Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Articles
280 Documents
Romantisme Perempuan Muda Sasak dalam Antologi Puisi Eulogi
Johan Mahyudi;
Agusman Agusman
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 1 (2018): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v2i1.7022
Tujuan utama tulisan ini ialah menguraikan kombinasi pendekatan penelitian impresionistik, estetik, dan romantik sebagai metode yang memadai untuk menguraikan ideologi yang termuat di dalam sebuah antologi puisi. Metode estetik-romantik digunakan untuk mengeksplorasi bahasa-bahasa khas yang ditemukan dalam antologi Eulogi, yang jika dikaitkan dengan gagasan Shelley, Ingarden, dan Eagleton, optimalisasi bahasanya hanya bisa dinilai dari seberapa mampu puisi tersebut mendorong pembacanya berkontemplasi dengan menghadirkan bahasa yang indah. Hasil penelitian menunjukkan, Karwayu menulis puisi-puisi dalam antologi Eulogi bertujuan mengungkapkan perikehidupan rahasianya. Ungkapan rahasia kehidupan peribadi dengan bahasa yang indah tersebut, kian mudah dipahami berkat pengaturan urutan puisi oleh editor yang mudah menuntun pembaca untuk menemukan narasi pemberontakan jiwa perempuan Sasak dalam plot yang bergerak maju menuju akhir yang mengejutkan. Dari kelima puluh puisi yang terjalin kuat membangun romantisme perempuan Sasak, puisi-puisi tertentu bergerak pada level romantik yang lebih tinggi, yaitu pengungkapan prinsip-prinsip filosofis. Salah satu prinsip ideologis yang menonjol ialah pernyataan tegas Karwayu menolak segala upaya merusak perdamaian, apalagi jika dilakukan oleh pemuka agama dengan memanfaatkan mimbar di rumah ibadah. Mimbar dari seribu masjid di Pulau Lombok, menurutnya hal itu harus tetap dijaga agar menjadi sumber energi perdamaian di nusantara.
Hegemoni Maskulinitas dalam Under The Greenwood Tree Karya Thomas Hardy
Agista Nidya Wardani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v2i2.7988
Penelitian ini berfokus pada bagaimana hegemoni maskulinitas yang terjadi pada tiga tokoh laki-laki di novel Under The Greenwood Tree (1872) karya Thomas Hardy, khususnya pada tokoh utama laki-laki bernama Dick Dewy. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan teori hegemoni maskulinitas Raewyn Connell. Dari penelitian, ditemukan bahwa Dewy tersubordinasi dari kedua tokoh laki-laki lainnya, Shiner dan Vicar Maybold, karena Dewy berasal dari kelas bawah. Namun, pada akhirnya, Dewy tidak lagi tersubordinasi karena dia memiliki sesuatu yang menjadi standar ide komunal atau ide masyarakat untuk dianggap sebagai laki-laki yang kuat, yaitu memiliki kekayaan dalam jumlah banyak.
Mistisisme dalam Pemilin Kematian
Ardi Wina Saputra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v2i2.7996
Mistisisme sangat melekat dengan masyarakat Indonesia. Mistisisme sering kali dijadikan sebagai ornamen dalam kesusastraan Indonesia. Mulai dari kesusastraan lama, sastra lisan, hingga sastra tulis. Di era 2000-an ini mistisisme yang notabene merupakan kekayaan inetelektual bangsa, sangat jarang digunakan karena dianggap kuno. Namun penulis muda Dwi Ratih Rahmadhany menggunakan mistisisme dalam kumpulan cerpennya berjudul Pemilin Kematian. Penelitian ini menilai kajian mistisisme dalam cerpen Pemilin Kematian karya Dwi Ratih Rahmadhany. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Temuan dalam penelitian ini adalah cerpen-cerpen yang memiliki muatan mistisisme dalam Kumpulan Cerpen Pemilin Kematian.
Menuju Ecocentrisme: Menapaki Jalan Ekologis yang Etis
Ghanesya Hari Murti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v2i2.7997
Upaya untuk menghidupkan relasi yang harmonis antara manusia dengan alam selalu gagal dan menemukan polemik kendati kondisi tersebut selalu diidealkan bersama. Tentunya, usaha tersebut tidak hanya membutuhkan pikiran kritis tapi juga dorongan etis yang kuat. Posisi etis itu ada pada upaya untuk pindah dari cara berpikir antroposentris yang berpihak untuk mendominasi alam demi kebutuhan manusia menuju cara berpikir ekosentris yang menganggap bahwa kepentingan alam juga harus diikutkan haknya sebagai subjek hukum. Tulisan ini dengan begitu hendak 1) memberikan ilustrasi posisi etis pada dua peristiwa yang melibatkan alam sebagai sebagai subjek dan non subjek hukum, 2) mengurai argumentasi etis yang betengkar dan saling melegitimasi tindakan moral pada alam 3) menunjukkan argumentasi para intelektual khas libertarian Amerika yang berupaya menunjukkan posisi ecocentris yang mereka alami. Sederet perjalanan pemikiran para environmentalists itu dimaksudkan untuk merunut argumentasi akademis mengapa memberikan legal standing bagi sungai ataupun sebuah taman nasional menjadi normal. Sehingga muncul konsekuensi bahwa alam juga mampu menuntut hak yang sama di mata hukum untuk dihitung kepentingannya yang dilukai oleh manusia. Hanya dengan begitu, hak sungai untuk tetap jernih, burung untuk tetap berkepak dan lembah untuk tetap berlekuk bisa dinikmati sebagai buah perkembangan peradaban yang lebih etis.
