cover
Contact Name
Marselius Sampe Tondok
Contact Email
marcelius@staff.ubaya.ac.id
Phone
+622178881112
Journal Mail Official
psikologi@gunadarma.ac.id
Editorial Address
Jl. Margonda Raya, No.100, Depok, Jawa Barat. 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Psikologi
Published by Universitas Gunadarma
Jurnal Psikologi (JPUG) accepts manuscripts based on empirical research, both quantitative and qualitative. Priority is given to quantitative research of the multivariate type. Meanwhile, the Jurnal Psikologi also accepts meta-analysis or systematic review manuscripts that have advantages in terms of novelty or unique variables.
Articles 457 Documents
KESEPIAN, FEAR OF MISSING OUT DAN PERBANDINGAN SOSIAL PADA PENGGUNA INSTAGRAM Aprilia M. Ayuningsih
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.463

Abstract

Instagram merupakan salah satu media sosial yang banyak digunakan untuk berbagi momen. Namun seiring dengan perkembangannya, memunculkan kesepian secara digital yang dipengaruhi oleh kecemasan akan ketertinggalan informasi berharga dan juga adanya perbandingan sosial terhadap konten yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji fear of missing out dan perbandingan sosial terhadap kesepian pada pengguna instagram. Penelitian ini melibatkan 209 pengguna instagram. yang berusia 18 – 34 tahun. Alat ukur pada penelitian ini mengacu pada teori Russell (1996) untuk mengukur kesepian, Skala fear of missing out berdasarkan teori aspek Przybylski dkk, (2013) dan Iowa Netherland Comparison Measure yang dikembangkan oleh Festinger (1954). Berdasarkan hasil analisis, hipotesis yang diajukan diterima yang berarti ada pengaruh yang sangat signifikan dari fear of missing out dan perbandingan sosial terhadap kesepian dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,01). Hasil menunjukkan fear of missing out meningkatkan kesepian secara signifikan dan perbandingan sosial secara signifikan meningkatkan kesepian.
WORK-FAMILY CONFLICT DAN WORK ENGAGEMENT PADA PERSONEL WANITA TNI Vallysha; Maria Chrisnatalia
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.464

Abstract

Ketidakseimbangan peran ganda banyak dijalankan oleh para wanita. Hal ini dapat menyebabkan work-family conflict, akibat dari banyaknya tanggung jawab yang dijalankan. Work-family conflict menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi work engagement terutama bagi para wanita yang bekerja hal ini juga terjadi pada srikandi angkatan bersenjata. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris kontribusi work-family conflict terhadap work engagement pada TNI wanita. Sampel penelitian ini dipilih berdasarkan metode non-probability jenis purposive sampling dengan karakteristik seorang anggota TNI Wanita aktif, telah/sudah menikah, tinggal bersama keluarga, bekerja/berdinas di kantor, sudah memiliki atau belum memiliki anak. Untuk pengukuran menggunakan skala Work-family conflict Scale (WFCS) dan skala Utrecht Work Engagement Scale (UWES 9). Teknik analisis data yang digunakan adalah Teknik regresi linear sederhana multidimensi diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.001 (p<0.01) dengan nilai R square sebesar 0.097. Hasil kategori mean empirik variabel work-family conflict terhadap work engagement berada pada kategori rendah. Dengan demikian, hipotesis penelitian ini diterima, artinya terdapat kontribusi yang signifikan antara work-family conflict terhadap work engagement dan terdapat peran variabel work-family conflict terhadap work engagement sebesar 9,7%.
WELAS ASIH DIRI DAN KESEPIAN PADA REMAJA BERSTATUS ANAK TUNGGAL Yuki Amanda; Argita M. Fauzi
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.465

Abstract

Remaja yang tumbuh sebagai anak tunggal berpotensi lebih rentan merasakan kesepian karena tidak memiliki saudara kandung yang dapat menjadi teman berinteraksi dan berbagi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Salah satu faktor psikologis yang diperkirakan dapat membantu menekan perasaan kesepian tersebut adalah welas asih diri, yaitu kemampuan individu untuk bersikap penuh penerimaan, pengertian, dan kebaikan terhadap diri sendiri ketika menghadapi kesulitan atau menyadari keterbatasan yang dimiliki. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh welas asih diri terhadap kesepian pada remaja yang berstatus anak tunggal. Partisipan penelitian berjumlah 113 remaja anak tunggal yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan. Tingkat kesepian diukur menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3, sedangkan welas asih diri diukur dengan Self-Compassion Scale. Pengujian hipotesis dilakukan melalui analisis regresi sederhana untuk mengetahui apakah welas asih diri memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesepian pada remaja yang berstatus anak tunggal
RELIGIUSITAS DAN QUARTER-LIFE CRISIS PADA GENERASI Z Tubagus N. A. Hisyam; Azhariah N. B. Arafah
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.466

