cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
ANALISIS PEMANTAUAN KUALITAS UDARA PADA SAAT ARUS MUDIK DAN BALIK LEBARAN DI GERBANG TOL CIKAMPEK TAHUN 2009 Radyan Putra Pradana; Eko Heriyanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.386 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.108

Abstract

Analisa pemantauan kualitas udara pada saat arus balik/mudik lebaran tahun 2009 di Gerbang tol Cikampek telah dilakukan dengan melakukan observasi parameter polusi udara dan meteorologi. Dari uji deret waktu data dan uji beda rata-rata menunjukkan bahwa saat arus mudik, rata-rata suhu udara yang paling tinggi terjadi tanggal 18 September 2009 pada pukul 15.00 WIB (32 °C) dan kelembaban udara tertinggi pada pukul 19.00 WIB (83,27 %) dan konsentrasi rata-rata polutan paling tinggi yang terukur untuk SO2 dan NO2 masing-masing terdapat pada pukul 17.00 WIB (1,277 ppm) dan 16.00 WIB (0,022 ppm). Saat arus balik, rata-rata suhu udara paling tinggi yang terjadi pada tanggal 25 September 2009 adalah pukul 15.00 WIB (30,31 °C), sedangkan untuk rata-rata suhu udara paling tinggi yang terjadi pada tanggal 26 September 2009 adalah pukul 16.00 WIB (28,7 °C) dan kelembaban udara tertinggi pada tanggal 25th dan 26th September 2009 masing-masing adalah (77,92 % dan 83,4 %) yang terjadi pada pukul 20.00 WIB, hal ini dikarenakan keadaan cuaca di lokasi pengamatan dalam keadaan mendung dan angin berhembus cukup kencang. Untuk konsentrasi rata-rata polutan paling tinggi yang terukur untuk SO2 terjadi di sore hari antara pukul 17.00 dan 18.00 WIB (1,277 ppm) dan NO2 terjadi pada pukul 17.00 WIB (0.019 ppm) yang diduga karena gas buang yang dihasilkan melalui pembakaran yang tidak sempurna dari kendaraan yang melintas.  Analysis of air quality monitoring at the time of back and forth traffic flow during eid on Cikampek highway gate in 2009 has been done by observing air pollution and meteorological parameters. Time series data test and mean different test show that during the forth flow time (September 18th, 2009), the maximum mean air temperature occurred at 15.00 WIT (32 °C), the highest mean relative humidity occurred at 19.00 WIT (83.27%) and the highest mean pollutant concentration of SO2 and NO2 were at 17.00 WIT (1.277 ppm) and 16.00 WIT (0.022 ppm), respectively. During the back flow time (September 25th and 26th 2009), the maximum mean air temperature occurred at 15.00 WIT and 16.00 WIT, respectively. While, the highest mean relative humidity occurred at 20.00 WIT (77.92% and 83.4%). This might be caused by cloudy condition and high wind speed during those days. In addition, the highest mean pollutant concentration of SO2 occurred between 17:00 WIT and 18:00 WIT (1.227 ppm), and NO2 occurred at 17:00 WIT (0,019 ppm). This might be caused by exhaust gas produced by imperfect combustion from passing vehicles.
EVALUASI MODEL WAVEWATCH-III MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI DAN OBSERVASI Muhammad Najib Habibie; Wido Hanggoro; Donaldi Sukma Permana; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6104.849 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i3.322

