cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
PENTA POLITIKA INDONESIA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH PERADABAN MASA LALU DAN MASA KINI Umi Salamah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 1 No. 1 (2017): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v1i1.4603

Abstract

Founding Father negara Indonesia memberikan contoh bagaimana menghargai sejarah peradaban bangsa sendiri seiring kemajuan ilmu pengetehuan dan teknologi dalam merumuskan landasan kenegaraan dan citacita kemerdekaan. Sejarah kejayaan dan keruntuhan peradaban bangsa digunakan sebagai tata buku masa lalu dalam menyusun rencana pembangunan peradaban bangsa di masa depan agar kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian yang berbudaya kuat, berdaulat, dan bermartabat. Sebagai salah satu bukti, bahwa peradaban bangsa Indonesia di masa lalu lebih maju dari bangsa Eropa adalah ditemukannya prasasti konsep pemilahan kekuasaan sejak Abad-12, sementara di Eropa digaungkan dalam tulisan John Locke dan Montesquieu mulai akhir Abad 17. Carut-marutnya, perpolitikan di negara Indonesia saat ini, lebih disebabkan oleh pemahaman yang dangkal para elit politik terhadap substansi sejarah peradaban dan budaya masa lalu yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, Preambule UUD 1945, Batang Tubuh UUD 1945, dan ideologi Pancasila. Para elit enggan mengkaji substansi nilai-nilai dan pesan yang terkandung dalam dokumen tersebut. Mereka lebih suka “Membeli Produk Instan” peradaban luar negeri demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tidak mengherankan jika pragmatisme politik, produk Barat itu lebih berkembang daripada tata berpolitik yang beretika sebagaimana yang dilakukan oleh para leluhur kejayaan Nusantara dan para pendiri bangsa. Prinsip yang harus dipegang kuat adalah ketika belajar dari peradaban bangsa lain bukan berarti menghilangkan eksistensi budaya sendiri.
Isu-Isu Identitas Budaya Nasional dalam Film “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” Amirah Anis Thalib
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v1i2.7013

Abstract

Indonesia merupakan negara yang dengan kompleksitasnya menjadikannya multikultur. Kondisi ini mempengaruhi tema-tema yang dimunculkan dalam film yang merepresentasi dan merekonstruksi kenyataan. “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” merupakan film percintaan yang dibumbui isu-isu multikultur khususnya terkait dengan identitas budaya yang meluas kedalam ranah suku, ras, agama, dan kelas sosial di Indonesia, khususnya Minang. Tulisan ini menggunakan pendekatan multikulturalisme Will Kymlicka untuk menginterpretasi dan memaknai temuan-temuan data . Penulis menemukan bahwa identitas suku dan kelas sosial yang menjadi isu-isu multikulturalisme yang dikomunikasikan dalam film ini, sekaligus pemicu timbulnya konflik dalam film. Hasil analisis lain menunjukkan ikatan primordial dan etnosentrisme merupakan penghambat multikulturalisme dalam konteks Indonesia yang dikomunikasikan dalam film ini.
Wacana Solidaritas Muslim Indonesia dalam Teks Pengungsi Muslim Etnis Rohingya Pada Media Daring Viva.co.id Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v1i2.7014

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedah strategi pembentukan wacana solidaritas muslim Indonesia dalam kasus mulim Rohingya oleh media massa Indonesia. Untuk melakukan hal tersebut dimanfaatkan teori analisis wacana Theo Van Leeuwen. Metode yang digunakan adalah analisis isi. Sumber data penelitian adalah tujuh teks berita daring dari media massa viva.co.id. Hasil penelitian menunjukkan konstruksi wacana yang dibangun cenderung mengedepankan citra Indonesia sebagai bangsa dengan umat muslim terbesar di dunia sebagai pahlawan kemanusiaan. Motif penggambaran wacana kemanusiaan dibangun melalui isu agama dan kemanusiaan. Konstruksi tersebut berdampak terhadap pemarjinalan kelompok lain. Pemerintah Myanmar justru lebih digambarkan dengan beragam citra negatif, begitu juga dengan para pengungsi Rohingya yang selalu digambarkan sebagai kelompok yang benar-benar sedang kesusahan dan benar-benar membutuhkan bantuan. Terdapat bobot pemberitaan yang tidak seimbang yang dilakukan oleh media viva.co.id yang berdampak pada pemarjinalan kelompok ini.
Nilai Religiositas dalam Tembang “Tak Lela-Lela Ledhung” Eka Aprillia Maharani Supanggih; Clarashinta Ferdyani; Arga Anggiat Dwi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v1i2.7015

