cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2014)" : 8 Documents clear
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1263.877 KB)

Abstract

Sampul dan Pengantar Jurnal MG Volume 15 No 1 Tahun 2014
VALIDASI DAN KOREKSI DATA SATELIT TRMM PADA TIGA POLA HUJAN DI INDONESIA Mamenun Mamenun; Hidayat Pawitan; Ardhasena Sopaheluwakan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.64 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.169

Abstract

Prediksi curah hujan cukup sulit dilakukan karena keragamannya sangat tinggi dan banyaknya permasalahan data, seperti minimnya ketersediaan data, data tidak lengkap/kosong, jumlah stasiun kurang tersebar, kurang tenaga pengamat, sistem pengamatan dan pemasukan data masih manual, serta pengumpulan data berjalan lambat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dapat digunakan satelit hujan yang memiliki resolusi spasial dan temporal tinggi, cakupan wilayah luas, data near real-time, akses cepat, dan ekonomis. Penelitian ini dilakukan untuk validasi dan koreksi data satelit TRMM terhadap data observasi pada tiga pola hujan berbeda di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan analisis statistika, perhitungan galat dan pengembangan faktor koreksi untuk data satelit TRMM di wilayah dengan pola hujan monsun (Lampung, Jawa Timur, Kalimantan Selatan), pola hujan equatorial (Sumatera Utara, Kalimantan Barat), dan pola lokal (Maluku). Hasil validasi data satelit TRMM terhadap data observasi menunjukkan nilai korelasi tinggi di wilayah pola monsun (>0.80), cukup tinggi pada pola equatorial (>0.60) dan pola lokal (>0.75). Nilai RMSE lebih rendah di wilayah pola hujan monsun (RMSE = 58-84), dibandingkan wilayah pola hujan equatorial (RMSE=97-158) dan lokal (RMSE=173). Hasil koreksi data satelit TRMM diperoleh faktor koreksi dengan bentuk persamaan geometrik untuk pola monsun dan equatorial, serta linier untuk pola lokal. Setelah dilakukan koreksi, diperoleh galat data satelit menurun di Lampung 40.3%, Kalimantan Selatan 3.17%, dan meningkat di Jawa Timur 18.9%. Demikian di Kalimantan Barat, galat satelit TRMM menurun 58%, Sumatera Barat 10%, dan Maluku 12.3%. Sedangkan nilai korelasisetelah dilakukan koreksi meningkatdi wilayah pola monsun dan equatorial sebesar 1-2%, dan menurun di wilayah lokal sebesar 1%. Rainfall is difficult to be predicted because of its high variability and other problems such as lack of data availability, data incompletely, less spreading of the station, less observer, and manual data entry. Rainfall satellite can be used to encourage these problems because it has a high temporal and spatial resolution, wide-coverage, near real-time and fast accessibility. This research has been conducted to validate and correct the TRMM data on three rainfall patterns (monsoonal, equatorial, local pattern). The statistical analyses and correction factor development for TRMM data are conducted. Validation showed a high correlation between TRMM and gauge data on the monsoonal pattern (>0.80), a high correlation on equatorial (>0.60) and local pattern (>0.75). The lowest RMSE found on the monsoonal pattern (58-84), equatorial (97-158), and local (173). After correction, the error of corrected TRMM data decreased for three rainfall patterns. While the correlation value increased on the monsoonal and equatorial pattern of 1-2% and decreased in the local pattern of 1%.
PENGGUNAAN SKEMA KONVEKTIF MODEL CUACA WRF (BETTS MILLER JANJIC, KAIN FRITSCH DAN GRELL 3D ENSEMBLE) (Studi kasus: Surabaya dan Jakarta) Roni Kurniawan; Wido Hanggoro; Rian Anggraeni; Sri Noviati; Welly Fitria; Rahayu S. Sri Sudewi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.812 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.170

