cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Partisipasi Kelompok Sadar Wisata dalam Perekonomian Masyarakat Wisata Pemandian Alam Sejuk Simalungun Amanda, Rawiyah Safitri; Muniruddin, Muniruddin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.35982

Abstract

Wisata alam, sebagai tempat rekreasi bagi pengunjung dan sumber penghasilan bagi masyarakat lokal yang berkelanjutan, memerlukan perawatan dan promosi untuk menarik pengunjung dari dalam dan luar negeri. Melalui pengelolaan yang baik, fasilitas yang memadai, dan keterlibatan aktif masyarakat, potensi wisata dapat dimanfaatkan secara optimal dan menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagimana keterlibatan kelompok sadar wisata dalam berkontribusi terhadap pengembangan perekonomian masyarakat sekitar wisata Pemandian Alam Sejuk di Kecamatan Jawa Maraja Kabupaten Simalungun. Dalam penelitian ini digunakan teori partisipasi masyarakat lokal dari Sumarto dan Chambers. Penelitian ini menggunakan  metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa partisipasi kelompok sadar wisata dalam mengembangkan objek wisata Pemandian Alam Sejuk tidak hanya memperbaiki kualitas layanan dan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pariwisata yang berkelanjutan dan berdaya saing. Hal itu dapat terilihat dari keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan (mengambil keputusan), pelaksanaan kegiatan, evaluasi dan pemanfaatan hasil dalam pengembangan objek wisata. Keterlibatan kelompok sadar wisata dalam program pelatihan dan pengembangan usaha lokal terbukti efektif dalam menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat.   Nature tourism, as a recreational spot for visitors and a sustainable source of income for local communities, requires maintenance and promotion to attract visitors both domestically and internationally. Through effective management, adequate facilities, and active community involvement, tourism potential can be optimally utilized and serve as a livelihood source for local communities. This research aims to explore how the involvement of tourism awareness groups can contribute to the economic development of communities around tourism attraction Pemandian Alam Sejuk in Jawa Maraja District, Simalungun regency. This research uses the theory of local community participation from Sumarto and Chambers. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques use observation, interviews and documentation. The research results can be concluded that the participation of tourism awareness groups in developing the Sejuk Natural Baths tourist attraction not only improves the quality of services and infrastructure, but also increases public awareness regarding the importance of sustainable and competitive tourism. This can be seen from community involvement in the planning process (making decisions), implementing activities, evaluating and utilizing the results in developing tourist attractions. The involvement of tourism awareness groups in training and local business development programs has proven effective in creating new economic opportunities and increasing community income.
Patuntung Ilalang Embayya: Exposing Implicit Violence and Reducing Negative Stigma through Albert Ellis' Perspective Hikmah, Muh. Syawal; Harum, Akhmad; Rahayu, Hastriani; Eliana, Eliana; Putri, Indah; Hidayatullah, Faqih
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.36208

