Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Articles
337 Documents
Issues Faced by Minority Ethnic Groups’ Students Reflected in Their Writing
Triastama Wiraatmaja
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i1.11475
This research attempted to determine issues faced by minority ethnic groups’ students in English Language Education Department in private university in Malang, and whether ethnicity and social aspects played significant roles in the students’ language proficiency reflected in their vocabulary in writing class. The researcher analysed writing samples taken from 16 students from both minority and majority ethnic groups by utilising Voyant Tools which focused on vocabulary density and average words per sentence. Followed with spreading questionnaires to eight students of minority ethnic groups and interviewing two of them who earned highest scored based on Voyant Tools. Those sessions were analysed with Thick Description to focus on related issues regarding vocabulary proficiency and ethnicities. The results taken from Voyant Tools indicated that students from minority ethnic groups were lesser than the students from majority one’s. Those results depicted the vocabulary proficiency of students from minority ethnic groups in writing, and those results were affected by educational deprived in their origins, and verbal abuse regarding their ethnicity. The researcher discovered that verbal abuse towards ethnicity regarded as individual discrimination that strengthens the majority’s idea to emphasise their superiority over the inferior. People tend to overlook the fact that verbal abuse among students was existed in universities and it affecting students’ performance. This notion was supported by the result taken from Voyant Tools in which the result shown that the minority ethnic groups were lesser than majority one’s and the effect were reflected at their writing, notably their vocabulary proficiency.
Penggunaan Campur Kode dalam Komunikasi Santri di Pondok Pesantren Anwarul Huda Malang
Mochamad Arifin Alatas;
Irma Rachmayanti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i1.11504
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya fenomena campur kode dalam komunikasi santri. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan campur kode yang terjadi di Pondok Pesantren Anwarul Huda Malang (PPAH). Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dengan observasi langsung. Peneliti melakukan pengamatan langsung di PPAH. Sumber data penelitian ini adalah komunikasi sehari-hari di PPAH. Pengumpulan data dilakukan dengan menyimak, merekam, dan mencatat komunikasi sehari-hari santri. Teknik analisis data menganalisis data rekaman dan catatan dengan melihat konteks, latar belakang, siapa, asal, dan peran penutur saat bertutur. Hasil penelitian adalah: Wujud campur kode yang meliputi (1) Jawa-Arab, (2) Indonesia-Jawa, (3) Jawa-Indonesia. Bentuk campur kode santri PPAH meliputi (1) terdapat penyisipan kata, (2) terdapat penyisipan frasa, (3) terdapat penyisipan ungkapan atau idiom, dan (4) terdapat penyisipan baster. Berdasarkan tipe campur kode di PPAH meliputi (1) campur kode ke dalam atau inner code-mixing dan (2) campur kode ke luar atau outer code-mixing.
Menimbang Spiritualitas dan Seksualitas: Simbolik Efisiensi dalam Praktik Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung
Nadya Afdholy;
Ghanesya Hari Murti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i1.11623
Penelitian ini mengkaji fenomena yang terdapat dalam teks cerita rakyat berjudul Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung. Cerita rakyat tersebut hidup sebagai model kepercayaan yang menjadi kode sosial atau parameter moralitas masyarakat Tulungagung. Masyarakat bereaksi pada wacana simbolik tentang kekayaan dan status sosial tertentu melalui apa yang ditawarkan dari wacana lisan yang berkembang di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan simbolik efisiensi yang terjadi pada mitos pesugihan Kembang Sore. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian berupa cerita rakyat berjudul Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung yang berasal dari buku Folklor Lisan sebagai Media Pendidikan Karakter Mahasiswa: Kajian Sosiologi Sastra yang ditulis oleh Supratno dan Darni. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Teknik analisis data berupa pencatatan dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pesugihan Kembang Sore merupakan simbolik efisiensi karena para pelaku pesugihan melakukan ritual berdasarkan pengalaman yang simbolik demi legitimasi dan verifikasi diri dalam konteks sosial. Pemuja ritus Kembang Sore berkutat pada hal-hal yang menjebak mereka pada wacana simbolik.