Abstract

Pada kajian ini dilakukan evaluasi penggunaan beberapa skema konvektif pada model WRF (Weather Research and Forecasting) untuk prediksi cuaca di wilayah Indonesia. Terdapat tiga skema konvektif yang akan dievaluasi yaitu; skema konvektif cumulus BMJ (Betts Miller Janjic), KF (Kain Fritsch), dan GD (Grell 3D ensemble). Data yang digunakan untuk evaluasi adalah data curah hujan per 3 jam dan data angin per 12 jam (level ketinggian; permukaan, 850, 500, 250 mb) dari hasil pengolahan model WRF dan observasi selama periode bulan Agustus 2011 dan Februari 2012 di stasiun Juanda-Surabaya dan Cengkareng-Jakarta. Hasil verifikasi dari tiga skema konvektif pada model WRF terhadap data observasi menunjukkan bahwa untuk prakiraan curah hujan, penggunaan skema konvektif BMJ lebih baik dari skema KF dan GD, dan untuk prakiraan arah dan kecepatan angin skema BMJ dan GD relatif lebih baik dari skema KF. Berdasarkan analisis hasil verifikasi yang diperoleh, pemilihan skema konvektif cumulus BMJ cenderung lebih baik dari skema konvektif KF dan GD untuk di aplikasikan pada model WRF. In this study, the use of some convective schemes on the model WRF (Weather Research and Forecasting) for weather prediction in the Indonesian region has been evaluated. There are two models evaluated; BMJ cumulus convective scheme (Betts Miller Janjic), KF (Kain Fritsch), and GD (Grell 3D ensemble). The data used in the evaluation are the 3 hourly rainfall data and the 12 hourly wind data (level height; surface, 850, 500, 250mb) from the WRF models and observation processing during August 2011 and February 2012 period at the Juanda-Surabaya and Cengkareng-Jakarta stations. The results of the verification of the three convective schemes in WRF models against observation data indicate that for precipitation forecasts, the application of the BMJ convective scheme is better than the KF and GD schemes, and for direction and wind speed forecast, BMJ and GD schemes are relatively better than the KF scheme. Based on the analysis of the verification results obtained, the selection of the BMJ cumulus convective scheme tends to be better than GD and KF convective scheme to be applied to WRF models.
PENENTUAN BATAS ATAS NORMAL DAN BAWAH NORMAL CURAH HUJAN BULANAN SETARA TERCILE DENGAN KOEFISIEN REGRESI LINIER SEDERHANA Robi Muharsyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3194.837 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.175

Abstract

WMO mendefenisikan kategori sifat hujan Atas Normal (AN) dan Bawah Normal (BN) berdasarkan nilai Tercile (P66 dan P33). Sedangkan BMKG menggunakan kategori 1.15Ẍ dan 0.85Ẍ sebagai batas AN dan BN. Penelitian dilakukan di 120 stasiun BMKG menggunakan data curah hujan bulanan. Uji-t berpasangan (α = 0.01) digunakan untuk menguji 1.15 Ẍ dengan P66 dan0.85 Ẍ dengan P33. Hasilnya 1.15Ẍ berbeda dengan P66 pada 6 stasiun dan 0.85 Ẍ berbeda dengan P33 pada 108 stasiun. Regresi Linier Sederhana dengan metode kuadrat terkecil dilakukan antara Ẍ (peubah bebas) dengan P66 dan P33 (peubah tak bebas) sehingga didapatkan koefisien regresi βɑ dan βƅ. Selanjutnya dipilih nilai tengah dari setiap kelas distribusi frekuensi βɑ dan βƅ yang disebut sebagai faktor skala terbaik β*ɑ dan β*ƅ. Uji-t berpasangan kembali digunakan untuk menguji β*ɑẌ dengan P66 dan β*ƅẌ dengan P33. Hasilnya pada tingkat kepercayaan 99%  β*ɑẌ tidak berbeda dengan P66 dan β*ƅẌ tidak berbeda dengan P33 untuk 120 stasiun. Sehingga β*ɑẌ dan β*ƅẌ direkomendasikan sebagai batas AN dan BN yang lebih mendekati standar WMO. WMO defines a category for above normal (AN) and below normal (BN) as Tercile (P66 dan P33). On the other hand, BMKG uses 1.15Ẍ and 0.85Ẍ to determining AN and BN respectively. Monthly rainfall data in 120 BMKG’s stations are used in this research. A paired t-test (α = 0.01) is used for determining 1.15Ẍ and P66 as well as 0.85Ẍ and P33. As a result, 1.15Ẍ is not equivalent to P66 in 6 stations and 0.85Ẍ do not equal to P33 in 108 stations. The least-square method in Simple Linear Regression is examined between Ẍ as an independent variable and P66 as well as P33 as the dependent variable. Therefore, βɑ and βƅ have been found as coefficient regression. The next step is choosing β*ɑ, β*ƅ as a median for classes of frequency distribution βɑ and βƅ. β*ɑ and β*ƅ are the best scale factor. Finally, a paired t-test is used also to determining β*ɑẌ and P66 and β*ƅẌ and P33. As a result, β*ɑẌ is the same as P66and β*ƅẌ equals to P33 in 120 stations for confidence level 99%. Consequently, β*ɑẌ and β*ƅẌ are strongly recommended as new above normal and below normal which are similar to WMO standards.
KARAKTERISTIK DAN TREN PERUBAHAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA PERIODE 1982-2009 Muhammad Najib Habibie; Tri Astuti Nuraini
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.726 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.171

