cover
Contact Name
Marselius Sampe Tondok
Contact Email
marcelius@staff.ubaya.ac.id
Phone
+622178881112
Journal Mail Official
psikologi@gunadarma.ac.id
Editorial Address
Jl. Margonda Raya, No.100, Depok, Jawa Barat. 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Psikologi
Published by Universitas Gunadarma
Jurnal Psikologi (JPUG) accepts manuscripts based on empirical research, both quantitative and qualitative. Priority is given to quantitative research of the multivariate type. Meanwhile, the Jurnal Psikologi also accepts meta-analysis or systematic review manuscripts that have advantages in terms of novelty or unique variables.
Articles 457 Documents
KEMATANGAN PSIKOLOGIS DAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA DEWASA AWAL Firda F. Fatimah
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.388

Abstract

Kepuasan pernikahan merupakan salah satu faktor penting yang membantu pasangan mempertahankan hubungan ketika menghadapi berbagai tantangan dan konflik dalam kehidupan rumah tangga. Tingkat kepuasan yang tinggi juga berkontribusi pada terciptanya pernikahan yang lebih harmonis dan bertahan dalam jangka panjang. Dewasa awal sering dianggap sebagai kelompok yang rentan mengalami permasalahan pernikahan karena masih berada pada tahap penyesuaian terhadap berbagai tuntutan kehidupan, termasuk yang berkaitan dengan kematangan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh kematangan psikologis terhadap kepuasan pernikahan pada individu dewasa awal yang telah menikah. Sebanyak 106 orang dewasa awal yang berstatus menikah berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan menggunakan teknik convenience sampling. Analisis regresi ganda digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematangan psikologis secara keseluruhan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pernikahan. Selain itu, aspek self-awareness, ego resilience, dan flexibility ditemukan memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan pernikahan. Sebaliknya, aspek autonomy tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pernikahan pada dewasa awal.
SOCIAL SHOPPING, KONFORMITAS KONSUMEN DAN PEMBELIAN IMPULSIF PADA WANITA DEWASA AWAL LAJANG Marcia Martha; Ajeng F. Citra
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.389

Abstract

Pembelian impulsif merupakan salah satu fenomena perilaku konsumen yang cukup sering ditemukan pada berbagai kelompok masyarakat. Salah satu kelompok yang dianggap rentan melakukan pembelian impulsif adalah wanita dewasa awal yang telah bekerja dan memiliki sumber penghasilan sendiri, tetapi masih berstatus lajang atau belum menikah. Kondisi tersebut memberikan keleluasaan yang lebih besar dalam mengelola dan membelanjakan pendapatan yang dimiliki. Selain itu, faktor social shopping dan konformitas konsumen yang kerap melekat pada kehidupan sosial wanita dewasa awal diduga turut memengaruhi kecenderungan melakukan pembelian impulsif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh social shopping dan konformitas konsumen terhadap pembelian impulsif pada wanita dewasa awal lajang. Sebanyak 118 wanita dewasa awal lajang berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social shopping dan konformitas konsumen secara simultan berpengaruh terhadap pembelian impulsif. Temuan lebih lanjut mengungkapkan bahwa social shopping memiliki kontribusi yang lebih besar dalam memengaruhi pembelian impulsif dibandingkan konformitas konsumen pada kelompok partisipan tersebut.
DIGITAL WELLNESS PADA MAHASISWA: MEMAHAMI PERAN ONLINE SELF-DISCLOSURE YANG DIMEDIASI OLEH REGULASI EMOSI Maizar Saputra; Wahyu Rahardjo
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.390

Abstract

Mahasiswa merupakan kelompok yang sangat dekat dengan penggunaan teknologi digital, terutama dalam aktivitas komunikasi, interaksi sosial, dan pertukaran informasi sehari-hari. Perkembangan teknologi digital yang semakin kompleks dapat membawa berbagai konsekuensi bagi penggunanya, baik berupa perilaku maladaptif maupun dampak positif yang berkaitan dengan kesejahteraan individu. Salah satu isu yang semakin banyak mendapat perhatian dalam penelitian adalah digital wellness, yang diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor internal, termasuk online self-disclosure dan regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh online self-disclosure terhadap digital wellness dengan regulasi emosi sebagai variabel mediator. Sebanyak 162 mahasiswa di Jakarta berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner daring menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian ini menerapkan desain potong lintang dan data dianalisis menggunakan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa online self-disclosure dan regulasi emosi sama-sama berpengaruh terhadap digital wellness pada mahasiswa. Namun demikian, regulasi emosi tidak ditemukan mampu memediasi secara signifikan pengaruh online self-disclosure terhadap digital wellness pada mahasiswa.
ADIKSI INTERNET, POLA ASUH DAN DEPRESI PADA REMAJA PASCA PANDEMI COVID-19 Adelya R. Dwiputri; Titi P. Karuniawaty; Wayan S. S. Parwata
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.391