Abstract

Model gelombang menjadi komponen utama dalam memberikan informasi prediksi gelombang dewasa ini. Hal ini terjadi akibat terbatasnya pengamatan in-situ yang dilakukan untuk mengamati lautan secara umum. Model prakiraan gelombang telah mengalami evolusi, mulai dari generasi pertama dan berkembang sampai model generasi tiga. Model generasi ketiga merupakan penyempurnaan dari model gelombang sebelumnya dimana model ini merupakan sebuah model spektral lengkap dengan representasi eksplisit pada proses fisik yang relevan terhadap evolusi gelombang dan yang memberikan gambaran dua dimensi dari laut secara lengkap. Salah satu model generasi ketiga ini adalah WAVEWATCH-III. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi model WAVEWATCH-III di Manokwari, Saumlaki, Selat Bangka dan Surabaya untuk mengetahui performanya. Model diseting pada dua domain, domain global dan wilayah Indonesia dengan resolusi 0,5° dan 0,125° dan dirunning selama setahun (2012). Luaran model kemudian dibandingkan dengan data AVISO serta data observasi insitu. Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara luaran model dengan data AVISO di 4 titik yang dianalisa umumnya nilainya dibawah 0,5. Hanya di beberapa tempat yang menunjukkan korelasi yang besar diantaranya adalah Saumlaki dan Manokwari. Kedua lokasi ini terletak pada laut yang relatif terbuka, hal ini menunjukkan bahwa pada lokasi yang relatif terbuka AVISO dapat digunakan untuk verifikasi model, akan tetapi pada perairan yang sempit (Surabaya dan Bangka) AVISO kurang baik untuk verifikasi model. Terdapat bias antara luaran model dengan observasi insitu yang berada di pantai yang dangkal sehingga model tidak dapat merepresentasikan kondisi faktual dengan sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa dengan resolusi 0,5° dan 0,125° model belum dapat digunakan untuk verifikasi gelombang di daerah pantai. Dari perbandingan antara observasi insitu dengan luaran model pada dua resolusi yang berbeda menunjukkan bahwa pada resolusi yang lebih tinggi, luaran model menunjukkan hasil yang lebih mendekati observasinya.
EFFECT OF THE VARIABILITY AND CLIMATE CHANGE TO DETECT CASE OF DENGUE FEVER IN INDONESIA Achmad Sasmito; Riris Adriyanto; Asri Susilawati; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.267 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.76

Abstract

Hasil dari penelitian para pakar iklim menunjukkan bahwa suhu global termasuk di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu, serta telah terjadi pergeseran variasi curah hujan di beberapa wilayah. Terjadinya variasi dan perubahan iklim akan mempengaruhi area perkembang biakan nyamuk. Situasi ini berdampak langsung terhadap munculnya kasus demam berdarah. Pada penelitian ini dilakukan prediksi kasus demam berdarah wilayah Jakarta berdasarkan data curah hujan, hari hujan, kasus demam berdarah pada bulan sebelumnya, dan asumsi bahwa pada tahun 2010 musim kemarau basah tidak terjadi, maka kasus demam berdarah pada tahun 2010 diperkirakan menurun dibandingkan tahun 2007-2009. Hal ini karena musim hujan di tahun 2009-2010 di DKI Jakarta cenderung berkurang dibandingkan dengan tahun 2007-2008 dan 2008-2009.Dari hasil analisis menunjukkan bahwa kasus demam berdarah dapat dijadikan sebagai peringatan dini untuk dilakukan tindakan pencegahan kedepan, selain faktor alam (meteorologi) perlu juga dilakukan kajian sosial, budaya dan faktor lingkungan. Salah satu strategi untuk mengatasi kasus demam berdarah dapat dilakukan melalui koordinasi, kerjasama, dan kolaborasi antara pemerintah, peneliti dan masyarakat. Results from climate experts researches showed that global temperature including in Indonesia tends to increase from time to time, as well as a shift in rainfall variation in some regions. The occurrence of variation and climate change will affect the growth areas of mosquitoes. This situation has a direct impact on the emergence of dengue fever cases.In this research, prediction of dengue fever cases in the Jakarta region based on rainfall data, rainy days, cases of dengue fever in the previous month, and the assumption that in the year 2010 wet - dry season  condition will not occur, Then the cases of dengue fever in the year 2010 is expected to decline compared years 2007-2009. This is because the rainy season in the years 2009-2010 in Jakarta is relatively reduced compared to the years 2007-2008 and 2008-2009.From the results of the analysis showed that cases of dengue fever can be used as an early warning for future preventive action, in addition to natural factors (meteorology) should also be examined social, cultural and environment factors. One strategy for addressing cases of dengue fever can be done through coordination, cooperation and collaboration between government, researchers and the society.
PENENTUAN KRITERIA AWAL MUSIM ALTERNATIF DI WILAYAH JAWA TIMUR Afriyas Ulfah; Widada Sulistya
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5394.962 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.285

