cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 366 Documents
Semiotic construction of Islamic meaning in the lyrics of “Islamic World” by Kagamine Rin Lubis, Muhammad Nasar; Wirman, Wirman
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43938

Abstract

This study investigates the semiotic construction of Islamic meaning in the lyrics of “Islamic World” performed by Kagamine Rin within the context of Japanese digital popular culture. As Islamic historical and religious symbols increasingly circulate in transnational media environments, their meanings are no longer transmitted solely through theological institutions but through aesthetic mediation. This research aims to examine how Islamic civilizational narratives are symbolically reconstructed in the song and how these representations function within contemporary digital culture. Employing a qualitative semiotic textual analysis supported by library research, the study integrates Stuart Hall’s theory of representation, Charles Sanders Peirce’s triadic model of the sign, and Roland Barthes’s framework of denotation and connotation. The corpus consists of the official lyrics analyzed through systematic coding of Islamic signifiers, including historical figures, theological terminology, civilizational references, and metaphorical clusters such as light, journey, leadership, and unity. The findings reveal that Islamic meaning is constructed through symbolic condensation and narrative recombination, transforming prophetic figures and historical references into ethical archetypes accessible within database-style digital aesthetics. Denotatively, the lyrics refer to Islamic history; connotatively, they construct Islam as a dynamic moral civilization characterized by knowledge, justice, expansion, and spiritual perseverance. Rather than reducing theology, the song performs symbolic relocation, recontextualizing Islamic civilizational memory within a globalized pop-cultural soundscape. The study concludes that religious symbolism in digital media can preserve moral substance while undergoing aesthetic reconfiguration, demonstrating that Islam in this context functions as a culturally adaptive ethical narrative rather than doctrinal exposition.   Penelitian ini mengkaji konstruksi semiotik makna Islam dalam lirik lagu “Islamic World” yang dibawakan oleh Kagamine Rin dalam konteks budaya populer digital Jepang. Seiring dengan semakin luasnya sirkulasi simbol-simbol historis dan religius Islam dalam lingkungan media transnasional, maknanya tidak lagi ditransmisikan semata-mata melalui institusi teologis, melainkan dimediasi secara estetis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana narasi peradaban Islam direkonstruksi secara simbolik dalam lagu tersebut serta bagaimana representasi tersebut berfungsi dalam budaya digital kontemporer. Penelitian ini menggunakan analisis tekstual semiotik kualitatif yang didukung oleh studi kepustakaan dengan mengintegrasikan teori representasi Stuart Hall, model triadik tanda Charles Sanders Peirce, serta kerangka denotasi dan konotasi Roland Barthes. Korpus penelitian berupa lirik resmi lagu yang dianalisis melalui proses pengodean sistematis terhadap penanda-penanda Islam, meliputi tokoh sejarah, terminologi teologis, referensi peradaban, serta klaster metaforis seperti cahaya, perjalanan, kepemimpinan, dan persatuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Islam dikonstruksi melalui kondensasi simbolik dan rekombinasi naratif yang mentransformasikan figur-figur kenabian dan referensi historis menjadi arketipe etis yang dapat diakses dalam estetika digital bergaya database. Secara denotatif, lirik merujuk pada sejarah Islam; secara konotatif, lirik tersebut membangun Islam sebagai peradaban moral yang dinamis yang ditandai oleh pengetahuan, keadilan, ekspansi, dan keteguhan spiritual. Lagu ini tidak mereduksi teologi, melainkan melakukan relokasi simbolik dengan merekontekstualisasikan memori peradaban Islam dalam lanskap budaya pop global. Penelitian ini menyimpulkan bahwa simbolisme religius dalam media digital dapat mempertahankan substansi moral sekaligus mengalami rekonfigurasi estetis, sehingga Islam dalam konteks ini berfungsi sebagai narasi etis yang adaptif secara kultural, bukan sekadar eksposisi doktrinal.  
Social capital in strengthening the value of gotong royong cooperation through the Sedekah Laut tradition in Munjungagung Village Tegal Regency Azarine, Bertha Thea Cyrilla; Wijayanti, Tutik
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43971