Abstract

Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan berbagai perubahan besar, salah satunya dalam penggunaan internet oleh masyarakat. Total waktu yang dihabiskan masyarakat untuk penggunaan internet selama masa pandemi COVID-19 terus meningkat secara signifikan. Adiksi internet yang persisten dapat menimbulkan berbagai dampak yang berujung pada timbulnya depresi, terutama pada remaja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara adiksi internet dengan depresi pada remaja pasca pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional. Alat ukur yang digunakan adalah KDAI untuk mengukur tingkat adiksi internet dan CDI untuk skrining depresi. Responden adalah siswa-siswi SMAN 1 Mataram dan SMAN 5 Mataram yang berusia 14 hingga 17 tahun (n = 115), yang diambil secara proportionate stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adiksi internet memiliki hubungan yang signifikan terhadap kecenderungan terjadinya depresi pada remaja pasca pandemi COVID-19, dengan risiko yang meningkat hingga 4.1 kali lipat. Angka kejadian adiksi internet pada remaja pasca pandemi COVID-19 sebesar 27.8% dan resiko depresi remaja pasca pandemi COVID-19 yang terdeteksi sebesar 57.4%.
TECHNO-INVASION DAN KEBAHAGIAAN DI TEMPAT KERJA PADA KARYAWAN Mardianti; Siti M. Tambunan; Dian K. Putri
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.392

Abstract

Kajian psikologi industri dan organisasi karena berkaitan dengan kesejahteraan, produktivitas, serta keberlangsungan kinerja karyawan. Di era digital saat ini, penggunaan teknologi yang semakin intensif untuk mendukung berbagai aktivitas pekerjaan dapat menimbulkan konsekuensi psikologis tertentu. Salah satu kondisi yang banyak dibahas adalah techno-invasion, yaitu perasaan bahwa teknologi memungkinkan pekerjaan memasuki ranah kehidupan pribadi sehingga batas antara pekerjaan dan kehidupan personal menjadi semakin kabur. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh techno-invasion terhadap kebahagiaan di tempat kerja pada karyawan. Partisipan penelitian berjumlah 150 karyawan yang berasal dari wilayah Jabodetabek. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik regresi ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa techno-invasion memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebahagiaan di tempat kerja pada karyawan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan penelitian selanjutnya mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kebahagiaan di lingkungan kerja modern.
STUDI LITERATUR: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU CYBERLOAFING PADA MAHASISWA I Gusti A. R. Dewanti; Ni Made S. Wulanyani
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.393

Abstract

Cyberloafing merupakan perilaku penggunaan internet untuk kepentingan non-akademik selama proses belajar yang semakin marak terjadi di kalangan mahasiswa. Fenomena ini dipicu oleh kemajuan teknologi digital serta tantangan psikologis dan akademik yang dihadapi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku cyberloafing melalui pendekatan literature review. Data dikumpulkan dari dua database utama, yaitu Google Scholar dan Portal Garuda, dengan kriteria inklusi mencakup publikasi tahun 2020–2025, studi kuantitatif, dan subjek mahasiswa. Dari 927 artikel yang diidentifikasi, delapan artikel memenuhi kriteria dan dianalisis secara tematik. Hasil analisis menunjukkan empat domain utama yang memengaruhi perilaku cyberloafing pada mahasiswa, yaitu: (1) faktor kepribadian (extraversion dan conscientiousness), (2) regulasi diri dan aspek emosional (self-control, kejenuhan belajar), (3) lingkungan akademik (gaya mengajar dosen dan stres akademik), dan (4) faktor sosial dan teknologi (fear of missing out/FoMO). Temuan ini menegaskan bahwa cyberloafing merupakan respons kompleks terhadap dinamika internal dan eksternal dalam lingkungan perkuliahan. Diperlukan strategi preventif yang komprehensif, seperti pelatihan regulasi diri, inovasi pengajaran, dan kebijakan literasi digital untuk meminimalisir dampak negatif cyberloafing pada proses belajar mahasiswa.
OTONOMI KERJA DAN KEBERMAKNAAN KERJA PADA GURU Rini Indryawati; Dwi G. Verasari
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.394