Abstract

Informasi prakiraan awal musim yang dikeluarkan BMKG sangat penting khususnya bagi komoditas pertanian. Parameter cuaca yang digunakan BMKG dalam penentuan awal musim selama ini hanya dengan jumlah curah hujan dasarian tanpa melihat frekuensinya (banyaknya hari hujan). Oleh karena itu kajian ini bertujuan untuk melihat bagaimana frekuensi hari hujan dalam penentuan awal musim dengan wilayah kajian Jawa Timur. Data yang digunakan adalah data curah hujan (CH) dan hari hujan (HH) dasarian dari 82 titik pos hujan di wilayah Jawa Timur, dimana jumlah hari hujan yang digunakan 5 skenario kajian. Dengan metode analisa subjektif deskriptif dengan melibatkan analisa grafik dan analisa spasial maka didapatlah kriteria awal musim alternatif di wilayah Jawa Timur yaitu dengan menambahkan parameter 3 HH. Dengan penjelasan CH ≥50 mm dan HH ≥3 hari per dasarian  untuk awal musim hujan (AMH) sementara itu untuk awal musim kemarau (AMK) diperoleh ketika CH per dasarian < 50 mm dan HH < 3 hari per dasarian. Prediction of seasonal onset which is released by BMKG is important information, especially for agricultural commodities. The weather parameter issued by BMKG to determine the seasonal onset is only the amount of ten-day rainfall, regardless of its frequency (total of rainy days). Therefore, this study was aimed to see how the total rainfall and the frequency of rainy days per ten days acts in determining seasonal onset in East Java. The data used in this study were the total rainfall amount and the frequency of rainy days of tenth-days (decad) from82 rain gauge stations in East Java, with the number of rainy days divided into 5 (five) study scenarios. Using a subjective analysis method that involves descriptive graphical and spatial analysis, an alternative criterion was resulted by adding 3 (three) rainy days (HH) to support the primary criteria in East Java. It is concluded that the onset of the rainy season is determined by a rainfall amount of ≥ 50 mm and total rainy days of ≥3 days per decade, while the onset of the dry season is determined by a rainfall amount of < 50 mm and a total of rainy days of <3 days per decade.
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI DATA WAREHOUSE METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, GEOFISIKA DAN BENCANA ALAM Agus Safril
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.824 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.42

Abstract

BMKG telah memiliki data berasal dari beberapa sistem basis data historis (legacy system) baik yang telah tersimpan dalam sistem informasi database maupun data dalam bentuk lembar kerja (worksheet). Data lama ini sering tidak digunakan ketika  sistem database baru dikembangkan. Agar data lama tetap dapat digunakan, diperlukan integrasi data lama dan baru. Data warehouse adalah konsep yang digunakan untuk mengintegrasikan data dalam penyimpanan sistem database terpadu BMKG. Integrasi data dilakukan dengan melakukan ekstraksi dari sumber data dengan mengambil item data yang diperlukan. Sumber data diperoleh dari sistem informasi yang ada di kelompok meteorologi, klimatologi dan geofisika. Proses integrasi data dimulai dengan ekstraksi (extraction) kemudian dilakukan penyeragaman (transformation) sehingga sesuai dengan format yang digunakan untuk kepentingan analisis. Selanjutnya dilakukan proses penyimpanan dalam data warehouse (loading). Prototipe data warehouse yang dibangun mencakup proses input data melalui ekstraksi data lama maupun data baru menggunakan media perangkat lunak akuisisi data. Hasil keluaran (output) berupa laporan data dengan perioda data sesuai dengan kebutuhan. The data collections of BMKG is captured from the legacy systems that is stored in the information systems or data worksheet. Sometimes the legacy system is not used when the new DBMS has been developed. In order the legacy system usefull for DBMS of BMKG, the data is integrated from the legacy systems to the new database systems. Data warehouse is the concept to integrate data to the BMKG Data Base Management System (DMBS). To integrate data, data is integrated the data sources from legacy systems that has been stored in the meteorology, climatology and geophysic information system. The next steps is transformed to data that has the format accordance with the weather analysis requirement. Finally, data must be loaded into the data warehouse.  The data warehouse prototype that it is developed consist of data input troughout extract from historical data and new data use with the data acquisition software. The result is data report that is accordance with the BMKG requirement to analyse the data.
PERBANDINGAN INDEKS FINE FUEL MOISTURE CODE (FFMC) DAN FIRE WEATHER INDEX (FWI) PADA SISTEM PERINGKAT BAHAYA KEBAKARAN HUTAN/LAHAN LUARAN WRF DENGAN OBSERVASI ( PERIODE: JUNI - AGUSTUS 2013) Eko Heriyanto; Lailan Syaufina; Sobri Effendy
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.759 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.181