Abstract

The indigenous Kajang Ilalang Embayya community in Bulukumba, who adhere to the Patuntung faith, often face implicit violence such as negative stigma, discrimination, cultural norms, and social structures due to the conservatism of their local beliefs. This study aims to uncover the implicit violence experienced by Patuntung adherents, explore the existence strategies of the Patuntung belief system, and evaluate the effectiveness of cognitive disputation techniques in multicultural counseling from Albert Ellis' perspective to reduce negative stigma. This research uses a qualitative approach with an ethnographic design and quantitative statistical analysis to assess changes after the intervention. Data were collected through observations, in-depth interviews, and questionnaires, then analyzed using Atlas.Ti and JASP software. The results show that implicit violence stems from stigmatization, discrimination, cultural norms, and social structures, with 51.3% of respondents falling into the moderate category of committing implicit violence. The intervention using cognitive disputation techniques in multicultural counseling showed a significant reduction in negative stigma, as evidenced by the paired sample t-test with α: 0.001<0.05 and a t-value = 29.283 > t-table = 3.851. The study concludes that cognitive disputation techniques are effective in reducing negative stigma, contributing to efforts to preserve local conservatism amidst the implicit violence faced.   Masyarakat adat Kajang Ilalang Embayya di Bulukumba, yang menganut kepercayaan Patuntung, sering menghadapi kekerasan implisit seperti stigma negatif, diskriminasi, norma budaya, dan struktur sosial akibat konservatisme kepercayaan lokal mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kekerasan implisit yang dialami oleh penganut Patuntung, mengeksplorasi strategi eksistensi kepercayaan Patuntung, serta mengevaluasi efektivitas teknik disputasi kognitif dalam konseling multikultural perspektif Albert Ellis untuk mengurangi stigma negatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi serta analisis statistik kuantitatif untuk menilai perubahan setelah intervensi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan kuesioner, yang kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak Atlas.Ti dan JASP. Hasil menunjukkan bahwa kekerasan implisit berasal dari stigmatisasi, diskriminasi, norma budaya, dan struktur sosial, dengan 51,3% responden berada dalam kategori sedang melakukan kekerasan implisit. Intervensi menggunakan teknik disputasi kognitif dalam konseling multikultural menunjukkan penurunan signifikan dalam stigma negatif, dibuktikan melalui uji t berpasangan (paired sample t-test) dengan α: 0,001<0,05 dan hasil t hitung = 29,283 > t-tabel = 3,851. Kesimpulannya, teknik disputasi kognitif efektif dalam mengurangi stigma negatif, serta mendukung upaya mempertahankan konservatisme lokal di tengah kekerasan implisit yang dihadapi.  
Penataan Masyarakat Multikultural Melalui Nilai Kearifan Lokal Mopalus di Desa Busak I Kabupaten Buol Dotutinggi, Sanri J.; Kamuli, Sukarman; Rahmatiah, Rahmatiah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.36402

Abstract

Kearifan lokal Mopalus (Gotong Royong) yang ada di Desa Busak I Kabupaten Buol  menunjukkan potensi signifikan sebagai referensi untuk mengelola keanekaragaman sosial dan konflik etnis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penataan masyarakat multikultural melalui kearifan lokal Mopalus di Desa Busak I. Kajian ini menggunakan pendekatan integrasi nasional yaitu integrasi normatif, fungsional, dan koersif. Metode  penelitian  yang  digunakan  adalah  penelitian  kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi.Proses analisis data menggunakan langkah-langkahyaitu, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi  data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mopalus berfungsi 1) secara normatif Mopalus menciptakan norma sosial yang mendasari interaksi antar etnis, tekanan nilai saling menghargai dan kerja sama; 2) Secara fungsional  Mopalus mengoptimalkan kontribusi setiap individu sesuai dengan keterampilannya, memperkuat peran mereka dalam kemajuan desa dan memfasilitasi integrasi sosial yang efektif; 3) Secara koersif , meskipun tidak ada aturan tertulis, kesadaran kolektif yang dibangun, Mopalus menjadi pendorong utama partisipasi masyarakat Busak I sementara beberapa etnis, seperti etnis Buton, mengusulkan peraturan formal untuk meningkatkan struktur partisipasi. Kesimpulan dari penelitian ini Mopalus berhasil menata masyarakat multikultural di Desa Busak I dengan memfasilitasi kesadaran kolektif dan mengelola keragaman sosial. Secara normatif, Mopalus menciptakan norma yang menekankan saling menghargai; secara fungsional, mengoptimalkan peran individu untuk kemajuan desa; dan secara koersif, partisipasi aktif terwujud melalui kesadaran bersama, meskipun tanpa aturan tertulis.   The local wisdom of Mopalus (Gotong Royong) in Busak I Village, Buol Regency shows significant potential as a reference for managing social diversity and ethnic conflicts. This study aims to analyze the arrangement of a multicultural society through the local wisdom of Mopalus in Busak I Village. The research method used is qualitative research with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The data analysis process uses steps, namely, data reduction, data presentation, and data verification. The results of the study show that Mopalus functions 1) normatively Mopalus creates social norms that underlie inter-ethnic interaction, value pressure of mutual respect and cooperation; 2) Functionally Mopalus optimizes the contribution of each individual according to his or her skills, strengthens their role in the progress of the village and facilitates effective social integration; 3) Coercively, although there are no written rules, a collective consciousness is built, Mopalus became the main driver of the participation of the Busak I community while some ethnicities, such as the Buton ethnicity, proposed formal regulations to improve the structure of participation. The conclusion of this study is that Mopalus succeeded in organizing a multicultural society in Busak I Village by facilitating collective awareness and managing social diversity. Normatively, Mopalus created a norm that emphasized mutual respect; functionally, optimizing the role of individuals for the progress of the village; and coercively, active participation is realized through collective awareness, even without written rules. 
Strategi Pengembangan dan Pemanfaatan Objek Pemajuan Kebudayaan dalam Upaya Peningkatan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Pada KCBN Trowulan Basundoro, Purnawan; Fatihah, Lauhil; Riyanto, Edi Dwi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.36511