Tata Artistik (Scenografi) dalam Pertunjukan Kesenian Tradisi Berbasis Kerakyatan
Heny Purnomo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v2i2.7998
Kepuasan rasa dan nilai estetik yang didapatkan penonton melalui interaksi dalam pertunjukan sering menjadi persoalan yang berujung pada merosotnya aktivitas produksi pergelaran. Beberapa dekade terakhir, ludruk sebagai pertunjukan tradisi berbasis kerakyatan, kini tampak sepi penonton, dan persoalan yang mendasar ketika pertunjukan Irama Budaya sebagai satu-satunya ludruk tobong yang bertahan di Surabaya belum mampu menarik perhatian penonton. Pertunjukan yang diadakan secara live di Gedung Ludruk THR Surabaya, kini bertambah beban permasalahannya ketika media televisi berkembang dan meningkat sangat pesat. Berbagai tayangan hiburan berbasis industri seni popular, sekarang didukung panataan artistik dengan kecanggihan teknologi, namun juga memunculkan persoalan terkait keberadaan kesenian tradisi yang sering diselenggarakan di panggung prosenium. Tayangan media televisi hampir tidak pernah menyisakan waktu kosong sedikitpun, sebaliknya pertunjukan berbasis kerakyatan yang diselenggarakan secara live dianggap ketinggalan jaman dan tidak memberi keuntungan pasar. Persoalan tersebut merupakan "fenomena sosial†yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan faktor pendukung, menjelaskan penataan skenografi dan peranan di balik keberadaan pertunjukan ludruk Irama Budaya. Untuk menganalisa penelitian digunakan teori relevan melalui analogi Goffman ditunjang berbagai konsep skenografi. Penelitian dengan metode kualitatif dan pendekatan skenografi ini, lebih menitik-beratkan teknik pengumpulan data lewat observasi, wawancara, dan studi pustaka. Penelusuran faktor-faktor pendukung dan penataan tata artistik menghasil-kan asumsi tentang peranan skenografi di balik keberadaan pertunjukan ludruk Irama Budaya Surabaya
Kearifan Lokal Malangan dalam Kumpulan Cerpen Aloer-Aloer Merah Karya Ardi Wina Saputra
Mega Fransiska Ariani;
Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v2i2.7999
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan kearifan lokal Malangan yang terdapat pada kumpulan cerpen Aloer-Aloer Merah karya Ardi Wina Saputra. Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan konsep kearifan lokal melalui pendekatan antropologi sastra. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan bentuk deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca keseluruhan kumpulan cerpen. Analisis data dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) membaca keseluruhan kumpulan cerpen, 2) mengidentifikasi data, 3) mengklasifikasi data, 4) menganalisis dalam bentuk deskriptif dengan menggunakan penafsiran peneliti, 5) menyimpulkan hasil temuan, 6) menulis laporan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Ardi Wina Saputra menghadirkan cerita tentang kearifan lokal dalam aspek bahasa, aspek aktivitas atau mata pencaharian, dan aspek religi.
Refleksi dan Evaluasi Stigma 5 Festival Monolog Nasional di Universitas Negeri Malang
Roci Marciano
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v2i2.8000
Monolog dalam seni teater dan drama penting untuk di pelajari saat ini, karena memberikan dampak positif bagi seorang aktor, baik itu di atas panggung, maupun pada kehidupan itu sendiri. Kecerdasan yang bisa dipelajari dalam belajar monolog tentu saja bukan hanya berani tampil sendirian di atas panggung dengan menyampaikan kisah. tetapi nilai yang paling berharga adalah ketika seorang manusia mampu menghapalkan hasil pemikiran seorang penulis naskah, merespon segala tatanan artistik dengan kecerdasan lahiriah dan batiniah sebagai perangkat keaktoran untuk disampaikan kepada penonton. Refleksi dan evaluasi perlombaan, perlu disampaikan demi kemajuan para pelaku monolog.