Abstract

This study aims to analyze the formation and interaction of social capital elements in the Sedekah Laut tradition in Mujungagung Village, Tegal Regency, as a mechanism for strengthening mutual cooperation among coastal communities. The study employed a qualitative case study design. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were analyzed using the Miles and Huberman interactive model within the theoretical framework of Robert D. Putnam’s social capital. The research findings indicate that the Sedekah Laut tradition functions as a space for the reproduction of social capital through the internalization of social norms, the development of trust, and the strengthening of social networks among residents. Social norms shape collective expectations regarding the obligation to participate; trust minimizes uncertainty in cooperation; and social networks facilitate coordination and the division of roles. The interaction of these three elements produces repeated collective actions and reinforces the practice of mutual aid in a sustainable manner. These findings confirm that local traditions function not only as cultural rituals but also as social mechanisms that maintain the cohesion and solidarity of coastal communities.   Penelitian ini bertujuan menganalisis pembentukan dan interaksi unsur-unsur modal sosial dalam tradisi Sedekah Laut di Desa Munjungagung, Kabupaten Tegal sebagai mekanisme penguatan nilai Gotong Royong masyarakat pesisir. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan kerangka teori modal sosial Robert D. Putnam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sedekah Laut berfungsi sebagai ruang reproduksi modal sosial melalui internalisasi norma sosial, tumbuhnya kepercayaan (trust), serta penguatan jaringan sosial antarwarga. Norma sosial membentuk ekspektasi kolektif mengenai kewajiban partisipasi, kepercayaan meminimalkan ketidakpastian dalam kerja sama, sedangkan jaringan sosial memfasilitasi koordinasi dan pembagian peran. Interaksi ketiga unsur tersebut menghasilkan tindakan kolektif yang berulang dan memperkuat praktik Gotong Royong secara berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi lokal tidak hanya berfungsi sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang menjaga kohesi dan solidaritas masyarakat pesisir.
Governance fragmentation and accountability vacuum in palm oil transportation: Evidence from a rural village in Indonesia Efendi, Hartatik; Muradi, Muradi; Sagita, Novie Indrawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43975

Abstract

Palm oil transportation in rural Indonesia generates significant environmental and social impacts that extend beyond cultivation-phase concerns. In Telaga Arum Village, North Kayong Regency, West Kalimantan, intensive truck traffic has degraded village roads, disrupted drainage systems, and constrained community mobility. This study examines how governance arrangements shape the management of these impacts at the village level. Using a qualitative case study design, data were collected over a 14-day field period (January–February 2026) through semi-structured interviews with twelve key informants representing village government, district authorities, palm oil companies, and community members, complemented by field observation and document analysis. Thematic analysis identifies four recurring governance patterns: (1) absence of binding accountability mechanisms for infrastructure maintenance, evidenced by repeated but unanswered formal repair requests; (2) community participation limited to deliberation forums without documented action plans or follow-up authority; (3) restricted transparency regarding operational agreements between companies and government; and (4) unpredictable intervention patterns driven by social or political pressure rather than stable regulatory frameworks. These findings demonstrate that infrastructure degradation is not solely a technical issue but reflects an “accountability vacuum,” defined as a governance condition in which multiple actors are formally present but none hold enforceable responsibility due to fragmented authority and jurisdictional ambiguity. This concept advances environmental governance analysis by distinguishing situations of distributed but non-binding responsibility from more general forms of weak enforcement or coordination failure. The study concludes that improving governance requires institutional reforms that clarify intergovernmental responsibilities, establish binding corporate obligations for the use of public infrastructure, and strengthen participatory mechanisms by linking community input to decision-making authority. The findings contribute to broader debates on local environmental governance by showing how global commodity logistics produce localized governance gaps in rural contexts.   Aktivitas transportasi kelapa sawit di wilayah perdesaan Indonesia menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang signifikan yang melampaui isu pada tahap budidaya. Di Desa Telaga Arum, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, intensitas lalu lintas truk yang tinggi menyebabkan kerusakan jalan desa, gangguan sistem drainase, serta pembatasan mobilitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tata kelola memengaruhi penanganan dampak tersebut di tingkat desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan selama periode lapangan 14 hari (Januari–Februari 2026) melalui wawancara semi-terstruktur dengan dua belas informan kunci yang mewakili pemerintah desa, pemerintah daerah, perusahaan kelapa sawit, dan masyarakat, serta dilengkapi dengan observasi lapangan dan analisis dokumen. Analisis tematik mengidentifikasi empat pola utama tata kelola: (1) ketiadaan mekanisme akuntabilitas yang mengikat dalam pemeliharaan infrastruktur, yang ditunjukkan oleh pengajuan permintaan perbaikan yang berulang namun tanpa respons formal; (2) partisipasi masyarakat yang terbatas pada forum musyawarah tanpa rencana aksi dan tindak lanjut yang mengikat; (3) keterbatasan transparansi terkait kesepakatan operasional antara pemerintah dan perusahaan; serta (4) pola intervensi yang tidak dapat diprediksi dan lebih dipengaruhi oleh tekanan sosial atau politik daripada kerangka regulasi yang stabil. Temuan ini menunjukkan bahwa degradasi infrastruktur tidak semata-mata disebabkan oleh faktor teknis, melainkan mencerminkan adanya “kekosongan akuntabilitas” (accountability vacuum), yaitu kondisi tata kelola di mana berbagai aktor secara formal terlibat, tetapi tidak ada pihak yang memiliki tanggung jawab yang mengikat akibat fragmentasi kewenangan dan ambiguitas yurisdiksi. Konsep ini memperluas analisis tata kelola lingkungan dengan membedakan kondisi tanggung jawab yang tersebar namun tidak mengikat dari bentuk kegagalan tata kelola lainnya seperti lemahnya penegakan atau kegagalan koordinasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbaikan tata kelola memerlukan reformasi kelembagaan yang menegaskan pembagian kewenangan antar level pemerintahan, menetapkan kewajiban perusahaan yang mengikat dalam penggunaan infrastruktur publik, serta memperkuat mekanisme partisipasi dengan menghubungkan aspirasi masyarakat dengan otoritas pengambilan keputusan. Studi ini berkontribusi pada pengembangan kajian tata kelola lingkungan lokal dengan menunjukkan bagaimana rantai pasok komoditas global menghasilkan kesenjangan tata kelola di tingkat perdesaan. 
Women as political socialization agents: A study of gendered political mobilization in Indonesia’s 2024 election (Case of PKS in Deli Serdang) Yanti, Delfi; Harahap, Elly Warnisyah; Aminuddin, Aminuddin; Reksa, M. Angga
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.44143