Abstract

Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan merupakan salah satu kawasan konservasi Cagar Budaya yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sebagai lokasi bekas Ibu Kota Kerajaan Majapahit yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu destinasi wisata budaya berbasis Cagar Budaya. Pemanfaatan Cagar Budaya sebagai objek pariwisata seharusnya menjadi aset untuk memberdayakan masyarakat lokal dalam jangka panjang, namun faktanya pariwisata berbasis Cagar Budaya masih sangat dirasa belum cukup optimal. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam. Informan dalam penelitian ini adalah pelaku Objek Pemajuan Kebudayaan, stakeholder terkait, ahli budaya KCBN Trowulan, dan komunitas budaya kawasan tersebut. Hasil temuan dari penelitian ini adalah bahwa strategi yang perlu digunakan dalam upaya peningkatan pembangunan pariwisata berkelanjutan di KCBN Trowulan perlu menggunakan strategi pemajuan kebudayaan, yaitu melalui pelestarian Objek Pemajuan Kebudayaan yang ada di kawasan tersebut melalui upaya pengembangan dan pemanfaatan. Luaran penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam merumuskan strategi dan program pembangunan pariwisata berkelanjutan yang ada di KCBN Trowulan.    Trowulan National Cultural Heritage Area is one of the Cultural Heritage conservation areas protected by the Government of Indonesia as the location of the former Majapahit Royal Capital which is utilized by the community as one of the Cultural Heritage-based cultural tourism destinations. The utilization of Cultural Heritage as a tourism object should be an asset to empower local communities in the long term, but the fact is that Cultural Heritage-based tourism is still not optimal enough. This research method uses qualitative research methods with data collection in the form of literature studies, field observations, and in-depth interviews. The informants in this research are actors of the Cultural Advancement Object, related stakeholders, cultural experts of the Trowulan National Cultural Heritage Area, and the cultural community of the area. The findings of this research are that the strategy that needs to be used in an effort to increase sustainable tourism development in the Trowulan National Cultural Heritage Area needs to use a cultural promotion strategy, namely through the preservation of Cultural Advancement Objects in the area through development and utilization efforts. The output of this research can be used as a reference in formulating sustainable tourism development strategies and programs in the Trowulan National Cultural Heritage Area.
Nilai Aqidah Mandi-Mandi Tujuh Bulanan Warga Banjar di Banjarmasin (1860-2023) Nurhalimah, Nurhalimah; Subroto, Wisnu; Effendi, Rusdi; Nadilla, Dewicca Fatma; Akmal, Helmi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.36515