Abstract

Pada sudut pandang masyarakat sekarang, tembang Tak Lela-Lela Ledhung ini kurang begitu menonjol atau bisa dibilang kuno dan tidak gaul untuk masyarakat pada jaman sekarang khususnya perkembangan jaman yang semakin pesat ini. Tujuan penelitian ini penting dilakukan karena tembang Jawa mengungkapkan bahwa ternyata faktor serta pengalaman masyarakat Trenggalek dalam tembang Jawa ini mampu memengaruhi kondisi psikologisnya secara tidak langsung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen yang di peroleh dari data primer, yakni dengan mengkaji tembang Tak Lela-Lela Ledhung sebagai objek penelitiannya. Hasil penelitian yang didapat menyebutkan bahwasanya tembang Tak Lela-Lela Ledhung sebagai objek penelitian banyak menghadirkan peristiwa yang mengaitkan antara nilai-nilai religiusitas dan unsur doa yang terdapat di dalam tembang Tak Lela-Lela Ledhung serta harapan-harapan orang tua terhadap anaknya. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tembang Jawa Tak Lela-Lela Ledhung ini haruslah tetap dijaga dan tetap diajarankan kepada masyarakat Jawa yang kemudian dilestarikan dengan cara turun-temurun diwariskan kepada anak cucunya sehingga menjadi budaya tersendiri, yaitu budaya orang tua dalam mendidik anaknya.
Mantra Kenduri Matang Puluh Dina Dusun Dadapan Kecamatan Pagak Kabupaten Malang Randa Dwi Prastyo; Maryaeni Maryaeni
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v1i2.7016

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sastra lisan berupa mantra berdasarkan konteks dan teks yang ada pada masyarakat dusun Dadapan. Melalui teori Albert b. Lord sebagai acuan utama dapat dipahami bahwa untuk mengkaji sebuah sastra lisan berupa mantra perlu melihat konteks yang mendasari lahirnya sebuah mantra. untuk itu diperlukan konteks performance yang mendasari munculnya teks mantra. Transmisi, komposisi dan formula teks mantra merupakan kajian teks bahwa teks mantra akan tetap eksis ketika ada transmisi dan komposisi sehingga dapat diketahui formula yang dipakai penutur. Berdasarkan hal tersebut muncul fungsi mantra dalam ritual kenduri bagi masyarakat dusun Dadapan baik fungsi Individu maupun sosial.
Cerpen Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon- Pohon? Karya Eko Triono sebagai Media Kritik Alternatif terhadap Masyarakat Postmodernisme Yulaika Ranu Sastra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v1i2.7017

Abstract

Masyarakat modern saat ini telah mengalami perubahan secara signifikan baik dari segi pola pikir, maupun tingkah laku. Perubahan ini bertentangan dengan hakikatnya sebagai manusia modern. Pergeseran tatanan norma-norma tersebut memunculkan teori posmodernisme. Dari postmodernisme inilah bermunculan pula berbagai kritik terhadap manusia sebagai subjek kehidupan. Seiring berkembangnya zaman, beragam teori dan aliran sastra pun bermunculan untuk membedah karya. Karya sastra dikaitkan berdasarkan teori yang tepat agar maksud si penulis tersampaikan kepada pembaca melalui penafsir. Ada pun mata pisau untuk membedah cerita pendek Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? karya Eko Triono menggunakan pendekatan postmodernisme. Cerpen ini dipilih sebagai media kritik alternatif karena mewakili kehidupan manusia modern. Terdapat beberapa hasil terhadap penelitian postmodernisme dalam cerpen tersebut, yakni manusia posmodern mengesampingkan pemahaman agama sedini mungkin kepada anak, ketidaksiapan manusia postmodern menghadapi realita, masalah diri sendiri dengan orang lain dan masyarakat, manusia postmodern tidak lagi mengindahkan kedamaian, dan permasalahan percintaan masyarakat postmodern saat ini.
Representasi Perempuan dalam Tulisan dan Gambar Bak Belakang Truk: Analisis Wacana Kritis Multimodal Terhadap Bahasa Seksis Eggy Fajar Andalas; Arti Prihatini
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 1 (2018): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v2i1.7018