Nilai Religiositas Pupuh Kasmaran dalam Lontar Yusuf dan Relevansinya dengan Kehidupan di Era Disruptif
Martina Puspita Rakhmi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i1.11721
Keberadaan sastra daerah memiliki beragam fungsi. Salah satunya sebagai penyebar ajaran agama. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang memanfaatkan sastra daerah sebagai penyebaran ajaran agama Islam, melalui Lontar Yusup Banyuwangi. Dalam Lontar Yusup Banyuwangi, nilai religiositas adalah yang paling dominan. Untuk itu, dalam penelitian ini dikaji nilai-nilai religiositas dengan memfokuskan pengkajian pada Pupuh Kasmaran. Selain itu juga dibahas relevansi nilai religiositas dengan kehidupan di era disruptif. Teknik pengumpulan data melalui studi dokumen. Data dianalisis dengan metode analisis-deskriptif. Dari hasil penelitian diketahui terdapat empat nilai religiositas: (1) keimanan terhadap Tuhan, (2) keteringatan manusia terhadap sifat Tuhan, (3) ketaatan manusia terhadap Tuhan dan (4) kepasrahan manusia terhadap Tuhan, serta empat dimensi religiositas: dimensi praktis, dimensi ideologis, dimensi pengetahuan, dan dimensi perasaan. (2) nilai religiositas pada PK sangat relevan dalam kehidupan manusia di era disruptif.
Peradaban Melayu Kuno: Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Serdang dalam Novel Penari Dari Serdang Karya Yudhistira ANM Massardi
Muhammad Zulaemy;
Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i1.11778
Dalam sejarah bangsa Indonesia, peradaban Melayu menempati posisi yang penting. Berbagai bentuk kebudayaan bangsa saat ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah peradaban Melayu. Meskipun begitu, sangat sedikit hasil penelitian yang dilakukan terhadap kebudayaan Melayu di Indonesia. Berbagai hasil penelitian yang ada lebih berpusat pada kebudayaan Jawa. Melalui novel Penari Dari Serdang, Yudhistira ANM Massardi menggambarkan peradaban yang menjadi cikal bakal terbentuknya sebuah daerah yang bernama Serdang yang pada kenyataannya memiliki struktur sejarah yang panjang. Artikel ini bertujuan menggabarkan sejarah peradaban Melayu kuno yang tergambarkan dalam novel Penari Dari Serdang karya Yudhistira ANM Massardi. Dengan menggunakan perspektif new historicism yang menekankan pada hubungan dialektis antara aspek sejarah sebagai latar belakang terciptanya karya sastra dan teks sastra, artikel ini berpendapat bahwa karya ini menyoriti dimensi sejarah, budaya, dan ekonomi di Serdang pada masa kejayaan Melayu kuno. Berbagai gambaran yang ada di dalam novel ini memperlihatkan kesejajaran struktur dengan realitas pada dokumen-dokumen sejarah yang ada. Di sisi lain, novel ini juga memberikan kritik terhadap sikap pemerintah saat ini yang abai terhadap sejarah masa lalu yang kaya, utamanya di wilayah Serdang.