Abstract

Penelitian ini membahas tradisi mandi-mandi tujuh bulanan masyarakat Banjar di Banjarmasin dari tahun 1860 hingga 2023, dengan fokus pada nilai-nilai aqidah yang terkandung di dalamnya. Tradisi ini merupakan perpaduan antara warisan budaya lokal dan prinsip-prinsip Islam, terutama yang berkaitan dengan tauhid, syukur, tawakkal, serta pentingnya doa dan sedekah dalam kehidupan. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan deskriptif, mengandalkan data primer dari wawancara dan observasi, serta data sekunder dari literatur terkait. Teknik analisis dilakukan secara historis untuk menelusuri perubahan tradisi dari masa ke masa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tradisi mandi-mandi ini mengalami perubahan signifikan, esensi aqidah seperti pengakuan terhadap keesaan Allah (tauhid), rasa syukur atas kehamilan, dan sikap tawakkal dalam menghadapi persalinan tetap terjaga. Tradisi ini juga berfungsi sebagai media untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah di masyarakat. Fleksibilitas ajaran Islam dalam mengakomodasi kearifan lokal tercermin dalam keberlanjutan tradisi ini, meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana nilai-nilai aqidah dapat terus hidup dalam tradisi lokal.   This study discusses the tradition of bathing every seven months of the Banjar community in Banjarmasin from 1860 to 2023, focusing on the values ​​of faith contained therein. This tradition is a blend of local cultural heritage and Islamic principles, especially those related to monotheism, gratitude, resignation, and the importance of prayer and alms in life. The study uses a historical method with a descriptive approach, relying on primary data from interviews and observations, as well as secondary data from related literature. The analysis technique was carried out historically to trace changes in tradition over time. The results of the study show that although this bathing tradition has undergone significant changes, the essence of faith such as recognition of the oneness of Allah (tawhid), gratitude for pregnancy, and an attitude of resignation in facing childbirth are maintained. This tradition also functions as a medium to strengthen Islamic brotherhood in society. The flexibility of Islamic teachings in accommodating local wisdom is reflected in the sustainability of this tradition, despite facing the challenges of modernization and globalization. This study provides insight into how the values ​​of faith can continue to live in local traditions.
Performing Cultural Art, Preventing Femicide: Gender Interpretation of Reog Cemandi Dance Sidoarjo Mumtaz, Tsabitah Zain; Sukmawan, Sony
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.36580

Abstract

There are thousands of types of culture in the form of traditional arts that are diverse and still survive in the community. One example is the art of Reog Cemandi in Sidoarjo Regency. Its development, which until now has been able to be useful with a number of gender contents, makes it interesting to study. Various types of tools in the form of clothing, movements, poems, and offerings have gender meanings that are implemented in the lives of the surrounding community. This research aims to reveal the form and meaning of Reog Cemandi with gender concepts. At the same time, it examines the potential efforts to prevent femicide reflected in Reog Cemandi through socialist feminism. The data collection used interview, observation and documentation techniques. The data analysis was carried out through several stages, namely data reduction, data presentation and conclusions. To strengthen the research relationship, femicide prevention indicators were used as data analysis instruments.The results of this research show that Reog Cemandi gives an implicit message in the clothes, movements, poems, and offerings in it. The message has a strong gender meaning including gender insight, gender equality, and women's empowerment. The message has been implemented in the social life of the Cemandi community. This article provides an understanding of the gender meaning in Reog Cemandi which is implemented in community behavior so that it has the potential as an effort to prevent femicide.   Terdapat ribuan jenis kebudayaan berwujud kesenian tradisional yang beragam dan masih bertahan di tengah masyarakat. Salah satu contohnya adalah kesenian Reog Cemandi Kabupaten Sidoarjo. Perkembangannya yang hingga kini mampu bermanfaat dengan sejumlah muatan gender membuatnya menarik untuk diteliti. Berbagai jenis piranti berupa busana, gerak,  syair, dan sesaji didalamnya memiliki makna gender yang terimplementasikan dalam kehidupan masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk dan makna Tari Cemandi yang berkonsep gender. Sekaligus menelaah potensi usaha pencegahan femisida yang tercermin dalam Reog Cemandi melalui feminis sosialis. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Untuk memperkuat relasi penelitian, digunakan indikator pencegahan femisida sebagai instrumen analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Reog Cemandi memberi pesan tersirat dalam topeng, busana, gerak,  syair, dan sesaji di dalamnya. Pesan tersebut memiliki makna gender yang cukup kuat meliputi  wawasan gender, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan. Pesan tersebut telah diimplementasikan dalam kehidupan sosial masyarakat Cemandi dengan perilaku-perilaku yang mendukung kesetaraan gender. Artikel ini memberi pemahaman mengenai makna gender dalam Tari Reog Cemandi yang terimplementasikan dalam perilaku masyarakat sehingga berpotensi sebagai upaya pencegahan femisida.
Fenomena Pemanfaatan Media Sosial Makeup Style dalam Mengadopsi Korean Wave Wardani, Shakila Farah; Azwar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.36583