Abstract

Suhu permukaan laut (SPL) merupakan komponen penting yang dapat mengendalikan cuaca dan iklim di wilayah Indonesia. Seiring dengan adanya isu perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu global, maka SPL disinyalir juga berubah. Pada penelitian ini dikaji tentang karakteristik dan tren perubahan SPL di wilayah Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perubahan SPL di wilayah Indonesia. Untuk itu dianalisa data SPL selama 28 tahun (1982-2009) dengan metode Mann-Kendall test. Domain yang digunakan adalah 15°LU- 15°LS, 90°BT-145°BT. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa karakteristik siklus SPL di wilayah Indonesia berhubungan erat dengan siklus monsun yang bertiup di wilayah ini dimana pada periode monsun Asia SPL di wilayah utara lebih hangat sebaliknya pada periode monsun Australia, di selatan yang lebih hangat dan di sekitar ekuator mengalami SPL paling hangat pada periode peralihan. Secara umum di wilayah Indonesia terutama di inner sea terjadi tren peningkatan SPL dengan probabilitas > 95%. Daerah inlet Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) dan South Equatorial Current yang meliputi perairan sekitar Biak, Selat Makassar, Halmahera, dan Laut Banda, pada umumnya mengalami tren peningkatan SPL yang paling tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya dengan peningkatan mencapai 0,5-1,1 oC pada periode DJF. Pada masa peralihan dan musim kemarau, hanya di Pasifik bagian barat yang mengalami tren meningkat. Sea Surface Temperature (SST) is an important factor in weather and climate regulation over Indonesia. According to the climate change issue which is characterized by increasing global temperatures, the SST was allegedly increased too. The purpose of this study was to determine the existence of SST change over Indonesia. Mann-Kendall test used to analyze 28 years (1982-2009) SST data. The domain of this research is 15° N-15° S, 90° E-145° E. The result of this research shows that increasing trend of SST occurring over Indonesia waters. It was found that the characteristic of SST in Indonesia is correlated with the monsoon system, whereas in the Asian summer monsoon, the SST of the northern region is warmer. Contrary, in the Australian summer monsoon, the SST of the southern region is warmer. The SST of the equator region is warmest in the transition period. In general, Indonesia's waters experiencing an increasing trend of SST with a probability of over 95%. The Indonesian throughflow and South Equatorial Current on the western part of the Pacific Ocean covering Biak waters, Makassar Strait, Halmahera, and the Banda Sea generally experiencing the highest increasing trend of SST compared with other areas between 0.5 to 1.1°C. In the transitional period and dry season, the SST over Indonesia, largely unchanged, except in the western Pacific.
PREDIKSI SEBARAN ASAP KEBAKARAN HUTAN/LAHAN MENGGUNAKAN WRF/CHEM (Studi Kasus: Tanggal 14 dan 20 Juni 2012, Pekanbaru-Riau) Eko Heriyanto; Danang Eko Nuryanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.172

