Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Articles
337 Documents
Mistisisme dalam Pemilin Kematian
Saputra, Ardi Wina
JURNAL SATWIKA Vol 2, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (193.49 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v2i2.7996
Mistisisme sangat melekat dengan masyarakat Indonesia. Mistisisme sering kali dijadikan sebagai ornamen dalam kesusastraan Indonesia. Mulai dari kesusastraan lama, sastra lisan, hingga sastra tulis. Di era 2000-an ini mistisisme yang notabene merupakan kekayaan inetelektual bangsa, sangat jarang digunakan karena dianggap kuno. Namun penulis muda Dwi Ratih Rahmadhany menggunakan mistisisme dalam kumpulan cerpennya berjudul Pemilin Kematian. Penelitian ini menilai kajian mistisisme dalam cerpen Pemilin Kematian karya Dwi Ratih Rahmadhany. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Temuan dalam penelitian ini adalah cerpen-cerpen yang memiliki muatan mistisisme dalam Kumpulan Cerpen Pemilin Kematian.
Nilai Religiositas dalam Tembang “Tak Lela-Lela Ledhung”
Supanggih, Eka Aprillia Maharani;
Ferdyani, Clarashinta;
Dwi, Arga Anggiat
JURNAL SATWIKA Vol 1, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (269.496 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v1i2.7015
Pada sudut pandang masyarakat sekarang, tembang Tak Lela-Lela Ledhung ini kurang begitu menonjol atau bisa dibilang kuno dan tidak gaul untuk masyarakat pada jaman sekarang khususnya perkembangan jaman yang semakin pesat ini. Tujuan penelitian ini penting dilakukan karena tembang Jawa mengungkapkan bahwa ternyata faktor serta pengalaman masyarakat Trenggalek dalam tembang Jawa ini mampu memengaruhi kondisi psikologisnya secara tidak langsung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen yang di peroleh dari data primer, yakni dengan mengkaji tembang Tak Lela-Lela Ledhung sebagai objek penelitiannya. Hasil penelitian yang didapat menyebutkan bahwasanya tembang Tak Lela-Lela Ledhung sebagai objek penelitian banyak menghadirkan peristiwa yang mengaitkan antara nilai-nilai religiusitas dan unsur doa yang terdapat di dalam tembang Tak Lela-Lela Ledhung serta harapan-harapan orang tua terhadap anaknya. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tembang Jawa Tak Lela-Lela Ledhung ini haruslah tetap dijaga dan tetap diajarankan kepada masyarakat Jawa yang kemudian dilestarikan dengan cara turun-temurun diwariskan kepada anak cucunya sehingga menjadi budaya tersendiri, yaitu budaya orang tua dalam mendidik anaknya.
Transfer Fonologis Konsonan Hambat dari Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia
Gusdian, Rosalin Ismayoeng
JURNAL SATWIKA Vol 2, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (282.591 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v2i2.8001
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transfer fonologis konsonan hambat yang terjadi dari Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif guna mengetahui transfer fonologis apa saja yang ditemukan saat penutur Bahasa Indonesia yang memiliki aksen Jawa mengucapkan kata-kata yang mengandung konsonan hambat di dalam Bahasa Indonesia. Subjek penelitian ini adalah 5 orang penutur Bahasa Indonesia dengan aksen Jawa. Selanjutnya, kelima subjek diberi sebuah cerita pendek yang memuat kata-kata dengan konsonan hambat; kemudian, suara mereka direkam. Dari hasil analisis data, ditemukan bahwa terdapat perbedaan beberapa konsonan hambat Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia yang termuat dalam transfer fonologis yang diucapkan oleh penutur Bahasa Indonesia beraksen jawa. Beberapa transfer tersebut antara lain transfer konsonan plosif kendur bersuara, substitusi untuk konsonan berhenti velar [k] menjadi suara glottal [ʔ] pada koda (akhir kata), dan substitusi untuk konsonan frikatif labio-dental [f] menjadi konsonan bilabial tak bersuara [p].