Abstract

Fenomena Korean Wave di Indonesia menimbulkan adanya tren makeup style pada generasi Z, khususnya penggemar K-pop di Indonesia. Dalam perjalanan tren makeup style, terjadi pergeseran kiblat penampilan dari barat ke Korea. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana Korean Wave dalam membentuk perubahan tren makeup style di media sosial pada generasi Z penggemar K-pop. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif. Metode ini digunakan untuk memahami pengalaman subjektif informan dalam meniru tren makeup Korea. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan lima informan yang memiliki ketertarikan mengikuti tren makeup Korea, Serta observasi langsung dari akun beauty influencer di media sosial mengenai generasi Z yang meniru tren makeup Korea. Penelitian ini menggunakan teknik analisis yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Temuan ini dihubungkan dengan teori Uses and Gratification untuk mengungkapkan bagaimana media menyebarkan tren makeup di kalangan generasi Z melalui inovasi makeup terbaru yang diciptakan oleh idol K-pop. Hasil penelitian menunjukan bahwa Korean Wave memiliki peran dalam penyebaran tren makeup Korea melalui media sosial. Idol K-pop dan Beauty influencer ikut berperan dalam menciptakan inovasi makeup terbaru yang kemudian diadopsi oleh penggemar K-pop di seluruh dunia. Selain itu, Peneliti menemukan wawasan baru mengenai dinamika pengaruh budaya pop global terhadap preferensi makeup.   The Korean Wave phenomenon in Indonesia has given rise to a makeup style trend among generation Z, especially K-pop fans in Indonesia. In the course of makeup style trends, there has been a shift in the direction of appearance from the West to Korea. The aim of this research is to find out how the Korean Wave has shaped changes in makeup style trends among Generation Z K-pop fans. The method used in this research is qualitative. This method is used to understand the informants' subjective experiences in imitating Korean makeup trends. Data was collected through interviews with five informants who are interested in following Korean makeup trends, as well as direct observations from beauty influencer accounts on social media regarding generation Z who imitate Korean makeup trends. This research uses analytical techniques, namely data reduction, data presentation and drawing conclusions. This finding is connected to the Uses and Gratification theory to reveal how the media spreads makeup trends among generation Z through the latest makeup innovations created by K-pop idols. The research results show that the Korean Wave has a role in spreading Korean makeup trends through social media. K-pop idols and beauty influencers play a role in creating the latest makeup innovations which are then adopted by K-pop fans all over the world. In addition, researchers found new insights into the dynamics of the influence of global pop culture on makeup preferences.
Dekonstruksi Tradisi Pasca Kematian di Linggo Sari Baganti dalam Perspektif Kajian Budaya Sari, Cia Novia; Syafril, Syafril; Nopriyasman, Nopriyasman
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.36725