Transfer Fonologis Konsonan Hambat dari Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia
Rosalin Ismayoeng Gusdian
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 2 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v2i2.8001
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transfer fonologis konsonan hambat yang terjadi dari Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif guna mengetahui transfer fonologis apa saja yang ditemukan saat penutur Bahasa Indonesia yang memiliki aksen Jawa mengucapkan kata-kata yang mengandung konsonan hambat di dalam Bahasa Indonesia. Subjek penelitian ini adalah 5 orang penutur Bahasa Indonesia dengan aksen Jawa. Selanjutnya, kelima subjek diberi sebuah cerita pendek yang memuat kata-kata dengan konsonan hambat; kemudian, suara mereka direkam. Dari hasil analisis data, ditemukan bahwa terdapat perbedaan beberapa konsonan hambat Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia yang termuat dalam transfer fonologis yang diucapkan oleh penutur Bahasa Indonesia beraksen jawa. Beberapa transfer tersebut antara lain transfer konsonan plosif kendur bersuara, substitusi untuk konsonan berhenti velar [k] menjadi suara glottal [Ê”] pada koda (akhir kata), dan substitusi untuk konsonan frikatif labio-dental [f] menjadi konsonan bilabial tak bersuara [p].
Tari Glipang sebagai Sarana Peningkatan Konsentrasi Kinestetik Tunagrahita
Arina Restian;
Dian Fitri Nur Aini
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v3i1.8678
Usia sekolah dasar merupakan fase perkembangan awal pada anak untukmengembangkan kemampuan atau kecerdasannya. Peserta didik memilikikemampuan berbeda-beda yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kecerdasan pada manusia khususnya anak usia sekolah dasar meliputi 9 jenis kecerdasan salah satunya adalah kecerdasan kinestetik. Kecerdasan kinestetik pada usia sekolah dasar secara umum berkembang lebih cepat dibandingkan kecerdasan yang lain. Hal ini dikarenakan karakteristik anak usia sekolah dasar cenderung lebih menyukai kegiatan yang bergerak misalnya berlari dan menari. Namun pada anak tunagrahita, kemampuan motoriknya cenderung berkembang lebih lambat dibandingkan dengananak regular. Tunagrahita memiliki keterbatasan dalam memfokuskan diri pada sesuatu tidak lebih dari setengah jam sehingga mereka sulit berkonsentrasi. Keterlambatan perkembangan kemampuan motorik yang dialami oleh tunagrahita juga berpengaruh terhadap konsentrasi kinestetiknya. Anak cenderung sulit menghafal gerakan-gerakan yang terdapat pada pembelajaran yang mengharuskan mereka bergerak secara bersamaan dengan siswa lain misalnya pada kegiatan senam dan tari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melatih konsentrasi kinestetik pada anak tunagrahita adalah melalui kegiatan menari. Tari memiliki tujuan untuk mengembangkan pribadi peserta didik. Salah satu jenis tarian yang dapat digunakan sebagai sarana terapi tunagrahita adalah Tari Glipang. Tari Glipang merupakan tarian yang berasal dari Probolinggo. Tari Glipang memiliki 13 tahapan yang diterapkan dalam pembelajaran seni yang dapat digunakan sebagai terapi untuk anak tunagrahita. Penerapan gerakan Tari Glipang pada anak grahitadapat membantu mereka meredakan emosi dan berpengaruh pada konsentrasinya. Selain itu, Tari Glipang juga cenderung memiliki gerakan yang fokus ke pengaturan pernapasan. Pengaturan pernapasan yang baik akan melancarkan peredaran darah yang secara langsung berpengaruh pada meningkatnya konsentrasi anak.
Pulau Bali dalam Pandangan Dunia Penyair Indonesia
Gita Safitri;
Nurul Fitriani;
Ninda Wahyuni
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v3i1.8679
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan para penyair terhadap pulau Bali yang dituangkan dalam karyanya. Fokus penelitian ini adalah menyoroti pandangan dunia pengarang dalam menciptakan puisi tentang pulau Bali. Untuk mengupas tuntas hal tersebut digunakan teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Teori ini digunakan sebagai upaya pengungkapan pandangan penyair terhadap kondisi masyarakat Bali yang nantinya dijadikan bahan imajinasi penyair. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kumpulan puisi dari empat penyair, yaitu WS Rendra Sajak Pulau Bali, Wayan Jengki Sunarta Selat Bali, Eka Budianta Pada Selembar Daun Gugur, dan Ketut Yuliarsa Hari Raya Pohon. Data yang digunakan berupa diksi-diksi bernilai estetik. Teknik pengumpulan data dengan cara studi dokumen. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa pengarang menggunakan sisi pandang yang berbeda-beda dalam mengambarkan pulau Bali. Pertama, WS Rendra menggunakan sisi pandang keburukan yang dimiliki Bali secara menyeluruh, mulai dari persoalan sosial hingga kebudayaan. Kedua, Wayan Jengki Sunarta mengunakan sisi pandang yang dimiliki Bali dengan titik fokus pada permasalahan sosial masyarakatnya. Ketiga, Eka Budianta menggunakan sisi pandang tragedi sejarah yang pernah terjadi di Bali. Keempat, Ketut Yuliarsa mengunakan sisi pandang kekayaan budaya yang dimiliki Bali.