Film dan Identitas Nasional Korea Selatan: Studi Komparasi pada Film My Little Hero dan Secretly Greatly
Thalib, Amirah Anis
JURNAL SATWIKA Vol 2, No 1 (2018): April
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1688.525 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v2i1.7020
Fabrikasi film tidak semata-mata ditujukan untuk menghibur penonton namun juga untuk mempengaruhi penonton melalui gagasan sang kreator yang salah satunya adalah gagasan mengenai identitas nsional. Penulis akan memaparkan bagaimana identitas nasional dihadirkan dalam dua film produksi Korea Selatan pada tahun 2013 yaitu A Wonderful Life dan Secretly Greatly. Melalui analisis yang dilakukan terhadap tiap karakter utama di kedua film, dapat disimpulkan bahwa terdapat kegalauan atas konsep identitas nasional Korea Selatan
MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT EKOLOGIS KULTURAL UNTUK PENYELAMATAN MATA AIR DI KOTA BATU
Susilo, Rachmad K Dwi
JURNAL SATWIKA Vol 1, No 1 (2017): April
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/js.v1i1.4602
The construction of the hotel that was opposed by the users of water resource triggered the emergence of social movement. While inititating movement, they initiated the programs of community empowerment as well. It means that the community empowerment is one of strategies of movement. Then, besides focusing on cultural activities, the other activities are the optimization of youth potentials and the care about community activities. In this context, the ecological cultural is joined by the other community interests. This strategy is effective because the empowerment stimulated the development of social network and local culture. The critic of this empowerment is culture is not a central of activities. The culture is still used as instrument for the conservation of environment. This stance is always questioned and criticized by the environmental and cultural activists in Malang Town. This article will describe the model of cultural ecological empowerment in Batu City that is described from the emergence of community empowerment, the forms of the community empowerment, the form of social changes after interventions, and the strengths and weaknesses of this empowerment. This article utilized the descriptive research method with ethnographical approach. Meanwhile, the used sampling is purposive sampling with eight subjects of research are activists of Nawakalam Gemulo, community based organization in Cangar Hamlet, Bulukerto Village, Batu City.
Menuju Ecocentrisme: Menapaki Jalan Ekologis yang Etis
Murti, Ghanesya Hari
JURNAL SATWIKA Vol 2, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (261.55 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v2i2.7997
Upaya untuk menghidupkan relasi yang harmonis antara manusia dengan alam selalu gagal dan menemukan polemik kendati kondisi tersebut selalu diidealkan bersama. Tentunya, usaha tersebut tidak hanya membutuhkan pikiran kritis tapi juga dorongan etis yang kuat. Posisi etis itu ada pada upaya untuk pindah dari cara berpikir antroposentris yang berpihak untuk mendominasi alam demi kebutuhan manusia menuju cara berpikir ekosentris yang menganggap bahwa kepentingan alam juga harus diikutkan haknya sebagai subjek hukum. Tulisan ini dengan begitu hendak 1) memberikan ilustrasi posisi etis pada dua peristiwa yang melibatkan alam sebagai sebagai subjek dan non subjek hukum, 2) mengurai argumentasi etis yang betengkar dan saling melegitimasi tindakan moral pada alam 3) menunjukkan argumentasi para intelektual khas libertarian Amerika yang berupaya menunjukkan posisi ecocentris yang mereka alami. Sederet perjalanan pemikiran para environmentalists itu dimaksudkan untuk merunut argumentasi akademis mengapa memberikan legal standing bagi sungai ataupun sebuah taman nasional menjadi normal. Sehingga muncul konsekuensi bahwa alam juga mampu menuntut hak yang sama di mata hukum untuk dihitung kepentingannya yang dilukai oleh manusia. Hanya dengan begitu, hak sungai untuk tetap jernih, burung untuk tetap berkepak dan lembah untuk tetap berlekuk bisa dinikmati sebagai buah perkembangan peradaban yang lebih etis.
Mantra Kenduri Matang Puluh Dina Dusun Dadapan Kecamatan Pagak Kabupaten Malang
Prastyo, Randa Dwi;
Maryaeni, Maryaeni
JURNAL SATWIKA Vol 1, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.775 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v1i2.7016
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sastra lisan berupa mantra berdasarkan konteks dan teks yang ada pada masyarakat dusun Dadapan. Melalui teori Albert b. Lord sebagai acuan utama dapat dipahami bahwa untuk mengkaji sebuah sastra lisan berupa mantra perlu melihat konteks yang mendasari lahirnya sebuah mantra. untuk itu diperlukan konteks performance yang mendasari munculnya teks mantra. Transmisi, komposisi dan formula teks mantra merupakan kajian teks bahwa teks mantra akan tetap eksis ketika ada transmisi dan komposisi sehingga dapat diketahui formula yang dipakai penutur. Berdasarkan hal tersebut muncul fungsi mantra dalam ritual kenduri bagi masyarakat dusun Dadapan baik fungsi Individu maupun sosial.