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan prediksi sebaran asap kebakaran hutan/lahan di wilayah Indonesia. Simulasi prediksi sebaran  asap (hindcast) menggunakan model Weather Research and Forecasting with CHEMistry (WRF/CHEM) pada kasus kebakaran hutan/lahan tanggal 14 dan 20 Juni 2012 di wilayah Pekanbaru-Riau. Dalam penelitian ini digunakan data luaran WRF resolusi 25 km dan emisi global . Hasil simulasi  konsentrasi Carbon Monoxide (CO) luaran WRF/CHEM menggambarkan pola yang identik dengan hasil luaran Monitoring Atmospheric Composition and Climate (MACC-Reanalysis 1.10). Dilakukan juga analisis kualitatif terhadap hasil simulasi kedua model dengan citra satelit Aqua-Terra MODIS, NOAA-18, dan total column CO Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) dari NASA. Korelasi simulasi kedua model menunjukkan nilai yang baik antara 0.55 – 0.83. Secara umum dapat disimpulkan bahwa WRF/CHEM mampu mensimulasikan sebaran asap kebakaran hutan/lahan secara akurat. Hasil penelitian ini bisa menjadi salah satu langkah awal dalam pengembangan sistem peringatan dini sebaran asap kebakaran hutan/lahan di wilayah Indonesia. This study aims to develop a predictive distribution of forest fire smoke/land in the territory of Indonesia. The simulation of smoke spread prediction (hindcast) is using the Weather Research and Forecasting Model with CHEMistry (WRF/CHEM) in the case of forest fires/land dated June 14, 2012, in Pekanbaru-Riau region. This study uses the WRF data output resolution 25 km and global emissions. Carbon Monoxide concentration simulation results (CO) which is the WRF/CHEM output describes patterns that are identical to the results of Monitoring Atmospheric Composition and Climate (MACC-Reanalysis 1.1250) outcomes. a qualitative analysis of the results of both simulation models with satellite imagery MODIS Aqua-Terra, NOAA-18 and the Total column CO Atmospheric Infrared Sounder (Airs) from NASA has been conducted as well. Both simulation models show a correlation value between 0.55 - 0.83. In general, it can be concluded that the WRF/CHEM can simulate the spread of forest fire smoke/land accurately. The results of this study could be one of the first steps in the development of an early warning system of forest fire spread smoke/land in the territory of Indonesia.
ANALISIS HAZARD GEMPA DAN ISOSEISMAL UNTUK WILAYAH JAWA-BALI-NTB Jimmi Nugraha; Guntur Pasau; Bambang Sunardi; Sri Widiyantoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.168

Abstract

Jawa, Bali dan NTB merupakan wilayah rawan bencana gempa. Untuk meminimalisasi dampak bencana tersebut, upaya mitigasi perlu dilakukan secara optimal. Salah satunya melalui penelitian hazard kegempaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hazard gempa dan isoseismal daerah penelitian. Tahapan penelitian meliputi studi literatur, pengumpulan dan pengolahan data gempa, pemodelan dan karakterisasi sumber gempa serta analisis hazard gempa dan isoseismal. Analisis hazard gempa dilakukan dengan menggunakan teori probabilitas total dan pemodelan sumber gempa tiga dimensi. Penelitian ini menggunakan katalog BMKG tahun 1903 – 2010, kedalaman 0 – 300 km dan Mw ≥5 serta data PGA yang tercatat di jaringan BMKG. Hasil analisis hazard gempa menunjukkan nilai percepatan tanah maksimum (PGA) di batuan dasar Pulau Jawa, Bali dan NTB  bervariasi dari 0,05 g - 0,5 g. Secara umum, rentang nilai percepatan tersebut relatif hampir sama dengan Peta Gempa Indonesia 2010. Kurva hazard gempa di beberapa kota besar di Pulau Jawa menunjukkan gempa dalam sangat berpengaruh di Kota Serang, Jakarta dan Surabaya. Sumber gempa sesar dominan mempengaruhi hazard di Kota Bandung, Yogyakarta dan Semarang. Analisis isoseismal gempa Tasikmalaya 2 September 2009 dan 26 Juni 2010 menunjukkan daerah di selatan Pulau Jawa bagian barat mengalami guncangan yang cukup kuat sekitar VII – VIII MMI (0,25 g – 0,3 g) yang bersesuaian dengan peta hazard hasil combine source.Java, Bali, and NTB are earthquake-prone areas. One mitigation efforts to minimize the disaster impact is carried out through seismic hazard research. The purpose of this study is to analyze the earthquake hazard and isoseismal for the study area. The stages of the research include the literature study, collecting and processing seismic data, seismic sources modeling and characterization, earthquake hazard and isoseismal analysis. Seismic hazard analysis for the 10% probability of exceedance in 50 years was carried out using the total probability theory and three-dimensional earthquake source modeling. This study used the BMKG catalog from 1903 – 2010, 0-300 km depth, Mw ≥ 5 and PGA data recorded at the BMKG network. The results of this study show the PGA values varied from 0.05 to 0.5 g. In general, the acceleration ranges relatively close to the Indonesian Earthquake Map 2010. Seismic hazard curves in some big cities in Java showed that the deep earthquake was very influential in Serang, Jakarta, and Surabaya. The fault source dominant influence in Bandung, Yogyakarta, and Semarang. Isoseismal analysis of Tasikmalaya earthquakes on September 2, 2009, and June 26, 2010, shows the area in the southwestern part of Java experience strong shocks around VII - VIII MMI (0.25 - 0.3 g) which corresponds to the hazard maps result of combine source.
PENGARUH AKTIVITAS ENSO DAN DIPOLE MODE TERHADAP POLA HUJAN DI WILAYAH MALUKU DAN PAPUA SELAMA PERIODE SERATUS TAHUN (1901 – 2000) Suwandi Suwandi; Y. Zaim; Bayong Tjasyono H. Kasih
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.173