Abstract

Kebermaknaan kerja merupakan salah satu kondisi psikologis yang banyak diharapkan oleh para pekerja, termasuk guru, karena memberikan nilai positif yang melampaui imbalan finansial semata. Perasaan bahwa pekerjaan yang dijalani memiliki makna dapat membantu individu mencapai kondisi flourishing serta meningkatkan kualitas pengalaman kerja. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam membentuk kebermaknaan kerja pada guru adalah otonomi kerja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh otonomi kerja terhadap kebermaknaan kerja pada guru. Sebanyak 110 guru yang bekerja di Jakarta berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring dengan teknik convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi kerja berpengaruh terhadap kebermaknaan kerja pada guru. Namun, analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa hanya aspek otonomi metode kerja yang berpengaruh signifikan terhadap kebermaknaan kerja. Sebaliknya, aspek otonomi penjadwalan kerja dan otonomi kriteria kerja tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kebermaknaan kerja pada guru.
MEMAHAMI FAKTOR-FAKTOR RESILIENSI PADA INDIVIDU PENYANDANG TUNADAKSA Dhaneswara Amara; Ida Ayu G. K. Widihapsari; Ni Made S. Wulanyani
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.395

Abstract

Kajian literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi pada individu penyandang tunadaksa, yang kerap menghadapi tantangan psikososial kompleks di luar keterbatasan fisik. Resiliensi dipahami sebagai proses dinamis yang terbentuk melalui kekuatan personal (seperti regulasi emosi, optimisme, dan efikasi diri), dukungan eksternal (keluarga, teman, komunitas), serta pemaknaan terhadap pengalaman hidup. Berdasarkan sintesis terhadap sepuluh studi empiris terbitan tahun 2016–2025, ditemukan bahwa faktor-faktor utama pembentuk resiliensi mencakup atribut internal seperti empati, kontrol impuls, dan analisis kausal, serta sumber daya eksternal yang diklasifikasikan dalam model Grotberg “I Have, I Am, I Can”. Temuan menunjukkan bahwa bentuk resiliensi bervariasi menurut usia, konteks sosial, dan jenis disabilitas (bawaan vs. non-bawaan). Remaja lebih bergantung pada dukungan sosial, sementara dewasa muda cenderung mengandalkan refleksi diri dan penerimaan. Faktor spiritualitas juga muncul sebagai pelindung psikologis. Kajian ini memberikan landasan konseptual untuk merancang intervensi psikososial yang kontekstual dan berbasis kekuatan guna mendukung adaptasi dan kualitas hidup penyandang tunadaksa.
MASA KERJA, TIPE KEPRIBADIAN AGREEABLENESS, DAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA KARYAWAN Aprilia M. Ayuningsih; Ratna M. Hapsari
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.396

Abstract

Organizational citizenship behavior (OCB) merupakan perilaku kerja positif yang sering ditemukan dalam berbagai organisasi dan perusahaan. Perilaku ini dinilai memberikan berbagai manfaat bagi organisasi karena dapat meningkatkan efektivitas kerja, kerja sama antarpegawai, serta mendukung pencapaian tujuan organisasi. Beberapa faktor yang diduga berperan dalam membentuk organizational citizenship behavior adalah masa kerja dan tipe kepribadian agreeableness. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh masa kerja dan tipe kepribadian agreeableness terhadap organizational citizenship behavior pada karyawan. Sebanyak 105 karyawan yang bekerja di wilayah Jakarta terlibat sebagai partisipan dalam penelitian ini. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang, sementara data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan secara daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kerja dan tipe kepribadian agreeableness berpengaruh terhadap organizational citizenship behavior. Selain itu, ditemukan bahwa tipe kepribadian agreeableness memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan masa kerja dalam memengaruhi organizational citizenship behavior pada karyawan.
MEMAHAMI PENYEBAB ANAK MUDA MEMILIH BERADA DALAM HUBUNGAN TANPA STATUS: STUDI LITERATUR Cecilia Fransiska; Ni Made D. Saraswati; Ni Made S. Wulanyani
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.397

Abstract

Generasi muda saat ini, terutama kelompok Gen Z, semakin banyak yang memilih menjalani hubungan tanpa status (HTS) sebagai bentuk relasi romantis. Pola hubungan ini dianggap lebih sesuai dengan nilai kebebasan dan fleksibilitas yang berkembang pada kalangan anak muda karena tidak menuntut adanya komitmen yang jelas antara kedua pihak. Meskipun demikian, ketiadaan komitmen tersebut sering kali membuat hubungan sulit berkembang menuju tahap yang lebih serius, seperti pernikahan. Tinjauan pustaka ini dilakukan melalui penelusuran artikel ilmiah pada Google Scholar dengan kriteria publikasi dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan proses seleksi, diperoleh sepuluh penelitian yang dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa HTS semakin umum ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Hubungan ini dipilih karena memberikan keleluasaan dalam menjalin kedekatan tanpa ikatan formal. Walaupun tidak memiliki status resmi, HTS tetap dapat melibatkan rasa percaya, kepuasan hubungan, dan kedekatan emosional. Selain itu, HTS memiliki kemiripan dengan casual relationship dan friends with benefits. Namun, minimnya komitmen berpotensi menimbulkan hubungan yang tidak pasti serta berbagai konsekuensi emosional dan psikologis bagi individu yang terlibat.