Implementation of Auteur Theory in The Butler (2013): Race-Relationship between Whites and Blacks
Wiraatmaja, Triastama
JURNAL SATWIKA Vol 2, No 1 (2018): April
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (767.495 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v2i1.7021
The objectives of this study are to show the depiction of racism, which are followed by prejudice and discrimination towards black Americans based on context-relationship with The Butler (2013) during 1920s until 1960s. This article used a qualitative method with auteur theory, mise-en-scene and thick description. Based on The Butler (2013), this study show that racism, which were followed by prejudice and discrimination towards blacks, emerged caused by slavestereotyping which stressed blacks as inferior and whites that uphold white-supremacy concept, as superior. Apparently that through The Butler, Lee Daniels wants to highlight that actually public policies or government laws which regulate citizens’ civil rights and slavery are not adequate to restrain or eradicate racism towards blacks American.
NILAI-NILAI ISLAM DALAM KONSTRUKSI SOSIAL KONSERVASI LINGKUNGAN PESISIR (STUDI DI MANGROVE CENTERTUBAN)
Sudiasmo, Fandi
JURNAL SATWIKA Vol 1, No 1 (2017): April
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/js.v1i1.4601
Various problems related to the growth of coastel area are rapidly relative, definitely the handling steps immediately should be concepted. In addition of what have been predicted, in this time one demage of the coastel area is demaged of mangrove, so that why the conservation in coastel area extremely needed because there are several benefits for society. Mangrove Center of Tuban (MCT) is one of institute that has been developing the conservation of coastel area. The purpose in this research is understanding the values of Islam in social construction of coastel area conservation in Tuban Mangroves Center, utilised the qualitative research with phenomenological approach, use the analysis techniques of research phenomenological Creswell data, did in Jenu village- Jenu subdistricts regency of Tuban. The existency of conservation activities surely not released to the process of social construction. The concept of social construction is the meaning of each individul process for each areas and each outside aspect consist of Externalitation process,Objectivation, and internalitation. Start from the activities, planting of mangrove that planted everyday, be a habits, have an institute other socialitation to make some conservations. Conservation activities as a realization of values in religion (Islam), pay attention to some areas not liberated from the verses of the holy Qur’an (QS Al Isra (17): 44).
Tata Artistik (Scenografi) dalam Pertunjukan Kesenian Tradisi Berbasis Kerakyatan
Purnomo, Heny
JURNAL SATWIKA Vol 2, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (395.589 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v2i2.7998
Kepuasan rasa dan nilai estetik yang didapatkan penonton melalui interaksi dalam pertunjukan sering menjadi persoalan yang berujung pada merosotnya aktivitas produksi pergelaran. Beberapa dekade terakhir, ludruk sebagai pertunjukan tradisi berbasis kerakyatan, kini tampak sepi penonton, dan persoalan yang mendasar ketika pertunjukan Irama Budaya sebagai satu-satunya ludruk tobong yang bertahan di Surabaya belum mampu menarik perhatian penonton. Pertunjukan yang diadakan secara live di Gedung Ludruk THR Surabaya, kini bertambah beban permasalahannya ketika media televisi berkembang dan meningkat sangat pesat. Berbagai tayangan hiburan berbasis industri seni popular, sekarang didukung panataan artistik dengan kecanggihan teknologi, namun juga memunculkan persoalan terkait keberadaan kesenian tradisi yang sering diselenggarakan di panggung prosenium. Tayangan media televisi hampir tidak pernah menyisakan waktu kosong sedikitpun, sebaliknya pertunjukan berbasis kerakyatan yang diselenggarakan secara live dianggap ketinggalan jaman dan tidak memberi keuntungan pasar. Persoalan tersebut merupakan "fenomena sosial” yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan faktor pendukung, menjelaskan penataan skenografi dan peranan di balik keberadaan pertunjukan ludruk Irama Budaya. Untuk menganalisa penelitian digunakan teori relevan melalui analogi Goffman ditunjang berbagai konsep skenografi. Penelitian dengan metode kualitatif dan pendekatan skenografi ini, lebih menitik-beratkan teknik pengumpulan data lewat observasi, wawancara, dan studi pustaka. Penelusuran faktor-faktor pendukung dan penataan tata artistik menghasil-kan asumsi tentang peranan skenografi di balik keberadaan pertunjukan ludruk Irama Budaya Surabaya