tidak hanya menghasilkan nektar saja tetapi juga pakan lebah berupa pollen atau tepung sari. Kelebihan inilah yang tidak dijumpai pada jenis A. mangium dan A. crassicarpa. Jenis Eucalyptus pellita mampu menghasilkan madu sebanyak 54 kg per koloni pada musim berbunga. Sedangkan asumsi potensi nektar jenis Eucalyptus sp. di Provinsi Riau dapat mencapai 118 juta liter/hari jika pada musim bunga. Jumlah ini lebih besar dibandingkan jumlah sekresi nektar A. mangium umur 5 tahun sekalipun. Terdapat 3 jenis lebah madu yang dapat diternakkan oleh masyarakat, yaitu jenis Apis cerana, Apis mellifera, dan Trigona itama.
Potensi Pengembangan Cempedak (Artocarpus integer Merr.) pada Hutan Tanaman Rakyat Ditinjau dari Sifat Kayu dan Kegunaannya Mody Lempang; Suhartati Suhartati
Buletin Eboni Vol 10, No 2 (2013): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5091.836 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5012

Abstract

Pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) merupakan salah satu  kebijakan  Kementerian Kehutanan untuk mengelola hutan agar memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Oleh karena itu, beberapa jenis tanaman yang bersifat serbaguna perlu dipertimbangkan untuk pengembangan HTR. Salah satu jenis pohon serba guna (JPSG) yang berpotensi adalah cempedak (Artocarpus integer Merr.). Di alam liar, cempedak  ditemukan  tumbuh pada hutan primer dan sekunder, pada tanah darat atau tanah  rawa. Tumbuh pada  ketinggian  1-700 m dpl, di daerah bercurah hujan tinggi (2.500-3.000 mm/tahun) atau tipe iklim A-B. Regenerasi cempedak dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif, akan tetapi pada umumnya masih dilakukan secara generatif (menggunakan  biji) karena perbanyakan secara vegetatif (dengan cara sambungan, cangkok dan okulasi) persentase tumbuhnya rendah. Kayu cempedak berwarna kuning, tekstur agak halus, berat jenis tinggi, penyusutan sedang, tergolong kayu kelas kuat II dan kelas awet II, sifat pengerjaan agak mudah sampai sulit, dan hasil pengerjaan pada umumnya baik. Kayu cempedak dapat   digunakan sebagai bahan bangunan rumah, perahu dan bangunan di laut, mebel, kerajinan, dan bahan baku industri.  Buah cempedak bermanfaat sebagai bahan pangan. Buah muda untuk sayur, sedangkan buah matang dapat dimakan segar atau diolah. Pemasaran buah masih bersifat lokal dan volume pemasaran kayu masih rendah.
Appendix Info Teknis Eboni Vol 13 Issue 2 2016 Masrum Masrum
Buletin Eboni Vol 13, No 2 (2016): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.754 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5089

Abstract

Pentingnya Aplikasi Teknik Konservasi Air dengan Metode Struktur Fisik di Wilayah Hulu DAS M. Kudeng Sallata
Buletin Eboni Vol 14, No 1 (2017): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.979 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5095

Abstract

Telah banyak upaya konservasi, baik dalam bentuk proyek pemerintah maupun partisipasi masyarakat yang dilakukan untuk menanggulangi permasalahan banjir, longsor dan kelangkaan air, namun sampai saat ini belum dapat meredamnya, bahkan dampaknya semakin banyak menelan jiwa manusia. Teknologi yang diterapkan untuk mengurangi erosi dan aliran permukaan selama ini kurang mendapat dukungan dari para petani yang mengharapkan produksi lahan yang tinggi. Diperlukan perubahan paradigma penerapan teknologi konservasi lahan dan air pada wilayah-wilayah pertanian. Paradigma lama yaitu teknologi konservasi yang diterapkan difokuskan untuk menekan erosi dan aliran permukaan tanpa memerhatikan peningkatan produksi suatu lahan. Paradigma baru yaitu penerapan teknologi konservasi lahan yang mengutamakan peningkatan produksi lahan namun mengurangi erosi dan aliran permukaan (run off). Aplikasi kombinasi teknik konservasi air secara struktur fisik dengan vegetatif sangat mendesak dilakukan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang semakin meningkat pada wilayah DAS saat ini. Wanatani salah satu bentuk kombinasi tanaman dengan memilih tanaman yang produktif berdasarkan kebutuhan petani telah banyak dilakukan masyarakat. Pembangunan waduk, embung, dam parit secara berjenjang (cascade), sumur resapan dan biopori juga perlu dilakukan untuk menyimpan air sebagai sumber air pada musim kemarau untuk lahan pertanian. Semua jenis teknologi konservasi lahan tersebut dapat mengendalikan aliran permukaan dan erosi tanah, juga dapat meningkatkan produksi lahan untuk memenuhi kebutuhan petani.
Upaya Pengamanan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Melalui Pembangunan Desa Wisata Nur Hayati
Buletin Eboni Vol 10, No 2 (2013): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.976 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5019