Fungsi, Bentuk, dan Makna Gerak Tari Jaranan Turonggo Yakso Kecamatan Dhongko Kabupaten Trenggalek
Tri Rusianingsih;
Yuddan Fijar Sugma Timur
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.13631
Kehadiran jaranan Turonggo Yakso pada awal-mulanya diinspirasi oleh keberadaan kegiatan upacara adat yang sering disebut dengan baritan. Upacara yang dilakukan masyarakat tersebut merupakan bentuk upacara bersih desa yang bertujuan untuk memohon kepada Hyang Widi (Tuhan Penguasa Alam) dan mensyukuri atas hasil panen, maupun supaya hewan ternak mereka juga dapat dihindarkan dari segala jenis penyakit. Penelitian bertujuan mendeskripsikan fungsi, bentuk penyajian dan makna gerak tari jaranan Turonggo Yakso. Konsep pertunjukan digunakan sebagai alat analisa penelitian. Penelitian menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, studi pustaka serta dokumentasi. Analisis dilakukan dengan deskripsi mendalam. Hasil penelitian menunjukkan terjadi pergeseran fungsi dari fungsi sakral ke profan. Bentuk penyajian terdiri dari gerak baku dan gerak tambahan. Gerakan pertunjukan ini memiliki makna yang berkaitan dengan kegiatan bertani. Gambaran jaranan (turonggo) yang berkepala raksasa (yakso) merupakan simbol dari hawa nafsu yang harus dijinakkan atau ditunggangi agar tidak liar.Â
Peran Ritual Meras Gandrung di Banyuwangi dalam Membentuk Kualitas Kepenarian
Lilik Subari;
Suwandi Widianto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.13633
Perubahan fungsi kesenian Gandrung dalam masyarakat Banyuwangi juga mempengaruhi pelaku pertunjukan. Tarian Gandrung yang awalmulanya dibawakan sebagai ritual atau perwujudan rasa syukur, kini mengalami pergeseran fungsi sebagai hiburan. Pergeseran fungsi ini menyebabkanpertunjukan lebih dominan pada kebutuhan visual seni tari.Akhirnya keberadaan pertunjukan Gandrung kini berkembang ke arah tuntutan kualitas kepenarian yang secara tradisi hanya dapat dihasilkan masyarakat pendukungnya melalui ritual Meras Gandrung.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanfaktor pendukung kepenarian, bentuk ritual Meras Gandrung, dan peranan ritual Meras Gandrung terhadap kualitas kepenarian. Penelitian menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan datadenganobservasi, wawancara, studi pustaka, serta dokumentasi. Analisis dilakukan dengan deskripsi mendalam. Hasil penelitian menunjukkan faktor pendukung kepenarian adalah patron. Ritual meras gandrung dilakukan mulai dari gerakan tari, alunan vocal, hingga meminum ramuan gurah suara. Ritual ini merupakan wujud simbolisasi pengakuan terhadap kesiapan pelaku gandrung di masyarakat. Meras gandrung hanyalah sebuah sarana atau media kegiatan ritual yang berusaha untuk mengesahkan apa yang telah menjadi pilihan seseorang. Kehadiran maupun peranannya sebagai sarana juga berkaitan erat dengan keberadaaan sosok gandrung yang akhirnya akan bermuara terhadap lingkungan komunitas sebagai pendukung utama yang melahirkannya.Â
Tuturan Bahasa Indonesia Masyarakat Etnik Keturunan Arab Di Kota Bangil
Wegig Panji Prasasti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i2.13882
Bahasa dapat mengidentifikasi seseorang dari mana mereka berasal melalui tuturan yang mereka ujarkan. Melalui tindak tutur kita dapat mengetahui asal daerah seseorang. Tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam hal ini, tuturan yang diujarkan oleh seseorang yang berasal dari keturunan etnik Arab berbeda dengan tuturan masyarakat kota Bangil pada umumnya. Tuturan mereka dipengaruhi oleh aksen dan beberapa kata dalam bahasa Arab yang masih mereka gunakan atau dapat disebut dengan peristiwa campur kode. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tuturan yang digunakan oleh masyarakat etnik keturunan Arab di kota Bangil. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode penelitian etnografi. Masyarakat keturunan etnik Arab umumnya tergolong masyarakat dwibahasa. Mereka menguasai bahasa pertama (B1) bahasa daerah dan bahasa kedua (B2) bahasa Arab. Ragam yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suasana maupun gaya bahasa yang terjadi ketika suatu peristiwa tutur berlangsung. Pada penelitian ini, ragam bahasa yang digunakan ketika terjadi peralihan kode dari BI ke BA adalah dua tuturan dalam ragam resmi. Pada penelitian ini, peralihan kode BI ke BA dalam ragam resmi terdapat dua tuturan, yaitu tuturan yang diberi nomor (1) dan (2). Kontak yang intensif antara dua bahasa atau lebih di dalam situasi yang memiliki lingkungan dwibahasa seperti halnya di masyarakat Indonesia dan dalam kasus ini adalah Kota Bangil dapat menimbulkan alih kode dan campur kode. Dalam penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada tuturan masyarakat etnik keturunan Arab sering melakukan alih kode dan campur kode.