cover
Contact Name
Marselius Sampe Tondok
Contact Email
marcelius@staff.ubaya.ac.id
Phone
+622178881112
Journal Mail Official
psikologi@gunadarma.ac.id
Editorial Address
Jl. Margonda Raya, No.100, Depok, Jawa Barat. 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Psikologi
Published by Universitas Gunadarma
Jurnal Psikologi (JPUG) accepts manuscripts based on empirical research, both quantitative and qualitative. Priority is given to quantitative research of the multivariate type. Meanwhile, the Jurnal Psikologi also accepts meta-analysis or systematic review manuscripts that have advantages in terms of novelty or unique variables.
Articles 457 Documents
NEUROTICISM, HARGA DIRI DAN FEAR OF FAILURE PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Ira N. Prabawanti
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i1.398

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir sering menghadapi berbagai tekanan dan tuntutan akademis yang tinggi sehingga lebih rentan mengalami fear of failure. Kondisi ini dapat menghambat mahasiswa dalam menunjukkan performa akademik secara optimal karena munculnya kekhawatiran berlebihan terhadap kemungkinan gagal. Sejumlah faktor diduga berkontribusi terhadap munculnya fear of failure, di antaranya adalah tipe kepribadian neuroticism dan harga diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh neuroticism dan harga diri terhadap fear of failure pada mahasiswa tingkat akhir. Partisipan penelitian terdiri atas 110 mahasiswa tingkat akhir dari Universitas X di Jakarta. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan menggunakan teknik convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa neuroticism dan harga diri secara bersama-sama berpengaruh terhadap fear of failure pada mahasiswa tingkat akhir. Selain itu, ditemukan bahwa harga diri memiliki kontribusi yang sedikit lebih besar dibandingkan neuroticism dalam menjelaskan variasi fear of failure pada mahasiswa tingkat akhir.
EDITORIAL: SUMBER DAYA PSIKOLOGIS UNTUK KEHIDUPAN YANG SEHAT DAN PRODUKTIF Wahyu Rahardjo
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.452

Abstract

Kehidupan modern menghadirkan berbagai tuntutan yang semakin kompleks bagi individu. Tekanan akademik, tuntutan pekerjaan, perubahan dinamika keluarga, serta interaksi sosial yang semakin dipengaruhi teknologi digital menimbulkan berbagai tantangan psikologis yang tidak dapat diabaikan. Fenomena kesepian dan fear of missing out (FoMO) semakin banyak ditemukan pada pengguna media sosial, terutama pada kelompok usia muda . Pada saat yang sama, banyak individu dewasa awal menghadapi quarter-life crisis yang ditandai oleh ketidakpastian arah hidup dan kecemasan mengenai masa depan. Mahasiswa juga rentan mengalami burnout akademik akibat tuntutan penyelesaian studi, sementara pekerja dan orang tua menghadapi work-family conflict serta parental stress yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis telah menjadi isu penting dalam kehidupan masyarakat kontemporer.
PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DAN PERSONAL GROWTH INITIATIVE PADA DEWASA AWAL YANG BERCERAI Devina Z. Maulana; Alia R. Fauziah; Lia A. Fachrial
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.453

Abstract

Bagi sebagian orang, perceraian dijadikan momentum untuk bangkit dan mengembangkan diri. Hal tersebut menunjukkan bahwa psychological well-being memiliki peran penting dalam membantu individu menghadapi perubahan dan membangun personal growth initiative pasca perceraian. Sementara itu, personal growth initiative menggambarkan sikap proaktif seseorang dalam memperbaiki dan mengarahkan kehidupannya secara positif. Partisipan penelitian ini adalah dewasa awal yang bercerai sebanyak 151 orang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan dua skala psikologis, yaitu psychological well-being dan personal growth initiative. Hasil analisis menunjukkan bahwa psychological well-being berkontribusi secara signifikan terhadap personal growth initiative pada individu dewasa awal yang bercerai. Nilai kontribusi yang relatif tidak besar ini menunjukkan bahwa masih terdapat faktor psikologis lain yang berpengaruh, seperti resiliensi, efikasi diri, strategi koping, dan dukungan sosial yang juga berperan dalam mendorong inisiatif pengembangan diri. Analisis lebih lanjut juga memperlihatkan bahwa psychological well-being juga memiliki pengaruh terhadap semua aspek personal growth initiative di mana pengaruh terbesar ditujukan kepada kesiapan untuk berubah, dan penggunaan sumber daya.
DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN, OPTIMISME DAN PARENTAL STRESS PADA IBU BEKERJA Natalia Konradus; Desi Susianti
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.454