Abstract

Aktivitas fenomena ENSO dan Dipole Mode merupakan sirkulasi tropis non musiman tapi mempunyai peran yang sangat penting terhadap variabilitas curah hujan di wilayah Indonesia antara lain terhadap variasi pola hujan pada setiap periode normalnya. Wilayah penelitian dalam tulisan ini adalah wilayah Maluku dan Papua yang lokasinya lebih dekat dengan aktivitas ENSO dibanding dengan aktivitas Dipole Mode. Selama periode seratus tahun (1901 - 2000) aktivitas kedua fenomena tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variasi pola hujan di wilayah tersebut. Dengan menggunakan metode sintesis yang terdiri atas analisis spektral, analisis korelasi spasial, analisis dinamis dan fisis atmosfer maka dapat diperoleh adanya kaitan yang signifikan antara aktivitas ENSO dan Dipole Mode dengan curah hujan bulanan di wilayah Maluku dan Papua selama periode seratus tahun. Dampak dari aktivitas El Niño, La Niña, Dipole Mode (+), Dipole Mode (-) terbesar dialami oleh pola hujan lokal dibanding terhadap pola hujan monsunal dan ekuatorial yang diindikasikan dari hasil analisis korelasi. Antara aktivitas El Niño dengan pola hujan lokal korelasi tertinggi – 0,94, La Niña dengan pola hujan lokal + 0,60, Dipole Mode (+) dengan pola hujan lokal – 0,67 dan Dipole Mode (-) dengan pola hujan lokal + 0,65. ENSO and Dipole Mode phenomena are non-seasonal tropical circulation. However, they have a very important role in the variability of rainfall in the Indonesian region, such as the variation of rainfall patterns during each normal period. The area of this research is the Maluku and Papua regions, which are located closer to the ENSO activity compared to the activity of Dipole Mode. During a hundred years (1901-2000) the possible activities of both phenomena have a significant influence on the variation of rainfall patterns in those regions. Using the synthesis method consists of spectral analysis, spatial correlation analysis, atmospheric dynamics, and physics analysis, a significant connection between ENSO and Dipole Mode with monthly rainfall in the Maluku and Papua regions for hundred years would be obtained. The effect of El Niño, La Niña, Dipole Mode (+), Dipole Mode (-) activities are mostly due to Local Rainfall Pattern than Monsoonal and Equatorial Rainfall Pattern which has been indicated by the result of correlation analysis. The highest correlations between El Niño with Local Rainfall Pattern is – 0.94, La Niña with Local Rainfall Pattern is + 0,60, Dipole Mode (+) with Local Rainfall Pattern is – 0.67 and Dipole Mode (-) with Local Rainfall Pattern is + 0.65 respectively.

Page 1 of 1 | Total Record : 8