Abstract

Pembangunan daerah penyangga merupakan upaya pengurangan tekanan masyarakat terhadap kawasan taman nasional, sekaligus pemecahan masalah pengentasan kemiskinan, khususnya bagi masyarakat desa hutan. Upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam melestarikan hutan baik jenis maupun manfaatnya melalui pengembangan wisata alam, penyangga kawasan konservasi, kawasan budidaya dan industri tanaman hutan yang bernilai ekonomis tinggi guna mewujudkan ketahanan pangan. Penetapan dan pengelolaan daerah penyangga menjadi sangat penting mengingat tekanan yang mengintervensi masyarakat yang kurang memahami kebijakan, kepentingan ekonomi, keterbelakangan teknologi konservasi dan permasalahan lahan yang berkembang di masyarakat sekitar kawasan. Salah satu alternatif pembangunan daerah penyangga adalah melalui pemberdayaan masyarakat dengan membentuk desa wisata di sekitar kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Back Cover Info Teknis Eboni Vol. 14 Issue 1, 2017 Masrum Masrum
Buletin Eboni Vol 14, No 1 (2017): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/buleboni.5100

Abstract

Back Cover Info Teknis Eboni Vol. 10 Issue 1, 2013 Masrum Masrum
Buletin Eboni Vol 10, No 2 (2013): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/buleboni.5024

Abstract

Karakter Isolat Rhizobia dari Tanah Bekas Tambang Nikel dalam Memanfaatkan Oksigen untuk Proses Metabolismenya Ramdana Sari; Retno Prayudyaningsih
Buletin Eboni Vol 14, No 2 (2017): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.425 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5108

Abstract

Rhizobia merupakan bakteri heterotrof yang memperoleh energi dari proses penguraian bahan makanan, seperti karbohidrat (glukosa), melalui proses respirasi sel. Umumnya Rhizobia bersifat aerob yang membutuhkan oksigen sebagai aseptor elektron dalam sintesa Adenosin triphosfat (ATP). Namun demikian uji penggunaan oksigen dari 27 isolat Rhizobia menunjukkan adanya variasi dalam penggunaan oksigen. Pengujian dilakukan dengan menumbuhkan isolat pada media Yeast Extract Mannitol Agar (YEMA). Hasil pengujian menunjukkan sebanyak 7 isolat bersifat aerob obligat yang ditandai dengan adanya akumulasi pertumbuhan sel dominan pada permukaan serta kolom media dekat dari permukaan, sebanyak 7 isolat bersifat aerob fakultatif dengan pertumbuhan sel yang merata di dalam media (ditandai dengan media keruh), dan 13 isolat lainnya bersifat mikroaerofilik dengan sel tumbuh pada kolom media dekat dari permukaan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat variasi kemampuan strain Rhizobia dalam memanfaatkan oksigen pada proses metabolismenya. Informasi mengenai sifat Rhizobia ini diperlukan dalam proses pembuatan inokulum yang akan diaplikasikan sebagai pupuk hayati pada lahan bekas tambang nikel.
Wisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) di Desa Tompobulu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Nur Hayati
Buletin Eboni Vol 11, No 1 (2014): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.256 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5032

Abstract

Keberadaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung oleh sebagian masyarakat di sekitar taman nasional dianggap membatasi ruang gerak masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya kawasan sebagai sumber mata pencaharian. Desa Tompobulu merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, sehingga di desa tersebut pernah terjadi konflik pemanfataan sumberdaya kawasan oleh masyarakat dengan pihak taman nasional. Kondisi ini menuntut adanya suatu solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan berbagai pihak. Salah satu pemanfaatan hutan secara tidak langsung di Desa Tompobulu adalah pemanfaatan jasa lingkungan hutan untuk wisata.  Desa Tompobulu memiliki banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata. Potensi wisata yang terdapat di Desa Tompobulu terdiri atas potensi fisik kawasan dan potensi sosial masyarakatnya. Dengan pengembangan wisata berbasis masyarakat, masyarakat bukan hanya sebagai objek, namun juga sebagai subjek dari kegiatan wisata tersebut. Di samping itu wisata berbasis masyarakat ini diharapkan dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, mengurangi kemiskinan, sekaligus dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemanfaatan sumberdaya kawasan hutan.
Pemungutan Getah Pinus dengan Tiga Sistem Penyadapan Mody Lempang
Buletin Eboni Vol 15, No 1 (2018): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.13 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5116

Abstract

Keberadaan tanaman pinus (Pinus merkusii) di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan mempunyai arti yang penting bagi masyarakat, karena dari tanaman ini selain menghasilkan kayu juga dapat dipungut getahnya. Bagi daerah yang berada pada ketinggian atau pegunungan, hutan pinus tidak hanya memiliki fungsi produksi (kayu dan getah) tetapi juga mempunyai fungsi lindung. Beberapa sistem penyadapan telah diuji coba untuk pemungutan getah pohon baik konvensional maupun yang modern, namun untuk pemungutan getah pinus hanya ada tiga sistem penyadapan yang telah diuji coba atau sedang diterapkan, yaitu sistem koakan, kopral, dan bor. Masing-masing sistem memiliki keunggulan dan kelemahan sehingga dalam penentuan sistem mana yang akan dipilih dan digunakan, perlu mempertimbangkan aspek teknis, ekonomis, dan kelestarian. Hasil getah pinus pada tiga sistem penyadapan dapat ditingkatkan dengan menggunakan stimulan H2SO4 15%. Penyadapan getah pada kawasan hutan lindung paling sesuai jika menerapkan sistem kopral yang tidak menyebabkan kerusakan batang pohon, sehingga kelestarian hutan pinus dapat dipertahankan. Pada penyadapan yang dilakukan di dalam kawasan hutan produksi atau pada pohon pinus yang akan disadap mati,  hasil getah dapat dimaksimalkan dengan menerapkan sistem kopral, bor, dan koakan secara bergantian dalam tiga rotasi penyadapan.