Abstract

Pengembangan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan/Lahan (SPBK) dilakukan dengan memanfaatkan luaran WRF resolusi 9 km. Indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC) atau tingkat kemudahan terjadinya kebakaran dan Fire Weather Index (FWI) atau tingkat kesulitan pengendalian kebakaran disusun menggunakan parameter cuaca, seperti suhu, kelembapan, kecepatan dan arah angin, serta curah hujan kumulatif. Kondisi klimatologis periode bulan Juni–Agustus 2013 pada umumnya normal, tanpa dipengaruhi El-Nino maupun La-Nina. Dilakukan verifikasi parameter cuaca luaran WRF terhadap data observasi. Indeks FFMC dan FWI luaran WRF dibandingkan dengan hasil observasi pada 8 (delapan) lokasi yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Hasil verifikasi luaran WRF menunjukkan korelasi yang kuat – sangat kuat dengan rentang nilai 0.53–0.80 untuk semua parameter penyusun indeks. Perbandingan indeks FFMC dan FWI luaran WRF dengan observasi mempunyai korelasi diatas 0.56 dengan maksimum persentase kesalahan sebesar 0.57. Berdasarkan hasil verifikasi, luaran WRF dapat digunakan untuk menyusun indeks FFMC dan FWI pada Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan/Lahan. Development of Land/Forest Fire Danger Rating System (SPBK) is done using WRF output resolution 9 km. Fine Fuel Moisture Index Code (FFMC) or a level of ease of fire and the Fire Weather Index (FWI) or the level of difficulty of fire control were prepared using weather parameters, such as temperature, humidity, wind speed, and direction, as well as the cumulative rainfall. Climate conditions in the period June to August 2013 at the generally normal, independent of the El-Nino and La-Nina. The WRF output weather parameters have been verified with observation data. FFMC and FWI index WRF outputs compared with observations at 8 (eight) locations are covered in Sumatra and Kalimantan. The result of verification WRF outputs showed a strong - very strong correlation with a value range 0.53-0.80 for all parameters making up the index. A comparison of FFMC and FWI index from WRF's output with observation correlates 0.56 with a maximum percentage error of 0.57. Based on the results of verification, WRF outputs can be used to index FFMC and FWI Land/Forest Fire Danger Rating System.
PENCITRAAN STRUKTUR KECEPATAN GELOMBANG RAYLEIGH DI PULAU SULAWESI DAN NUSA TENGGARA TIMUR MENGGUNAKAN AMBIENT NOISE TOMOGRAPHY Muhamad Fadhilah; Abdul Haris; Bayu Pranata; Agustya Adi Martha; Nova Heryandoko; Supriyanto Rohadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.156 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i1.778