Abstract

Tradisi pasca kematian merupakan keseluruhan prosesi yang dilakukan masyarakat setelah jenazah dikuburkan. Hal tersebut sudah menjadi tradisi dalam masyarakat dan kebudayaan yang menjadi kebiasaan turun temurun. Di Minangkabau berbagai bentuk tradisi diatur dalam semboyan adat, yaitu Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Syarak mangato, adat mamakai. Semboyan tersebut dimaksudkan bahwasanya adat berlandaskan syariat (agama), syariat berlandaskan Al-Qur’an. Apapun yang dikatakan oleh agama, maka itulah yang akan dipedomani oleh adat. Seiring perkembangan zaman dan pertumbuhan ilmu pengetahuan, terdapat beberapa ketidakselarasan antara tradisi dari nenek moyang dengan ajaran Islam yang diyakini oleh masyarakat di Linggo Sari Baganti. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pelaksanaan tradisi yang sudah ada sebelumnya dengan tradisi baru, sehingga dapat diketahui makna dari pembaharuannya berdasarkan perspektif kajian budaya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori dekonstruksi dan semiotika dengan perspektif kajian budaya. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif. Teknik pengolahan data yang dilakukan yaitu observasi lapangan, wawancara dan dokumen kasus. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan di Kecamatan Linggo Sari Baganti terdapat perbedaan, tradisi pasca kematian yang sudah ada sebelumnya, dikelompokkan menjadi tiga, yaitu manjalang tigo hari, bilang hari, dan malapasi. Sedangkan prosesi pada tradisi yang baru muncul terdiri dari dua, yaitu manjalang tigo hari dan bilang hari. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui beberapa makna setelah dilakukan dekonstruksi. Yaitu makna keagamaan, makna sosial, dan makna budaya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan pelestarian tradisi pasca kematian.   Post-death traditions are all processions carried out by the community after the body is buried. This has become a tradition in society and culture that has been passed down from generation to generation. In Minangkabau, various forms of tradition are regulated in traditional mottos, namely “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Syarak mangato, adat mamakai”. This motto means that custom is based on sharia (religion), sharia is based on the Koran. Whatever religion says, that is what custom will guide. As time goes by and the growth of science, there are several inconsistencies between the traditions of our ancestors and the Islamic teachings believed by the people in Linggo Sari Baganti. Therefore, this research aims to determine the form of implementation of pre-existing traditions with new traditions, so that the meaning of the renewal can be known based on a cultural studies perspective. This research was conducted using deconstruction with a cultural studies perspective. The method used is a descriptive qualitative method. The data processing techniques used were field observations, interviews and case documents. Based on research conducted in Linggo Sari Baganti District, there are differences, the pre-existing post-death traditions are grouped into three, namely “manjalang tigo hari, bilang hari and malapasi”. Meanwhile, the procession in the newly emerged tradition consists of two, namely “manjalang tigo hari and bilang hari”. Based on this, several meanings can be identified after deconstruction. These are religious meaning, social meaning and cultural meaning which can be used as considerations for preserving traditions after death.
Front Matter Volume 8 No 2 Oktober 2024 Satwika, Admin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bantengan Art and Ideology: The Independent Banteng Dance as a Spirit of Freedom Regina, Belinda Dewi; Suharto, Suharto; Wibawanto, Wandah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.37483

Abstract

Bantengan art, as part of East Javanese traditional culture, not only functions as entertainment, but also as a medium for social and ideological expression that is full of symbolic meaning. This research aims to analyze the relationship between Bantengan art and the ideology of freedom, with a focus on the Merdeka Banteng Dance as a representation of the spirit of freedom. The Merdeka Bantengan. Dance, one of the important elements in this art, is often associated with the spirit of resistance and freedom. This research uses a qualitative approach. Data was collected through participant observation, in-depth interviews with artists and cultural figures, as well as studying related literature. The analysis was carried out using thematic analysis and semiology methods to understand the symbolism contained in dance movements, costumes and music. The research results show that the Merdeka Bantengan Dance reflects the ideology of freedom through the use of the Bantengan symbol as a representation of strength and resistance to oppression. Through cultural and ideological meaning, the Merdeka Banteng Dance becomes a means of communication and expression of the spirit of freedom that is rooted in Bantengan art. This research provides new insight into how traditional art can function as a mirror of ideology and become a means of social expression in society.   Kesenian Bantengan, sebagai bagian dari budaya tradisional Jawa Timur, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media ekspresi sosial dan ideologis yang sarat makna simbolis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesenian Bantengan dengan ideologi kebebasan, dengan fokus pada Tari Banteng Merdeka sebagai representasi spirit kebebasan. Tari Banteng Merdeka, salah satu elemen penting dalam kesenian ini, sering diasosiasikan dengan semangat perlawanan dan kebebasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan para pelaku kesenian dan budayawan, serta studi literatur terkait. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode analisis tematik dan semiologi untuk memahami simbolisme yang terkandung dalam gerakan tari, kostum, dan musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Banteng Merdeka merefleksikan ideologi kebebasan melalui penggunaan simbol banteng sebagai representasi kekuatan dan perlawanan terhadap penindasan. Melalui pemaknaan budaya dan ideologis, Tari Banteng Merdeka menjadi sarana komunikasi dan ekspresi dari semangat kebebasan yang mengakar dalam kesenian Bantengan. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana seni tradisional dapat berfungsi sebagai cermin ideologi dan menjadi alat ekspresi sosial dalam masyarakat.