Abstract

Women’s political participation has become an important issue in contemporary democratic studies, particularly in emerging democracies such as Indonesia, where elections serve as a key mechanism for citizen engagement. However, most existing studies still conceptualize political socialization as a passive, cultural, and family-based process. There is limited attention to how political parties actively mobilize women as strategic agents of political socialization, especially at the local level. This study aims to analyze the role of women as political socialization agents in Indonesia’s 2024 election, focusing on gendered political mobilization within the Prosperous Justice Party (PKS) in Deli Serdang Regency. This research employs a qualitative approach with a grounded perspective. Data were collected through in-depth interviews and field observations, supported by secondary data from official documents and academic literature. Informants consisted of female party elites, members, and cadres selected through purposive sampling. Data were analyzed using thematic analysis. The findings show that women in PKS play an active and strategic role through organizational consolidation, community-based engagement, and digital political campaigns. Their involvement contributes to increasing women’s political participation and shaping voter preferences. However, an ambivalence is identified between empowerment and instrumentalization, where women’s participation simultaneously reflects inclusion and serves electoral interests. This study contributes by reconceptualizing political socialization as an active and organized process driven by political actors and by advancing the concept of gendered political mobilization in local democratic contexts.   Partisipasi politik perempuan menjadi isu penting dalam studi demokrasi kontemporer, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, di mana pemilu merupakan sarana utama keterlibatan warga negara. Namun, sebagian besar kajian masih memandang sosialisasi politik sebagai proses yang pasif, kultural, dan berbasis keluarga. Penelitian yang menyoroti bagaimana partai politik secara aktif memobilisasi perempuan sebagai agen strategis sosialisasi politik, khususnya di tingkat lokal, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran perempuan sebagai agen sosialisasi politik pada Pemilu 2024, dengan fokus pada mobilisasi politik berbasis gender di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif grounded. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan, serta didukung oleh data sekunder berupa dokumen resmi dan literatur ilmiah. Informan terdiri dari pengurus, anggota, dan kader perempuan PKS yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan teknik thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan PKS berperan aktif dan strategis melalui konsolidasi organisasi, pemberdayaan komunitas, serta kampanye politik digital. Peran ini berkontribusi dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan dan memengaruhi preferensi pemilih. Namun, ditemukan ambivalensi antara pemberdayaan dan instrumentalisasi dalam keterlibatan perempuan. Penelitian ini berkontribusi dalam merekonseptualisasi sosialisasi politik sebagai proses aktif dan terorganisir serta memperkuat konsep mobilisasi politik berbasis gender dalam konteks demokrasi lokal.
Representation of colonialism and social conflict in Ip Man 2: A postcolonial analysis Fauzi, Aqeela Putri; Goeyard, Wandayani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.44322