Abstract

Ibu bekerja rentan dengan berbagai konflik dan tekanan karena harus bekerja dengan optimal dan juga mengasuh anak dalam keluarga. Berbagai dinamika psikologis yang disebabkan faktor eksternal dan internal ini dapat mengakibatkan ibu bekerja mengalami persoalan parental stress. Beberapa variabel yang diduga berkaitan dengan parental stress pada ibu bekerja adalah dukungan sosial pasangan dan optimisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur secara empiris dukungan sosial pasangan dan optimisme terhadap parental stress pada ibu bekerja. Penelitian ini melibatkan 125 orang ibu bekerja dengan rentang usia mulai dari 30 hingga 45 tahun yang tinggal dan bekerja di Jakarta. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner daring dengan teknik convenience sampling. Teknik statistik yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian adalah regresi ganda. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dukungan sosial pasangan dan optimisme secara simultan memiliki pengaruh terhadap parental stress pada ibu bekerja. Secara terpisah, dukungan sosial pasangan juga memiliki pengaruh terhadap parental stress pada ibu bekerja. Namun demikian, optimisme tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap parental stress pada ibu bekerja. Temuan penelitian ini mengindikasikan kuatnya peran faktor eksternal dibandingkan faktor internal dalam memengaruhi ibu bekerja mengalami parental stress.
PERAN RESILIENSI SEBAGAI MEDIATOR ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN KECEMASAN PADA NARAPIDANA PEREMPUAN Ulfiani Syam; Abdul Saman; Ahmad Yasser
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.455

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu masalah psikologis yang rentan dialami narapidana perempuan selama menjalani masa pidana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran resiliensi sebagai mediator pengaruh persepsi dukungan sosial terhadap kecemasan pada narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Responden penelitian berjumlah 172 narapidana perempuan yang dipilih melalui convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC), dan Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7). Analisis data dilakukan menggunakan PROCESS Hayes Model 4 dengan teknik bootstrapping 5.000 sampel. Hasil menunjukkan persepsi dukungan sosial berpengaruh positif terhadap resiliensi, resiliensi berpengaruh negatif terhadap kecemasan, dan efek total persepsi dukungan sosial terhadap kecemasan signifikan negatif. Setelah resiliensi dimasukkan, efek langsung menjadi tidak signifikan, sedangkan efek tidak langsung signifikan. Temuan menunjukkan resiliensi memediasi secara penuh hubungan persepsi dukungan sosial dan kecemasan. Program pembinaan psikologis di lapas perlu mengintegrasikan penguatan dukungan sosial dengan intervensi peningkatan resiliensi.
MANAGING STRESS DAN BURNOUT AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG MENGERJAKAN TUGAS AKHIR Meity Arianty; Rolla Apnoza
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.456

Abstract

Mahasiswa adalah kelompok yang rentan mengalami burnout akademik dikarenakan berbagai tuntutan akademis. Ketika menghadapi tahun terakhir dan mengerjakan tugas akhir, makan tuntutan semakin kompleks dan berat. Sebagai konsekuensinya, kemungkinan mahasiswa mengalami burnout akademik akan semakin besar. Salah satu hal yang dianggap berkaitan dengan burnout akademik adalah managing stress. Managing stress dianggap mampu membantu mahasiswa mengembangkan koping yang adaptif dalam menghadapi tuntutan pengerjaan tugas akhir. Tujuan penelitian ini adalah mengukur secara empiric keterkaitan managing stress dan burnout akademik, terutama pada kedua aspeknya yaitu exhaustion dan cynicism. Usia adalah variabel demografis yang ditambahkan dalam penelitian ini. Partisipan penelitian ini adalah 130 orang mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir berusia 21-24 tahun dengan rerata usia 21.92 tahun. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan pengambilan data menggunakan kuesioner daring dengan convenience sampling. Hasil penelitian menemukan bahwa usia tidak berkorelasi dengan managing stress, exhaustion, dan cynicism. Sementara itu, managing stress hanya berkorelasi secara negatif dengan aspek exhaustion, sedang pada aspek cynicism tidak ditemukan korelasi.
PSYCHOLOGICAL SAFETY DALAM PROFESI POLISI: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Erik S. H. Hutahaean; Yuarini W. Pertiwi; Hemma Dayita
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.457

Abstract

Psychological safety pada profesi kepolisian merupakan faktor penting yang berkaitan dengan kesejahteraan psikologis serta efektivitas pelaksanaan tugas anggota polisi. Kajian ini menelaah berbagai faktor yang memengaruhi psychological safety melalui analisis terhadap 18 artikel ilmiah. Hasil kajian menunjukkan adanya tiga kelompok faktor utama yang berperan, yaitu faktor organisasi, faktor sosial, dan faktor psikologis. Faktor organisasi mencakup tingginya beban kerja, kualitas supervisi, serta kebijakan internal yang dapat menambah tekanan pekerjaan. Faktor sosial meliputi dukungan rekan kerja, keberadaan stigma kesehatan mental, dan efektivitas program peer support. Sementara itu, faktor psikologis mencakup stres berkepanjangan, paparan trauma berulang, serta rendahnya kesiapan mental. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya burnout, yang prevalensinya pada polisi dilaporkan mencapai 20–30%. Temuan ini menunjukkan bahwa berbagai faktor tersebut dapat menurunkan kinerja, meningkatkan risiko kesalahan kerja, dan memengaruhi hubungan polisi dengan masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan kesiapan mental, manajemen stres berbasis bukti, serta penguatan dukungan supervisor dan rekan kerja perlu dikembangkan guna meningkatkan psychological safety dan kesejahteraan petugas.
COLLEGIALITY DAN WORK ENGAGEMENT PADA DOSEN Dina K. Astuti; Nurul Huda
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.459