Abstract

Pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan wilayah yang memiliki tatanan tektonik kompleks, sehingga penting untuk menggambarkan kondisi bawah permukaan wilayah tersebut. Metode Ambient Noise Tomography (ANT) digunakan untuk memahami struktur tektonik tersebut dengan mencitrakan struktur kerak atas di bawah area penelitian ini. Pada penelitian ini, kami menggunakan data waveform komponen vertikal dari Januari 2020 hingga Mei 2021 dari 89 seismograf INATEWS- BMKG di Pulau Sulawesi dan NTT. Secara umum, tahap pertama dimulai dari pemrosesan data berfokus pada persiapan data tunggal dan korelasi silang untuk memperkiraan fungsi Green antara pasangan stasiun. Estimasi waktu tempuh kelompok gelombang Rayleigh untuk periode 2 s dan 12 s diperoleh dari waktu tunda hasil korelasi silang. Peta yang diperoleh menunjukkan variasi kecepatan gelombang Rayleigh di daerah penelitian berkisar antara 1,8 – 2,5 km/s. Teknik analisis frekuensi-waktu (Frequency-Time Analysis) digunakan untuk mendapatkan kurva dispersi untuk mengukur kecepatan kelompok antar stasiun. Kecepatan grup digunakan sebagai input dalam inversi tomografi. Proses tomografi dilakukan dengan menggunakan FMST v1.1 dimana pemodelan forward dan inverse dilakukan secara iteratif. Hasil pemodelan untuk periode 2 s menunjukkan bahwa Sulawesi Barat dan Sulawesi Utara memiliki anomali kecepatan yang lebih rendah (1,8 km/s) dibandingkan wilayah lain (2,0 – 2,3 km/s). Pada periode 12 s anomali kecepatan rendah berada di wilayah Sulawesi Utara. Anomali kecepatan rendah ini berkorespondensi dengan gunung berapi dan dataran Inter-Volcano yang berumur Kuarter di Sulawesi. Sementara untuk wilayah NTT nilai kecepatan gelombang Rayleigh berkisar antara 1,8 – 2,4 km/s.
Simulation of Landcover Change Influences for Water Availability Using a Regional Atmospheric Model Edvin Aldrian
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.582 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v8i1.7

Abstract

A study of the landcover change impact on water budget has been done using a mesoscale climate model. A prestine lake catchment of Lake Poso in Central Sulawesi Province has been used for this study. A scenario for deforestation that change forest into savannah was performed for the dry period from July to December 2005 to simulate the severest possible scenario. The results show increase risks of flood during wet season and risks of drought during the dry season with highest increase of surface runoff up to 18% and decrease up to 10%. Meanwhile, the underground runoffincrease during wet season up to 17% and decrease up to 10% during the dry season. This study may suitable for the climate change impact study and to simulate the land degradation due to ever increasing deforestation and land clearing.
RAINFALL VARIABILITY OVER BANGKA BELITUNG ISLAND BASED ON VALIDATED TRMM PRODUCT Supari Supari; Nur Setiawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10175.398 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i1.140

Abstract

Varialibilitas hujan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dipelajari dengan menggunakan data estimasi hujan dari satelit, TMPA 3B42RT yang telah divalidasi. Untuk hujan dasarian rata-rata selama sepuluh tahun (2001–2010), teknik validasi mampu meningkatkan akurasi data TMPA, ditandai dengan meningkatnya koefisien korelasi dari 0.82 menjadi 0.9. Secara umum, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung menerima hujan tahunan yang cukup berlimpah, antara 1800–3000 mm. Wilayah paling kering terdapat di Kabupaten Bangka bagian utara sedangkan wilayah paling basah adalah Kabupaten Bangka Barat bagian tengah dan Kabupaten Bangka Selatan bagian utara. Dibandingkan dengan peta distribusi hujan masa lalu, pola hujan tahunan dalam studi ini menunjukkan adanya kemungkinan perubahan yang signifikan baik dalam intensitas maupun pola sebarannya. Musim hujan terjadi mulai akhir Bulan Oktober hingga Mei sedangkan musim kemarau berlangsung mulai awal Bulan Juni hingga pertengahan Oktober. Seluruh zona musim mengalami puncak hujan dua kali dalam setahun, yaitu April dan Desember. Temuan ini membuktikan bahwa curah hujan di Bangka Belitung sangat dipengaruhi oleh pergerakan ITCZ dan sekaligus monsoon. The rainfall variability over Bangka Belitung Island Province is investigated using validated TMPA 3B42RT satellite rainfall data. For 10 years average (2001-2010), we find that the validation process could improve the performance of TMPA series at dasarian scale by increasing correlation coefficient from 0.82 to 0.9. In general, the area receives considerably high annual rainfall ranging from 1800 to 3000 mm. The northern part of Bangka District is identified as driest area while the central part of West Bangka District and northern part of South Bangka District is detected as the wettest area. Compared to past rainfall atlas, recent annual rainfall pattern displays possible significant change both in intensity and spatial distribution. Wet season is observed starting from the end of October till May while dry season is detected starting from the early of June till mid of October. There are double peaks of monthly rainfall i.e. April and December over all climate zone of the Province. The findings prove that rainfall patterns are very much affected by interrelation of ITCZ movement and monsoon. 
EVALUASI DATA GRAVITASI TERESTRIAL DAN PERBANDINGANNYA DENGAN DATA GRAVITASI SKALA REGIONAL DAN MODEL GEOPOTENSIAL GLOBAL: STUDI KASUS ZONA SESAR CIMANDIRI DI SEKITAR PELABUHAN RATU Ilham Arisbaya; Lina Handayani; Yayat Sudrajat
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.826 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i1.399