Abstract

Fenomena budaya kontemporer berisi kebebasan berkekspresi, bahkan gambar dan tulisan di belakang bak truk menjadi media ekspresi representasi terhadap perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana representasi perempuan dalam gambar dan tulisan bak truk. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data berupa gambar dan tulisan di belakang bak truk yang merepresentasikan perempuan yang bersumber dari laman google.co.id. Analisis data dilakukan dengan pemaknaan terhadap bahasa dan gambar hingga tahap denotasi dan konotasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak direpresentasikan dalam hal uang, cinta, dan seks secara negatif. Dalam hal uang dan cinta, perempuan direpresentasikan mengambil keuntungan dari laki-laki dari uang dan cinta yang diberikannya. Dalam hal seks, perempuan dapat berposisi sebagai pihak yang aktif sekaligus sebagai pihak yang pasif. Bahasa seksis langsung (overt sexism language) berupa pameo, kalimat imperatif, frasa nomina, sarkasme, serta kata dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa yang lafalnya ditulis dalam bahasa Inggris. Bahasa seksis tak langsung (covert sexism language) berupa presuposisi, implikatur, repetisi, dan diksi konotatif. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
Wayang untuk Dalang Multi Level Usia Sebagai Wahana Pelestarian Seni Tradisional Junaidi Junaidi; Bayu Aji Suseno; Abdul Aziz
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 1 (2018): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v2i1.7019

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melestarikan wayang tradisi melalui dalang berbagai usia. Wayang tradisi bersifat mono level dan diformat untuk dalang laki-laki dewasa, sehingga kurang sesuai dengan dalang multi level usia. Mengapa model wayang format multi usia dapat dijadikan sebagai wahana pelestarian wayang tradisional? Jawaban pertanyaan ini dapat diperoleh melalui perancangan model wayang berukuran fisik dan jiwa dalang berbagai level usia. Metode eksperimen digunakan untuk menciptakan wayang multi format, sedangkan pembahasannya berdasarkan teori struktur. Lima macam format boneka wayang kulit purwa dapat dihasilkan untuk diterapkan kepada dalang anak-anak, anak, remaja awal, remaja akhir, dan dewasa, yaitu: (1) Wayang kaper, untuk dalang tingat anak-anak; (2) Wayang kidangkencanan untuk dalang tingkat anak; (3) Wayang jaranan, untuk dalang tingkat remaja awal; (4) Wayang banthèngan, untuk dalang tingkat remaja akhir; dan (5) Wayang gajahan, untuk dalang tingkat dewasa. Kelima jenis wayang ini dapat dipakai sebagai wahana untuk pelestarian seni tradisional, karena memiliki kesesuaian format fisik dan jiwanya.
Film dan Identitas Nasional Korea Selatan: Studi Komparasi pada Film My Little Hero dan Secretly Greatly Amirah Anis Thalib
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 1 (2018): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v2i1.7020

Abstract

Fabrikasi film tidak semata-mata ditujukan untuk menghibur penonton namun juga untuk mempengaruhi penonton melalui gagasan sang kreator yang salah satunya adalah gagasan mengenai identitas nsional. Penulis akan memaparkan bagaimana identitas nasional dihadirkan dalam dua film produksi Korea Selatan pada tahun 2013 yaitu A Wonderful Life dan Secretly Greatly. Melalui analisis yang dilakukan terhadap tiap karakter utama di kedua film, dapat disimpulkan bahwa terdapat kegalauan atas konsep identitas nasional Korea Selatan
Implementation of Auteur Theory in The Butler (2013): Race-Relationship between Whites and Blacks Triastama Wiraatmaja
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 1 (2018): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v2i1.7021

Abstract

The objectives of this study are to show the depiction of racism, which are followed by prejudice and discrimination towards black Americans based on context-relationship with The Butler (2013) during 1920s until 1960s. This article used a qualitative method with auteur theory, mise-en-scene and thick description. Based on The Butler (2013), this study show that racism, which were followed by prejudice and discrimination towards blacks, emerged caused by slavestereotyping which stressed blacks as inferior and whites that uphold white-supremacy concept, as superior. Apparently that through The Butler, Lee Daniels wants to highlight that actually public policies or government laws which regulate citizens’ civil rights and slavery are not adequate to restrain or eradicate racism towards blacks American.