Abstract

Film as a cultural text is not neutral but represents power relations, including colonialism, which contributes to social conflict. However, studies that specifically examine the relationship between the representation of colonialism and social conflict in film remain limited. This study aims to analyze the representation of colonialism and how it constructs social conflict in the film Ip Man 2 using Edward Said’s postcolonial perspective. This research employs a qualitative interpretative-critical approach through film text analysis. The unit of analysis consists of four purposively selected key scenes: the colonial officials’ meeting, the boxing match, the humiliation of kungfu, and the final victory of the main character. Data were analyzed through coding and interpretation based on the concept of Orientalism. The findings indicate that the film represents colonialism through a discourse that positions the West as superior and the East as inferior. This representation generates social conflict in the form of domination, stereotyping, and unequal power relations. Additionally, the film also portrays forms of resistance against colonial domination. In conclusion, the film functions as an ideological medium that not only reflects but also constructs power relations and social conflict in society.   Film sebagai teks budaya tidak bersifat netral, melainkan merepresentasikan relasi kekuasaan, termasuk kolonialisme yang berdampak pada konflik sosial. Namun, kajian yang secara spesifik menghubungkan representasi kolonialisme dengan konflik sosial dalam film masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kolonialisme dan bagaimana representasi tersebut membentuk konflik sosial dalam film Ip Man 2 berdasarkan perspektif postkolonial Edward Said. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif-kritis dengan analisis teks film. Unit analisis berupa empat adegan kunci yang dipilih secara purposif, yaitu pertemuan pejabat kolonial, pertandingan, penghinaan terhadap kungfu, dan kemenangan tokoh utama. Data dianalisis melalui proses coding dan interpretasi berbasis konsep orientalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film merepresentasikan kolonialisme melalui konstruksi wacana yang menempatkan Barat sebagai superior dan Timur sebagai inferior. Representasi tersebut memunculkan konflik sosial dalam bentuk dominasi, stereotip, dan ketimpangan relasi kekuasaan. Selain itu, film juga menampilkan bentuk resistensi terhadap dominasi kolonial. Simpulan penelitian menegaskan bahwa film berperan sebagai medium ideologis yang tidak hanya merefleksikan, tetapi juga membentuk relasi kekuasaan dan konflik sosial dalam masyarakat.
Parental communication patterns in digital parenting: A phenomenological study on smartphone usage education in rural Indonesia Elisa, Novia; Safitri, Lies Utami Efni
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.44358

Abstract

The increasing use of mobile phones among children in rural areas not only raises issues of control but also calls for a redefinition of the role of parental communication in digital parenting. However, existing studies tend to position communication patterns as static categories, thus failing to explain how these patterns are constructed and interpreted within the everyday practices of family life. This study aims to examine parental communication patterns as a social process that shapes children's understanding and digital behavior. This research employs a qualitative approach using a phenomenological method conducted in Tandam Hilir I Village, Dusun VIII, Hamparan Perak District, Deli Serdang Regency. Informants were selected purposively, and data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation, then analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal that democratic communication patterns function not merely as communication strategies but as mechanisms for negotiating values between parents and children in mobile phone use. This pattern enables the development of children's reflective awareness through continuous dialogic processes. In contrast, authoritarian patterns reproduce power relations that position children as objects of control, thereby limiting the internalization of values. Meanwhile, permissive patterns reflect weak regulatory structures, resulting in the absence of boundaries in technology use practices. This study emphasizes that communication patterns in digital parenting should be understood as contextual processes of meaning construction rather than merely behavioral typologies. Therefore, the effectiveness of digital parenting is determined by parents’ ability to create dialogic, reflective interactions grounded in the socio-cultural context of family life.   Peningkatan penggunaan telepon seluler pada anak di wilayah pedesaan tidak hanya menghadirkan persoalan kontrol, tetapi juga menuntut pemaknaan ulang peran komunikasi orang tua dalam pengasuhan digital. Namun, kajian yang ada masih cenderung memposisikan pola komunikasi sebagai kategori statis, sehingga belum mampu menjelaskan bagaimana pola tersebut dikonstruksi dan dimaknai dalam praktik keseharian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola komunikasi orang tua sebagai proses sosial yang membentuk pemahaman dan perilaku digital anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi di Desa Tandam Hilir I Dusun VIII, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Informan dipilih secara purposive, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi demokratis tidak hanya berfungsi sebagai strategi komunikasi, tetapi sebagai mekanisme negosiasi nilai antara orang tua dan anak dalam penggunaan telepon seluler. Pola ini memungkinkan terbentuknya kesadaran reflektif anak melalui proses dialog yang berkelanjutan. Sebaliknya, pola otoriter mereproduksi relasi kuasa yang menempatkan anak sebagai objek kontrol, sehingga membatasi proses internalisasi nilai. Sementara itu, pola permisif mencerminkan lemahnya struktur regulasi yang berdampak pada absennya batasan dalam praktik penggunaan teknologi. Penelitian ini menegaskan bahwa pola komunikasi dalam pengasuhan digital perlu dipahami sebagai proses konstruksi makna yang kontekstual, bukan sekadar tipologi perilaku. Dengan demikian, efektivitas pengasuhan digital ditentukan oleh kemampuan orang tua dalam menciptakan ruang interaksi yang dialogis, reflektif, dan berakar pada konteks sosial-budaya keluarga.