Abstract

Di dalam mengajar, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh dosen di perguruan tinggi. Tantangan ini berpotensi memengaruhi dan menurunkan kinerjanya sebagai dosen. Pada titik ini penting untuk menjaga agar dosen tetap fokus dan terlibat dalam pekerjaannya. Ketika dosen mampu mengalami keadaan work engagement maka harapannya kinerjanya terjaga secara lebih stabi. Salah satu hal yang diduga memiliki keterkaitan dengan work engagement pada dosen adalah collegiality atau relasi profesional dalam bekerja di antara sesama individu di dunia kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur secara empiris keterkaitan aspek-aspek collegiality dan work engagement. Variabel usia partisipan ditambahkan untuk memperkaya temuan. Penelitian ini melibatkan 137 orang dosen yang berasal dari Jakarta. Skala collegiality dan skala work engagement digunakan untuk mengukur konstruk dalam penelitian ini. Data diambil dengan menggunakan kuesioner daring dengan teknik convenience sampling. Hasil penelitian ini memperlihatkan beberapa temuan utama, misalnya semua aspek collegiality berkorelasi dengan work engagement. Korelasi terkuat muncul pada aspek dukungan dan kepercayaan antar dosen, berbagi ide dan keahlian, dan berbagi sumber belajar.
DARI RUMAH KE TONGKRONGAN: STRUKTUR KELUARGA DAN KECENDERUNGAN PERILAKU NAKAL REMAJA Erik S. H. Hutahaean; Andreas C. W. Nugraha; Tiara A. Perdini
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.461

Abstract

Fenomena kenakalan remaja semakin kompleks seiring meningkatnya perubahan struktur keluarga, seperti perceraian orang tua dan kondisi yatim-piatu, yang berpotensi memengaruhi pola pengasuhan, pengawasan, serta kelekatan emosional antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecenderungan perilaku nakal remaja berdasarkan struktur keluarga. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif-komparatif. Subjek penelitian berjumlah 300 remaja yang terdiri atas 270 remaja dari keluarga utuh, 25 remaja dari keluarga bercerai, dan 5 remaja yatim-piatu. Data dikumpulkan menggunakan instrumen yang mengukur empat indikator perilaku nakal, yaitu perilaku berkendara berisiko, preferensi berada di tongkrongan dibandingkan di rumah, kecenderungan memilih nongkrong daripada belajar, dan sikap terhadap pengawasan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja dari keluarga bercerai memiliki kecenderungan lebih tinggi pada perilaku berkendara berisiko, lebih sering berada di tongkrongan, serta lebih memilih nongkrong dibandingkan belajar. Sementara itu, remaja yatim-piatu menunjukkan kecenderungan lebih tinggi dalam menolak pengawasan sosial. Temuan ini mengindikasikan bahwa struktur keluarga berperan penting dalam pembentukan perilaku remaja melalui mekanisme pengawasan, kelekatan emosional, dan kontrol sosial.
KESABARAN, SYUKUR DAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM RIAU YANG TINGGAL DI ASRAMA KAMPUS Tyara D. Olivia; Ahmad Hidayat; Sigit Nugroho; Yanwar Arief
Jurnal Psikologi Vol. 18 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2025.v18i2.462

Abstract

Kesabaran dan syukur merupakan dua aspek psikologis yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif mahasiswa, khususnya pada mahasiswa yang tinggal di lingkungan asrama dengan budaya dan aktivitas yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris sejauh mana kesabaran dan rasa syukur memengaruhi subjective well-being mahasiswa Universitas Islam Riau yang menetap di asrama Al-Munawarrah. Populasi penelitian berjumlah 144 mahasiswa penghuni asrama, sedangkan sampel penelitian terdiri atas 116 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan tingkat kesalahan sebesar 1%. Data penelitian dianalisis menggunakan perangkat lunak SmartPLS 3.0 M3. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesabaran dan rasa syukur memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap subjective well-being mahasiswa. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa mahasiswa yang memiliki tingkat kesabaran dan rasa syukur yang lebih tinggi cenderung menunjukkan kesejahteraan subjektif yang lebih baik. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai landasan dalam merancang program pembinaan mahasiswa berbasis nilai-nilai keislaman serta menjadi referensi bagi penelitian berikutnya yang mengkaji faktor-faktor kesejahteraan psikologis mahasiswa.