Abstract

Generasi Z merupakan kelompok yang saat ini banyak berada pada tahap peralihan dari masa remaja menuju dewasa, khususnya pada periode emerging adulthood yang umumnya berlangsung pada rentang usia sekitar 18–25 tahun dan termasuk dalam fase dewasa awal. Pada periode perkembangan ini, individu sering menghadapi berbagai tuntutan, ketidakpastian, serta proses pencarian identitas yang dapat memunculkan krisis psikologis yang dikenal sebagai quarter-life crisis. Fenomena tersebut ditandai oleh kebingungan terkait masa depan, karier, hubungan interpersonal, maupun pencapaian hidup. Penelitian ini dilakukan untuk menguji secara empiris pengaruh religiusitas terhadap tingkat quarter-life crisis pada Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan partisipan Generasi Z berusia 18–27 tahun. Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah non-probability sampling melalui metode purposive sampling, sehingga diperoleh 109 responden yang memenuhi kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang disebarkan secara daring melalui Google Form. Selanjutnya, data dianalisis dengan teknik regresi linier sederhana menggunakan perangkat lunak SPSS versi 27.0 untuk Windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa religiusitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap quarter-life crisis pada Generasi Z.
WORK-LIFE BALANCE DAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN INDUSTRI MANUFAKTUR Cinndy P Zahra; Rini Indryawati
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.467

Abstract

Industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Karakteristik pekerjaan pada sektor ini umumnya ditandai oleh tuntutan produktivitas, target kerja, serta pengaturan waktu yang mengharuskan karyawan mampu menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Di dalam konteks tersebut, work-life balance menjadi faktor yang penting karena dapat memengaruhi bagaimana karyawan menilai dan merasakan kepuasan terhadap pekerjaannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui secara empiris pengaruh work-life balance terhadap kepuasan kerja pada karyawan industri manufaktur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Partisipan penelitian adalah 183 karyawan industri manufaktur yang berusia antara 25 hingga 45 tahun dan telah bekerja minimal selama enam bulan. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik regresi linear sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa work-life balance memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan kerja pada karyawan industri manufaktur, sehingga semakin baik work-life balance dan pekerjaan yang dimiliki karyawan, semakin tinggi pula tingkat kepuasan kerjanya.
MORAL DISENGAGEMENT DI MEDIA SOSIAL: MEMAHAMI PERAN USIA, TINGKAT PENDIDIKAN DAN GENDER Inge Andriani; Ahmad Y. Lubis; Hera L. Mikarsa
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.468

Abstract

Kebebasan di media sosial kerap disertai munculnya komentar bernada menghina, merendahkan, atau mencela pihak lain. Anggapan kewajaran terkait hal ini dapat mendorong individu mengalami moral disengagement, yaitu proses kognitif yang memungkinkan seseorang membenarkan tindakan yang bertentangan dengan standar moral yang berlaku. Tingkat pemahaman moral seseorang diperkirakan dipengaruhi oleh berbagai karakteristik demografis, seperti usia, pendidikan, dan jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin dengan moral disengagement pada pengguna media sosial di Indonesia. Data diperoleh melalui survei daring yang mencakup informasi demografis dan skala moral disengagement yang telah memenuhi kriteria validitas melalui expert judgment, content validity ratio (CVR), dan corrected item-total correlation. Sebanyak 329 responden berusia 14–24 tahun terlibat dalam penelitian ini. Data dianalisis menggunakan regresi berganda dan uji t. Hasil menunjukkan bahwa usia dan pendidikan secara bersama-sama berpengaruh terhadap moral disengagement, sedangkan secara terpisah hanya pendidikan yang terbukti menjadi prediktor signifikan. Selain itu, terdapat perbedaan tingkat moral disengagement antara laki-laki dan perempuan. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi pengembangan upaya pencegahan dan pengurangan moral disengagement di media sosial.
KEBERFUNGSIAN KELUARGA, HARGA DIRI DAN KEPUASAN HIDUP PADA IBU BEKERJA Nita S. Handayani; Tri Maryani
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.469

Abstract

Menjalankan peran sebagai pekerja sekaligus sebagai ibu dalam keluarga merupakan tanggung jawab yang kompleks. Ibu bekerja sering kali menghadapi berbagai tuntutan yang berasal dari lingkungan kerja maupun kehidupan rumah tangga, sehingga berpotensi menimbulkan tekanan dan memengaruhi tingkat kepuasan hidup yang mereka rasakan. Berbagai faktor diduga berperan dalam membentuk kepuasan hidup pada ibu bekerja, di antaranya keberfungsian keluarga dan harga diri. Penelitian ini dilakukan untuk menguji secara empiris pengaruh kedua variabel tersebut terhadap kepuasan hidup ibu bekerja. Penelitian melibatkan 114 ibu bekerja berusia 32–48 tahun yang berdomisili di Jakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara daring dengan teknik convenience sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberfungsian keluarga dan harga diri secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kepuasan hidup ibu bekerja. Temuan lebih lanjut mengindikasikan bahwa kontribusi keberfungsian keluarga terhadap kepuasan hidup lebih besar dibandingkan kontribusi harga diri. Hasil ini menunjukkan bahwa kondisi keluarga yang harmonis, berfungsi secara optimal, serta memberikan dukungan emosional dan praktis memiliki peran yang sangat penting dalam membantu ibu bekerja mencapai tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.