Abstract

Dalam rangka mempelajari karakteristik Zona Sesar Cimandiri (ZSC), telah dilakukan pengukuran metode gravitasi di sekitar Pelabuhanratu. Kegiatan ini menghasilkan 53 data pengukuran baru dengan interval jarak 750-1500 meter (selanjutnya disebut GCG16). Untuk menggambarkan tingkat kualitas data yang dihasilkan, GCG16 dievaluasi dengan cara dibandingkan dengan dataset gravitasi skala regional dan global terpublikasi. Secara visual peta GCG16 memperlihatkan pola anomali gravitasi yang sama dengan data gravitasi regional (GRAV-P3G), model geopotensial global data satelit (EIGEN-6S2 dan GO_CONS_GCF_2_DIR_R5), serta model geopotensial global kombinasi (EGM2008 dan EIGEN-6C4). Dataset GRAV-P3G yang juga merupakan hasil pengukuran terestrial menunjukkan tingkat kesesuaian paling tinggi dengan GCG16. Sementara model potensial global kombinasi menunjukkan tingkat kesesuaian yang lebih baik jika dibandingkan dengan model geopotensial data satelit. Keenam dataset memperlihatkan pola Anomali Bouguer tinggi di bagian selatan area penelitian, mengindikasikan kontribusi dari frekuensi rendah. Variasi anomali tinggi di sekitar Sungai Cimandiri tidak teramati pada data gravitasi satelit, diinterpretasikan sebagai kontribusi dari frekuensi tinggi (berkorelasi dengan kondisi bawah permukaan lebih dangkal). Oleh karena itu untuk mempelajari struktur dangkal CFZ perlu dilakukan pemisahan anomali residual dari anomali regionalnya. Analisis First Horizontal Derivative (FHD) dan First Vertical Derivative (FVD)  tidak menunjukkan kehadiran ZSC pada segmen timur GCG16, dan mengindikasikan ZSC sebagai sistem sesar yang tersegmentasi. To study the characteristics of the Cimandiri Fault Zone (CFZ), gravity method measurement has been done around Pelabuhanratu. This activity resulted in 53 new measurement data with intervals of 750-1500 meters (hereafter referred to as GCG16). To illustrate the quality level of resulted data, GCG16 was evaluated by comparing with published regional and global scale gravity datasets. Visually, GCG16 maps show the same gravity anomalies pattern with regional gravity data (GRAV-P3G), global geopotential model of satellite data (EIGEN-6S2 and GO_CONS_GCF_2_DIR_R5), as well as combined global geopotential model (EGM2008 and EIGEN-6C4). GRAV-P3G dataset, which is also a result of terrestrial measurement, shows the highest agreement level to GCG16. The six datasets show a high Bouguer Anomaly pattern in the southern part of the research area, indicating the contribution of low frequencies. High anomaly variations around the Cimandiri River were not observed in satellite gravity data and interpreted as high frequencies contribution (correlated with more superficial subsurface conditions). Therefore, to study the shallow structure of the CFZ, it is necessary to separate the residual anomaly from the regional anomaly. First Horizontal Derivative (FHD) and First Vertical Derivative (FVD) analysis do not show the presence of CFZ in the eastern segment of GCG16 and indicate that CFZ is a segmented fault system.

Page 2 of 31 | Total Record : 310